13 June 2017

Bite (2015 ) : Gigitan Kecil yang Tak Terasa Menggigit


Tertarik ama film body-horror  garapan Chad Archibald ini setelah saat itu nggak sengaja ngebaca beritanya ( entah itu beneran atau hanya trik marketing belaka ) yang nyebutin bahwa ada dua penonton yang pingsan dan seorang lagi muntah-muntah setelah nonton ini pada saat premierenya di Fantasia Film Festival. Well, sebegitu menjijikannya-kah filmnya? 

Plot film berpusat pada karakter Casey ( Elma Begovic ), yang baru saja pulang dari liburan-jelang-pernikahan ( Bachelorette Party ) bersama kawan-kawannya di Costa Rica. Liburan itu seharusnya membuat Casey lebih senang dan segar, tapi pada kenyataannya ada dua masalah yang sedang merisaukan hatinya. Pertama, meski calon suaminya, Jared ( Jordan Gray ) boleh dibilang adalah sosok yang ideal ( dia tampan, baik hati dan mapan ), entah kenapa Casey justru merasa belum siap dengan pernikahan yang akan dihelat seminggu lagi itu. Dia terlihat gugup berada diambang dunia rumah-tangga dengan semua tetek-bengek kerumitannya kelak ( termasuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak ). Kegelisahan itu menguat setelah dia ngerasa calon mertuanya tidak menyukainya. Dipuncak kebimbangan, Casey sempat ingin mengutarakan keinginan menunda pernikahan, namun tak sanggup menyampaikannya. Hal ini membuat ia semakin tertekan. Pendeknya, Casey sedang mengalami krisis-jelang-married kaya banyak temen gue yang justru terlihat murung dan panik menjelang pernikahannya haha. 

Masalah yang kedua ( nah ini yang lebih serius ), Casey digigit sejenis serangga bawah air ketika berenang disungai saat liburan. Ia awalnya mengabaikan gigitan itu, " it's just a little bite " kilahnya. Tapi, tentu saja kita ( sebagai horor-fan ) lebih tahu apa yang akan kemudian terjadi. Ya, efek gigitan yang awalnya hanya berupa gatal-gatal itu memburuk menjadi koreng. Membengkak, meradang dan bernanah, lalu menyebar ke sekujur tubuhnya. Inilah momen ketika film mulai nyampe di bagian yang gue tunggu, yaitu ketika Casey perlahan-lahan berubah menjadi seperti serangga, bertelur dan bahkan membuat sarang di kamar apartemennya. Calon pengantin yang tak siap menjadi ibu ini akhirnya malah menjadi induk serangga dan secara alamiah mulai memiliki insting untuk melindungi telur-telurnya. Alam rupanya memaksa Casey menjadi 'ibu' dengan caranya sendiri.  


Nah, diatas kertas ide Archibald ( yang juga nulis skrip ) ini cukup menarik. Dengan menambahkan cerita tentang calon-pengantin-nervous diatas template body-horror, dia rupanya ingin filmnya juga bercerita tentang kekuatan nature-instinct yang tak bisa dilawan. Atau lebih jauh, mungkinkah ini semacam alegori dari kegamangan seorang wanita yang tak siap menjadi ibu dimana itu akhirnya menguasai dirinya dan memperburuk keadaan? Jika memang demikian, poin yang gue tangkep kemudian adalah, "Casey akhirnya memiliki insting keibuan setelah berubah menjadi induk serangga". Hahaa itu sih kedengeran kaya sebuah parodi nan ironis. Tapi, gue pikir filmnya memang akan lebih menarik jika saja Archibald memasukkan elemen dark-humor didalamnya. Sayangnya, tone film begitu serius dan sutradara berusaha terlalu keras untuk membuat Bite menjadi sebuah 'deep' body-horror yang memaksa gue membandingkannya dengan The Fly ( 1986 ). Archibald sendiri berkilah kalo Bite adalah sajian yang berbeda karena memiliki tema organic, biological dan natural, sementara The Fly sangat scientific. Okelah, apapun yang ada dalam benak sutradara, sayangnya lagi, dieksekusi dengan presentasi yang  terasa kurang menggigit. 

Di awal film, Bite memakai gaya handheld-camera/found-footage ( untuk nyeritain liburan Casey di Costa Rica ), dan syukurlah, itu hanya berlangsung diawal saja sebelum akhirnya film berjalan secara konvensional ( mulai menit ke-8 ) saat Casey kembali ke rumah. Dari sini film mulai nge-set plot dan ngenalin karakter-karakter pendukungnya. Penampilan Elma Begovic ( Casey ) sendiri 'cukup' untuk kebutuhan film, namun cast yang lain tampil seadanya dengan karakter two-dimensional yang jelas merupakan hasil penulisan naskah yang kurang matang. Imbasnya adalah, meski gue cukup bersimpati dengan apa yang dialami Casey, secara keseluruhan rough-characters dan akting medioker membuat paruh pertama Bite terasa hambar. Dan gue tak sabar untuk segera ngeliat gimana digustingnya film yang konon membuat beberapa penontonnya pingsan dan muntah ini. 

