Showing posts with label serial killers. Show all posts
Showing posts with label serial killers. Show all posts

07 November 2014

EDISI I-LOVE-KOREA: MEMORIES OF MURDER (2003)

Written By Ming

Pengantar

Anda salah satu korban Korean Wave (jelas yang saya maksud Korea di sini dan nantinya adalah Korea Selatan, bukan tetangganya yang punya pemimpin berambut Mohawk itu) dengan drama-drama cintanya yang cute dan mengharu biru? Atau penggemar boyband-girlband-groupband—apapun itu sebutannya dengan personel berwajah boneka hasil polesan operasi plastik? Atau begini, setidaknya anda bakal mengetatkan ikat pinggang dengan berpuasa atau cukup mengonsumsi Indomie 3 kali sehari, misalnya, hanya untuk memiliki tablet Samsung terbaru, bukan? Hohoho, tenang saja. Anda tidak sendiri. Saya pun salah satu korban gelombang budaya Korea yang telah mengglobal. 

Cuma, yang saya gemari ini bisa dibilang sepi penggemar di sini—jika dibandingkan dengan produk Korea yang sudah saya sebut di atas, dan cuma bisa jadi obrolan seru sesama penggemar film horror beserta turunannya yang bisa dibilang masih satu spesies dengan pengunjung setia—dan tidak setia—blog horror kacangan (saya sebagai salah satu kontributor abadi dan satu-satunya, memang sudah mengajukan proposal kepada editor blog ini untuk mengganti saja nama Horror Popcorn menjadi Horror Kacang) yang makin sepi postingan hingga membuat sekelompok penggemar fanatik melakukan demo di depan kantor fiktif kami. 

14 June 2012

FRAILTY ( 2001 )

Selain motif dendam, ekonomi, politik atau kelainan jiwa ( psikopat ), motif apa lagi yang paling sering me latar-belakangi terjadinya kasus pembunuhan berantai? Gue ga tau di negara lain, tapi di Indonesia, yang sering gue denger dari media salah satunya adalah motif  ilmu hitam. Kita bisa liat pada kasus Sumanto atau di beberapa kasus lain yang gue lupa, pelakunya mengaku melakukan serangkaian pembunuhan dalam rangka mendapatkan ilmu kesaktian. Tolol memang hehe. Nah, selain ilmu hitam, ada satu motif lain yang sering gue baca sebagai alasan seseorang untuk menghabisi nyawa orang lain.

Pernah baca berita tentang seseorang ( atau sekelompok orang ) yang membunuh karena konon mendapat semacam bisikan/wahyu dari Tuhan?

Mungkin kasus semacam itu bisa langsung kalian komentari sebagai bagian dari gejala sakit jiwa. Delusional? Skizophrenia? Namun, jikalau memang begitu halnya, apakah kalian juga akan berkata hal yang sama pada Nabi Ibrahim yang konon diwahyukan Tuhan untuk menyembelih puteranya sendiri?


Storyline :




Disebuah kota kecil, di Texas sekitar tahun 70-an, sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, Dad Meiks ( Bill Paxton ), dan dua puteranya Fenton ( Matt O' Leary ) dan Adam ( Jeremy Sumpter ) terlihat bahagia walau baru saja kehilangan sang ibu tercinta.

Semuanya terlihat baik-baik saja, sampai pada suatu hari...
sang ayah bercerita pada ke dua putera nya bahwa semalam dia baru saja mendapat 'vision' ( penampakan ) dari malaikat yang menyampaikan sebuah pesan dari Tuhan buat keluarga kecil mereka.

Konon sang malaikat yang menampakkan diri itu berkata bahwa hari kiamat sudah dekat. Iblis-iblis dikatakan telah menguasai bumi. Dan Tuhan telah memilih keluarga mereka menjadi 'God Hand's' ( tangan Tuhan ) untuk membantu melenyapkan semua iblis yang meraja lela dibumi. Dikatakan lagi, mereka harus menunggu karena Tuhan sedang menyiapkan senjata  untuk mereka beserta informasi daftar nama 'iblis' yang harus mereka musnahkan.

Mendengar itu, Adam ( yang berusia sekitar 6 tahun ) terlihat sangat antusias karena mengira dia akan menjadi semacam superhero pembasmi kejahatan pilihan Tuhan, tapi Fenton, ( 12 tahun ) rupanya bersikap skeptis dan meyakini ada yang salah dalam otak ayah nya. Sementara itu, sang ayah sendiri masih terlihat bingung dengan pengalaman spiritual nya.

Hingga pada suatu hari, ketika Dad Meiks dalam perjalanan, dia mendapat 'vision' sebuah rumah kosong ditengah tanah lapang yang secara aneh disinari selarik cahaya dari balik awan-awan. 


Dia pun memasuki rumah itu dan segera mengetahui bahwa selarik cahaya dari langit tadi, ternyata menyorot langsung ke beberapa benda di tengah2 ruangan. 
jreeeeeng!
Itu adalah sebuah kampak ( ! ) bertuliskan OTIS di gagangnya dan sepasang sarung tangan. Itukah senjata yang dijanjikan Tuhan buatnya ?? OTIS? it's 'Only The Idiot Survive'? 
Di lain hari, sang ayah kembali melihat penampakan dari malaikat ( di gambarkan bersayap dan menghunus sebilah pedang ) yang memberikan daftar nama 'iblis-iblis' yang harus segera keluarga ini lenyapkan.

Sekarang Dad Meiks yakin bahwa dia dan kedua puteranya memang ditakdirkan harus mengemban 'misi suci' Tuhan. Senjata dan daftar nama 'iblis' sudah di berikan , kini saatnya melakukan aksi...

gambaran seseorang yang baru saja mendapat pencerahan

Keluarga ini pun mulai melakukan serangkaian pembunuhan berdasarkan daftar nama yang konon diberikan 'malaikat'. Fenton tak setuju aksi ini dan menganggap ayahnya sudah gila ( dia bahkan pernah punya rencana kabur dan memberitahukan aksi gila sang ayah pada orang-orang ), namun pada akhirnya dia tak mampu berbuat banyak, sementara Adam malah terlihat menikmati aksi 'superhero' mereka.

Jadi, setelah mendapat nama dari 'malaikat', keluarga ini akan melacak alamat sang 'iblis' untuk kemudian mendatangi rumah nya, sang ayah lalu akan  melumpuhkannnya dengan pipa besi, lantas membawa 'tersangka iblis' ini ke ruang bawah tanah untuk memastikan apakah orang yang mereka bawa itu memang iblis atau bukan ( konon Dad Meiks bisa melihat dosa apa saja yang sudah dilakukan orang dihadapannya dengan mencengkeram kepalanya  ). Jika sudah pasti, maka  di saksikan ke dua puteranya, Dad akan segera melakukan 'ibadah' melenyapkan 'iblis' dengan mengkampaknya! ( mungkin juga memutilasinya, karena kemudian kita akan melihat ketika keluarga ini menguburkan korban, ternyata jenazah berada dalam kantong2 plastik terpisah berukuran kecil ).

Bertahun tahun kasus yang kemudian terkenal di Texas dengan sebutan 'Pembantaian Tangan Tuhan' ini tak pernah terungkap ( oh my..ada berapa orang gila dan pembantaian sebenarnya di Texas?? ).

Hingga suatu saat,
Fenton yang telah beranjak dewasa ( diperankan oleh Matthew McConaughey ) dan sejak awal tak setuju dengan apa yang dilakukan ayah dan adiknya, akhirnya memutuskan untuk mengungkap kegilaan mereka dengan menceritakan semuanya pada seorang agen FBI. Fenton bahkan bersedia menunjukkan lokasi dimana mereka menguburkan jasad para korban.


Seakan semuanya akan berakhir disini..
tapi ternyata....

...

tidak.


Review :


Film ini dibuat konon diilhami dari kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Joseph Kallinger bersama puteranya Michael ( yang baru berusia 13 tahun ), dimana ayah-anak ini melakukan 3 pembunuhan dan menyiksa 4 keluarga pada sekitar tahun 1974-1975 di New Jersey. Sama seperti keluarga Meiks dalam kisah film 'Frailty' ini, Joseph Kallinger juga mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah Tuhan.


Merupakan debut penyutradaraan film-panjang Bill Paxton ( lebih dikenal sebagai aktor dan dia juga memerankan karakter Dad Meiks di pilem ini ) setelah di tahun 80-an hanya menyutradarai pilem pendek dan satu serial TV, 'Frailty' yang boleh dibilang sebagai pilem berbujet rendah, tidak meraih sukses secara komersial, walau begitu film ini ternyata mendapat cukup banyak komentar positif dari audiens. Termasuk yang memuji pilem ini diantaranya adalah James Cameron, Sam Raimi dan Stephen King ( kemana Peter Jackson? ). Khusus Stephen King, dia bahkan menyebut 'Frailty' sebagai pilem horror-thriller terbaik di tahun 2001. Filmnya gue pikir memang sangat berbau Stephen King. Bisa gue bayangin kalo King menyesal bukan dia yang menulis ceritanya.


'Frailty' diawali dari adegan dimana Fenton dewasa ( Matthew Mcconaughey ) mendatangi kantor agen FBI Wesley Doyle ( Powers Boothe ) untuk membongkar kasus tak terpecahkan berjuluk 'Pembantaian Tangan Tuhan' yang dilakukan keluarganya. Dalam perjalanan menuju tempat dimana dia hendak menunjukkan lokasi penguburan para korban, Fenton mulai menceritakan kisahnya pada agen Wesley. Dan film secara flashback mulai bergulir.


Well, pilem bertema supranatural-religius aslinya bukan selera gue. Kebanyakan dari mereka asli beneran konyol dan membosankan. Tentang stigmata lah, tentang darah keramat kristus, malaikat pelindung dll dll. nggak menarik. Tapi, bukan berarti gue serta merta nolak dan langsung ngebenci semua pilem yang mempunyai tema itu sih. Ntar gue jadi fanatik-fundamentalis-film dong haha. Soalnya,  kadang ndilalah kok adaa aja gitu yang bagus. Misalnya aja, meski gue nggak suka buah nanas, tapi pas dia dibikin jus, ternyata gue bisa juga ngabisin segelas. aneh. Mungkinkah cara pengolahannya, yang membuat gue tiba-tiba jadi bisa nikmatin nanas? ataukah cuma karena gue lagi naksir ama penjual es jus nya? Oke,  lupain analogi menyedihkan tentang nanas ini.

Dan gue juga nyoba buat nggak terpengaruh komentar Cameron, Raimi  atau King tentang pilem ini, tapi pada kenyataannya secara tak disangka2 'Frailty' yang mempunyai desain poister jelek ini emang berhasil membuat gue terpaku di depan layar GOM Player buat ngikutin cerita keluarga gila Meiks sampe abis.




Kehadiran 2 anak kecil nan polos ditengah-tengah kekerasan yang berlangsung jelas menambah efek creepy pilem ini. Gue mungkin bakal ketiduran nonton 'Frailty' seandainya tidak ada karakter anak kecil disini. Begitu juga dengan setting pertengahan tahun 70-annya. Gue suka banget. nggak tau kenapa.

Sementara itu, konflik di hadirkan dengan pertentangan  ide antara Fenton yang semakin lama semakin membenci ayahnya ( karena menganggap dia udah jadi psikopat ) dan fanatisme ayahnya yang semakin lama justru semakin kuat. Dia bahkan menganggap, Fenton yang berani menentangnya adalah 'iblis', lantas mengurungnya di ruang bawah tanah selama seminggu agar Fenton mendapat 'pencerahan'. Cukup menarik juga ngeliat kenyataan bahwa meski sang ayah terlihat kejam, tapi dia juga diceritain sangat menyayangi kedua puteranya dan mengaku sebenarnya tidak ingin melakukan semua aksi berdarah itu. Hanya saja, sang ayah selalu berdalih bahwa dia tidak kuasa menolak perintah Tuhan. Karakter Adam yang polos, terlihat tidak penting. Tapi, nantinya kalian akan tahu bahwa Adam juga mempunyai peran yang cukup krusial disini.

By the way, semua aksi kekerasan dalam pilem ini ditampilkan secara minimal dan off-screen, nggak ada cewe bugil, apa darah muncrat dalam jumlah massif. Tanpa elemen-elemen krusial diatas, jelas dibutuhkan script yang solid, cerita yang menarik, juga eksekusi sinematik yang tepat-guna untuk membuat gue terpikat pada sebuah pilem horror-thriller yang mempunyai premise cukup konyol : keluarga pembunuh berantai yang digerakkan motif supranatural-religius.

 

Jadi, silahkan taro semua hal-hal positif dari aspek teknis sinematografi yang kalian ngerti disini. Gue nggak ngerti hal-hal berbau teknis soalnya.

Di menit2 akhir, 'Frailty' juga mempunyai twist yang sebenernya udah sering dipake pilem lain, tapi tetep aja gue ketipu ama trik ini. 'belokan tajam cerita' berlapis yang terungkap pada akhir cerita membuat gue terpaksa menontonnya sekali lagi buat mastiin nggak ada poin-poin penting yang kelewat. Asli men, selain pas nongton pilem bokep JAV, jarang loh gue sampe mau-maunya nge-rewind pilem buat fokus merhatiin detil2 nya.

Sekarang, ngomongin poin yang hendak disampaikan 'Frailty' gue ngerasa itu sungguh membuat jidat berkerut dan membawa gue kembali pada pertanyaan yang gue sampein di awal review : apakah Nabi Ibrahim mengalami delusi atau dia memang sedang mengerjakan titah Tuhan? pertanyaan yang sama juga ditujukan buat mereka yang meletakkan bom di keramaian untuk membinasakan 'musuh Tuhan', dan juga buat para pembela Tuhan, yang dengan bersemangat menghabisi 3 nyawa di Cikeusik. itukah aksi tangan Tuhan?

Lalu, kenapa 'tangan Tuhan' tak segera jatuh untuk menumpas 'iblis-iblis' di gedung DPR?


ini akan menjadi sangat subyektif dan memancing debat kusir yang tak berujung pangkal.

Ada baiknya, jika kalian selalu mengingat bahwa kisah dalam 'Frailty' hanya sekedar cerita pilem, karenanya semua yang ada didalamnya juga cuma produk khayal seseorang yang sepertinya kurang tidur dan terlalu banyak menenggak alkohol. Dengan demikian, kalian mungkin akan bisa menikmati 'Frailty' sebagai hiburan biasa yang akan ngabisin waktu sejam setengah kalian yang ngebosenin itu dengan cukup layak.

Untuk menyebut 'Frailty' sebagai pilem terbaik di tahun 2001, kedengeran sedikit berlebihan. Walau begitu, Gue memang sangat menikmati pilem ini, sebuah thriller-psikologikal yang efektif dan menyentak. it's not gory. It's not very scary. But it's very, very deliciously-twisty-creepy.
.........................................................

TRIVIA : Di tahun 1986, Maradona, mengemban misi suci 'tangan Tuhan' buat menunjukkan kepada dunia bahwa Tuhan begitu ingin ngeliat Inggris kalah. Kemungkinannya,  Dia nggak mau kalah taruhan dengan iblis.


RATING:





Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



06 August 2010

MANIAC COP ( 1988 )

Storyline :

Kota New York mengalami terror aksi pembunuhan berantai. Siapa saja yang keluyuran malem-malem di jalan, kemungkinan besar akan didapati menjadi mayat esok harinya. Dari pengakuan para saksi, pihak kepolisian mendapat keterangan yang sama : pelakunya adalah sesosok pria tinggi-besar memakai...seragam polisi!

Siapa Jason Voorhess berseragam ini?

Kecurigaan Letnan Frank Mc Crae (Tom Atkins) jatuh pada salah satu anggotanya sendiri, Jack Forrest ( Bruce Campbell ), seorang polisi yang mempunyai masalah rumah tangga. Dan ketika istri Jack suatu hari ditemukan tewas, apalagi ketika polisi menemukan catatan istrinya yang mencurigai Jack sebagai 'Maniac Cop', tanpa ragu2 lagi polisi langsung menahan Jack Forrest.

Tuduhan polisi jelas salah, Matt Cordell adalah pelaku sebenarnya ( gue nggak merasa sedang ber-spoiler karena ini bukan film yang twisted sama sekali ). Matt Cordell ( Robert Z'Dar ) adalah mantan anggota kepolisian New York yang sebenernya berprestasi, namun disingkirkan departemennya yang korup. Dia dijebloskan ke penjara dan dibantai oleh orang2 suruhan. Well, Cordell Is Dead. Tapi ternyata ini juga salah..

Cordell ( entah gimana caranya ) ternyata masih hidup, dia bangkit..dan secara aneh mempunyai tenaga cukup kuat buat ngelemparin orang dan lebih ajaibnya..kebal peluru!! He's a Zombie, mutan, monster or what??? Dirasuki oleh kebencian dan dendam, Cordell kemudian menteror jalanan kota New York dengan seragam polisi lengkap.

Sementara itu, Theresa (Laurenca Landon) kekasih gelap Jack --yang juga anggota polisi-- dan ikut menyelidiki kasus ini, harus meyakinkan Letnan Mc Crae bahwa Jack Forrest tidak bersalah. Seperti biasanya, pihak kepolisian tidak percaya, dan akhirnya mereka berdua terpaksa harus berjuang mengungkap kasus ini, sebelum semuanya terlambat...jrengjrengjreng..*ga penting.


Review :

Gue udah nonton film ini dulu di bioskop Mulya yang legendaris di kampung Losari, Cirebon. Kalo ga salah, film inilah yang membuat gue untuk pertama kalinya mengenal kata 'Maniac'. Thanks untuk sodara Budi, karena berkat jasanya gue bisa nonton kembali film yang nyaris terlupakan ini hehe

Maniac Cop adalah sebuah film horror slasher eksyen low-budget yang dibuat jauh sebelum tren-slasher Wes Craven's Scream meledak.

Penulis Larry Cohen, ( 'It's Alive, Phone Booth, Body Snatchers, Cellular, Captivity dll ) nyoba ngasih kita jenis villain-slasher yang setipikal ama Jason Voorhess atau Mike Myers tapi dengan uniform yang beda : seragam polisi!

Apa itu kedengeran cool atau silly buat kamu? bayangin suatu malam kamu ditilang, dan polisi bukannya ngeluarin surat tilang, malah ngeluarin piso haha

Maka, dengan disutradarai ama William Lustig ( yang 8 tahun sebelumnya nge-direct film slasher hit 'Maniacs' ), Maniac Cop pun terciptalah. Seharusnya, dengan dirilisnya beberapa film ber-plot serupa ( Psycho Cop, Copkillers, Samurai Cop, Zombie Cop,  Scanner Cop, Bad Cop Chronicles atau Hot Fuzz ) genre Horror-eksyen akan mempunyai subgenre baru yaitu : policexploitation. haha

Yah Selayaknya film b-grade thrashy-campy laennya, Maniac Cop emang bukan jenis film yang dibikin buat meraih award atau pujian Roger Ebert. Dia punya pangsa pasarnya sendiri, yaitu orang yang terlalu cape buat mikir, dan pengen ngeberentiin sejenak fungsi otaknya dengan ngikutin plot yang dia udah tau bakalan gimana endingnya. Orang yang merasa terhibur ngeliat pembunuhan demi pembunuhan tersaji di depan layar tanpa harus mengkritisi apapun. Contohnya, orang-orang imbesil kaya gue. *bangga.

Jadi kalo kamu nanya kenapa Cordell yang penuh dendam itu malah ngebacok2in orang nggak bersalah di jalanan? jawabannya adalah : karena dia adalah 'Maniac Cop'.
Sebenernya dia itu apa? zombie, mutan, atau monster? jawabannya sama : dia adalah 'Maniac Cop'.
Terus, kenapa dia masih hidup, menjadi kuat dan bahkan kebal peluru? kita udah tahu jawabannya : karena dia adalah 'Maniac Cop' *pasrah

Balik ke review, diawali dengan adegan opening yang cukup menjanjikan, ngingetin ama openingnya Wes Craven's Nightmare On the Elmstreet, 20 menit awal film ini penuh ama adegan pembunuhan yang membuat gue berfikir ini akan jadi film slasher-splatter, namun di pertengahan, film berbelok menjadi model film2 suspense-investigasi yang nggak pengen gue liat. Untungnya tempo kembali naik menjelang akhir.

Satu alasan yang bikin gue pengen nonton film ini lagi adalah ketika tahu film ini dibintangin ama aktor pujaan horror-freak yaitu Bruce Campbell. iye, si 'Ash' itu. Berbeda ama perannya di Evil Dead , Bruce nggak mencoba ngelawak atau ngasih aura humor dengan mukanya yang innocent itu. Dia dapet peran serius, sebagai polisi yang punya masalah rumah tangga. Ah, rasanya seperti ngeliat Stephen Chow maen filmnye Martin Scorsese. Dan ternyata, bukan cuma si Bruce Campbell yang nongol, gue juga mendapat 'penampakan' Sam Raimi di sebuah scene-nya. Haha.

Sayangnya, --walau performa Bruce Campbell nggak mengecewakan-- penampakan dua ikon horror klasik itu nggak cukup membantu plot yang tipis ini. Maka, harapan gue tinggal pada adegan pembunuhannya. Kasih gue violent graphics ama gore yang banyak dan gue nggak akan mempermasalahin plot. Sayangnya lagi, gue nggak tahu apa film yang gue tonton ini versi un-cut nya apa bukan, soalnya gue nggak ngerasa kalo ini adalah film yang mempunyai rating R. Killing scene nya gue pikir terlalu PG13, padahal Maniac Cop punya premise yang bagus buat jadi gory ( polisi-psikopat yang bales dendam dengan ngebunuhin orang ) sementara setting kota New York tengah malam yang dimilkinya juga punya potensi bagus buat jadi 'medan pembantaian' yang scary. Apakah gory scenenya ke sensor?? ini rasanya seperti makan mie ayam tanpa saos. nanggung gitu.

Overall, kalo aja killing-scene nya dibikin hardcore + sekalian konyol, William Lustig's Maniac Cop punya kemungkinan buat jadi klasik di genre spesifiknya. 


Tapi kalo kamu bisa nge-skip poin minus tadi, film ini masih nawarin adegan hide, run and seek yang lumayan, eksyen tembak-tembakan, ama kejar-kejar an mobil di jalan raya khas film tahun 80-an yang diputer di TVRI usai berita terakhir. Bukankah formula tontonan yang pas untuk membunuh waktu? Terutama kalo kamu nontonnya 1 jam sebelum berbuka puasa. :D

Oh iya, selamat menunaikan ibadah puasa yah hehe.

++ Tahun 2008 lalu, sutradara muda Chris R. Notarile yang sepertinya big fans dari film ini, membuat sebuah promo-film pendek berdurasi sekitar 3 menit. Film pendek ini diberi judul sama, 'Maniac Cop'. Ini sepertinya adalah sebuah usaha Chris untuk memancing para produser supaya ngasih dia budget buat nge-remake film ini. Cek video promonya di bawah ini, n kalo kamu tertarik, silahkan kasih budget buat si Chris :P



Yang ini Trailernya :



Rating :
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

18 October 2008

MONSTER

 "I'm one who seriously hates human life and would kill again. So what's the point! Let's move on. I am asking here then for the Florida Supreme Court to step in and 'Do Something.'" - Aileen Wuornos (in a letter to the Florida Supreme Court pleading for execution, June 2001)

Ini adalah film yang diangkat dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 80-an yang menghantarkan Charlize Theron meraih Academy Award dan Golden Globe sebagai artis terbaik.

Berperan sebagai Aileen Wuornos salah satu pembunuh berantai yang pernah ada dalam sejarah serial-killers Amerika, aktingnya memang sungguh luar biasa.
Aileen mengalami masa kecil yang sulit dan keras. mempunyai keluarga yang bobrok dan di usia tiga belas tahun dia sudah menjadi pelacur. Menginjak remaja dia pindah ke Florida dan bertahan hidup di jalan dengan menjadi pelacur pinggir jalan yang melayani nafsu para pengendara mobil yang kesepian. Kehidupan yang demikian keras, membuat dia menjadi seorang yang introvert, kasar dan liar.

Jalan hidupnya mulai berubah, ketika dia bertemu dengan Selby ( Christina Ricci ), seorang gadis kesepian yang juga bosan dengan keluargamya. Aileen akhirnya jatuh cinta pada Selby dan menjalin hubungan lesbi dengannya.


Dijalanan Aileen kerap menerima perlakuan buruk dari orang2 yang memandang rendah profesinya sebagai pelacur. Tak jarang, pria yang me ’makai’ nya juga melakukan penyiksaan kepadanya. Ini membuat dia merasa terbuang dan direndahkan harga dirinya.

Sampai suatu saat, ketika dia tak mampu menahan emosinya. Dia menembak mati pria yang menyiksanya. Itu adalah pembunuhan pertamanya.


Selby diajak kabur dari rumah dan pergi bersamanya..setelah pembunuhan pertama itu, Aileen sempat ingin merubah hidupnya dan menjalani hidup normal bersama Selby. Dia mulai mencari pekerjaan ‘normal’. Tapi, perusahaan mana yang mau mempekerjakan orang dengan latar belakang seperti Aileen? Bahkan gereja saja menolaknya. Putus asa, karena benar2 membutuhkan uang untuk menunjang hidup kekasihnya, Selby, Aileen kembali melacur di pinggir jalan..tapi, dia sudah muak dengan sex dan pria-pria hidung belang. Maka, yang dilakukannya adalah membunuh para pelanggannya dan merampoknya!

Dia melakukan serentetan pembunuhan dan perampokan mobil, yang berujung pada penangkapan dirinya.
Aileen Wuornos dieksekusi mati pada tahun 2002 setelah menjalani penahanan selama 12 tahun.

Itulah kisah hidup Aileen Wuornos yang tragis.


Aileen 'Lee' Carol Wuornos ( yang asli )
Born: February 29, 1956 as Aileen Carol Pittman
Birthplace: Rochester, Michigan, USA
Died: October 9, 2002 - execution by lethal injection


Oke, kekuatan film ini memang akting Charlize Theron yang luar biasa. Lihat bagaimana ekspresi, gestur, dan cara berbicaranya menimbulkan kesan bahwa dia memang jalang dan liar, bahkan ketika ia melamar pekerjaan dan berpakaian rapih pun dia tetap kelihatan jalang. Juga kerutan2 diwajahnya seperti wajah wanita yang sarat permasalahan, beban hidup dan tamparan kerasnya jalanan. lihat juga bagaimana cara Charlize Theron menghisap rokoknya…keren!! jangan bayangkan wajah menawan Charlize Theron seperti di film Mighty Joe Young atau Sweet November, di film ini wajahnya benar-benar berubah menjadi saperti pelacur jalanan sekaligus pembunuh anti sosial!! Cukup puja-puji untuk akting si Charlize ini.


Kisah hidupnya juga sedikit menjungkirbalikan stereotype pelacur yang biasanya malah jadi korban psikopat. Dalam kisah ini, sang pelacurlah yang menjadi predator. Juga tentu saja, kisah ini berbeda dari kasus Ryan dari Jombang itu, karena pembunuh berantai dalam kisah ini adalah seorang lesbian! Tapi, entah kenapa gue malah jatuh simpati pada Aileen Wuornos…

dia bukanlah pembunuh gila yang menikmati aksi nya sebagai kesenangan, tapi lebih kepada seorang yang begitu muak dan dendam pada kehidupan yang ‘membuang’ nya. Di luar itu, Aileen tetaplah seorang manusia yang punya hati dan membutuhkan cinta.
Jangan-jangan masih banyak Aileen-Aileen lainnya diluar sana yang terbuang dari hidup, butuh cinta dan perhatian dari kita, namun tak kunjung mendapatkannya..dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk meledakkan revolver nya di keramaian?!!

Film ini bagus, gue pernah nonton dua film yang diangkat dari kisah nyata pembunuh berantai di Amerika yang pertama adalah ‘Ed Gein’ ( jagal dari Plainfiled yang menginspirasikan Hollywood untuk membuat karakter fiktif Thomas Hewitt sang pembantai bergergaji mesin dari Texas ), lalu yang ke dua T.B.K -Torture, Bind, Killing- ( kisah seorang ayah kelainan jiwa yang membunuh-i pelacur yang di sewa nya ) dan keduanya di perankan oleh Kane Hodder. Nah, dibandingkan 2 film itu yang lebih menonjolkan ke gore-an nya, film ‘Monster’ besutan sutradara Patty Jenkins ini lebih memenuhi selera menonton gue.

Sekedar nanya, udah ada belum yah film yang mengisahkan hidup si pembunuh berantai legendaris dari Amerika juga yaitu, Ted Bundy?? Kalo ada dan kamu punya, minjem doooong hehehehehe


Rating gue untuk film ini adalah ‘applause panjang’.