Showing posts with label sosiophat. Show all posts
Showing posts with label sosiophat. Show all posts

20 October 2014

Repulsion ( 1965 )


Repulsion merupakan instalasi pertama dari trilogi apartemen Polanski yang terkenal ( Rosemary's Baby -1968- dan The Tenant -1976- ) yang mana ketiganya sama-sama mengambil  setting sebagian besar berada di dalam gedung apartemen.

Repulsion diawali dengan bola mata dan diakhiri dengan bola mata. Ini menarik, ada apa dengan mata? hmm..mungkin Polanski ingin mengatakan filmnya adalah tentang apa yang penonton lihat dan apa yang karakter dalam filmnya lihat. Atau jika benar pepatah yang mengatakan 'mata adalah jendela jiwa', Polanski mungkin hendak mengajak penonton melihat kondisi ruang kejiwaan karakternya lewat jendela mata nya.

Pemilik mata itu bernama Carol's Ledoux ( Catherine Deneuve's ). Seorang wanita Belgia yang bekerja sebagai manicurist di sebuah salon kecantikan di London. Dari awal kita sudah menduga ada yang tidak beres dengan Carol. Dia sering terlihat melamun, jarang menampakkan emosi tertentu, kikuk dan sangat pendiam. Carol tinggal dengan kakaknya, Helene (Yvonne Furneaux) di sebuah apartemen kontrakan. Keduanya pun digambarkan sangat bertolak belakang, baik dari sikap dan cara berpakaian. Helene sangat atraktif, percaya diri, mandiri,  dan 'outgoing' sementara Carol terlihat rapuh, tertekan dan hanya ingin menyendiri. Dia benar-benar 'out of place'. Bahkan ketika dibandingkan dengan kakaknya sendiri, Carol terlihat seperti makhluk asing.

14 July 2013

ROPE ( 1948 )

Storyline : 


Entah buku siapa yang dia baca ( namun nama Nietzsche dengan teori 'Super Man' nya disebut-sebut disini ) , Rupert Candell ( diperankan oleh James Stewart yang 6 tahun setelah film ini menjadi pemeran utama dalam salah satu karya fenomenal Hitchcock 'Rear Window' ) mempercayai teori bahwa manusia yang superior secara intelektual dan berkepribadian unggul dimana mereka dianggap telah melampaui konsep moral tradisional tentang baik-buruk atau benar-salah, berhak melakukan pembunuhan ( yang disebutnya juga sebagai 'karya seni' ) terhadap manusia bodoh-menyedihkan-tak berguna dari kelas sosial yang lebih rendah. Lebih jauh, setengah bercanda Rupert juga berkata kalo dia percaya pada ekstremis yang mengharuskan adanya musim membunuh setiap tahun, atau 'pekan penggorokan' atau bahkan 'hari pencekikan'. Tentunya, jika umat manusia menjalankan ide itu, gue --sebagai manusia berkasta paling menyedihkan yang datang dari ras terbelakang mental-- pastilah akan menjadi salah satu yang bernasib paling mengerikan di 'pekan penggorokan' yang diadakan para super human. 

Beruntunglah, Rupert menyampaikan gagasan horor itu hanya setengah serius di sebuah pesta para kolega yang di penuhi gelak tawa. 


28 November 2011

THE HUMAN CENTIPEDE 2 ( FULL-SEQUENCE )

Masih inget Dr. Heiter? Dokter edan yang terobsesi menciptakan manusia kelabang dan sempat bikin sinema horror hiruk-pikuk dua tahun silam? aksinya dalam pelem itu ( The Human Centipede ) ternyata udah menginspirasi seorang penjaga area parkir di salah satu kota di Inggris buat ngewujudin teori '100% medically accurate' nya ke 'dunia nyata', menjadikan itu bukan hanya sekedar tagline pelem horror-medioker-murahan tapi juga sebagai terapi dari derita-psikologis yang dialaminya.

..............

Martin Lomax ( Laurence .R Harvey ) adalah seorang pengidap asma yang punya bobot ga beda ama atlit sumo, dia bekerja sebagai penjaga area parkir di sebuah kota yang keliatan sangat sepi ( dan nggak ada polisi ). Ibunya seorang renta yang udah nggak punya harapan hidup dan tiap hari memaki Martin dengan panggilan babi soalnya selain gendut, Martin emang sering berak dikasur (!), bokapnya di penjara karena kasus pelecehan seksual dan penyiksaan terhadap dirinya, dan sisa idup Martin sepulangnya dari tempat gawe dia dedikasikan buat nerima serangkaian tendangan dari tetangganya yang gue curigain adalah salah satu hooligan Tottenham Hotspurs.

Dengan kondisi kehidupan yang suram dan hopeless kaya gitu, Martin ternyata terobsesi dengan film The Human Centipede 1 ( THC1 ). Ya, waktu luangnya dia abisin buat bolak-balik nyetel pelem itu. Gue bilang bolak-balik, soalnya pas pelemnya abis Martin akan nge-rewind pelem itu buat nonton nya lagi dari awal. Terus pas pelem yang ditontonnya nyampe pada adegan tertentu dia akan ngambil ampelas ( iye, ampelas! ) buat masturbasi. Bukan itu aja, Martin juga ngumpulin foto2/gambar dari apa aja yang berhubungan ama pelem THC buat dijadiin kliping, nyimpennya di bawah kasur, terus nganggep itu sebagai kitab suci, ama oh iya satu lagi yang paling serem dia juga miara kelabang gede diakuarium, satu-satunya makhluk hidup yang bisa dia ajak ngobrol dan curhat.

