Showing posts with label creatures. Show all posts
Showing posts with label creatures. Show all posts
13 June 2017
Bite (2015 ) : Gigitan Kecil yang Tak Terasa Menggigit
Tertarik ama film body-horror garapan Chad Archibald ini setelah saat itu nggak sengaja ngebaca beritanya ( entah itu beneran atau hanya trik marketing belaka ) yang nyebutin bahwa ada dua penonton yang pingsan dan seorang lagi muntah-muntah setelah nonton ini pada saat premierenya di Fantasia Film Festival. Well, sebegitu menjijikannya-kah filmnya?
Plot film berpusat pada karakter Casey ( Elma Begovic ), yang baru saja pulang dari liburan-jelang-pernikahan ( Bachelorette Party ) bersama kawan-kawannya di Costa Rica. Liburan itu seharusnya membuat Casey lebih senang dan segar, tapi pada kenyataannya ada dua masalah yang sedang merisaukan hatinya. Pertama, meski calon suaminya, Jared ( Jordan Gray ) boleh dibilang adalah sosok yang ideal ( dia tampan, baik hati dan mapan ), entah kenapa Casey justru merasa belum siap dengan pernikahan yang akan dihelat seminggu lagi itu. Dia terlihat gugup berada diambang dunia rumah-tangga dengan semua tetek-bengek kerumitannya kelak ( termasuk menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak ). Kegelisahan itu menguat setelah dia ngerasa calon mertuanya tidak menyukainya. Dipuncak kebimbangan, Casey sempat ingin mengutarakan keinginan menunda pernikahan, namun tak sanggup menyampaikannya. Hal ini membuat ia semakin tertekan. Pendeknya, Casey sedang mengalami krisis-jelang-married kaya banyak temen gue yang justru terlihat murung dan panik menjelang pernikahannya haha.
01 August 2016
Near Dark ( 1987 ) : Romansa dan petualangan ugal-ugalan geng vampir ala Kathryn Bigelow
Jauh sebelum menyutradarai pilem drama-action perang timur tengah The Hurt Locker ( ya, yang menang Academy Award itu ) ama pilem blockbuster perang timur tengah laennya, Zero Dark Thirty, dan hanya beberapa tahun sebelum namanya terangkat oleh Point Break ( 1991 ), sutradara Kathryn Bigelow ternyata mengawali solo-directorial debutnya dengan nancepin taring di genre pilem horror, judulnya : Near Dark. Gue terjemahin secara bebas berarti sendakala atau menjelang maghrib ( gelap ) hehe.
Gue baru nonton filmnya kemaren, dan dengan cepat bisa gue katakan kalo ini salah satu film vampire paling brutal ( juga romantis ) di era 80'an.
Meski begitu, ketika dirilis, Near Dark ternyata gagal di box office. Penyebabnya diduga karena pilem ini rilis ditahun yang sama ( hanya beda beberapa bulan ) dengan pilem bertema vampir laennya yang lebih besar, The Lost Boys ( 1987 ). Alesan laennya adalah karena studio yang memproduksi pilem ini , DEG (DeLaurentiis Entertainment Group) saat itu sedang diawal kebangkrutan, akibatnya Near Dark tidak mendapat publisitas layak dan akhirnya K.O di box office.
Kita langsung ke ceritanya,
Gue baru nonton filmnya kemaren, dan dengan cepat bisa gue katakan kalo ini salah satu film vampire paling brutal ( juga romantis ) di era 80'an.
Meski begitu, ketika dirilis, Near Dark ternyata gagal di box office. Penyebabnya diduga karena pilem ini rilis ditahun yang sama ( hanya beda beberapa bulan ) dengan pilem bertema vampir laennya yang lebih besar, The Lost Boys ( 1987 ). Alesan laennya adalah karena studio yang memproduksi pilem ini , DEG (DeLaurentiis Entertainment Group) saat itu sedang diawal kebangkrutan, akibatnya Near Dark tidak mendapat publisitas layak dan akhirnya K.O di box office.
Kita langsung ke ceritanya,
24 July 2013
THE FLY ( 1958 )
Apa yang terjadi dalam 'The Fly' dimulai ketika pada suatu hari Francois Delambre ( Vincent Price ) mendapat telepon dari Helen ( adik iparnya ).
Helen mengaku, bahwa dia telah membunuh Andre ( suaminya ) di laboratorium kerjanya. Francois pun terkejut bukan kepalang, karena pasangan suami-istri yang sudah dikarunai seorang putera ( Phillip ) ini sebelumnya tidak pernah mempunyai masalah apapun.
Helen mengaku, bahwa dia telah membunuh Andre ( suaminya ) di laboratorium kerjanya. Francois pun terkejut bukan kepalang, karena pasangan suami-istri yang sudah dikarunai seorang putera ( Phillip ) ini sebelumnya tidak pernah mempunyai masalah apapun.
Ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Francois bersama inspektur Charas segera melakukan investigasi. Hal yang membuat mereka bingung adalah, ekspresi Helen terlihat tidak terlalu berduka. Dia bahkan mampu menceritakan kronologi pembunuhan suaminya dengan tenang. Inspektur Charas langsung menyimpulkan kalo Helen telah menjadi gila. Namun, Francois tak percaya itu. Dia yakin ada yang disembunyikan pada kasus ini, terutama karena Helen sering bertingkah aneh ketika melihat seekor lalat.
Pada suatu hari, putera Helen ( Phillip ), bercerita pada Francois kalo ibunya memang sedang mencari seekor lalat. Bukan sembarang lalat, yang dicarinya adalah seekor lalat berkepala putih dan berkaki aneh.
Lalat berkepala putih dan berkaki aneh??
Demi bisa menguak misteri ini, Francois berpura-pura telah menangkap 'lalat berkepala putih' itu dan akan memberikannya kepada Helen, asalkan dia mau menceritakan penyebab kenapa pembunuhan itu bisa terjadi.
Helen setuju. Dan dia mulai menceritakan kisah mengerikannya.....
Flashback.
Labels:
50-an,
classic horror,
classics,
creatures,
mad scientist,
monster,
mutant,
sci-fi,
thriller
28 October 2012
DOG SOLDIERS ( 2002 )
Gue bisa nyebutin banyak bangat pilem tentang zombie atau vampire yang keren, tapi kalo ditanya pilem tentang manusia serigala ( werewolf ) yg memorable dan badass, hmmm..kayanya gue cuma bisa ngitungnya dengan sebelah jari tangan saja,
let's check..An American Werewolf in London (1981) (gue akan nyeritain pilem ini dalam review terpisah ), The Howling (1981), Ginger Snaps (2000)..apalagi ya? remake The Wolfman ( 2010 )? hm, i don't think so. Twilight? aah, c'mon yang bener aja. Nah, sedikit sekali ternyata, cuma inget 3 judul. ( ada yang mau ngasih gue rekomendasi judul laen? ).
Jadi, pas suatu hari seorang temen berkicau tentang betapa badass nya serigala jejadian dalam 'Dog Soldiers', gue pun mengeluh kenapa ya dulu selalu ngelewatin pilem ini pas di rental DVD, mungkin karena ngebaca judulnya gue mengira ini pilem tentang anjing yang menjadi tentara (?) atau kemungkinan lainnya, mungkin karena Twilight udah ngilangin selera gue buat peduli ama kisah manusia serigala ( hal yang sama juga terjadi pada vampire ), Padahal setelah di cek, pilem ini ternyata adalah directorial debut dari Neil Marshall, nama yang kita kenal bertanggung jawab atas kisah horror klaustrofobik monster goa nan fenomenal 'The Descent' ( 2005), nama yang ini nggak mungkin bikin emo teen werewolf in love kan? segera saja gue memerintahkan divisi per-download-an untuk mengunduh file nya. Tentu saja setelah gue menyogoknya dengan semangkok siomay.
Ok, kita liat kaya apa pilemnya :)
Satu squad tentara Inggris di bawah pimpinan Sgt. Harry Wells (Sean Pertwee) di terjunkan ke hutan Skotlandia untuk menjalankan latihan militer rutin. Misi latihan yang awalnya lebih mirip acara piknik para tentara lengkap dengan candaan kasar dan api unggun, mendadak berubah ketika seseorang ( atau sesuatu ? ) melemparkan bangkai sapi ke arah mereka. Penasaran, mereka mulai mencari tahu siapa yang melakukannya. Tak lama kemudian squad ini mulai sadar sedang berhadapan dengan musuh nyata ketika mereka menemukan base camp batalion lain dalam keadaan porak poranda, penuh darah dan organ tubuh berceceran. Di tempat itu pula, mereka menemukan Capt.Ryan (Liam Cunningham) dalam keadaan sekarat, usus nya terburai. Dia meracau tentang makhluk buas yang telah merobek perut dan membantai anak buahnya.
“We are now up against live, hostile targets. So, if Little Red Riding Hood should show up with a bazooka and a bad attitude, I expect you to chin the bitch!.” Sgt. Harry Wells mengeluarkan perintah.
ketika hari mulai gelap, sosok-sosok besar berbulu dengan taring tersembul dari mulutnya mulai terlihat diantara kegelapan dan pohon-pohon, mengintai mereka. itu Werewolf!
let's check..An American Werewolf in London (1981) (gue akan nyeritain pilem ini dalam review terpisah ), The Howling (1981), Ginger Snaps (2000)..apalagi ya? remake The Wolfman ( 2010 )? hm, i don't think so. Twilight? aah, c'mon yang bener aja. Nah, sedikit sekali ternyata, cuma inget 3 judul. ( ada yang mau ngasih gue rekomendasi judul laen? ).
Jadi, pas suatu hari seorang temen berkicau tentang betapa badass nya serigala jejadian dalam 'Dog Soldiers', gue pun mengeluh kenapa ya dulu selalu ngelewatin pilem ini pas di rental DVD, mungkin karena ngebaca judulnya gue mengira ini pilem tentang anjing yang menjadi tentara (?) atau kemungkinan lainnya, mungkin karena Twilight udah ngilangin selera gue buat peduli ama kisah manusia serigala ( hal yang sama juga terjadi pada vampire ), Padahal setelah di cek, pilem ini ternyata adalah directorial debut dari Neil Marshall, nama yang kita kenal bertanggung jawab atas kisah horror klaustrofobik monster goa nan fenomenal 'The Descent' ( 2005), nama yang ini nggak mungkin bikin emo teen werewolf in love kan? segera saja gue memerintahkan divisi per-download-an untuk mengunduh file nya. Tentu saja setelah gue menyogoknya dengan semangkok siomay.
Ok, kita liat kaya apa pilemnya :)
Storyline :
Satu squad tentara Inggris di bawah pimpinan Sgt. Harry Wells (Sean Pertwee) di terjunkan ke hutan Skotlandia untuk menjalankan latihan militer rutin. Misi latihan yang awalnya lebih mirip acara piknik para tentara lengkap dengan candaan kasar dan api unggun, mendadak berubah ketika seseorang ( atau sesuatu ? ) melemparkan bangkai sapi ke arah mereka. Penasaran, mereka mulai mencari tahu siapa yang melakukannya. Tak lama kemudian squad ini mulai sadar sedang berhadapan dengan musuh nyata ketika mereka menemukan base camp batalion lain dalam keadaan porak poranda, penuh darah dan organ tubuh berceceran. Di tempat itu pula, mereka menemukan Capt.Ryan (Liam Cunningham) dalam keadaan sekarat, usus nya terburai. Dia meracau tentang makhluk buas yang telah merobek perut dan membantai anak buahnya.
“We are now up against live, hostile targets. So, if Little Red Riding Hood should show up with a bazooka and a bad attitude, I expect you to chin the bitch!.” Sgt. Harry Wells mengeluarkan perintah.
ketika hari mulai gelap, sosok-sosok besar berbulu dengan taring tersembul dari mulutnya mulai terlihat diantara kegelapan dan pohon-pohon, mengintai mereka. itu Werewolf!
dan horror pun di mulai.
Review :
Diawali ama adegan penerjunan squad ini ke hutan Skotlandia, pilem mulai ngenalin para anggota cast. Biasanya, ini bagian yang rada ngebosenin buat diliat, itu soalnya di kebanyakan pilem lain kita tau mereka cuma 'daging kurban' yang perannya emang cuma buat di makan monster. Si penakut di telen pertama, si menyebalkan di caplok berikutnya etc, tapi untunglah pengkarakteran para tokoh disini gue pikir tidak terlalu dibuat buat, natural dan unik satu sama lain, satu satunya kesamaan mereka cuma : sama sama foul-mouthed! So, no stereotypes there then.
Pada gilirannya, ini membuat gue kemudian merasa terlibat secara emosi dan tidak hanya menganggap mereka sebagai 'future victims' belaka. Gue sendiri sangat suka Karakter Spoon ( Darren Morfitt ) dan Sersan Wells ( Sean Pertwee ) . Khusus nama terakhir, dia berakting sangat baik disini meski akting terbaiknya hanyalah ketika memerankan orang yang tewas dengan sangat mengenaskan ( cek di 'Doomsday', 'Wilderness', atau 'Event Horizon' ) haha.
Sementara itu, dialognya menggunakan logat british yang kental lengkap dengan makian dan joke yang beberapa diantaranya cuman bakal bikin ngakak orang Inggris doang. Gue sering membuka google translate cuma buat ngertiin apa yang lagi mereka omongin dan tetep nggak ngerti haha tapi untungnya lagi lebih banyak yang berhasil bikin gue ketawa. Hal, yang gue suka lainnya, skripnya punya banyak lines memorabel.
Selain karakter yang natural dan nggak stereotip, reaksi mereka ngadepin makhluk jejaden ini juga nggak kaya tokoh di kebanyakan pilem horror laen yang biasanya cuma ngejerit frustasi sambil memekik " oh God..What the hell are these fucking things?!". Abis itu ngelakuin hal yang luar biasa bodoh.
Cek reaksi sersan Wells ketika ngeliat ususnya mbrojol, dia cuma menatap ususnya sambil menggumam " sosis.." badass! haha
Sementara itu, dialognya menggunakan logat british yang kental lengkap dengan makian dan joke yang beberapa diantaranya cuman bakal bikin ngakak orang Inggris doang. Gue sering membuka google translate cuma buat ngertiin apa yang lagi mereka omongin dan tetep nggak ngerti haha tapi untungnya lagi lebih banyak yang berhasil bikin gue ketawa. Hal, yang gue suka lainnya, skripnya punya banyak lines memorabel.
Selain karakter yang natural dan nggak stereotip, reaksi mereka ngadepin makhluk jejaden ini juga nggak kaya tokoh di kebanyakan pilem horror laen yang biasanya cuma ngejerit frustasi sambil memekik " oh God..What the hell are these fucking things?!". Abis itu ngelakuin hal yang luar biasa bodoh.
Cek reaksi sersan Wells ketika ngeliat ususnya mbrojol, dia cuma menatap ususnya sambil menggumam " sosis.." badass! haha
atau yang ini :
Mereka beneran kaya tentara, lengkap dengan attitude nganggep semua hal sebagai bullshit, nggak gampang frustasi dan selalu punya strategi. Ketika amunisi mulai menipis, nggak segan mereka menggunakan penggorengan buat senjata, dan bahkan ketika penggorengan udah nggak ada, salah seorang diantara mereka ( prajurit Spoon..whoa, i love Spoon! ) tak gentar menantang duel adu jotos. Ya, adu jotos melawan werewolf!!
![]() |
| "Come On, Beauties!! " |
Gimana dengan efek nya sendiri? kalo mengingat ini adalah sebuah pilem dengan bujet cekak, gue cukup khawatir kru pilem bakal make CGI medioker buat nyiptain sosok sang siluman serigala. Tentunya, gue bukan anti-CGI, tapi masalahnya ketidakhadiran fisik sang monster dalam setting dan aktor yang cuma berakting di depan green screen biasanya gagal menghadirkan feel terror yang hendak dicapai, lebih buruk lagi penggunaan CGI di banyak pilem horror low budget sering ngerubah horror malah menjadi komedi menyedihkan nan absurd.
![]() |
Gue bisa nikmatin 'komedi' diatas pada lain waktu dengan mood yang berbeda. tapi, saat nonton 'Dog soldiers' gue cuma pengen siluman serigala yang badass!
Dan Marshall bersama divisi spesial efek di pilem ini ngejawab request gue dengan nyiptain kepala werewolfnya menggunakan teknologi animatronik.
Bagian tubuhnya sendiri tetap menggunakan aktor yang memakai kostum prostetik, dan jika kalian bertanya mengapa sang serigala keliatan tinggi, itu karena sang aktor juga memakai 'stilts' ( semacam egrang mekanis ) dibalik kostumnya haha
Gua baca dalam sebuah wawancara, Neil Marshall emang menolak menggunakan CGI karena dianggap over-used padahal teknologi animatonik menurutnya sudah sangat pesat.
" I wanted to tried and tested method ( animatronics ) because i needed the werewolfes in the same frame as the actors so they could properly react to what they were seeing in order to communicate total pulse -pounding terror to a wide-eyed audience ". Neil Marshall
Dan hasilnya memang efektif, kehadiran fisik sang monster mampu memaksimalkan terror yang hendak disampein. Reaksi yang diharapkan dari para aktor dapet. Feelnya dapet. Walaupun memang nggak se-spektakuler SFX di 'An American Werewolf in London' & di beberapa adegan mimik sang serigala terlihat sedikit kaku ( maklum robot hehe ), namun sedikit kelemahan ini mendapat support dari kerja kamera dan editing yang tepat guna. Gue mencatat ada beberapa adegan dramatis dari pemunculan sang serigala jejadian yang cukup memorabel. Sementara itu, untuk desainnya sendiri lebih mirip serigala besar yang bisa berdiri. Bagian kaki dan tangannya terlihat kurus tapi berotot dan hanya mempunyai sedikit bulu. Seinget gue, cuma 'The Howling' (1981 ) yang punya desain hampir serupa. Keren!
Jadi, 2 hal penting udah berhasil membuat gue tersenyum, character development yang menarik ama keputusan nggak make CGI. Berikutnya, gimana dengan ceritanya?
Buat sebuah flick horror berdana rendah yang punya premis werewolf vs serombongan tentara, gue jelas nggak naro harepan bakal dapet cerita yang outstanding. Pokoknya kasi aja adegan serigala menerkam ama adegan tembak-tembakan ( libatkan granat + bazooka kalo perlu ) yang banyak, itu aja udah udah cukup bikin otak gue lebih enteng. Dan Marshall kembali ngasih gue lebih dari yang gue harepin. Tetep nggak outstanding sih, tapi ceritanya tuh keliatan bener2 di pikirin buat bisa ngedukung semua aksi dan karakter di dalamnya. Tak lupa dia nyelipin beberapa twist, yang salah satunya sebenarnya udah bisa ditebak di pertengahan durasi, tapi bagaimanapun ini rasanya kaya beli chiki dan nemu selembar ribuan di dalamnya. surprise! haha.
Selain itu 'Dog Soldiers' juga punya banyak referensi pilem cult horror favorit gue, misalnya aja di menit-menit awal dia ngingetin gue ama 'Predator', ketika cerita mulai bergerak dan squad menemukan kabin, jelas ingatan gue melayang pada 'Evil Dead', berikutnya seluruh durasi pilem dihabisin didalam kabin tersebut, squad mulai membuat barikade dan mencoba bertahan dari werewolfes yang mengepung diluar. Disini banyak adegan yang gue rasa ngambil referensi dari 'Night of the Living dead', 'Zulu', 'Aliens', 'Dawn of The Dead', 'Gremlins' dll. Gue sih seneng ngeliatnya, rasanya kalo suatu saat gue bikin pilem pun bakalan dengan seneng hati ngasih tribut buat pilem2 keren favorit gue dengan nge-homage nya. Dan nggak usah khawatir ini bakal kerasa repetitif, karena 'Dog Soldiers' juga punya beberapa adegan orisinil-fresh yang salah satunya bikin gue ngakak, misalnya, adegan prajurit Cooper ngelem usus Sersan Wells yang mbrojol pake superglue. WTF?!
Dari tadi muji muji mulu, jadi ini pilem yang layak dapat rating 10 gitu? sayangnya bukan. Rating 10 udah gue kasih buat 'Braindead' haha.
MINUS POINT :
- Ada beberapa pemunculan werewolf yang stylish & memorabel, tapi gue bakalan lebih seneng kalo penampakan full frontal dari sang werewolf ditambah. Sebagian besar penampakannya emang cuma ditunjukin sekilas2 dalam adegan yang cepat, berbentuk siluet atau close up
- Terima kasih untuk darah, usus mbrojol dan satu adegan yang berhubungan dengan kepala buntung. Itu sangat brutal, Terima kasih juga udah nggak make CGI. Tapi, lebih banyak on screen gory scene, please.
- kamera yang goyang dan perpindahan antar adegan yang sering terlalu cepet, terutama di adegan2 kontak terbuka dengan para werewolf. Tujuannya jelas buat nyiptain 'sense of urgency dan speed', emang sih berhasil, dan gue suka kesan RAW yang dihasilin, tapi kadang bikin pusing juga.
- Aksen british yang kental, bikin gue sering nggak ngerti mereka lagi ngomong apaan haha.
Overall, dengan segala kekurangannya, 'Dog Soldiers' adalah pilem horror kecil yang nyaris nggak kedeteksi 'radar' , namun kala ditemukan dia secara mengejutkan mampu ngasih gue lebih dari yang di ekspektasiin, karenanya dia layak untuk direkomendasikan. Sebuah kerja yang sangat bagus dari seorang debutan.
Dan yang paling penting,
Neil Marshall berhasil ngingetin kita akan fitrah werewolf sebagai makhluk mitologi yang setiap bulan purnama akan mendedikasikan hidupnya buat mencabik dan memamah daging manusia..
dan bukannya galau gara2 cinta segitiga. ho-hum.
++ Sempat tersiar kabar, kalo sekuelnya sedang diproduksi ( Dog soldiers : Fresh Meat ) dengan Rob Green sebagai sutradara. tapi, setelah blusukan kesana kemari nyari informasi, gue ngedapetin official update kalo proyek itu ternyata batal terealisasi. nggak tau kenapa.
Dan Marshall bersama divisi spesial efek di pilem ini ngejawab request gue dengan nyiptain kepala werewolfnya menggunakan teknologi animatronik.
cek,
Bagian tubuhnya sendiri tetap menggunakan aktor yang memakai kostum prostetik, dan jika kalian bertanya mengapa sang serigala keliatan tinggi, itu karena sang aktor juga memakai 'stilts' ( semacam egrang mekanis ) dibalik kostumnya haha
Liat gimana owsom nya egrang mekanis yang gue maksud :
Gua baca dalam sebuah wawancara, Neil Marshall emang menolak menggunakan CGI karena dianggap over-used padahal teknologi animatonik menurutnya sudah sangat pesat.
" I wanted to tried and tested method ( animatronics ) because i needed the werewolfes in the same frame as the actors so they could properly react to what they were seeing in order to communicate total pulse -pounding terror to a wide-eyed audience ". Neil Marshall
Dan hasilnya memang efektif, kehadiran fisik sang monster mampu memaksimalkan terror yang hendak disampein. Reaksi yang diharapkan dari para aktor dapet. Feelnya dapet. Walaupun memang nggak se-spektakuler SFX di 'An American Werewolf in London' & di beberapa adegan mimik sang serigala terlihat sedikit kaku ( maklum robot hehe ), namun sedikit kelemahan ini mendapat support dari kerja kamera dan editing yang tepat guna. Gue mencatat ada beberapa adegan dramatis dari pemunculan sang serigala jejadian yang cukup memorabel. Sementara itu, untuk desainnya sendiri lebih mirip serigala besar yang bisa berdiri. Bagian kaki dan tangannya terlihat kurus tapi berotot dan hanya mempunyai sedikit bulu. Seinget gue, cuma 'The Howling' (1981 ) yang punya desain hampir serupa. Keren!
Jadi, 2 hal penting udah berhasil membuat gue tersenyum, character development yang menarik ama keputusan nggak make CGI. Berikutnya, gimana dengan ceritanya?
Buat sebuah flick horror berdana rendah yang punya premis werewolf vs serombongan tentara, gue jelas nggak naro harepan bakal dapet cerita yang outstanding. Pokoknya kasi aja adegan serigala menerkam ama adegan tembak-tembakan ( libatkan granat + bazooka kalo perlu ) yang banyak, itu aja udah udah cukup bikin otak gue lebih enteng. Dan Marshall kembali ngasih gue lebih dari yang gue harepin. Tetep nggak outstanding sih, tapi ceritanya tuh keliatan bener2 di pikirin buat bisa ngedukung semua aksi dan karakter di dalamnya. Tak lupa dia nyelipin beberapa twist, yang salah satunya sebenarnya udah bisa ditebak di pertengahan durasi, tapi bagaimanapun ini rasanya kaya beli chiki dan nemu selembar ribuan di dalamnya. surprise! haha.
Selain itu 'Dog Soldiers' juga punya banyak referensi pilem cult horror favorit gue, misalnya aja di menit-menit awal dia ngingetin gue ama 'Predator', ketika cerita mulai bergerak dan squad menemukan kabin, jelas ingatan gue melayang pada 'Evil Dead', berikutnya seluruh durasi pilem dihabisin didalam kabin tersebut, squad mulai membuat barikade dan mencoba bertahan dari werewolfes yang mengepung diluar. Disini banyak adegan yang gue rasa ngambil referensi dari 'Night of the Living dead', 'Zulu', 'Aliens', 'Dawn of The Dead', 'Gremlins' dll. Gue sih seneng ngeliatnya, rasanya kalo suatu saat gue bikin pilem pun bakalan dengan seneng hati ngasih tribut buat pilem2 keren favorit gue dengan nge-homage nya. Dan nggak usah khawatir ini bakal kerasa repetitif, karena 'Dog Soldiers' juga punya beberapa adegan orisinil-fresh yang salah satunya bikin gue ngakak, misalnya, adegan prajurit Cooper ngelem usus Sersan Wells yang mbrojol pake superglue. WTF?!
Dari tadi muji muji mulu, jadi ini pilem yang layak dapat rating 10 gitu? sayangnya bukan. Rating 10 udah gue kasih buat 'Braindead' haha.
MINUS POINT :
- Ada beberapa pemunculan werewolf yang stylish & memorabel, tapi gue bakalan lebih seneng kalo penampakan full frontal dari sang werewolf ditambah. Sebagian besar penampakannya emang cuma ditunjukin sekilas2 dalam adegan yang cepat, berbentuk siluet atau close up
- Terima kasih untuk darah, usus mbrojol dan satu adegan yang berhubungan dengan kepala buntung. Itu sangat brutal, Terima kasih juga udah nggak make CGI. Tapi, lebih banyak on screen gory scene, please.
- kamera yang goyang dan perpindahan antar adegan yang sering terlalu cepet, terutama di adegan2 kontak terbuka dengan para werewolf. Tujuannya jelas buat nyiptain 'sense of urgency dan speed', emang sih berhasil, dan gue suka kesan RAW yang dihasilin, tapi kadang bikin pusing juga.
- Aksen british yang kental, bikin gue sering nggak ngerti mereka lagi ngomong apaan haha.
..................................
Overall, dengan segala kekurangannya, 'Dog Soldiers' adalah pilem horror kecil yang nyaris nggak kedeteksi 'radar' , namun kala ditemukan dia secara mengejutkan mampu ngasih gue lebih dari yang di ekspektasiin, karenanya dia layak untuk direkomendasikan. Sebuah kerja yang sangat bagus dari seorang debutan.
Rough, fast pacing, intense, twisty, brutal sekaligus funny.
Dan yang paling penting,
Neil Marshall berhasil ngingetin kita akan fitrah werewolf sebagai makhluk mitologi yang setiap bulan purnama akan mendedikasikan hidupnya buat mencabik dan memamah daging manusia..
dan bukannya galau gara2 cinta segitiga. ho-hum.
Highly recommended.
++ Sempat tersiar kabar, kalo sekuelnya sedang diproduksi ( Dog soldiers : Fresh Meat ) dengan Rob Green sebagai sutradara. tapi, setelah blusukan kesana kemari nyari informasi, gue ngedapetin official update kalo proyek itu ternyata batal terealisasi. nggak tau kenapa.
10 July 2012
NIGHT OF THE CREEPS ( 1986 )
Sebagai seorang yang mengaku menggemari pilem horror-splatstick kelas B ( apalagi yang rilis tahun 80-an ), gue sebenernya sudah terlalu banyak ketinggalan. Ada banyak banget judul2 wajib-tonton yang sampai saat ini belum sempet gue buktiin ke-awesome-an ( atau ke bodohannya ). Kenyataan ini sebenernya cukup menyembulkan tanda tanya kalo mengingat kita udah idup di zaman Torrent dimana hampir semua judul pilem udah tersedia di sono. Tinggal donlod aja. Tapi masalahnya, kemampuan modem gue tuh cuman handal ketika dipake buat download...subtitlenya doang haha. Jadi, seringnya sih kalo ngeliat judul dan poster pilem2 horror klasik itu melambai-lambai minta di unduh, gue jadi keinget ketika waktu kecil dulu nyaris netesin air liur pas ngeliat poster 'Six Wild Girls' nya Pheng Tan di pajang di bioskop Mulya, pengen nonton tapi apa daya kaga punya duit haha.
Air liur itu juga berlaku buat judul yang satu ini, Night of The Creeps sebenernya udah lama banget gue masukin dalam daftar list '100 pilem horror jelek tapi keren yang harus gue tonton sebelum bunuh diri', dan oh my.. gue baru berhasil menontonnya...kemaren. Itu pun setelah salah seorang temen yang kelihatannya prihatin, mengirimkan DVD nya ke gue.
Ok, skip 2 paragraf diatas.
Terus, apa bener pilem ini adalah salah satu judul esensial dari genre horror-splatstick kelas B rilisan era sillyness-80?
Langsung aja,
Seperti kebanyakan pilem horror dari subgenre ini, ceritanya bisa diceritain dengan satu paragraf singkat :
Dua mahasiswa pecundang Universitas Corman ( Chris dan J.C ), secara tidak sengaja melepaskan parasit-luar angkasa dari mayat yang diawetkan di laboratorium selama hampir 30 tahun. Hal yang mereka tidak tahu adalah parasit2 yang mirip lintah itu akan memakan otak manusia ( setelah meloncat masuk lewat mulut ) kemudian mengendalikan tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa itu untuk merubahnya menjadi..killer outer-space zombie.
Sekarang, Detective Cameron, Chris dan Cynthia harus berjibaku melawan zombie2 ini demi menyelamatkan pesta dansa mahasiswa Universitas Corman dari banjir darah.
..............................
Night of the Creeps dibuka dengan adegan yang sangat menarik,
Di sebuah pesawat ruang angkasa, alien-alien ( yang kostumnya lebih mirip Teletubbies :D ) terlihat panik ketika tabung eksperimen mereka terjatuh.
Cerita segera beralih ke bumi sekitar tahun 50an,
Sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran tiba2 melihat sebuah meteor jatuh, sang pria ( John ) segera menyelidiki benda langit misterius tersebut, sementara sang wanita ( Pam ) menunggu dengan cemas di mobilnya karena pada saat bersamaan di radio tersiar kabar bahwa seorang pembunuh berkampak baru saja kabur dari penjara. Dengan penuh rasa penasaran, John mendekati meteor yang ternyata adalah tabung ruang angkasa berisi makhluk melata sejenis lintah. Sementara itu, sesosok pria berkampak perlahan-lahan mendekati mobil Pam. Sosok pria berkampak yang ternyata adalah..zombie!
Whoa..hanya dari adegan pembuka ini gue langsung menyadari kalo sutradara pilem ini, ( Fred Dekker ) adalah seorang menyenangkan yang bukan saja senang membuat pilem tapi juga terlihat sangat mencintai genre horror. terutama b-grade horror. Dia baru saja nge-blender berbagai subgenre horror ( scifi, creature, zombie, sampe slasher ) lalu membuat homage dari berbagai referensi judul ( Alien, The Blob, They Came From Within, Invasion of The Body snatchers, sampe materi slasher tahun 80-an ) ke dalam satu scene! Dan senyum gue mulai mengembang.
Ya, memangnya apa yang lebih badass untuk ngebuka sebuah pilem selain weird alien, creepy-crawly-slimy creature, serial killer, dan zombie?
Pilem kemudian berpindah setting lagi ke tahun 80-an.
Dan kita mulai dikenalin ama tokoh Chris ( Jason Lively ) & J.C ( Steve Marshall ) dua mahasiswa geek Universitas Corman yang nantinya akan menjadi biang keladi kekacauan yang terjadi. Dari sini sebenernya pilem beranjak menjadi sedikit membosankan, ketika dia malah berubah suspenseful dengan investigasi Detective Cameron ( Tom Atkins ) atas berbagai kasus pembunuhan brutal yang terjadi di kota itu. Suspense yang tidak perlu, karena toh sejak awal penonton udah tau kalo yang ngelakuinnya adalah zombie yang dikendalikan parasit luar angkasa. Gue semakin tidak sabar ketika scene-scene yang sepertinya akan menjadi menarik, tiba2 kepotong begitu saja dan beralih ke adegan berikutnya.
Tapi, mungkin itu hanya karena gue nggak sabar buat ngeliat sajian silly-gory nya, karena pas gue nonton ini buat ke dua kali, semua bagian dalam Night of the Creeps ternyata tetep kerasa FUN. Termasuk di part yang awalnya bikin gue nggak sabar.
| Night of The Living Dead Cat |
Dekker seakan paham bener dia lagi bikin pilem horror model apa lantas ngebalut semuanya dengan dialog2 corny-witty dan ngasih banyak hillarious memorable line yang bikin gue ketawa. Selain itu, ada banyak sekali referensi pilem horror b-grade yang dipake Dekker sebagai tribute atau homage dan dia nggak lupa bersenang-senang dengan ngetawain atau mengejek kekonyolan pilem2 itu seperti apa yang kemudian juga dilakukan Wes Craven dalam Scream. What a fun! :D
Itu masih belum seberapa, karena gue nemuin bahwa banyak tokoh atau tempat dalam pilem ini yang memakai nama2 sutradara cult seperti : sersan Raimi, Det.Cameron, Romero, Cronenberg, Corman, Miller, Landis, Dante, DePalma ( kucing zombie disini juga bernama Gordon, apakah itu merujuk pada Stuart Gordon? ) dan kalian tau siapa nama J.C sebenarnya? James Carpenter Hooper. Whattafuck haha. Kalo kalian mau ngelakuin hal yang sama, tolong masukin nama Fred Dekker ke dalamnya. Asli, ini jelas membuat gue memaafkan bagian investigasi2an yang sebenernya nggak perlu itu.
Mendekati 30 menit akhir, akhirnya pilem mulai beranjak ke arah yang gue harepin. Zombie-zombie mengepung pesta dansa mahasiswa, dan Det.Cameron ngeluarin best hillarious line nya :
" i got good news and bad news girls, the good news is your date are here.."
" What's the bad news? "
"They're Dead."
Dan Dekker ngelunasin janjinya pada gue dengan ngasih banyak zombie, head-exploding, creepy-crawlie-slimy creature..yeah, 20 menit nonstop fun silly-cheapy-gore!
Jagoan kita ( Chris & Cynthia ) beraksi dengan flamethrower dan shotgun. Ngebakar dan ngeledakin kepala zombie2 yang dari dalamnya akan keluar parasit2 seperti lintah. Gory efek nya sendiri sebenarnya lame, tapi gpp, itu nggak ngurangin ke FUN an nya kok, dan gue sangat menghargai usaha Dekker dan kru spesial efek nya. Sedikit kejutan juga ketika menemui kenyataan bahwa ternyata Lionel ( dalam 'Braindead' ) bukan yang pertama beraksi ngebantai zombie2 dengan mesin pemotong rumput, karena Chris sudah lebih dulu melakukannya! Haha gue pikir Night of the Creeps pasti adalah salah satu referensi Peter Jackson ketika membuat Braindead, mengingat adegan2 akhirnya begitu mirip ( pilem lain yang gue liat banyak ngambil referensi dari Night of the Creeps ini adalah Re-Animator dan Slither ).
![]() |
| Thrill Me |
Dan meski Chris dan Cynthia sudah beraksi habis2an melawan zombie, karakter Det.Cameron ( Tom Atkins ) lah yang layak disandingkan dengan para badass-horror-heroes lainnya. Dia mencuri perhatian dan menenggelamkan karakter lain dengan line-line nya yang kocak, tak kenal takut, tanpa kompromi, pantang mundur dan mempunyai misi tersendiri terhadap para alien ini : membalas dendam.
Sandingin Det.Cameron dengan Ash, Lionel, Ben, Ripley, R.J. MacReady, dan Derek maka mereka akan membuat The Expendables dan The Avengers pensiun.
Sandingin Det.Cameron dengan Ash, Lionel, Ben, Ripley, R.J. MacReady, dan Derek maka mereka akan membuat The Expendables dan The Avengers pensiun.
...........................
Well, dengan semua apresiasi positif gue diatas, gue nggak ngerti kenapa Fred Dekker hanya menerima sedikit pengakuan dan respek dari industri perfilman, Tri-Star terlihat nggak antusias ama rilisan ini dan Night of The Creeps nggak punya wide-release atau promosi yang layak. ( Ini juga terjadi pada karya Dekker di tahun berikutnya, The Monster Squad (2007) yang sampe saat ini hanya tersedia dalam format bootleg DVDs di Amerika. ) why? Padahal buat gue Night of The Creeps adalah salah satu yang terbaik di genre spesifiknya, Fred Dekker jelas punya banyak sesuatu yang bisa ditawarkan buat sinema-horror.. Whateva.
so the verdict is,
meminjam salah satu line dari Det.Cameron :
" Zombies, exploding heads, creepy-crawlies... and a date for the formal. This is classic, Spanky. "
Yup, ini pilem horror b-grade sejati yang dibuat oleh sutradara penggemar horror b-grade sejati untuk audiens horror b-grade sejati. Highly recommended. Enjoy this,..jangan lupa siapin popcorn ama bir yang banyak.
Jadi, sekarang pilem wajib-tonton gue berikutnya adalah 'The Monster Squad' ( 1987 ), tolong siapa aja yang punya pilem itu buat menghibahkannya ke gue hehe.
ya gue tau..gue udah ketinggalan lagi :D
RATING:
Labels:
80-an,
alien,
b-movie,
creatures,
horror-comedy,
sci-fi,
splatstick,
zombie
01 May 2012
DAGON ( 2001 )
Ini sebenernya pilem yang sering banget gue lewatin pas milih2 pilem di rental dvd. Ga tau kenapa yah? gue nggak pernah tertarik pilem ini. Mungkin desain kovernya yang ( buat gue ) kurang merangsang secara visual, atau mungkin karena gue mengira bahwa pilem ini pastilah salah satu pilem horror-monster micro-budget yang sebenernya udah gue tonton pas sebuah stasiun TV nayanginnya malem-malem. Bukan berarti horror-monster micro-budget nggak keren sih, cuman sayang aja kalo udah bayar sewa, tapi ternyata pilemnya udah di tonton hehe.
Sampai pada suatu hari, akhirnya gue tahu kalo ini pilemnya Stuart Gordon. Ok, tentunya nggak perlu dijelasin lagi siapa beliau. Dan lebih istimewanya lagi, dalam pilem ini Gordon kembali satu tim ama Brian Yuzna ( Produser ) dan Dennis Paoli ( Screenplay ).
Asal tau aja, gue sangat menyukai 2 film yang udah dibuat geng Gordon ini ( Re-Animator dan From Beyond ), itu 2 pilem yang udah gue kategoriin sebagai cult hehe. Selain itu, gue juga ternyata suka pilem Gordon era sebelumnya, Castle Freak ( dalam pilem ini produsernya bukan Brian Yuzna ), dan jangan lupain pilem eksyen kelas B yang membuat gue bertepuk tangan pas nontonnya dulu di bioskop Mulya , Fortress. Itu juga hasil arahan opa Gordon ini.
Jadi, dengan resume kaya gitu 'Dagon' harusnya sih bakalan keren juga dong yah..rasa kepenasaranan itu yang ngebuat gue segera mencari pilem ini lagi. Hehe.
dan prends, ini reviewnya..
Storyline :
Paul Marsh ( Ezra Godden ) dan Barbara ( Raquel Merono ) bersama sepasang lagi kolega nya ( Howard & Viki ), mengalami hari yang naas ketika boat mereka terbentur karang akibat badai yang tiba-tiba datang. Viki terluka cukup parah, maka Paul dan Barbara segera mencari bantuan di kota tepi pantai terdekat, sementara Howard menjaga Viki.
Hal yang Paul dan Barbara tidak tahu adalah, kejadian lebih buruk sudah menanti mereka di kota kecil misterius bernama Imboca itu. Sesuatu yang memiliki lendir, suara aneh, dan tentakel mengintai mereka. Apakah itu Squidwad?? tentu saja bukan.
Apa sebenarnya yang terjadi di kota itu?
Lalu apakah ini ada hubungannya dengan mimpi buruk tentang puteri duyung bergigi tajam yang sering menghantui Paul?
Review :
Dibuka dengan adegan creepy ( sayangnya dengan desain font jelek ) yang nyeritain mimpi paul dimana dia bertemu hantu puteri duyung di dasar lautan, pilem secara efektif langsung menebarkan atmosfir gelap dan misterius. Dan nggak kaya pilem lain dimana di menit2 awal biasanya tempo diperlambat dulu buat ngenalin karakter dan tetek bengeknya, 'Dagon' sudah mengajak penontonnya masuk ke kota Imboca di menit ke 15, dan di menit ke 20, Paul udah terlibat run, hide and seek dengan para fishy-mutant-zombiesque creepy villagers yang akan ngingetin kamu pada adegan di Resident Evil 4.
Baiklah gue kasi tau sedikit, kalo penduduk kota kecil Imboca ini sebenernya para manusia mutan ( separo ikan, separo katak ) yang sedang bertransformasi menjadi ikan ( atau katak? atau cumi cumi? entahlah..) untuk pada akhirnya hidup dilautan. Dan yang lebih buruk dari itu, mereka mengincar Paul dkk untuk diambil kulitnya! Gue nggak tau apa alesannya mereka suka kulit manusia.
Namun tidak seperti Re-Animator atau From Beyond yang bergenre splatstick horror-sci-fi ( sebuah genre yang gue antisipasi kalo mendengar nama Stuart Gordon dan Brian Yuzna ), kisah Dagon ( yang juga diangkat dari cerita H.P Lovercraft's ) ini lebih mirip cerita mitos/dongeng fantasy mistik yang nyaris minus humor. Ini aslinya membuat gue sedikit kecewa karena berharap manusia mutan itu tercipta karena eksperimen konyol atau apalah gitu.
Sorry, gue emang belum pernah membaca buku/novel H.P Lovercraft's dan hanya menilai dari pilem adaptasinya saja :)
Sorry, gue emang belum pernah membaca buku/novel H.P Lovercraft's dan hanya menilai dari pilem adaptasinya saja :)
Tapi, untunglah kekecewaan gue nggak lama, karena Gordon membuat pilem ini terus bergerak dengan tempo yang enak buat diikuti. Gordon juga menurut gue berhasil ngebangun atmosfir dark gothic nan creepy dengan setting kota kecil Spanyol nya. Segera saja ketika atmosfir creepy sudah terbangun, beberapa jump-scares ditampilkan dengan efektif. make-up efek nya sendiri sangat baik dan menempati posisi ke3 untuk kategori Best Make Up di Fangoria Chainsaw Awards. Sementara itu, nudity dan eksplisit gore nggak bertebaran disana-sini tapi ditempatkan dengan sangat efisien di adegan2 yang emang ngebutuhin itu. Sayangnya beberapa part gue rasa emang terlalu panjang/repetitif dan tidak berpengaruh seandainya dipotong.
Ngomongin adegan gory, Dagon punya beberapa scene yang cukup graphics ( namun seperti gue bilang diatas, ditempatkan efisien di bagian yang emang ngebutuhin itu ) misalnya, seppuku scene, a slashed throat scene, mayat tergantung dengan kulit terkelupas, dll. Namun yang paling disturbing tentu saja adegan pengelupasan wajah yang gue nggak nyangka sungguh brutal. Iya, kita udah tau kalo Hannibal Lecter juga mengelupas wajah korbannya buat jadi topeng, begitu juga Leatherface dan Ed Gein, tapi kita sendiri nggak pernah dikasih tau gimana proses pengelupasan kulit wajah itu kan.? Dalam Dagon, ini ditampilkan cukup eksplisit dalam sebuah adegan dimana seorang tawanan di kelupas kulit wajahnya... hidup-hidup!
![]() |
| skinning alive! |
Stuart Gordon sendiri terlihat masih terngang-ngiang kesuksesan Re-Animator dengan memilih karakter Paul mirip dengan Dr.Herbert West ( Paul bahkan memakai sweater Miskatonic ) dan oh ya..karakter cewe disini namanya Barbara, itu maksudnya pasti tribute buat Barbara Crampton hehe.
![]() |
| horny?? |
Overall, satu hal yang pengen gue protes dari Dagon adalah penggunaan CGI yang terasa sangat buruk ( ini membuat Dagon keliatan amateurish-cheapy ), mengecewakan karena jika dalam From Beyond, Gordon bisa menampilkan slimy-monster yang keren tanpa CGI, kenapa 10 tahun kemudian dia nggak bisa bikin itu. Oh, mungkin keterbatasan budget..baiklah. Dalam sebuah artikel, gue ngebaca kalo Gordon sebenernya berniat membuat Dagon setelah Re-Animator, tapi proyek From Beyond membuat dia membatalkannya. gue ngebayangin kalo aja Dagon dibuat pada dekade itu ( 80-an atau awal 90 ), pastinya itu bakalan penuh ama slimy-monster / creepy-creature keren dan itu jelas bakalan lebih..ehm, menyenangkan hehe.
Secara umum, Dagon terasa tidak sesuperior dan semenghibur 'Re-Animator', walau begitu, dia gue masukin ke kategori 'well-done' ( apalagi kalo nginget budget yang micro ).
Akhirul review, gue cuma berharap suatu saat nanti keduanya akan kembali bergabung buat menghasilkan pilem hillarious-awesome seperti pilem2 di masa kejayaan mereka.
Nggak gagal, tapi juga nggak sukses besar. Medioker. Kemungkinannya akan mudah dilupakan, tapi setidaknya, Dynamic-duo Gordon-Yuzna berani bereksperimen menawarkan warna yang lain untuk pilemnya dan thumbs-up nya dia nggak mengecewakan gue.
Akhirul review, gue cuma berharap suatu saat nanti keduanya akan kembali bergabung buat menghasilkan pilem hillarious-awesome seperti pilem2 di masa kejayaan mereka.
Jadi, untuk Dagon. well, dengan semua kekurangannya..gue cukup menikmatinya :)
RATING:
Subscribe to:
Posts (Atom)

































