Showing posts with label mistery. Show all posts
Showing posts with label mistery. Show all posts

20 February 2017

[ MANGA ] UZUMAKI - Spiral Into Horror VOL 1-3 : Horror spiral ala Junji Ito

Kalo kalian nge-klik menu 'About' di blog ini, disana tertulis 'Selain film, kami juga menulis tentang game, buku, atau komik'. Nyatanya, cuma ada review film di blog ini, haha. Tapi tenang, bisa gue pastiin kalo itu cuma soal waktu saja sebelum akhirnya gue ngereview medium horror selain film. Dan, inilah waktunya. Yap, review HSD kali ini adalah sebuah manga fantastis yang konon telah menjadi benchmark bagi dunia komik ( bergenre horror ) di Jepang.  

Ngomongin manga, aslinya gue bukan pengkonsumsi medium ini dan bahkan nyaris lupa kapan terakhir kali gue membaca sebuah manga. Ah ya, beberapa tahun lalu, seorang kawan merekomendasikan sebuah manga berjudul Parasyte karya Hitoshi Iwaaki, sebuah perkenalan yang kurang berkesan karena meski ceritanya cukup menarik dan dipenuhi gambar-gambar body-horror  gue nggak sampe selesai membacanya. Mungkin mood gue lagi kurang bagus atau sedang malas ( next time, gue akan mencoba membaca ulang manga ini ) tapi memang setelah Parasyte, gue nggak pernah membaca manga-horror lagi.  

Dan mengenai manga yang akan gue review ini, gue malah udah lama nonton versi filmnya ( berjudul 'Spiral' ( 2000 ) , disutradarai Higuchinsky ) , seinget gue, itu film dengan premis yang menarik namun memiliki skrip dan editing berantakan, membuat versi film ini terlalu absurd dan membingungkan ( terutama buat yang belum membaca manganya ) dan pada akhirnya mudah dilupakan. Lalu kemarin, entah kenapa tiba-tiba saja gue memutuskan untuk membaca versi manganya. Gue duga ini karena hujan deras diluar tidak kunjung berhenti dan gue butuh selingan hiburan pembunuh waktu selain koleksi film horror di harddisk yang udah ditonton berkali-kali dan gim Limbo yang juga udah ditamatkan berkali-kali. Pilihan gue jatuh pada manga karya Junji Ito ini.  

Kita ke plot nya dulu. 

15 February 2017

KILLER TOON ( 2013 ) : Inovasi Korea yang Tidak Ada Habis-Habisnya

Reviewed By GAMBIR

Korea sedang berusaha menciptakan kebudayaannya sendiri di dunia hiburan untuk mendapatkan tempat dimata dunia. Lewat media yang sebenarnya sudah lama kita kenal, namun dengan piawainya memberi lebel seakan produk tersebut adalah ciptaannya. Siapa yang tidak mengenal istilah k-drama, k-pop  dan yang terbaru webtoon. 

Padahal kalau kita telisik sebenarnya ketiga produk Korea yang sedang ngehits ini adalah hasil dari serapan  negara lain. Sebut saja K-Pop ( girband/boyband ) yang sebenarnya hanya group vocal biasa, namun mereka kemas dan dilebeli sehingga menjadi identitas tersendiri. Sedangkan webtoon mungkin dibuat untuk menyaingi manga milik jepang yang sudah lebih dulu dikenal. 

Dan dari dunia K-drama belakangan ini mulai bergeser dengan mengikuti format serial tv amerika. Korea kini mulai berani keluar dari genre romansa dan kolosal yang selama ini menjadi andalannya, dan mencoba merambah ke thriller, mistery dan fantasi. Khususnya di dunia thriller karena kita berada di blog horror, serial Gap-Dong dan Signal bisa dikatakan berhasil menarik perhatian. 

Perkembangan dunia hiburan korea selatan belakangan ini mengalami perubahan yang sangat signifikan baik dari segi kualitas maupun industrinya. 

Khususnya di dunia sinema, rupanya korea terus memperbaiki diri dan tak main-main dalam meningkatkan kualitas dan siap bersaing dengan  Hollywod. Berdasarkan artikel media daring yang saya kutip, Direktur Penelitian Kebijakan Korean Film Council (Kofic), Hyoun-soo Kim, memaparkan, para sineas di negerinya  berbenah sedikit demi sedikit memperbaiki kualitas teknis film, seperti suara, gambar dan penceritaan.  

18 December 2016

[ REQUEST REVIEW ] La Maldicion de La Llorona/Curse of the Crying Woman ( 1963 )

Jadi, ceritanya kali ini gue mau nyoba memenuhi request-review dari pembaca blog Horrorsekarepdewek ( HSD ) yang gue terima lewat fasilitas chat di salah satu media sosial. Judul yang ini ( Curse of the Crying Woman )  gue putuskan untuk di review setelah beberapa judul lain yang dia ajukan ternyata tidak memiliki subtitle. Mungkin karena film2 yang diajukannya boleh di bilang rare dan kebanyakan berasal dari Meksiko. Dan oh well, ngga banyak yang gue tau tentang sinema horror dari negara pegulat bertopeng ( Lucha Libre ) ini secara gue emang lebih sering nonton film horror secara random dan berdasarkan mood saja. Hehe, tapi it's okay, ini menarik ( dan juga challenging ),  gue akan mencoba mengulasnya. 

Btw ini juga membuat gue punya ide untuk menambahkan menu 'request' di blog ini, dimana nantinya pembaca bisa nulis request disitu, dan gue akan mencoba memenuhinya. Gimana tuh idenya para penontoooon ??

 ..........

krik krik

*sunyi senyap

Oke, baiklah.....

........

 REVIEW


Dibuka ama adegan kereta kuda melintasi daerah angker ( juga penampakan wanita bergaun hitam memegang 3 ekor anjing besar) yang sangat similiar ama sekuens opening dan satu adegan di Mario Bava's Black Sunday (1960 ), gue sempat mengira kalo ini cuma versi lebih buruk ( rip-off ) dari film itu. Namun, ketika film bergulir, Curse of the Crying Woman ternyata memiliki alur yang lebih enak untuk diikuti, seenggaknya sampe 30 menit pertama hehe. 

nggak dijelasin kenapa hantu wanita yang menangis ini malah nggak punya bola mata

16 November 2016

( TV-SERIES ) STRANGER THINGS ( 2016- ) Season 1 : 5 Alasan Kenapa Ini Sangat Menyenangkan

Stranger Things langsung menyita perhatian gue dengan tipografi/font judulnya yang terasa sangat familiar. Setelah diinget-inget barulah gue sadar kalo itu sangat menyerupai layout nama Stephen King di sampul novel2 era 80-annya. Dan juga..judul Stranger Things sendiri hmm bukankah itu  sangat nge-rhyme ama Stephen King?  Lalu coba lihat desain posternya, ada anak-anak belasan taun menaiki BMX! wow apakah ini mengingatkanmu akan sebuah film tentang bocah2 yang nyoba nyelamatin makhluk imut dari luar angkasa? 
 
Ya, dari sini saja semangat homage 80/90-an dan aroma nostalgianya sudah terasa begitu menyengat. Jadi, tanpa nyari tau lebih lanjut gue langsung donlot seri garapan Duffer Brothers yang berhasil menjadi hit Netflix di musim panas kemaren ini. 

 
Oke, folks. Kita langsung ke ceritanya :


Premise :

 
Tahun 1983. Ketenangan kota kecil Hawkins, Indiana terganggu dengan kasus hilangnya seorang bocah 12 tahun Will Byers ( Noah Schnapp ) sepulang dia bermain bersama teman-temannya. Kehilangan putera tanpa kejelasan nasib membuat sang ibu, Joyce ( Winona Ryder ) sangat terguncang, dia memaksa petugas polisi Jim Hopper ( David Harbour ) untuk terus melakukan investigasi sampai puteranya ditemukan. Namun, dalam proses penyelidikannya, Jim dan Joyce mulai menemukan banyak keganjilan.

19 April 2016

The Invitation ( 2016 )

Selalu menyenangkan menemukan sebuah film yang diluar dugaan ternyata mampu melampaui ekspektasi. Sejujurnya, ngeliat desain posternya gue emang skeptis ama pilem ini. Terlihat medioker, kaya sebagian besar pilem thriller-horror yang gue dapet dari situs2 download gratisan itu. Jadi gue nggak berharap banyak, lagipula gue lebih milih nonton ini daripada ngerjain revisi kerjaan. Viva la procrastination!

.......................................

Seperti judulnya, The Invitation nyeritain tentang undangan.

2 tahun setelah sebuah tragedi yang menghancurkan rumah tangganya, Will ( Logan Marshall-Green ) mendapat undangan pesta makan malam dari mantan istrinya, Eden ( Tammy Blanchard ) dan suami baru nya, David ( Michiel Huisman ). Will pun memenuhi undangan itu, dia datang bersama pacar baru, Kira. Sesampai di lokasi pesta ( rumah sang mantan istri ), disana sudah berkumpul setengah lusin teman lama yang rupanya juga diundang oleh Eden. Will pun berjumpa kembali dengan Eden, dan dia segera menyadari satu hal : mantan istrinya telah jauh berubah dari yang dulu pernah dia kenal. Eden yang baru. Eden yang mengaku bahwa semua penderitaan, trauma dan duka nya kini telah lenyap tak berbekas. 

02 January 2015

The Guest ( 2014 )

Kali ini Horrorpopcorn mendapat kontribusi review dari seseorang yang mengaku bernama Gambir. Dan bagian tidak terduganya adalah ketika gue kemudian merasa terpancing untuk menulis review pilem yang sama. Ini ngasih gue ide. Di kesempatan berikutnya jika ada seseorang yang ngirim kontribusi review, gue akan berusaha untuk menulis review versi gue sendiri. Jadi kalian akan mendapatkan 2 review! hehe.

Nggak usah takut nantinya akan berbeda penilaian, karena justru perbedaan sudut pandang akan membuat ini semakin menarik.
Terima kasih sodara Gambir akan kontribusinya. 

Btw kamu Gambir yang suka bikin patung itu? atau Gambir yang tetangganya Gondangdia?
 

Langsung aja..

07 November 2014

EDISI I-LOVE-KOREA: MEMORIES OF MURDER (2003)

Written By Ming

Pengantar

Anda salah satu korban Korean Wave (jelas yang saya maksud Korea di sini dan nantinya adalah Korea Selatan, bukan tetangganya yang punya pemimpin berambut Mohawk itu) dengan drama-drama cintanya yang cute dan mengharu biru? Atau penggemar boyband-girlband-groupband—apapun itu sebutannya dengan personel berwajah boneka hasil polesan operasi plastik? Atau begini, setidaknya anda bakal mengetatkan ikat pinggang dengan berpuasa atau cukup mengonsumsi Indomie 3 kali sehari, misalnya, hanya untuk memiliki tablet Samsung terbaru, bukan? Hohoho, tenang saja. Anda tidak sendiri. Saya pun salah satu korban gelombang budaya Korea yang telah mengglobal. 

Cuma, yang saya gemari ini bisa dibilang sepi penggemar di sini—jika dibandingkan dengan produk Korea yang sudah saya sebut di atas, dan cuma bisa jadi obrolan seru sesama penggemar film horror beserta turunannya yang bisa dibilang masih satu spesies dengan pengunjung setia—dan tidak setia—blog horror kacangan (saya sebagai salah satu kontributor abadi dan satu-satunya, memang sudah mengajukan proposal kepada editor blog ini untuk mengganti saja nama Horror Popcorn menjadi Horror Kacang) yang makin sepi postingan hingga membuat sekelompok penggemar fanatik melakukan demo di depan kantor fiktif kami. 

01 May 2012

DAGON ( 2001 )

Ini sebenernya pilem yang sering banget gue lewatin pas milih2 pilem di rental dvd. Ga tau kenapa yah? gue nggak pernah tertarik pilem ini. Mungkin desain kovernya yang ( buat gue ) kurang merangsang secara visual, atau mungkin karena gue mengira bahwa pilem ini pastilah salah satu pilem horror-monster micro-budget yang sebenernya udah gue tonton pas sebuah stasiun TV nayanginnya malem-malem. Bukan berarti horror-monster micro-budget nggak keren sih, cuman sayang aja kalo udah bayar sewa, tapi ternyata pilemnya udah di tonton hehe.

Sampai pada suatu hari, akhirnya gue tahu kalo ini pilemnya Stuart Gordon. Ok, tentunya nggak perlu dijelasin lagi siapa beliau. Dan lebih istimewanya lagi, dalam pilem ini Gordon kembali satu tim ama Brian Yuzna ( Produser ) dan Dennis Paoli ( Screenplay ).

Asal tau aja, gue sangat menyukai 2 film yang udah dibuat geng Gordon ini ( Re-Animator dan From Beyond ), itu 2 pilem yang udah gue kategoriin sebagai cult hehe. Selain itu, gue juga ternyata suka pilem Gordon era sebelumnya, Castle Freak ( dalam pilem ini produsernya bukan Brian Yuzna ), dan jangan lupain pilem eksyen kelas B yang membuat gue bertepuk tangan pas nontonnya dulu di bioskop Mulya , Fortress. Itu juga hasil arahan opa Gordon ini.

Jadi, dengan resume kaya gitu 'Dagon' harusnya sih bakalan keren juga dong yah..rasa kepenasaranan itu yang ngebuat gue segera mencari pilem ini lagi. Hehe.

dan prends, ini reviewnya..


Storyline :

Paul Marsh ( Ezra Godden ) dan Barbara ( Raquel Merono ) bersama sepasang lagi kolega nya ( Howard & Viki ), mengalami hari yang naas ketika boat mereka terbentur karang akibat badai yang tiba-tiba datang. Viki terluka cukup parah, maka Paul dan Barbara segera mencari bantuan di kota tepi pantai terdekat, sementara Howard menjaga Viki.

Hal yang Paul dan Barbara tidak tahu adalah, kejadian lebih buruk sudah menanti mereka di kota kecil misterius bernama Imboca itu. Sesuatu yang memiliki lendir, suara aneh, dan tentakel mengintai mereka. Apakah itu Squidwad?? tentu saja bukan.

Apa sebenarnya yang terjadi di kota itu?
Lalu apakah ini ada hubungannya dengan mimpi buruk tentang puteri duyung bergigi tajam yang sering menghantui Paul?


Review :

Dibuka dengan adegan creepy ( sayangnya dengan desain font jelek ) yang nyeritain mimpi paul dimana dia bertemu hantu puteri duyung di dasar lautan, pilem secara efektif langsung menebarkan atmosfir gelap dan misterius. Dan nggak kaya pilem lain dimana di menit2 awal biasanya tempo diperlambat dulu buat ngenalin karakter dan tetek bengeknya, 'Dagon' sudah mengajak penontonnya masuk ke kota Imboca di menit ke 15, dan di menit ke 20, Paul udah terlibat run, hide and seek dengan para fishy-mutant-zombiesque creepy villagers yang akan ngingetin kamu pada adegan di Resident Evil 4.

Baiklah gue kasi tau sedikit, kalo penduduk kota kecil Imboca ini sebenernya para manusia mutan ( separo ikan, separo katak ) yang sedang bertransformasi menjadi ikan ( atau katak? atau cumi cumi? entahlah..) untuk pada akhirnya hidup dilautan. Dan yang lebih buruk dari itu, mereka mengincar Paul dkk untuk diambil kulitnya! Gue nggak tau apa alesannya mereka suka kulit manusia.

Namun tidak seperti Re-Animator atau From Beyond yang bergenre splatstick horror-sci-fi ( sebuah genre yang gue antisipasi kalo mendengar nama Stuart Gordon dan Brian Yuzna ), kisah Dagon ( yang juga diangkat dari cerita H.P Lovercraft's ) ini lebih mirip cerita mitos/dongeng fantasy mistik yang nyaris minus humor. Ini aslinya membuat gue sedikit kecewa karena berharap manusia mutan itu tercipta karena eksperimen konyol atau apalah gitu.

Sorry, gue emang belum pernah membaca buku/novel H.P Lovercraft's dan hanya menilai dari pilem adaptasinya saja :)

Tapi, untunglah kekecewaan gue nggak lama, karena Gordon membuat pilem ini terus bergerak dengan tempo yang enak buat diikuti. Gordon juga menurut gue berhasil ngebangun atmosfir dark gothic nan creepy dengan setting kota kecil Spanyol nya. Segera saja ketika atmosfir creepy sudah terbangun, beberapa jump-scares ditampilkan dengan efektif. make-up efek nya sendiri sangat baik dan menempati posisi ke3 untuk kategori Best Make Up di Fangoria Chainsaw Awards. Sementara itu, nudity dan eksplisit gore nggak bertebaran disana-sini tapi ditempatkan dengan sangat efisien di adegan2 yang emang ngebutuhin itu. Sayangnya beberapa part gue rasa emang terlalu panjang/repetitif dan tidak berpengaruh seandainya dipotong.

Ngomongin adegan gory, Dagon punya beberapa scene yang cukup graphics ( namun seperti gue bilang diatas, ditempatkan efisien di bagian yang emang ngebutuhin itu ) misalnya, seppuku scene, a slashed throat scene, mayat tergantung dengan kulit terkelupas, dll. Namun yang paling disturbing tentu saja adegan pengelupasan wajah yang gue nggak nyangka sungguh brutal. Iya, kita udah tau kalo Hannibal Lecter juga mengelupas wajah korbannya buat jadi topeng, begitu juga Leatherface dan Ed Gein, tapi kita sendiri nggak pernah dikasih tau gimana proses pengelupasan kulit wajah itu kan.? Dalam Dagon, ini ditampilkan cukup eksplisit dalam sebuah adegan dimana seorang tawanan di kelupas kulit wajahnya... hidup-hidup!

skinning alive!
Stuart Gordon sendiri terlihat masih terngang-ngiang kesuksesan Re-Animator dengan memilih karakter Paul mirip dengan Dr.Herbert West ( Paul bahkan memakai sweater Miskatonic ) dan oh ya..karakter cewe disini namanya Barbara, itu maksudnya pasti tribute buat Barbara Crampton hehe.

horny??
Overall, satu hal yang pengen gue protes dari Dagon adalah penggunaan CGI yang terasa sangat buruk ( ini membuat Dagon keliatan amateurish-cheapy ), mengecewakan karena jika dalam From Beyond, Gordon bisa menampilkan slimy-monster yang keren tanpa CGI, kenapa 10 tahun kemudian dia nggak bisa bikin itu. Oh, mungkin keterbatasan budget..baiklah. Dalam sebuah artikel, gue ngebaca kalo Gordon sebenernya berniat membuat Dagon setelah Re-Animator, tapi proyek From Beyond membuat dia membatalkannya. gue ngebayangin kalo aja Dagon dibuat pada dekade itu ( 80-an atau awal 90 ), pastinya itu bakalan penuh ama slimy-monster / creepy-creature keren dan itu jelas bakalan lebih..ehm, menyenangkan hehe.

Secara umum, Dagon terasa tidak sesuperior dan semenghibur 'Re-Animator', walau begitu, dia gue masukin ke kategori 'well-done' ( apalagi kalo nginget budget yang micro ).

Nggak gagal, tapi juga nggak sukses besar. Medioker. Kemungkinannya akan mudah dilupakan, tapi setidaknya, Dynamic-duo Gordon-Yuzna berani bereksperimen menawarkan warna yang lain untuk pilemnya dan thumbs-up nya dia nggak mengecewakan gue. 

Akhirul review, gue cuma berharap suatu saat nanti keduanya akan kembali bergabung buat menghasilkan pilem hillarious-awesome seperti pilem2 di masa kejayaan mereka.

Jadi, untuk Dagon. well, dengan semua kekurangannya..gue cukup menikmatinya :)

RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



15 January 2011

THE SKELETON KEY ( 2005 )

Reviewed By 'R'.

Buat kalian tau, gue udah sering banget liat film ini tergeletak di rak tukang dvd bajakan di Jakarta, gue juga sering ngeliatnye di rental vcd, dan gue juga tau kalo pilem ini udah beberapa kali diputer di tipi swasta. Tapi kenape ye, gue sama sekali nggak tertarik sedikitpun buat nontonnye.

Gue pikir ini salah satu pelem Holiwud bergenre thriller-supranatural yang ikut terseret gelombang tren horror-Asia ( J-horror, K-horror, T-horror..whatever you name it ) kaya yang banyak dialami pelem horror lainnya disekitaran tahun ketika pelem ini dirilis. Apalagi pas tau kalo yang nulis script buat pelem ini adalah si Ehren Kruger, die orang yang sama yang udah nulis script buat The Ring versi Holiwud ama bahkan oh no..Transformers!

Jadi, kayanye ini akan ngebosenin hehe

Sampai akhirnya kemaren, ga tau kenapa gue tiba-tiba kebangun jam 1 pagi. Dan ga tau kenapa juga gue ga bisa meremin mata lagi. Akhirnya gue pun mutusin buat nonton tipi. Untungnya, antena darurat yang gue bikin kali ini lumayan bisa nangkep beberapa stasiun tipi. haha

Dan, yah..ternyata dini hari itu, salah satu stasiun tipi muter pilem ini. Sampai sejauh itu, reaksi gue bahkan cuma ngeluarin lenguhan pendek dan memilih buat mencet-mencetin tombol remote . Tapi ketika channel yang laen cuma berisi berita plesirannya Gayus ama kuis telepon tengah malem dimana seorang host ber tete gede melontarkan pertanyaan idiot, ga ada pilihan lain : gue pun akhirnya nonton The Skeleton Key.


Storyline :

Jadi diceritain, Caroline Ellis ( Kate Hudson ) seorang perawat muda nan idealis sekaligus naif, mutusin buat resign dari rumah sakit tempat dia bekerja, soalnye dia ngerasa rumah sakit tuh nggak beda jauh ama bisnis belaka ( lah baru tau dia haha ).Dia memilih ngambil job yang ditawarkan seorang pengacara bernama Luke Marshall ( Peter Sarsgaard ) buat merawat keluarganya yang tinggal di sebuah ( seperti biasanye! ) rumah-tua-terpencil di pelosok Terrebone Parish, Lousiana.

Pasien Caroline adalah Ben Deveraux ( John Hurt ), --suami Violet Deveraux ( Gena Rowlands )-- yang menderita lumpuh total karena terserang stroke parah.

Seperti biasanye juga, setelah beberapa saat bekerja di rumah itu, Caroline mulai merasakan hal-hal misterius dan ganjil. Dari mulai cerita mengerikan tentang masa lalu yang pernah terjadi di rumah keluarga itu, Ben yang terlihat sangat ketakutan dan berusaha kabur dari rumah , sampai puncaknya ketika Caroline menemukan peralatan yang biasanye digunakan dukun Bokir untuk melakukan ritual ilmu hitam ( dalam film ini istilahnye : hoodoo-not-voodoo ) di salah satu kamar lantai atas rumah keluarga Deveraux.

Setelah melakukan investigasi yang ngebuat Caroline lebih mirip Hercule Poirot ketimbang seorang perawat, akhirnye dia bisa ngambil kesimpulan kalo sakit yang diderita Ben adalah akibat ritual ilmu hitam yang dilakukan istrinya sendiri, Violet.


Dan sodara-sodara seperti gue bilang diatas, Caroline adalah seorang perawat yang idealis, naïf dan berhati mulia, jadi ketika dia berada dalam posisi dimana orang normal laennya dipastikan bakal kabur sambil ngedumel “emang gue pikirin“ , dia lebih memilih untuk melakukan operasi penyelamatan : membawa kabur Ben dari rumah iblis itu.

Namun sayang, kuasa kegelapan rupanya sudah merencanakan dengan sempurna sebuah kejutan untuk Caroline dan tentu saja buat penonton

Kejutan seperti apa? Sebaiknya kalian tonton aja sendiri filmnya hehe.


Review :

Film diawali dengan adegan2 yang ngebuat gue semakin yakin kalo ini tuh semacam pelem horror Holiwud rasa Asia, atau kalo nggak, ini model film horror-supranatural ala Stephen King yang nge-boringin kalo ditonton sekarang, dan pastinya bakal gampang gue lupain.

Main-character datang kerumah tua, ditambah bumbu masa lalu mengerikan tentang apa yang pernah terjadi dirumah itu, hantu dalam cermin bla-bla-bla-bla..nggak lupa, di menit-menit berikutnya, pelem ini juga dipenuhi ama formula spooky-tactics yang sebagiannya udah pernah gue tulis di artikel ” 10 Adegan paling membosankan dalam film horror”

Dengan kenyataan kaya gitu, 3 hal yang membuat gue masih terus nonton film ini adalah :
1. Gue belum ngantuk lagi.
2. Acara tipi yang laen suck semua, bahkan kalo aja ada siaran langsung sepakbola Real Mataram vs Tangerang Wolves, gue masih milih buat nonton itu.
3. Kate Hudson!

Yap! Kate Hudson yang biasanye kita liat maen di film-film rom-com dimana disitu die tinggal sedikit mengeksplorasi cute-so sweet-manners nya, ternyata lumayan bagus juga buat jadi salah satu screaming-queen pelem Horror. Walaupun nggak sampe bikin gue pengen coli, tapi terus terang, doi enak diliat…terutama buat orang yang lagi insomnia hehe

Lalu, jangan lupain pula performa impresif dari Gena Rowlands. Karakter Violet Deveraux yang misterius, labil, dan gampang meledak berhasil dilakoni Gena dengan meyakinkan dan di beberapa scene nya, ngingetin gue ama emak-emak killer ‘Annie’ yang diperani Kathy Bates dalam ”Misery”
.



Oiya, satu lagi, gue juga cukup suka aura gothic ama setting rawa-rawa creepy Lousiana yang coba ditampilin kru film dalam usahanya ngebangun atmosfir.

Namun tiga poin plus diatas tetep nggak mampu nyelametin pelem ini dari jurang ke ‘boring’ an, padahal gue liat sutradara Iain Softley juga udah berusaha masukin intriguing-scene apa twist didalemnya. Nggak tau kenapa, tetep aja gue banyak mengeluarkan kalimat ‘meh’ sepanjang nonton.

Kemungkinannya sih karena gue nya aja yang nggak terlalu berselera ama pelem horror bertema supranatural atau juga karena gue ngerasa kalo plot ama adegan2 dalam pelem ini terlalu predictable dan udah terlalu sering ditampilin dalam pelem2 sebelumnya. 

Jadi maaf aje kalo reviewan gue disini keliatan terlalu subyektif hehe

Apalagi ketika sebuah twist yang sangat lemah dan sama sekali tidak mengejutkan muncul di menit-menit akhir. Pada momen ini, gue udah berencana buat matiin tipi dan kembali tidur kalo ada iklan pariwara nya Sule menginterupsi. Namun, pelem yang tayang ditipi dini hari kayanye cuman berfungsi buat nge ganjel-slot nunggu adzan shubuh dan nggak terlalu diminati para pemasang iklan buat melancarkan invasi bisnisnye.

Jadi, gue terus nonton pelem ini buat mastiin betapa nge-boringinnya akhir dari cerita The Skeleton Key.

Tik..tok..tik..tok..

Dan..ooh!

what should I write?

………………………

Oke..


Sodara-sodara, sebelum nulis komentar tentang ending pelem ini, gue pengen cerita kalo dulu gue pernah baca kumpulan-cerpen ‘Bom’ karya Putu Wijaya. Sebuah buku lecek-kumel dengan desain sampul yang sangat nggak menarik, tapi itulah buku favorit buat di bawa ke WC saat gue sembelit.

Tema cerita om Putu biasanya tentang kehidupan sehari-hari, komentar sosial dll yang disampaikan dengan gaya agak surreal. Sangat sederhana. Tapi yang menarik buat gue adalah gimana om Putu mampu membuat pembacanya terkesiap dengan hanya sebaris kalimat pendek yang ditaruhnya di paragraf paling akhir cerita. Kalimat singkat di akhir paragraf itu terasa bagaikan gedoran palu dikepala yang akan membuat kita tersadar telah terperangkap dalam jebakan alur cerita yang sejak awal udah disiapin om Putu dengan sangat terencana. Jenius! Style kaya gitu yang akhirnya ngebuat om Putu kita kenal juga sebagai sang ‘Teroris Mental’.

Nah, 5 menit adegan paling akhir cerita film The Skeleton Key ini ternyata secara mengejutkan juga berhasil membuat gue yang awalnya skeptis menjadi cukup surprisingly-surprised. Oke, bukan sebuah ending dengan mega-mumbo-jumbo smart - twist yang spektakuler memang, tapi pilihan konklusi cerita yang ditawarin Ehren Kruger, membuat dia kali ini terlihat bagaikan seorang striker yang berhasil mencetak gol kemenangan di saat injury-time!

Overall, sebagai pelem horror, The Skeleton Key emang gagal ngasih sensasi ketakutan atau ketegangan yang menderu-deru. Dia juga kemungkinannya akan tetep dikenang sebagai pelem horror medioker yang cuma bisa dinikmati ama orang yang lagi nggak bisa tidur kaya gue haha. 

Tapi, kalo kamu pengen tau definisi dari kata ‘creepy’ dengan tepat, nggak ada salahnya kalo kamu nyoba yang satu ini. Dan coba bertahan buat nonton sampe abis hehe

Bagaimanapun, hanya dengan ending impresif saja nggak cukup buat The Skeleton Key mendapat rating bagus diblog ini. Tanpa ending, gue udah siapin 3 buah popcorn-otak buat pelem ini, tapi karena gue cukup terkesan ama akhir ceritanya, okelah bagaimana kalo 5? Hehe

………………….





Jadi ceritanya prends, ketika tulisan THE END akhirnya nongol di layar, gue pun kembali ke tempat tidur dengan seulas seringai iblis dan sepasang tanduk yang tiba-tiba tumbuh di kepala. HRRHHH…

Rating : 
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

28 August 2010

Lets Scare Jessica To Death ( 1971 )

Terus terang, gue tertarik ama film ini cuman karena ngeliat desain poster nya yang ada ditengah-tengah definisi stupid ama keren. Liat aja tuh :D. Selain itu, tentu aja judulnya, 'Lets Scare Jessica To Death'!. Haha Judul yang sangat eksploitatif, ngingetin ama 'I spit On Your Grave' atau 'I Drink Your Blood' dll.

Dalam bayangan gue ini adalah sebuah film yang bercerita tentang sekelompok pemuda iseng  nakut-nakutin seorang cewe montok bernama Jessica sampe mati. Woo-hoo kedengeran kaya sebuah pelem yang cocok buat ngebuang waktu sejam-setengah.

Let's sheck..

Storyline :
Jessica ( Zohra Lampert ) adalah seorang perempuan yang baru saja dinyatakan sembuh dari mengalami gangguan jiwa. Sekarang dia terlihat baik-baik saja dan gembira.

Sang suami, Duncan ( Barton Heyman ) --bersama satu orang temannya Woody ( Kevin O' Connor )-- kemudian berniat memulai segalanya dari awal dengan mengajak Jessica pindah ke sebuah rumah di pedesaan di Connecticut ( seperti biasanya, tentu aja lengkap dengan danaunya :D )

Disana mereka tidak sengaja berkenalan dengan seorang wanita dan setelah beberapa saat perkenalan, Jessica mengundang wanita itu untuk ikut makan malam dan menginap beberapa hari.

Namun dari sinilah horror mulai terjadi.
Jessica merasa mendengarkan bisikan2 aneh ditelinganya. Bukan itu saja, dia juga sering mendapat penampakan2 yang tidak dilihat orang lain. semula ia memutuskan untuk mengabaikan hal ini dan tidak menceritakan apa yang dialaminya karena takut sang suami mengira gangguan jiwanya kambuh.

Suatu hari, seorang pemilik toko barang2 antik didesa itu bercerita kalo rumah yang mereka tempati adalah bekas rumah bangsawan Bishop, dia bercerita kalo pada tahun 1880 sebuah tragedi pernah terjadi disitu. Puteri Bishop, -Abigail- tewas tenggelam di danau samping rumah mereka tepat satu hari sebelum hari pernikahannya. Menurut legenda penduduk pula, arwah Abigail sekarang bergentayangan menghantui desa sebagai Vampire.

Dan setelah Jessica mengamati foto putri Bishop itu, wajahnya ternyata tak jauh beda dengan wanita misterius yang kini sedang menginap di rumahnya!

Sejak itulah Jessica semakin sering mendapat penampakan dan eskalasinya justru semakin meningkat. Dari mulai dia melihat sosok wanita bergaun putih melambai-lambai, sikap penduduk desa yang aneh dengan luka di lehernya, sampai melihat penampakan mayat wanita tenggelam di danau tempat dia biasa berenang.

Akhirnya, kerena Jessica sering terlihat ketakutan dan histeris, Duncan mengira gangguan jiwa Jessica kambuh, dia lalu berniat membawanya kembali ke dokter di kota. Jessica pun dilanda depresi dan kebingungan.

Apakah yang di lihat, didengar atau dialaminya adalah kejadian nyata atau hanya ada didalam pikirannya saja?? benarkah dia masih gila? atau memang ada sesuatu yang buruk di rumah itu?

Dan didalam kebingungannya dia akhirnya mengalami sebuah tragedi mengerikan....


Review :

Klik 'Play.

Setelah logo Paramount menghilang dari layar, kita akan mendapati sebuah shot dramatis sunset dengan cahaya oranye-nya yang memantul di sebuah danau berkabut. Senyap. Hanya terdengar suara burung danau dan kesiur angin.

Next frame, seorang perempuan terlihat duduk disebuah perahu kecil di danau itu, cahaya sunset membuat tubuhnya menjadi siluet.

Lalu kita mendengar narasi lirih yang terdengar seperti orang menggumam, suara itu pastilah berasal dari pikiran perempuan yang sedang duduk di perahu itu..

" I sit here and i can't believe that it happened. Dreams or nightmare..madness or sanity..i don't know which is which..."

.......................................

Dan hanya dari adegan opening seperti yang gue deskripsiin diatas saja, gue tahu kalo tebakan gue tentang film ini salah. Ini jelas bukan sebuah film eksploitasi-bodoh khas 70-an. Iye bener, dont ever judge movie by its poster ( kecuali poster film2nye Nayato ).

Ya, berlawanan ama desain poster ama judulnya yang eksploitatif, film ini ternyata sebuah psychological-atmospheric-surreal-poetic horror. Dan untungnya lumayan bagus buat jadi pilihan terakhir ketika lawakan Sule di tipi mulai membosankan.

Let's Scare Jessica To Death ( LSJTD ) adalah debut film panjang John D.Hancock setelah sebelumnya ( ditahun 1970 ) dia hanya membuat sebuah film pendek berdurasi 15 menit.

John D. Hancock memilih membuat filmnya berjalan sangat pelan namun terus merambat naik untuk akhirnya di akhir film dia meledak menjadi tragedi yang cukup untuk membuat gue merinding, walau begitu ini jelas bukan buat horror-hardcore yang hanya doyan tempo tinggi ( apalagi Zombem :D ). Nggak ada gore atau nudity. Hanya ada sedikit darah dan kematian dengan level-violence yang aman untuk seluruh keluarga. Yeah, rating film ini emang PG-13. Ngarepin apa lagi ya?

Namun, film ini nawarin beberapa adegan scare-tactics creepy yang didukung oleh kostum dan setting beraroma gothic. Kalo kamu seneng film horror yang mengandung adegan  seperti : 'cewek bergaun pengantin putih melambai-lambai dibalik kabut yang ketika dikejar dia kemudian menghilang', kamu pasti juga akan suka film ini.

Tapi tentu aja adegan yang menjadi ikonik di pelem ini adalah adegan ketika hantu Vampire-Abigail, perlahan-lahan keluar dari dalam danau..sayang, hantunya nggak telanjang seperti di 'Lady Terminator' :D



Film semakin terasa unik dengan menjadikan Jessica ( yang baru sembuh dari gangguan jiwa ) sebagai sentral film dengan pergolakan pikirannnya yang ditunjukin ke penonton ( inner-voice ). Ini membuat LSJTD terasa  creepy, sekaligus lirih dan puitis . Teknik inner-voice inilah mungkin yang menginspirasi  adegan populer di sinetron lokal, yaitu adegan Baim menengadahkan tangan, lalu terdengar inner-voice : "Tolong Baim Ya Allah.." ya, seperti itulah.

Poster Versi DVD (2006)
yang menarik lagi, film yang menjadi salah satu favoritnya Stephen King ini ngebiarin semua misteri dalam film ini tetap terbuka, dengan begitu penonton dipersilahkan berinterpretasi sendiri. Nggak tahu, yang kaya gini bisa dibilang nyebelin apa keren hehe..buat gue sih tergantung, dan untuk film ini..oke, cukup impresif.

Terus terang, kalo misalkan ini adalah sebuah film rilisan baru, plot atau premise-nya akan gue bilang 'nggak kreatif + membosankan'.  Makanya, kalo di-remake hasilnya pasti jelek.

Tapi gue selalu respek ama film-film klasik ( dalam artian : jadul ). Itu rasanya kaya kalo misalkan elu nggak terlalu tertarik ngeliat orang modern bisa nyiptain Smartphone, tapi pasti merasa kagum ketika tahu orang zaman dulu udah bisa berkomunikasi jarak jauh dengan perantara kabel + kaleng. Haha oldschool + classic.
Overall sih, emang bukan film horror yang sangat bagus atau essensial, tapi surprisingly-watchable. Terutama mungkin karena rendahnya ekspektasi gue.
Semuanya dieksekusi dengan mulus. setting, atmosfir, shot-shot, photografi, akting ( terutama akting Zohra Lampert ) dan didukung scoring yang pas, 'Lets Scare Jessica To Death' menjadi salah satu film horror-misteri di era 70-an yang terlihat percaya diri di genre nya.



Rating :

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

+++ : Yang ini ga ada hubungannya ama review. cuman pengen curhat, kalo kita perhatiin di pelem2 horror luar sono, kalo ada adegan yang memakai setting sebuah danau, gue iri banget soalnya danau-nya keliatan sepi banget. Seakan-akan kita bisa kesana di akhir pekan dan memiliki danau itu sendirian. Di Indonesia, sepanjang pengalaman gue kemping, hiking, blusukan ke hutan-hutan, setiap kali gue nemuin danau/telaga, gue juga selalu nemu pemandangan : tukang gorengan. -.-"

21 June 2010

PET SEMATARY ( 1989 )

Reviewed By 'R'.

Storyline :

Louis Creed ( Dale Midkiff ) , seorang dokter dari Chicago, memutuskan pindah ke sebuah rumah di kota kecil Maine. Dia membawa serta istri --Rachel ( Denise Crosby )-- dan dua anaknya --Ellie dan Gage-- dan tak ketinggalan seekor kucing kesayangan Ellie, -Church-. Rumah baru itu terlihat sangat sempurna untuk keluarga Creed.

Tidak beberapa lama, mereka berkenalan dengan seorang tetangga bernama Jud Crandall ( Fred Gwynne ). Jud yang ramah segera memberitahukan keluarga Creed tentang jalan besar di depan rumah mereka.  Jalan itu tenryata sangat rawan kecelakaan, karena dilewati oleh truk besar yang sering melintas dengan kecepatan tinggi. Tidak hanya itu, di kesempatan lain, Jud juga menunjukkan  sebuah areal pekuburan hewan ( Pet Sematary ) di seberang jalan rumah mereka. Konon, hewan yang meninggal dan dikubur disitu kebanyakan adalah karena tertabrak truk besar di jalan itu.

Sementara itu, Louis mulai mendapat penampakan dan peringatan dari arwah seorang mahasiswa yang tewas karena kecelakaan ( Pascow ) " don't go on to the place where the dead walk, " kata arwah Pascow sambil menunjuk sebuah tempat diatas Pet Sematary. "the barrier was not meant to be crossed" katanya lagi. Namun Louis hanya menganggap peringatan itu sebagai khayalan atau mimpi buruk saja.

Waktu berjalan, dan suatu hari Louis mendapat berita buruk. Jud, menemukan Church ( kucing kesayangan Ellie ) tergeletak tanpa nyawa dipinggir jalan karena tertabrak truk. Louis segera dilanda kebingungan menghadapi ini, karena dia tahu Ellie sangat menyayangi Church. Melihat itu, Jud segera memberi saran
" aku punya cara yang lebih baik " katanya. Jud lalu mengajak Louis ke sebuah tempat misterius yang terletak diatas 'Pet Sematary'. Tempat itu ternyata areal bekas pekuburan suku Indian 'MicMac' ( yah bener, kaya nama permen hehe ). Jud kemudian menyuruh Louis menguburkan bangkai Church di areal itu. Louis menurutinya..dia tak menyadari bahwa sesuatu yang jahat telah siap memberinya mimpi buruk . Jrenggg!!

Yah, areal pekuburan suku Micmac itu ternyata sebuah tempat terkutuk yang bisa menghidupkan kembali apa saja yang dikubur disitu. Sayangnya, apa yang bangkit dari situ bukanlah sesuatu yang sama seperti ketika dia masih hidup.

Horror menjadi semakin memuncak ketika suatu hari, Gage ( Miko Hughes ), -putera Louis yang masih berumur 2 tahun- tewas tertabrak truk. Louis yang sangat berduka pun memutuskan untuk melakukan hal nggak rasional yang sering dilakukan tokoh film Horror lainnya. Dia menguburkan puteranya di areal pekuburan suku MicMac itu!

Sudah kita duga, Gage yang bangkit dari kubur itu sama sekali bukan seperti Gage sebelumnya...dia memegang pisau, menyeringai dan ingin bermain dengan ayahnya...wessss

Review :


Oke, gue sebenernya bukan salah satu penggemar cerita Stephen King. Gue nggak pernah baca novelnya, dan gue nggak pernah sengaja nonton film karena tercantum tulisan 'based on Stephen King novel' di posternya. Namun, banyak sekali film yang udah gue tonton, ketika di teliti ternyata ceritanya adalah berdasarkan karya Stephen King. haha Dan ternyata rata-rata film-film yang diadaptasikan dari novel King itu nggak mengecewakan, disamping ada juga yang gue emang suka ( 'Misery' atau 'Carrie' misalnya ).

Dari pengalaman nonton film-film King sebelumnya, gue nyimpulin ( correct me ) kalo King seneng mengeksplor kisah-kisah dengan karakter orang biasa. Karakter yang bisa kita temui sehari-hari. Dimana imajinasinya kemudian bekerja liar seperti ini : si A yang bekerja sebagai 'ini' bertemu dengan karakter B yang 'kaya gini', di sebuah tempat yang 'kaya gini', lalu mengalami peristiwa 'kaya gini'. Ketika udah tersusun, King lebih seneng kalo cerita dan settingnya fokus dan eksplore ke situ, nggak melebar kemana-mana. Dari situ, dia tinggal nambahin pake 'bumbu-bumbu' kreatif supaya ceritanya jadi seru. Beberapa bahkan hanya menggunakan setting sempit dalam lingkup-ruang tertentu, seperti : Misery ( rumah ), Secret Window ( rumah) , The Shining ( hotel ) , The Mist ( mini-market ), 1408 ( kamar hotel ), dll. Tentu aja nggak semua cerita King seperti itu.

Namun, 'Pet Sematary' ini adalah salah satu film adaptasi dari novel King yang kayanya ceritanya di ciptain pake rumus yang udah gue tulis diatas. Entah gue harus bilang cerita ini kreatif apa bodoh? bayangin..kuburan keramat yang bisa membangkitkan orang atau hewan yang dikuburnya..hahaha Dengan ide-cerita konyol seperti itu, pantesnya sih 'Pet Sematary' jatuhnya ke horror-komedi ala Re-Animator .

Namun, nggak..ini cerita King, cuy, dan seperti biasanya, dia memilih untuk tampil serius-dramatis dengan menyelipkan pesan tentang 'arti kematian dan merelakan sesuatu yang kita cintai' , seperti kata Jud, 'Sometimes, Dead is better.."

Film ini juga punya error-script yang biasanya mampu di minimalisir King, misalnya :

-semua yang di kubur di areal Micmac diceritain selalu bangkit kembali dengan kondisi mirip zombie lengkap dengan luka-lukanya ( Timmy Baterman, Rachel ), namun kenapa Gage tidak? Sayang, Romero dan Tom Savini gagal menyutradarai film ini, kalo nggak pasti mereka akan ngebikin Gage juga tampil layaknya zombie, so kita akan mendapat sajian zombie balita yang pastinya akan keren. hehe

- kenapa seorang dokter seperti Louis memilih sebuah rumah dengan truk besar berseliweran didepannya?

character doing stupid things or making incredibly stupid decisions.

belum lagi beberapa Major-Bloopers hasil dari editing yang kurang teliti tampil dengan begitu jelasnya di beberapa scene.

lalu untuk sebuah kisah mirip fairy-tale seperti ini, durasi 103 menit, gue pikir juga terlalu panjang . 

Mood gue sempet ngedrop oleh adegan2 awal yang membuat gue berprediksi kalo ini adalah film yang ngebosenin, ( berapa kali sih kita ngeliat adegan sebuah keluarga pindah ke sebuah rumah indah tapi misterius : kita ngleiatnya di Amityville Horror, The Shining, The House by The Cemetery , Cold creek manor, 7 Days To Live, dan semua film dengan kata 'house' dan 'haunting' dijudulnya ) sementara, adegan yang melibatkan hantu Victor Pascow itu juga gue pikir nggak perlu dan sia-sia, adegan ini nggak akan berpengaruh pada cerita seandainya dihapus.

Kita tahu, cerita King juga pernah diangkat ke sebuah film anthology berjudul 'Cat's Eye ( 1985 )' dimana 3 cerita dirangkum jadi satu dengan durasi masing2 hanya sekitar 30 menit-an, nah 'Pet Sematary' akan sangat pas kalo dimasukin di anthology itu.


Untungnya, ngimbangin kelemahan2 diatas, King selalu pinter buat bikin karakter-karakter dalam ceritanya itu jadi hidup dan bikin kita peduli. Dan dalam 'Pet Sematary' , itu diterjemahin dengan baik ke dalam bahasa gambar oleh sutradara Mary Lambert, sementara aktor-aktrisnya juga mampu memerankan perannya masing-masing.

Selain itu, 'Pet Sematary' punya atmosfir horror yang kuat, illustrasi musik yang mendukung, banyak jump-scare dan memorable-scene yang efektif buat nakut2in penontonnya ( terutama anak di bawah 12 tahun hihi ), sebut saja adegan Zelda yang creepy itu, hantu 'kepala pecah' pascow, zombie Timmy Baterman, adegan kematian Gage, psikopat balita Gage, atau zombie Rachel. Poin plus ini dalam beberapa hal berhasil bikin penonton ngelupain dan memaafkan plot-hole2 tadi. And Yeah, i love the ending :)

Gue pikir kamu yang seneng film horror-hantu2an dengan atmosfir creepy khas horror-jadul, akan menyukai film ini.

TRAILER




RATING : 6/10

+ Bonus : Salah satu band favorit King ternyata adalah The Ramones, makanya kamu akan nemuin 'Sheena is a Punkrocker' mengalun dalam salah satu scene film ini, dan ketika film berakhir jangan matikan dulu, karena ada lagu ini hehe :

The Ramones : Pet Sematary
" I don't want to be buried in a Pet Sematary,
I don't want to live my life again. " yiiihaa..hidup rambut gondrong!