Showing posts with label splatstick. Show all posts
Showing posts with label splatstick. Show all posts

07 October 2016

( TV-SERIES ) ASH VS EVIL DEAD ( 2015 - ) Season 01 : HE'S BACK!

Ash VS Evil Dead season 01 udah selesai Januari lalu, dan Season 02 nya baru aja dimulai. Sampe sejauh itu, sebenernya gue belum tertarik buat nyoba nonton. Alasan utamanya jelas, gue nggak yakin semua hal yg bikin franchise ini jadi asik ( blood, gore, prostetik ) bakal ke display di layar TV.  Bukan apa-apa, The Evil Dead versi original ( 1981 & 1987 ), beberapa kali gue pergoki tayang di TV swasta, dan TV ngebuang nyaris semua bagian asiknya sampe durasi film kesisa tinggal 45 menit doang. Tanpa materi R-rated nya, apa poin dari nonton ini coba? 
 
Nah, kemaren nggak tau kenapa tiba-tiba gue ngeklik trailer untuk Season 02 nya, dan terkejutlah gue..holy shit, organ-organ tubuh berterbangan! haha 


Terus terang gue emang nggak familiar ama TV-Series, dan sampe sejauh mana sebenernya peran badan sensor di sono ( Amerika ) dalam menentukan layak atau tidaknya konten sebuah program TV. Mungkinkah ada konten TV yang memiliki rating R? 

Ah ya, mungkin gue nya aja yang kurang apdet, maklumlah boro-boro TV kabel,  emak aje sering nyuruh gue muter-muterin antena supaya channel yang nayangin Uttaran nggak goyang. 

Btw, ini trailer untuk season 02 nya :


Jadi folks, gue mutusin buat nyoba ini ( terima kasih buat internet yang nyediain semuanya.) . Dan biar afdol, gue akan memulainya dari Season 01  dulu. 
 
Garis besar ceritanya seperti ini :


15 May 2016

Deathgasm ( 2015 )

Terus terang gue nggak terlalu fasih berbicara tentang metal dan referensinya semenjak masa remaja gue telah direnggut dengan menyedihkan oleh Kurt Cobain dan gerombolan ben pecundang dari Seattle lainnya.  Meski begitu, gue masih inget ada beberapa poster Iron Maiden terpasang di kamar gue dulu. Nggak, gue mah nggak ngerti musiknya hehe, gue masang poster Iron Maiden karena menurut gue maskot Eddie The Head nya keren. Selain itu, typography Sepultura juga jadi gaya huruf favorit gue pas milox tembok ruko pasar dengan nama geng kampung kami, Galter ( Gabungan Anak Liar Terminal ).

Tapi kalo diinget, genre musik ini emang deket banget ama tema horror. Gue pernah ngeliat sebuah pentas musik dulu dimana salah satu pementasnya adalah sebuah ben yang konon mengusung genre satanic black metal. Ben ini menamai dirinya Singkill. Nah, sedikit info, Singkil adalah nama untuk sebuah areal pemakaman di desa tetangga yang terkenal angker. Dengan nama itu, para personel ben ini seperti mau nunjukin kalo mereka berasal dari dasar neraka dan baru saja merangkak keluar lewat gerbang alam gaib di pekuburan singkil. 


10 July 2012

NIGHT OF THE CREEPS ( 1986 )

Sebagai seorang yang mengaku menggemari pilem horror-splatstick kelas B ( apalagi yang rilis tahun 80-an ), gue sebenernya sudah terlalu banyak ketinggalan. Ada banyak banget judul2 wajib-tonton yang sampai saat ini belum sempet gue buktiin ke-awesome-an ( atau ke bodohannya ). Kenyataan ini sebenernya cukup menyembulkan tanda tanya kalo mengingat kita udah idup di zaman Torrent dimana hampir semua judul pilem udah tersedia di sono. Tinggal donlod aja. Tapi masalahnya, kemampuan modem gue tuh cuman handal ketika dipake buat download...subtitlenya doang haha. Jadi, seringnya sih kalo ngeliat judul dan poster pilem2 horror klasik itu melambai-lambai minta di unduh, gue jadi keinget ketika waktu kecil dulu nyaris netesin air liur pas ngeliat poster 'Six Wild Girls' nya Pheng Tan di pajang di bioskop Mulya, pengen nonton tapi apa daya kaga punya duit haha.

Air liur itu juga berlaku buat judul yang satu ini, Night of The Creeps sebenernya udah lama banget gue masukin dalam daftar list '100 pilem horror jelek tapi keren yang harus gue tonton sebelum bunuh diri', dan oh my.. gue baru berhasil menontonnya...kemaren. Itu pun setelah salah seorang temen yang kelihatannya prihatin, mengirimkan DVD nya ke gue.

Ok, skip 2 paragraf diatas.
Terus, apa bener pilem ini adalah salah satu judul esensial dari genre horror-splatstick kelas B rilisan era sillyness-80?
Langsung aja,

Seperti kebanyakan pilem horror dari subgenre ini, ceritanya bisa diceritain dengan satu paragraf singkat :

Dua mahasiswa pecundang Universitas Corman ( Chris dan J.C ), secara tidak sengaja melepaskan parasit-luar angkasa dari mayat yang diawetkan di laboratorium selama hampir 30 tahun. Hal yang mereka tidak tahu adalah parasit2 yang mirip lintah itu akan memakan otak manusia ( setelah meloncat masuk lewat mulut ) kemudian mengendalikan tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa itu untuk merubahnya menjadi..killer outer-space zombie. 

Sekarang, Detective Cameron, Chris dan Cynthia harus berjibaku melawan zombie2 ini demi menyelamatkan pesta dansa mahasiswa Universitas Corman dari banjir darah.

..............................


Night of the Creeps dibuka dengan adegan yang sangat menarik,

Di sebuah pesawat ruang angkasa, alien-alien ( yang kostumnya lebih mirip Teletubbies :D ) terlihat panik ketika tabung eksperimen mereka terjatuh. 

Cerita segera beralih ke bumi sekitar tahun 50an, 

Sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran tiba2 melihat sebuah meteor jatuh, sang pria ( John ) segera menyelidiki benda langit misterius tersebut, sementara sang wanita ( Pam ) menunggu dengan cemas di mobilnya karena pada saat bersamaan di radio tersiar kabar bahwa seorang pembunuh berkampak baru saja kabur dari penjara. Dengan penuh rasa penasaran, John mendekati meteor yang ternyata adalah tabung ruang angkasa berisi makhluk melata sejenis lintah. Sementara itu, sesosok pria berkampak perlahan-lahan mendekati mobil Pam. Sosok pria berkampak yang ternyata adalah..zombie!


Whoa..hanya dari adegan pembuka ini gue langsung menyadari kalo sutradara pilem ini, ( Fred Dekker ) adalah seorang menyenangkan yang bukan saja senang membuat pilem tapi juga terlihat sangat mencintai genre horror. terutama b-grade horror. Dia baru saja nge-blender berbagai subgenre horror ( scifi, creature, zombie, sampe slasher ) lalu membuat homage dari berbagai referensi judul ( Alien, The Blob, They Came From Within, Invasion of The Body snatchers, sampe materi slasher tahun 80-an ) ke dalam satu scene! Dan senyum gue mulai mengembang.

Ya, memangnya apa yang lebih badass untuk ngebuka sebuah pilem selain weird alien, creepy-crawly-slimy creature, serial killer, dan zombie?


Pilem kemudian berpindah setting lagi ke tahun 80-an.
Dan kita mulai dikenalin ama tokoh Chris ( Jason Lively ) & J.C ( Steve Marshall ) dua mahasiswa geek Universitas Corman yang nantinya akan menjadi biang keladi kekacauan yang terjadi. Dari sini sebenernya pilem beranjak menjadi sedikit membosankan, ketika dia malah berubah suspenseful dengan investigasi Detective Cameron ( Tom Atkins ) atas berbagai kasus pembunuhan brutal yang terjadi di kota itu. Suspense yang tidak perlu, karena toh sejak awal penonton udah tau kalo yang ngelakuinnya adalah zombie yang dikendalikan parasit luar angkasa. Gue semakin tidak sabar ketika scene-scene yang sepertinya akan menjadi menarik, tiba2 kepotong begitu saja dan beralih ke adegan berikutnya.

Tapi, mungkin itu hanya karena gue nggak sabar buat ngeliat sajian silly-gory nya, karena pas gue nonton ini buat ke dua kali, semua bagian dalam Night of the Creeps ternyata tetep kerasa FUN. Termasuk di part yang awalnya bikin gue nggak sabar.

Night of The Living Dead Cat
Dekker seakan paham bener dia lagi bikin pilem horror model apa lantas ngebalut semuanya dengan dialog2 corny-witty dan ngasih banyak hillarious memorable line yang bikin gue ketawa. Selain itu, ada banyak sekali referensi pilem horror b-grade yang dipake Dekker sebagai tribute atau homage dan dia nggak lupa bersenang-senang dengan ngetawain atau mengejek kekonyolan pilem2 itu seperti apa yang kemudian juga dilakukan Wes Craven dalam Scream. What a fun! :D 

Itu masih belum seberapa, karena gue nemuin bahwa banyak tokoh atau tempat dalam pilem ini yang memakai nama2 sutradara cult seperti : sersan Raimi, Det.Cameron, Romero, Cronenberg, Corman, Miller, Landis, Dante, DePalma ( kucing zombie disini juga bernama Gordon, apakah itu merujuk pada Stuart Gordon? ) dan kalian tau siapa nama J.C sebenarnya? James Carpenter Hooper. Whattafuck haha. Kalo kalian mau ngelakuin hal yang sama, tolong masukin nama Fred Dekker ke dalamnya. Asli, ini jelas membuat gue memaafkan bagian investigasi2an yang sebenernya nggak perlu itu.

Mendekati 30 menit akhir, akhirnya pilem mulai beranjak ke arah yang gue harepin. Zombie-zombie mengepung pesta dansa mahasiswa, dan Det.Cameron ngeluarin best hillarious line nya :

" i got good news and bad news girls, the good news is your date are here.."
" What's the bad news? "
"They're Dead."

Dan Dekker ngelunasin janjinya pada gue dengan ngasih banyak zombie, head-exploding, creepy-crawlie-slimy creature..yeah, 20 menit nonstop fun silly-cheapy-gore!


Jagoan kita ( Chris & Cynthia ) beraksi dengan flamethrower dan shotgun. Ngebakar dan ngeledakin kepala zombie2 yang dari dalamnya akan keluar parasit2 seperti lintah. Gory efek nya sendiri sebenarnya lame, tapi gpp, itu nggak ngurangin ke FUN an nya kok, dan gue sangat menghargai usaha Dekker dan kru spesial efek nya. Sedikit kejutan juga ketika menemui kenyataan bahwa ternyata Lionel ( dalam 'Braindead' ) bukan yang pertama beraksi ngebantai zombie2 dengan mesin pemotong rumput, karena Chris sudah lebih dulu melakukannya! Haha gue pikir Night of the Creeps pasti adalah salah satu referensi Peter Jackson ketika membuat Braindead, mengingat adegan2 akhirnya begitu mirip ( pilem lain yang gue liat banyak ngambil referensi dari Night of the Creeps ini adalah Re-Animator dan Slither ).

Thrill Me
Dan meski Chris dan Cynthia sudah beraksi habis2an melawan zombie, karakter Det.Cameron ( Tom Atkins ) lah yang layak disandingkan dengan para badass-horror-heroes lainnya. Dia mencuri perhatian dan menenggelamkan karakter lain dengan line-line nya yang kocak, tak kenal takut, tanpa kompromi, pantang mundur dan mempunyai misi tersendiri terhadap para alien ini : membalas dendam. 

Sandingin Det.Cameron dengan Ash, Lionel, Ben, Ripley, R.J. MacReady, dan Derek maka mereka akan membuat The Expendables dan The Avengers pensiun.

...........................

Well, dengan semua apresiasi positif gue diatas, gue nggak ngerti kenapa Fred Dekker hanya menerima sedikit pengakuan dan respek dari industri perfilman, Tri-Star terlihat nggak antusias ama rilisan ini dan Night of The Creeps nggak punya wide-release atau promosi yang layak. ( Ini juga terjadi pada karya Dekker di tahun berikutnya, The Monster Squad (2007) yang sampe saat ini hanya tersedia dalam format bootleg DVDs di Amerika. ) why? Padahal buat gue Night of The Creeps adalah salah satu yang terbaik di genre spesifiknya, Fred Dekker jelas punya banyak sesuatu yang bisa ditawarkan buat sinema-horror.. Whateva.

so the verdict is,
meminjam salah satu line dari Det.Cameron :

" Zombies, exploding heads, creepy-crawlies... and a date for the formal. This is classic, Spanky. "

Yup, ini pilem horror b-grade sejati yang dibuat oleh sutradara penggemar horror b-grade sejati untuk audiens horror b-grade sejati. Highly recommended. Enjoy this,..jangan lupa siapin popcorn ama bir yang banyak.

Jadi, sekarang pilem wajib-tonton gue berikutnya adalah 'The Monster Squad' ( 1987 ), tolong siapa aja yang punya pilem itu buat menghibahkannya ke gue hehe.
ya gue tau..gue udah ketinggalan lagi :D


RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



28 June 2010

POULTRYGEIST : NIGHT OF THE CHICKEN DEAD ( 2006 )

Reviewed By 'Z'

Buat gue, cukup ada 2 alesan kenape film ini kudu ditonton:

1. Ini keluaran Troma.

2. Ini dibikin ama Llyod Kaufman...yg berarti ini keluaran Troma.

Biasanye, 2 itu selalu ngasilin hasil akhir yg sama: satu film yg jorok, menjijikan & amoral. Sangat memuaskan buat ditonton sendiri, tapi, jauh lebih memuaskan buat ditonton bareng ama temen2 lo dari kaum penggemar film berkelas. Asli, ngga ada yg lebih indah dari sebuah rilisan Troma selaen muternye bareng orang laen & nikmatin momen2 ngeliat mereka menderita! Rasanye kaya megang remote DVD dalem kamar dengan seorang SG bikinin lo popcorn, trus tiba2 ada bir jatoh dari langit2. Kira2 kaya gitu lah indahnye.


Cerita dari Poultrygeist, rilisan Troma pertama dalem 4 taun, itu berkisar pada Arbie & Wendy, sepasang muda-mudi yg "tumpang-tindih" di malem minggu, nikmatin waktu2 terakhir sebelon mereka lulus SMA & nempuh jalan idupnye masing2: Wendy pergi kuliah sementara Arbie milih buat tetep true pada tradisi-panjang tokoh-sentral film Troma dengan tinggal di kampung guna berkarier sebagai pecundang sejati. Nah, abis sebuah insiden menjijikan lalu berlanjut ke beberapa taun kemudian, Arbie ketemu Wendy dalem barisan demonstran anti-korporasi yg lagi memprotes berdirinye cabang American Chicken Bunker, sebuah gerai siap-saji, di Tromaville. Ternyata, pergaulan buruk kehidupan kampus telah ngebawa Wendy ke dalam satu jurang gelap tanpa dasar bernama “feminisme”. Tentunye ngga ada yg lebih cool dalem lingkar radikal feminis daripada jadi seorang lesbi (atau bi, atau apapun asal bukan straight) kan ? Maka disitulah Wendy berdiri, mengepalkan tangan untuk menentang tirani pasar bebas atau apalah gitu, bersama sist2-nye dari chapter lokal CLAM (Collegiate Lesbians Against Mega-Conglomerations), kabar buruk buat Arbie eh? Dan karena script film ini emang nuntut Arbie buat menderita, kini Wendy pun ngejalin hubungan ama Micki, lesbo-militan ama satu2nye cewe yg keliatannye nelen lebih banyak steroid dari Linda Hamilton di Terminator 2.

Rasa sakit hati Arbie gara2 dilepehin ama high-school sweetheart-nye demi Sarah Connor tadi ngebawa die buat ngambil aksi putus asa terakhir untuk kerja jadi "gadis" penjaga mesin counternye ACB. Ya kaya pura2 bunuh-diri lah, cuman lebih ngga pathetic aje. Nah, kayanye kite semua tau kalo, behind-the-scene, dapur restoran siap-saji itu adalah sesuatu yg udah cukup menjijikan. Dengan semua daging cincang produk dari pabrik pemotong, campuran variasi zat kimia, ama tetesan peluh pekerja yg jatoh ke pesenan tanpa kite ketahui. Sekarang tambahin itu ama imajinasi liar dari seorang Llyod Kaufman disana/sini, dan hasilnye adalah rangkaian gambar2 yg bikin seseorang bisa keilangan napsu makannye. Tak terkecuali kalo “seseorang” itu adalah Oprah Winfrey sekalipun! Nambah masalah pas ternyata outlet ACB ini didiriin di atas tanah pemakaman sakral suku Indian. Yup, mirip ama film “itu”, tau kan? Yg judulnye cuman beda 2 huruf ama yg ini.

Secara perlahan-lahan, arwah murka para Indian pun mulai menghantui ruang dapur. Awalnye Paco, seorang gay-hispanik, nyungsep ke mesin penggiling daging. Satu nasib yg umum diterima ama seorang gay di film Troma. Die kemudian beresureksi dalam bentuk sepotong sandwich yg bisa ngomong. Juga satu nasib yg umum diterima ama seorang gay di film Troma. Berikutnye giliran orang gendut, waktu Michael Hertz…um…”meledak” di WC setelah ngonsumsi telor hasil kutukan Indian kuno. Kalo lo ngga familiar ama Michael Hertz, die itu keliatan semacem kaya gimane bentuknye Preston Lacy kalo nelen Kirstie Alley bulet2, & sudut pengambilan gambar yg dipilih buat nunjukin itu bener2 bakalan ninggalin luka permanen dalem memori lo. Beneran, gue ngga becanda, adegan satu ini sumpah mengerikan.


Menyadari sepenuhnye kalo review ini bakalan lebih menjijikan dari review2 gue biasanye. Maka demi kenyamanan pengunjung setia blog ini, gue recap aje kalo abis 45-menit-penuh-semburan-dari-berbagai-variasi-cairan-ajaib-warna/ni-ke-atas-makanan kemudian, marathon jekpot pun dimulai. Jekpot ke properti umum, jekpot ke properti pribadi, orang jekpot saling ngejekpotin satu sama laen, dst, dst. Situasinye kaya keadaan di kampus gue dulu kalo lagi ada acara musik. Marathon jekpot ini kudu ditulis soalnye itu menandai transformasi para pengunjung restoran buat jadi armada zombie-ayam, yup, zombie-ayam! Lengkap dengan bulu2 yg tumbuh dari tempat2 absurd ama paruh tajem. Tentunye ini adalah bagian jualan utama film ini, waktu massa yg ”terzombifikasi” mulai ngebantai massa laen yg engga “terzombifikasi”, dan seperti biasa, Troma ngeksekusi momen itu secara fenomenal. Guts, blood, boobs, senapan mesin, semuanye tumpah-ruah di bagian ini. Sampe Arbie, Wendy ama beberapa survivor terakhir mulai terdesak & siap buat menerima ajalnye. Sebelon kemudian, Humus, sang koki wanita, mati buat kedua kalinye & protagonis kite nemuin senjata pemusnah massal ajaib guna nutup film ini pake sebuah ending yg ‘WTF’.

Fyuh! Capek gue ngereview ini…

Ape sebenernye yg bikin sebagian orang jadi zombie sementara sebagian laennye ngga? Sumpah gue kaga tau. Kenape Humus bisa mati 2 kali juga gue ngga ngerti, kemungkinannye sapepun yg nulis script film ini juga ngga ngerti. Pokoknye doski mati 2 kali, terima aje! Lagian dengan sedemikian banyak adegan splat-stick di sini, lo kaga akan peduli ama detil2 kaya gitu. Kaya semua produksi Troma laennye, Poultrygeist itu tontonan dengan nilai entertainment tinggi. Artinye, isinye dipenuhin ama hal2 menyenangkan yg sinonim ama kata entertainment, tau kan ? Bagian “guts, blood, boobs, senapan mesin” tadi. & kalo semua itu plus ratusan punchline ama toilet-humor masih ngga cukup buat lo, kali ini Kaufman punya trik ekstra: ternyata film ini juga sebuah musikal.

Gue baru tau kalo ternyata musikal itu beda sama opera. Selama ini gue pikir dua2nye tuh sama2 aje, tapi, sebagaimana bisa dijelasin ama para personelnye My Chemical Romance, keduanye ternyata punya perbedaan esensial. Musikal dipake buat ngedeskripsiin film yg sebagian scriptnye ditulis berbentuk lagu, jadi semacam acara Indonesian Idol. Nah sementara kalo opera itu semua dialognye emang dilantunin, semacem kaya yg dilakuin 50 Cents di film di mane die berperan sebagai…50 Cents. Berhubung Poultrygeist ini adalah sebuah musikal, maka lo bisa dengerin serangkaian tembang beraransemen buruk di dalemnye. Sebagian juga dilengkapin ama koreografi jenius pada battle-ballet antara General Sanders vs liga demonstran lesbian. Yup, semua lagu2nye emang achterlijk, tapi keseluruhan packaging-nye? Brilian!!

Tentunye, selera humor Troma itu cuman buat nyervis selera spesifik doang. Mayoritas orang, terutama mereka dengan fanatisme ideologi tertentu, bakalan nganggep lelucon2 film ini sebagai sesuatu yg ofensif. 

Asli, scriptnye ini emang praktis dipenuhin ama tsunami dari punchline & wordplay secara tasteless. Semua dialognye sengaja jadi set-up buat ngeledek sesuatu atau seseorang, dan mereka ngelakuinnye ke semua lapisan tanpa pandang bulu. Gue tau kalo sampe saat ini, film sering dijadiin medium buat agenda ngga tau malu dari propaganda tertentu (Avatar, anyone?), tapi yg dilakuin Poultrygeist unik dalem pengertian kalo mereka mah ngga jelas mau propagandain apaan. Semua dijelek-jelekin. Mau kiri-kanan, liberal-konservatif, amerika-etnis, bisnis gede-bisnis kecil kaga ada yg luput jadi bahan maenan. “Politik” dengan versi hantem rata gini bikin nontonnye jadi menyenangkan soalnye lo ngga ngerasa kalo ada orang yg lagi berusaha nyogokin agendanye ke lobang pantat lo.

Kerennye Troma tuh mereka selalu bikin film buat dikonsumsi ama orang idiot tanpa ngerasa perlu merlakuin penontonnye kaya orang idiot. Leluconnye tasteless, gue setuju, tapi semuanye emang beneran lucu, & ngga ada satu momen pun dalem film ini yg bikin gue ngerasa lagi digembala ke satu arah tertentu.

Gue bisa aje nulis semua kemerosotan mental yg terkandung dalem film ini, tapi itu bakalan ngabisin space, plus, kebanyakan orang bakalan nganggepnye sebagai glorifikasi fetishisme semata. Jadi, berhubung kite lagi ada dalam atmosfer piala dunia, biar gue rangkum aje ini pake kronologi update pertandingan via yahoo:

(“*” diitung sebagai menit)

* 3 - Kayanye itu hal paling menjijikan yg pernah gue liat.

* 4 - Bukan ketang, bagian yg ini jauh lebih menjijikan.

* 7 - BOOBIES!

* 11 - Lo yakin die ngomongin fried-chicken?

* 22 - Koreksi, kayanye ini nih hal paling menjijikan yg pernah gue liat.

* 27 - BOOBIES!

* 53 - Biar ngga semenjijikan yg sebelon2-nye, tapi ini masih cukup menjijikan.

* 60 - Gue bingung kenape orang2 ini ngga keabisan hal2 menjijikan buat ditunjukin.

* 71 - BOOBIES!

* 86 - Goblog, gue pikir udah selesai.

TRAILER






rating: 10/10

18 May 2010

RE-ANIMATOR ( 1985 )

REVIEWED BY 'R'.

Story :

Dan Cain ( Bruce Abbott ) adalah seorang mahasiswa-medis di Miskatonic Medical School, Arkham, Massachussets, yang  ber masa depan cerah. Dia mempunyai pacar cantik bernama Megan ( Barbara Crampton ) dan sudah merencanakan untuk menikah. Semuanya berjalan baik-baik saja, sampai semuanya berubah ketika seorang mahasiswa misterius-aneh, Herbert West ( Jeffrey Combs ), --yang juga mengikuti kelas tentang riset otak di Miskatonic Medical School--, menyewa salah satu ruangan di apartemennya.

Tanpa Dan sadari, West ternyata sedang melakukan sebuah eksperimen gila di kamarnya yang selalu tertutup. Dia menciptakan serum 'Re-Animator' dalam ambisinya untuk mampu menghidupkan kembali orang yang telah meninggal. Keadaan semakin memburuk, ketika Dan tanpa sengaja ikut terlibat eksperimen West yang akhirnya menyebabkan kekacauan tak terkendali di kamar jenazah Miskatonic Medical School!


Review :

Setelah akhir2 ini gue dibuat bosan oleh film horror-nowadays yang nggak lebih dari pameran gimana cara ngebunuh sebanyak-banyaknya remaja dalam rentang waktu 90 menit, akhirnya gue ngedapetin lagi TON OF FUN dari genre Horror yang lagi-lagi gue ngedapetinnya dari film jadul tahun 1980-an ( tepatnya 1985 ) ! wow! I Love 80's!

Diadaptasi dari cerita H.P Lovercrafts dan diproduseri ama Brian Yuzna ( produser anthology Takut : 'Faces Of Fear' ) , Re-Animator adalah sebuah film debut sutradara Stuart Gordon --sekaligus masterpiece-nya -- yang pantas disejajarin ama film2 campy-b-movie-splatstick-horror-komedi-cult-klasik ( panjang amat genrenya hahaha ) model Evil Dead , Braindead atau Bad Taste .

Re-Animator juga mungkin bisa disebut sebagai salah satu film Homage yang berhasil. Dari Romero sampe Hitchcock ( scoring 'psycho' jelas banget disini ) dari Frankenstein sampe Evil Dead. Namun kerennya, Stuart Gordon nggak mentah2 mengkopi-paste dan juga nggak berusaha buat menjadi sama seperti influence-influence-nya, dia memoles filmnya dengan adegan2 fresh-orisinil sinting yang akhirnya membuat Re-Animator berhasil punya karakter sendiri dan tanpa ragu berhak menyandang predikat cult-klasik.

Dengan tempo yang terjaga dan asyik buat diikutin, Re-Animator nggak kendor ngehibur penontonnya dari awal sampe film munculin kredit-titel. Dia juga punya adegan-adegan memorable komikal-splatstick-konyol yang bertebaran di tiap jeda menitnya. hillarious-fun!

Ada adegan berantem ama zombie-kucing, ada adegan zombie Arnold Schwarzenneger telanjang bulet ngamuk di kamar mayat, ada adegan zombie- kepala buntung yang nyoba ngendaliin tubuhnya, ada adegan usus ngebelit korbannya, ampe adegan sexual-abuse-weird yang belum pernah ada sebelonnya. Semua itu dibungkus ama performa luar biasa Jeffrey Combs dan David Gale yang membuat keduanya pantas masuk jajaran horror-ikon sepanjang masa. Asli, kalo semua itu kedengerannya terlalu murahan + menjijikan buat kalian tonton, gue dengan keras menyarankan kalian nonton ini sambil makan gorengan. ( lohhh??? ).

Hehe tapi emang bener, Re-Animator masih di bawah level Gory-nya Braindead, semua adegan ridiculous-gory disini cuma dipake sesuai kebutuhan film: Fix! Semua yang ada disini juga well-done : spesial efek, make-up, akting, dan pace semuanya pas pada proporsinya masing-masing. Dan itu semua, membuat Re-Animator terlihat superior jika dibandingin ama Braindead yang gross atau Bad Taste yang un-skillful, walaupun sensasi yang dihasilkan sih sebenernya sama : FUN FUN AND FUN!

Untuk mempersingkat --dan karena omongan reviewer di blog ini tidak bisa dipercaya karena terlalu subjektif wkwkw --, baiklah gue kasih quote dari reviewer sejuta umat idola kalian : Roger Ebert.

One of the pleasures of the movies, however, is to find a movie that chooses a disreputable genre and then tries with all its might to transcend the genre, to go over the top into some kind of artistic vision, however weird. And Stuart Gordon's "Re-Animator" is a pleasure like that. SUMBER.

Tumben nih, beliau satu selera ama gue hehehehe dan kayanya kata-kata engkong Ebert diatas udah cukup mewakili apa yang pengen gue tulis tentang film ini.

Jangan ragu masukin Re-Animator kedalam daftar film klasik yang wajib kalian download, beli, order, tonton dan koleksi. Terutama kalo kalian bisa menikmati, Braindead atau Evildead hehe Highly Recommended!




++ baca juga nih cerita menarik temen 'mondoterrore' yang berhasil ketemu ama Brian Yuzna dan dapet tanda tangannya di Screamfest tahun 2007! MONDOTERRORE BLOGSPOT dan baca juga review Re-Animator di blognya yang keren : MONDOTERRORE WORDPRESS

......................................................

RATING : 9/10

27 April 2010

BAD TASTE ( 1987 )

REVIEWED BY 'R'.

'Bad Taste' itu model film yang proses produksinya terlaksana setelah terjadi serangkaian dialog-'brillian' macam begini :

Peter Jackson ( PJ ) : " eh, bikin film film yuk...gue punya cerita nih.."
temen PJ : " ceritanya apaan..? "
PJ : ( sambil nyengir ) " ceritanya tentang Alien yang menginvasi kota Kaihoro buat ngejadiin daging manusia sebagai bisnis fast-food di planet mereka..terus ntar elu jadi agen khusus yang ngelawan mereka..dan gue jadi...oooh, gue selalu pengen jadi kaya 'Ash' di Evil Dead ..gimana keren ga..??"

krik..krik..krikk....sunyi senyap, semuanya menatap Jackson dengan terharu.

Di Indonesia, dimana aktifitas membuat film masih dianggap sebagai aktifitas mewah nan menghamburkan uang, ide 'cemerlang' kaya gitu biasanya hilang begitu saja digilas kenyataan

Namun Peter Jackson muda merasa idenya sudah terlalu lama mengendap dalam benak dan memaksa untuk dikeluarkan walau keterbatasan menghadang. Sebelum 'Bad Taste', ketika berusia 15 tahun, PJ juga sudah membuat film pendek 20 menit 'The Valley' sebuah film fantasi petualangan tentang cyclops yang dibuat pake teknik stop-motion bareng ama temen-temen deket nya ( Pete O' Herne ama Ken Hammon ) FYI, 2 orang sohib PJ ini juga maen di Bad Taste.


Maka dengan semangat DIY ( Do It Yourself ) yang luar biasa PJ nekad memproduksi sendiri 'Bad Taste', berbekal budget pribadi sebesar $1000 ( di akhir produksi, New Zealand Film Commission akhirnya tergerak untuk memberikan sejumlah dana bantuan ), dia lalu mengkasting teman-temannya sendiri yang cukup gila untuk bersedia maen tanpa di bayar, lalu secara militan mengambil gambar di setiap akhir pekan atau hari libur. Jadwal suting yang sekarep dewek ini akhirnya membuat film berdurasi 91 menit ini rampung dalam jangka waktu 4 tahun!! Lamanya proses produksi ini juga membuat beberapa pemaen mengalami perubahan model rambut..wkwkw coba deh perhatiin.

Untuk meminimalisasi budget, PJ juga mengerjakan make up/efek sendiri, membuat crane untuk steady-cam sendiri ( sementara shootnya cuma pake camera 16mm ) dia juga yang membuat topeng alien sendiri dari bahan karet, bahkan dia memerankan 2 karakter sekaligus dalam film ini.

 Yang pertama, dia berperan sebagai Derek pahlawan-gokil kita yang dalam film ini diceritain terjatuh dari bukit dan mengalami pecah kepala, lalu sepanjang film dia terlihat sibuk mengikat batok kepalanya supaya otaknya nggak berceceran ( whatthefuck!? ), dengan kondisi kaya gitu, Derek tanpa gentar terus memburu para Alien dengan gergaji mesin " I'm Derek. Derek's Don't Run! " , woo-hooo walaupun amatiran, rasanya gue rela ngasih standing applause 5 menit buat effort PJ atas perannya disini. Liat aksi Derek di video ini: hehe





Satu karakter lagi yang dia perankan adalah, perhatiin adegan ketika Derek memaku kaki salah satu alien yang terikat di tebing. Yap, anda benar! Alien jenggotan yang tergantung ditebing itu juga diperankan oleh Peter Jackson sendiri!!
Jadi Derek yang diperanin oleh PJ, memaku kaki Alien yang juga diperanin oleh dirinya sendiri hahaha
lewat trik kamera yang raw tapi cerdik gue sampe nggak menyadari kalo dua orang yang tampil di layar adalah : Peter Jackson!

Dan percaya atau tidak, film ini bahkan dikerjakan tanpa script!

Haha, nonton 'Bad Taste' itu rasanya kaya membaca zine fotokopian bikinan temen sendiri yang layoutnya ngaco, murahan dan terlihat dekil, tapi dijamin 100% FUN untuk dibaca karena dikerjakan dengan jujur, apa adanya, bebas, tulus dan penuh passion. Gue jadi inget ngebaca, 'Choking Hazard', 'P.H.O.D', 'Rebelliousickness', 'Pussy Wagon' atau..ehm, 'Thrasher'.


BAD TASTE OR Braindead ?

Nah sekarang, ngomongin Bad Taste kayanya susah kalo ga ngomong Braindead , yang akhirnya selalu mencuatkan pertanyaan : "mana yang lebih keren? "

di Bad Taste, PJ terlihat masih terkesan main-main, kental aroma seneng-senengnya -- liat aja topeng dan bentuk aliennya yang 'anjing-kok-gini-amat-ya?' -- budget yang ultra-low, sementara skil sinematographi minimal juga membuat ' bloopers ' atau kesalahan teknis terlihat jelas disana-sini,

Jadi, buat para fan Peter Jackson yang mengenal dia dari 'kesempurnaan' 'Lord Of The Rings' atau 'Kingkong' , apalagi kamu yang baru saja menyaksikan kepuitisan 'The Lovely Bones', rasanya bakal menangis tak percaya kalau menyadari sutradara pujaannya pernah membuat film semacam 'Bad Taste'! hahaha

Namun walau emang seburuk itu, ide-ide brilliannya sudah sangat jelas terlihat. untuk ukuran ultra low-budget movie kamu akan dibuat tercengang oleh adegan unthinkable-sinting nan megah ketika pesawat Alien yang berbentuk rumah itu perlahan-lahan terbang ke angkasa!, ini adegan yang 20 tahun kemudian kemungkinan menginspirasi 'Zathura' atau 'District 9'. Bahkan, adegan mobil dan kambing yang meledak di Bazooka, walaupun hanya menggunakan efek-murah, 100 kali lipat lebih menghibur, daripada ledakan mega-budget di 'Merah Putih'. Juga jangan lupain, kalo desain kepala kapten Orc di Return Of The King itu inspirasinya dari kepala Alien di film ini. Belum lagi adegan2 komikal-splatter-pe'a-hillarious yang kesebar di tiap scenenya berhasil menjadi sekuen adegan yang tak mudah dilupakan.

itulah makanya gue membayangkan ketika Peter Jackson akhirnya berhasil merampungkan 'Bad Taste', dia berkata sambil mengepalkan tangan :

" sekarang gue tahu gimana cara bikin film! ayo kita bikin lagi yang lebih gila-gilaan!! "

5 tahun kemudian ( setelah 'Meet Tha Feebles' ) , terciptalah 'Braindead' : The Most Entertaining+Disgusting+Gory Horror Movie i Ever Seen ! "


'Braindead' memang terlihat lebih siap dan superior dibanding 'Bad Taste'. Storyline nya lebih dipikirkan ( walaupun tetep aja bodoh wkwkw ), efek/makeup nya lebih halus ( inget perbandingannya ama 'Bad Taste' jangan ama TLOTR haha ), pemaennya aktor beneran yang dibayar ( walaupun gue bakalan tetep merindukan Derek ), dan kerennya dengan budget yang sedikit lebih gede ama skill sinematografi yang mengalami progress, visi dan kegilaan Peter Jackson nggak kendor dan berhasil ditumpahin di film ini, baca : lebih banyak darah ama organ tubuh berterbangan haahha

intinya, Bad Taste dan 'Braindead' sebenernya sama2 keren dan FUN. Dua-duanya keluar dari kepala seorang visioner gila yang sama. Namun, gue tetep harus mengakui kalo Braindead masih unggul 2 poin untuk urusan : hibur-menghibur.

VERDICT :


Kalo kamu nyari film horror yang menyeramkan, menakutkan atau thrilling, Bad Taste bukan judul yang tepat. Ketimbang horror, Bad Taste lebih tepat kalo dilabelin sebagai film komedi-action-scifi-fantasy dengan moment splatter-gore didalamnya.
Bahkan, dengan jelas film ini nampilin beberapa adegan parodi dari beberapa film terkenal sebut saja E.T, Texas Chainsaw Massacre , Evil Dead , Commando sampe Star Wars. Gampangnya, Bad Taste itu mirip film WARKOP DKI versi hardcore. Sebuah genre dimana PJ selalu terlihat brillian!

Haha, so Kalo kamu menikmati Evil Dead , 'Braindead' , atau Redneck Zombies, maka kamu akan menikmati Bad Taste. Tapi, kalo kamu tidak tertarik untuk menontonnya atau bahkan membenci judul-judul diatas, maka nggak usah peduliin film ini. yap, Bad Taste emang seburuk itu. 

Bad Taste is only work for real 'Bad Taste' people.

Lewat review ini, gue cuma pengen ngasih rekomendasi, bahwa kalo kamu mau sedikit mengabaikan 'good-taste' mu, 'Bad Taste' adalah film yang cocok ditonton beramai-ramai untuk sekedar refreshing bersama teman-temanmu ( bahkan keluarga --soalnya orang cenderung masih bisa mentolerir kesadisan dibanding ketelanjangan--) , menontonnya akan membuat harimu yang membosankan menjadi begitu menyenangkan, bahkan untuk beberapa hari kedepan. hehehe

Terakhir, pesan untuk Peter Jackson :
WE WANT DEREK! WE WANT DEREK! AND WE NEED A SEQUEL!!

RATING : 8,5/10
.....................................................................

Terima kasih buat temen gue, IDUB yang udah bersedia ngedownloadin, ngeburningin dan mengirimkan CD film cult-klasik keren ini kealamat gue hehe
Pesen lagi bos!! hahahaha

12 December 2009

THE MACHINE GIRL ( 2008 )


REVIEWED BY 'Z'.

Abis 3 hari berisi non-stop video-editing, di tempat gue gawe (dengan DVD player barunye) secara ngga sengaja gue nemu satu film Jepang diantara tumpukan DVD yg penuh berisi semua judul2 populer kesukaan orang2 pada umumnye. Nah lo mungkin ngomong “loh, bukannye lo kaga suka film Jepang?”, well, emang ngga, tapi yg satu ini produksinye Fever Dreams, PH yg sama ama yg ngeluarin Tokyo Gore Police, film yg bikin gue gua ngga bisa berenti ketawa tempo hari. Bukan cuma itu, tapi ini sutradaranye juga sama: Noboru Iguchi, dan dengan kover meyakinkan seorang cewe sekolah bertangan senapan mesin kaya gini (plus fakta kalo gue udah bener2 muak ngeliat tampilan windownye Final Cut Pro) bikin Machine Girl keliatan jadi opsi paling sehat buat ngebunuh waktu ngelewatin satu lagi malem minggu menyedihkan dalem daftar panjang malem-minggu-menyedihkan di idup gue ini. Jadi sebelon aer mata sempet meluncur deres gara2 kontemplasi melankolia, mari kite pencet play…


Seorang cewe dengan senapan mesin ngegantiin tangannye ngebantai segerombolan cowo di 5 menit pertama, hmm, start yg bagus.

Ami & Yu itu kakak-beradik yatim piatu yg ,sejak bokap-nyokapnye bunuh diri gara2 dituduh jadi pembunuh, bersumpah buat ngejaga satu-sama-laen dalem gaya idup pasifis. Mereka selalu ngejauhin kekerasan ama berusaha ngelewatin idup & semua masalah di dalemnye tanpa pernah make kekerasan. Nah, idealisme manis hippie-esque ini berjalan mulus sampe masa (sekitaran) SMA, waktu Yu ama sohibnye, Takeshi, jadi korban praktek bullying segerombol penggemar L’arc-en-Ciel pimpinan Sho Kimura. Apa yg mungkin kedengeran kaya masalah tipikal semua anak SMA ini jadi kerasa sedikit lebih ekstrim pas kite tau kalo Sho tuh anak pasangan bos Yakuza yg, kalo kite perhatiin dari gimane karakternye diperanin, ehmmm,,,sedikit sakit jiwa. Dalam satu momen resistansi-terhadap-opresi dimane kite diajak buat ngasih aplus, Yu ama Takeshi dibunuh ama geng pimpinan Sho & ini bikin Ami (yg diperanin ama popstar lokal MInase Yashiro) buat spontan masuk dalam stadium pertama dari 3 tahapan paradigma balas-dendam: mencari jawaban.

Untungnye buat doski, dari pertama nongol di layer Yu emang keliatan rada2 gay, & die emang ngelakuin hal yg gay kaya rajin ngisi buku diary, dimane die nulisin nama semua orang di geng bully itu tadi secara rapih menurut abjad, supaya Ami bisa ngelacak keberadaan mereka semuanye dengan nyaman. Itu untungnye…sialnye ternyata, ngga tau kenape, semua bully ini kayanye punya orang tua yg kelakuannye bahkan lebih kekanak-kanakan daripada anak-anaknye sendiri. Maka Ami pun masuk ke stadium kedua dari 3 tahapan paradigma balas-dendam: menuntut keadilan. Ini naro die dalam perang frontal ama keluarga Yakuza yg bukan cuman gila doang, tapi juga ternyata keturunan langsung dari klan ninja Hattori Hanzo. Adalah dalam salah satu perang frontal ini kite ngeliat Ami –akhirnye- keilangan sebelah tangannye!! Huray!! Udah mulai ngga sabar gue soalnye… kite liat cewe dengan tangan senapan mesin di kovernye, kite liat cewe dengan tangan senapan mesin di adegan pembukanye, terus kenape yg dari tadi gue liat tuh cewe dengan 2 tangan sempurna??!! Di 10 menit terakhir gue ngga bisa berenti ngedumel “tangannye kapan ilang sebelah?”, “tangannye kapan ilang sebelah?”, fuih, akhirnye ilang juga, hampiiirr aje gue ngerasa dicurangin…sekarang tinggal, semacam…mana senapan mesinnye?

Well, inget Takeshi? Die orang yg ngebagi nasib sial ama Yu tadi. Nah ternyata nyokapnye adalah seorang MILF montok. Lebih komplitnye lagi, MILF mekanik yg montok & senapan mesinnye lahir dari penguasaan skill teknis doski pada onderdil. Ok, sekarang kite udah punya jagoan, kite udah punya penjahat, kite udah punya motif & kite udah punya gimmick. Maka keliatan alamiah kalo Ami pun masuk ke stadium akhir dari tahapan paradigma balas-dendam, yaitu vigilante-justice!! SEKARANG baru filmnye dimulai.

So, let the bloodbath begin!!!!



Kalo lo punya pikiran bahwa film ini tuh cuman kopian-karbon dari dongeng balas-dendam stereotipikal, lo bener. Machine Girl punya plot yg sama sekali ngga berkembang dari formula textbook ginian sejak era I Spit On Your Grave dulu. Tapi kalo lo pikir ini ngga layak dipake buat ngabisin waktu, lo salah besar. Soalnye buat sebuah kopian-karbon dari dongeng balas-dendam stereotipikal, film ini oke banget. Noboro Iguchi make gaya campy yg sama ama yg abis ini die pake di TGP, bedanye kalo TGP itu keliatan surreal ala judul2 akhir Evil Dead, maka Machine Girl make look kasar & murahan kaya film2 Grindhouse. Jelas sebuah nilai plus buat reviewer ini. Kekerasannye hiperbolis, gore-nye hilarious, ya oke, gue akuin kalo banyak kill scene yg keilangan nyawa gara2 penggunaan metode CGI sih, tapi teknik old-school prosthetic disini juga dieksekusi secara top-notch.

Tentunye, mau gimanepun juga ini tetep aje film Jepang, jadi lo ngga bisa ngindarin kebiasaan mereka buat bikin alur yg terlalu bertele-tele. Cerita superhero-origin disini emang lama banget, buat sampe ke bagian di mane Ami keilangan tangannye yg sebenernye jelas adalah intinye nonton ini tuh praktis butuh lebih dari setengah film sendiri. Ngga pernah ngerti kenape itu kaga diselesaiin di 5-10 menit pertama aje sih? Lebih bagus lagi kalo dibikin kaya Martyrs, mereka cuman perlu opening-title buat ngabisin detail2 kecil kaya gitu & langsung mulai bunuhin orang. Secara keseluruhan yg ini jauh lebih bagus dari Martyrs, misalnye aje durasinye dipersingkat gue berani tarohan kalo Machine Girl bakalan jadi juara.

Tapi kite ngga usah berandai-andai kok. Biar ngga sempurna, toh Noboro Iguchi udah ngasih kite hiburan slap-stick dengan semangat “film buruk yg keren” sejati. Penggunaannye dari senjata2 ajaib bakalan bikin lo ngga berenti ketawa ngelewatin semua adegan pembunuhannye. Darah yg muncrat dalam jumlah ngga masuk akal, over-akting para aktor/aktrisnye yg komikal, ama pilihan2 shot yg luar-biasa-jeleknye-sampe-malah-keliatan-keren bikin Machine Girl jadi tontonan murahan dalam definisi “hiburan ekstrim” sesungguhnye. Kualitas itu sesuatu yg relatif & buat gue, dengan semua unsur campy di dalemnye, film ini cuman kalah dalam soal orisinalitas, bukan kualitas.

Tapi kalo dipikir-pikir, dalam gelanggang trash-cinema, pernah gitu ada yg peduli sama orisinalitas?



...................

detail info
The Machine Girl.717680.avi
Size : 708.26MB

TOKYO GORE POLICE ( 2008 )


REVIEWED BY 'Z'

Pertama-tama, gue pengen ngejelasin dulu kalo gue nonton ini dengan semua audio dialog ngga kedengeran. Aneh soalnye semua suara laen kaya musik bekgron ama efek suara ledakan, pistol, dll, semua kedengeran jernih, cuman tiap ada yg ngomong ngga ada satu kata pun muncul di speaker. Gue udah neken semua tombol yg kesedia di remote-control tapi tetep aje problem ini ngga terpecahkan. Akhirnye, mikir kalo semua dialognye pun bakalan pake bahasa Jepang, jadi kite2 yg ngga dengerin J-Rock toh kaga tau sebenernye apaan yg lagi diomongin. Maka gue putusin buat cuek nonton dengan semata-mata ngandelin akurasi subtitle sebagai narasumber tunggal bagi kepentingan komprehensi cerita. Ngga akan masalah2 amat kayanye. Maksud gue, gue bahkan ngga perlu subtitle tiap kali nontonin bokep Jepang & selalu bisa ngerti aje semuanye soal apaan, terus kenape yg ini kudu beda kan?

Untungnye buat gue, Tokyo Gore Police jelas ngga punya novelis handal buat nulis scriptnye. Plot yg setipis cerpen majalah remaja di sini berkisar soal kota Tokyo di masa depan yg ngga terlalu futuristik, waktu dinas kepolisian udah dipegang pihak swasta & ngegoresin tangan pake cutter adalah hal yg trendi buat dilakuin cewe2 ABG, semua hal yg sangat mungkin bener2 kejadian 5 taun dari sekarang. Di era ini, para aparat dalam seragam ksatria Shogun feodalnye bertempur ngelawan satu generasi baru kriminal yg disebut ‘insinyur’ (asli, itu yg gue baca di subtitlenye: insinyur), ini semacem versi mutasi bencana Chernobyl dari The Brotherhood of Evil Mutant, dengan karakteristik utama kalo bagian tubuhnye ngalemin luka fatal maka luka itu bakalan bermutasi jadi senjata mematikan, gimane? Kedengeran keren? Mungkin buat kite iye, tapi kayanye sih ngga buat Ruka.

Sebagai orang yg kerja jadi polisi, Rambowati kite ini punya kewajiban buat terlibat konfrontasi berdarah yg berujung pada mutilasi dalam level halaman belakang sang jagal-dari-Jombang ama para insinyur tadi setiap harinye. Satu cara cari nafkah dengan biaya laundry tinggi kalo kata gue sih, hey, tapi mulia kan? Maksud gue, doski cuman pengen ngikutin jejak ayahanda tercinta, yg kepalanye pecah ditembak orang tak dikenal dalam demo anti-swastanisasi kepolisian dulu. Kini, abis tumbuh jadi katana-wieldin’ insinyur-slayin’ dewasa, Ruka punya cita2 nerusin pengorbanan sang ayah buat “melindungi & melayani” masyarakat. Tentunye itu slogan yg masih diperdebatkan ama banyak orang, terutama begitu komandan Tokyo Police Corp. ngedeklarasiin perang frontal terhadap para insinyur dengan cara…ngebantai setengah penduduk Tokyo dalam satu operasi pembersihan-gen yg bakalan bikin para Gestapo keliatan kaya tentara keamanan PBB kalo dibandingin. Dan sementara Tokyo bersimbah darah layaknye Jerusalem waktu kedatangan tentara salib, Ruka punya masalah pribadi ama insinyur tertentu. Intrik konspirasi pun jadi pemicu bagi terciptanye melakonlia dalam stadium tertentu yg bikin semacem monster buat tumbuh dari tangan kirinye! Makin bagus aje nih film. Dengan kondisi termutasi inilah doski turun ke jalan, ngelindesin tumpukan mayat ama motongin organ tubuh orang dalam misi vendetta pribadi. Ini Kill Bill di apokaliptik-Tokyo.

Kedengeran masuk akal ngga itu? Kalo lo waras sih lo bakal jawab engga, Tokyo Gore Police emang bukan film yg masuk akal. Semua muncratan cairan ama potongan prosthetic yg beterbangan ke segala penjuru di 15 menit pertama ngebenerin asumsi gue kalo ini emang tontonan campy sejati, ceritanye ngga penting asal pastiin semuanye dibikin sedemekian rupa biar keliatan sehiperbolis mungkin. “Ayo kumpulin cairan2 menjijikan yg banyak, trus semprotin semuanye ke kamera!”, “ayo kite potong jari cewe sambil di zoom!”, “ayo bikin klub strip yg narinye cewe2 deformitas!”, “ayo bikin vagina yg keliatan kaya moncong buaya”, “ayo bikin penis yg bisa nembakin peluru!”, proses penulisan script-nye kurang lebih kedengeran kaya gitu. Adalah selebrasi pada segala hal grotesque-nye lah apaan yg bikin film ini menghibur, kerja keras tim produksi dalam ngerjain pekerjaan kotor mereka ngasilin adegan2 yg bener2 cuman bisa lahir dari isi kepala hasil akumulasi konsumsi porno-hentai secara konstan…antara itu apa nama mereka semua emang Lloyd Kauffman.



Kalo selera humor lo emang jenis2 yg ngga bisa diterima masyarakat umum, berarti film ini bakalan ngasih servis ala restoran bintang lima. Desain makhluk, splat-stick gore ama keseluruhan vibe-nye bakalan bikin lo terpingkal-pingkal ngeliat segala absurditas yg silih-berganti nongolin wajah buruk mereka, semuanye dibikin pake gaya efek prosthetic old-school (no fucking CGI!!), harus diakuin kalo teknik itu bikin nuansa campiness-nye makin kerasa. Emang sama sekali ngga realistis, tapi secara visual terlalu menarik buat ngga diliat, brutal secara hilarious sampe lo asli ngga pernah bisa berenti ketawa! Satu-satunye hal paling ngedeketin “serius” di sini tuh aksi aktris utamanye buat terus2an ngasih pandangan introvert “menerawang” yg kemungkinan sih doski pelajarin dari Twilight, tapi itu pun diselingin ama aksi pose2 Sailor Moon tiap abis ngebunuh orang, sangat Jepang, sangat lucu. Lo bakalan terus senyum pas katana, uzi, ama semua senjata pembunuh yg tersedia di sini mulai ngerobekin daging ama ngeremukin tulang para anggota cast, baik satu demi satu ataupun sekalian aja beberapa sekaligus. Mereka bahkan sampe bikin reka ulang adegan eksekusi legendarisnye film penyiksaan klasik Tokugawa. Kalo kata gue, itu cara yg bagus buat ngejadiin budaya lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

Sekarang, apa gue suka ama film dalem label kacangan kaya gini? HELL YEAH!! Dalam era waktu film2 Jepang (ama umumnye horror oriental) terlalu ngandelin twist subtil, makhluk supranatural, ama pseudo-scare repetitif, sapa yg nyangka kalo rendisi terbaru dari Toxic Avenger malah muncul dari negara itu? Tokyo Gore Police itu kaya potongan lezat dari semangat b-movie klasik, die nelanjangin horror dari semua aspek komersil & ngebawanye balik ke esensinye: monster ama mindless-violence!! Nah, sekarang kalo gue bisa nemuin cara buat ngidupin audio dialognye, ini bakalan jadi tambahan berharga buat koleksi gue. Satu buat ditonton tiap lagi butuh pelarian pas gue nyadar kalo judul2 rilisan Troma praktis ngga pernah nemuin jalan buat masuk ke pasar DVD negara ini. Hmmm….mungkin emang udah waktunye buat merhatiin rilisan2 Jepang kali ya?


....................

detail info

Size : 791.47MB
Title : Tokyo Gore Police 2008
Original name : Tokyo.Gore.Police.2008-MovieDB.ASIA.rar