Lalu, akhirnya kita pun tiba di bagian body-horrornya. Perlu diingat, bahwa ini adalah sebuah film kecil micro-budget. So, gue nggak terlalu berharap bakal mendapatkan spesial efek spektakuler kaya yang udah kita liat di film-filmnya David Cronenberg. Transformasi yang dialami casey pun tidak sampai membuat tubuhnya terdeformasi total menjadi bentuk lain yang membutuhkan skill prostetik sekelas Chris Walas atau Rob Bottin, dia cuma di make-up mengerikan ( sekujur tubuhnya seperti dilumuri lendir lengket-menjijikkan ) dengan sentuhan sedikit CGI ( untuk bagian ekornya ). Nah, tapi kalo nginget budget mini nya, kredit memang layak diberikan buat divisi spesial efek yang udah nunjukin effort dalam membuat Bite menjadi se-disgusting mungkin. Selain make-up tadi, hal menjijikkan datang dari telur-telur Casey  ( konon dibuat dari spit balls ) yang disebar di setiap sudut kamar Casey. Telur-telur yang jumlahnya ribuan ini terlihat lengket-berlendir dan berwarna kuning-kemerahan ( mirip telur katak ), hell yeah, ngeliat itu dalam jumlah banyak jelas akan membuat penderita trypophobia kejang-kejang. Salah satu adegan juga cukup 'eeeyuuh' dan membuat selera makan gue ilang, yaitu ketika ratusan telur tiba-tiba mbrojol dari selangkangan Casey haha. Sementara itu, desain kamar Casey yang berubah menjadi sarang pun layak diapresiasi, terutama kalo nginget ( sekali lagi ) budget-micro nya. 


Namun lagi-lagi sangat disayangkan, dibagian ini Archibald seperti terlalu bersemangat ngasih audiensnya lendir-lengket-menjijikkan, sampe lupa gimana membuat filmnya juga menjadi thrilling. Jadi, abis Casey bertransformasi menjadi insectizoid, alur film berjalan dengan cara seperti ini : sang calon mertua masuk ke kamar Casey yang udah berubah menjadi sarang, dia terkejut, lalu hal buruk terjadi padanya, tak berapa lama seorang teman masuk ke kamar Casey  yang udah berubah menjadi sarang, dia terkejut, lalu hal buruk terjadi padanya, begitu seterusnya sampe menjelang akhir hehe. Gue pikir itu terlalu repetitif dan predictable. Meskipun, yah..adegan casey menyemburkan cairan asam dan membuat wajah calon mertuanya meleleh itu cukup menyenangkan haha. Oiya, bagian sepertiga akhir film ini ngingetin gue pada menit-menit akhir Starry Eyes ( 2014 ) dimana dengan tubuh yang sedang bertransformasi, Casey memakai hoodie dan mulai menebarkan horor. 

Overall, tampil tanpa darah, Archibald memilih untuk ngasih banyak cairan lengket menjijikkan kemudian memadukannya dengan drama-depresif.  Dengan konsep seperti itu, dia berharap Bite akan menjadi sebuah deep disgusting body-horror yang menggigit. Gue cukup mengapresiasi spesial-efeknya meski itu tak pernah nyampe level Brundlefly. Sayang, kelemahan di naskahnya ( rough characters, flat dialogue, predictable plot ) ditambah akting medioker dari para cast pendukungnya, membuat Bite hanya menjadi sebuah gigitan kecil yang tak terasa menggigit. 

Jadi, mengenai pertanyaan diawal review tentang 'apakah film ini begitu menjijikkan sampe membuat beberapa penontonnya pingsan dan muntah?' Bisa gue pastiin kalo itu terlalu berlebihan. Kemungkinannya ada dua, itu trik marketing untuk membuat calon penontonnya penasaran ( dan berhasil di gue ), atau mereka penderita trypophobia ( googling untuk tau apaan ini ) yang baru pertama kali nonton sebuah body-horor hehe.  Buat pembaca blog ini sih, kayanya Bite ngga terlalu rugi untuk dilewatkan kecuali kalo kalian pengen sedikit menghilangkan nafsu makan di bulan Ramadhan ini haha. 

Ciao!
 

SCORE

2 comments: