Showing posts with label exploitation. Show all posts
Showing posts with label exploitation. Show all posts

31 March 2017

Mengenang Sinema Erotika Lokal 90an dan Perbincangan Bersama Azzam ( sutradara 'Pendakian Birahi' )

Buat kalian penggemar film yang besar di era 90-an, pasti akrab dengan nama-nama Malfin Shayna, Febby Lawrence, Cindy Windhyana, Sally Marcellina, Reynaldi atau Ibra Azhari.  Ya, mereka adalah artis-artis panas dari begitu banyak film-film erotis murahan yang lahir dan memenuhi bisokop di era itu. Itu masa kegelapan sinema-lokal menurut gue, bukan..bukan karena genre ini lebih buruk dari genre lainnya, tapi karena saat itu penonton nyaris tak punya pilihan. Oma Irama, Warkop DKI, Barry Prima, dan Suzzanna masih nongol di awal-awal 90an, tapi mulai pertengahan sampai setelahnya, hampir semua produksi film lokal adalah film dari jenis sexploitation ini. 

Penyebab situasi ini kalo menurut gue adalah karena kalah saingnya bioskop dengan program TV swasta ( yang saat itu sedang booming dan banyak menayangkan film barat berkualitas ) serta kemunculan VCD player ( dan rentalnya ) yang berhasil menawarkan alternatif hiburan rakyat.  Ketika bisokop menjadi sepi ( terutama jika dibandingkan era 80an ), alih-alih mengimbangi tantangan itu dengan produksi inovatif dan berkualitas, rumah produksi malah dengan putus asa mencoba merayu penonton lewat jalan pintas :  membuat film erotis. Sayangnya, hasil akhir film-film yang dibuat dengan dana cekak itu sungguh bertolak belakang dengan poster dan judulnya yang sangat menggiurkan. Ini membuat keadaan semakin buruk dan bioskop rakyat pun berada di senjakalanya. 

Cerita nggak jelas, akting buruk, dialog bodoh, serta adegan yang sebenernya dimaksudkan menjadi sensual namun jatohnya malah menyedihkan adalah beberapa ciri dari film erotis lokal yang gue inget di era ini. Sementara itu, gunting sensor membuat film hanya tinggal berdurasi sekitar 50 menit saja dan membuat ini semakin menjengkelkan, terutama untuk bocah pre-teen dengan libido dan rasa penasaran yang sedang tinggi-tingginya haha. 

18 February 2013

Sinema HK Cat III ( The Untold story, Ebola Syndrome, Daughter of Darkness & Red To Kill )

Pertengahan tahun 90-an, dunia sinema-lokal kita mengalami kebangkrutan. Penonton beralih ke Laser Disc atau VCD dan enggan mendatangi gedung bisokop, sementara sineas memperparah kondisi itu dengan hanya memproduksi film-film seks absurd berdana rendah yang membuat kita akrab dengan nama Windy Chindyana, Reynaldi atau Ibra Azhari. Kita nggak sendirian mengalami era kelesuan-sinema ini, hal yang sama juga ternyata terjadi pada sinema Hongkong.  

Menurut sumber terpercaya kita ( Bang Wiki ),
karena beberapa penyebab, penjualan tiket bioskop udah terasa menurun sejak akhir 80-an, gejala tidak baik itu mencapai puncaknya pada mid 90-an dimana sinema HK mulai kolaps dan akhirnya terjun bebas. Indikasinya bisa dilihat dari turun drastisnya jumlah penonton dan jumlah pilem yang di produksi ( terutama jika dibandingkan dekade sebelumnya ), dan dari jumlah itu, pilem2 yang diproduksi sebagian besar ternyata bergenre eksploitasi alias Cat III. Cat III ( Category III ) sendiri adalah sistem rating yang di tetapkan pemerintah HK pada tahun 1988 untuk pilem2 yang konon kaga cocok buat dikonsumsi anak-anak. Kalo di Indonesia mungkin seperti '17 tahun ke atas', dan untuk di Hollywood sono levelnya sama kaya Rated-R atau NC-17.
Cek : http://en.wikipedia.org/wiki/Cinema_of_Hong_Kong

 Jadi, kasusnya sama seperti sinema lokal kita di era itu yang frustasi merayu penonton untuk datang ke gedung bioskop dengan nyoba memfasilitasi fantasi dan selera murahan-primitif kita akan seks dan ketelanjangan. Kita tau bersama, trik yang biasanya selalu manjur ini pun gagal membuat gedung bioskop kembali ramai, salah satu penyebabnya adalah 

judul dan poster vulgar yang sudah terlanjur melambungkan imajinasi dan ekspektasi penonton, tidak pernah mampu dipenuhi pilemnya sendiri. 

Kefrustasian itu kemudian semakin terasa ketika kru gedung bioskop menghembuskan isu bahwa mereka akan menyelipkan beberapa menit potongan adegan film porno kedalam pilem yang akan diputar. Bisa di tebak, kursi bioskop hanya diisi mereka yang berniat hendak onani saja. Lebih buruk lagi, penonton hardcore-sange ini siap menjungkir balikkan kursi2 jika janji tentang potongan pilem porno itu dilanggar. Chaos.

Nah, sinema Hongkong mencoba membujuk penonton di era krisis itu dengan lebih banyak pilihan. Selain softcore-erotica, action-campy  dan komedi-slapstick, di inspirasikan kesuksesan 'Men Behind The Sun ( 1988 )', mereka gencar menawarkan tema2 tabu tentang pemerkosaan, sadisme, penyiksaan, kanibalisme, muncratan darah, potongan tubuh dan hal-hal menjijikkan lainnya yang ditampilkan dengan sangat eksplisit. ( jangan lupa 'Riki-Oh' juga lahir di era ini ).

Sebenernya, sinema HK sudah akrab dengan tema violence dan tumpahan darah sejak era vintage-horrornya Ma-Xu Weibang atau Kungfu-Splatter ala Chang Cheh, namun mid 90-an inilah era dimana sinema Cat III mereka menjadi sangat populer dan diproduksi dalam jumlah massif.

Dan berbeda dengan era pilem-seks-berdana-rendah kita yang gagal menghasilkan satupun pilem yang layak diinget ( selain judulnya saja yang mengandung kata ternoda, gairah, sex, binal, ranjang, godaan, kenikmatan atau nafsu ), sinema eksploitasi HK Cat III era 90-an berhasil ngelahirin banyak pilem fenomenal nan memorabel yang akhirnya sekarang menyandang predikat cult.
cek judul-judulnya nya disini :http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Hong_Kong_Category_III_films

Dan kalo sudah sampe sini, rasanya salah besar kalo nggak menyebut nama ini : Anthony Wong. Yup, dialah salah satu ikon untuk genre eksploitasi HK era itu, bersanding dengan nama lain seperti Simon Yam, Chingmy Yau, Lily Chung atau Pheng Tan yang lebih dikenal untuk genre softcore-erotica.

Oke, Folks hehe
Tanpa banyak bacot lagi, gue akan menceritakan satu pilem Anthony Wong yang pernah membuat sinema HK Cat III era 90-an menjadi penuh muncratan darah. 
.............................................

The Eight Immortals Restaurant: The Untold Story (1993)


Storyline :

Di ceritakan, Wong Chi Hang ( Anthony Wong ) melarikan diri ke Hongkong setelah melakukan pembunuhan di Macau. Tak lama setelah berada di Hongkong, dia segera menjalankan bisnis restoran 'The 8 Immortal'.

Sementara itu, masyarakat Hongkong tiba2 di gegerkan dengan penemuan tulang belulang dan potongan tubuh manusia di sebuah pantai. Polisi segera turun tangan, dan penyelidikan mereka mengarah pada Wong Chi Hang. Polisi menduga itu adalah potongan tubuh keluarga pemilik asli restoran 'The 8 Immortal' yang menghilang entah kemana. Setelah beberapa saat melakukan investigasi, polisi akhirnya mengambil kesimpulan kalo Wong Chi Hang telah membantai keluarga ini demi menguasai restorannya.

Awalnya, Wong Chi Hang bersikeras tidak mau mengakui tuduhan itu, namun karena tak sanggup menanggung banyak siksaan oleh polisi dan napi lain di dalam tahanan, dia akhirnya menyerah dan menceritakan dengan gamblang kronologis kejadian di malam itu..malam durjana ketika dia dengan brutal membantai 8 anggota keluarga pemilik restoran yang terdiri dari sang nenek, suami-istri dan 5 anaknya yang masih berusia di bawah 10 tahun! 

Lalu, gimana nasib Wong Chi Hang selanjutnya?

Review :

The Eight Immortals Restaurant: The Untold Story ( Bunman ), konon diangkat dari sebuah kejadian nyata yang pernah terjadi di Macau. Namun klaim itu sendiri masih diperdebatkan beberapa pihak sebagai sekedar trik marketing untuk menciptakan sensasi, rasa penasaran dan mendongkrak jumlah penonton saja.

Ok, kaga peduli ini berdasarkan 'real events' atau bukan, 'The Untold Story' tetaplah pilem yang ultra sick-fuck.

Memiliki cerita yang lempeng dan tidak punya banyak kejutan, The Untold Story menghebohkan sinema HK dengan kandungan kekerasannya yang melimpah dan ditampilkan begitu vulgar. Dari mulai mutilasi eksplisit sampai pemerkosaan brutal yang melibatkan sumpit pangsit ( ada apa dengan sumpit pangsit? kalian liat aja sendiri hehe ), Namun yang paling menggegerkan tentu saja adegan pembantaian satu keluarga itu. Bukan apa-apa, kalian pasti udah terbiasa ngeliat orang dewasa terbunuh dengan mengenaskan dalam sebuah pilem horror, tapi gimana kalo kali ini yg menjadi korban adalah lima anak kecil polos nan menggemaskan? sintingnya, Herman Yau ( sang sutradara ) memilih menggelar adegan ini apa adanya, raw, dan slow. Sementara kamera tak pernah menjauh dari kekerasan yang tersaji. Jadi kalian akan ngeliat adegan gimana Wong Chi Hang menghabisi satu persatu anak-anak yang terikat tak berdaya ini dengan pisau pemotong dagingnya, salah satunya bernasib sangat mengerikan karena Wong Chi Hang memenggal kepalanya dengan brutal.


Setelah itu, ditampilkan pula adegan Wong Chi Hang mulai memutilasi mayat2 keluarga itu, memisahkan tulang dan mengumpulkan daging2nya untuk digiling menjadi bahan baku pembuat kue di restorannya. sickfuck.

Gue pernah nonton pilem ini di Bioskop Mulya dulu, dan dengan mudah terlupakan karena rupanya LSF memotong terlalu banyak adegan, itu makanya gue cukup terperangah ketika ngeliat versi Uncut nya kemaren.

