Showing posts with label mutant. Show all posts
Showing posts with label mutant. Show all posts
13 June 2017
Bite (2015 ) : Gigitan Kecil yang Tak Terasa Menggigit
Tertarik ama film body-horror garapan Chad Archibald ini setelah saat itu nggak sengaja ngebaca beritanya ( entah itu beneran atau hanya trik marketing belaka ) yang nyebutin bahwa ada dua penonton yang pingsan dan seorang lagi muntah-muntah setelah nonton ini pada saat premierenya di Fantasia Film Festival. Well, sebegitu menjijikannya-kah filmnya?
Plot film berpusat pada karakter Casey ( Elma Begovic ), yang baru saja pulang dari liburan-jelang-pernikahan ( Bachelorette Party ) bersama kawan-kawannya di Costa Rica. Liburan itu seharusnya membuat Casey lebih senang dan segar, tapi pada kenyataannya ada dua masalah yang sedang merisaukan hatinya. Pertama, meski calon suaminya, Jared ( Jordan Gray ) boleh dibilang adalah sosok yang ideal ( dia tampan, baik hati dan mapan ), entah kenapa Casey justru merasa belum siap dengan pernikahan yang akan dihelat seminggu lagi itu. Dia terlihat gugup berada diambang dunia rumah-tangga dengan semua tetek-bengek kerumitannya kelak ( termasuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak ). Kegelisahan itu menguat setelah dia ngerasa calon mertuanya tidak menyukainya. Dipuncak kebimbangan, Casey sempat ingin mengutarakan keinginan menunda pernikahan, namun tak sanggup menyampaikannya. Hal ini membuat ia semakin tertekan. Pendeknya, Casey sedang mengalami krisis-jelang-married kaya banyak temen gue yang justru terlihat murung dan panik menjelang pernikahannya haha.
24 July 2013
THE FLY ( 1958 )
Apa yang terjadi dalam 'The Fly' dimulai ketika pada suatu hari Francois Delambre ( Vincent Price ) mendapat telepon dari Helen ( adik iparnya ).
Helen mengaku, bahwa dia telah membunuh Andre ( suaminya ) di laboratorium kerjanya. Francois pun terkejut bukan kepalang, karena pasangan suami-istri yang sudah dikarunai seorang putera ( Phillip ) ini sebelumnya tidak pernah mempunyai masalah apapun.
Helen mengaku, bahwa dia telah membunuh Andre ( suaminya ) di laboratorium kerjanya. Francois pun terkejut bukan kepalang, karena pasangan suami-istri yang sudah dikarunai seorang putera ( Phillip ) ini sebelumnya tidak pernah mempunyai masalah apapun.
Ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Francois bersama inspektur Charas segera melakukan investigasi. Hal yang membuat mereka bingung adalah, ekspresi Helen terlihat tidak terlalu berduka. Dia bahkan mampu menceritakan kronologi pembunuhan suaminya dengan tenang. Inspektur Charas langsung menyimpulkan kalo Helen telah menjadi gila. Namun, Francois tak percaya itu. Dia yakin ada yang disembunyikan pada kasus ini, terutama karena Helen sering bertingkah aneh ketika melihat seekor lalat.
Pada suatu hari, putera Helen ( Phillip ), bercerita pada Francois kalo ibunya memang sedang mencari seekor lalat. Bukan sembarang lalat, yang dicarinya adalah seekor lalat berkepala putih dan berkaki aneh.
Lalat berkepala putih dan berkaki aneh??
Demi bisa menguak misteri ini, Francois berpura-pura telah menangkap 'lalat berkepala putih' itu dan akan memberikannya kepada Helen, asalkan dia mau menceritakan penyebab kenapa pembunuhan itu bisa terjadi.
Helen setuju. Dan dia mulai menceritakan kisah mengerikannya.....
Flashback.
Labels:
50-an,
classic horror,
classics,
creatures,
mad scientist,
monster,
mutant,
sci-fi,
thriller
01 May 2012
DAGON ( 2001 )
Ini sebenernya pilem yang sering banget gue lewatin pas milih2 pilem di rental dvd. Ga tau kenapa yah? gue nggak pernah tertarik pilem ini. Mungkin desain kovernya yang ( buat gue ) kurang merangsang secara visual, atau mungkin karena gue mengira bahwa pilem ini pastilah salah satu pilem horror-monster micro-budget yang sebenernya udah gue tonton pas sebuah stasiun TV nayanginnya malem-malem. Bukan berarti horror-monster micro-budget nggak keren sih, cuman sayang aja kalo udah bayar sewa, tapi ternyata pilemnya udah di tonton hehe.
Sampai pada suatu hari, akhirnya gue tahu kalo ini pilemnya Stuart Gordon. Ok, tentunya nggak perlu dijelasin lagi siapa beliau. Dan lebih istimewanya lagi, dalam pilem ini Gordon kembali satu tim ama Brian Yuzna ( Produser ) dan Dennis Paoli ( Screenplay ).
Asal tau aja, gue sangat menyukai 2 film yang udah dibuat geng Gordon ini ( Re-Animator dan From Beyond ), itu 2 pilem yang udah gue kategoriin sebagai cult hehe. Selain itu, gue juga ternyata suka pilem Gordon era sebelumnya, Castle Freak ( dalam pilem ini produsernya bukan Brian Yuzna ), dan jangan lupain pilem eksyen kelas B yang membuat gue bertepuk tangan pas nontonnya dulu di bioskop Mulya , Fortress. Itu juga hasil arahan opa Gordon ini.
Jadi, dengan resume kaya gitu 'Dagon' harusnya sih bakalan keren juga dong yah..rasa kepenasaranan itu yang ngebuat gue segera mencari pilem ini lagi. Hehe.
dan prends, ini reviewnya..
Storyline :
Paul Marsh ( Ezra Godden ) dan Barbara ( Raquel Merono ) bersama sepasang lagi kolega nya ( Howard & Viki ), mengalami hari yang naas ketika boat mereka terbentur karang akibat badai yang tiba-tiba datang. Viki terluka cukup parah, maka Paul dan Barbara segera mencari bantuan di kota tepi pantai terdekat, sementara Howard menjaga Viki.
Hal yang Paul dan Barbara tidak tahu adalah, kejadian lebih buruk sudah menanti mereka di kota kecil misterius bernama Imboca itu. Sesuatu yang memiliki lendir, suara aneh, dan tentakel mengintai mereka. Apakah itu Squidwad?? tentu saja bukan.
Apa sebenarnya yang terjadi di kota itu?
Lalu apakah ini ada hubungannya dengan mimpi buruk tentang puteri duyung bergigi tajam yang sering menghantui Paul?
Review :
Dibuka dengan adegan creepy ( sayangnya dengan desain font jelek ) yang nyeritain mimpi paul dimana dia bertemu hantu puteri duyung di dasar lautan, pilem secara efektif langsung menebarkan atmosfir gelap dan misterius. Dan nggak kaya pilem lain dimana di menit2 awal biasanya tempo diperlambat dulu buat ngenalin karakter dan tetek bengeknya, 'Dagon' sudah mengajak penontonnya masuk ke kota Imboca di menit ke 15, dan di menit ke 20, Paul udah terlibat run, hide and seek dengan para fishy-mutant-zombiesque creepy villagers yang akan ngingetin kamu pada adegan di Resident Evil 4.
Baiklah gue kasi tau sedikit, kalo penduduk kota kecil Imboca ini sebenernya para manusia mutan ( separo ikan, separo katak ) yang sedang bertransformasi menjadi ikan ( atau katak? atau cumi cumi? entahlah..) untuk pada akhirnya hidup dilautan. Dan yang lebih buruk dari itu, mereka mengincar Paul dkk untuk diambil kulitnya! Gue nggak tau apa alesannya mereka suka kulit manusia.
Namun tidak seperti Re-Animator atau From Beyond yang bergenre splatstick horror-sci-fi ( sebuah genre yang gue antisipasi kalo mendengar nama Stuart Gordon dan Brian Yuzna ), kisah Dagon ( yang juga diangkat dari cerita H.P Lovercraft's ) ini lebih mirip cerita mitos/dongeng fantasy mistik yang nyaris minus humor. Ini aslinya membuat gue sedikit kecewa karena berharap manusia mutan itu tercipta karena eksperimen konyol atau apalah gitu.
Sorry, gue emang belum pernah membaca buku/novel H.P Lovercraft's dan hanya menilai dari pilem adaptasinya saja :)
Sorry, gue emang belum pernah membaca buku/novel H.P Lovercraft's dan hanya menilai dari pilem adaptasinya saja :)
Tapi, untunglah kekecewaan gue nggak lama, karena Gordon membuat pilem ini terus bergerak dengan tempo yang enak buat diikuti. Gordon juga menurut gue berhasil ngebangun atmosfir dark gothic nan creepy dengan setting kota kecil Spanyol nya. Segera saja ketika atmosfir creepy sudah terbangun, beberapa jump-scares ditampilkan dengan efektif. make-up efek nya sendiri sangat baik dan menempati posisi ke3 untuk kategori Best Make Up di Fangoria Chainsaw Awards. Sementara itu, nudity dan eksplisit gore nggak bertebaran disana-sini tapi ditempatkan dengan sangat efisien di adegan2 yang emang ngebutuhin itu. Sayangnya beberapa part gue rasa emang terlalu panjang/repetitif dan tidak berpengaruh seandainya dipotong.
Ngomongin adegan gory, Dagon punya beberapa scene yang cukup graphics ( namun seperti gue bilang diatas, ditempatkan efisien di bagian yang emang ngebutuhin itu ) misalnya, seppuku scene, a slashed throat scene, mayat tergantung dengan kulit terkelupas, dll. Namun yang paling disturbing tentu saja adegan pengelupasan wajah yang gue nggak nyangka sungguh brutal. Iya, kita udah tau kalo Hannibal Lecter juga mengelupas wajah korbannya buat jadi topeng, begitu juga Leatherface dan Ed Gein, tapi kita sendiri nggak pernah dikasih tau gimana proses pengelupasan kulit wajah itu kan.? Dalam Dagon, ini ditampilkan cukup eksplisit dalam sebuah adegan dimana seorang tawanan di kelupas kulit wajahnya... hidup-hidup!
![]() |
| skinning alive! |
Stuart Gordon sendiri terlihat masih terngang-ngiang kesuksesan Re-Animator dengan memilih karakter Paul mirip dengan Dr.Herbert West ( Paul bahkan memakai sweater Miskatonic ) dan oh ya..karakter cewe disini namanya Barbara, itu maksudnya pasti tribute buat Barbara Crampton hehe.
![]() |
| horny?? |
Overall, satu hal yang pengen gue protes dari Dagon adalah penggunaan CGI yang terasa sangat buruk ( ini membuat Dagon keliatan amateurish-cheapy ), mengecewakan karena jika dalam From Beyond, Gordon bisa menampilkan slimy-monster yang keren tanpa CGI, kenapa 10 tahun kemudian dia nggak bisa bikin itu. Oh, mungkin keterbatasan budget..baiklah. Dalam sebuah artikel, gue ngebaca kalo Gordon sebenernya berniat membuat Dagon setelah Re-Animator, tapi proyek From Beyond membuat dia membatalkannya. gue ngebayangin kalo aja Dagon dibuat pada dekade itu ( 80-an atau awal 90 ), pastinya itu bakalan penuh ama slimy-monster / creepy-creature keren dan itu jelas bakalan lebih..ehm, menyenangkan hehe.
Secara umum, Dagon terasa tidak sesuperior dan semenghibur 'Re-Animator', walau begitu, dia gue masukin ke kategori 'well-done' ( apalagi kalo nginget budget yang micro ).
Akhirul review, gue cuma berharap suatu saat nanti keduanya akan kembali bergabung buat menghasilkan pilem hillarious-awesome seperti pilem2 di masa kejayaan mereka.
Nggak gagal, tapi juga nggak sukses besar. Medioker. Kemungkinannya akan mudah dilupakan, tapi setidaknya, Dynamic-duo Gordon-Yuzna berani bereksperimen menawarkan warna yang lain untuk pilemnya dan thumbs-up nya dia nggak mengecewakan gue.
Akhirul review, gue cuma berharap suatu saat nanti keduanya akan kembali bergabung buat menghasilkan pilem hillarious-awesome seperti pilem2 di masa kejayaan mereka.
Jadi, untuk Dagon. well, dengan semua kekurangannya..gue cukup menikmatinya :)
RATING:
11 May 2010
THEM! ( 1954 )
REVIEWED BY 'R'.
Gue nggak ngerti kenapa nonton film jadul itu seringkali terasa menyenangkan. Kalian mungkin akan dengan cepat mengira gue sebagai orang yang punya motto " Rare=Cool ", Ya silahkan kalo mau berpendapat kaya gitu hehe
Gue nggak ngerti kenapa nonton film jadul itu seringkali terasa menyenangkan. Kalian mungkin akan dengan cepat mengira gue sebagai orang yang punya motto " Rare=Cool ", Ya silahkan kalo mau berpendapat kaya gitu hehe
tapi kalian juga bisa berfikir kalo gue sedang bosan dengan film-film horror modern,..hmmm.. yah mungkin juga begitu.
atau kemungkinan lain, bahwa DVD Player gue sedang rusak, --so gue nggak bisa nonton film-film horror baru-- terus satu-satunya film yang ada di harddisk gue dan belum sempet ditonton ya cuma film ini?
Naaaaah, yang terakhir itu kayanya lebih pas wkwkwkwkwk
Story :
Ketika sedang berpatroli, polisi Sgt.Ben Peterson menemukan seorang gadis kecil berjalan tanpa tujuan dengan tatapan kosong di gurun New Mexico. Setelah mengamankan sang gadis kecil, dia bersama rekannya, langsung menyelidiki area sekitar dan menemukan sebuah travelling-car. Tidak ada tanda orangtuanya didalam, sementara travelling-car itu sendiri dalam kondisi rusak parah. Segera setelah itu partner Peterson tewas diserang oleh sesuatu yang misterius. Entah apa yang menyerangnya, namun dipastikan itu adalah sesuatu yang memiliki tenaga super-kuat dan berukuran raksasa. Ben Peterson pun langsung bergabung dengan agen FBI, dan dua dokter dari Departemen Agrikultur untuk menyelidiki apa yang sedang terjadi.
Dan mereka akhirnya sangat terkejut ketika menemukan seekor semut sebesar metromini digurun itu! Dari penelitian Harold Medford, semut2 itu berubah menjadi raksasa karena radiasi uji coba nuklir yang dilakukan di tempat itu 9 tahun silam. Tanpa menunggu lebih lama, mereka kemudian berhasil menghancurkan sarang dan telur2 semut raksasa dengan penyemprot api, namun sayang sang ratu semut raksasa berhasil lolos dan kini membangun sarang di saluran bawah tanah Los Angeles!!
Terdengar familiar kah ceritanya? hehe
Ya tentu saja familiar karena film inilah yang menginspirasi cerita atau adegan serupa dalam film 'Aliens', 'Starship Troopers', 'Godzilla', 'Mimic' 'X-Files' dan sederet film scifi-mutant lainnya.
'Them!' adalah salah satu pioneer film scifi mutant-raksasa, lebih spesifiknya yang diakibatkan oleh radiasi nuklir. Untuk mengetahui lebih detil sejarah para monster/mutan kalian bisa baca di artikel : Monsterrr
Namun berbeda dengan film monster se-angkatan-nya yang senang mengumbar kehancuran ama penampilan dari sang monster yang bombastis, 'Them!' lebih terasa aura suspense-scifinya. Disini kamu akan ngedapetin penjelasan ilmiah dari sang doktor kenapa semut ini bisa berubah menjadi raksasa, juga investigasi agen2 FBI yang lumayan bertele-tele membuat gue hampir merasa bosan, karena ngeliat dari desain kovernya semua orang pasti mengharapkan sesuatu yang bodoh dan ancur-ancur an.
Untungnya, deretan cast yang maen disini lumayan solid memerankan perannya masing-masing.
Untuk soal efek, walaupun gue udah ngeset mindset dengan tidak mencoba membandingkan efek film ini dengan film-film modern, namun tetep aja bentuk dan desain semut raksasa disini keliatan laughable. Geraknya lamban dan sama sekali tidak terlihat mengancam. Bahkan nenek-nenek pun bisa lari menyelamatkan diri kalo ketemu ama semut raksasa dalam film ini hahaha..Yah, gue pasti akan berpendapat lain jika pernah menjadi bagian dari masyarakat tahun 50-an yang menonton film ini. Soalnya, ternyata 'Them!' masuk nominasi Oscar untuk kategori Best-Effect tahun 1955 ! Hahaha...
Lalu, jika dulu penyanyi cilik Melissa pernah mengira kalo suara semut itu ' oee..oeee' kamu akan tau anggapan itu salah. Semut ternyata mengeluarkan suara dengingan annoying yang sangat keras. Dan atas imajinasi suara semut itu, film ini berhasil memenangkan 'Best Sound Editing' di ajang Golden Reel Award! Barangkali ini salah satu alasan kenapa nonton film jadul itu kadang menyenangkan hahaha
Lalu, jika dulu penyanyi cilik Melissa pernah mengira kalo suara semut itu ' oee..oeee' kamu akan tau anggapan itu salah. Semut ternyata mengeluarkan suara dengingan annoying yang sangat keras. Dan atas imajinasi suara semut itu, film ini berhasil memenangkan 'Best Sound Editing' di ajang Golden Reel Award! Barangkali ini salah satu alasan kenapa nonton film jadul itu kadang menyenangkan hahaha
Film ini juga mempunyai adegan ikonik, yaitu ketika gadis kecil yang terlihat trauma itu hanya berteriak histeris : 'Them! Them! Them! " saat diperiksa oleh dokter dan agen FBI. hahaha teriakan yang cukup annoying, namun berhasil jadi ikonik, bahkan teriakannya dibuat menjadi judul film ini : 'Them!'
Dibagian akhir kalian akan disuguhi adegan sepasukan tentara bersenjata lengkap yang menyerbu masuk ke sarang ratu semut di saluran bawah tanah Los Angeles, lengkap dengan adegan penyelamatan dramatis anak kecil, orang dicaplok hidup-hidup, senapan mesin dan semprotan api. Untuk ini gue cuma bisa bilang : cool and impresif! gue berasa kaya lagi ngeliat komik sambil makan coklat. Bener2 refresh dan Entertaining! Bahkan bentuk semut raksasa yang menggelikan disini masih bisa menghibur gue, beda ama monster kalajengking sok-canggih di Indosiar yang malah bikin kita pengen membenturkan kepala ke tembok.
Oiyah, film ini rencananya dibuat berwarna, namun beberapa hari sebelum shoot pihak studio memangkas budget, walhasil film akhirnya tetep hitam putih, namun walau begitu 'Them' ternyata menjadi Box-Office dan meraup keuntungan spektakuler buat Warner Bros.
Secara keseluruhan, 'Them!' terlihat solid, apalagi jika dibandingin ama film monster di eranya. Mengasyikkan buat ditonton. Terutama kalo kalian pengen ngeliat darimana datangnya inspirasi adegan2 di 'Alien' 'X-Files' atau 'Starship Troopers'. Coba aja :)
Rating : 7/10
14 March 2010
THE DESCENT 2
REVIEWED BY 'R'.The Descent 2 menjadi film pertama yang berhasil gue tonton dari list 'Top 10 Most Anticipated Movie of 2010' yang udah pernah gue tulis sebelumnya.
Dalam sinema-horror, kita udah kenal ama yang namanya Zombie, Vampire, Frankenstein, Jeepers Creepers, Graboid dll Dari asia kita kenal ama yang namanya 'Sadako' dan untuk lokalnya kita punya 'Suster Keramas' ama 'Pocong Mupeng'.
nah 'The Descent' ngenalin satu lagi makhluk horror yang namanya, 'Crawlers'.
Makhluk ini diceritain udah sejak lama menghuni sebuah gua, hidup disitu menjadi karnivora dengan memakan tikus, dan hanya sesekali keluar untuk berburu apa saja yang bisa di mangsa, 'Crawlers' bertubuh mirip manusia, namun wajahnya seperti gabungan kelelawar ama tikus, dan dia bergerak dengan cara merayap , itu sebabnya makhluk ini dipanggil 'Crawlers'. Matanya emang nggak bisa ngeliat tapi penciuman dan pendengarannya sangat sensitif. sementara cakar dan giginya di desain khusus agar dengan mudah dapat merobek daging mangsanya.
Makhluk hidup apapun yang masuk gua itu, bakal di bantai ama 'Crawlers' , termasuk serombongan cewek-cewek dengan hormon-petualangan bergejolak yang udah diceritain di part 1.
Makhluk hidup apapun yang masuk gua itu, bakal di bantai ama 'Crawlers' , termasuk serombongan cewek-cewek dengan hormon-petualangan bergejolak yang udah diceritain di part 1.
Di film pertama, kita tahu endingnya udah keren banget dan bahkan udah gue anggep jadi salah satu 'most memorable scene in horror movies'. Dan yahh..film ini sebenarnya nggak membutuhkan sequel, namun gue tetep penasaran ketika mendengar kabar tentang pembuatannya. Gue berharap ada sesuatu yang kickass, mengingat 'Jon Harris' ( editor di 'The Descent ' part 1, 'Eden Lake' dll ) sekarang naik pangkat jadi sutradara.
Namun 5 menit pertama, gue dibikin bingung ama opening-nya yang kaga nyambung ama ending Part 1 nya.
" loh..loh...kok begini..bukannya si Sarah itu,,?? errrr..."
Usut punya usut, The Descent 'Part 1' sebenernya mempunyai beberapa versi ending yang berbeda.
Versi U.K ( Eropa ) , versi U.S-DVD, dan versi U.S --non-DVD-- ( Amerika ).
Dan yang gue tonton di 'Part 1' itu adalah ending versi- U.S-DVD- nya,
Namun 5 menit pertama, gue dibikin bingung ama opening-nya yang kaga nyambung ama ending Part 1 nya.
" loh..loh...kok begini..bukannya si Sarah itu,,?? errrr..."
Usut punya usut, The Descent 'Part 1' sebenernya mempunyai beberapa versi ending yang berbeda.
Versi U.K ( Eropa ) , versi U.S-DVD, dan versi U.S --non-DVD-- ( Amerika ).
Dan yang gue tonton di 'Part 1' itu adalah ending versi- U.S-DVD- nya,
ENDING PART 1 YANG GUE LIAT
Setelah mengira dirinya berhasil selamat dan bertemu dengan anaknya, akhirnya Sarah berteriak histeris menyadari kalo dirinya masih berada di dalam gua.
Sementara 'Part 2' ini di set berdasarkan ending versi U.S -non DVD- nya ( yang gue kaga tau ) dimana Sarah diceritain bener2 selamat dan berhasil keluar dari gua.
Yaudah deh, gue ga bisa protes lagi.

Jadi ceritanya, Sarah emang bener-bener selamat.
Pihak kepolisian segera menerjunkan tim rescue buat nemuin 5 orang lainnya yang masih hilang. Namun usaha mereka menemui jalan buntu. Sarah yang sangat trauma dan sedikit kehilangan ingatan akhirnya dimintai kepolisian buat ngebantu mereka nemuin 5 orang lainnya yang diharapkan masih hidup. caranya? dengan mengajak sarah kembali memasuki gua itu.
Akhrnya Sarah dengan 5 orang anggota keplisian kembali masuk ke gua itu, dan selanjutnya bisa kamu tebak dengan mudah...para 'Crawlers' sudah menanti di sudut kegelapan sebelah sana.
Pihak kepolisian segera menerjunkan tim rescue buat nemuin 5 orang lainnya yang masih hilang. Namun usaha mereka menemui jalan buntu. Sarah yang sangat trauma dan sedikit kehilangan ingatan akhirnya dimintai kepolisian buat ngebantu mereka nemuin 5 orang lainnya yang diharapkan masih hidup. caranya? dengan mengajak sarah kembali memasuki gua itu.
Akhrnya Sarah dengan 5 orang anggota keplisian kembali masuk ke gua itu, dan selanjutnya bisa kamu tebak dengan mudah...para 'Crawlers' sudah menanti di sudut kegelapan sebelah sana.
.................................................................
Oke lupain plotnya yang cukup bikin mood-ngedrop ini, Lupain juga ke klise-an adegannya dimana kamu bisa tau urutan siapa yang bakal mati selanjutnya. Mari kita bersenang2 aja dengan ngeliat gimana cara para 'Crawlers' ngebantai '6 daging segar' satu persatu.
