Showing posts with label crime. Show all posts
Showing posts with label crime. Show all posts

14 January 2017

Open Windows (2014) : Sang Idola Yang Turun Ranjang

Reviewed By GAMBIR


Saya ingin berterima kasih kepada KK Dheeraj yang telah memperkenalkan Sasha Grey lewat Pocong Mandi Goyang Pinggul nya. Saya baru tahu perihal bintang porno ini setelah kontroversi filmnya beberapa tahun lalu yang ribut-ribut dengan FPI, karena jujur di Pornhub saya lebih anteng dengan JAV ( japan adult video ) dibanding AV (adult video). 

Setelah berkarir selama 5 tahun dengan membintangi 300 lebih film biru Sasha Grey memutuskan untuk pensiun. Dan belakangan dia lebih disibukan dengan bermain dibeberapa serial tv dan film, juga mengisi suara untuk  video game. Bagi saya Sasha Grey sangat cerdik menjadikan film porno sebagai bantu loncatan dalam karirnya. Dia sadar dunia peresek-esekan tidak akan bertahan lama baginya, mengingat bukan hanya penampilan saja yang menjadi daya pikat dari  industri ini tetapi juga performanya. Jadi sebelum tubuhnya keriput dan tak lagi menjadi komoditi dia memberanikan diri untuk ikut bersaing di industri film blockbuster. 

Perjalanan Grey tentunya akan sangat panjang sebelum dia dilirik oleh hollywood sebagai salah satu aktris yang patut diperhitungkan. Namun rupanya bermain di film Open Windows bersama Elijah Wood bagi saya patut dia sukuri sebagai keberuntungan yang luar biasa. 

Hey, siapa yang tidak mengenal hobit yang satu ini, walaupun setelah berhenti dari trilogy LOTR  nampaknya Elijah Wood tak banyak bermain di film-film garapan rumah produksi besar. Apakah karena tinggi badannya ? atau peran Frodo yang kandung melekat pada dirinya ?. Daniel Radcliffe setidaknya lebih beruntung bisa lepas dari bayang-bayang Harry Potter dan masih dipercaya memerankan karakter lain oleh rumah produksi besar. 

13 December 2016

Headshot ( 2016 ) : Cheesy Romance with a Mindless Violence

This review may contain minor-spoiler! 

Setelah membuat kisah tentang keluarga kanibal ( Rumah Dara ) dan jurnalis stres vs psikopat dari Jepang ( Killers ), rupanya Mo Brothers ( Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel ) ingin menjajal genre baru  di luar zona pilihan mereka selama ini. Mungkin karena terinspirasi kesuksesan The Raid & Berandal atau mungkin juga karena genre ini masih belum jauh-jauh amat dari apa yang menjadi kegemaran mereka : muncratan darah ama kekerasan ekstrim.  Ya, action. Lebih spesifik lagi, hardcore-action. Tentunya menarik buat tau sejauh mana duo sakit jiwa ini mampu bermain di area baru ini, terutama setelah standar di genre hardcore-action sudah di kerek begitu tinggi oleh Gareth Evans lewat The Raid & Berandal.  

Mo Brothers mengambil premis klasik tentang pria amnesia yang diburu orang-orang dari masa lalunya yang kelam. Semacam Jason Bourne meets Kill Bill lah. Mo's kemudian nambahin itu dengan drama-romansa sebagai bumbunya. Nah, bagian romansa ini selain dimaksudkan untuk meraih pasar yang lebih luas, menurut gue juga bisa jadi pemanis dari pahitnya kekerasan yang akan hadir nanti. 

Cheesy Romance


Sayangnya, relasi antara Ailin ( Chelsea Islan ) dengan Ishmael  ( Iko Uwais ) terasa kurang kuat. Selain karena pendekatannya yang terasa FTV-esque, maksud gue gimana seorang dokter cantik-muda bisa begitu mudah terlibat hubungan dengan seorang pria misterius yang ga jelas asal-usulnya? ( hey, tapi ini bisa aja kejadian kalo lu punya perut sixpack! ), juga karena proses hubungan ( dari relasi antara perawat-pasien sampe ke berpelukan-dibawah-payung-imut ) yang diceritakan berkembang terlalu cepat. Mo Bros bukannya ngga berusaha untuk membuat ini terasa manis, hanya saja effortnya terasa kurang maksimal ( atau tidak bekerja ) di sejumlah aspek. Imbas dari ini adalah datarnya emosi gue pas ngeliat adegan yang dimaksudkan untuk menjadi sentimentil-emosional. Tentu saja, ini sangat disayangkan kalo nginget Chelsea Islan sebenernya tampil cukup bagus disini ( terutama dibagian dia berlumuran darah hehe ). Pada naskah yang ditulis dengan lebih matang, drama-romansa bisa tetap menjadi bagian yang sama menariknya dengan kekerasan tingkat tinggi yang hadir dibagian lainnya, contohnya seperti yang udah ditunjukin dalam Near Dark atau True Romance

23 September 2016

Don't Breathe ( 2016 ) : Meraba langkah di kegelapan yang menyesakkan

Barangkali alesan paling besar yang membuat gue bersemangat ama film ini adalah karena nama Fede Alvarez didalamnya. Buat yang belum tau, sutradara asal Uruguay ini udah memberi gue banyak kesenangan lewat remake Evil Dead tiga tahun silam. Sementara itu, cerita dalam Dont' Breathe sendiri bukan sesuatu yang baru, cek postingan blog ini sebelumnya untuk ngeliat film-film laen yang punya ide similiar. Premisnya sangat sederhana, tentang pemilik rumah yang terpaksa harus mempertahankan diri dari penyusup. Yup, thriller home invasion! subgenre ini   menjanjikan thrill-ride seru namun dengan rute yang begitu predictable. Ini sangat riskan dan menurut gue sedikit aje 'sopir'nya salah 'nyetir', film ginian akan dengan mudah nyungsep di selokan. Tapi, hey, ini filmnya Fede Alvarez dan ada nama Jane Levy, Sam Raimi, serta Rob Tapert disana yang kembali terlibat. So, antusiasme gue cukup tinggi. 
 
Jadi folks, ceritanya sederhana aja

 
Sekelompok pencuri remaja Money ( Daniel Zovatto ), Alex ( Dylan Minnette ) ama Rocky ( Jane Levy ) mutusin buat ngerampok rumah yang diatas kertas adalah sebuah target empuk.  Pertama, rumah itu terletak di pemukiman sepi, kedua, pemiliknya diketahui menyimpan sejumlah besar uang, ketiga, dia tinggal sendirian dan jekpotnya adalah..dia seorang tuna netra! Apa yang terasa akan menjadi sebuah perampokan mudah, secara tak disangka berubah menjadi perjuangan survival dimana para perampok amatir ini akhirnya cuma berharap bisa keluar dari rumah itu hidup-hidup. Ya, veteran tua bertubuh kekar ( Stephen Lang ) yang meski buta namun memiliki insting kuat ini bertekad nggak akan ngebiarin itu terjadi.


11 August 2016

Stuck ( 2007 ) : Satire-horror that 'stuck' with the viewer

Kalian perhatiin deh desain posternya, udah kaya headline tabloid kriminal murahan ya haha. Tapi btw,  cerita  pilem ini emang terinspirasi dari sebuah berita kriminal yang rame di tabloid2 Texas, Amerika di tahun 2001 silam.

Real Story

 

Beritanya emang sangat aneh dan tragis, yaitu tentang insiden tabrak lari yang dilakukan oleh seorang perawat bernama Chante Jawan Mallard. Korbannya adalah Gregory Glen Biggs seorang gelandangan berusia 37 tahun. Jadi folks, karena benturan, tubuh Biggs terlontar menembus kaca depan, membuat dia kemudian nyangkut ( stuck! ) dengan posisi setengah tubuhnya ( dari pinggang keatas ) masuk ke bagian depan mobil Chante. Nah, si Chante  karena panik, bukannya lapor polisi atau ngebawa korban ke RS, malah nerusin perjalanan pulang. Dia lalu nyembunyiin mobilnya di garasi ( dengan tubuh sekarat Biggs masih merintih rintih diatasnya ), dan ngebiarin hobo malang itu akhirnya meninggal kehabisan darah. Sehari kemudian, dibantu dengan dua teman prianya, Chante lalu ngebuang mayat Biggs di sebuah taman. 

Kasus ini sepertinya akan hilang tanpa jejak. Sampe sekitar 3 bulan kemudian, dalam keadaan mabuk, Chante malah nyeritain sendiri insiden ini ke temennya. Si teman yang shock ngedenger cerita itu,  langsung lapor polisi yang segera bergerak cepat menangkap Chante. Setelah menjalani persidangan, pengadilan akhirnya memvonis doi 50 tahun.


Seorang seniman ( Emi Gennis ) membuat cerita bergambar untuk kasus ini, kalian bisa ngeliatnya disini The Unusual Death Of Gregory Biggs

 

01 August 2016

Near Dark ( 1987 ) : Romansa dan petualangan ugal-ugalan geng vampir ala Kathryn Bigelow

Jauh sebelum menyutradarai pilem  drama-action perang timur tengah The Hurt Locker ( ya, yang menang Academy Award itu ) ama pilem blockbuster perang timur tengah laennya,  Zero Dark Thirty, dan hanya beberapa tahun sebelum namanya terangkat oleh Point Break ( 1991 ), sutradara Kathryn Bigelow ternyata mengawali solo-directorial debutnya  dengan nancepin taring di genre pilem horror, judulnya : Near Dark. Gue terjemahin secara bebas berarti sendakala atau menjelang maghrib ( gelap ) hehe.

Gue baru nonton filmnya kemaren, dan dengan cepat bisa gue katakan kalo ini salah satu film vampire paling brutal ( juga romantis ) di era 80'an.


Meski begitu, ketika dirilis, Near Dark ternyata gagal di box office. Penyebabnya diduga karena pilem ini rilis ditahun yang sama ( hanya beda beberapa bulan ) dengan pilem bertema vampir laennya yang lebih besar, The Lost Boys ( 1987 ). Alesan laennya adalah karena studio yang memproduksi pilem ini , DEG (DeLaurentiis Entertainment Group) saat itu sedang diawal kebangkrutan, akibatnya Near Dark tidak mendapat publisitas layak dan akhirnya K.O di box office.


Kita langsung ke ceritanya,


22 July 2016

Green Room ( 2016 ) terror gig dari neraka

Cukup lama gue nungguin pilem ini. Pertama, karena gue lumayan suka Blue Ruin ( 2013 ) , yang merupakan pilem ke dua sang sutradara Jeremy Saulnier ( debut pertamanya adalah sebuah horror komedi low budget Murder Party -2007- ). Kedua, desain kovernya keren ngingetin gue pada kover album The Clash "London Calling", dan alesan yang ketiga adalah pilihan tema yang lagi-lagi, menurut gue  kreatif. 

Buat yang belum tau, green room adalah sebuah ruangan/kamar di belakang panggung/venue/studio yang di sediakan untuk performer sebelum mereka tampil.


Nah, dari kata kunci green room inilah, Saulnier mulai nge-develop ceritanya. 


Btw, sekilas info Saulnier memang pernah menjadi bagian dari skena hardcore/punk di Virgina pada tahun 90an. Dia menghadiri banyak gigs, jatuh cinta dengan estetika dan energi musik hc/punk, dan bahkan bergabung dalam sebuah band ( No Turn On Fred ). Gue duga Saulnier mendapatkan ide tentang Green Room ini ketika band nya sedang menunggu waktu manggung di kamar tunggu sebuah venue gig. Dan ide itu terus berkembang liar. 


Dalam sebuah wawancara, Saulnier mengaku bahkan sudah pernah membuat pilem pendek  micro-budget ( untuk sebuah festival kecil ) yang mengambil setting sebuah green room. Ceritanya konon tentang sebuah ben heavy metal yang muter musik secara kebalik dan nggak sengaja malah ngebangkitin iblis-iblis ( laaaaah malah mirip 'Deathgasm' yaa haha ). 


19 April 2016

The Invitation ( 2016 )

Selalu menyenangkan menemukan sebuah film yang diluar dugaan ternyata mampu melampaui ekspektasi. Sejujurnya, ngeliat desain posternya gue emang skeptis ama pilem ini. Terlihat medioker, kaya sebagian besar pilem thriller-horror yang gue dapet dari situs2 download gratisan itu. Jadi gue nggak berharap banyak, lagipula gue lebih milih nonton ini daripada ngerjain revisi kerjaan. Viva la procrastination!

.......................................

Seperti judulnya, The Invitation nyeritain tentang undangan.

2 tahun setelah sebuah tragedi yang menghancurkan rumah tangganya, Will ( Logan Marshall-Green ) mendapat undangan pesta makan malam dari mantan istrinya, Eden ( Tammy Blanchard ) dan suami baru nya, David ( Michiel Huisman ). Will pun memenuhi undangan itu, dia datang bersama pacar baru, Kira. Sesampai di lokasi pesta ( rumah sang mantan istri ), disana sudah berkumpul setengah lusin teman lama yang rupanya juga diundang oleh Eden. Will pun berjumpa kembali dengan Eden, dan dia segera menyadari satu hal : mantan istrinya telah jauh berubah dari yang dulu pernah dia kenal. Eden yang baru. Eden yang mengaku bahwa semua penderitaan, trauma dan duka nya kini telah lenyap tak berbekas. 

14 December 2014

The Raid 2 : Berandal

Written By 'R'

Gue sebenernya langsung nulis review film ini sejak keluar dari bioskop di hari pertama pemutarannya. Tapi tumpukan pekerjaan membuat tulisan terhenti ketika baru nyampe 80%. Bulan demi bulan berlalu,  euphoria film ini mulai turun, kemudian gue ngerasa nggak perlu nerusin nulis reviewnya. Lagipula, bukankah akan sangat telat kalo gue mostingnya sekarang?

tapi, kemudian gue mikir lagi, gue ngerasa telat mosting review The Raid 2,tapi kenapa gue nggak ngerasa telat pas ngereview film film jadul tahun 40-an?? hehe


Jadi bro, gue akhirnya ngebuka kembali file review setengah jadi itu, menyelesaikannya, kemudian langsung mostingnya disini.

Ini dia.

....................


Satu pertanyaan menyelinap di benak gue sehabis nonton pilem ini. Kenapa subjudulnya Berandal? bukan apa-apa, gue nggak ngeliat satupun berandal keliatan di pilem ini, kalo diinget2 gue malah lebih banyak nemuin banyak berandalan dalam The Raid 1 : Redemption. Ya, preman pasar, penjahat liar, bajingan ugal-ugalan dan pembunuh brutal dalam pilem pertamanya menurut gue lebih pantes di sebut berandal. Lebih jauh, gue juga nggak nemuin adegan penyerbuan ( The Raid ) dalam The Raid 2.

Baiklah, skip aja pertanyaan nggak penting diatas hehe

Kita, langsung aja ke poin poin pentingnya :

07 November 2014

EDISI I-LOVE-KOREA: MEMORIES OF MURDER (2003)

Written By Ming

Pengantar

Anda salah satu korban Korean Wave (jelas yang saya maksud Korea di sini dan nantinya adalah Korea Selatan, bukan tetangganya yang punya pemimpin berambut Mohawk itu) dengan drama-drama cintanya yang cute dan mengharu biru? Atau penggemar boyband-girlband-groupband—apapun itu sebutannya dengan personel berwajah boneka hasil polesan operasi plastik? Atau begini, setidaknya anda bakal mengetatkan ikat pinggang dengan berpuasa atau cukup mengonsumsi Indomie 3 kali sehari, misalnya, hanya untuk memiliki tablet Samsung terbaru, bukan? Hohoho, tenang saja. Anda tidak sendiri. Saya pun salah satu korban gelombang budaya Korea yang telah mengglobal. 

Cuma, yang saya gemari ini bisa dibilang sepi penggemar di sini—jika dibandingkan dengan produk Korea yang sudah saya sebut di atas, dan cuma bisa jadi obrolan seru sesama penggemar film horror beserta turunannya yang bisa dibilang masih satu spesies dengan pengunjung setia—dan tidak setia—blog horror kacangan (saya sebagai salah satu kontributor abadi dan satu-satunya, memang sudah mengajukan proposal kepada editor blog ini untuk mengganti saja nama Horror Popcorn menjadi Horror Kacang) yang makin sepi postingan hingga membuat sekelompok penggemar fanatik melakukan demo di depan kantor fiktif kami. 

01 November 2014

7 Days (Les 7 jours du talion) (2010)

Bales Dendam. Tema ini nggak pernah abis ( dan basi ) buat diangkat ke layar lebar. Dan sebenernya, kalo ngomongin film bertema bales dendam, ingetan gue akan langsung tertuju ke revenge-movies produksi Korea Selatan. Bukan apa-apa, soalnya kalo misalnya suatu saat gue mesti ngelist 10 pilem thriller crime revenge terbaik, separuh lebih isinya akan diisi oleh film-film produksi orang2 sakit dari negeri itu. Mungkin gue akan bikin listnya suatu hari nanti, tapi untuk kali ini, gue pengen cerita dulu tentang yang satu ini.

7 Days tuh film kecil bertema bales dendam produksi Kanada garapan sutradara asal Perancis, Daniel Grou ( film ini berbahasa Perancis dan diisi aktor/aktris asal perancis, meski sutingnya mengambil tempat di Kanada ). Screenplaynya ditulis oleh Patrick Senécal, berdasarkan novel karyanya sendiri 'Les sept jours du talion'.

Jadi plotnya simpel aja

14 July 2013

ROPE ( 1948 )

Storyline : 


Entah buku siapa yang dia baca ( namun nama Nietzsche dengan teori 'Super Man' nya disebut-sebut disini ) , Rupert Candell ( diperankan oleh James Stewart yang 6 tahun setelah film ini menjadi pemeran utama dalam salah satu karya fenomenal Hitchcock 'Rear Window' ) mempercayai teori bahwa manusia yang superior secara intelektual dan berkepribadian unggul dimana mereka dianggap telah melampaui konsep moral tradisional tentang baik-buruk atau benar-salah, berhak melakukan pembunuhan ( yang disebutnya juga sebagai 'karya seni' ) terhadap manusia bodoh-menyedihkan-tak berguna dari kelas sosial yang lebih rendah. Lebih jauh, setengah bercanda Rupert juga berkata kalo dia percaya pada ekstremis yang mengharuskan adanya musim membunuh setiap tahun, atau 'pekan penggorokan' atau bahkan 'hari pencekikan'. Tentunya, jika umat manusia menjalankan ide itu, gue --sebagai manusia berkasta paling menyedihkan yang datang dari ras terbelakang mental-- pastilah akan menjadi salah satu yang bernasib paling mengerikan di 'pekan penggorokan' yang diadakan para super human. 

Beruntunglah, Rupert menyampaikan gagasan horor itu hanya setengah serius di sebuah pesta para kolega yang di penuhi gelak tawa. 


14 June 2012

FRAILTY ( 2001 )

Selain motif dendam, ekonomi, politik atau kelainan jiwa ( psikopat ), motif apa lagi yang paling sering me latar-belakangi terjadinya kasus pembunuhan berantai? Gue ga tau di negara lain, tapi di Indonesia, yang sering gue denger dari media salah satunya adalah motif  ilmu hitam. Kita bisa liat pada kasus Sumanto atau di beberapa kasus lain yang gue lupa, pelakunya mengaku melakukan serangkaian pembunuhan dalam rangka mendapatkan ilmu kesaktian. Tolol memang hehe. Nah, selain ilmu hitam, ada satu motif lain yang sering gue baca sebagai alasan seseorang untuk menghabisi nyawa orang lain.

Pernah baca berita tentang seseorang ( atau sekelompok orang ) yang membunuh karena konon mendapat semacam bisikan/wahyu dari Tuhan?

Mungkin kasus semacam itu bisa langsung kalian komentari sebagai bagian dari gejala sakit jiwa. Delusional? Skizophrenia? Namun, jikalau memang begitu halnya, apakah kalian juga akan berkata hal yang sama pada Nabi Ibrahim yang konon diwahyukan Tuhan untuk menyembelih puteranya sendiri?


Storyline :




Disebuah kota kecil, di Texas sekitar tahun 70-an, sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, Dad Meiks ( Bill Paxton ), dan dua puteranya Fenton ( Matt O' Leary ) dan Adam ( Jeremy Sumpter ) terlihat bahagia walau baru saja kehilangan sang ibu tercinta.

Semuanya terlihat baik-baik saja, sampai pada suatu hari...
sang ayah bercerita pada ke dua putera nya bahwa semalam dia baru saja mendapat 'vision' ( penampakan ) dari malaikat yang menyampaikan sebuah pesan dari Tuhan buat keluarga kecil mereka.

Konon sang malaikat yang menampakkan diri itu berkata bahwa hari kiamat sudah dekat. Iblis-iblis dikatakan telah menguasai bumi. Dan Tuhan telah memilih keluarga mereka menjadi 'God Hand's' ( tangan Tuhan ) untuk membantu melenyapkan semua iblis yang meraja lela dibumi. Dikatakan lagi, mereka harus menunggu karena Tuhan sedang menyiapkan senjata  untuk mereka beserta informasi daftar nama 'iblis' yang harus mereka musnahkan.

Mendengar itu, Adam ( yang berusia sekitar 6 tahun ) terlihat sangat antusias karena mengira dia akan menjadi semacam superhero pembasmi kejahatan pilihan Tuhan, tapi Fenton, ( 12 tahun ) rupanya bersikap skeptis dan meyakini ada yang salah dalam otak ayah nya. Sementara itu, sang ayah sendiri masih terlihat bingung dengan pengalaman spiritual nya.

Hingga pada suatu hari, ketika Dad Meiks dalam perjalanan, dia mendapat 'vision' sebuah rumah kosong ditengah tanah lapang yang secara aneh disinari selarik cahaya dari balik awan-awan. 


Dia pun memasuki rumah itu dan segera mengetahui bahwa selarik cahaya dari langit tadi, ternyata menyorot langsung ke beberapa benda di tengah2 ruangan. 
jreeeeeng!
Itu adalah sebuah kampak ( ! ) bertuliskan OTIS di gagangnya dan sepasang sarung tangan. Itukah senjata yang dijanjikan Tuhan buatnya ?? OTIS? it's 'Only The Idiot Survive'? 
Di lain hari, sang ayah kembali melihat penampakan dari malaikat ( di gambarkan bersayap dan menghunus sebilah pedang ) yang memberikan daftar nama 'iblis-iblis' yang harus segera keluarga ini lenyapkan.

Sekarang Dad Meiks yakin bahwa dia dan kedua puteranya memang ditakdirkan harus mengemban 'misi suci' Tuhan. Senjata dan daftar nama 'iblis' sudah di berikan , kini saatnya melakukan aksi...

gambaran seseorang yang baru saja mendapat pencerahan

Keluarga ini pun mulai melakukan serangkaian pembunuhan berdasarkan daftar nama yang konon diberikan 'malaikat'. Fenton tak setuju aksi ini dan menganggap ayahnya sudah gila ( dia bahkan pernah punya rencana kabur dan memberitahukan aksi gila sang ayah pada orang-orang ), namun pada akhirnya dia tak mampu berbuat banyak, sementara Adam malah terlihat menikmati aksi 'superhero' mereka.

Jadi, setelah mendapat nama dari 'malaikat', keluarga ini akan melacak alamat sang 'iblis' untuk kemudian mendatangi rumah nya, sang ayah lalu akan  melumpuhkannnya dengan pipa besi, lantas membawa 'tersangka iblis' ini ke ruang bawah tanah untuk memastikan apakah orang yang mereka bawa itu memang iblis atau bukan ( konon Dad Meiks bisa melihat dosa apa saja yang sudah dilakukan orang dihadapannya dengan mencengkeram kepalanya  ). Jika sudah pasti, maka  di saksikan ke dua puteranya, Dad akan segera melakukan 'ibadah' melenyapkan 'iblis' dengan mengkampaknya! ( mungkin juga memutilasinya, karena kemudian kita akan melihat ketika keluarga ini menguburkan korban, ternyata jenazah berada dalam kantong2 plastik terpisah berukuran kecil ).

Bertahun tahun kasus yang kemudian terkenal di Texas dengan sebutan 'Pembantaian Tangan Tuhan' ini tak pernah terungkap ( oh my..ada berapa orang gila dan pembantaian sebenarnya di Texas?? ).

Hingga suatu saat,
Fenton yang telah beranjak dewasa ( diperankan oleh Matthew McConaughey ) dan sejak awal tak setuju dengan apa yang dilakukan ayah dan adiknya, akhirnya memutuskan untuk mengungkap kegilaan mereka dengan menceritakan semuanya pada seorang agen FBI. Fenton bahkan bersedia menunjukkan lokasi dimana mereka menguburkan jasad para korban.


Seakan semuanya akan berakhir disini..
tapi ternyata....

...

tidak.


Review :


Film ini dibuat konon diilhami dari kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Joseph Kallinger bersama puteranya Michael ( yang baru berusia 13 tahun ), dimana ayah-anak ini melakukan 3 pembunuhan dan menyiksa 4 keluarga pada sekitar tahun 1974-1975 di New Jersey. Sama seperti keluarga Meiks dalam kisah film 'Frailty' ini, Joseph Kallinger juga mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah Tuhan.


Merupakan debut penyutradaraan film-panjang Bill Paxton ( lebih dikenal sebagai aktor dan dia juga memerankan karakter Dad Meiks di pilem ini ) setelah di tahun 80-an hanya menyutradarai pilem pendek dan satu serial TV, 'Frailty' yang boleh dibilang sebagai pilem berbujet rendah, tidak meraih sukses secara komersial, walau begitu film ini ternyata mendapat cukup banyak komentar positif dari audiens. Termasuk yang memuji pilem ini diantaranya adalah James Cameron, Sam Raimi dan Stephen King ( kemana Peter Jackson? ). Khusus Stephen King, dia bahkan menyebut 'Frailty' sebagai pilem horror-thriller terbaik di tahun 2001. Filmnya gue pikir memang sangat berbau Stephen King. Bisa gue bayangin kalo King menyesal bukan dia yang menulis ceritanya.


'Frailty' diawali dari adegan dimana Fenton dewasa ( Matthew Mcconaughey ) mendatangi kantor agen FBI Wesley Doyle ( Powers Boothe ) untuk membongkar kasus tak terpecahkan berjuluk 'Pembantaian Tangan Tuhan' yang dilakukan keluarganya. Dalam perjalanan menuju tempat dimana dia hendak menunjukkan lokasi penguburan para korban, Fenton mulai menceritakan kisahnya pada agen Wesley. Dan film secara flashback mulai bergulir.


Well, pilem bertema supranatural-religius aslinya bukan selera gue. Kebanyakan dari mereka asli beneran konyol dan membosankan. Tentang stigmata lah, tentang darah keramat kristus, malaikat pelindung dll dll. nggak menarik. Tapi, bukan berarti gue serta merta nolak dan langsung ngebenci semua pilem yang mempunyai tema itu sih. Ntar gue jadi fanatik-fundamentalis-film dong haha. Soalnya,  kadang ndilalah kok adaa aja gitu yang bagus. Misalnya aja, meski gue nggak suka buah nanas, tapi pas dia dibikin jus, ternyata gue bisa juga ngabisin segelas. aneh. Mungkinkah cara pengolahannya, yang membuat gue tiba-tiba jadi bisa nikmatin nanas? ataukah cuma karena gue lagi naksir ama penjual es jus nya? Oke,  lupain analogi menyedihkan tentang nanas ini.

Dan gue juga nyoba buat nggak terpengaruh komentar Cameron, Raimi  atau King tentang pilem ini, tapi pada kenyataannya secara tak disangka2 'Frailty' yang mempunyai desain poister jelek ini emang berhasil membuat gue terpaku di depan layar GOM Player buat ngikutin cerita keluarga gila Meiks sampe abis.




Kehadiran 2 anak kecil nan polos ditengah-tengah kekerasan yang berlangsung jelas menambah efek creepy pilem ini. Gue mungkin bakal ketiduran nonton 'Frailty' seandainya tidak ada karakter anak kecil disini. Begitu juga dengan setting pertengahan tahun 70-annya. Gue suka banget. nggak tau kenapa.

Sementara itu, konflik di hadirkan dengan pertentangan  ide antara Fenton yang semakin lama semakin membenci ayahnya ( karena menganggap dia udah jadi psikopat ) dan fanatisme ayahnya yang semakin lama justru semakin kuat. Dia bahkan menganggap, Fenton yang berani menentangnya adalah 'iblis', lantas mengurungnya di ruang bawah tanah selama seminggu agar Fenton mendapat 'pencerahan'. Cukup menarik juga ngeliat kenyataan bahwa meski sang ayah terlihat kejam, tapi dia juga diceritain sangat menyayangi kedua puteranya dan mengaku sebenarnya tidak ingin melakukan semua aksi berdarah itu. Hanya saja, sang ayah selalu berdalih bahwa dia tidak kuasa menolak perintah Tuhan. Karakter Adam yang polos, terlihat tidak penting. Tapi, nantinya kalian akan tahu bahwa Adam juga mempunyai peran yang cukup krusial disini.

By the way, semua aksi kekerasan dalam pilem ini ditampilkan secara minimal dan off-screen, nggak ada cewe bugil, apa darah muncrat dalam jumlah massif. Tanpa elemen-elemen krusial diatas, jelas dibutuhkan script yang solid, cerita yang menarik, juga eksekusi sinematik yang tepat-guna untuk membuat gue terpikat pada sebuah pilem horror-thriller yang mempunyai premise cukup konyol : keluarga pembunuh berantai yang digerakkan motif supranatural-religius.

 

Jadi, silahkan taro semua hal-hal positif dari aspek teknis sinematografi yang kalian ngerti disini. Gue nggak ngerti hal-hal berbau teknis soalnya.

Di menit2 akhir, 'Frailty' juga mempunyai twist yang sebenernya udah sering dipake pilem lain, tapi tetep aja gue ketipu ama trik ini. 'belokan tajam cerita' berlapis yang terungkap pada akhir cerita membuat gue terpaksa menontonnya sekali lagi buat mastiin nggak ada poin-poin penting yang kelewat. Asli men, selain pas nongton pilem bokep JAV, jarang loh gue sampe mau-maunya nge-rewind pilem buat fokus merhatiin detil2 nya.

Sekarang, ngomongin poin yang hendak disampaikan 'Frailty' gue ngerasa itu sungguh membuat jidat berkerut dan membawa gue kembali pada pertanyaan yang gue sampein di awal review : apakah Nabi Ibrahim mengalami delusi atau dia memang sedang mengerjakan titah Tuhan? pertanyaan yang sama juga ditujukan buat mereka yang meletakkan bom di keramaian untuk membinasakan 'musuh Tuhan', dan juga buat para pembela Tuhan, yang dengan bersemangat menghabisi 3 nyawa di Cikeusik. itukah aksi tangan Tuhan?

Lalu, kenapa 'tangan Tuhan' tak segera jatuh untuk menumpas 'iblis-iblis' di gedung DPR?


ini akan menjadi sangat subyektif dan memancing debat kusir yang tak berujung pangkal.

Ada baiknya, jika kalian selalu mengingat bahwa kisah dalam 'Frailty' hanya sekedar cerita pilem, karenanya semua yang ada didalamnya juga cuma produk khayal seseorang yang sepertinya kurang tidur dan terlalu banyak menenggak alkohol. Dengan demikian, kalian mungkin akan bisa menikmati 'Frailty' sebagai hiburan biasa yang akan ngabisin waktu sejam setengah kalian yang ngebosenin itu dengan cukup layak.

Untuk menyebut 'Frailty' sebagai pilem terbaik di tahun 2001, kedengeran sedikit berlebihan. Walau begitu, Gue memang sangat menikmati pilem ini, sebuah thriller-psikologikal yang efektif dan menyentak. it's not gory. It's not very scary. But it's very, very deliciously-twisty-creepy.
.........................................................

TRIVIA : Di tahun 1986, Maradona, mengemban misi suci 'tangan Tuhan' buat menunjukkan kepada dunia bahwa Tuhan begitu ingin ngeliat Inggris kalah. Kemungkinannya,  Dia nggak mau kalah taruhan dengan iblis.


RATING:





Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



16 March 2011

BURIED ( 2010 )

Reviewed By 'R'

Selama nonton pelem, gue udah beberapa kali ngeliat adegan orang terjebak dalem peti mati. Beberapanya yang gue inget adalah adegan shocking di The Vanishing ( Spoorloos ) , Kill Bill 2 ( inget, Uma Thurman mraktekin jurus kungfu buat 'bangkit dari kubur' ) , lalu di salah satu episode serial TV CSI, ama gue pernah mengira kalo pelem 'Beranak Dalam Kubur' seenggaknye akan mempunyai adegan seperti yang gue deskripsiin diatas.

Tapi, ( selain orang gila bernama Alfred Hitchcock ) nggak pernah terbersit sedikitpun dalam benak gue orang lain akan dengan nekad membuat pilem berdurasi sejam-setengah dengan keseluruhan adegannya mengadospi ide 'orang-kejebak-dalem-peti-mati' tersebut.

Oke, gue emang udah ngedenger kabar tentang pelem ini sejak kurang lebih setahun silam, walau cukup penasaran hingga masuk dalam list 'most anticipated movie in 2010' tapi gue pesimis juga, soalnya bukankah ini akan membosankan? 90 menit cuma ngeliat Ryan Reynolds ngos-ngosan didalem peti mati?. Terus gimana dengan ceritanya? Trik dahsyat macam apa yang dibuat penulis scriptnya buat nyelametin penonton supaya nggak ikut terkubur dalam kebosanan bersama Ryan Reynolds?

Premise film ini bisa gue ceritain dengan sebaris paragraf singkat :

Paul Conroy ( Ryan Reynolds ), seorang supir truk dari sebuah perusahaan kontraktor di Irak, tiba2 mendapati dirinya berada di sebuah ruangan sempit yang gelap gulita. Namun siapapun yang naro Paul didalem situ, sepertinya masih berbaik hati dengan meninggalkan sebuah Zippo dan Blackberry buatnya. Dari cahaya Zippo, Paul akhirnye tau die berada dalam sebuah peti mati kayu yang dikubur dalem tanah. Ya, die dikubur hidup-hidup! Kepanikan langsung melanda Paul. Maka, dia pun mulai berpacu dengan waktu, mengontak orang-orang yang mungkin bisa mengeluarkannya dari situ, sebelum oksigen dan daya batere Blackberrynya habis.

What happen next??

…………………………

Catet, sutradara Rodrigo Cortes cuma memakai 1 aktor ( Ryan Reynolds ).
Dan 1 setting ( peti mati ) buat filmnya.

Dan percaya gue, kamera nggak pernah semenitpun meninggalkan peti-mati.
( Ini sedikit ngingetin ama Joel Schumacher’s ‘Phone Booth’ dimana nyaris 90% setting nya adalah telepon-umum ditengah kota. )

………………………….

WARNING! THIS REVIEW MAY CONTAIN MINOR-SPOILER.

Dengan konsep setting statis-sempit+1 aktor sepanjang 90 menit yang punya resiko besar buat ngeboringin diatas, kini tinggal jalan cerita, dialog ama kerja-kamera aja yang jadi andelan kru pelem buat ngiket penonton ke bangkunya.

‘Buried’ ternyata mempunyai jalan cerita sederhana aja tentang gimane Paul sengaja di kubur dalem peti oleh para ‘milisi-kriminal’ di Irak buat minta uang tebusan. Standar hehe tapi ini bisa dimaklumi menginget nggak banyak lagi cerita yang bisa dieksplor buat nyiptain thriller dari konsep minimalis diatas. Dan untungnye, cerita sederhana ini dibalut ama line2 dialog ( semua dialog terjadi lewat telepon seluler ) yang cukup nendang, misalnya :

Iraqis : “ sebelum kalian ( Amerika ) dateng kesini, kite punya kerjaan.. sekarang nggak lagi..”
Paul : “ itu bukan salah gue! Gue cuman supir truk! “
Iraqis : “ 9/11 juga bukan salah gue, tapi kalian tetep datang kesini..Saddam Hussein bukan salah gue tapi kalian tetep ngancurin negeri gue..”

Dialog yang sepertinya sebuah komentar tentang kusut masainya perang Irak - Amerika, cukup menarik menyadari bahwa sang penulis script ( Chris Sparling ) yang orang Amerika mampu melihat masalah perang Irak ini dari sudut pandang ‘teroris’ dan menuangkan komentarnya dalam cerita. Tak lupa Chris Sparling juga menyelipkan beberapa kritik sinikal tentang kontrak kerja, birokrasi, atau kebijakan pemerintah Amerika. Klise emang hehe tapi nggak kerasa preachy kok.

Sayangnye, mungkin karena terlalu berkonsentrasi membuat line2 dialog atau ngurus plot, Chris Sparling terlihat kurang memperhatikan detil2 kecil di scriptnya, 2 diantaranya yang paling mencolok adalah ;

-- jagoan kite ( Paul ), di situasi yang ngebutuhin penghematan oksigen malah terlihat ngabis-ngabisin oksigen dengan berulang kali nyalain korek api nya. Heh? bukannye semua tau nyala api di ruang sempit-tertutup dapat membakar beberapa mol oksigen gitu? Dan blunder fatalnye, Paul sering terlihat menyalakan korek api sekaligus nyalain Blackberry nya buat nelpon…oh poor Paul, bukannya cahaya dari layar Blackberry udah cukup buat ngasih penerangan ?


 -- dalem thriller-horror, kita juga udah tahu kalo dimana-mana nggak ada sinyal haha..tapi di Rodrigo Cortez’s ‘Buried’ sinyal begitu mudah didapet, meski itu ada didalem peti mati yang dikubur dalem tanah (?).
-- goofs & stupidity continues..kalian bisa nyari sendiri.

Tapi, okelah nggak fair rasanya kalo kita nge-judge keseluruhan pelem dari major-flaws nya saja, pelem peraih Oscar sekalipun pastinye punya goofs/bloopers, dan kalo kita ngebenci sebuah pelem hanya karena itu, maka kita praktis ngebenci semua pelem.

Intinye gue pengen bilang bahwa beberapa scientific-mistake di pelem ini meskipun cukup ngeganggu, untungnya nggak ngerusak keseluruhan jalan cerita.

Yo’i bro..terus2an mempermasalahin itu bikin lo keliatan kaya supporter Arsenal yang menganggap Barca ga layak menang cuman gara2 blunder Busquets dan red-card wasit Massimo Bussaca tanpa ngeliat statistik keseluruhan pertandingannya haha

Oiyah, sekedar intermezzo..pernah denger cerita tentang seseorang yang terjebak dalam sebuah freezer ( ruang pendingin ) yang kemudian ditemukan tewas dalam posisi meringkuk seperti orang menggigil kedinginan? Hal yang mengagetkan tim penyelamat adalah kenyataan bahwa ternyata ruang itu dalam keadaan off. Alias pendinginnya nggak nyala. Hal mencengangkan lainnya, pintu ruang itu sebenernya bisa dibuka dari dalem! Dari sini bisa diambil kesimpulan kalo orang ini tewas lebih karena kepanikan dan frustasinya sendiri. Atau bisa jadi, die emang orang idiot. Oke, lebih tepatnya : orang idiot yang panik.

Nah, hal yang sama bisa terjadi pada orang yang terjebak dalam peti mati, kepanikan hebat bisa aja ngebuat seseorang melakukan hal2 bodoh seperti : nyalain terus-menerus korek api yang bisa ngabisin oksigen sementara die punya cahaya ponsel, memaki-maki seseorang disituasi dimana nggak diperlukan itu, nggak sadar kalo dideket kaki nya banyak barang2 berharga ( lampu senter, piso lipet dll ) sampe sang penculik ngasih tau, atau nyaris ngebakar peti mati cuma buat ngusir uler (???) haha.

Tapi masalahnye prends, ngeliat orang panik ngelakuin hal2 bodoh selama 90 menit, apa kedengeran kaya sebuah tontonan yang menarik?

Haha soalnya gue tau, sebagian orang dateng ke gedung sinema emang bukan dengan tujuan ngeliat orang biasa-biasa aja yang juga berbuat seperti orang biasa ( ketika ngadepin keadaan gawat ) untuk kemudian berakhir dengan kemungkinan memuakkan yang emang bisa aja terjadi didunia nyata. Sebagian orang datang ke gedung sinema membawa harepan bisa ngelupain sejenak masalahnye dengan ngeliat orang seperti Indiana Jones atau James Bond melakukan impossible-survival untuk kemudian menendang pantat sang bajingan dan diakhir cerita berciuman dengan sang puteri.


Bagaimana dengan gue? Haha

Gue sebenernye penonton pelem ‘liberal lintas-genre’. Artinye, gue nggak menutup diri dan bisa nikmatin semua jenis genre pelem dari A-Movie sampe Z-Movie ( walaupun B-Movie adalah favorit gue hehe ) asal itu dibuatnya memenuhi selera subyektif gue aja sih hehe itu juga artinye, di kamer gue lu bisa nemuin dvd bajakan pelem 'Planet Terror ama Sound of Music hidup berdampingan dengan indahnya.

Dan kembali ke review pelem ini, faktanye, ‘Buried’ berhasil memelihara hal paling krusial dalam sebuah suspense-thriller : sebuah pertanyaan “ What Happen Next ? “ yang terus menerus. Itu sesuatu yang nggak gue dapetin pas nonton ‘Paranormal Activity’.

Cerita terus bergerak maju secara realtime dengan tempo yang pas dan tanpa sadar gue pun mulai terseret ngikutin jalan cerita buat mengetahui gimana akhir nasib orang Amerika di tanah Irak ini.

Diluar error-script yang memaksa Ryan Reynolds ngelakuin scientific-mistake seperti yg udah gue tulis diatas, doi cukup mulus ngejalanin tugasnya sebagai pekerja ‘seni pura-pura’ dengan melakonkan hampir semua ‘pelangi-emosi’ dari mulai takut, panik, histeris, putus asa, marah, harapan sampe kepasrahan. Yah, bisa jadi die emang cukup menghayati peran, atau kemungkinan lain dia keliatan bagus soalnye aktor yang lain bermain sangat buruk. Dialah sang uler, aktor terburuk dalam pelem ini. Aksinye masuk ke celana Paul, cuman efektif dilakukan di pelem komedinya Kadir & Doyok. Kehadiran uler terus terang menghilangkan beberapa bintang dari keseluruhan bintang yang udah gue siapin buat ‘Buried’.

Namun, ketika sektor yang lain terasa lemah dan keteteran, ‘Buried’ kemudian didukung kerja luar biasa dari sinematographer Eduard Grau dengan pergerakan kamera nya yang secara ajaib mampu menelusuri setiap jengkal sudut sempit peti mati untuk mendapatkan angle-angle yang menarik.

Cortez juga berhasil mendayagunakan semua source minimalis yang tersedia buat ngasilin thriller. Dering ponsel, daya batere yang menipis atau sinyal yang putus-putus adalah hal yang krusial disini. Bahkan cahaya api dari korek gas Paul diperlakukan khusus buat nambah efek sinematis tertentu atau kadang2 die mampu ngasih tau gimana harapan Paul sedikit demi sedikit semakin menipis untuk akhirnya padam sama sekali.

Dalam hal ini, itu mungkin alesan sutradara ngotot masukin nyala korek gas kedalam framenya? Untuk kebutuhan sinematis? Well, artistik tapi keliatan bodoh, gimana tuh? Hehe


Menit-menit menjelang akhir, horror-claustrophobic semakin mencekam ketika tanah diatas Paul rupanya sedang dibombardir pasukan Amerika buat nyelametin die. Pasir menerobos melalui celah-celah peti mati, dan nyawa Paul diujung tanduk. Ketika gue sedang sibuk menerka-nerka gimana pelem akan berakhir, tiba-tiba gue langsung dihadepin ama akhir cerita yang membuat gue ngerti kenapa ‘The Descent’ mempunyai beberapa alternatif-ending.

Well, sebuah ending yang akan membuat lu terbengong beberapa saat ketika tulisan The End nongol di layar.

Nonton ‘Buried’ itu rasanya kaya ngeliat kesebelasan favorit gue banyak ngelakuin blunder sepanjang pertandingan, tapi entah kenapa gue pengen tau hasil akhirnye. Dan nggak penting akhirnye menang atau kalah, pertandingan penuh drama, suspense dan thriller seperti itu adalah salah satu match paling mengesankan yang pernah gue tonton.

Verdict : Udah puluhan bahkan ratusan sineas yang ngerasa diberkati bakat luar biasa membuat pelem yang menurutnya adalah sebuah gebrakan-baru atau cinema-revolution. Sebagian besar diantaranya terjungkal oleh ‘konsep-cerdas’ nya sendiri. Sebagian lainnya berhasil membuat pelemnya menjadi legendaris. Rodrigo Cortez’s ‘Buried’ menurut gue adalah salah satu nya yang berhasil keluar dari kemungkinan pertama..Oke, masih ada kelemahan disana-sini dan masih butuh pembuktian waktu buat disebut legendaris, tapi die jelas satu contoh gimana sebuah pelem suspense-thriller sederhana dengan source yang minimalis, berhasil dipompa dengan effort brillian buat maksimalin semua potensi nye. salute!



++ gue berharap pelem ini nggak akan jatuh menjadi franchise seperti ‘Saw’ apalagi dibuat versi 3D nya dengan judul ‘BURI3D’.

RATING:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


07 November 2010

The Disappearance of Alice Creed (2009)

Reviewed By 'Z'

Waktu ngeliat film ini di tempat gue gawe, jujur aje gue kaga tau apa-apa soal ini. Gue pikir itu cuman salah satu DVD yg dibeli secara acak ama kolega gue berhubung di kovernye ada gambar orang megang beceng aja, makanye pas mereka muternye di sebuah momen “hey-kite-ngga-perlu kerja-tapi-juga-ngga-punya-keidupan” bareng-bareng, gue kaga punya ekspektasi apepun soal apa yg bakal gue liat.

Ngga kaya Piranha, Machete, Nude Nuns with Big Guns, Mutant Girls Squad atau bahkan Scott Pilgrim vs the World, The Disappearance of Alice Creed ngga termasuk dalam judul yg gue cari ataupun tunggu. Jadi pas gue tau ini juga diputer di INAFFF dengan animo cukup tinggi, jujur gue rada kaget. Darimane orang tau film ini? Terkenal gitu? Ini sebenernye Dread Central punya page rahasia yg gue kaga tau? Apa mungkin emang guenye aja yg terlalu lama ngabisin waktu di edarem ? Ngga tau juga.

Film ini sendiri awalnye cukup ngebingungin, terutama buat orang yg –kaya gue- sama sekali ngga tau apa-apa soal ini. 

Pertama 2 orang keliatan kaya mereka lagi ngebangun parameter pertahanan buat mengantisipasi apokalips zombie: nutupin jendela pake kayu, masang rentetan gembok di pintu, ngestok alkohol, dll, pokoknye praktis segala hal yg lo lakuin di rumah pas tau Persebaya bakal maen. Terus tau-tau mereka pergi naek mobil dalem pakaian kembar-identik Thompson & Thompson, abis itu semuanye jadi keliatan kaya video-manual Kopasus soal taktik dasar cara ngambil-orang-dari-jalan-trus-bawa-ke-tempat-terpencil.

Kaya tadi gue bilang: ngebingungin.

Tapi mulai dari situ, segalanye jadi jelas. Jadi 2 orang tadi tuh ceritanye antagonis kite, & cewe yg kepalanye dikantongin itu? Itu anak orang kaya yg diculik demi uang tebusan. Gue sedikit ngarep kalo itu Paris Hilton, soalnye diculik buat bikin orang laen dapet duit tebusan praktis bakalan jadi satu-satunye kontribusi berguna yg pernah dilakuin ama Paris Hilton kepada masyarakat sepanjang idupnye. Tapi pas pakaiannye dilucuti, ternyata bodi doi ngga bikin sakit perut & pas kantongnye dilepas mukenye ngga bikin muntah, dari situ lo bisa ngambil kesimpulan kalo doi pasti bukanlah Paris Hilton. Dengan fakta penting demi kewarasan menonton itu dikemukain, maka versi ngga-terlalu-annoying, lebih-sedap-dipandang-mata sekaligus bebas-STD dari anak orang kaya kite ini pun terjebak dalem satu plot AD/ART skenario penculikan tipikal, & dari sini relasi antara 3 orang yg terlibat di dalemnye mulai ber-Melrose Place ria.

Sekian laporan pandangan mata gue dari The Disappearance of Alice Creed, sebuah film yg secara keseluruhan bisa disimpulin pake satu kata sederhana: thriller.

Tunggu Bem, itu doang yg bakalan kite liat? Orang nyekep orang laen semau-mau, ngasih peraturan-peraturan absurd yg ngga bisa dibantah, motong akses, ama ngebiri hak asasi manusia buat milih ataupun mikir, semua cuman demi kepentingan pribadi. Itu yg namanye thriller?

Um, sebenernye sih bukan.

itu sih Tif Sembiring
Thriller tuh jenis hiburan yg make suspense, tensi ama ketegangan sebagai bumbu utamanye. Genre ini punya ciri buat nunjukin kriminalitas ama kekerasan sebagai potret kelam dari masyarakat modern yg korup ama fucked-up...& ia juga cenderung keliatan tolol. Jadi gampangnye sih, thriller adalah hal-hal yg tiap hari lo liat di berita.     

Udah? Gitu doang?

Yup.

Ga ada gore?

Nihil.

Darah?

Sangat diminimalisir.

Ummmm...boobies?

Nah! Kalo itu ada.

Malah, salah satu alesan kenape gue tetep nonton ini & ngga segera beralih ke 4chan kaya yg umumnye terjadi di thriller-thriller laen tuh soalnye, buat beberapa menit yg tak ternilai harganye, kite bisa liat boobs-nye Gemma Arterton. Ya...cewe yg bikin cokelat keliatan 1000 kali lebih menarik buat dijilat lewat Quantum of Solace.

Iye, yg itu.
Harep dicatet kalo itu cuman salah satunye doang. Sebenernye alesan lebih utama kenape gue ngga sanggup nolak daya tarik dari film ini adalah soalnye, di sini, doski ngabisin sekitar 70% aksinye sambil keliatan kaya gini:


Yoi sodara-sodara, Gemma Arterton mungkin adalah aktris utama yg pake ballgag paling lama pada sebuah film non-Giallo sejak Donna D’Errico di Candyman: Day of the Dead. Kalo lo rindu pada masa kejayaan spaghetti-western ama Detective Magazine, maka film ini bakalan muasin semua hasrat knotty-boy terpendam lo pada plot Damsel-in-Distress klasik. 10 menit pertamanye aje udah cukup buat jadi momen-pengundang-boner, & thriller Britania ini ngedisplay unsur kinky-nye dengan lebih apik daripade kebanyakan torture-porn belakangan. The Disappearance of Alice Creed tuh cuman punya, semacem, 3 orang yg maen di dalemnye, jadi semuanye punya screen-time seimbang & salah satunye adalah seorang cewe diiket di ranjang. Maka kaga usah heran kalo banyak porsinye keliatan kaya setting tipikal video streaming dari sebuah situs bondage.

Gue ngga ngerasa perlu komplen.
Tentu, film ini sih punya sebuah cerita beneran, tau kan? Satu yg ngga ngewajibin aktris utamanye buat lari-lari di tempat menjijikan dengan cairan-cairan aneh ngebasahin seluruh badannye. Bahkan cewe yg ngabisin waktu disumpel di dalemnye pun –percaya ngga percaya- punya script buat dibaca pada bagian di mane doi kudu ngomong. Gue yakin lah pokoknye blog-blog film lebih kompeten laen bakal punya bahasan lebih mendalam soal ginian, tapi buat sementara ini, berhubung lo udah stuck di sini, hal paling mengesankan dari film ini tuh jelas level kuantitas dari bagian-bagian kaya gini:

Gue tetep ngga ngerasa perlu komplen.
Kalo ada kecacatan fatal di mata gue, itu pastilah endingnye yg bertele-tele. Film ini ngambil waktu terlalu lama buat ngebungkus epilognye pake sesuatu yg udah ketauan dari 10 menit yg lalu.  

Tapi kalo mau objektif, misalnye itu diabisin di titik tertentu maka satu-satunye yg kurang dari bikin itu keliatan kaya rip-off pasti cuman theme-songnye Saw doang. Dan berhubung kaga semua bisa maen comot adegan dari film laen trus nyebutnye “homage” dengan ekstravaganza seorang Rob Zombie, J Blakeson kayanye emang mau ngga mau kudu milih jalan yg lebih subtil. Subtil emang keliatannye kunci keberhasilan film ini buat bisa diterima ama penonton umum. Seperti gimane praktek prostitusi biasanye bersembunyi di balik nama panti pijet, Blakeson sukses ngaburin nuansa sleaze filmnye (paling ngga buat kebanyakan orang) pake formula thriller-komersil yg ditulis dengan baik. Striptease tuh bukan striptease kalo ngga dilakuin di strip-pole, jauhin seorang stripper dari situ, suruh doi ngelakuin hal yg persis sama di panggung moderat dengan background lagu Agnes Monica & secara ajaib, apa yg doski lakuin namanye jadi “modern-dancing”.

Alice Creed ini, buat gue, keliatan kaya gimane film Giallo tuh sebenernye bisa jadi kalo aje para sutradara Italia-gila itu sudi buat rada ngontrol libido ama napsu goretastic mereka sedikiiit aje. Kalo diliat-liat sebenernye ini kaga jauh beda kok, bahkan mereka yg familiar ama pulp-pulp Italia bakal bisa nyium aroma dari semua twist-nye dalem radius 15 menit sebelon itu ditunjukin di layar.

Film ini kaga bisa dibilang orisinil emang, tapi mereka make cara storytelling yg lebih koheren ama ngebuang semua faktor gross yg ngga akan pernah absen di sebuah produksi Itali aje, maksud gue, coba pikir deh apa yg bakal dilakuin ama Lucio Fulci pada seorang Gemma Arterton dalem keadaan terikat ngga berdaya? Dalam sekejap aje, udah ada 10 aksi fetish yg muncul di kepala gue. Plus, Fulci ngga akan ngijinin doski buat pake sehelai benang pun di atas badannye sampe film abis, kalopun ada, itu dijamin berbentuk korset latex dengan rante-rante di sekelilingnye. Meskipun gue yakin itu bukan hal yg buruk, tapi di sini doi cuman nunjukin kulit penuh selama sekitar 10 menit total, gue asumsiin itu ada pengaruh dari Brittish-etiquette. Ngebuktiin kalo, asal ngga ngelibatin Hugh Grant, Brittish-etiquette itu ternyata sesuatu yg bisa ditolerir.  

Gue tetep ngga perlu komplen.
Gemma Arterton sendiri maenin peran heroine-in-peril doi dengan kemajuan pesat kalo dibandingin ama peran di Prince of Persia yg mirip-mirip. Tentunye Prince of Persia itu bikinan Disney, sebuah perusahaan yg sama sekali ngga kepikiran gimane caranye dunia berputar kalo kaga ada binatang yg bisa ngomong di dalemnye, jadi mungkin itu bukan sepenuhnye salah doski. Di sini, dedikasi Gemma pada karakternye ada pada level yg, kalo aja ini disutradarain Roman Nowicki, bakal bikin doski kudu nanggung beberapa bekas pecut di punggungnye. Sementara 2 orang lagi...hmmm, emang ada sih 2 lagi, tapi kaya gimane nasib Luigi ama Dick Grayson dalem kultur pop, gue rasa kaga ada yg peduli ama mereka kok. Jujur aje gue sama sekali kaga akan peduli kalo yg maennye Danny Dyer buat nimpukin puntungan rokok ke Sean Connery. Faktanye adalah -di memori kebanyakan orang- The Disappearance of Alice Creed cuman bakalan diinget sebagai “filmnye Gemma Arterton...ama 2 orang lagi”, persis kaya keseluruhan kariernye The Distillers.

Jadi kalo lo mau contoh terkini dari rilisan langka yg bisa nyeimbangin dirinye antara 2 jenis audiens yg saling bertolak-belakang secara sempurna, maka ini mungkin emang pilihan paling tepat. Ia punya cerita cukup signifikan buat ngejaga minat penonton umum, sementara nyodorin porsi gede visual chick-in-captivity buat menuhin interes para penggemar erotisisme teater Grand Guignol.

Dan yg paling penting: ini satu film yg bisa lo tonton bareng temen-temen, tanpa ada satupun diantaranye bakalan nyadar kalo diem-diem lo dapet boner.





Rating : 
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic