Showing posts with label psikopat. Show all posts
Showing posts with label psikopat. Show all posts

06 December 2014

The Collector ( 2009 )

Editorial :

Halo sodara-sodara..

Jadi, akhirnya blog ini masih bisa apdet lagi ketika seorang misterius berinisial 'HL' mengirimi gue imel berisi review buat di muat di sini. Ya, blog ini memang menerima kontribusi dari siapa aja, Tujuannya adalah, selain karena berbagi kegemaran itu indah ( cailah ) gue juga ingin memotivasi kawula muda untuk gemar meresensi film horror. Tapi baiklah, alasan sebenernya adalah karena gue udah sangat nggak produktif nulis review ( eh, gue malu nyebut itu sebagai review, gue lebih seneng nyebutnya curhat-abis-nonton-film ) sementara itu, Ming cuman nulis kalo lagi khilaf aja dan Zombem? dia udah punya 'markas' sendiri dan sepertinya saat ini sedang meniti karir menjadi selebtwit.

Kalo udah nggak produktif mestinya sekalian aja diumumin tanggal kematiannya dong!? mestinya sih begitu, tapi terus terang gue masih sayang blog ini dan belum pengen menguburnya. Gue seneng ngeliat ada apdet baru di blog ini, meskipun bukan gue yang nulis. So guys, kontribusi dari kalian akan membuat blog yang udah penuh debu dan sarang laba-laba ini tetep hidup. Tapi, ngomong-ngomong emang ada yang peduli yah kalo blog ini udah mati atau masih hidup? haha whatever lah..

Sori buat HL, kontribusi ulasannya baru sempet gue posting hari ini hehe Terima kasih banyak dan semoga masih punya banyak stok ulasan film horror buat di taro disini.

Ngomong-ngomong HL ini siapa yah? Hannibal Lecter?
Kita langsung cek aja reviewnya,

07 November 2014

EDISI I-LOVE-KOREA: MEMORIES OF MURDER (2003)

Written By Ming

Pengantar

Anda salah satu korban Korean Wave (jelas yang saya maksud Korea di sini dan nantinya adalah Korea Selatan, bukan tetangganya yang punya pemimpin berambut Mohawk itu) dengan drama-drama cintanya yang cute dan mengharu biru? Atau penggemar boyband-girlband-groupband—apapun itu sebutannya dengan personel berwajah boneka hasil polesan operasi plastik? Atau begini, setidaknya anda bakal mengetatkan ikat pinggang dengan berpuasa atau cukup mengonsumsi Indomie 3 kali sehari, misalnya, hanya untuk memiliki tablet Samsung terbaru, bukan? Hohoho, tenang saja. Anda tidak sendiri. Saya pun salah satu korban gelombang budaya Korea yang telah mengglobal. 

Cuma, yang saya gemari ini bisa dibilang sepi penggemar di sini—jika dibandingkan dengan produk Korea yang sudah saya sebut di atas, dan cuma bisa jadi obrolan seru sesama penggemar film horror beserta turunannya yang bisa dibilang masih satu spesies dengan pengunjung setia—dan tidak setia—blog horror kacangan (saya sebagai salah satu kontributor abadi dan satu-satunya, memang sudah mengajukan proposal kepada editor blog ini untuk mengganti saja nama Horror Popcorn menjadi Horror Kacang) yang makin sepi postingan hingga membuat sekelompok penggemar fanatik melakukan demo di depan kantor fiktif kami. 

18 February 2013

Sinema HK Cat III ( The Untold story, Ebola Syndrome, Daughter of Darkness & Red To Kill )

Pertengahan tahun 90-an, dunia sinema-lokal kita mengalami kebangkrutan. Penonton beralih ke Laser Disc atau VCD dan enggan mendatangi gedung bisokop, sementara sineas memperparah kondisi itu dengan hanya memproduksi film-film seks absurd berdana rendah yang membuat kita akrab dengan nama Windy Chindyana, Reynaldi atau Ibra Azhari. Kita nggak sendirian mengalami era kelesuan-sinema ini, hal yang sama juga ternyata terjadi pada sinema Hongkong.  

Menurut sumber terpercaya kita ( Bang Wiki ),
karena beberapa penyebab, penjualan tiket bioskop udah terasa menurun sejak akhir 80-an, gejala tidak baik itu mencapai puncaknya pada mid 90-an dimana sinema HK mulai kolaps dan akhirnya terjun bebas. Indikasinya bisa dilihat dari turun drastisnya jumlah penonton dan jumlah pilem yang di produksi ( terutama jika dibandingkan dekade sebelumnya ), dan dari jumlah itu, pilem2 yang diproduksi sebagian besar ternyata bergenre eksploitasi alias Cat III. Cat III ( Category III ) sendiri adalah sistem rating yang di tetapkan pemerintah HK pada tahun 1988 untuk pilem2 yang konon kaga cocok buat dikonsumsi anak-anak. Kalo di Indonesia mungkin seperti '17 tahun ke atas', dan untuk di Hollywood sono levelnya sama kaya Rated-R atau NC-17.
Cek : http://en.wikipedia.org/wiki/Cinema_of_Hong_Kong

 Jadi, kasusnya sama seperti sinema lokal kita di era itu yang frustasi merayu penonton untuk datang ke gedung bioskop dengan nyoba memfasilitasi fantasi dan selera murahan-primitif kita akan seks dan ketelanjangan. Kita tau bersama, trik yang biasanya selalu manjur ini pun gagal membuat gedung bioskop kembali ramai, salah satu penyebabnya adalah 

judul dan poster vulgar yang sudah terlanjur melambungkan imajinasi dan ekspektasi penonton, tidak pernah mampu dipenuhi pilemnya sendiri. 

Kefrustasian itu kemudian semakin terasa ketika kru gedung bioskop menghembuskan isu bahwa mereka akan menyelipkan beberapa menit potongan adegan film porno kedalam pilem yang akan diputar. Bisa di tebak, kursi bioskop hanya diisi mereka yang berniat hendak onani saja. Lebih buruk lagi, penonton hardcore-sange ini siap menjungkir balikkan kursi2 jika janji tentang potongan pilem porno itu dilanggar. Chaos.

Nah, sinema Hongkong mencoba membujuk penonton di era krisis itu dengan lebih banyak pilihan. Selain softcore-erotica, action-campy  dan komedi-slapstick, di inspirasikan kesuksesan 'Men Behind The Sun ( 1988 )', mereka gencar menawarkan tema2 tabu tentang pemerkosaan, sadisme, penyiksaan, kanibalisme, muncratan darah, potongan tubuh dan hal-hal menjijikkan lainnya yang ditampilkan dengan sangat eksplisit. ( jangan lupa 'Riki-Oh' juga lahir di era ini ).

Sebenernya, sinema HK sudah akrab dengan tema violence dan tumpahan darah sejak era vintage-horrornya Ma-Xu Weibang atau Kungfu-Splatter ala Chang Cheh, namun mid 90-an inilah era dimana sinema Cat III mereka menjadi sangat populer dan diproduksi dalam jumlah massif.

Dan berbeda dengan era pilem-seks-berdana-rendah kita yang gagal menghasilkan satupun pilem yang layak diinget ( selain judulnya saja yang mengandung kata ternoda, gairah, sex, binal, ranjang, godaan, kenikmatan atau nafsu ), sinema eksploitasi HK Cat III era 90-an berhasil ngelahirin banyak pilem fenomenal nan memorabel yang akhirnya sekarang menyandang predikat cult.
cek judul-judulnya nya disini :http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Hong_Kong_Category_III_films

Dan kalo sudah sampe sini, rasanya salah besar kalo nggak menyebut nama ini : Anthony Wong. Yup, dialah salah satu ikon untuk genre eksploitasi HK era itu, bersanding dengan nama lain seperti Simon Yam, Chingmy Yau, Lily Chung atau Pheng Tan yang lebih dikenal untuk genre softcore-erotica.

Oke, Folks hehe
Tanpa banyak bacot lagi, gue akan menceritakan satu pilem Anthony Wong yang pernah membuat sinema HK Cat III era 90-an menjadi penuh muncratan darah. 
.............................................

The Eight Immortals Restaurant: The Untold Story (1993)


Storyline :

Di ceritakan, Wong Chi Hang ( Anthony Wong ) melarikan diri ke Hongkong setelah melakukan pembunuhan di Macau. Tak lama setelah berada di Hongkong, dia segera menjalankan bisnis restoran 'The 8 Immortal'.

Sementara itu, masyarakat Hongkong tiba2 di gegerkan dengan penemuan tulang belulang dan potongan tubuh manusia di sebuah pantai. Polisi segera turun tangan, dan penyelidikan mereka mengarah pada Wong Chi Hang. Polisi menduga itu adalah potongan tubuh keluarga pemilik asli restoran 'The 8 Immortal' yang menghilang entah kemana. Setelah beberapa saat melakukan investigasi, polisi akhirnya mengambil kesimpulan kalo Wong Chi Hang telah membantai keluarga ini demi menguasai restorannya.

Awalnya, Wong Chi Hang bersikeras tidak mau mengakui tuduhan itu, namun karena tak sanggup menanggung banyak siksaan oleh polisi dan napi lain di dalam tahanan, dia akhirnya menyerah dan menceritakan dengan gamblang kronologis kejadian di malam itu..malam durjana ketika dia dengan brutal membantai 8 anggota keluarga pemilik restoran yang terdiri dari sang nenek, suami-istri dan 5 anaknya yang masih berusia di bawah 10 tahun! 

Lalu, gimana nasib Wong Chi Hang selanjutnya?

Review :

The Eight Immortals Restaurant: The Untold Story ( Bunman ), konon diangkat dari sebuah kejadian nyata yang pernah terjadi di Macau. Namun klaim itu sendiri masih diperdebatkan beberapa pihak sebagai sekedar trik marketing untuk menciptakan sensasi, rasa penasaran dan mendongkrak jumlah penonton saja.

Ok, kaga peduli ini berdasarkan 'real events' atau bukan, 'The Untold Story' tetaplah pilem yang ultra sick-fuck.

Memiliki cerita yang lempeng dan tidak punya banyak kejutan, The Untold Story menghebohkan sinema HK dengan kandungan kekerasannya yang melimpah dan ditampilkan begitu vulgar. Dari mulai mutilasi eksplisit sampai pemerkosaan brutal yang melibatkan sumpit pangsit ( ada apa dengan sumpit pangsit? kalian liat aja sendiri hehe ), Namun yang paling menggegerkan tentu saja adegan pembantaian satu keluarga itu. Bukan apa-apa, kalian pasti udah terbiasa ngeliat orang dewasa terbunuh dengan mengenaskan dalam sebuah pilem horror, tapi gimana kalo kali ini yg menjadi korban adalah lima anak kecil polos nan menggemaskan? sintingnya, Herman Yau ( sang sutradara ) memilih menggelar adegan ini apa adanya, raw, dan slow. Sementara kamera tak pernah menjauh dari kekerasan yang tersaji. Jadi kalian akan ngeliat adegan gimana Wong Chi Hang menghabisi satu persatu anak-anak yang terikat tak berdaya ini dengan pisau pemotong dagingnya, salah satunya bernasib sangat mengerikan karena Wong Chi Hang memenggal kepalanya dengan brutal.


Setelah itu, ditampilkan pula adegan Wong Chi Hang mulai memutilasi mayat2 keluarga itu, memisahkan tulang dan mengumpulkan daging2nya untuk digiling menjadi bahan baku pembuat kue di restorannya. sickfuck.

Gue pernah nonton pilem ini di Bioskop Mulya dulu, dan dengan mudah terlupakan karena rupanya LSF memotong terlalu banyak adegan, itu makanya gue cukup terperangah ketika ngeliat versi Uncut nya kemaren.

20 menit menjelang akhir, pilem ber setting di dalam penjara. Semua napi rupanya marah dan setiap hari menghajar Wong Chi Hang, sementara polisi pun menginterogasi Wong dengan siksaan. Gue ngerasa ini upaya Herman Yau untuk memainkan emosi audiens. Kadang kalian akan ngerasa siksaan yang di terima Wong terlalu banyak dan sedikit kasian ngeliatnya hehe, sampai akhirnya pada satu titik dimana Wong mengakui semua perbuatannya. Dan seperti sebuah rekonstruksi, pengakuan Wong diceritain dalam 10 menit adegan yang berdarah-darah yang udah gue ceritain diatas.

Tenang aja, gue belum bercerita terlalu banyak hehe kalian harus nonton sendiri untuk menemukan adegan2 sinting lainnya.

Meski mempunyai cerita yang begitu kelam dengan adegan2nya yang disturbing, anehnya 'The Untold Story' juga mempunyai sisi kontras berupa komedi-goofy. Bukan, ini bukan seperti komedi-horror gaya Braindead, dimana kepala termutilasi akan membuat kalian tertawa ngakak, adegan pembantaian dan segala hal yang berhubungan dengan Wong Chi Hang sendiri tetep disturbing, memilukan dan serius, namun ketika cerita berpindah ke para polisi, pilem seperti menekan tombol 'Komedi' nya dan atmosfir pun segera berubah menjadi seperti ketika kalian nonton pilemnya Wu Meng Ta. Ya, karakter polisi2 HK disini ditampilkan sangat konyol & komikal. Ciri ini juga bisa ditemui di banyak pilem HK Cat III ( dan kalian juga akan selalu menemukan karakter polwan tomboy didalamnya ). Komedi yang ditampilkan sendiri seringkali terasa klise dan tidak penting, tapi yang jelas ini memang membuat 'The Untold Story' menjadi lebih mudah...hmm..di kunyah, di telan dan dinikmati.

Sementara itu, Anthony Wong berakting dengan fenomenal. Perannya sebagai Wong Chi Hang disini tak terlupakan, dia membuat pisau pemotong daging tidak lagi terlihat sama ( temen gue selalu menyebut pisau pemotong daging sebagai 'Pisau Anthony Wong'  setelah menonton pilem ini haha ), persis seperti bagaimana Jason membuat topeng hoki identik dengan topeng pembunuh. Untuk effortnya, Anthony Wong sendiri akhirnya diganjar penghargaan best actor pada HK Film Award tahun 1994.

Kesuksesan pilem ini memperderas gelombang sinema HK Cat III era itu dan berujung pada pembuatan sekuel2nya  ( 'The Untold Story 2 & 3' --yang sayangnya tak pernah bisa melampaui atau setidaknya menyamai bagian pertamanya ini-- kanibalisme menjadi tema yang populer di HK, beberapa pilem bertema serupa segera dibuat, sampai akhirnya ditutup dengan cantik oleh Fruit Chan's 'Dumpling' (2004) yang lebih psychological.

....................................

Di bawah ini adalah beberapa judul lain dari sinema HK Cat III era 90-an, gue akan nyeritainnya dengan singkat aja ya hehe

....................................
Ebola Syndrome ( 1996 )


Dalam pilem ini Anthony Wong bernama Kai San. Tapi karakternya sama saja dengan Wong Chi Hang, begitu juga dengan ceritanya. Jika dalam 'Untold Story' sehabis melakukan pembunuhan Chi Hang melarikan diri ke HK, dalam 'Ebola Syndrome' Kai San kabur ke....Afrika Selatan.


Di Afrika, Kai San juga bekerja di sebuah restoran Cina, dengan boss yang otoriter. kegilaan dimulai ketika Kai San memperkosa wanita suku Zulu yang ternyata terjangkit virus Ebola. Kai San pun tertular. Dilanda putus asa, Kai San membunuh sang boss, istri dan saudaranya lalu menguasai restoran. Tak lupa dia juga menjadikan daging korbannya sebagai bahan baku kue. Setelah beberapa saat, Kai San memutuskan untuk kembali ke HK dan membuat gempar penduduk sana dengan secara sengaja menyebarkan virus Ebola secara serampangan kepada siapa saja yang ditemuinya.

Seperti gue bilang, ini seperti 'The Untold Story' versi Afrika dengan dosis kegilaan, kesadisan ( dan kekonyolan ) 2 kali lipet. Kali ini tanpa polisi-idiot namun mempunyai atmosfer komedi-sakit yang lebih kental.

Gue nggak perlu menceritakan semua adegan stress nya, tapi ada satu scene yang paling gue inget dari pilem ini :
Kai San, ber onani menggunakan daging ayam dan menumpahkan semen-nya disitu. tak lama kemudian, dia menggunakan daging ayam yang berlumuran sperma itu untuk bahan baku membuat kue.

......................................

Daughter of Darkness ( 1993 )


Anthony Wong tidak menjadi pemeran utama disini. dia memerankan penyidik polisi ( opsir Lui ) haha, lebih tepatnya polisi pervert-konyol yang cerdas.

Opsir Lui sedang menyelidiki kasus pembantaian satu keluarga, dimana hanya ada satu survivor, yaitu sang puteri bernama Wei-Fong ( Lily Chung ). Setelah serangkaian investigasi konyol-asal asalan ( yang ngingetin gue ama investigasi serampangan di 'Memories of Murder' ) opsir Lui akhirnya dapat menemukan sang pelaku pembantaian yang sebenernya udah bisa kita tebak sejak awal haha baiklah, ( ini bukan spoiler ) pelakunya emang Wei-Fong sendiri.

Wei Fong bercerita bahwa ia akhirnya membantai keluarganya, setelah sekian lama mengalami diskriminasi, pelecehan, penyiksaan bahkan pemerkosaan oleh seluruh anggota keluarganya sendiri.

Daughter of Darkness ( DoD ) banyak menampilkan adegan kekerasan, bullying, ketelanjangan, pemerkosaan yang diakhiri dengan aksi balas dendam berdarah, namun jangan ber-ekspektasi ini bakal sesolid 'Bedevilled', plot hole kesebar disana sini ( kalo km masih peduli itu ) DoD bahkan masih terasa inferior jika dibandingkan dengan 'The Untold Story'. Walau begitu, ini termasuk dalam jajaran judul populer/laris di HK pada saat itu. Dan meski memiliki rating Cat III, pada akhirnya konon semua usia boleh menonton pilem ini. Persis kaya gimana dulu, nyaris 50% penonton 'Ranjang yang Ternoda' adalah remaja dibawah usia 17 tahun.

Dan seperti juga 'The Untold Story' meski memiliki cerita gelap dengan banyak adegan kekerasan dan pemerkosaan, DoD mempunyai sisi lain berupa komedi gelap-konyol. kalian bisa ngeliat salah satu potongan adegan investigasi absurd ala Anthony Wong lewat klip dibawah ini haha

 

Selain itu, kritik/sindiran untuk aparat kepolisian HK yang sering salah tangkap dan melakukan penyiksaan pada saat interogasi sangat terasa disini.
 
Dan oh iya, pilem ini sering disebut sebut sebagai  'I spit on your Grave' versi HK

.........................

Yang satu ini bukan pilem Anthony Wong, tapi merupakan salah satu judul yang esensial untuk genre Cat III.
 
.........................
 
Red To Kill (1994)


Seorang psikopat-pemerkosa yang trauma dengan masa kecilnya berkeliaran di HK untuk membunuh dan memerkosa gadis yang memakai baju berwarna merah. Sementara itu, Ming Ming ( Lily Chung ) adalah seorang yatim piatu terbelakang mental yang dirawat di sebuah rumah khusus untuk orang orang yang senasib dengannya. Awalnya, Ming Ming bahagia berada di tempat tersebut, hingga akhirnya pada suatu hari tanpa sengaja dia memakai baju berwarna merah. Sang psikopat-pemerkosa yang ternyata adalah salah satu staff rumah perawatan tersebut, tak mampu mengontrol dirinya...dari seorang santun penuh perhatian dia berubah menjadi seperti Hulk, hanya saja Hulk yang satu ini dikuasai nafsu untuk memerkosa dan membunuh. 

Penuh shocking graphics, ketelanjangan dan glorifikasi adegan pemerkosaan.

Berbeda, dengan 3 judul diatas yang kental dengan komedi gelap, Red To Kill tidak memiliki karakter konyol ataupun sesuatu untuk membuat kita tertawa. Ini beneran kelam dan serius. ( meski pada akhirnya penggambaran sang psikopat yang hiperbola/overakting membuat beberapa adegan malah keliatan konyol juga haha ) , 
Walau begitu Red To Kill mempunyai skrip yang lebih solid dan tense yg lebih terjaga jika dibandingkan dengan 'DoD' dan poin plus lainnya adalah akting Lily Chung yang sangat bagus.
Sementara untuk violence dan gore sendiri hanya tampil brutal di menit-menit akhir durasi.

Shocking Graphics Scene : Ming-Ming merasa dirinya kotor setelah diperkosa oleh sang psikopat, dia menangis lalu mengambil silet untuk menyayat-nyayat..maaf..vagina nya sendiri.

Setelah menonton pilem ini, gue jadi ngebayangin betapa tersiksanya sang psikopat kalo tiap ngeliat cewe berbaju merah dia jadi nggak bisa ngontrol dirinya sendiri. Maksud gue, gimana kalo misalnya yang make baju merah nggak 1 orang, tapi misalnya..20 orang??


.............................................

Itulah beberapa judul dari Sinema HK cat 3 yang booming di era 90-an. Masih ada banyak lagi, kalian mungkin bisa ngerekomendasiin yang bagus buat gue. 

Seperti pilem2 eksploitasi lokal kita di era 70-80an, betapapun buruk, miskin kreatifitas dan murahannya kualitas pilem2 tersebut ( yang berbanding lurus dengan buruknya selera orang2 yang menontonnya -seperti gue- haha ), sinema eksploitasi udah menjadi catatan sejarah dunia sinema dalam usahanya : ngasih hiburan ( dan juga nyari duit :D ). Untuk era 2000-an ke atas, gue nggak tau apa yang kemudian terjadi pada sinema HK semenjak 2 raksasa perfilman Asia lainnya ( Jepang dan Korea ) tampaknya lebih mendominasi.

Ciao.

14 June 2012

FRAILTY ( 2001 )

Selain motif dendam, ekonomi, politik atau kelainan jiwa ( psikopat ), motif apa lagi yang paling sering me latar-belakangi terjadinya kasus pembunuhan berantai? Gue ga tau di negara lain, tapi di Indonesia, yang sering gue denger dari media salah satunya adalah motif  ilmu hitam. Kita bisa liat pada kasus Sumanto atau di beberapa kasus lain yang gue lupa, pelakunya mengaku melakukan serangkaian pembunuhan dalam rangka mendapatkan ilmu kesaktian. Tolol memang hehe. Nah, selain ilmu hitam, ada satu motif lain yang sering gue baca sebagai alasan seseorang untuk menghabisi nyawa orang lain.

Pernah baca berita tentang seseorang ( atau sekelompok orang ) yang membunuh karena konon mendapat semacam bisikan/wahyu dari Tuhan?

Mungkin kasus semacam itu bisa langsung kalian komentari sebagai bagian dari gejala sakit jiwa. Delusional? Skizophrenia? Namun, jikalau memang begitu halnya, apakah kalian juga akan berkata hal yang sama pada Nabi Ibrahim yang konon diwahyukan Tuhan untuk menyembelih puteranya sendiri?


Storyline :




Disebuah kota kecil, di Texas sekitar tahun 70-an, sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, Dad Meiks ( Bill Paxton ), dan dua puteranya Fenton ( Matt O' Leary ) dan Adam ( Jeremy Sumpter ) terlihat bahagia walau baru saja kehilangan sang ibu tercinta.

Semuanya terlihat baik-baik saja, sampai pada suatu hari...
sang ayah bercerita pada ke dua putera nya bahwa semalam dia baru saja mendapat 'vision' ( penampakan ) dari malaikat yang menyampaikan sebuah pesan dari Tuhan buat keluarga kecil mereka.

Konon sang malaikat yang menampakkan diri itu berkata bahwa hari kiamat sudah dekat. Iblis-iblis dikatakan telah menguasai bumi. Dan Tuhan telah memilih keluarga mereka menjadi 'God Hand's' ( tangan Tuhan ) untuk membantu melenyapkan semua iblis yang meraja lela dibumi. Dikatakan lagi, mereka harus menunggu karena Tuhan sedang menyiapkan senjata  untuk mereka beserta informasi daftar nama 'iblis' yang harus mereka musnahkan.

Mendengar itu, Adam ( yang berusia sekitar 6 tahun ) terlihat sangat antusias karena mengira dia akan menjadi semacam superhero pembasmi kejahatan pilihan Tuhan, tapi Fenton, ( 12 tahun ) rupanya bersikap skeptis dan meyakini ada yang salah dalam otak ayah nya. Sementara itu, sang ayah sendiri masih terlihat bingung dengan pengalaman spiritual nya.

Hingga pada suatu hari, ketika Dad Meiks dalam perjalanan, dia mendapat 'vision' sebuah rumah kosong ditengah tanah lapang yang secara aneh disinari selarik cahaya dari balik awan-awan. 


Dia pun memasuki rumah itu dan segera mengetahui bahwa selarik cahaya dari langit tadi, ternyata menyorot langsung ke beberapa benda di tengah2 ruangan. 
jreeeeeng!
Itu adalah sebuah kampak ( ! ) bertuliskan OTIS di gagangnya dan sepasang sarung tangan. Itukah senjata yang dijanjikan Tuhan buatnya ?? OTIS? it's 'Only The Idiot Survive'? 
Di lain hari, sang ayah kembali melihat penampakan dari malaikat ( di gambarkan bersayap dan menghunus sebilah pedang ) yang memberikan daftar nama 'iblis-iblis' yang harus segera keluarga ini lenyapkan.

Sekarang Dad Meiks yakin bahwa dia dan kedua puteranya memang ditakdirkan harus mengemban 'misi suci' Tuhan. Senjata dan daftar nama 'iblis' sudah di berikan , kini saatnya melakukan aksi...

gambaran seseorang yang baru saja mendapat pencerahan

Keluarga ini pun mulai melakukan serangkaian pembunuhan berdasarkan daftar nama yang konon diberikan 'malaikat'. Fenton tak setuju aksi ini dan menganggap ayahnya sudah gila ( dia bahkan pernah punya rencana kabur dan memberitahukan aksi gila sang ayah pada orang-orang ), namun pada akhirnya dia tak mampu berbuat banyak, sementara Adam malah terlihat menikmati aksi 'superhero' mereka.

Jadi, setelah mendapat nama dari 'malaikat', keluarga ini akan melacak alamat sang 'iblis' untuk kemudian mendatangi rumah nya, sang ayah lalu akan  melumpuhkannnya dengan pipa besi, lantas membawa 'tersangka iblis' ini ke ruang bawah tanah untuk memastikan apakah orang yang mereka bawa itu memang iblis atau bukan ( konon Dad Meiks bisa melihat dosa apa saja yang sudah dilakukan orang dihadapannya dengan mencengkeram kepalanya  ). Jika sudah pasti, maka  di saksikan ke dua puteranya, Dad akan segera melakukan 'ibadah' melenyapkan 'iblis' dengan mengkampaknya! ( mungkin juga memutilasinya, karena kemudian kita akan melihat ketika keluarga ini menguburkan korban, ternyata jenazah berada dalam kantong2 plastik terpisah berukuran kecil ).

Bertahun tahun kasus yang kemudian terkenal di Texas dengan sebutan 'Pembantaian Tangan Tuhan' ini tak pernah terungkap ( oh my..ada berapa orang gila dan pembantaian sebenarnya di Texas?? ).

Hingga suatu saat,
Fenton yang telah beranjak dewasa ( diperankan oleh Matthew McConaughey ) dan sejak awal tak setuju dengan apa yang dilakukan ayah dan adiknya, akhirnya memutuskan untuk mengungkap kegilaan mereka dengan menceritakan semuanya pada seorang agen FBI. Fenton bahkan bersedia menunjukkan lokasi dimana mereka menguburkan jasad para korban.


Seakan semuanya akan berakhir disini..
tapi ternyata....

...

tidak.


Review :


Film ini dibuat konon diilhami dari kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Joseph Kallinger bersama puteranya Michael ( yang baru berusia 13 tahun ), dimana ayah-anak ini melakukan 3 pembunuhan dan menyiksa 4 keluarga pada sekitar tahun 1974-1975 di New Jersey. Sama seperti keluarga Meiks dalam kisah film 'Frailty' ini, Joseph Kallinger juga mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah Tuhan.


Merupakan debut penyutradaraan film-panjang Bill Paxton ( lebih dikenal sebagai aktor dan dia juga memerankan karakter Dad Meiks di pilem ini ) setelah di tahun 80-an hanya menyutradarai pilem pendek dan satu serial TV, 'Frailty' yang boleh dibilang sebagai pilem berbujet rendah, tidak meraih sukses secara komersial, walau begitu film ini ternyata mendapat cukup banyak komentar positif dari audiens. Termasuk yang memuji pilem ini diantaranya adalah James Cameron, Sam Raimi dan Stephen King ( kemana Peter Jackson? ). Khusus Stephen King, dia bahkan menyebut 'Frailty' sebagai pilem horror-thriller terbaik di tahun 2001. Filmnya gue pikir memang sangat berbau Stephen King. Bisa gue bayangin kalo King menyesal bukan dia yang menulis ceritanya.


'Frailty' diawali dari adegan dimana Fenton dewasa ( Matthew Mcconaughey ) mendatangi kantor agen FBI Wesley Doyle ( Powers Boothe ) untuk membongkar kasus tak terpecahkan berjuluk 'Pembantaian Tangan Tuhan' yang dilakukan keluarganya. Dalam perjalanan menuju tempat dimana dia hendak menunjukkan lokasi penguburan para korban, Fenton mulai menceritakan kisahnya pada agen Wesley. Dan film secara flashback mulai bergulir.


Well, pilem bertema supranatural-religius aslinya bukan selera gue. Kebanyakan dari mereka asli beneran konyol dan membosankan. Tentang stigmata lah, tentang darah keramat kristus, malaikat pelindung dll dll. nggak menarik. Tapi, bukan berarti gue serta merta nolak dan langsung ngebenci semua pilem yang mempunyai tema itu sih. Ntar gue jadi fanatik-fundamentalis-film dong haha. Soalnya,  kadang ndilalah kok adaa aja gitu yang bagus. Misalnya aja, meski gue nggak suka buah nanas, tapi pas dia dibikin jus, ternyata gue bisa juga ngabisin segelas. aneh. Mungkinkah cara pengolahannya, yang membuat gue tiba-tiba jadi bisa nikmatin nanas? ataukah cuma karena gue lagi naksir ama penjual es jus nya? Oke,  lupain analogi menyedihkan tentang nanas ini.

Dan gue juga nyoba buat nggak terpengaruh komentar Cameron, Raimi  atau King tentang pilem ini, tapi pada kenyataannya secara tak disangka2 'Frailty' yang mempunyai desain poister jelek ini emang berhasil membuat gue terpaku di depan layar GOM Player buat ngikutin cerita keluarga gila Meiks sampe abis.




Kehadiran 2 anak kecil nan polos ditengah-tengah kekerasan yang berlangsung jelas menambah efek creepy pilem ini. Gue mungkin bakal ketiduran nonton 'Frailty' seandainya tidak ada karakter anak kecil disini. Begitu juga dengan setting pertengahan tahun 70-annya. Gue suka banget. nggak tau kenapa.

Sementara itu, konflik di hadirkan dengan pertentangan  ide antara Fenton yang semakin lama semakin membenci ayahnya ( karena menganggap dia udah jadi psikopat ) dan fanatisme ayahnya yang semakin lama justru semakin kuat. Dia bahkan menganggap, Fenton yang berani menentangnya adalah 'iblis', lantas mengurungnya di ruang bawah tanah selama seminggu agar Fenton mendapat 'pencerahan'. Cukup menarik juga ngeliat kenyataan bahwa meski sang ayah terlihat kejam, tapi dia juga diceritain sangat menyayangi kedua puteranya dan mengaku sebenarnya tidak ingin melakukan semua aksi berdarah itu. Hanya saja, sang ayah selalu berdalih bahwa dia tidak kuasa menolak perintah Tuhan. Karakter Adam yang polos, terlihat tidak penting. Tapi, nantinya kalian akan tahu bahwa Adam juga mempunyai peran yang cukup krusial disini.

By the way, semua aksi kekerasan dalam pilem ini ditampilkan secara minimal dan off-screen, nggak ada cewe bugil, apa darah muncrat dalam jumlah massif. Tanpa elemen-elemen krusial diatas, jelas dibutuhkan script yang solid, cerita yang menarik, juga eksekusi sinematik yang tepat-guna untuk membuat gue terpikat pada sebuah pilem horror-thriller yang mempunyai premise cukup konyol : keluarga pembunuh berantai yang digerakkan motif supranatural-religius.

 

Jadi, silahkan taro semua hal-hal positif dari aspek teknis sinematografi yang kalian ngerti disini. Gue nggak ngerti hal-hal berbau teknis soalnya.

Di menit2 akhir, 'Frailty' juga mempunyai twist yang sebenernya udah sering dipake pilem lain, tapi tetep aja gue ketipu ama trik ini. 'belokan tajam cerita' berlapis yang terungkap pada akhir cerita membuat gue terpaksa menontonnya sekali lagi buat mastiin nggak ada poin-poin penting yang kelewat. Asli men, selain pas nongton pilem bokep JAV, jarang loh gue sampe mau-maunya nge-rewind pilem buat fokus merhatiin detil2 nya.

Sekarang, ngomongin poin yang hendak disampaikan 'Frailty' gue ngerasa itu sungguh membuat jidat berkerut dan membawa gue kembali pada pertanyaan yang gue sampein di awal review : apakah Nabi Ibrahim mengalami delusi atau dia memang sedang mengerjakan titah Tuhan? pertanyaan yang sama juga ditujukan buat mereka yang meletakkan bom di keramaian untuk membinasakan 'musuh Tuhan', dan juga buat para pembela Tuhan, yang dengan bersemangat menghabisi 3 nyawa di Cikeusik. itukah aksi tangan Tuhan?

Lalu, kenapa 'tangan Tuhan' tak segera jatuh untuk menumpas 'iblis-iblis' di gedung DPR?


ini akan menjadi sangat subyektif dan memancing debat kusir yang tak berujung pangkal.

Ada baiknya, jika kalian selalu mengingat bahwa kisah dalam 'Frailty' hanya sekedar cerita pilem, karenanya semua yang ada didalamnya juga cuma produk khayal seseorang yang sepertinya kurang tidur dan terlalu banyak menenggak alkohol. Dengan demikian, kalian mungkin akan bisa menikmati 'Frailty' sebagai hiburan biasa yang akan ngabisin waktu sejam setengah kalian yang ngebosenin itu dengan cukup layak.

Untuk menyebut 'Frailty' sebagai pilem terbaik di tahun 2001, kedengeran sedikit berlebihan. Walau begitu, Gue memang sangat menikmati pilem ini, sebuah thriller-psikologikal yang efektif dan menyentak. it's not gory. It's not very scary. But it's very, very deliciously-twisty-creepy.
.........................................................

TRIVIA : Di tahun 1986, Maradona, mengemban misi suci 'tangan Tuhan' buat menunjukkan kepada dunia bahwa Tuhan begitu ingin ngeliat Inggris kalah. Kemungkinannya,  Dia nggak mau kalah taruhan dengan iblis.


RATING:





Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



24 July 2011

TUCKER & DALE VS EVIL ( 2010 )

Reviewed by ‘R’

Eli Craig ( sutradara debutan yang sebelumnya adalah seorang aktor gagal ) bekerja sama dengan co-writer Morgan Jurgenson menyapa horror-fan dengan sebuah konsep yang kalo gue baca di review-review blog/web laen sepertinya menawarkan sebuah slasher - komedi yang fresh sekaligus tetep setia nampilin elemen tradisionalnya : silly chase, hot-girl with big boobs, dan tentu saja..gory death. 

Ah..Bukannya sebuah tawaran yang sayang buat dilewatkan?

Tucker ( Alan Tudyk ) dan Dale ( Tyler Labine ) adalah dua orang hillbillies ( sebutan buat orang yang tinggal di hutan, bukit, apa gunung.—biasanya di deskripsiin sebagai aneh dan nggak ngikutin fashion-- ) yang berencana ngabisin waktu di pondok mereka di tengah hutan.
Kebeneran serombongan remaja kuliahan juga terlihat berencana kemping di tempat yang nggak jauh dari pondok mereka.

Nah, sebuah insiden kecil yang berawal dari prasangka dan kesalah-pahaman membuat rombongan remaja kuliahan ini mengira sedang berhadapan dengan semacem kawanan kanibal ala ‘Texas Chainsaw Massacre’ apa ‘Wrong Turn’. Kesalah pahaman ini kemudian semakin memburuk yang akhirnya malah mengakibat kan satu-persatu dari mereka menemui ajal secara konyol.

Kematian konyol yang di jelasin Tucker dengan polos sebagai : “ a bunch of college kids runnin’ around killin’ themselves..!” haha. 

…………………..

THIS REVIEW MAY CONTAINS SPOILER

Asli, menit-menit pertama pelem ini begitu hilarious. Eli Craig berhasil nge-mix laugh & gore dengan brillian buat memaksa penonton tertawa ngakak sekaligus menjerit : “ouch!” . Yeah..Nggak ada lagi yang lebih menyenangkan dari ngeliat rombongan remaja idiot tewas satu persatu..


Tentu saja selain ngeliat sheriff tewas dengan cara kaya gini,

bukan karena pembunuh maniak tapi karena kebodohannya sendiri. Gue bahkan nggak akan bosen seandainya itu terjadi sepanjang durasi. haha ini jelas Sebuah ide segar yang membuat gue berfikir ‘kenapa yang kaya gini enggak pernah kepikiran dari dulu yah..’

Nyampe, titik ini gue bahkan ngerasa Eli Craig itu seorang jenius yang ngebawa teen-slasher ke jalur sebenernya. Eh sebentar, emang lu  nganggep kisah maniak bertopeng ( yang susah mati + bisa muncul dimana saja ) ngebantai rombongan remaja kesasar yang kehilangan sinyal henpon itu bukan komedi?

Namun prends, euphoria gue nggak lama. Karena ternyata seperti ‘a bunch of college kids’ diatas , gue terlalu cepat nge-judge pelem ini hanya dari menit2 pertamanya .


Ketika pelem terus berjalan dan mendekati akhir, jelas keliatan kalo ‘materi-seger’ dari Tucker & Dale Vs Evil cuma bisa gue dapetin di 40 menit awal saja. Selebihnya Eli Craig keliatan memaksa agar pelem menjadi berdurasi pas 86 menit dan maen aman dengan plot akhir yang sama sekali tidak se-istimewa premise nya..

Iye, berkebalikan dari konsep teen slasher-parodical yang sejak awal ditawarin Eli Craig, masuk ke separo akhir, ‘Tucker and Dale Vs Evil’ tiba2 seperti mengkhianati konsep itu dengan berbelok menjadi pelem slasher beneran, lengkap dengan antagonis beneran plus adegan2 tipikal yang sangat klise dan predictable. 

Die berubah dari pelem menyenangkan yang ngetawain ke-klise annya sendiri, jadi pelem yang nyiptain klise buat gue ketawain saking membosankannya.

Sementara itu, twist kecil yang diselipin sama sekali nggak ngebantu naekin mood gue yang udah keburu turun.

Dan momen yang menggenapi hilangnya interest gue adalah ketika diceritain Dale mengalami pencerahan psikologis instan. Maksud gue, kalo lu orang culun yang punya krisis percaya diri parah, lu bisa nyoba dengerin petuah sohib lu yang lagi terluka parah.

Dale’s grown-personality ini terus terang mengecewakan mengingat keluguan duo pria gunung-pecundang ‘Tucker & Dale’ ini adalah salah satu ide yang ngebuat konsep teen slasher-komedi yang diusung Eli Craig di menit awal terasa segar, beda dengan teen-slasher laen dan berhasil bikin gue ngakak.


Sayang banget, soalnye karakter awal ‘Tucker & Dale’ sebenernya juga punya potensi buat menjadi horror-icons selanjutnya setelah Ash atau Derek. Semacem Mr. Bean nya pelem slasher lah haha. Lu bisa bayangin malapetaka macam apa yang bisa ditimbulin dua pria ‘ innocent tapi selalu berada dalam masalah ‘ ini kalo seandainya mereka pergi ke kota dalam pelem berjudul ‘Tucker & Dale in New York’.

Ya, mungkin Eli Craig nggak pernah mikir sejauh itu, dan cuman pengen bikin satu pelem hiburan satir ringan sekaligus nyampein pesan naïf ‘don’t judge book by it’s cover’ nya. Yang artinye, kalo lu lagi ada diterminal Pulogadung, terus tiba2 ada pria sangar-brewokan-bertatto nyamperin sambil megang piso dan nyoba minjem hp yang lagi lu pegang, jangan berburuk sangka dulu, kasihin aja hp lu sambil kasi senyum manis, karena siapa tau dia cuman mau ngasih lu pulsa gratis. Eh..?

Overall, Alan Tudyk dan Tyler Labine mencuri perhatian dengan peran mereka sebagai duo hillbillies yang ngingetin gue ama duo hillbillies brutal di ”Deliverance', Peran keduanya sangat mudah disukai penonton dan selalu berhasil memancing tawa. Sementara Katrina Bowden selaen ngasih sedikit boner juga sukses berperan sebagai gadis remaja yang maen bowling terus berciuman tanpa trauma sedikitpun setelah 7 temennya tewas dengan cara mengenaskan. Laurie Strode ama Sidney Prescott tentu bakalan heran ngeliatnya.

................................................

Jadi final verdict nya,
Nge-skip semua komentar personal gue diatas, sebagai pelem yang dibikin oleh orang yang baru aja mengawali karir sutradara nya, gue tetep nggak ragu ngasih applause buat effortnya. Yup, ‘ Tucker & Dale vs Evil’ masih sangat berpeluang menciptakan gemuruh tawa kalo ditonton rame-rame, gue juga masih akan tetep mengingat adegan Dale berlari panik ( karena dikerubutin tawon ) sambil ngayunin gergaji mesin sebagai salah satu ‘most silly-death in horror movies’, 
tapi sebagai sebuah film secara keseluruhan, ‘Tucker & Dale Vs Evil’ masuk kategori pelem yang bakal mudah gue lupain.





Rating : 
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

17 September 2010

The Human Centipede ( First Sequence ) -2009- & 3 Others 'Mad-Scientist' In Horror-Movies

Sepertinya gue nggak perlu lagi menceritakan storyline film yang sempet jadi perbincangan horror-fan beberapa bulan kebelakang ini. Semua kayanya udah pada tau ya hehe ini memang review telat. Tapi kalo emang ada yang kebeneran belum tau ( belum nonton ) baiklah gue ceritain aja premise pelem ini dengan satu paragraf singkat :

................................

Dr. Heiter ( Dieter Laser ) adalah mantan dokter bedah yang terobsesi membuat 'manusia-kelabang'. Impiannya itu menjadi kenyataan ketika dua turis Amerika yang mengalami kesialan, tak sengaja berkunjung kerumahnya. Dr. Heiter segera membius mereka. Berikutnya, seorang turis Jepang yang sial juga menjadi korbannya. Nah, source untuk membuat 'manusia-kelabang' udah fix, maka, operasi penggabungan pun segera dilakukan. jreeeng...tak lama kemudian manusia kelabang pun tercipta!

lalu bagaimana kisah selanjutnya? akankah mereka selamat?

..................................

Dengan premise seperti itu, sneak-preview The Human Centipede ( yang didukung trik viral-marketing dan trailer di Youtube ) sempat membuat shock calon-audiens nya. Bahkan beberapanya langsung melabeli pelem ini sebagai calon pelem paling disturbing tahun 2009.

Namun hype dan ekspektasi melambung itu rupanya tidak mampu dipenuhi Tom Six ketika The Human Centipede akhirnya rilis. Terbukti, film ini mendapat rating kurang bagus di IMDB atau Rotten-Tomatoes.

Gue perhatiin di berbagai review, kebanyakan yang kecewa adalah para horror-big-fan yang udah bersiap-siap dengan kantung muntahnya untuk melihat betapa disturbingnya operasi 'penyambungan-anus' yang dalam bayangan mereka itu akan ditunjukin secara eksplisit dalam level gorefest. ( kalo penonton pelem yang masang poster 'Finding Nemo' dikamernya sih nggak gue itung ya, soalnya pasti muak ama pelem ini :D ) Sementara untuk penonton 'liberal-lintas-genre' yang tidak menaruh ekspektasi apa apa, sepertinya fine-fine saja dengan film ini.

Yah, gue kasi tau aja : filemnya ternyata nggak se gruesome-anjing-edan premisenya.

Langsung ke review,


Sebenernya gue tidak terlalu mempermasalahkan adegan gore ( operasi penyambungan ) yang di-skip dalam pelem ini. Soalnya jika itu di tampilkan,  gue yakin ( dengan premis seperti itu ) The Human Centipede akan menjadi film gross-torture-exploitation yang cuma bisa diputer di festival2 Underground atau bioskop Grindhouse.

Jadi gue bisa memahami keputusan Tom Six yang harus berkompromi dengan penyandang dana, lalu membuat adegan yang 'gross-potentially' nya menjadi soft supaya pelem ini bisa meraih audiens yang lebih luas.

Kemudian dia memilih memakai konsep 'Mind-Horror' buat menyajikan horrornya ( itu maksudnya kita disuruh ngebayangin sendiri horror yang tengah tersaji di layar, dalam beberapa film lain seperti 'Funny Games' , konsep ini cukup berhasil menebar terror ). Gue juga nggak punya masalah ama konsep model begini, apalagi di beberapa scenenya 'The Human Centipede' berhasil bikin lobang-pantat  gue 'nyut-nyut-an' karena ngebayangin rasa sakit yang dialami ketiga objek-penderitanya.

Yang jadi masalah adalah ketika Tom Six ternyata nggak berhasil ngembangin plotnya. Dia seperti kebingungan untuk ngelanjutin cerita, ketika 'manusia kelabang' impiannya sudah tercipta. Inilah titik dimana pelem kemudian meluncur ke jurang bernama 'generik + boring'.
Hal ini diperparah dengan keputusannya yang dengan sengaja hanya mem-paste-kan ide ceritanya nya itu kedalam sebuah 'template' film-film horror yang udah sering dipake oleh ribuan pelem horror lainnya.

Dengan keputusan 'nggak kreatif'  seperti ini, yang audiens dapet adalah adegan2 klise + predictable ( turis, ban kempes, nggak ada sinyal, middle of nowhere, rumah terpencil, bla bla bla dll ), plot-hole2, dan adegan2 yang terasa dipaksakan cuman demi ngisi durasi sejam-setengah. redundant.

Kesan bahwa film ini hanya bertumpu pada ide 'menyatukan-3-orang-jadi-kelabang' saja, semakin kuat dengan absurdnya alesan Dr.Heiter membuat 'manusia kelabang' itu sendiri. Apa tujuannya dia bikin manusia-kelabang? kita cuman mendapat penjelasan dari ucapan Dr.Heiter : 'I don't like human beings'. Selain itu, sederhana aje : doi agak kurang waras dan pengen membuktikan teori-medisnya. itu doang. Nah, sekarang bisa dimengerti kalo plot film akhirnye susah buat dikembangin.  



Gue pikir, pelem mungkin akan lebih menarik jika Tom Six mempunyai slot-durasi khusus untuk nyeritain karakter ( masa lalu ) Dr.Heiter lebih dalam dan bukan hanya nyoba nampilin disturbing-graphic lengkap dengan 'hide-run-seek' klise nya sepanjang film. 

Ngomong-ngomong tentang akting, Dieter Laser bisa dikatakan kalo doi berhasil ngidupin karakter 'dokter-sinting' yang Tom Six harapkan. Sick, frikkin' and creepy.

Namun menurut gue, tanpa harus pasang muka bengis, siapa aje yang punya ide nyambungin 3 manusia jadi 'kelabang', pastilah dia gila dan itu udah cukup untuk membuat penonton bergidik ngeri, termasuk kalo dia punya wajah sepolos Baim. So, keputusan Tom Six buat ngasih karakter dokter berwajah sangar bin bengis, membuat film ini malah terkesan ambisius ( try-hard ) sekaligus kurang percaya diri. ( Lagipula, dengan ekspresi kaya gitu,  Dr.Heiter lebih mirip pedofil pemerkosa anak dibawah umur daripada seorang dokter. ) haha

Feed her! feed her!..swallow it bitch!!
Coba cek 'mad-scientist' lainnya : Herbert West, Victor Frankenstein, Don Brandon, Seth Brundle, Dr.Moreau, Dr.Jeckyll dll semuanye nggak ada yang berwajah sangar, kenape? karena  ide dan apa yang mereka kerjain di laboratorium aja udah cukup sangar.

Sementara pemeran2 lainnya...ugh, apa sih yang bisa diharepin dari artis yang kebagian peran mulutnya nempel di bokong lawan maennya selain nangis-nangis? Dalam hal ini, untunglah ada si Katsuro ( Akihiro Kitamura ) yang dengan makian kocaknya membuat pelem sedikit lebih 'hidup'.

So my verdict is :  menurut gue, Tom Six terjebak pada 'ide besar' nya sendiri. Dia terlihat kewalahan  mengisi durasi, mengembangkan plot, dan ngimbangin orisinalitas idenya yang membuat The Human Centipede akhirnya hanya menjadi tipikal slasher medioker yang generik.




....................................

Yang diatas tadi adalah review gue setelah nonton film ini untuk kedua kalinya dalam keadaan normal. haha

Iye, soalnye ketika pertama kali nonton pelem ini dalam keadaan fungsi otak menurun karena sedikit mabuk ( mabuk tape ), beramai-ramai dan ekspektasi yang sangat rendah, The Human Centipede berhasil ngasih kegembiraan hahaha gue pikir The Human Centipede akan cukup menghibur pada orang yang lagi males mikir dan tidak mempunyai harapan ( ekspektasi ) apa-apa. Lupain juga 'ide besar'  Tom-Six tentang manusia-kelabang, anggep ini sebagai film thriller-slasher biasa, dan kamu akan menemukan beberapa breathtaking-moment yang cukup thrilling.

Seperti temen gue yang cuma : nonton, ngemil keripik, ngebir, tereak2 dan ketawa. Ketika film selesai ini lah komentarnya :

" gue mau di jadiin kelabang!!"

" kenapa?" tanya gue ngantuk dengan mulut masih penuh pisang goreng.

" iye, mau aja..asal yang didepan Sora Aoi..dan dibelakang gue Sena Ayanami.."

Begitulah. don't take it too seriously.

Rating : 


Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


..........................................

Trivia :

--  Tom Six terlihat sangat 'try-hard to be smarty' dengan memilih korbannya yang ( dengan kebetulan luar biasa ) berasal dari Amerika dan Jepang. sementara Dr.Heiter sendiri adalah seorang Jerman. Ini maksudnya apa? parodi atau statement sinikal tentang Perang Dunia 2??? haha

-- Tersiar kabar kalo disekuelnya Tom Six akan menggabungkan 12 orang. Semoga yang dimaksud adalah, dia akan membuat 1 kelabang jantan yang terdiri dari 6 pria, dan 1 kelabang betina yang terdiri dari 6 cewek. Terus keduanya disuruh ML yang akhirnya akan menghasilkan 1 bayi manusia-kelabang super yang nantinya akan mencaplok Tom Six.  wkwkwk ngaco.

kalo kelabangnya kaya gini sih keren banget!
.........................................

3 ILMUWAN/DOKTER SINTING LAINNYA DAN MONSTER CIPTAANNYA :

Salah satu hal positif dari The Human Centipede adalah bahwa Tom Six udah menyajikan kembali tema ' Mad-Scientist' yang pernah populer di genre horror. Idenya tentu cukup menyegarkan ditengah seragamnya tema-horror belakangan ini.

Yap selain psikopat, hantu dan alien/zombie, genre horror masih mempunyai penebar terror yang sedikit terlupakan: dialah dokter/ilmuwan sinting.

Dalam pelem2 horror bertema 'mad-scientist' terdahulu, -seperti gue bilang diatas- yang menyeramkan darinya adalah bukan tampang atau betapa psikotiknya sang dokter/ilmuwan. ilmuwan2 ini sebenernya orang baik biasa-biasa saja. keliatan kaya orang kurang tidur dengan rambut acak-acakan.  Namun dia mempunyai obsesi akan sebuah teori-medis, dan obsesinya ini kemudian dituangkan dalam sebuah eksperimen ekstrim.

Disinilah horrornya, apa yang dilakukan Ilmuwan-gila di laboratorium ( dengan botol berisi cairan berwarna hijau itu ) biasanya menghasilkan sesuatu yang mengerikan!

Nah, di bawah ini adalah 3 'mad-scientist'  legendaris dengan makhluk ciptaannya :

Notes : Ke 3 karakter dibawah ini sebenernya adalah karakter fiksi yang diadaptasi dari novel/buku ke layar lebar. Victor Frankenstein dari novel karya Mary Shelley ( 1818 ), Dr. Moreau dari novel H.G. Wells ( 1896 ) dan Dr. Herbert West adalah karakter dari cerita-pendek novelis H.P. Lovercraft yang ditulisnya pada tahun 1921.

Tapi karena gue belum pernah membaca versi novel/buku nya, gue ceritain secara singkat berdasarkan versi film yang udah gue tonton aja yah hehe


Victor Frankenstein : 

Gue pernah menyangka kalo Frankenstein itu nama monster-tinggi besar dengan banyak bekas jahitan di tubuhnya itu. Yang sebenarnya, Frankenstein adalah nama seorang mahasiswa kedokteran/medis universitas Ingolstadt, Jerman. Nama lengkapnya Victor Frankenstein.

Ketika Eropa diceritain mengalami wabah kusta yang membuat ribuan orang tewas ( termasuk orang2 yang dicintai Frankenstein ) , dia menjadi terobsesi untuk bisa menghidupkan kembali orang yang telah meninggal.

Frankenstein lalu dengan gila menyusun, menggabungkan dan menjahit bagian2 tubuh mayat yang udah dikumpulkannya secara diam-diam dari berbagai tempat. Setelah terbentuk,  'mayat penuh jahitan' itu dialiri listrik dengan perangkat rumit ciptaannya.

Eksperimennya selalu gagal.


Namun, pada suatu ketika badai petir menghantam perangkat listrik ciptaannya..dan secara mengejutkan kombinasi petir + listrik membuat  'mayat penuh jahitan' itupun mulai menggerakkan jarinya. " It's Alive!! it's Alive!!" teriak Frankenstein kegirangan. Dia tak sadar sesosok monster telah tercipta :

ini dia monster klasik ciptaan Victor Frankenstein :



Dr. Moreau :

Masih di era-nya Victor Frankenstein, hidup pula seorang ilmuwan edan yang mempunyai ekperimen-medis nggak kalah ekstrim.

Berbeda dengan Frankenstein, Dr. Moreau ini tertarik melakukan operasi pembedahan pada hewan-hewan ( vivsisection ), transfusi darah antar spesies dan sejenisnya. Dia kemudian terobsesi untuk menciptakan makhluk hibrid separo hewan separo manusia. Yap, Dr. Moreau bermain-main menjadi Tuhan ( playing god ) dan meyakini makhluk hibrid dalam teori-medisnya ini akan menjadi spesies yang lebih unggul dari manusia sendiri.

Idenya tentu mencengangkan banyak pihak, terutama setelah seorang jurnalis berhasil menyelinap ke laboratorium Dr.Moreau dan menulis artikel 'The Moreau Horrors' di surat kabar.

Resah dengan kejaran para jurnalis dan kontroversi di masyarakat Inggris tentang idenya,  Dr. Moreau dan seorang asistennya yang setia ( Dr.Montgomery ) lalu menyembunyikan diri di sebuah pulau terpencil di pasifik selatan untuk melanjutkan eksperimennya dengan tenang.
Di versi filmnya, ( The Island of Dr. Moreau ) kamu akan tahu kalo pulau itu ternyata  adalah salah satu pulau di Indonesia, di deteksi dari nelayan yang ngomong Indonesia dan nama perahunya : 'ombak penari'.

Di pulau itu eksperimennya ternyata berhasil, dia lalu menciptakan dan mengembang-biakkan banyak makhluk-hibrid setengah manusia dari bermacam2 spesies hewan. Segera saja Dr.Moreau menciptakan hukum buatannya sendiri untuk dipatuhi para hybrid-ciptaannya.   

Yang Dr.Moreau lupa, insting hewan liar dalam makhluk-hybrid ini kerap kali keluar terutama ketika mereka memakan daging dan melihat darah. Ditambah dengan keresahan para hybrid yang bingung dengan jati-diri nya..maka para hybrid yang semula patuh ini, hanya tinggal menunggu waktu saja untukmemberontak dan membalas dendam kepada 'tuhan' nya sendiri.

Makhluk Hybrid ciptaan DR.Moreau :



Dr. Herbert West : 

Menurut gue, Dr.Herbert West adalah Frankenstein versi modern. Dia sama- sama mahasiswa sebuah sekolah medis dan mempunyai obsesi menghidupkan kembali orang-mati.

Bedanya, Dr.Herbert West tidak perlu aliran listrik ( atau petir ) untuk bereksperimen, namun menggunakan cairan hijau hasil ciptaannya sendiri yang diberi nama :  'Re-Animator'. Dr. Herbert West juga tidak merangkai/menjahit bagian2 tubuh mayat seperti Frankenstein, tapi cukup menyelinap ke dalam kamar mayat rumah sakit Miskatonic untuk bereksperimen menyuntikkan cairan Re-Animator itu ke jenazah2 yang ada di sana. Oiyah, cairan-ajaibnya juga nggak hanya mampu menghidupkan jenazah, namun juga bisa digunakan pada bangkai hewan. Buktinya, dia bisa menghidupkan kembali bangkai seekor kucing haha.

Sayangnya, mayat yang hidup kembali itu menjadi buas, liar , gila dan menyerang siapa aja yang ada di dekatnya. beda kan ama monster ciptaan Frankenstein yang mellow dan kesepian hehe

review lengkap tentang film 'Re-Animator' silahkan baca disini :

Ini dia beberapa mayat-hidup ciptaan Dr.Herbert West :


.......................................................

Hehe sebenernya masih banyak lagi dokter-dokter sinting lainnya yang nggak mungkin gue sebutin satu-persatu karena lupa atau gue blum nonton pelemnya :D seperti Seth Brundle ( The Fly ), Dr.Brandon ( The Body Shop ) , Dr. Hannibal Lecter ( SotL ),  Dr. Logan  ( Day of the Dead ), Dr.Jeckyll ( Dr. Jeckyll & Mr. Hyde ), Sebastian Cane ( Hollow Man ), Dr. Caligari ( the Cabinet of dr. Caligari ), Dr. Frank N. Furter ( The Rocky Horror Picture Show ).

Apakah 'Dr.Heiter' dalam The Human Centipede bisa masuk list 'mad-scientist' ini? tentu aja. Tapi apa dia layak bersanding dengan 'Dr.Herbert West' &  'Victor Frankenstein' ? biar waktu yang menjawab :D

Kalo di Indonesia gimana? hmmmm..kalo dukun-edan banyak :D

Oke, jadi terakhir..
pelajaran yang bisa kamu ambil dari artikel ini adalah : kalo kalian suatu saat pergi ke dokter, dan si dokter mulai ngeluarin jarum suntiknya, pastiin kalo cairan dalem suntikannya itu nggak berwarna hijau.