Showing posts with label apocalypse. Show all posts
Showing posts with label apocalypse. Show all posts

20 December 2011

THE DEAD ( 2010 )

Kalo ditanya makhluk horror impor yang punya tampilan visual paling mengerikan, barangkali gue akan dengan cepat menjawabnya : zombie. 

Zombie tuh orang mati, ( yang karena beberapa sebab menggelikan ) bisa idup lagi lengkap dengan luka-luka di tubuhnya. Bisa perutnya sobek, mata nyoplok, atau tangannya buntung. Terus dengan bodi ancur kaya gitu dia ngerayap sambil ngeluarin erangan nggak jelas, ( kemungkinannya zombie ini menggumam 'Brraainnns..", tapi kadang2 kedengeran seperti "Bryaaaann.." sebagian lagi malah " Bieberrrrr " ) nyari siapa aja yang masih idup buat dimakan otaknya. Dan lebih gawatnya, jumlah mereka tuh biasanya banyak! kalo kata Z, mereka nggak beda jauh sama hipster, sementara gue cuma nemuin sedikit persamaan mereka pada calon penumpang KRL di stasiun Depok Baru. Sama-sama berwajah kosong.

Tongkrongan kaya gitu membuat zombie selama bertahun2 berhasil memuncaki klasemen liga horror versi pribadi meninggalkan jauh pesaing2nya yg tidak konsisten karena mungkin salah strategi apa pelatihnya yang emang buruk. Nasib paling buruk menimpa Vampire yang kini sudah ter degradasi ke divisi dua saking keterlaluan tampan ( dan sixpack! ) nya.

Nah, selama ini gue lebih mengenal zombie ini sebagai mayat2 orang Eropa/Amerika ( sebagian kecil Asia ) yang bangkit kembali dan berjalan gontai menyusuri jalanan kota megapolitan mereka yang porak-poranda.

Akan sangat menarik, kalo seseorang nyoba mindahin kisah tentang zombie2 ini kesebuah benua dimana semua penderitaan dan horror-dunia sepertinya emang bermula dari sana : Afrika.

Storyline : 


Diceritain Letnan Brian Murphy ( Rob Freeman ) terdampar di sebuah pantai, setelah pesawat-evakuasi yang ditumpanginya jatuh ke laut. Belum sempat Brian mengatur nafas, dia ngeliat sosok-sosok gontai perlahan mendekatinya. Itu Zombie! 

Yah, ditengah perang ( antara Afrika dan Amerika ) yang sedang terjadi, Afrika tiba-tiba dilanda wabah zombie dengan penyebab yang nggak diceritain. Nyaris 70% penduduk Afrika udah jadi zombie, 20% lainnya pasti udah tewas, praktis yang kesisa tinggal militer2 ama siapa aja yang masih megang shotgun apa golok buat mempertahankan diri. Letnan Brian menjadi salah satu dari persentasi kecil itu.

Sekarang, dari pantai dimana dia terdampar, Letnan Brian sadar harus terus menjaga kemungkinan hidupnya dengan menerobos desa-desa yang sudah dikuasai zombie, lalu menempuh jarak puluhan kilometer, buat menuju suatu tempat di mana dia yakin harapan untuk bisa segera keluar dari benua terkutuk itu masih ada.

Review :

ternyata ada pocong-zombie di Afrika
  
Gue akan memulai review dengan ngebahas sedikit perdebatan paling penting didunia setelah debat " kenapa Mr.Krabb yang kepiting bisa mempunyai puteri seekor ikan paus? " yaitu tentang " Slow Zombie vs Fast Zombie ".

Di satu kubu ada penyembah George Romero yang mengklaim bahwa zombie itu sejatinya berjalan lambat. Mereka menilai zombie-cepat itu bagaikan poser yang udah mengkhianati konsep atmosperik-apokaliptik dalam pilem zombie 60-70 an pujaan mereka menjadi sekedar pilem horror-aksi belaka.
Sementara kubu 'Running Zombie' menginterupsi ide itu dengan berpendapat zombie lambat bener-bener membosankan. Sama sekali tidak mengancam, konyol, lemah dan sangat mudah dibunuh. Mereka lalu menambahkan bahwa zombie-cepat lebih berhasil dalam membuat sebuah pilem mendapat gelar " seru, menegangkan dan penuh aksi ".

Dari sini kita bisa ngeliat running-zombie fan kemungkinan adalah penonton2 zombie generasi 2000-an keatas yang menemukan kenyataan bahwa 'Dawn of The Dead' versi Zack Snyder dan '28 Days Later ' nya Danny Boyle adalah 2 pilem zombie terbaik di dunia. Seperti itulah harusnya sosok zombie-ideal. cepat, bengis, brutal, dan kuat. Bisa dimaklumi ketika kemudian mereka ngubek2 judul lain demi mendapatkan pilem yang similiar, akhirnya malah menggerutu ketika yang didapatinya hanya sosok monster menyedihkan yang bahkan nenek-nenek hamil pun masih bisa menyelamatkan diri darinya.

Seperti zombie yang ada dalam pilem ini.

Beneran prends, zombie2 dalam pelem ini bergerak dengan kecepatan hanya 20cm/detik dan baru menyerang ketika dia udah berjarak 50 cm dari target. Itu satu hal yang jarang kejadian, soalnya dalam jarak 2 meter, protagonis kita sih biasanya udah mecahin batok kepala zombie-zombie ini pake pistol. Dan di sela-sela nunggu zombie lainnya mendekat, kalo mau protagonis kita sebenernya masih punya banyak waktu buat nge-tweet dulu.

jadi, dengan villain yang sama sekali nggak mengancam kaya gitu, ini akan jadi pilem zombie konyol-membosankan gitu?


Untungnya gue bukan hardline-fan dari zombie-cepat, bukan pula puritan fanatik slow-zombie. Lebih tepatnya gue adalah openminded-liberal lintas zombie fan. Maksud gue, kagak peduli zombie nya cepet apa lambat, kalo pilemnya ternyata jelek gue bakalan bilang kalo itu jelek, dan sebaliknya kalo pilemnya bagus ya gue bilang bagus. Itu juga artinya, gue kaga peduli kenapa Mr.Krabb punya puteri seekor paus.

Kenyataanya, walau zombie disini emang nggak pernah berpotensi untuk membuat 'The Dead' menjadi seru dan penuh aksi ( yang artinya : membosankan ) , tapi kelambatannya justru ngasih sesuatu yang nggak gue dapetin pas ngeliat zombie di 'zombieland'. Sesuatu yang udah lama banget nggak gue rasain semenjak terakhir..mm.. kapan ya.. remake 'Night of the Living Dead' nya Tom Savini? yaitu : aura atmosperik-creepy-apokaliptik.

Bayangin adegan mayat-mayat yg berjalan gontai dengan latar belakang lanskap Afrika yang eksotis. Mayat-mayat berjalan ini ada dimana-mana. Di pantai, ladang jagung, perkampungan, padang rumput, gurun, bukit, atau hutan. Dan Afrika punya banyak SDM untuk membuat sosok zombie keliatan lebih serem. Anjir, gue bukannya rasis tapi zombie kulit item 2 kali lebih creepy dari zombie Eropa :D



Sutradara Ford Brothers nyoba ngembaliin zombie gaya-lama yang udah dipatenkan Romero dan mindahin settingnya ke Afrika. 

Sama seperti Romero, Dia juga nggak ngasih eksplansi tentang apa penyebab dari wabah ini. Aslinya, gue juga nggak terlalu peduli sih segala macam eksplanasi penyebab wabah-zombie yang pastinya akan menggelikan hehe. Film2 zombie 60-70 an emang kebanyakan ngejadiin zombie hanya sebagai 'latar-belakang' dan lebih suka ber fokus pada eksplorasi-karakter, drama sambil sesekali ngasih sedikit komentar sosial di sana-sini. Style itu yang diadopsi Ford Brothers dalam 'The Dead'. Dia nggak pernah menempatkan zombie disini sebagai ancaman utama, lebih berfokus pada karakter, ngebangun drama, ama ada beberapa dialog atau adegan disini yang gue asumsiin sebagai komentar/kritik untuk beberapa isu sosial, walaupun secara cepat orang mungkin hanya akan nginget ini sebagai pelem dimana 'orang kulit putih selama nyaris 2 jam secara konstan ngeledakin kepala orang kulit item pake pestol'

'The Dead' tuh lebih mirip drama road-movie rasa 'Diary of The dead' ( mengingat protagonis kita yang berpindah dari satu tempat ketempat lain, ketimbang terjebak di sebuah ruangan sempit ).  Kita hanya akan diajak buat ngikutin perjalanan survival Letnan Brian di benua yang sedang terkena wabah-zombie menuju sebuah tempat bernama 'harapan'. Semacem 'The Road' dengan banyak zombie, gore ama darah. jadi, gue pikir ini akan lebih pas kalo dia diberi judul 'The Road of the Dead'.  Lagipula, bukankah 'The Dead' kedengeran kaya salah satu judul pelem paling nggak kreatif di dunia?



Sayangnya cukup banyak part yang seharusnya mampu menciptakan tensi justru berakhir dengan cara yang mengecewakan. Di bagian ini, Ford Bro's gue pikir kurang mampu mengeksplorasi semua potensi dalam pelemnya dan malah terjebak pada sesuatu yang repetitive dan klise. contohnya, Berapa kali sih kita ngeliat adegan 'dilema' dalam pelem zombie.? Kamu tau kan apa yan gue maksud dengan adegan 'dilema'? Gue pikir scene ini sudah saatnya dihapus dari pelem zombie.

Sinematografinya sendiri bisa gue bilang bagus, di shot hanya dengan kamera 35mm, namun beberapa frame dramatis berhasil di capture. kamu bisa liat itu di opening-scene nya. Sementara, akting protagonis kita ( Rob Freeman ) sangat datar, monoton dan tidak istimewa, tapi kita seharusnya memang tidak berharap apa-apa soal skill-akting pada sebuah pelem zombie low-budget kaya gini.


Dan kalo ada hal paling mengesankan dari 'The Dead' selain atmosperik-creepy nya yang mengingatkan gue pada pelem zombie jadul, tentu itu adalah divisi gore-efek nya. Ada cukup banyak gore disini. Ya, setiap kali Letnan Brian berenti dari perjalanannya, setiap kali itu pula zombie-zombie bakal bermunculan..dan setiap kali itu pula dia bakal ngasih headshot. blown! Terdengar repetitif emang, tapi seenggaknya salah satu alesan gue nonton pelem zombie ( yaitu ngeliat orang nembakin kepala zombie ) cukup terpenuhi. Dan surprisenya dia hadir dengan efek yang lumayan bagus untuk ukuran low-budget. no-CGI tentu saja. Bahkan, selain headshot dia juga punya satu adegan yang berpotensi buat menjadi salah satu dari list 'most awesome exploding-head movie scene'. Cek aja hehe.

Oke, verdictnya 

"The Dead" sama sekali nggak punya aksi seru kaya yang udah pernah gue liat di 'The Horde', nggak ada hal konyol buat diketawain ( this movie is deadly serious! ), nggak ada boobs buat cuci mata ( bahkan nggak ada cewe didalemnya ), tapi dibalik itu dia mungkin bisa ngasih nafas segar buat audiens yang sedang jenuh dengan gelombang zombie-action/ zombie-komedi akhir-akhir ini, punya setting/lanskap yang menarik, dan sedikit ngingetin gue pada era kebangkitan zombie beberapa puluh tahun silam ketika dia belum bisa berlari, melompat, menyelam, memanjat, salto, parkour, kayang atau terbang.

Sekarang kendali ada ditangan kalian untuk memutuskan apakah mau nonton ini atau ngehapus judulnya dari daftar planning download bulan ini.

RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

03 April 2010

Survival of the Dead ( 2009 )

 REVIEWED BY 'Z'

Gue adalah salah satu orang yg bakalan nonton semua film zombie bikinan George A. Romero. Bukan soalnye gue nganggep die sebagai “sutradara terhebat sepanjang masa” apa alesan2 fanboy-patronistis tertentu. Tapi soalnye gue nganggep kalo die adalah satu dari sedikit orang yg emang pantes buat dapetin loyalitas macem gini. Plus, dengan masukin review ini gue rasa bakalan ngasih alesan ke Ringo buat nurunin flash film yg bersangkutan dari header-atas blog ini & ngegantinye pake poster baru yg bisa kite nikmatin dengan bahagia sampe setaun ke depan, lebih bagus kalo itu dari jenis film dengan judul2 model “Invasion of the Horny Cheerleaders Butt-Naked Squad from Planet Nympho” atau sesuatu yg sejenis. Itu TUNTUTAN loh Go, bukan sekedar permintaan.

..........................................................

Ok, dengan kepentingan ereksi disingkirkan sejenak, mari kite mulai bahas. Hey, berapa banyak diantara lo yg inget ama Diary of the Dead? Ya ya ya, gue tau itu bukan film yg penting buat meng-okupasi space memori, tapi bagi mereka yg punya ingetan samar2 soal itu, apa kalian inget ama gerombolan desertir yg ngerampok RV protagonis kite di situ? Mereka berbusana militer ama punya screentime-total sekitar 2 menit. Nah, nampaknye George Romero nganggep 2 menit itu sedemikian impresifnye sampe kali ini die mromosiin orang2itu semuanye ke peran utama.  Ternyata aktor dengan senyum menawan yg memikat hati para audiens wanita waktu itu namanye Alan Van Sprang & die berperan sebagai Sarge alias Sergeant Bad Ass alias Rebellious Army Dude alias “Nicotine” Crockett, pemimpin geng desperado berseragam yg ngejelajahin sudut2 puing peradaban buat mungutin semua sisa-sisanye.

Di jalan, mereka nemuin iPod Boy, yg kemudian mereka ajakin barengan mungkin soalnye die adalah orang terakhir di dunia dengan sinyal iPhone  masih menyala. Berkat peran serta dari teknologi streaming geng tentara bayaran ini dapet siaran tak dikenal yg ngejanjiin sebuah zona bebas-zombie di pulau bernama Plum, jadi mereka mutusin buat pergi kesana, secara ngga sadar udah suka rela menyerahkan diri langsung ke perangkap bikinan Patrick O’Flynn & anak buahnye. Sekarang sape itu Patrick O’Flynn? Selaen keliatan kaya Malcolm McDowell dengan aksen Irlandia buruk, Patrick itu juga pemegang cincin Don dari klan O’Flynn. Satu dari 2 klan penguasa pulau Plum yg lagi ada dalam kondisi mafia-war antara satu sama laen. Jadi si Patrick ini penganut paham kalo zombie itu kudu dimusnahin, sementara Seamus -Don dari klan Muldoon- percaya kalo para zombie itu ngga beda sama OHIDA: orang2 terjangkit virus tertentu yg ngga boleh disingkirin gitu aje.  Maka keduanye pun terlibat perang-sipil buat gelar Godfather tunggal Plum Island, soalnye, cuman  seorang Godfather sejati yg  punya hak istimewa macem nentuin roda nasib para zombie.

Ok, kalo Pat O’Fynn lagi sibuk perang geng, terus ngapain die ngurusin kedatangan Crockett ama kroninye? Well, klan O’Flynn sebenernye udah kalah & Ol’ Pat diusir keluar pulau, Di mane die bertahan di pelabuhan, ngirimin streaming2 palsu buat memikat pendatang, terus nyerang mereka secara tiba2 kalo ada yg nyampe sono. Sialnye skuadron Crockett terlalu bad-ass buat dijinakin & pertahanan terakhir O’Fynn pun jebol melalui aksi baku tembak retro 80-an yg rusuh. Dalem semua kerusuhan itu, Crockett cs berhasil nemuin jalan ke pulau Plum sementara dengan ngga sengaja ngebawa seorang penumpang yg dijamin bakal bikin keadaan di depan jadi makin kisruh: yup, itu adalah Patrick O’Flynn. Jadi antara konflik Patrick-Seamus, ada juga sejumlah zombie, koboi, aksen Irlandia, Nicotine Crockett ama Rambo-lesbo, ok, itu pasti kacau. Persis kaya yg gue suka.

.......................................................................


George A. Romero tuh umurnye sekitar 70 taun pas die bikin ini, jadi ngga usah heran kalo Survival keliatan sebagai film paling enteng yg pernah die bikin. Kalo umur lo udah segitu, mau gitu lo bikin film dengan beban2 makna yg lo sendiri  aje udah terlalu capek buat ngurusin? Ngga kaya judul2 dead sebelonnye, yg satu ini asli 100% flat-out B-movie. Maksud gue, emang sih secara budget semua film Romero selaen Land juga keitung B-movie. 
Tapi kalo  biasanye die bikin sesuatu dengan makna lebih serius dari kolega sekastanye, kali ini sang Don of the Dead lebih cenderung buat bersenang-senang dengan karyanye. 
Dalem daftar  katalog populernye Survival itu yg paling banyak diisi aktor buruk (90%nye dilakuin ama aktor2 Amerika/Kanada berusaha ngomong pake logat Irlandia), paling ngga jelas plot-nye, ama punya peranan zombie paling ngga signifikan. Di sini para zombienye cuman sekedar ada aje, bekerumun di sekitar manusia2 yg semuanye sibuk  berantem ngeributin masalah mereka sendiri2 & biasanye kite ngga ngerti apa yg sebenernye mereka ributin.

Jadi ini jelek kan? Ngga juga. Soalnye biarpun gue ngga ngeliat ini bakalan nemu jalan masuk ke daftar “fantastis” versi sapepun, kalo diliat-liat film ini juga ngga ngecewain kok. Maksud gue, semua di dalemnye keliatan terlalu komikal buat bikin orang punya ekspektasi apapun selaen dari fakta kalo mereka emang lagi nonton B-movie, &
kalo ngukur ini pake parameter yg berlaku di subgenre spesifik itu, maka Survival emang nonjok di semua spot yg tepat. Alurnye jauh lebih enak daripada Diary tanpa perlu buat jadi semegah Land, 
Romero juga bikin sejumlah kill-scene kreatif bergaya kartun dengan efek CGI-jelek-yg-awesome! Perlu dicatet kalo gue suka banget ama efek CGI-jelek-yg-awesome gitu soalnye itu lebih punya nilai parodi daripada teknik CGI-keren biasa (yg malahan jadi keliatan jelek). Pada dasarnye gue selalu nganggep kalo semua CGI itu jelek. Makanye CGI yg pura2 keren itu selalu nyebelin tapi CGI-yg-jelas-jelek itu bisa ditolerir karena mereka lebih jujur dengan ngga ngerasa perlu pura2 keren.

Jadi masalah ini jelek apa bagus itu tergantung ama apaan yg lo cari dalem sebuah film Romero. Gore-nye, ceritanye, komentar sosialnye, horrornye, nilai hiburannye apa nilai historisnye? Apa yg lo suka dari film zombie Romero? Karena kite semua punya favorit kite masing2, dengan alesan subjektif sendiri yg bakalan saling berkontradiksi satu sama laen. Kite adalah para O’Flynn & Muldoon dunia nyata, siap untuk terlibat perang-verbal demi mertahanin opini kite soal subjek yg kite sama2 cintain. Jadi gue rasa nunjukin ke sisi mane gue berpihak tuh buang2 waktu doang. Mendingan lo nonton sendiri aje dah, 
mau suka ngga suka itu urusan nanti tapi yg penting mah liat dulu. Lagian, ini kan film zombienye George A. Romero, & untuk satu hal itu aja mestinye ini udah punya cukup alesan buat ditonton!!

......................................................

5/10

02 April 2010

THE SIGNAL ( 2007 )

REVIEWED BY  'R'.

Bayangin layar televisi yang sedang anda tonton tiba-tiba hanya menampilkan gambar gelombang mirip tampilan visualisasi-ambience-random di Windows Media Player-mu. Handphone tidak berfungsi dan radio hanya mengeluarkan suara-suara aneh. Bukan itu saja, sinyal-sinyal misterius itu tak lama kemudian menyebabkan halusinasi, membuat orang cepat marah dan pada akhirnya merubah mereka menjadi pembunuh-pembunuh maniak.
Kota Terminus segera kolaps. orang-orang saling berbunuhan tanpa sebab.  Chaos dimana-mana. Apokaliptik!
Ditengah Kota yang kacau-balau itu Maya ( Annesa Ramsey ) segera berniat keluar dari kota sekaligus menghindari Suaminya, Lewis ( AJ Bowen ) yang telah terjangkiti The Signal. Sementara Ben, --kekasih gelap Maya--- mencoba menyelamatkannya. Namun untuk itu, dia harus menentukan siapa yang dapat dipercaya di kota dimana setiap orang tampaknya sudah dalam pengaruh-kekerasan The Signal, termasuk dirinya sendiri.

....................

Nah, dengan premise seperti itu, 3 orang sutradara sinting-kelebihan duit bereksperimen memecah plotnya menjadi 3 chapter ( diberi nama Transmission ) yang mana tiap chapternya digarap sesuai perspektif, visi, style dan selera-genre masing2 ( David Bruckner -Transmision 1, Jacob Gentry -Transmision 2, Dan Bush - Transmision 3 ),  Hadirnya 3 otak dalam film ini akhirnya menjadikan 'The Signal' seperti perpaduan kontras beberapa sub-genre horror yang kemudian di blender jadi satu menghasilkan film weird yang oleh beberapa audiens dianggap 'instant-horror-cult-classic'  namun disisi lain di benci, -terutama oleh diehard-oldschool-horror- sebagai ' boring + wasting time ' ini.

TRANSMISSION 1, 'Crazy In Love'.
adalah chapter yang gue sebut mempunyai genre yang sama ama '28 Days Later' minus zombie.
Di segmen ini kita dikenalin ama karakter Maya. sepulang dari rumah Ben,  Maya ngedapetin Lewis ( sang suami ) bersama 2 orang temannya sedang dilanda kebingungan karena layar televisi mereka hanya menampilkan gambar gelombang aneh. Mereka mulai berdebat satu-sama lain mempermasalahkan sesuatu yang tidak penting dan berakhir dengan saling membunuh. Mulai saat ini, kita ngeliat orang-orang yang terpengaruh The Signal, dengan berbagai macam senjata saling bunuh-membunuh tanpa sebab. 30 menit pertama bener-bener thrilling, brutal, dark, dan intense.  Boleh dibilang, David Bruckner satu selera ama gue dalam chapter ini.
TRANSMISSION 1 = horror- apocalyptic!
Design penanda Chapter yang threshold dan didominasi warna merah-hitam seperti hendak menyampaikan kesan 'rebel+alternative'  dan ngingetin gue kalo ini adalah sebuah film indie-low-budget. Nuansa alternative itu diperkuat oleh soundtrack 'Atmosphere' dari Joy Division ( di cover ama band indie-rock 'Ola Podrida' ) yang menghiasi beberapa scene-nya.  wow Joy Division, Men! gue pun langsung googling buat mendownload track-nya hehehe

TRANSMISSION 2 , 'Jealousy Monster'.
Chapter ini disutradarai ama Jacob Gentry, dan film tiba-tiba membelok menjadi black-comedy-horror.
Selain itu, main character yang di chapter 1 adalah Maya, di chapter ini malah Lewis.
Kita diajak masuk ke sebuah rumah , dimana sepasang suami-istri yang sedang merencanakan pesta New year's Eve akhirnya malah ngedapetin horror ketika Lewis -yang sudah terjangkit The Signal- dalam usahanya mencari Maya,  tanpa sengaja malah masuk ke rumah mereka.
Walaupun kental aroma surreal dan black-comedy nya, Chapter ini tetep  menampilkan beberapa gruesome-death-scene yang cukup weird.
di sini kita juga akan ditunjukin gimana The Signal mempengaruhi dan menciptakan halusinasi2 yang membuat Lewis mampu melakukan sesuatu yang tak masuk akal, dan itu di visualisasiin oleh Jacob Gentry -yang juga ikut memproduseri film ini- dengan teknik stunning-camera dan trik-sinematography yang keren. Sayangnya, menurut gue Chapter ini sedikit ngerusak mood yang udah dibangun sebelumnya oleh Chapter 1. Namun, kalo mood kamu lagi bagus dan mau nyoba menyelaraskan diri dengan ide Jacob Gentry,  kayanya kamu masih bisa ngelewatin chapter ini dan menikmatinya. hehe

TRANSMISSION 3, 'Escape from Terminus'.
Setelah disuguhi weird-black-comedy di Chapter 2, kali ini giliran Dan Bush mengejawantahkan idenya ( gile bahasa apa tuh mengejawantah hahaha ).
Dan Bush membalut The Signal menjadi satu kesatuan dengan menyelipkan beberapa flash-back yang diambil dari scene 2 chapter sebelumnya, tak ada lagi humor gelap disni, dan main character untuk chapter ini adalah Ben.
dia juga sedikit memberi sentuhan sci-fi dan drama-horror untuk chapternya. kamu akan ngedapetin adegan potongan kepala yang dialiri listrik supaya bisa ngomong, dan beberapa gruesome scene yang ngingetin ama The Shining + another slasher movie. Sayangnya, menurut gue Chapter inilah yang paling lemah penyampaiannya.
Terlepas dari statement para sutradaranya yang konon menyelipkan isu tentang : media, realitas sosial, relationship dan cinta, ending film ini terlihat datar, menggantung khas film2 apokalip, ambigu dan menyisakan banyak pertanyaan disana-sini. Buat yang moodnya sudah runtuh sejak Chapter 2, kayanya nggak bakalan selesai nonton Chapter ini.

....................................


Akhirnya, The Signal buat gue sebenernya film yang mempunyai konsep dan visi sangat menarik. Hal-hal yang langka terdapat di film mega budget mainstream akan kamu dapetin disini.  Kreatif, liar, bebas dan kadang tolol.
Itu satu alasan kenapa nonton film Indie itu kadang menyenangkan walau sering juga suck. keliatan juga gimana para kreatornya saling adu kreatifitas dan bersenang-senang di dalamnya hanya dengan budget 50.000 dollar.. sayangnyaaa...sebagai satu kesatuan film utuh, film ini susah dinikmati..

Ibaratnya makan sayur asem tapi lauknya roti-bakar + gorengan. Campur aduk rasanya haha, kecuali kamu satu aliran ama Bondan Winarno yang seneng nyobain makanan aneh dengan sensasi baru, pasti akan berkomentar : " maknyooosss..this is instant classics!! "
sementara buat kamu Horror-fan-tradisional-anti-mikir jelas2 akan memuntahkan makanan seperti ini dan berteriak " gue pengen sate!!! " hehe jadi, film ini sama sekali nggak gue rekomendasiin buat mereka hehehe


.............................................................





Buat gue sih, film ini masih asik ditonton di malam minggu yang menyenangkan,
tapi menyebalkan ditonton di hari Senin sampe Jum'at.

anyway, good work. 
6,5/10

27 January 2010

THE ROAD ( 2009 ) / DOOMSDAY ( 2008 )

WE WANT APOCALYPSE!!

THE ROAD ( 2009 )


REVIEWED BY 'R'

Setahun silam, kawan saya pernah merekomendasikan buku 'The Road' karya Cormac Mc Carthy, dan saya nggak pernah sempat membeli atau membacanya, setahun berikutnya, akhirnya saya hanya mampu menikmati cerita 'The Road' dengan menonton filmnya. hehe
yah, film besutan sutradara John Hillcoat ini, adalah adaptasi dari buku tersebut.
Afdolnya, mereview sebuah film adaptasi memang dengan membaca buku nya terlebih dahulu. tapi, yaudahlah kalo nunggu saya bisa baca bukunya, mungkin review filmnya baru akan selesai 2 tahun lagi hehe jadi lebih baik saya review filmnya aja sekarang..

Oke, saya selalu suka setting dunia apokaliptik. entah kenapa kehancuran itu begitu menggairahkan hehe Manusia memang selalu penasaran dengan yang namanya hari akhir atau kehancuran, kapan terjadinya, bagaimana terjadinya, dan setelah hari itu,..bagaimana dengan manusia dan kemanusiaan? bagaimana kita melewatinya..?
Lusinan kisah bersetting seperti itu dengan bermacam2 genre udah dihasilin hollywood dan pengkhayal2 kelebihan waktu lainnya. Apalagi akhir-akhir ini, --2 tahun menjelang kiamat hehe -- makin banyak aja film yang ngebikin film dengan setting post-apokalip.

dan film ini adalah salah satunya..

Yah, film ini menceritakan kisah ketika bumi sudah sangat tidak layak ditempati. apa yang telah terjadi? virus, bom nuklir ataukah bencana alam? entahlah, namun kehancuran terlihat jelas disana-sini. Mobil-mobil berserakan, gedung hancur, pohon2 mengering dan bertumbangan, tiang listrik roboh, asap mengepul, banyak manusia ditemukan menggantung diri menyadari tak ada lagi kemungkinan dan alasan untuk tetap hidup..depressif. begitulah khayalan seorang Cormac Mc Carthy tentang apokaliptik yang diterjemahkan dalam bentuk visual oleh John Hillcoat dalam film ini.

ditengah dunia yang porak poranda itu, seorang ayah ( tidak diceritakan namanya --diperankan oleh Viggo Mortensen ) bersama seorang puteranya ( Kodi Smit Mc Phee ) terlihat mengais sisa-sisa makanan atau apa saja yang bisa digunakan untuk survive, mereka terus berjalan..tujuannya adalah pantai di arah selatan, dimana sang ayah berharap akan menemukan sebuah peradaban ( atau bantuan? ) disana. Sementara istrinya ( Charlize Theron ) melalui flashback singkat diceritakan dengan tragis memilih jalan bunuh diri.
Jalan menuju harapan yang ditempuh bapak-anak ini tidak mudah, disamping berhadapan dengan buruknya cuaca dan malnutrisi,
kekacauan dan kepanikan total rupanya telah menciptakan segerombolan manusia dengan senjata menjadi pemburu manusia lainnya untuk dimakan dagingnya! yep, kanibal!
namun tidak, film ini bukan hendak menceritakan pertarungan heroik bapak-anak ini dengan gerombolan penjahat-kanibal seperti film2 'Mad Max', 'I am legend' atau ' Waterworld',

namun sebuah kisah lain yang menggambarkan kemungkinan nasib kemanusiaan ketika ras manusia di ambang kepunahannya, dan itu diceritain dari sudut pandang seorang ayah yang putus asa dan puteranya yang polos.

..............................



Nonton film ini kita akan dibawa kesebuah lanskap bumi yang hancur karena sebuah tragedi, di shoot melalui sudut yang impressif dan menghasilkan sebuah gambar dramatis tentang kehancuran yang tersaji dengan 'indah'...Pemilihan warna tone coklat-abu-abu yang mendominasi semakin menguatkan kesan itu. Suram, tidak pasti, sunyi dan putus asa. total depressif.

Viggo Mortensen patut diberi aplause atas usahanya mengurus-kan badan sehingga benar-benar terlihat seperti orang yang kurang gizi, dia juga berakting mengesankan sebagai seorang ayah yang digerakkan oleh ketakutan dan harapan. sementara Kodi Smit mampu mengimbangi akting Viggo sebagai seorang anak yang polos, argumentatif, dan murni jiwanya. Cast yang laen bermain singkat, namun juga mengesankan, seperti Robert Duvall yang kebagian peran sebagai survivor tua penyendiri, atau Guy Pearce sebagai sebagai survivor veteran yang ditemui sang putera di akhir cerita, peran Charlize Theron disini justru cenderung mudah terlupakan.
jangan lupain pula kerja hebat dari divisi make-up dan kostum yang udah bikin Robert Duvall mirip orang gila kelaparan.

Plotnya memang berjalan lamban dan sangat berpotensi jadi membosankan, seperti komentar tukang nasi goreng yang nonton bareng ama saya, " nggak seru euy filmnya..nyetel film yang kaya kemaren aja.." yang kaya kemaren, maksudnya adalah 'My Bloody Valentine' hahahaha
Film ini sepertinya tidak membawa pesan apa-apa selain nyeritain kemungkinan " begini nih jadinya dunia kalo kaga ada hukum dan peraturan.." hehe nah, kayanya para militan-revolusioner musti mikirin membuat sistem-tata-kehidupan lebih dahulu sebelum ngelakuin revolusi ngancurin dunia beserta sistemnya. hehe kok malah bikin sistem lagi? haha udahlah malah ngaco! kikik btw, apokaliptik skala kecil kemaren beneran terjadi di Haiti.

Overall, ini film yang bagus, intrigued dan impresif,
saya suka..terutama jika di tonton pada mood-mood tertentu.

....................

Namun kalo kamu lagi bosen dan berharap ngedapetin cerita tentang dunia apokalip yang penuh ledakan-ledakan plus seorang hero-ine montok bersenjata aneh dan besar berusaha survive dengan memberondong kanibal-kanibal berkaki tujuh haus darah..tentunya ini adalah film yang salah! haha


.........................................................

inilah film yang bener :

DOOMSDAY


REVIEWED BY 'Z'.

Dalam tradisi Grindhouse sejati gue milih satu flick yg diproyeksiin buat jadi throwback ke eksyen badass cinema 80-an. Aksi petualangan tipe game RPG yg berpusat seputar senjata gede2, mobil, dendam & kekuasaan dengan seorang protagonis Charles Bronsonesque ditaro dalam setting dunia pasca-apokalips.

Sineas masa kini punya tendensi buat nyiptain apokalips lewat semacam epidemik massal tertentu. Ada yg nyebutnye “rage”, ada yg nyebutnye “T-virus”, ada juga yg nyebutnye “project terror”. Apapun itu, itu selalu hadir dalam bentuk yg kasat mata, nyebar lewat udara & bisa nyapu satu region tertentu dalam waktu singkat.

Di film ini itu disebut “ the reaper”, virus ganas yg morak-morandain Glasgow sama sebagian besar wilayah British Isles, akibatnye, otoritas setempat nutup zona infeksi secara menyeluruh. Dengan isolasi total bagi semua yg hidup di wilayah kontaminasi, pemerintah berencana buat ngejaga virus reaper ini supaya ngga nyebar ke tempat lain & buat nyaris 20 taun sejak saat itu, karantina ini berhasil.

Sampe suatu hari, virus yg sama ditemuin lagi di London & sebelon tragedi Glasgow berulang, para pemegang otoritas mutusin buat ngambil keputusan kritis. Sebelumnya, satelit telah menangkap bukti2 mengejutkan kalo ternyata ada orang2 yg berhasil bertahan hidup dalam zona infeksi, nyiptain sebuah teori kalo di situ ada sejenis anti-virus yg tersedia. Maka diutuslah Snake Plisken versinye Neil Marshall atas nama Mayor Eden Sinclair (Rhona Mitra) guna mimpin tim khusus dalam misi buat nyari, ngambil ama ngebawa pulang anti-virus tadi sebelon kota London harus ngalamin nasib buruk kaya yg dialamin dataran Skotlandia 20 taun sebelonnye.


Yg lucu dari Doomsday itu gimane die keliatan kaya remake cut-and-paste dari beberapa film jadi satu. Bermula dari film zombie modern (pilih sendiri judul buat ditaro di sini), berlanjut ke Escape From LA, sedikit ber-Resident Evil-ria, masuk ke gigi dunia Mad Max, sedikit interval setting Army Of Darkness, balik ke Mad Max era Road Warriors sebelon muter satu lingkeran penuh ke Escape From LA.
Ini bisa dengan gampang terkualifikasi sebagai minim kreatifitas & mungkin kenyataannye emang gitu, tapi ada cukup banyak eksyen, darah, ama lekuk tubuh wanita buat bikin indera2 perasa kite tetep fresh sepanjang durasinya.

Ayo kita langsung maju aja ke poin penting dari mana sebuah karya cinema berkualitas itu diukur: intensitas kekerasannye!


Ok,coba kita cek...head-shot, dekapitasi, tusukan dari varian aneka senjata tajam, pukulan benda tumpul, kecelakaan lalu-lintas, intinya mah berbagai jenis bentuk kematian yg terlabel sebagai “naas” punya perwakilan di sini. Bahkan ada adegan pembakaran yg –sebenernye- lebih pol dari scene pembakaran Polwan di Silent Hill, CUMAN, terkontaminasi satu setback fatal: objek penderitanye justru si Dokter pria….hmmm, pilihan jelek. Kenape mereka ngga ngelakuinnye ke Read, cewe pengemudi tank yg malahan dihabisi dengan terlalu nyaman? Ngeliat doski meronta-ronta meregang nyawa diatas panggangan pasti bakal lebih memenuhi selera cowo2 misogynist yg mendominasi kursi audiens buat tontonan jenis begini.

Ngomongin wanita, frame layar monitor gue pas muter ini begitu penuh ditebari cewe seksi dengan fashion fetish-slut sampe keliatan kaya video Motley Crue pada masa jaya mereka! Rhona Mitra sendiri keliatan mirip Kate Beckinsale minus dandanan electro-goth annoying doski di Underworld, favorit personal gue itu cewe berpedang-ganda yg nyalain sumbu acara barbeque punk rocknye si Sol. Anjiiiissss, sumpah doski boleh light my fire kapan aja.

Pada akhirnye, Doomsday boleh jadi sepotong romantisme nostalgia dari hal2 terbaik yg pernah dilahirin ama genre ginian. Jadi lain kali seorang sutradara pengen nyontek cinema eksyen 80-an buat ngasilin duit, gue bakal dengan senang hati nontonnye. Pastiin aja kalo di dalemnye ada wabah, barbarian, kanibalisme, motocross, ksatria medieval, kastil, serta jagoan badass montok bermata satu dalem alur padat yg penuh ajal mengenaskan.