Dalam part 2 ini, Sarah yang udah pernah ngalamin terror di part 1, tampil lebih dingin dan berani. Dia tak terlihat gentar melawan, menusuk dan membacok sang Crawler.
wow darah memang menyembur deras dari leher yang terkoyak itu, namun gue terpaksa mengerutkan jidat karena ngeliat beberapa adegan gore yang terlalu di close-up dan diulang-ulang. Loh bukannya gore-scene itu semakin di close-up semakin bagus? iya sih bagus, tapi gimana kalo saking close-up nye kamu sampe ga tau bagian tubuh mana yang sebenernya lagi di bacok? ini jadi ngebuat 'eksplisit-gore-scene-nya' keliatan kaya frame-lepas yang nggak nyambung ama adegan sebelumnya. Dan annoyingnya, ini diulang-ulang mulu.
Lemahnya karakter2 lain yang diceritain disini juga ga berhasil memberikan emosi-emosi tertentu buat gue. Beda banget ama part 1 nya.
Waah, udah kaya kritikus aja nih gue hehe
Dalam part 2 ini, Sarah yang udah pernah ngalamin terror di part 1, tampil lebih dingin dan berani. Dia tak terlihat gentar melawan, menusuk dan membacok sang Crawler.
wow darah memang menyembur deras dari leher yang terkoyak itu, namun gue terpaksa mengerutkan jidat karena ngeliat beberapa adegan gore yang terlalu di close-up dan diulang-ulang. Loh bukannya gore-scene itu semakin di close-up semakin bagus? iya sih bagus, tapi gimana kalo saking close-up nye kamu sampe ga tau bagian tubuh mana yang sebenernya lagi di bacok? ini jadi ngebuat 'eksplisit-gore-scene-nya' keliatan kaya frame-lepas yang nggak nyambung ama adegan sebelumnya. Dan annoyingnya, ini diulang-ulang mulu.
Lemahnya karakter2 lain yang diceritain disini juga ga berhasil memberikan emosi-emosi tertentu buat gue. Beda banget ama part 1 nya.
Waah, udah kaya kritikus aja nih gue hehe
yaudah, curcol dikit hehe gue sebenernya bukan orang yang terlalu menuntut 'kesempurnaan' sebuah film kok, gue bisa kehibur nonton film kaya 'Attack of The Killer Tomatoes', atau 'Rednecks Zombies' --yang pemainnya pada ga bisa akting dan ga ngurusin karakter--, gue malah doyan film-film jelek...asaaall..film itu entertaining dan kaga ngebosenin. itu aja. Entahlah, intinya gue pengen ngomong kalo beberapa karakter dalam film 'The Descent 2' ini udah ngebikin gue sempat boring. Untungnya ada kejutan kecil yang sedikit ngebantu film ini jadi menarik lagi buat diikutin.
Sementara ending yang dipilih penulis scriptnya buat nutup cerita dalam part 2 ini, sebenarnya adalah awal yang dipersiapkan untuk part 3 nya kelak. buat gue ini malah bikin ceritanya semakin pointless dan dipaksain -- kalo jeli, kamu bisa tau, opening ama ending dalam film ini saling berkontradikisi--
hmmm..apakah 'The Descent' bakal bernasib sama kaya franchise 'SAW', yang serialnya udah nyampe jilid berapa sekarang? 16?

.......................................
Akhirul-review, satu-satunya cara buat nikmatin film ini adalah dengan ngelupain apa yang udh gue tulis diatas, soalnya dengan trik ini, gue malah lebih kehibur pas nonton film ini untuk ke dua kalinya. hahaha..sejenak lepasin dulu deh pikiran2 kritis 'Roger-Ebert' mu yang jenius itu. hehe..jadi, udah duduk aja yang manis sambil ngeraup keripik-kentang dan biarin aksi para Crawlers ini ngelumerin otakmu. Suspense, Gore, twist, blood, and Jump-Scenes digelar non-stop mulai menit ke 20 sampe abis..mau minta apa lagi? tangan yang di bacok-bacok ampe putus? adaaaaa...atau adegan dimana 2 cewek macho terjebak didalam sebuah kubangan tinja dan ngeliat monster ini berak diatasnya? ada jugaaa...hahaha
kalo udah nyampe poin ini, gue jamin deh kamu nggak akan terlalu merasa rugi ngeluarin duit 5000 perak buat tukang DVD bajakan :D.
kalo udah nyampe poin ini, gue jamin deh kamu nggak akan terlalu merasa rugi ngeluarin duit 5000 perak buat tukang DVD bajakan :D.
......................................................
tonton film ini pada waktu dimana kamu nggak tau mau ngapain lagi.
6,5/10
6,5/10
09 October 2009
TEENAGE CAVEMAN

Settingnya teh dimasa depan ketika manusia berada di zaman post-apocalyptic karena bencana nuklir. Nah, beberapa kelompok manusia yang selamat membangun peradaban berkelompok-kelompok di gua-gua. Didalam gua inilah sang kepala suku-gua mengajarkan kepada warganya utnuk membenci ‘dunia lama’ ( dunia lama maksudnya peradaban abad 21 ) bahkan melarang warganya untuk melakukan hubungan sex dengan alasan akan menambah populasi gua. Padahal, songongnya nih sang kepala suku malah doyan nge-sex.
Maka, nggak tahan dengan ke otoriter-an sang kepala suku, beberapa pemuda yang memiliki jiwa bebas dan rasa ingin tahu yang kuat melarikan diri dari gua itu setelah tanpa sengaja membunuh sang kepala-suku.
Sampai akhirnya mereka menemukan reruntuhan peradaban. Jangan bayangin, reruntuhannya akan seperti di film ‘I am legend’ karena tahu-tahu para pemuda ini sudah berada di sebuah kamar mewah, lengkap dengan pakaian abad 21. Rupanya mereka diselamatkan oleh pasangan yang awalnya terlihat baik, namun mereka sebenarnya adalah sepasang mutant hasil rekayasa genetika yang memiliki rahasia, siap untuk menjadi mimpi buruk bagi para pemuda gua ini.
…………….
Film jelek. Jelas. Apalagi, desain kostumnya adalah yang terjelek. Masa suku-gua klimis-klimis gitu?? Setting dunia post-apocalypticnya juga konyol banget, jangan dibandingin lah ama Mad-Max. Udah gitu, udah tahu filmnya bakalan termasuk film jelek, bukannya adegan monster ngamuknya dibanyakin, malah 70% bagian film ini dipenuhi adegan ngobrol yang total ngeboring-in. sok-sok dalem gituh. padahal fans dari penonton genre-film ini adalah mereka yang lagi males mikir hahaha
Emang ada adegan pesta sex, tapi itu nggak bikin gue ngaceng.
Barulah 20 menit sebelum film abis mulai deh tuh adegan darah-darah muncrat, orang kepalanya dicopot dengan brutal, dan horeeee…adegan pemuncak sangat 80-an banget.
Sang monster-mutant ngamuk, tapi jagoan ga tinggal diam, di tembak dah tuh perut monsternya pake shotgun, ancur. Tapi ga cukup ampe disitu, dengan nekad sang jagoan memasukan tangannya kedalam perut monster itu untuk meletakkan granat. 1..2..3…Boooom!! ancur berkeping-keping kaya balon kikikikikik Kenapa ga dari awal aja kaya giniii hahahaha
So, kalo kalian lagi males mikir, nonton aja film ini tapi lebih baik maksimalkan penggunaan tombol ‘FF’ atau ‘Next’ di remote dengan baik. Terakhir tentu saja, beli coklat, kacang atau popcorn yang banyak. Selasai nonton, kepingan VCD-nya boleh dipatahin.
Emang ada adegan pesta sex, tapi itu nggak bikin gue ngaceng.
Barulah 20 menit sebelum film abis mulai deh tuh adegan darah-darah muncrat, orang kepalanya dicopot dengan brutal, dan horeeee…adegan pemuncak sangat 80-an banget.
Sang monster-mutant ngamuk, tapi jagoan ga tinggal diam, di tembak dah tuh perut monsternya pake shotgun, ancur. Tapi ga cukup ampe disitu, dengan nekad sang jagoan memasukan tangannya kedalam perut monster itu untuk meletakkan granat. 1..2..3…Boooom!! ancur berkeping-keping kaya balon kikikikikik Kenapa ga dari awal aja kaya giniii hahahaha
So, kalo kalian lagi males mikir, nonton aja film ini tapi lebih baik maksimalkan penggunaan tombol ‘FF’ atau ‘Next’ di remote dengan baik. Terakhir tentu saja, beli coklat, kacang atau popcorn yang banyak. Selasai nonton, kepingan VCD-nya boleh dipatahin.
...................................................
Subscribe to:
Posts (Atom)
