Kalo udah gini, tinggal nunggu waktu aja buat si Martin akhirnya melakukan pembunuhan dan mraktekin teori '100% medically accurate' itu. Hanya saja, berbeda dengan Dr.Heiter, Martin berencana menciptakan manusia kelabang dengan menggunakan 12 manusia! ( kenapa 12? itu soalnya, populasi manusia di kota itu kayanya emang cuma 12 orang ) . Jadi dia mulai ngelumpuhin siapa aja yang keliatan dilayar pake pestol dan linggis ( termasuk Ashlynn Yennie --salah satu pemeran THC1-- yang dia tipu dengan berpura2 ngajak doi membintangi pelem Quentin Tarantino! haha! ) lalu ngumpulin semua korban nya ke dalam sebuah gudang besar. Oke, jadi bahan baku buat bikin manusia-kelabang udah siap. Tapi kemudian, apa yang seorang tukang parkir pecundang tau tentang ilmu medis dan operasi?

Review :
THIS REVIEW MAY CONTAIN SPOILER.


Beberapa tahun lalu gue pernah menulis review 'Funny Games', dimana menurut gue pelem itu sebenernya adalah sebuah statement-personal Michael Haneke buat sinema Holiwud & media lainnya yang dipenuhi glorifikasi kekerasan. Haneke menyerang langsung pengkonsumsi media kekerasan dengan membuat sebuah pelem yang secara psikologis terasa sangat 'menganggu' dan menyesakkan buat ditonton.

Nah, apa yang dilakuin Tom Six dalam The Human Centipede 2 ( THC 2 ), gue pikir nggak beda jauh ama apa yang udah dilakuin Haneke. Ya, ini lebih terasa seperti sebuah statement atau serangan balik!. Bedanya, selain bahwa dia bukan penganut anti-violence kaya Haneke, Tom Six menyasar para pengkritik pelem pertamanya ( yang banyak menuai respon negatif karena premis THC1 dinilai terlalu konyol sekaligus 'nggak ada apa-apanya' ketika diterjemahin dalam bentuk visual ). Tom Six seperti mempelajari semua review yang ditujukan buat THC1, dan memutuskan untuk men jawabnya dengan merilis pelem ini.

THC2 sengaja dibuat nyaris tanpa plot, dia juga nggak punya tensi ( kamu nggak akan nemuin adegan hide-run-seek disini ) sementara ruang untuk pengenalan karakter para korban nyaris nol. 


Jadi, setelah serangkaian adegan Martin membunuh, nembak dan ngelumpuhin korban-kobannya, praktis separo durasi pelem cuma berisi adegan Martin 'bereksperimen' di gedung tua dengan 12 korban dan seperangkat alat pertukangan yang nggak ada hubungannya ama dunia medis. Dan entah ini berita buruk apa berita baik, untuk adegan ini, Six membuang gaya mind-horror yang banyak dikritik dipelem pertamanya untuk kemudian secara vulgar ngasih apa yang dia anggep sebagai keinginan banyak penggemar horror. Dan yah, udah begitu aja. Selepas menit ke 50 itu, penonton dipaksa untuk berada di sebuah TKP buat menyaksikan aksi kejahatan sinting berlangsung. no plot, no tension..no hope. just watch it.

" bukankah emang ini yang kalian pengenin.? explicit mindless violence? so, nikmati aja " disuatu tempat kayanya Tom Six ngomong kaya gitu sambil menyeringai.

kalian bisa liat seringai nya..
Tingkahnya ini sedikit ngingetin gue sama anak kecil yang nyoba nunjukin gambar ulet buat nakut2in temen-emennya, tapi dia malah dilecehkan, karena kesel dia akhirnya membuat gambar uler sanca yang sedang mengunyah temen-temennya. harapannya, kali ini temen-temennya bakal pingsan. ( Satu hal yang dia lupa adalah, buat sebagian audiens yang kaya gituan mah bukan sesuatu yang offensive, tapi emang beneran menghibur. hihi. )

Sementara itu,  buat 'menyeret' penonton ikut hadir dalam TKP martin, Six seringkali membingkai Martin dalam sebuah frame jendela ruang parkir, dengan kamera ( di ibaratkan mata penonton ) nge-shoot tingkahnya dari sebuah tempat tersembunyi. Bener, penonton diposisikan sebagai pengintip.

Gue akui, walau apa yang tersaji di THC2 sebenernya udah mengalami 32 cuts oleh BBFC, Six bener2 ngebuktiin janjinya bahwa sequel ini akan membuat predecessor nya keliatan se imut kuda poni.


Sedikit berbaik hati, Six ngebalut semua hal menjijikan itu dalam format hitem-putih ( monochrome ), jadi penonton non-horror masih bisa menghibur diri sendiri dengan berkata " oh..itu pasti kecap yang muncrat dari kepalanya ". Tapi, secara kebetulan konsep hitam-putih ini justru membuat THC2 kerasa lebih dark, creepy, weird, kotor, sunyi dan oh ya..'berlumpur'. Dan kubangan lumpur itu bukankah sebuah tempat yang tepat buat seekor babi-gendut? cocok dah.