20 menit menjelang akhir, pilem ber setting di dalam penjara. Semua napi rupanya marah dan setiap hari menghajar Wong Chi Hang, sementara polisi pun menginterogasi Wong dengan siksaan. Gue ngerasa ini upaya Herman Yau untuk memainkan emosi audiens. Kadang kalian akan ngerasa siksaan yang di terima Wong terlalu banyak dan sedikit kasian ngeliatnya hehe, sampai akhirnya pada satu titik dimana Wong mengakui semua perbuatannya. Dan seperti sebuah rekonstruksi, pengakuan Wong diceritain dalam 10 menit adegan yang berdarah-darah yang udah gue ceritain diatas.

Tenang aja, gue belum bercerita terlalu banyak hehe kalian harus nonton sendiri untuk menemukan adegan2 sinting lainnya.

Meski mempunyai cerita yang begitu kelam dengan adegan2nya yang disturbing, anehnya 'The Untold Story' juga mempunyai sisi kontras berupa komedi-goofy. Bukan, ini bukan seperti komedi-horror gaya Braindead, dimana kepala termutilasi akan membuat kalian tertawa ngakak, adegan pembantaian dan segala hal yang berhubungan dengan Wong Chi Hang sendiri tetep disturbing, memilukan dan serius, namun ketika cerita berpindah ke para polisi, pilem seperti menekan tombol 'Komedi' nya dan atmosfir pun segera berubah menjadi seperti ketika kalian nonton pilemnya Wu Meng Ta. Ya, karakter polisi2 HK disini ditampilkan sangat konyol & komikal. Ciri ini juga bisa ditemui di banyak pilem HK Cat III ( dan kalian juga akan selalu menemukan karakter polwan tomboy didalamnya ). Komedi yang ditampilkan sendiri seringkali terasa klise dan tidak penting, tapi yang jelas ini memang membuat 'The Untold Story' menjadi lebih mudah...hmm..di kunyah, di telan dan dinikmati.

Sementara itu, Anthony Wong berakting dengan fenomenal. Perannya sebagai Wong Chi Hang disini tak terlupakan, dia membuat pisau pemotong daging tidak lagi terlihat sama ( temen gue selalu menyebut pisau pemotong daging sebagai 'Pisau Anthony Wong'  setelah menonton pilem ini haha ), persis seperti bagaimana Jason membuat topeng hoki identik dengan topeng pembunuh. Untuk effortnya, Anthony Wong sendiri akhirnya diganjar penghargaan best actor pada HK Film Award tahun 1994.

Kesuksesan pilem ini memperderas gelombang sinema HK Cat III era itu dan berujung pada pembuatan sekuel2nya  ( 'The Untold Story 2 & 3' --yang sayangnya tak pernah bisa melampaui atau setidaknya menyamai bagian pertamanya ini-- kanibalisme menjadi tema yang populer di HK, beberapa pilem bertema serupa segera dibuat, sampai akhirnya ditutup dengan cantik oleh Fruit Chan's 'Dumpling' (2004) yang lebih psychological.

....................................

Di bawah ini adalah beberapa judul lain dari sinema HK Cat III era 90-an, gue akan nyeritainnya dengan singkat aja ya hehe

....................................
Ebola Syndrome ( 1996 )


Dalam pilem ini Anthony Wong bernama Kai San. Tapi karakternya sama saja dengan Wong Chi Hang, begitu juga dengan ceritanya. Jika dalam 'Untold Story' sehabis melakukan pembunuhan Chi Hang melarikan diri ke HK, dalam 'Ebola Syndrome' Kai San kabur ke....Afrika Selatan.


Di Afrika, Kai San juga bekerja di sebuah restoran Cina, dengan boss yang otoriter. kegilaan dimulai ketika Kai San memperkosa wanita suku Zulu yang ternyata terjangkit virus Ebola. Kai San pun tertular. Dilanda putus asa, Kai San membunuh sang boss, istri dan saudaranya lalu menguasai restoran. Tak lupa dia juga menjadikan daging korbannya sebagai bahan baku kue. Setelah beberapa saat, Kai San memutuskan untuk kembali ke HK dan membuat gempar penduduk sana dengan secara sengaja menyebarkan virus Ebola secara serampangan kepada siapa saja yang ditemuinya.

Seperti gue bilang, ini seperti 'The Untold Story' versi Afrika dengan dosis kegilaan, kesadisan ( dan kekonyolan ) 2 kali lipet. Kali ini tanpa polisi-idiot namun mempunyai atmosfer komedi-sakit yang lebih kental.

Gue nggak perlu menceritakan semua adegan stress nya, tapi ada satu scene yang paling gue inget dari pilem ini :
Kai San, ber onani menggunakan daging ayam dan menumpahkan semen-nya disitu. tak lama kemudian, dia menggunakan daging ayam yang berlumuran sperma itu untuk bahan baku membuat kue.

......................................

Daughter of Darkness ( 1993 )


Anthony Wong tidak menjadi pemeran utama disini. dia memerankan penyidik polisi ( opsir Lui ) haha, lebih tepatnya polisi pervert-konyol yang cerdas.

Opsir Lui sedang menyelidiki kasus pembantaian satu keluarga, dimana hanya ada satu survivor, yaitu sang puteri bernama Wei-Fong ( Lily Chung ). Setelah serangkaian investigasi konyol-asal asalan ( yang ngingetin gue ama investigasi serampangan di 'Memories of Murder' ) opsir Lui akhirnya dapat menemukan sang pelaku pembantaian yang sebenernya udah bisa kita tebak sejak awal haha baiklah, ( ini bukan spoiler ) pelakunya emang Wei-Fong sendiri.

Wei Fong bercerita bahwa ia akhirnya membantai keluarganya, setelah sekian lama mengalami diskriminasi, pelecehan, penyiksaan bahkan pemerkosaan oleh seluruh anggota keluarganya sendiri.

Daughter of Darkness ( DoD ) banyak menampilkan adegan kekerasan, bullying, ketelanjangan, pemerkosaan yang diakhiri dengan aksi balas dendam berdarah, namun jangan ber-ekspektasi ini bakal sesolid 'Bedevilled', plot hole kesebar disana sini ( kalo km masih peduli itu ) DoD bahkan masih terasa inferior jika dibandingkan dengan 'The Untold Story'. Walau begitu, ini termasuk dalam jajaran judul populer/laris di HK pada saat itu. Dan meski memiliki rating Cat III, pada akhirnya konon semua usia boleh menonton pilem ini. Persis kaya gimana dulu, nyaris 50% penonton 'Ranjang yang Ternoda' adalah remaja dibawah usia 17 tahun.

Dan seperti juga 'The Untold Story' meski memiliki cerita gelap dengan banyak adegan kekerasan dan pemerkosaan, DoD mempunyai sisi lain berupa komedi gelap-konyol. kalian bisa ngeliat salah satu potongan adegan investigasi absurd ala Anthony Wong lewat klip dibawah ini haha

 

Selain itu, kritik/sindiran untuk aparat kepolisian HK yang sering salah tangkap dan melakukan penyiksaan pada saat interogasi sangat terasa disini.
 
Dan oh iya, pilem ini sering disebut sebut sebagai  'I spit on your Grave' versi HK

.........................

Yang satu ini bukan pilem Anthony Wong, tapi merupakan salah satu judul yang esensial untuk genre Cat III.
 
.........................
 
Red To Kill (1994)


Seorang psikopat-pemerkosa yang trauma dengan masa kecilnya berkeliaran di HK untuk membunuh dan memerkosa gadis yang memakai baju berwarna merah. Sementara itu, Ming Ming ( Lily Chung ) adalah seorang yatim piatu terbelakang mental yang dirawat di sebuah rumah khusus untuk orang orang yang senasib dengannya. Awalnya, Ming Ming bahagia berada di tempat tersebut, hingga akhirnya pada suatu hari tanpa sengaja dia memakai baju berwarna merah. Sang psikopat-pemerkosa yang ternyata adalah salah satu staff rumah perawatan tersebut, tak mampu mengontrol dirinya...dari seorang santun penuh perhatian dia berubah menjadi seperti Hulk, hanya saja Hulk yang satu ini dikuasai nafsu untuk memerkosa dan membunuh. 

Penuh shocking graphics, ketelanjangan dan glorifikasi adegan pemerkosaan.

Berbeda, dengan 3 judul diatas yang kental dengan komedi gelap, Red To Kill tidak memiliki karakter konyol ataupun sesuatu untuk membuat kita tertawa. Ini beneran kelam dan serius. ( meski pada akhirnya penggambaran sang psikopat yang hiperbola/overakting membuat beberapa adegan malah keliatan konyol juga haha ) , 
Walau begitu Red To Kill mempunyai skrip yang lebih solid dan tense yg lebih terjaga jika dibandingkan dengan 'DoD' dan poin plus lainnya adalah akting Lily Chung yang sangat bagus.
Sementara untuk violence dan gore sendiri hanya tampil brutal di menit-menit akhir durasi.

Shocking Graphics Scene : Ming-Ming merasa dirinya kotor setelah diperkosa oleh sang psikopat, dia menangis lalu mengambil silet untuk menyayat-nyayat..maaf..vagina nya sendiri.

Setelah menonton pilem ini, gue jadi ngebayangin betapa tersiksanya sang psikopat kalo tiap ngeliat cewe berbaju merah dia jadi nggak bisa ngontrol dirinya sendiri. Maksud gue, gimana kalo misalnya yang make baju merah nggak 1 orang, tapi misalnya..20 orang??


.............................................

Itulah beberapa judul dari Sinema HK cat 3 yang booming di era 90-an. Masih ada banyak lagi, kalian mungkin bisa ngerekomendasiin yang bagus buat gue. 

Seperti pilem2 eksploitasi lokal kita di era 70-80an, betapapun buruk, miskin kreatifitas dan murahannya kualitas pilem2 tersebut ( yang berbanding lurus dengan buruknya selera orang2 yang menontonnya -seperti gue- haha ), sinema eksploitasi udah menjadi catatan sejarah dunia sinema dalam usahanya : ngasih hiburan ( dan juga nyari duit :D ). Untuk era 2000-an ke atas, gue nggak tau apa yang kemudian terjadi pada sinema HK semenjak 2 raksasa perfilman Asia lainnya ( Jepang dan Korea ) tampaknya lebih mendominasi.

Ciao.

28 November 2011

THE HUMAN CENTIPEDE 2 ( FULL-SEQUENCE )

Masih inget Dr. Heiter? Dokter edan yang terobsesi menciptakan manusia kelabang dan sempat bikin sinema horror hiruk-pikuk dua tahun silam? aksinya dalam pelem itu ( The Human Centipede ) ternyata udah menginspirasi seorang penjaga area parkir di salah satu kota di Inggris buat ngewujudin teori '100% medically accurate' nya ke 'dunia nyata', menjadikan itu bukan hanya sekedar tagline pelem horror-medioker-murahan tapi juga sebagai terapi dari derita-psikologis yang dialaminya.

..............

Martin Lomax ( Laurence .R Harvey ) adalah seorang pengidap asma yang punya bobot ga beda ama atlit sumo, dia bekerja sebagai penjaga area parkir di sebuah kota yang keliatan sangat sepi ( dan nggak ada polisi ). Ibunya seorang renta yang udah nggak punya harapan hidup dan tiap hari memaki Martin dengan panggilan babi soalnya selain gendut, Martin emang sering berak dikasur (!), bokapnya di penjara karena kasus pelecehan seksual dan penyiksaan terhadap dirinya, dan sisa idup Martin sepulangnya dari tempat gawe dia dedikasikan buat nerima serangkaian tendangan dari tetangganya yang gue curigain adalah salah satu hooligan Tottenham Hotspurs.

Dengan kondisi kehidupan yang suram dan hopeless kaya gitu, Martin ternyata terobsesi dengan film The Human Centipede 1 ( THC1 ). Ya, waktu luangnya dia abisin buat bolak-balik nyetel pelem itu. Gue bilang bolak-balik, soalnya pas pelemnya abis Martin akan nge-rewind pelem itu buat nonton nya lagi dari awal. Terus pas pelem yang ditontonnya nyampe pada adegan tertentu dia akan ngambil ampelas ( iye, ampelas! ) buat masturbasi. Bukan itu aja, Martin juga ngumpulin foto2/gambar dari apa aja yang berhubungan ama pelem THC buat dijadiin kliping, nyimpennya di bawah kasur, terus nganggep itu sebagai kitab suci, ama oh iya satu lagi yang paling serem dia juga miara kelabang gede diakuarium, satu-satunya makhluk hidup yang bisa dia ajak ngobrol dan curhat.

Kalo udah gini, tinggal nunggu waktu aja buat si Martin akhirnya melakukan pembunuhan dan mraktekin teori '100% medically accurate' itu. Hanya saja, berbeda dengan Dr.Heiter, Martin berencana menciptakan manusia kelabang dengan menggunakan 12 manusia! ( kenapa 12? itu soalnya, populasi manusia di kota itu kayanya emang cuma 12 orang ) . Jadi dia mulai ngelumpuhin siapa aja yang keliatan dilayar pake pestol dan linggis ( termasuk Ashlynn Yennie --salah satu pemeran THC1-- yang dia tipu dengan berpura2 ngajak doi membintangi pelem Quentin Tarantino! haha! ) lalu ngumpulin semua korban nya ke dalam sebuah gudang besar. Oke, jadi bahan baku buat bikin manusia-kelabang udah siap. Tapi kemudian, apa yang seorang tukang parkir pecundang tau tentang ilmu medis dan operasi?

Review :
THIS REVIEW MAY CONTAIN SPOILER.


Beberapa tahun lalu gue pernah menulis review 'Funny Games', dimana menurut gue pelem itu sebenernya adalah sebuah statement-personal Michael Haneke buat sinema Holiwud & media lainnya yang dipenuhi glorifikasi kekerasan. Haneke menyerang langsung pengkonsumsi media kekerasan dengan membuat sebuah pelem yang secara psikologis terasa sangat 'menganggu' dan menyesakkan buat ditonton.

Nah, apa yang dilakuin Tom Six dalam The Human Centipede 2 ( THC 2 ), gue pikir nggak beda jauh ama apa yang udah dilakuin Haneke. Ya, ini lebih terasa seperti sebuah statement atau serangan balik!. Bedanya, selain bahwa dia bukan penganut anti-violence kaya Haneke, Tom Six menyasar para pengkritik pelem pertamanya ( yang banyak menuai respon negatif karena premis THC1 dinilai terlalu konyol sekaligus 'nggak ada apa-apanya' ketika diterjemahin dalam bentuk visual ). Tom Six seperti mempelajari semua review yang ditujukan buat THC1, dan memutuskan untuk men jawabnya dengan merilis pelem ini.

THC2 sengaja dibuat nyaris tanpa plot, dia juga nggak punya tensi ( kamu nggak akan nemuin adegan hide-run-seek disini ) sementara ruang untuk pengenalan karakter para korban nyaris nol. 


Jadi, setelah serangkaian adegan Martin membunuh, nembak dan ngelumpuhin korban-kobannya, praktis separo durasi pelem cuma berisi adegan Martin 'bereksperimen' di gedung tua dengan 12 korban dan seperangkat alat pertukangan yang nggak ada hubungannya ama dunia medis. Dan entah ini berita buruk apa berita baik, untuk adegan ini, Six membuang gaya mind-horror yang banyak dikritik dipelem pertamanya untuk kemudian secara vulgar ngasih apa yang dia anggep sebagai keinginan banyak penggemar horror. Dan yah, udah begitu aja. Selepas menit ke 50 itu, penonton dipaksa untuk berada di sebuah TKP buat menyaksikan aksi kejahatan sinting berlangsung. no plot, no tension..no hope. just watch it.

" bukankah emang ini yang kalian pengenin.? explicit mindless violence? so, nikmati aja " disuatu tempat kayanya Tom Six ngomong kaya gitu sambil menyeringai.

kalian bisa liat seringai nya..
Tingkahnya ini sedikit ngingetin gue sama anak kecil yang nyoba nunjukin gambar ulet buat nakut2in temen-emennya, tapi dia malah dilecehkan, karena kesel dia akhirnya membuat gambar uler sanca yang sedang mengunyah temen-temennya. harapannya, kali ini temen-temennya bakal pingsan. ( Satu hal yang dia lupa adalah, buat sebagian audiens yang kaya gituan mah bukan sesuatu yang offensive, tapi emang beneran menghibur. hihi. )

Sementara itu,  buat 'menyeret' penonton ikut hadir dalam TKP martin, Six seringkali membingkai Martin dalam sebuah frame jendela ruang parkir, dengan kamera ( di ibaratkan mata penonton ) nge-shoot tingkahnya dari sebuah tempat tersembunyi. Bener, penonton diposisikan sebagai pengintip.

Gue akui, walau apa yang tersaji di THC2 sebenernya udah mengalami 32 cuts oleh BBFC, Six bener2 ngebuktiin janjinya bahwa sequel ini akan membuat predecessor nya keliatan se imut kuda poni.


Sedikit berbaik hati, Six ngebalut semua hal menjijikan itu dalam format hitem-putih ( monochrome ), jadi penonton non-horror masih bisa menghibur diri sendiri dengan berkata " oh..itu pasti kecap yang muncrat dari kepalanya ". Tapi, secara kebetulan konsep hitam-putih ini justru membuat THC2 kerasa lebih dark, creepy, weird, kotor, sunyi dan oh ya..'berlumpur'. Dan kubangan lumpur itu bukankah sebuah tempat yang tepat buat seekor babi-gendut? cocok dah.

Dan walau dipenuhi adegan shocking-disturbing, beberapa adegan secara aneh malah menciptakan komedi-situasi-gelap, contohnya adalah adegan dimana martin menjemput Miss Yennie untuk datang ke lokasi suting 'Quentin Tarantino'. Haha. Cek pula aksi hillarious yang dia lakukan terhadap Martin di menit-menit akhir. it's hillarious-sick-joke haha.


Aksi Laurence R.Harvey disini ( yang walau nyaris nggak pernah ngomong sepanjang durasi + cuma masang ekspresi aneh ) menurut gue lebih creepy ( lebih tepatnya menjijikan ) daripada apa yang udah diusahakan Dieter Laser. Konon, kenapa akhirnya Tom Six memilih dia buat jadi villain disini adalah karena dalam audisi dia begitu sempurna ketika disuruh memperkosa kursi (?!).

Tampilnya penjahat seperti Martin juga seakan pemenuhan-keinginan Six atas review THC1 di blog ini, dimana gue menulis " tanpa harus secara konstan menampilkan wajah bengis seperti Dr.Hieter, siapa aja yang punya ide nyambungin manusia buat jadi kelabang pasti akan mengerikan, bahkan kalo dia punya wajah sepolos Baim. " Dan 2 tahun kemudian dia ngasih gue pria-pengidap asma-gendut-pecundang-tukang parkir. Untuk ini, gue cukup tekesan hehe

Dan terakhir, tokoh Martin Lomax ( seorang yang menganggap terlalu serius dan terobsesi pelem THC1 ) kayanya diciptain Tom Six buat menyindir sebagian horror-fan yang menurutnya juga terlalu serius menanggapi imajinasi/ide/konsep dari karya pertamanya.
Lewat karakter Martin Lomax, kali ini Six seperti berkata :

" kalian terlalu serius men, kenapa sih nggak nganggep aje imajinasi gue dalam THC1 tuh cuman sebagai 'karya seni' biasa..damn you lah pokona mah "

Gue pikir, dia harus mulai berfikir buat mengganti namanya menjadi Tom Sick.
Apalagi pas tau kalo dia sudah mempromosikan seri ke-3 nya ( dari rencana trilogi THC ) yang dijanjikan akan membuat THC2 ini kerasa kaya pelem Disney! Ohh...

.............................

begitulah interpretasi-instan gue ketika usai menonton ini.

Tapi jangan terlalu percaya juga sih, karena bisa aja gue salah.
Bisa aja sebenernya pelem ini sama kaya pelem horror-exploitation buruk lainnya yang nggak bemakna? Mungkinkah seperti halnya Martin Lomax, gue udah terlalu serius dengan mengkhayal tentang metafora dan statement-terselubung Tom Six yang sebenernya nggak ada? haha bisa jadi.

satu hal yang pengen gue kasi tau, gue mulai pengen masang poster Dr. Dieter dan miara kelabang.


hrrrrrrrrrrrhhhhh....

...................................................................

Don't take it too seriously.
kalo misalnya bener apa yang dlakukan Six disini terasa offensive, ini jelas sebuah serangan yang sungguh lemah, karena kalian bisa mencet tombol 'stop' kapan aja dan kembali ngelanjutin hidup.


RATING:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


14 May 2011

DUKUN LINTAH ( 1981)

Reviewed By 'R'

Bukan rahasia lagi kalo sebagian pelem horror lokal produksi tahun 80 sampe 90-an adalah sebuah rip-off terang-terangan dari pelem horror yang tengah booming di Hollywood.

'Bayi Ajaib’ misalnya, adalah sebuah adaptasi bebas dari ide dalam ‘The Omen’, lalu ada ‘Ranjang Setan’ yang punya banyak adegan persis frame-by-frame ama ‘Nightmare on The Elmstreet’ ( cek juga review 'Perjanjian di Malam Keramat' disini ) , 'Pengabdi Setan' dijuluki sebagai ‘Phantasm’ versi Indonesia, lalu jangan lupain pula pelem slasher pertama di Indonesia, ‘Srigala’ yang kayanye dibuat setelah sutradaranye nonton ‘Friday The 13th’, sementara kalo kita menyebut judul 'Lady Terminator' ( Pembalasan Ratu Laut Selatan ), kalian bisa menebak dengan mudah pelem apa yang jadi korban ke ‘kreatif’-an sineas kita. Hehe

Dan pelem yang akan gue review kali ini, ‘Dukun Lintah’ ( diterjemahin buat pasar internasional dengan judul ‘Leeche Warlock’ ) --meski konon punya jalan cerita yang berbeda--, juga mempunyai banyak adegan yang dipercaya oleh seorang reviewer internasional sebagai rip-off dari pelem ‘They Came From Within! ( 1975 )’ nya David Cronenberg.

Terus terang gue belum nonton pelem Cronenberg yang satu itu, tapi lebih jauh sang ‘reviewer-internasional’ itu berkata dalam blognya :

“ What makes DUKUN LINTAH so fascinating is not its blatant plagiarism, but how the narrative plays in a diametrically opposed setting. “

Itu maksudnye, walau emang bener sutradara Ackyl Anwari nge rip-off pelemnya Cronenberg ( dan itu juga bukan sesuatu yang disangkal olehnya ), tapi die menolak buat menjadi sama dengan apa yang ditirunya dengan menambahkan mistik-lokal yang sangat khas ( orang sono menyebutnya : bizzare ), lalu secara cerdas ( atau boleh juga dibilang : naif ) memindahkan ide tersebut kedalam sesuatu yang sangat sangat Indonesia! Ini seperti meng-copy ide/materi dari ‘barat’ dan mem-paste kannya kedalam sebuah template bernama ‘timur’.

Liat aje, 'They Came From Within' nye Cronenberg yang aslinye bersetting di sebuah komplek apartemen steril, dipindahin ke sebuah kampung becek di kaki bukit, lengkap dengan rumah-rumah bambu, kebun dan sawah menghijau. Bukannye, itu tempat yang lebih cocok buat lintah-lintah merayap? haha

Ini persis ama apa yang dilakukan Mang Oma Irama ketika menggabungkan sound dan cara bermain gitar Ritchie Blackmore ( gitaris 'Deep Purple' ) yang nge-rock dengan irama Melayu+gendang+seruling. Sebuah peng-adopsi-an ide yang akhirnya ngebuat kita menggoyangkan kepala saat dia berdendang : "Judi!" teeeeeeeettt!

Bagaimanapun, secara nggak disengaja itu ternyata ngebuat hasil akhir pelemnya menjadi berbeda + punya karakter sendiri. Oke, lebih tepatnya 'weird' sih.

Contoh pelem rip-off an lain yang menjadi 'beda+aneh+idiot=fun' kala dipadukan dengan kultur-lokal negara pembuatnya.



Balik ke review,
Yah, ketika untuk nyiptain 'teror-nggak-masuk-akal' orang sono lebih seneng berimajinasi tentang makhluk dari planet laen, mutasi genetik, radiasi nuklir, atau eksperimen ilmiah dll..di kite, invasi lintah ganas yang bisa ngerubah orang satu kampung jadi zombie hanya bisa terjadi karena kedigdayaan sebuah aji ilmu hitam dan rapalan mantra sang dukun! Mungkin sekarang anak muda generasi Twitter, akan ngetawain ide kaya gitu, tapi yang jelas kite harus akui kalo ragam-macam ilmu hitam dan mistik lokal pernah begitu dekatnya dengan masyarakat kita. Dan ketika itu ditampilin dalam pita seluloid, ia bukan saja ngasih hiburan buat penonton kelas layar-tancep kampung Bojong Soang,

tapi juga mampu ngebuat seorang pemuda Seattle yang menyewa pelem ini dari sebuah rental Video tak henti-hentinya mengangakan mulut karena tak mengerti dari galaksi sebelah mana sebenernya pelem model gini berasal.

Haha, oke kita langsung ke cerita pelem ini :

Hany ( diperanin oleh Suzana Cicilia - Suzana yang ini bukan Suzzana yang suka makan sate itu yah hehe- FYI, doi yang juga berperan sebagai hantu dalam 'Mayat Hidup' ) dan Nurdin ( diperanin oleh Alex Kembar – doi kayanye salah satu dari duo ‘Kembar Group’.Tolong siapa aje yang lebih tua dari gue, buat ngasih tau apaan itu ‘Kembar Group’ ?? ) adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Lewat pelem ini kita bisa tau, ternyata sebelum ada mall, cara berpacaran anak zaman dulu adalah dengan berlarian di taman bunga, air terjun dan pantai.

Sayang bokapnye si Hany, Rustam ( A.Hamid Arief ) nggak setuju hubungan mereka dan punya rencana sendiri buat ngawinin si Hany ama Hendra ( Hendra Cipta ) yang lebih menjanjikan dari segi materi.

Tentu aja Hany menolak keinginan sepihak sang bokap dan rayuan Hendra yang kaya raya, soalnye dia tau ini cuma pelem. Sementara itu, si Hendra ngerasa tersinggung dengan penolakan itu dan nyoba berbagai macam cara buat ngeluluhin hati Hany, termasuk dengan melakukan hipnotis ala Uya Kuya.
tataap mata ojaann..

Namun upaya itu pun tetep gagal. Hany keukeuh menolak.
Ngeliat keteguhan sikap anaknye, Bokap Hany pun menyerah. Die akhirnye ngawinin Hany dengan cowok pilihannya sendiri, si Nurdin.

Ternyata ini membuat Hendra semakin sakit hati .
Setelah sadar ilmu hipnotis yang kayanye dia pelajari di Eropa ( dia diceritain baru pulang dari Eropa ) gagal-total, die pun akhirnye tau sesuatu yang lebih jenius buat ngebalesin sakit hatinya yaitu : datang ke dukun! Tepatnya ke Dukun Lintah ( AN Alcaf ). Dia adalah seorang dukun jahat yang mampu memerintahkan pasukan lintah ganas buat menyerang siapa aje yang jadi sasaran klien-nya.

Dan inilah awal bencana di kampung itu. Soalnye, lintah2 sang dukun yang awalnya hanya bertujuan menyerang si Nurdin, ternyata juga menyerang penduduk kampung lain yang nggak ada hubungannye ama pangkal-masalah. Dan lebih gawatnye lagi, setiap orang yang kemasukan lintah, bakalan jadi zombie maniak-sex. Sebagian lainnya menjadi zombie yang akan menggigit siapa aje didekatnye. Sementara yang tergigit, akan tertular. Begitulah, akhirnye wabah yang disebabin invasi lintah ini pun menyebar ke seantero kampung.


Village of The Dead!!!
Jadi, gimana akhir dari cerita ini? Tentunya kalian tak perlu berharap bakal muncul pasukan bersenjata lengkap buat ngebantai zombie-kampung ini. 

............................................

Yah, begitulah plot pelem ini. Kalian boleh menilainya sebagai simpel, sederhana, murahan, atau bahkan tolol. Tapi, seperti halnya review gue di 'Mayat Hidup' , gue lebih seneng nyebutnye sebagai : lugu . Walaupun emang lugu itu beda2 tipis ama idiot sih hehe. Sebegitu lugu dan simpelnya, kite bahkan masih akan ngerti ceritanya seandainya semua pemaen dalam pelem ini nggak ngomong.

Dan keluguan bukan hanya hadir dari jalan cerita, tapi juga dari dialog, akting dan spesial efek yang ditampilin.
Liat aje, kalian bisa ngeliat gimana kreatifnya kru pelem nyiptain efek buat adegan ini :


Tentunya keluguan kaya adegan diatas adalah sesuatu yang nggak pernah bisa sengaja diciptain sineas manapun.

Selain itu, berbeda ama horrornye Suzzanna yang udah sukses ngasih kite atmosfir mistis kental dengan eksploitasi legenda-hantu-lokal nye, 'Dukun Lintah' lebih memilih buat nampilin banyak sekuen gross-out yang ditampilin cukup eksplisit.

attack of the leeches!
Gue juga cukup surprised pas nemuin sebuah adegan yang ngingetin ama salah satu scene dalam Peter Jackson's 'Braindead' (1992 ). Inget adegan pas Lionel ngebawa mayat neneknya yang membusuk ke seorang dokter ( diperanin oleh Peter Jackson ) kemudian bola mata neneknya itu mecotot keluar? Kamu akan nemuin adegan itu di pelem ini. Dan gue jamin yang ini nggak kalah gross. So, bisa jadi 'Dukun Lintah' adalah salah satu referensi Peter Jackson ketika menggarap 'Braindead' hehe.


Namun, secara keseluruhan pelemnya sih lebih mirip ama 'Slither (2006)' nya James Gunn, malahan kalo seandainya aje nggak ada pelemnya Cronenberg itu, gue berani bilang kalo 'Slither' adalah remake versi Hollywood 'Dukun Lintah'.

Hanya perbedaannya ( selain bahwa lintah-lintah dalam 'Slither' diceritain dateng dari luar angkasa ) adalah ketika segmen humor/komedi dalam 'Dukun Lintah', seperti biasanye ditampilin secara....slapstick. ( sementara 'Slither' lebih seneng menampilkannya dalam aura dark/satir ).


Buat gue sih nggak masalah,
soalnya kapan lagi kita bisa ngeliat zombie naik becak dan ngegigit tukang becaknye?

Haha, pelem kaya ginian emang cocok buat working-class kaya gue yang butuh lepas sejenak dari kepenatan dan rutinitas. Dan semenjak pelem2 blockbuster kekinian sebagian besar ternyata nggak bisa membantu gue buat ngelupain cicilan kredit, ( sementara pelem thrash-horror ala KK Dheeraj malah bikin gue terserang stroke ), gue pun secara aneh bisa terhibur pas nonton pelem semacem ‘Dukun Lintah’. Akan lebih membahagiakan kalo nontonnya langsung di layar tancep, sambil ngemil kacang rebusnya mang Soleh, lalu ketika pelem nyampe pada bagian yang kurang seru, gue bisa menyelinap ke kebon singkong sebelah buat maen judi koprok hahay..


Oiyah terakhir, persamaan pelem2 seperti ini dengan pelem2 nya KK Dheeraj atau Nayato adalah dia luar biasa jelek, murahan, kampungan dan dibuat semata-mata cuman buat nyari keuntungan sebanyak mungkin.  Tapi, perbedaanya toh, nonton ‘Dukun Lintah’ nye Ackyl Anwari ini, gue ternyata ngedapetin apa yang gue harepin, gue nemuin apa yang emang sengaja gue cari dari awal, dan yang paling penting..

gue nggak ngerasa dibohongi.

Seenggaknye, dia nggak ngebohongin kite pake judul. Kalo judulnye, 'Dukun Lintah', gue jamin kalian emang bakal nemuin dukun dan lintah di dalemnye. Gue ngomong gini, soalnye kalo KK Dheeraj bikin pelem berjudul 'Dukun Lintah' yang lo dapetin paling-paling pelem yang 95% adegannya adalah bintang bokep mandi di kolam renang terus joget2 di diskotik.
Cukup aneh ngeliat masih banyak yang beli tiket cuma buat ngeliat adegan kaya gitu mengingat siapa aje sekarang bisa gratis ngeliat Sasha Grey bugil di ratusan website. Bah.

 'DUKUN LINTAH' IS STUPID CHEAPY GROSS-OUT FUN MOVIE! AND YOU CAN WATCH THIS MOVIE HERE

RATING:






Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic