Brian Yuzna mengawali karir profesional perfilmannya sebagai produser film splatstick horror keren yang sekarang menjadi cult classic, Re Animator ( 1985 ). Kaya yang kita tau, film yang disutadarai Stuart Gordon ini sukses. Selepas itu, Gordon dan Yuzna tercatat kembali terlibat di beberapa proyekan film yang juga cukup mendapat apresiasi positif dari penggemar B-horror ( From Beyond ( 1986 ), Dolls ( 1987 ), Dagon ( 2001 ) ).
Namun rupanya, Yuzna tidak puas hanya duduk manis sebagai produser, dia pengen tantangan baru. Menurutnya, " produser mungkin mendapat uang paling banyak, tapi sutradaralah yang pada akhirnya mendapat semua kredit " haha. Maka, ketika pada suatu hari seorang kolega menawarinya untuk menyutradarai sebuah film, tanpa pikir panjang dia langsung menyanggupinya. Ini menarik, kalo nginget Yuzna tuh sebenernya nggak memiliki bakat sebesar Gordon, dia nggak punya background resmi pendidikan film dan semata-mata dikenal hanya karena memproduseri Re-Animator ( yang kebetulan sukses ) haha. Tapi, bodo amat. Kesempatan datang, dan dia nggak ingin menyia-nyiakannya.
Naskah untuk directorial debut Yuzna ditulis oleh Rick Fry. Ketika pertama kali membacanya, Yuzna langsung tertarik. Itu tentang paranoia dan punya banyak suspense didalamnya. Namun, bagian endingnya ( yang tentang sekte pemuja darah ) rupanya kurang membuatnya terkesan. Yuzna pun berniat mengganti bagian itu dengan sesuatu yang lebih aneh, surreal, fantastis dan imajinatif. Hanya saja saat itu dia belum memiliki ide. Kemudian, mungkin setelah ngabisin beberapa botol alkohol dan berjam-jam merenung di wc, akhirnya ilham itu turunlah. Dia teringat mimpi buruknya, dan Eurekaaa! seketika bohlam menyala terang diatas kepalanya, ngasih dia ide untuk me reka-ulang mimpi buruk itu menjadi sebuah sekuens yang akan ditaronya di film. Dan holy shit, sekuens yang sangat imajinatif itu, jujur aja ternyata jadi satu-satunya poin paling brillian di debut filmnya ini haha
Kita ke premisenya dulu.
Showing posts with label 80-an. Show all posts
Showing posts with label 80-an. Show all posts
01 December 2016
16 November 2016
( TV-SERIES ) STRANGER THINGS ( 2016- ) Season 1 : 5 Alasan Kenapa Ini Sangat Menyenangkan
Stranger Things langsung menyita perhatian gue dengan tipografi/font judulnya yang terasa sangat familiar. Setelah diinget-inget barulah gue sadar kalo itu sangat menyerupai layout nama Stephen King di sampul novel2 era 80-annya. Dan juga..judul Stranger Things sendiri hmm bukankah itu sangat nge-rhyme ama Stephen King? Lalu coba lihat desain posternya, ada anak-anak belasan taun menaiki BMX! wow apakah ini mengingatkanmu akan sebuah film tentang bocah2 yang nyoba nyelamatin makhluk imut dari luar angkasa?
Ya, dari sini saja semangat homage 80/90-an dan aroma nostalgianya sudah terasa begitu menyengat. Jadi, tanpa nyari tau lebih lanjut gue langsung donlot seri garapan Duffer Brothers yang berhasil menjadi hit Netflix di musim panas kemaren ini.
Oke, folks. Kita langsung ke ceritanya :
Tahun 1983. Ketenangan kota kecil Hawkins, Indiana terganggu dengan kasus hilangnya seorang bocah 12 tahun Will Byers ( Noah Schnapp ) sepulang dia bermain bersama teman-temannya. Kehilangan putera tanpa kejelasan nasib membuat sang ibu, Joyce ( Winona Ryder ) sangat terguncang, dia memaksa petugas polisi Jim Hopper ( David Harbour ) untuk terus melakukan investigasi sampai puteranya ditemukan. Namun, dalam proses penyelidikannya, Jim dan Joyce mulai menemukan banyak keganjilan.
Ya, dari sini saja semangat homage 80/90-an dan aroma nostalgianya sudah terasa begitu menyengat. Jadi, tanpa nyari tau lebih lanjut gue langsung donlot seri garapan Duffer Brothers yang berhasil menjadi hit Netflix di musim panas kemaren ini.
Oke, folks. Kita langsung ke ceritanya :
Premise :
Tahun 1983. Ketenangan kota kecil Hawkins, Indiana terganggu dengan kasus hilangnya seorang bocah 12 tahun Will Byers ( Noah Schnapp ) sepulang dia bermain bersama teman-temannya. Kehilangan putera tanpa kejelasan nasib membuat sang ibu, Joyce ( Winona Ryder ) sangat terguncang, dia memaksa petugas polisi Jim Hopper ( David Harbour ) untuk terus melakukan investigasi sampai puteranya ditemukan. Namun, dalam proses penyelidikannya, Jim dan Joyce mulai menemukan banyak keganjilan.
01 August 2016
Near Dark ( 1987 ) : Romansa dan petualangan ugal-ugalan geng vampir ala Kathryn Bigelow
Jauh sebelum menyutradarai pilem drama-action perang timur tengah The Hurt Locker ( ya, yang menang Academy Award itu ) ama pilem blockbuster perang timur tengah laennya, Zero Dark Thirty, dan hanya beberapa tahun sebelum namanya terangkat oleh Point Break ( 1991 ), sutradara Kathryn Bigelow ternyata mengawali solo-directorial debutnya dengan nancepin taring di genre pilem horror, judulnya : Near Dark. Gue terjemahin secara bebas berarti sendakala atau menjelang maghrib ( gelap ) hehe.
Gue baru nonton filmnya kemaren, dan dengan cepat bisa gue katakan kalo ini salah satu film vampire paling brutal ( juga romantis ) di era 80'an.
Meski begitu, ketika dirilis, Near Dark ternyata gagal di box office. Penyebabnya diduga karena pilem ini rilis ditahun yang sama ( hanya beda beberapa bulan ) dengan pilem bertema vampir laennya yang lebih besar, The Lost Boys ( 1987 ). Alesan laennya adalah karena studio yang memproduksi pilem ini , DEG (DeLaurentiis Entertainment Group) saat itu sedang diawal kebangkrutan, akibatnya Near Dark tidak mendapat publisitas layak dan akhirnya K.O di box office.
Kita langsung ke ceritanya,
Gue baru nonton filmnya kemaren, dan dengan cepat bisa gue katakan kalo ini salah satu film vampire paling brutal ( juga romantis ) di era 80'an.
Meski begitu, ketika dirilis, Near Dark ternyata gagal di box office. Penyebabnya diduga karena pilem ini rilis ditahun yang sama ( hanya beda beberapa bulan ) dengan pilem bertema vampir laennya yang lebih besar, The Lost Boys ( 1987 ). Alesan laennya adalah karena studio yang memproduksi pilem ini , DEG (DeLaurentiis Entertainment Group) saat itu sedang diawal kebangkrutan, akibatnya Near Dark tidak mendapat publisitas layak dan akhirnya K.O di box office.
Kita langsung ke ceritanya,
25 August 2012
THE MONSTER SQUAD (1987)
Gue nggak tau apa yang kalian kerjakan buat ngabisin waktu pas guru dan pelajaran di kelas dulu begitu membosankan. Kalo gue sih, biasanya gue mulai ngerubah halaman belakang buku tulis jadi buku gambar. Iya, corat-coret disitu hehe. dan nggak tau kenapa obyek yang paling sering gue gambar tuh kalo diinget-inget ternyata hantu ama monster ( selain He-Man, The Lone Rangers ama Kura Kura Ninja tentu saja ).
Untuk hantu yang paling sering gue gambar tuh pocong, kuntilanak ama kepala buntung sementara untuk gambar monster, ini yang paling nyenengin, soalnya gue bisa bereksperimen dengan bebas..nyiptain monster2 khayalan sendiri. Misalnya ajaa..bikin monster Pak Siswanto. Guru sejarah ini gue rubah jadi monster gurita dengan sepasang taring mencuat dari mulutnya yang berlumuran darah karena mengunyah kepala temen-temen gue. Selain itu, gue juga suka nggambar monster2 dari pilem atau komik horror/fantasi seperti godzilla, drakula, zombie atau mummy. Tentu yang ini berkaitan erat dengan kedoyanan gue ama pilem dan komik horror semenjak kecil ( hobi yang selalu membuat emak marah-marah karena tiap malem terpaksa nganterin gue pipis ke wc ).
Kok serem amat ya anak kecil hobinya nggambar kaya gitu, haha
Nggak sih , gue cuman pengen bilang kalo sebenernya para villain ( monster ) tuh nggak kalah menarik dari karakter superhero. Dua duanya sama memorable dan menempati ruang khayalnya masing2 dalam kepala gue.
Nah, sungguh menyenangkan pas mengetahui ada anak-anak lain di belahan bumi sebelah sana yang ternyata punya hobi dan passion serupa ama gue, haha walaupun itu ternyata cuma ada dalam pilem :P. yeah, it's 'Monster Squad' !!
Storyline :
Sekumpulan anak kecil yang sangat menyukai pilem horror dan monster membentuk sebuah geng bernama 'Monster Squad' . Aktifitas geng ini selain nonton pilem horor, nggambar monster di kelas ( sama kaya gue ) mereka secara aktif juga berdiskusi membahas masalah per-monster-an. Misalnya, tentang '3 cara membunuh vampire', 'siapa sebenarnya Frankenstein, atau kenapa di pilem2, manusia serigala selalu memakai celana? haha yg terakhir itu kedengeran lebih mirip pertanyaan cewe2 abg untuk pilem 'Twilight'.
Sementara itu diceritain, setelah 100 tahun silam kekuatan kegelapan Dracula berhasil dihancurkan Dr .Abraham Van Helsing, kini makhluk penghisap darah itu kembali ke bumi dengan sebuah rencana besar. Dia memanggil monster-monster lainnya..Werewolf, Mummy, Frankenstein, dan Gillman ( monster dari 'Creature from the Black Lagoon' --gue akan ngereview pilem ini kapan-kapan-- ) buat bergabung dalam sebuah misi kegelapan : nyari amulet ( jimat ) yang akan membuat dunia berada dalam genggaman mereka.
Dengan telah meninggalnya Van Helsing, siapa lagi yang akan menghentikan mereka kali ini?
Ghustbusters? No! The Goonies? No! Scooby Doo? Nooope!..
this is Monster Squad Job!!
REVIEW :
Rilis hanya setahun setelah 'Night of The Creeps' yang silly splatter, pilem kedua Fred Dekker ini ternyata lebih kerasa kaya pilem Lima Sekawan, Ghostbusters atau The Goonies versi horror. Hehe ya, Monster Squad gue pikir punya bates yang tipis antara pilem drama, keluarga, anak-anak, komedi, petualangan, dan horror. tapi, whatever Fred Dekker untuk kedua kalinya berhasil mengemasnya menjadi sangat sangat menyenangkan.
Selain karena tetep dipenuhi referensi pilem horror dan hillarious funny line, Dekker juga keliatan seneng ngasih olok-olok sekaligus tribute buat genre b-grade horror ( yang sepertinya adalah genre favorit sang sutradara ) , dan jangan lupain pula keterlibatan sang maestro spesial efek untuk urusan ngedesain monster badass : Stan Winston.
Oke, kostum Drakulanya emang cheesy dan keliatan kaya kostum yg banyak dijual di Pasar Baru, tapi desain Mummy, Werewolf, Gillman dan Frankenstein-nya sangatlah keren. Terutama untuk Mummy dan Werewolf, sekali lagi kerja yang sangat bagus dari Stan Winston, Dan andai saja Fred Dekker mau nambah screen time buat mereka, gue pasti akan ngasih 1 rating lagi buat Monster Squad.
Selain itu ada subplot tentang Frankenstein yang membelot dan berteman dengan Phoebe ( anak kecil cewe annoying yang selalu ditolak masuk geng Monster Squad ), juga cerita tentang tetangga Jerman misterius yang di juluki geng ini sebagai 'Scary German Guy'. funny. Semuanya dibalut ama fast pacing, tanpa terlalu banyak adegan yang sia-sia.
Untuk adegan action nya sediri, jangan terlalu berharap akan penuh head exploding dan eksplisit gore seperti di Night of The creeps, selain satu adegan keren dimana tubuh Werewolf yang hancur bersatu kembali, praktis adegan yang lain terasa sangat karikatural, contohnya, adegan gimana anak-anak ini berhasil menendang 'wolfman's-dork' ( yang menghasilkan line hillarious 'Wolf's got nards!!" ) dan gimana cara mereka mengalahkan Mummy kemungkinannya udah sering kalian liat di pilem kartun Scooby Doo, haha. Emang se kiddies itu, meski sebenernya tetep butuh parental guidance juga mengingat ada adegan salah satu anak ini ngintip cewe ganti baju dan cukup banyak bertebaran f-words.
...........................
So, apa yang membuat Monster Squad tetep terasa sangat menyenangkan buat gue adalah, Fred dekker membuatnya dengan passion dan semangat bersenang-senang. Dia nggak pernah peduli pilemnya bakal laku apa nggak ( nyatanya emang nggak laku hehe ), nggak pernah berpura-pura sedang membuat pilem yang berkualitas, nggak juga sengaja membuat pilem jelek supaya dibilang cult. seperti salah satu quotenya :
" You never set out to make a cult movie."
Dia hanya sedang mengerjakan apa yang dia sangat gemari...dengan penuh antusiasme dan kegembiraan. Dan kalian tau, kegembiraan bisa menular.
Monster Squad membuat anak kecil yang berada dalam tubuh dewasa gue melonjak-lonjak kegirangan lalu pada akhirnya terharu karena merindukan masa itu : 80-an. Masa dimana gue selalu percaya dibawah ranjang ada monster berlendir dan yakin digigit laba-laba akan membuatmu memiliki kekuatan super. Masa dimana dunia kerasa baik-baik saja, langit terlihat selalu cerah, hanya bermain setiap hari, penuh fantasi, imajinasi, nggak punya tanggung jawab dan nggak ditanyain kapan kawin hehe.
Fred Dekker's 'Monster Squad', dengan caranya sendiri berhasil ngelemparin gue kembali ke masa-masa indah itu, persis seperti yang dialami kritikus masakan yang terharu pada masakan sederhana masa kecil nya dalam 'Ratatouille'.
Sungguh disayangkan, karir Fred Dekker ternyata cukup menyedihkan, selepas ngebesut Robocop 3 yang flop dan menuai caci maki dari audiens luas, nggak ada lagi pilem yang dia hasilkan. Kemaren gue nonton ulang 'Robocop 3' dan dia memang cukup keras kepala masukin style nya, ngerubah kisah polisi robot yang sudah lekat dengan tone dark menjadi bright, silly dan kiddies. Itu jelas membuat Robo-fan murka haha. Mulai dari sini gue berasumsi nggak ada lagi produser yang mau rugi dengan make jasanya haha. You know, produser nggak butuh predikat cult, mereka butuh duitnya berlipat ganda heheh.
![]() |
| My name is Horace.. | Whore ass?? |
Gue sendiri berharap suatu saat dia hadir kembali dan ngasih audiens horror sesuatu yang udah sangat langka gue rasain pada pilem2 horror ke kinian : passion, kejujuran, dan semangat bersenang-senang.
Whatever, Miss You, Fred.
RATING:
10 July 2012
NIGHT OF THE CREEPS ( 1986 )
Sebagai seorang yang mengaku menggemari pilem horror-splatstick kelas B ( apalagi yang rilis tahun 80-an ), gue sebenernya sudah terlalu banyak ketinggalan. Ada banyak banget judul2 wajib-tonton yang sampai saat ini belum sempet gue buktiin ke-awesome-an ( atau ke bodohannya ). Kenyataan ini sebenernya cukup menyembulkan tanda tanya kalo mengingat kita udah idup di zaman Torrent dimana hampir semua judul pilem udah tersedia di sono. Tinggal donlod aja. Tapi masalahnya, kemampuan modem gue tuh cuman handal ketika dipake buat download...subtitlenya doang haha. Jadi, seringnya sih kalo ngeliat judul dan poster pilem2 horror klasik itu melambai-lambai minta di unduh, gue jadi keinget ketika waktu kecil dulu nyaris netesin air liur pas ngeliat poster 'Six Wild Girls' nya Pheng Tan di pajang di bioskop Mulya, pengen nonton tapi apa daya kaga punya duit haha.
Air liur itu juga berlaku buat judul yang satu ini, Night of The Creeps sebenernya udah lama banget gue masukin dalam daftar list '100 pilem horror jelek tapi keren yang harus gue tonton sebelum bunuh diri', dan oh my.. gue baru berhasil menontonnya...kemaren. Itu pun setelah salah seorang temen yang kelihatannya prihatin, mengirimkan DVD nya ke gue.
Ok, skip 2 paragraf diatas.
Terus, apa bener pilem ini adalah salah satu judul esensial dari genre horror-splatstick kelas B rilisan era sillyness-80?
Langsung aja,
Seperti kebanyakan pilem horror dari subgenre ini, ceritanya bisa diceritain dengan satu paragraf singkat :
Dua mahasiswa pecundang Universitas Corman ( Chris dan J.C ), secara tidak sengaja melepaskan parasit-luar angkasa dari mayat yang diawetkan di laboratorium selama hampir 30 tahun. Hal yang mereka tidak tahu adalah parasit2 yang mirip lintah itu akan memakan otak manusia ( setelah meloncat masuk lewat mulut ) kemudian mengendalikan tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa itu untuk merubahnya menjadi..killer outer-space zombie.
Sekarang, Detective Cameron, Chris dan Cynthia harus berjibaku melawan zombie2 ini demi menyelamatkan pesta dansa mahasiswa Universitas Corman dari banjir darah.
..............................
Night of the Creeps dibuka dengan adegan yang sangat menarik,
Di sebuah pesawat ruang angkasa, alien-alien ( yang kostumnya lebih mirip Teletubbies :D ) terlihat panik ketika tabung eksperimen mereka terjatuh.
Cerita segera beralih ke bumi sekitar tahun 50an,
Sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran tiba2 melihat sebuah meteor jatuh, sang pria ( John ) segera menyelidiki benda langit misterius tersebut, sementara sang wanita ( Pam ) menunggu dengan cemas di mobilnya karena pada saat bersamaan di radio tersiar kabar bahwa seorang pembunuh berkampak baru saja kabur dari penjara. Dengan penuh rasa penasaran, John mendekati meteor yang ternyata adalah tabung ruang angkasa berisi makhluk melata sejenis lintah. Sementara itu, sesosok pria berkampak perlahan-lahan mendekati mobil Pam. Sosok pria berkampak yang ternyata adalah..zombie!
Whoa..hanya dari adegan pembuka ini gue langsung menyadari kalo sutradara pilem ini, ( Fred Dekker ) adalah seorang menyenangkan yang bukan saja senang membuat pilem tapi juga terlihat sangat mencintai genre horror. terutama b-grade horror. Dia baru saja nge-blender berbagai subgenre horror ( scifi, creature, zombie, sampe slasher ) lalu membuat homage dari berbagai referensi judul ( Alien, The Blob, They Came From Within, Invasion of The Body snatchers, sampe materi slasher tahun 80-an ) ke dalam satu scene! Dan senyum gue mulai mengembang.
Ya, memangnya apa yang lebih badass untuk ngebuka sebuah pilem selain weird alien, creepy-crawly-slimy creature, serial killer, dan zombie?
Pilem kemudian berpindah setting lagi ke tahun 80-an.
Dan kita mulai dikenalin ama tokoh Chris ( Jason Lively ) & J.C ( Steve Marshall ) dua mahasiswa geek Universitas Corman yang nantinya akan menjadi biang keladi kekacauan yang terjadi. Dari sini sebenernya pilem beranjak menjadi sedikit membosankan, ketika dia malah berubah suspenseful dengan investigasi Detective Cameron ( Tom Atkins ) atas berbagai kasus pembunuhan brutal yang terjadi di kota itu. Suspense yang tidak perlu, karena toh sejak awal penonton udah tau kalo yang ngelakuinnya adalah zombie yang dikendalikan parasit luar angkasa. Gue semakin tidak sabar ketika scene-scene yang sepertinya akan menjadi menarik, tiba2 kepotong begitu saja dan beralih ke adegan berikutnya.
Tapi, mungkin itu hanya karena gue nggak sabar buat ngeliat sajian silly-gory nya, karena pas gue nonton ini buat ke dua kali, semua bagian dalam Night of the Creeps ternyata tetep kerasa FUN. Termasuk di part yang awalnya bikin gue nggak sabar.
| Night of The Living Dead Cat |
Dekker seakan paham bener dia lagi bikin pilem horror model apa lantas ngebalut semuanya dengan dialog2 corny-witty dan ngasih banyak hillarious memorable line yang bikin gue ketawa. Selain itu, ada banyak sekali referensi pilem horror b-grade yang dipake Dekker sebagai tribute atau homage dan dia nggak lupa bersenang-senang dengan ngetawain atau mengejek kekonyolan pilem2 itu seperti apa yang kemudian juga dilakukan Wes Craven dalam Scream. What a fun! :D
Itu masih belum seberapa, karena gue nemuin bahwa banyak tokoh atau tempat dalam pilem ini yang memakai nama2 sutradara cult seperti : sersan Raimi, Det.Cameron, Romero, Cronenberg, Corman, Miller, Landis, Dante, DePalma ( kucing zombie disini juga bernama Gordon, apakah itu merujuk pada Stuart Gordon? ) dan kalian tau siapa nama J.C sebenarnya? James Carpenter Hooper. Whattafuck haha. Kalo kalian mau ngelakuin hal yang sama, tolong masukin nama Fred Dekker ke dalamnya. Asli, ini jelas membuat gue memaafkan bagian investigasi2an yang sebenernya nggak perlu itu.
Mendekati 30 menit akhir, akhirnya pilem mulai beranjak ke arah yang gue harepin. Zombie-zombie mengepung pesta dansa mahasiswa, dan Det.Cameron ngeluarin best hillarious line nya :
" i got good news and bad news girls, the good news is your date are here.."
" What's the bad news? "
"They're Dead."
Dan Dekker ngelunasin janjinya pada gue dengan ngasih banyak zombie, head-exploding, creepy-crawlie-slimy creature..yeah, 20 menit nonstop fun silly-cheapy-gore!
Jagoan kita ( Chris & Cynthia ) beraksi dengan flamethrower dan shotgun. Ngebakar dan ngeledakin kepala zombie2 yang dari dalamnya akan keluar parasit2 seperti lintah. Gory efek nya sendiri sebenarnya lame, tapi gpp, itu nggak ngurangin ke FUN an nya kok, dan gue sangat menghargai usaha Dekker dan kru spesial efek nya. Sedikit kejutan juga ketika menemui kenyataan bahwa ternyata Lionel ( dalam 'Braindead' ) bukan yang pertama beraksi ngebantai zombie2 dengan mesin pemotong rumput, karena Chris sudah lebih dulu melakukannya! Haha gue pikir Night of the Creeps pasti adalah salah satu referensi Peter Jackson ketika membuat Braindead, mengingat adegan2 akhirnya begitu mirip ( pilem lain yang gue liat banyak ngambil referensi dari Night of the Creeps ini adalah Re-Animator dan Slither ).
![]() |
| Thrill Me |
Dan meski Chris dan Cynthia sudah beraksi habis2an melawan zombie, karakter Det.Cameron ( Tom Atkins ) lah yang layak disandingkan dengan para badass-horror-heroes lainnya. Dia mencuri perhatian dan menenggelamkan karakter lain dengan line-line nya yang kocak, tak kenal takut, tanpa kompromi, pantang mundur dan mempunyai misi tersendiri terhadap para alien ini : membalas dendam.
Sandingin Det.Cameron dengan Ash, Lionel, Ben, Ripley, R.J. MacReady, dan Derek maka mereka akan membuat The Expendables dan The Avengers pensiun.
Sandingin Det.Cameron dengan Ash, Lionel, Ben, Ripley, R.J. MacReady, dan Derek maka mereka akan membuat The Expendables dan The Avengers pensiun.
...........................
Well, dengan semua apresiasi positif gue diatas, gue nggak ngerti kenapa Fred Dekker hanya menerima sedikit pengakuan dan respek dari industri perfilman, Tri-Star terlihat nggak antusias ama rilisan ini dan Night of The Creeps nggak punya wide-release atau promosi yang layak. ( Ini juga terjadi pada karya Dekker di tahun berikutnya, The Monster Squad (2007) yang sampe saat ini hanya tersedia dalam format bootleg DVDs di Amerika. ) why? Padahal buat gue Night of The Creeps adalah salah satu yang terbaik di genre spesifiknya, Fred Dekker jelas punya banyak sesuatu yang bisa ditawarkan buat sinema-horror.. Whateva.
so the verdict is,
meminjam salah satu line dari Det.Cameron :
" Zombies, exploding heads, creepy-crawlies... and a date for the formal. This is classic, Spanky. "
Yup, ini pilem horror b-grade sejati yang dibuat oleh sutradara penggemar horror b-grade sejati untuk audiens horror b-grade sejati. Highly recommended. Enjoy this,..jangan lupa siapin popcorn ama bir yang banyak.
Jadi, sekarang pilem wajib-tonton gue berikutnya adalah 'The Monster Squad' ( 1987 ), tolong siapa aja yang punya pilem itu buat menghibahkannya ke gue hehe.
ya gue tau..gue udah ketinggalan lagi :D
RATING:
Labels:
80-an,
alien,
b-movie,
creatures,
horror-comedy,
sci-fi,
splatstick,
zombie
20 February 2012
CUJO (1983)
Suatu hari, motor yang dikendarai seorang pria kurus berambut acak-acakan tiba-tiba mogok, dan dia memutuskan buat mampir ke sebuah bengkel. Nyampe di bengkel, dia malah ngeliat pemandangan menegangkan dimana sang mekanik ternyata sedang di serang seekor anjing yang terlihat ganas. Beruntung, keadaan buruk itu segera bisa diatasi, namun rupanya kejadian tadi sudah cukup untuk memunculkan sebuah 'bohlam' ( disertai suara 'ting!' ) di kepala sang pria kurus.
Dan kita semua tau, orang yang bisa mendapat inspirasi nulis cerita dari peristiwa remeh seperti itu, pastilah bernama Stephen King. Dan, emang bener hehe.
Jadi ceritanya, King segera pulang ke rumah buat menulis sebuah novel yang lalu diberi judul 'Cujo'. Tahun 1981 novel itu rilis, ditahun berikutnya 'Cujo' meraih British Fantasy Award, dan hanya butuh satu tahun lagi (1983) buat ahirnya fiksi tentang 'Cujo' diangkat ke layar lebar.
Jadi ceritanya, King segera pulang ke rumah buat menulis sebuah novel yang lalu diberi judul 'Cujo'. Tahun 1981 novel itu rilis, ditahun berikutnya 'Cujo' meraih British Fantasy Award, dan hanya butuh satu tahun lagi (1983) buat ahirnya fiksi tentang 'Cujo' diangkat ke layar lebar.
Well, gue belum baca novelnya, tapi mari kita liat gimana pilemnya :)
Storyline :
Keluarga kecil Donna ( Dee Wallace ) mengalami masalah ketika suaminya, Vic ( Daniel Hugh Kelly ) akhirnya mengetahui kalo dia berselingkuh. Donna sendiri beralasan, dia melakukan itu karena sang suami jarang meluangkan waktu buat mereka dan terlalu sibuk dengan pekerjaannya..bla bla bla seperti itulah.
Suatu hari, Vic pergi keluar kota beberapa hari buat sebuah urusan kerja, dan itu segera dimanfaatkan Donna buat..berselingkuh? oh, nggak hehe dia memutuskan pergi bersama putera nya Tad ( Danny Pintauro ) ke sebuah bengkel buat ngereparasi mobil bobroknya. Ini mungkin hal yang akan disesali Donna seumur hidup, karena tanpa dia sadari, sebuah terror sudah menantinya di sana.
Ya, sesampainya di bengkel yang terpencil itu, Donna menyadari anjing peliharaan sang tukang bengkel yang bernama 'Cujo' ternyata terjangkit rabies ( karena di gigit kelelawar ). Cujo berubah dari seekor Lassie yang hanya mengejar kelinci menjadi predator ganas yang akan menyerang dan membunuh siapa saja . Dan kini, setelah membantai sang pemilik bengkel dan tetangganya ( juga seorang polisi ), target mangsa 'Cujo' adalah Donna dan Tad yang terjebak dalam mobilnya yang mogok.
Review :
Separo pertama durasi pilem digunakan sutradara Lewis Tague buat ngenalin kita pada karakter-karakter dan tetek-bengek permasalahannya. Donna yang berselingkuh, Vic yang sibuk membicarakan pekerjaannya, Tad yang sepanjang pilem hanya terlihat merengek saja, lalu ada, Steve Kemp, keluarga tukang bengkel dll dll
Gue sebagai penonton baik hati yang cukup menghormati usaha pengembangan karakter dalam sebuah pilem memutuskan untuk berkompromi ngikutin semuanya, walaupun pada bagian ini 'Cujo' jadi terasa kaya pilem drama keluarga. Tentunya itu sebuah genre yang nggak lagi pengen gue tonton, apalagi dari sebuah pilem yang punya tagline 'A New Name For Terror'. Ini dimana terrornya? jadi di paruh pertama durasi satu-satunya terror yang gue dapet adalah rengekan anak kecil bernama Tad dan err..gue udah berkali-kali menguap.
Sampai akhirnya ketika gue berhasil ngelewatin menit ke 50 tanpa tertidur , pilem nyampe pada bagian yang ngingetin gue kalo ini pilem thriller tentang anjing predator.
Mulai menit ke 50 itu, gue kembali menemukan ciri khas cerita King yang senang bermain-main dengan thriller-psikologi, ruang sempit ama karakter minimal ( walau tidak semuanya cerita King seperti itu ). Kali ini settingnya adalah di sebuah mobil mogok, dengan main-character Donna & puteranya ( Tad ) dan antagonis sang anjing rabies ( Cujo ) .
Dan seperti berniat membayar semua hal membosankan di paro pertama, adegan kejebak dalam mobil ini digelar cukup intense sampai menit terakhir.
Dan seperti berniat membayar semua hal membosankan di paro pertama, adegan kejebak dalam mobil ini digelar cukup intense sampai menit terakhir.
( + sedikit tambahan info, ide yang similiar pernah juga digunakan oleh sebuah pilem berjudul 'Penny Dreadful ( 2006 )' dimana seorang cewe terperangkap dalam mobilnya yang mogok, sementara seorang pembunuh maniak berkeliaran mengancamnya diluar. + 'Man's Best Friends' (1993 ) juga ngegunain anjing sebagai antagonis tapi itu terjadi karena genetically-modified alias mutan )
Balik ke 'Cujo', kenyataan bahwa monsternya tuh cuman anjing rabies biasa, memang tidak membuat ini jadi se-menyenangkan seperti pas gue nonton pilem dengan villain monster cacing tanah raksasa atau kadal mutan, tapi di sisi lain, teror anjing rabies ini membuat gue berfikir kalo kejadian kaya gitu pernah beneran terjadi di suatu tempat. Dan ini ngebuat 'Cujo' ( dengan sekuen adegan yang sebenernya udah sering gue liat di pilem lain ) menjadi cukup mencekam.
Menit-menit akhir ini beneran total-thriller. Beautifully photographed, well-directed, tense, scary, apalagi Dee Wallace berakting brillian sebagai ibu yang mengalami kepanikan, bingung, takut, frustasi dan akhirnya..nekad. Sementara Danny Pintauro ( yang rengekannya semakin menjadi2 dalam adegan ini ) membuatnya layak mendapat gelar 'most annoying kid in horror movies'. Haha semua itu membuat gue bisa memaafkan endingnya yang klise dan predictable.
Sementara buat sebagian audiens Amerika, gue mencatat 'Cujo' sedikit susah dinikmati dan menciptakan trauma tersendiri mengingat antagonisnya adalah seekor anjing. Itu hewan peliharaan kesayangan masyarakat sono yang punya julukan 'sahabat terbaik manusia' . Jadi, ini mungkin seperti kalo orang India ngeliat sapi sembahannya menjadi jahat dan nyeruduk anak kecil kali. Mau dibunuh ga tega, mau dibiarin juga salah. haha
Intinya sih gue pengen bilang bahwa tujuan sederhana 'Cujo' menghadirkan thriller kengerian berhasil dicapai di separuh akhir pilem.
Menit-menit akhir ini beneran total-thriller. Beautifully photographed, well-directed, tense, scary, apalagi Dee Wallace berakting brillian sebagai ibu yang mengalami kepanikan, bingung, takut, frustasi dan akhirnya..nekad. Sementara Danny Pintauro ( yang rengekannya semakin menjadi2 dalam adegan ini ) membuatnya layak mendapat gelar 'most annoying kid in horror movies'. Haha semua itu membuat gue bisa memaafkan endingnya yang klise dan predictable.
Sementara buat sebagian audiens Amerika, gue mencatat 'Cujo' sedikit susah dinikmati dan menciptakan trauma tersendiri mengingat antagonisnya adalah seekor anjing. Itu hewan peliharaan kesayangan masyarakat sono yang punya julukan 'sahabat terbaik manusia' . Jadi, ini mungkin seperti kalo orang India ngeliat sapi sembahannya menjadi jahat dan nyeruduk anak kecil kali. Mau dibunuh ga tega, mau dibiarin juga salah. haha
Namun, dilihat secara keseluruhan, kalo apa yang pengen gue liat dari 'Cujo' cuma usaha survival seorang heroine dari anjing rabies, gue jadi ngerasa paruh pertama durasi pilem yang cukup melelahkan ( tentang pengenalan karakter, cerita perselingkuhan dll ) menjadi bagian yang sebenernya nggak penting buat diceritain. Sia-sia.
Mungkin film akan lebih efektif seandainya, Lewis Tague langsung aja ke bagian Donna kejebak dalam mobil dan printilan2 story-background atau pengenalan karakternya bisa dilakukan lewat kilasan2 flashback singkat atau monolog Donna..atau apalah..asal bukan nyeritainnya secara detil sampe nyaris separo durasi.
Overall, Gue nggak tau gimana novelnya, tapi ini salah satu pilem adaptasi dari cerita Stephen King yang terasa inferior. Sia-sia di awal, intense di bagian akhir. Gue cukup berbaik hati dengan tidak memberinya rating lebih rendah :)
....................
( ++ Dari segi cerita, kisah 'Cujo' cukup konyol kalo diliat sekarang. Maksud gue, di zaman ponsel udah jadi piranti wajib kehidupan, kalo ngalamin kejadian kaya diatas kita bisa langsung nelpon siapa aja buat minta bantuan, ( gue jamin lu dapet sinyal, kecuali lu lagi ada dalam sebuah pilem horror. ) . Dan sambil nunggu bantuan, lu bisa santai-santai sambil namatin Angry Birds apa nge-tweet. Tapi, karena ini terjadinya di tahun 1981 ( dimana Blackberry masih nama buah-buah-an ) dan Amerika punya banyak tempat sepi yang keliatan kaya markas keluarga Leatherface, asli, kejadian kaya diatas sangat mungkin terjadi. )
Subscribe to:
Posts (Atom)



