Dan walau dipenuhi adegan shocking-disturbing, beberapa adegan secara aneh malah menciptakan komedi-situasi-gelap, contohnya adalah adegan dimana martin menjemput Miss Yennie untuk datang ke lokasi suting 'Quentin Tarantino'. Haha. Cek pula aksi hillarious yang dia lakukan terhadap Martin di menit-menit akhir. it's hillarious-sick-joke haha.


Aksi Laurence R.Harvey disini ( yang walau nyaris nggak pernah ngomong sepanjang durasi + cuma masang ekspresi aneh ) menurut gue lebih creepy ( lebih tepatnya menjijikan ) daripada apa yang udah diusahakan Dieter Laser. Konon, kenapa akhirnya Tom Six memilih dia buat jadi villain disini adalah karena dalam audisi dia begitu sempurna ketika disuruh memperkosa kursi (?!).

Tampilnya penjahat seperti Martin juga seakan pemenuhan-keinginan Six atas review THC1 di blog ini, dimana gue menulis " tanpa harus secara konstan menampilkan wajah bengis seperti Dr.Hieter, siapa aja yang punya ide nyambungin manusia buat jadi kelabang pasti akan mengerikan, bahkan kalo dia punya wajah sepolos Baim. " Dan 2 tahun kemudian dia ngasih gue pria-pengidap asma-gendut-pecundang-tukang parkir. Untuk ini, gue cukup tekesan hehe

Dan terakhir, tokoh Martin Lomax ( seorang yang menganggap terlalu serius dan terobsesi pelem THC1 ) kayanya diciptain Tom Six buat menyindir sebagian horror-fan yang menurutnya juga terlalu serius menanggapi imajinasi/ide/konsep dari karya pertamanya.
Lewat karakter Martin Lomax, kali ini Six seperti berkata :

" kalian terlalu serius men, kenapa sih nggak nganggep aje imajinasi gue dalam THC1 tuh cuman sebagai 'karya seni' biasa..damn you lah pokona mah "

Gue pikir, dia harus mulai berfikir buat mengganti namanya menjadi Tom Sick.
Apalagi pas tau kalo dia sudah mempromosikan seri ke-3 nya ( dari rencana trilogi THC ) yang dijanjikan akan membuat THC2 ini kerasa kaya pelem Disney! Ohh...

.............................

begitulah interpretasi-instan gue ketika usai menonton ini.

Tapi jangan terlalu percaya juga sih, karena bisa aja gue salah.
Bisa aja sebenernya pelem ini sama kaya pelem horror-exploitation buruk lainnya yang nggak bemakna? Mungkinkah seperti halnya Martin Lomax, gue udah terlalu serius dengan mengkhayal tentang metafora dan statement-terselubung Tom Six yang sebenernya nggak ada? haha bisa jadi.

satu hal yang pengen gue kasi tau, gue mulai pengen masang poster Dr. Dieter dan miara kelabang.


hrrrrrrrrrrrhhhhh....

...................................................................

Don't take it too seriously.
kalo misalnya bener apa yang dlakukan Six disini terasa offensive, ini jelas sebuah serangan yang sungguh lemah, karena kalian bisa mencet tombol 'stop' kapan aja dan kembali ngelanjutin hidup.


RATING:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


19 June 2011

THREE..EXTREMES ( 2004 )

Reviewed By 'R'

Pelem yang gue review kali ini adalah sebuah proyek split-movie karya 3 sutradara besar Asia ( Park Chan-Wook, Takeshi Miike dan Fruit Chan ). Ke tiga nya berbagi film dengan durasi sekitar 30 menit buat dijejelin kedalamnya. Ini semacem kaya antologi 'Takut : Faces of Fear' atau '4Bia' beberapa waktu silam lah.

Park Chan-Wook dengan sebuah thriller berjudul 'Cut'.
Takeshi Miike dengan atmospheric-horror berjudul 'Box'.
Dan terakhir, Fruit Chan ngasih kite sebuah drama-psikologikal-disturbing yang diberi judul 'Dumplings'.

+ khusus untuk 'Dumplings', die sebenernye punya versi full-length nya sendiri ( rilis di tahun yang sama : 2004 ) , tapi demi proyek ini kemudian mengalami 'pemangkasan-adegan' disana-sini sampe durasinye dianggap pas.

Naaah, ketiga pelem pendek yang lahir dari tiga tangan berbeda ini kemudian dibungkus jadi satu dengan judul 'Three...Extremes'.

..................................

Oke, brad kite langsung aje ke pelemnya.

CUT

Park Chan-Wook adalah salah satu sutradara yang seneng banget mengeksplorasi kemungkinan apa aja yang bisa digali dari sebuah tema tentang dendam.

Ya, die orang keempat setelah Quentin Tarantino, Barry Prima dan Sundel Bolong yang gue tau kayanye terobsesi ama balas dendam hehe Dan dalam 'Cut' pun die masih bermain di ranah itu.

storyline : Seorang sutradara muda sukses mengalami hari yang buruk ketika salah satu figuran dalam sebuah filmnya menyelinap kedalam rumah dan menyandera istrinya. Figuran-psikopat yang rupanya menaruh dendam ini kemudian memaksa sang sutradara buat memainkan sebuah psikologikal-mind games dengan nyawa istri sang sutradara sebagai taruhan.


'Cut' sempet ngelambungin ekspektasi gue ketika pelem mengarah kesebuah 'torture-revenge-thriller' yang gruesome atau atau kalo nggak dia bakalan dipenuhi letupan kesumat seperti 'Oldboy'. Sementara itu setting dan karakter yang minimal, ngingetin gue ama pelem paling disturbing yang pernah gue tonton ‘Funny Games ( 1997 ) ’ .

Tapi, kemudian level gruesome yang biasa-biasa aje, penggarapan yang terlalu stylish ama tipikal ending yang seperti 'nyuruh penonton buat ngertiin sendiri maksudnye' membuat mood gue terjun bebas.

Buat otak gue yang lelah dan cuma ngarepin sajian bales dendam ala Charles Bronson yang bodoh namun meledak-ledak, tentu aja ini kerasa terlalu sinematik skillfull, bercita rasa tinggi, pinter dan..ehm, sayangnya gagal ngasih hiburan buat gue.

Untungnye ada sedikit balutan dark-humour yang lumayan bikin gue ketawa pas ngeliat tingkah polah sang psikopat yang ngelakuin hal-hal konyol di depan korbannye. Maksud gue, kalo lu pengen ngeliat psikopat make kostum renang terus nari balet, lu bisa nonton pelem ini.

BOX

Semua tahu Takeshi Miike adalah seorang psikopat, dan kebeneran die juga seorang seniman. Die seneng ber eksperimen, lalu membuat pelem sesuka hati tanpa pernah peduli apa kata penonton. Jadi, nggak ada yang bisa menghentikan die buat bikin pelem se-membosankan ini hehe

Storyline : Sebuah tragedi yang melibatkan rasa cemburu dan cinta segitiga membuat seorang mantan pemain sirkus ( Kyoko Hasegawa ) dihantui rasa bersalah. Penyesalan yang mendalam itu, memaksa dia harus berhadapan dengan kenangan dan mimpi buruk yang datang dari masa lalu.

Ya, 'Box' nggak seperti pelem Miike yang laen, tampil terlalu lamban, lirih, sunyi, atmospheric, puzzling dan artistik. Oke, 'Audition' juga lamban yah, tapi disitu mah seenggaknye ada orang ditusuk-tusuk pake jarum hehe. Jejak-jejak ke abnormal-an Miike dalam 'Visitor-Q' atau ke brutalannya dalam ‘Ichi The Killer’ juga nggak ke deteksi di sini.


Kalian akan nemuin banyak shot-shot panjang tak bergerak dengan hanya sedikit sekali musik latar atau dialog. Sementara itu setting yang dominan di sebuah lokasi bersalju akan membuat kalian semakin membeku. Mungkin karena terlarut dalam atmosfir pelem, atau dalam kasus gue : membeku karena bosen.


 'Box' bahkan terlalu indah buat sebuah genre film yang dipuja oleh sebagian penikmatnye justru karena 'kotor dan mentah'. Dalam pelem ini Miike emang keliatan berniat nge-blender cerita horror yang biasanye ‘kotor’ dengan sebuah seni sinematografi yang ‘matang’.

Seandainya di translate kedalam sebuah karya sastra, pelem Miike kali ini pastilah akan menjadi sebuah puisi. Tepatnya, puisi-horror.

Tentu aja nggak ada yang salah dengan puisi-horror..malah kalo lu punya sedikit kesabaran dan konsentrasi, kemungkinan lu masih bisa menikmati pelem ini dan terpesona dengan twist yang disajiin Miike.

Sementara buat gue...hehe gue nggak begitu ngerti puisi.



DUMPLINGS

Selain semua produk yang diiklanin Sule, menurut kalian produk apa lagi yang paling sering nongol iklan nye di tipi?

Hmmm..gue pikir itu adalah iklan kosmetik atau kecantikan hehe.

Gue inget-inget,
Ada iklan sabun yang konon bisa bikin cewe keliatan cakep terus sukses ngedapetin cowo-cowo ( yang pastinye akan ninggalin begitu die keliatan jelek lagi ), terus ada iklan lotion yang nunjukin kalo ungkapan perhatian seorang kawan sejati buat temennye adalah cekikikan sambil berkata “ ih..kulitmu belang-belang kaya tembok..pake dong lotion ini”, sampe krim pemutih yang mampu ngembaliin ‘cahaya muda mu’, bikin lu keliatan 20 tahun lebih muda dari aslinye, persis kaya tante Titiek Puspa.

Semua produk instan yang sebenernya nggak kalah palsu ama teknik skin-retouching di Photoshop atau CPAC ini menyerbu ke ruang tamu kita selama 1x24 jam nonstop. Die menyelinap ke alam bawah sadar, lalu memberi calon konsumennya imaji akan kecantikan yang akan ngebuat cewe mana aje jadi tak percaya diri ketika ngeliat kerutan di wajahnya.

( Sambil ngeliat iklannye, lu juga bisa baca tabloid gosip yang nampilin artikel tentang gimane seorang artis kelas jetset ngabisin duit sebesar gaji lu seumur hidup kerja di pabrik buat sebuah produk kosmetik. )

Secara cepet kita bisa nyimpulin, massifnya iklan2 kaya diatas, mengisyaratkan demand akan produk2 tersebut emang gede. Yang artinye, produknye emang laku. Dan demand yang gede itu mungkin salah satunya disebabin oleh iklan-iklan tersebut. Lah? kenapa jadi mbulet gini?? Padahal gue belum ngomongin sisi psikologis masyarakat di era modern dalam kaitannya dengan feminisme serta anarko-sindikalis bwahahaha..

Buat gue, ( orang biasa-biasa aje ) yang ngerasa aneh ama fenomena ‘kegilaan para wanita akan kecantikan dan kemudaan’ seperti yang ditampilin iklan-iklan itu, reaksi yang gue lakuin nggak pernah lebih dari menggerutu lalu membanting remote.

Tapi buat seorang ‘Fruit Chan’, itu kayanye cukup ngasih die inspirasi buat bikin pelem berjudul ‘Dumplings’.


Storyline :

Mrs.Li ( Pauline Lau ) adalah seorang mantan bintang TV yang sedang dilanda perasaan putus asa dan nggak berguna. Dia ngerasa perhatian suaminya mulai berkurang ( itu karena ternyata sang suami berselingkuh dengan cewe lain. )

Parahnya, bukannya nyalahin ketidak-setiaan sang suami, Mrs. Li justru ngerasa itu disebabin oleh usia yang semakin tua dan penampilannya yang tidak lagi menarik.

Ngeliat kehidupannya yang diceritain cukup mapan, gue ber-asumsi Mrs. Li pasti udah nyobain segala macam merk kosmetik dan terapi tertentu untuk membuatnya tetep keliatan muda dan cantik. Tapi, kayanye semua itu belum memuaskan hatinya.

Dia butuh sesuatu yang lebih instan,
sesuatu yang lebih ajaib.
Dan untuk itu die bersedia ngelakuin apa aja.

Nah, suatu hari Mrs.Li merasa ngedapetin titik terang buat masalahnye ketika dia ngedenger tentang seseorang yang punya resep dumpling ( dumpling = kue bola, kaya baso atau siomay..tapi bentuknya sekilas keliatan mirip vagina maenan :p ). Konon, resep kue itu terkenal punya khasiat mujarab sebagai obat kecantikan dan awet muda.

Tak menunggu lama, Mrs. Li pun segera mendatangi kediaman sang pembuat kue . Kemudian kita akan tahu bahwa pembuat kue terkenal itu bernama bibi Mei ( diperanin dengan impresif oleh Bai Ling ). Ajaib memang, walau bibi Mei mengaku sudah berusia senja, tapi penampilannya ternyata terlihat seperti wanita dibawah usia 30 tahun.

“ ini karena khasiat dari resep kue istimewa gue “ katanya sambil tersenyum bangga.

Bibi Mei pun langsung menghidangkan semangkok kue buat Mrs.Li.

Mrs.Li ingin mencicipi, namun entah kenapa dia terlihat ragu-ragu...

  
Sejenak kemudian, Mrs.Li pun menyendok satu kue, memasukannya kemulut, dan mengunyahnya pelan-pelan…nyammm…


Jreeeng..singkat cerita, sejak saat itulah Mrs.Li secara berkala mendatangi rumah bibi Mei buat mengkonsumsi ‘kue-awet-muda’ itu. Semua berjalan lancar, sampai ketika Mrs.Li nggak bisa menahan rasa penasarannya tentang bahan baku dan resep ‘misterius’ yang digunakan bibi Mei untuk formula kue nya.

Pada sebuah kesempatan, dia mengintip ke dapur,

dan.. oh!

……

apa yang disaksikannya adalah sebuah horror.

Review :

Kalo kita terlibat sebuah obrolan tentang sutradara sinema-horror Asia, ‘Fruit Chan’ jelas bukan nama yang akan segera terlontar dari mulut. Ya, nama ‘Park Chan-Wook’ atau ‘Takeshi Miike’ lebih menggoda untuk disebutkan. Sementara gue sendiri lebih seneng menyebut nama ‘Ng Kai Lam’ hehe

Siape sebenernya ‘Fruit Chan’ ?
Bukankah namanya lebih mirip sejenis permen rasa buah-buahan?

Setelah gue nanya ke ‘kakek segala tahu’ ( baca : google ), dia sebenernya sutradara yang cukup sering dapet penghargaan, tapi catet : sebagian besar pelem yang dihasilkannya ternyata ber-genre drama. Ini cukup ngejawab pertanyaan kenapa ‘Dumplings’ lebih kerasa sebagai drama-psikologikal ketimbang thriller atau horror.

Terus kenape pelem drama bisa nyelip di kompilasi-horror yang ngakunya ekstrim ini??

Seperti opini gue di intro-review ,

pelem ini mempunyai komentar-sosial tentang ‘kegilaan para wanita akan kecantikan dan kemudaan’ yang disampaikan Chan dengan sangat tajam, provokatif, satir, sinikal, hiperbola, dark, disturbing, dan yeah..ekstrim.

Gue nggak bilang bahwa hal paling 'mengganggu' dalam 'Dumplings' adalah resep 'misterius' Bibi Mei. Hehe soalnye, para horror-freak gue yakin sih udah pernah ngeliat yang lebih brutal dari ini. Jangan harap pula bakal ngeliat glorifikasi-kanibalisme dengan organ tubuh dan darah bermuncratan disini. Fruit Chan bahkan boleh dibilang pelit nampilin gambar-gambar gruesome. Ya, segeralah kecewa kalo itu yang kalian cari, soalnye

alih-alih ngasih penontonnya horror untuk diliat, Chan lebih seneng mikirin cara gimana supaya horror itu terjadi dalam kepala kita.

Setelah kita tau rahasia bahan baku kue Bibi Mei yang ternyata ‘memiriskan+menjijikkan’ buat dijadiin makanan, Fruit Chan dengan sengaja nge-shot adegan Mrs.Li memakannya dengan sangat detil dari mulai ‘kue’ itu masuk mulut, dikunyah sampe die melewati tenggorokan Mrs.Li.

Ya. lewat kamera yang dipegang sinematografer Christopher Doyle ( remake ‘Psycho’ | 1998 ) penonton seperti dipaksa ikut ngerasain kenyalnya ‘daging’ yang dimakan Mrs.Li.

Dan kalo porsi visual belum cukup buat buat kalian berimajinasi,..there is sound!
Desain sound yang sederhana tapi efektif dalam ‘Dumplings’ ngebantu kita untuk bisa ngedenger suara daging terkunyah atau tulang-tulang yang berkeriuk lembut dalam mulut Mrs.Li.
 

Gue jamin sensasi yang dihasilin nggak sama kaya kalo kalian nonton salah satu episod ‘Fear Factor’ dimana para kontestan disuruh makan jus tai kebo. Dalam ‘Dumplings’, ada ironi, sindiran-sosial, sick-joke dan rasa kemanusiaan yang terkunyah bersamaan dengan terkunyahnya ‘kue’ di mulut Mrs.Li.

Suatu hari, ketika ketergantungan Mrs.Li pada ‘kue’ buatan Bibi Mei sudah nyampe level addict, sesuatu yang tak terduga terjadi. Bibi Mei kabur keluar kota karena terlibat kasus ‘malpraktek’ yang berujung pada sebuah tragedi.

Pertanyaan yang tersembul kemudian adalah ‘apa yang akan dilakukan Mrs.Li untuk memenuhi ketergantungannya pada ‘kue’ buatan Bibi Mei?' Ini dijawab Fruit Chan lewat sebuah shocking-ending didukung musik-latar menyayat yang berhasil membuat gue merinding. Kayanya ini akan menjadi salah satu ‘most-memorable-scene’ versi gue.


Pada titik ini, kalian akan mengerti kenapa walaupun bergenre drama, ‘Dumplings’ pantas dimasukin ke dalam kompilasi horror-ekstrim bersanding dengan dua nama lain yang udah menyandang predikat cult di genre-spesifiknya.

Overall, Dilengkapi oleh akting brillian, skrip tajam, setting sederhana, karakter kuat, sinematografi impresif dan tata-suara yang efektif, ‘Dumplings’ menjadi satu-satunya pelem dalam kompilasi ‘Three..Extremes’ yang ga disangka-sangka ( dengan caranya sendiri ) mampu membuat gue terkesan.

…………..

Setelah selesai menonton, kalo kalian kemudian nyimpulin wanita sebagai kaum bodoh dan kalap karena mau memakan apa aja cuma biar die tetep keliatan cantik, awet muda dan nggak ditinggalin cowo nya, tentu adalah hal yang terlalu gegabah. Soalnye, ( selain bahwa nggak semua cewe se-desperate Mr.Li ) ngomongin cewe yang berfikir harus cantik supaya die nggak ditinggal cowo, sebenernya sama aja dengan ngomong bahwa cowo cuman ngeliat cewe dari fisiknya aja. ( padahal kan emang bener kan ya? Hehe ) .

Lagipula, kalo misalkan lu suatu hari ngebaca iklan tentang khasiat penis-goreng yang menggaransi lu kuat ngesex 5 jam nonstop, bukannya lo juga akan memakannye? Eh??

Berfikir seperti itu, pada akhirnya gue ngerasa ‘Dumplings’ bukan cuma menyindir para wanita, tapi lebih dari itu dia juga menyasar ke kite..umat manusia, yang sebenernya ( pada saat tertentu ) nggak lebih dari ‘hewan-buas-berlidah panjang’ yang sanggup ngelakuin hal menjijikkan apa aje, memakan apa aje, ngebunuh siapa aje demi obsesi/keinginan/nafsu pribadi nye.

Anjir dah, kenapa review ini mulai mirip khotbah Jum’at??

……………

yummmy..

Yaudah, hehe
Akhirnya gue cuman pengen sharing ama pembaca blog ini bahwa 'Three..Extremes' sepertinya nyoba nawarin kita sensasi menikmati horror dengan cara yang berbeda. 2 pelem didalamnya ( 'Cut' dan 'Box' ) ternyata nggak berhasil ngasih gue sesuatu buat diinget, namun pelem terakhir ( 'Dumplings' ) ternyata mampu membuat gue nulis review cukup panjang hehehe dan itu artinya gue terkesan.

Walau begitu, buat fans Miike dan Chan-Wook gue masih ngerekomendasiin pelem ini. Sementara buat fans ultras-militan-garis keras Lloyd Kauffman..lo tau kalo yang ini bukan buat elo hehe.


RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


10 August 2010

RAMPAGE ( 2009 )

 Reviewed By 'Z'

Kata ‘infamous’ itu cocok banget buat ngedeskripsiin Uwe Boll, seseorang yg begitu narsistik pada inkompetensinye sendiri sampe die ngerasa perlu buat nantangin para kritikusnye buat bertanding di atas ring tinju & menang! Popularitas dari “karier”-nye dibangun di atas serangkaian film adaptasi dari video-game2 yg juga ngga bagus. 

Untuk sebuah alesan yg kite semua ngga tau, Dr. Boll itu luar biasa ahli dalem soal bikin versi film luar biasa buruk dari video-game yg cuman dianggep sedikit lebih bagusan daripade versi filmnye. Ngga ada yg suka ama orang ini, kenape? Karena die hobi buat nge-annoyed dua jenis orang : para penggemar horror ama para penggemar game. Dua jenis orang yg, kalo ngga lagi nge-search bokep, cuman dikenal buat ngelakuin 2 hal ini:

1. Nonton film horror/maen game.
2. Mengeluh soal apaan yg mereka tonton/maenin.

Kenape Uwe Boll sengaja terus meng-annoyed orang2 kaya gini dengan karya2-nye? Gue ngga ngerti. Tapi hey, ini kan Uwe Boll, orang yg mengambil keputusan ilogikal macem nge-cast Tara Reid sebagai seorang “intelektual”, jadi sapeee yg bisa tau die maunye ape.

Jadi inilah karya Boll terbaru, diadaptasi dari maenan ding-dong klasik di mane 3 monster raksasa berkeliaran di kota, ngerusakin gedung, ngancurin tank, ama makanin cewe2 yg keluar dari jendela.

Dulu kite semua suka banget itu,

itu tuh semacem versi generasi kite dari Point Blank. Tapi, ternyata Rampage yg ini bukan adaptasi dari game itu.

( Ringo : dan juga nggak ada hubungannya ama film ini haha ) 


Malahan, Rampage-nye Uwe Boll ini adalah sebuah film orisinil yg sama sekali ngga ada hubungannye ama video-game ataupun monster. Kalopun lo mesti maksain ini buat punya hubungannye ama game (soalnye ini bikinan Uwe Boll, & lo menolak buat percaya kalo die sanggup ngelakuin sesuatu yg ngga tipikal), game tersebut bakalan lebih cenderung buat keliatan kaya gini


Yup, sutradara yg digadang “bikin Ed Wood keliatan kaya Hitchcock” ini sekarang ngebuat film soal badass-dude-with-guns-shooting-out-randomly-at-armless-civilians.

Gue tau gue harus nonton ini
Bill Williamson itu semacem lo ama gue. Die punya sepasang orang tua yg, dalem usaha mereka buat ramah, selalu bikin tekanan idup lo membesar. Die punya pekerjaan yg sebenernye ngga terlalu buruk, tapi dengan bos luar biasa menyebalkan. Die kenal ama orang yg ngga bisa berenti ngomongin isu2 dunia soalnye kebanyakan nonton Fight Club ama dengerin Rage Against The Machine. Die suka sejenis kopi tertentu, tapi ngga pernah ada yg bikinnye dengan bener. Die pengen makan siang di fast-food, temennye kudu lah bikin monolog panjang Tyler Durden-esque menyebalkan soal itu. Semuanye kedengeran familiar kan? Pendeknye, Bill itu orang biasa dalam sebuah dunia yg menyedihkan, semacem gue kalo lagi malem minggu.

Yg ngebedain Bill ama kite -sekaligus ngemiripin die ama Bruce Wayne- cuman satu: di kamarnye die ngedesain kostum kevlar buat ngelindungin badan dari ujung ke ujung.

Bedanye ama Bruce Wayne, desain Bill ngga punya kecenderungan buat memikat para gay dengan sejenis fetish S & M tertentu, oh iye, ama die juga numpuk senjata otomatis ama amunisi dalam jumlah yg bakalan bikin The Punisher iri!! Buat apa? Supaya pada satu hari yg ngga diduga, die bisa nabrakin sebuah van penuh bahan peledak ke kantor polisi & turun ke jalan buat bikin eksekusi massal secara acak tentunye! Cuma sebuah aksi yg umum dilakuin ama orang2 yg kecewa kopinye ngga pernah dibikin dengan bener.

Gagal dalem apapun yg die bikin sebelonnye (termasuk director’s cut House of the Dead “Funny Version” itu), Uwe Boll mutusin buat nyoba bikin film dengan tema “politis”. Dan meskipun konteks politis dalem film ini nyaris ngga kedengeran kaya apapun selaen potongan sampel2 yg dipotong secara acak dari sebuah album Dalek, kenyataannye Boll udah berhasil ngelakuin apaan yg sebelonnye ngga pernah bisa die lakuin: bikin film yg ngga menyebalkan buat ditonton!! Kali ini, semua kesalahan ama kekurangannye ngga bikin apa yg die bikin jadi keliatan achterlijk, tapi justru cocok ama keseluruhan tema bahwa ini adalah potret ekstrim dari tendesi nihilistik generasi muda di jaman modern.

Malah, gue pikir kalo misalnye Boll berusaha buat ngedalemin alam pikiran Bill & nyoba ngasih penjelasan lebih detail soal apaan yg jadi landasan aksinye, film ini bakalan jadi terlalu ambisius. Gue ragu seorang Uwe Boll, bahkan dengan semua kemajuan yg ditunjukinnye di sini, bakalan punya kapabilitas buat ngekesekusi subjek sedalem itu dengan bener. Kayanye, kaya karakter Bill Williamson sendiri, Boll lebih fokus pada eksyen, bukan kata2, itu ngebantu produk akhirnye buat jadi kerasa efektif daripade kalo die berusaha terlalu jauh ngeksplor wilayah filosofis. Bahkan ada sentuhan twist di ujung yg sampe pacar gue, seseorang dengan selera film jauh lebih bagus dari gue, bisa nganggep itu cukup keren, &  doski tadinye adalah yg paling kontra pas ngeliat gue ngambil DVD-nye film bikinan Uwe Boll dari rak.

Tentunye buat nyebut Rampage sebagai sesuatu yg “luar biasa” juga sebuah hiperbola. Walaupun punya momen2-nye, Rampage tetep dipenuhi ranjau poin2 minus yg betebaran di sana-sini. Dialog2 tolol, soundbite2 annoying, editing flashy yg membingungkan, ending yg bahkan lebih membingungkan, plus penampilan buruk dari beberapa nama yg lo harepin buat tampil lebih baik adalah sebagian darinye. Boll juga pengen film ini buat keliatan “realistis”, dalem era faux-dokumenter gini, itu artinye ada beberapa adegan yg keliatannye di-shoot ketika terjadi gempa berukuran 5 skala Richter. Dan meskipun seseorang dalem pakaian kevlar nembakin massa sembarangan di jalan itu masih keliatan bad-ass walau dari shaky-cam, gue ngerasa kalo level kekerasan film ini ada jauh di bawah harapan. Tetep cukup brutal sih, tapi rasanye kok kayanye Boll kurang ngekspos kemungkinan “orang bersenjata nembak orang sipil” ini sesuai dengan potensi gore sepenuhnye.


Gue udah ngebunuh banyak orang sipil di video-game: ribuan x ribuan. Gue nabrakin pejalan kaki di Grand Theft Auto setiap saat, ngebakarin massa ama ngeledakin mall penuh orang di State of Emergency, ngeberondong 30 orang per 5 detiknye selama 10 menit di level airport Modern Warfare 2, & gue ngelakuin semuanye berkali-kali.

Game2 kaya gitu nunjukin seberapa gede sebenernye tingkat pengrusakan yg bisa dilakuin ama orang bersenjata di tengah2 masyarakat sipil, sebetapa berdarahnye hal itu bisa keliatan. Dengan semua bumbu “politis” di dalemnye praktis ngga pernah bisa keluar dari level “berantakan”, inti yg kesisa dari Rampage tuh jelas soal tema ”orang nembakin orang laen dengan sembarangan”-nye doang, jadi jujur gue sedikit kecewa ngeliat adegan pembantaiannye yg kelewat jinak buat selera gue. Sebagai sebuah film yg secara budget bisa dibilang b-movie, gue ngarep kalo adegan2 tersebut bisa lebih eksplisit daripade gimane itu ditunjukin di sini. Mode “realistis” film ini bikin banyak adegan penembakan terjadi off-screen, yg sejujurnye sih, buat sebagian orang mungkin lebih dramatis, cuman sayangnye gue bukan jenis “sebagian orang” itu aje.

Rampage adalah sebuah cerita sederhana: ngga ada protagonis- ngga ada antagonis, ngga ada nurani- ngga ada moral. Pendek & padat, ini keliatan kaya sebuah versi raw dari Kick-Ass tanpa semua plot ataupun komedinye. Yg paling jelasnye sih, dalem Kick-Ass ada garis tebel buat misahin apa yg bener ama apa yg salah, orang2 yg dibunuhin di situ jelas adalah orang jahat. Uniknye, dalem semua kesederhanaannye, Rampage malah ngga punya penyederhanaan itu sama sekali. Di sini, lo ngga dikasih opsi selaen ngikutin seseorang waktu die ngelakuin aksi brutalnye secara acak, persepsi dari apaan nilai yg lo liat di dalemnye itu tergantung ama interpretasi lo sendiri. Ini mungkin ngga cukup memuaskan buat sebagian orang, untuk ngeliat sebuah topik intrik-personal sepotensial ini ngga dijadiin apepun selaen alesan buat numpukin mayat dalem jumlah besar cuman demi tontonan semata.

Secara pribadi sih, gue ngeliat film ini kaya gimane gue ngeliat Hard Boiled bertaun-taun yg lalu, jenis film di mane 98% orang yg berperan di dalemnye masuk frame hanya buat kepentingan kena tembak! 
 Dan buat film model gitu, gue akuin Rampage cukup keren.





RATING :
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic