Showing posts with label monster. Show all posts
Showing posts with label monster. Show all posts

16 November 2016

( TV-SERIES ) STRANGER THINGS ( 2016- ) Season 1 : 5 Alasan Kenapa Ini Sangat Menyenangkan

Stranger Things langsung menyita perhatian gue dengan tipografi/font judulnya yang terasa sangat familiar. Setelah diinget-inget barulah gue sadar kalo itu sangat menyerupai layout nama Stephen King di sampul novel2 era 80-annya. Dan juga..judul Stranger Things sendiri hmm bukankah itu  sangat nge-rhyme ama Stephen King?  Lalu coba lihat desain posternya, ada anak-anak belasan taun menaiki BMX! wow apakah ini mengingatkanmu akan sebuah film tentang bocah2 yang nyoba nyelamatin makhluk imut dari luar angkasa? 
 
Ya, dari sini saja semangat homage 80/90-an dan aroma nostalgianya sudah terasa begitu menyengat. Jadi, tanpa nyari tau lebih lanjut gue langsung donlot seri garapan Duffer Brothers yang berhasil menjadi hit Netflix di musim panas kemaren ini. 

 
Oke, folks. Kita langsung ke ceritanya :


Premise :

 
Tahun 1983. Ketenangan kota kecil Hawkins, Indiana terganggu dengan kasus hilangnya seorang bocah 12 tahun Will Byers ( Noah Schnapp ) sepulang dia bermain bersama teman-temannya. Kehilangan putera tanpa kejelasan nasib membuat sang ibu, Joyce ( Winona Ryder ) sangat terguncang, dia memaksa petugas polisi Jim Hopper ( David Harbour ) untuk terus melakukan investigasi sampai puteranya ditemukan. Namun, dalam proses penyelidikannya, Jim dan Joyce mulai menemukan banyak keganjilan.

24 July 2013

THE FLY ( 1958 )

Storyline :

Apa yang terjadi dalam 'The Fly'  dimulai ketika pada suatu hari Francois Delambre ( Vincent Price ) mendapat telepon dari Helen ( adik iparnya  ). 

Helen mengaku, bahwa dia telah membunuh Andre ( suaminya ) di laboratorium kerjanya. Francois pun terkejut bukan kepalang, karena pasangan suami-istri yang sudah dikarunai seorang putera ( Phillip ) ini sebelumnya tidak pernah mempunyai masalah apapun.

Ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Francois bersama inspektur Charas segera melakukan investigasi. Hal yang membuat mereka bingung adalah, ekspresi Helen terlihat tidak terlalu berduka. Dia bahkan mampu menceritakan kronologi pembunuhan suaminya dengan tenang. Inspektur Charas langsung menyimpulkan kalo Helen telah menjadi gila. Namun, Francois tak percaya itu. Dia yakin ada yang disembunyikan pada kasus ini, terutama karena Helen sering bertingkah aneh ketika melihat seekor lalat.

Pada suatu hari, putera Helen ( Phillip ), bercerita pada Francois kalo ibunya memang sedang mencari seekor lalat. Bukan sembarang lalat, yang dicarinya adalah seekor lalat berkepala putih dan berkaki aneh.

Lalat berkepala putih dan berkaki aneh??

Demi bisa menguak misteri ini, Francois berpura-pura telah menangkap 'lalat berkepala putih' itu dan akan memberikannya kepada Helen, asalkan dia mau menceritakan penyebab kenapa pembunuhan itu bisa terjadi.

Helen setuju. Dan dia mulai menceritakan kisah mengerikannya.....

Flashback.

28 October 2012

DOG SOLDIERS ( 2002 )

Gue bisa nyebutin banyak bangat pilem tentang zombie atau vampire yang keren, tapi kalo ditanya pilem tentang manusia serigala ( werewolf ) yg memorable dan badass, hmmm..kayanya gue cuma bisa ngitungnya dengan sebelah jari tangan saja,
let's check..An American Werewolf in London (1981) (gue akan nyeritain pilem ini dalam review terpisah ), The Howling (1981), Ginger Snaps (2000)..apalagi ya? remake The Wolfman ( 2010 )? hm,  i don't think so. Twilight? aah, c'mon yang bener aja. Nah, sedikit sekali ternyata, cuma inget 3 judul. (  ada yang mau ngasih gue rekomendasi judul laen? ).

Jadi, pas suatu hari seorang temen berkicau tentang betapa badass nya serigala jejadian dalam 'Dog Soldiers', gue pun mengeluh kenapa ya dulu selalu ngelewatin pilem ini pas di rental DVD, mungkin karena ngebaca judulnya gue mengira ini pilem tentang anjing yang menjadi tentara (?) atau kemungkinan lainnya, mungkin karena Twilight udah ngilangin selera gue buat peduli ama kisah manusia serigala ( hal yang sama juga terjadi pada vampire ), Padahal setelah di cek, pilem ini ternyata adalah directorial debut dari Neil Marshall, nama yang kita kenal bertanggung jawab atas kisah horror klaustrofobik monster goa nan fenomenal 'The Descent' ( 2005), nama yang ini nggak mungkin bikin emo teen werewolf in love kan?  segera saja gue memerintahkan divisi per-download-an untuk mengunduh file nya. Tentu saja setelah gue menyogoknya dengan semangkok siomay.

Ok, kita liat kaya apa pilemnya :)

Storyline : 

Satu squad tentara Inggris di bawah pimpinan Sgt. Harry Wells (Sean Pertwee) di terjunkan ke hutan Skotlandia untuk menjalankan latihan militer rutin. Misi latihan yang awalnya lebih mirip acara piknik para tentara lengkap dengan candaan kasar dan api unggun, mendadak berubah ketika seseorang ( atau sesuatu ? ) melemparkan bangkai sapi ke arah mereka. Penasaran, mereka mulai mencari tahu siapa yang melakukannya. Tak lama kemudian squad ini mulai sadar sedang berhadapan dengan musuh nyata ketika mereka menemukan base camp batalion lain dalam keadaan porak poranda, penuh darah dan organ tubuh berceceran. Di tempat itu pula, mereka menemukan Capt.Ryan (Liam Cunningham) dalam keadaan sekarat, usus nya terburai. Dia meracau tentang makhluk buas yang telah merobek perut dan membantai anak buahnya.

We are now up against live, hostile targets. So, if Little Red Riding Hood should show up with a bazooka and a bad attitude, I expect you to chin the bitch!.” Sgt. Harry Wells mengeluarkan perintah.

ketika hari mulai gelap, sosok-sosok besar berbulu dengan taring tersembul dari mulutnya mulai terlihat diantara kegelapan dan pohon-pohon, mengintai mereka. itu Werewolf!

dan horror pun di mulai.

Review :


Diawali ama adegan penerjunan squad ini ke hutan Skotlandia, pilem mulai ngenalin para anggota cast. Biasanya, ini bagian yang rada ngebosenin buat diliat, itu soalnya di kebanyakan pilem lain kita tau mereka cuma 'daging kurban' yang perannya emang cuma buat di makan monster.  Si penakut di telen pertama, si menyebalkan di caplok berikutnya etc, tapi untunglah pengkarakteran para tokoh disini gue pikir tidak terlalu dibuat buat, natural dan unik satu sama lain, satu satunya kesamaan mereka cuma : sama sama foul-mouthed! So, no stereotypes there then. 
Pada gilirannya, ini membuat gue kemudian merasa terlibat secara emosi dan tidak hanya menganggap mereka sebagai 'future victims' belaka. Gue sendiri sangat suka Karakter Spoon ( Darren Morfitt ) dan Sersan Wells ( Sean Pertwee ) . Khusus nama terakhir, dia berakting sangat baik disini meski akting terbaiknya hanyalah ketika memerankan orang yang tewas dengan sangat mengenaskan ( cek di 'Doomsday', 'Wilderness', atau 'Event Horizon' ) haha. 

Sementara itu, dialognya menggunakan logat british yang kental lengkap dengan makian dan joke yang beberapa diantaranya cuman bakal bikin ngakak orang Inggris doang. Gue sering membuka google translate cuma buat ngertiin apa yang lagi mereka omongin dan tetep nggak ngerti haha tapi untungnya lagi lebih banyak yang berhasil bikin gue ketawa. Hal, yang gue suka lainnya, skripnya punya banyak lines memorabel.

Selain karakter yang natural dan nggak stereotip, reaksi mereka ngadepin makhluk jejaden ini juga nggak kaya tokoh di kebanyakan pilem horror laen yang biasanya cuma ngejerit frustasi sambil memekik " oh God..What the hell are these fucking things?!". Abis itu ngelakuin hal yang luar biasa bodoh.

Cek reaksi sersan Wells ketika ngeliat ususnya mbrojol, dia cuma menatap ususnya sambil menggumam " sosis.." badass! haha

atau yang ini :


Mereka beneran kaya tentara, lengkap dengan attitude nganggep semua hal sebagai  bullshit, nggak gampang frustasi dan selalu punya strategi. Ketika amunisi mulai menipis, nggak segan mereka menggunakan penggorengan buat senjata, dan bahkan ketika penggorengan udah nggak ada, salah seorang diantara mereka ( prajurit Spoon..whoa, i love Spoon! ) tak gentar menantang duel adu jotos. Ya, adu jotos melawan werewolf!!
"Come On, Beauties!! "
Gimana dengan efek nya sendiri? kalo mengingat ini adalah sebuah pilem dengan bujet cekak, gue cukup khawatir kru pilem bakal make CGI medioker buat nyiptain sosok sang siluman serigala. Tentunya, gue bukan anti-CGI, tapi masalahnya ketidakhadiran fisik sang monster dalam setting dan aktor yang cuma berakting di depan green screen biasanya gagal menghadirkan feel terror yang hendak dicapai, lebih buruk lagi  penggunaan CGI di banyak pilem horror low budget sering ngerubah horror malah menjadi komedi menyedihkan nan absurd.
Gue bisa nikmatin 'komedi' diatas pada lain waktu dengan mood yang berbeda. tapi, saat nonton 'Dog soldiers'  gue cuma pengen siluman serigala yang badass!

Dan Marshall bersama divisi spesial efek di pilem ini ngejawab request gue dengan nyiptain kepala werewolfnya menggunakan teknologi animatronik.

cek,



Bagian tubuhnya sendiri tetap menggunakan aktor yang memakai kostum prostetik, dan jika kalian bertanya mengapa sang serigala keliatan tinggi, itu karena sang aktor juga memakai 'stilts' ( semacam egrang mekanis ) dibalik kostumnya haha

Liat gimana owsom nya egrang mekanis yang gue maksud :


Gua baca dalam sebuah wawancara, Neil Marshall emang menolak menggunakan CGI karena dianggap over-used padahal teknologi animatonik menurutnya sudah sangat pesat.

" I wanted to tried and tested method ( animatronics ) because i needed the werewolfes in the same frame as the actors so they could properly react to what they were seeing in order to communicate total pulse -pounding terror to a wide-eyed audience ". Neil Marshall

Dan hasilnya memang efektif, kehadiran fisik sang monster mampu memaksimalkan terror yang hendak disampein. Reaksi yang diharapkan dari para aktor dapet. Feelnya dapet. Walaupun memang nggak se-spektakuler SFX di 'An American Werewolf in London'  &  di beberapa adegan mimik sang serigala terlihat sedikit kaku ( maklum robot hehe ), namun sedikit kelemahan ini mendapat support dari kerja kamera dan editing yang tepat guna. Gue mencatat ada beberapa adegan dramatis dari pemunculan sang serigala jejadian yang cukup memorabel. Sementara itu, untuk desainnya sendiri lebih mirip serigala besar yang bisa berdiri. Bagian kaki dan tangannya terlihat kurus tapi berotot dan hanya mempunyai sedikit bulu. Seinget gue, cuma 'The Howling' (1981 ) yang punya desain hampir serupa. Keren!


Jadi, 2 hal penting udah berhasil membuat gue tersenyum, character development yang menarik ama keputusan nggak make CGI. Berikutnya, gimana dengan ceritanya?

Buat sebuah flick horror berdana rendah yang punya premis werewolf vs serombongan tentara, gue jelas nggak naro harepan bakal dapet cerita yang outstanding. Pokoknya kasi aja adegan serigala menerkam ama adegan tembak-tembakan ( libatkan granat + bazooka kalo perlu ) yang banyak, itu aja udah udah cukup bikin otak gue lebih enteng. Dan Marshall kembali ngasih gue lebih dari yang gue harepin. Tetep nggak outstanding sih, tapi ceritanya tuh keliatan bener2 di pikirin buat bisa ngedukung semua aksi dan karakter di dalamnya. Tak lupa dia nyelipin beberapa twist, yang salah satunya sebenarnya udah bisa ditebak di pertengahan durasi, tapi bagaimanapun ini rasanya kaya beli chiki dan nemu selembar ribuan di dalamnya. surprise! haha.

Selain itu 'Dog Soldiers' juga punya banyak referensi pilem cult horror favorit gue, misalnya aja di menit-menit awal dia ngingetin gue ama 'Predator', ketika cerita mulai bergerak dan squad menemukan kabin, jelas ingatan gue melayang pada 'Evil Dead', berikutnya seluruh durasi pilem dihabisin didalam kabin tersebut, squad mulai membuat barikade dan mencoba bertahan dari werewolfes yang mengepung diluar. Disini banyak adegan yang gue rasa ngambil referensi dari 'Night of the Living dead', 'Zulu', 'Aliens', 'Dawn of The Dead', 'Gremlins' dll. Gue sih seneng ngeliatnya, rasanya kalo suatu saat gue bikin pilem pun bakalan dengan seneng hati ngasih tribut buat pilem2 keren favorit gue dengan nge-homage nya. Dan nggak usah khawatir ini bakal kerasa repetitif, karena 'Dog Soldiers' juga punya beberapa adegan orisinil-fresh yang salah satunya bikin gue ngakak, misalnya, adegan prajurit Cooper ngelem usus Sersan Wells yang mbrojol pake superglue. WTF?!



Dari tadi muji muji mulu, jadi ini pilem yang layak dapat rating 10 gitu? sayangnya bukan. Rating 10  udah gue kasih buat 'Braindead' haha.

MINUS POINT :
- Ada beberapa pemunculan werewolf yang stylish & memorabel, tapi gue bakalan lebih seneng kalo penampakan full frontal dari sang werewolf ditambah. Sebagian besar penampakannya emang cuma ditunjukin sekilas2 dalam adegan yang cepat, berbentuk siluet atau close up
- Terima kasih untuk darah, usus mbrojol dan satu adegan yang berhubungan dengan kepala buntung. Itu sangat brutal, Terima kasih juga udah nggak make CGI. Tapi, lebih banyak on screen gory scene, please.
- kamera yang goyang dan perpindahan antar adegan yang sering terlalu cepet, terutama di adegan2 kontak terbuka dengan para werewolf. Tujuannya jelas buat nyiptain 'sense of urgency dan speed', emang sih berhasil, dan gue suka kesan RAW yang dihasilin, tapi kadang bikin pusing juga.
- Aksen british yang kental, bikin gue sering nggak ngerti mereka lagi ngomong apaan haha.

..................................

Overall, dengan segala kekurangannya, 'Dog Soldiers' adalah pilem horror kecil yang nyaris nggak kedeteksi 'radar' , namun kala ditemukan dia secara mengejutkan mampu ngasih gue lebih dari yang di ekspektasiin, karenanya dia layak untuk direkomendasikan. Sebuah kerja yang sangat bagus dari seorang debutan.

Rough, fast pacing, intense, twisty, brutal sekaligus funny.

Dan yang paling penting, 

Neil Marshall berhasil ngingetin kita akan fitrah werewolf sebagai makhluk mitologi yang setiap bulan purnama akan mendedikasikan hidupnya buat mencabik dan memamah daging manusia..

dan bukannya galau gara2 cinta segitiga. ho-hum.

Highly recommended.

RATING:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


.......................................

 ++ Sempat tersiar kabar, kalo sekuelnya sedang diproduksi ( Dog soldiers : Fresh Meat ) dengan Rob Green sebagai sutradara. tapi, setelah blusukan kesana kemari nyari informasi, gue ngedapetin official update kalo proyek itu ternyata batal terealisasi. nggak tau kenapa.

25 August 2012

THE MONSTER SQUAD (1987)

Gue nggak tau apa yang kalian kerjakan buat ngabisin waktu pas guru dan pelajaran di kelas dulu begitu membosankan. Kalo gue sih, biasanya gue mulai ngerubah halaman belakang buku tulis jadi buku gambar. Iya, corat-coret disitu hehe. dan nggak tau kenapa obyek yang paling sering gue gambar tuh kalo diinget-inget ternyata hantu ama monster ( selain He-Man, The Lone Rangers ama Kura Kura Ninja tentu saja ).

Untuk hantu yang paling sering gue gambar tuh pocong, kuntilanak ama kepala buntung sementara untuk gambar monster, ini yang paling nyenengin, soalnya gue bisa bereksperimen dengan bebas..nyiptain monster2 khayalan sendiri. Misalnya ajaa..bikin monster Pak Siswanto. Guru sejarah ini gue rubah jadi monster gurita dengan sepasang taring mencuat dari mulutnya yang berlumuran darah karena mengunyah kepala temen-temen gue. Selain itu, gue juga suka nggambar monster2 dari pilem atau komik horror/fantasi seperti godzilla, drakula, zombie atau mummy. Tentu yang ini berkaitan erat dengan kedoyanan gue ama pilem dan komik horror semenjak kecil ( hobi yang selalu membuat emak marah-marah karena tiap malem terpaksa nganterin gue pipis ke wc ).

Kok serem amat ya anak kecil hobinya nggambar kaya gitu, haha
Nggak sih , gue cuman pengen bilang kalo sebenernya para villain ( monster ) tuh nggak kalah menarik dari karakter superhero. Dua duanya sama memorable dan menempati ruang khayalnya masing2 dalam kepala gue.

Nah, sungguh menyenangkan pas mengetahui ada anak-anak lain di belahan bumi sebelah sana yang ternyata punya hobi dan passion serupa ama gue, haha walaupun itu ternyata cuma ada dalam pilem :P. yeah, it's 'Monster Squad' !!

Storyline :



Sekumpulan anak kecil yang sangat menyukai pilem horror dan monster membentuk sebuah geng bernama 'Monster Squad' . Aktifitas geng ini selain nonton pilem horor, nggambar monster di kelas ( sama kaya gue ) mereka secara aktif juga berdiskusi membahas masalah per-monster-an. Misalnya, tentang '3 cara membunuh vampire', 'siapa sebenarnya Frankenstein, atau kenapa di pilem2, manusia serigala selalu memakai celana? haha yg terakhir itu kedengeran lebih mirip pertanyaan cewe2 abg untuk pilem 'Twilight'.

Sementara itu diceritain, setelah 100 tahun silam kekuatan kegelapan Dracula berhasil dihancurkan Dr .Abraham Van Helsing, kini makhluk penghisap darah itu kembali ke bumi dengan sebuah rencana besar. Dia memanggil monster-monster lainnya..Werewolf, Mummy, Frankenstein, dan Gillman ( monster dari 'Creature from the Black Lagoon' --gue akan ngereview pilem ini kapan-kapan-- ) buat bergabung dalam sebuah misi kegelapan : nyari amulet ( jimat ) yang akan membuat dunia berada dalam genggaman mereka.

Dengan telah meninggalnya Van Helsing, siapa lagi yang akan menghentikan mereka kali ini?

Ghustbusters? No! The Goonies? No! Scooby Doo? Nooope!..

this is Monster Squad Job!!

REVIEW :

 

Rilis hanya setahun setelah 'Night of The Creeps' yang silly splatter, pilem kedua Fred Dekker ini ternyata lebih kerasa kaya pilem Lima Sekawan, Ghostbusters atau The Goonies versi horror. Hehe ya, Monster Squad gue pikir punya bates yang tipis antara pilem drama, keluarga, anak-anak, komedi, petualangan, dan horror. tapi, whatever Fred Dekker untuk kedua kalinya berhasil mengemasnya menjadi sangat sangat menyenangkan.

Selain karena tetep dipenuhi referensi pilem horror dan hillarious funny line, Dekker juga keliatan seneng ngasih olok-olok sekaligus tribute buat genre b-grade horror ( yang sepertinya adalah genre favorit sang sutradara ) , dan jangan lupain pula keterlibatan sang maestro spesial efek untuk urusan ngedesain monster badass : Stan Winston.



Oke, kostum Drakulanya emang cheesy dan keliatan kaya kostum yg banyak dijual di Pasar Baru, tapi desain Mummy, Werewolf, Gillman dan Frankenstein-nya sangatlah keren. Terutama untuk Mummy dan Werewolf, sekali lagi kerja yang sangat bagus dari Stan Winston, Dan andai saja Fred Dekker mau nambah screen time buat mereka, gue pasti akan ngasih 1 rating lagi buat Monster Squad.

Selain itu ada subplot tentang Frankenstein yang membelot dan berteman dengan Phoebe ( anak kecil cewe annoying yang selalu ditolak masuk geng Monster Squad ), juga cerita tentang tetangga Jerman misterius yang di juluki geng ini sebagai 'Scary German Guy'. funny. Semuanya dibalut ama fast pacing, tanpa terlalu banyak adegan yang sia-sia.



Untuk adegan action nya sediri, jangan terlalu berharap akan penuh head exploding dan eksplisit gore seperti di Night of The creeps, selain satu adegan keren dimana tubuh Werewolf yang hancur bersatu kembali, praktis adegan yang lain terasa sangat karikatural, contohnya, adegan gimana anak-anak ini berhasil menendang 'wolfman's-dork' ( yang menghasilkan line hillarious 'Wolf's got nards!!" ) dan gimana cara mereka mengalahkan Mummy kemungkinannya udah sering kalian liat di pilem kartun Scooby Doo, haha. Emang se kiddies itu, meski sebenernya tetep butuh parental guidance juga mengingat ada adegan salah satu anak ini ngintip cewe ganti baju dan cukup banyak bertebaran f-words.

...........................


So, apa yang membuat Monster Squad tetep terasa sangat menyenangkan buat gue adalah, Fred dekker membuatnya dengan passion dan semangat bersenang-senang. Dia nggak pernah peduli pilemnya bakal laku apa nggak ( nyatanya emang nggak laku hehe ), nggak pernah berpura-pura sedang membuat pilem yang berkualitas, nggak juga sengaja membuat pilem jelek supaya dibilang cult. seperti salah satu quotenya :

" You never set out to make a cult movie."

Dia hanya sedang mengerjakan apa yang dia sangat gemari...dengan penuh antusiasme dan kegembiraan. Dan kalian tau, kegembiraan bisa menular.

Monster Squad membuat anak kecil yang berada dalam tubuh dewasa gue melonjak-lonjak kegirangan lalu pada akhirnya terharu karena merindukan masa itu : 80-an. Masa dimana gue selalu percaya dibawah ranjang ada monster berlendir dan yakin digigit laba-laba akan membuatmu memiliki kekuatan super. Masa dimana dunia kerasa baik-baik saja, langit terlihat selalu cerah, hanya bermain setiap hari, penuh fantasi, imajinasi, nggak punya tanggung jawab dan nggak ditanyain kapan kawin hehe.

Fred Dekker's 'Monster Squad', dengan caranya sendiri berhasil ngelemparin gue kembali ke masa-masa indah itu, persis seperti yang dialami kritikus masakan yang terharu pada masakan sederhana masa kecil nya dalam 'Ratatouille'.

Sungguh disayangkan, karir Fred Dekker ternyata cukup menyedihkan, selepas ngebesut Robocop 3 yang flop dan menuai caci maki dari audiens luas, nggak ada lagi pilem yang dia hasilkan. Kemaren gue nonton ulang 'Robocop 3' dan dia memang cukup keras kepala masukin style nya, ngerubah kisah polisi robot yang sudah lekat dengan tone dark menjadi bright, silly dan kiddies. Itu jelas membuat  Robo-fan murka haha. Mulai dari sini gue berasumsi  nggak ada lagi produser yang mau rugi dengan make jasanya haha. You know, produser nggak butuh predikat cult, mereka butuh duitnya berlipat ganda heheh. 

My name is Horace.. | Whore ass??

Gue sendiri berharap suatu saat dia hadir kembali dan ngasih audiens horror sesuatu yang udah sangat langka gue rasain pada pilem2 horror ke kinian : passion, kejujuran, dan semangat bersenang-senang.

Whatever, Miss You, Fred.



RATING:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



01 May 2012

DAGON ( 2001 )

Ini sebenernya pilem yang sering banget gue lewatin pas milih2 pilem di rental dvd. Ga tau kenapa yah? gue nggak pernah tertarik pilem ini. Mungkin desain kovernya yang ( buat gue ) kurang merangsang secara visual, atau mungkin karena gue mengira bahwa pilem ini pastilah salah satu pilem horror-monster micro-budget yang sebenernya udah gue tonton pas sebuah stasiun TV nayanginnya malem-malem. Bukan berarti horror-monster micro-budget nggak keren sih, cuman sayang aja kalo udah bayar sewa, tapi ternyata pilemnya udah di tonton hehe.

Sampai pada suatu hari, akhirnya gue tahu kalo ini pilemnya Stuart Gordon. Ok, tentunya nggak perlu dijelasin lagi siapa beliau. Dan lebih istimewanya lagi, dalam pilem ini Gordon kembali satu tim ama Brian Yuzna ( Produser ) dan Dennis Paoli ( Screenplay ).

Asal tau aja, gue sangat menyukai 2 film yang udah dibuat geng Gordon ini ( Re-Animator dan From Beyond ), itu 2 pilem yang udah gue kategoriin sebagai cult hehe. Selain itu, gue juga ternyata suka pilem Gordon era sebelumnya, Castle Freak ( dalam pilem ini produsernya bukan Brian Yuzna ), dan jangan lupain pilem eksyen kelas B yang membuat gue bertepuk tangan pas nontonnya dulu di bioskop Mulya , Fortress. Itu juga hasil arahan opa Gordon ini.

Jadi, dengan resume kaya gitu 'Dagon' harusnya sih bakalan keren juga dong yah..rasa kepenasaranan itu yang ngebuat gue segera mencari pilem ini lagi. Hehe.

dan prends, ini reviewnya..


Storyline :

Paul Marsh ( Ezra Godden ) dan Barbara ( Raquel Merono ) bersama sepasang lagi kolega nya ( Howard & Viki ), mengalami hari yang naas ketika boat mereka terbentur karang akibat badai yang tiba-tiba datang. Viki terluka cukup parah, maka Paul dan Barbara segera mencari bantuan di kota tepi pantai terdekat, sementara Howard menjaga Viki.

Hal yang Paul dan Barbara tidak tahu adalah, kejadian lebih buruk sudah menanti mereka di kota kecil misterius bernama Imboca itu. Sesuatu yang memiliki lendir, suara aneh, dan tentakel mengintai mereka. Apakah itu Squidwad?? tentu saja bukan.

Apa sebenarnya yang terjadi di kota itu?
Lalu apakah ini ada hubungannya dengan mimpi buruk tentang puteri duyung bergigi tajam yang sering menghantui Paul?


Review :

Dibuka dengan adegan creepy ( sayangnya dengan desain font jelek ) yang nyeritain mimpi paul dimana dia bertemu hantu puteri duyung di dasar lautan, pilem secara efektif langsung menebarkan atmosfir gelap dan misterius. Dan nggak kaya pilem lain dimana di menit2 awal biasanya tempo diperlambat dulu buat ngenalin karakter dan tetek bengeknya, 'Dagon' sudah mengajak penontonnya masuk ke kota Imboca di menit ke 15, dan di menit ke 20, Paul udah terlibat run, hide and seek dengan para fishy-mutant-zombiesque creepy villagers yang akan ngingetin kamu pada adegan di Resident Evil 4.

Baiklah gue kasi tau sedikit, kalo penduduk kota kecil Imboca ini sebenernya para manusia mutan ( separo ikan, separo katak ) yang sedang bertransformasi menjadi ikan ( atau katak? atau cumi cumi? entahlah..) untuk pada akhirnya hidup dilautan. Dan yang lebih buruk dari itu, mereka mengincar Paul dkk untuk diambil kulitnya! Gue nggak tau apa alesannya mereka suka kulit manusia.

Namun tidak seperti Re-Animator atau From Beyond yang bergenre splatstick horror-sci-fi ( sebuah genre yang gue antisipasi kalo mendengar nama Stuart Gordon dan Brian Yuzna ), kisah Dagon ( yang juga diangkat dari cerita H.P Lovercraft's ) ini lebih mirip cerita mitos/dongeng fantasy mistik yang nyaris minus humor. Ini aslinya membuat gue sedikit kecewa karena berharap manusia mutan itu tercipta karena eksperimen konyol atau apalah gitu.

Sorry, gue emang belum pernah membaca buku/novel H.P Lovercraft's dan hanya menilai dari pilem adaptasinya saja :)

Tapi, untunglah kekecewaan gue nggak lama, karena Gordon membuat pilem ini terus bergerak dengan tempo yang enak buat diikuti. Gordon juga menurut gue berhasil ngebangun atmosfir dark gothic nan creepy dengan setting kota kecil Spanyol nya. Segera saja ketika atmosfir creepy sudah terbangun, beberapa jump-scares ditampilkan dengan efektif. make-up efek nya sendiri sangat baik dan menempati posisi ke3 untuk kategori Best Make Up di Fangoria Chainsaw Awards. Sementara itu, nudity dan eksplisit gore nggak bertebaran disana-sini tapi ditempatkan dengan sangat efisien di adegan2 yang emang ngebutuhin itu. Sayangnya beberapa part gue rasa emang terlalu panjang/repetitif dan tidak berpengaruh seandainya dipotong.

Ngomongin adegan gory, Dagon punya beberapa scene yang cukup graphics ( namun seperti gue bilang diatas, ditempatkan efisien di bagian yang emang ngebutuhin itu ) misalnya, seppuku scene, a slashed throat scene, mayat tergantung dengan kulit terkelupas, dll. Namun yang paling disturbing tentu saja adegan pengelupasan wajah yang gue nggak nyangka sungguh brutal. Iya, kita udah tau kalo Hannibal Lecter juga mengelupas wajah korbannya buat jadi topeng, begitu juga Leatherface dan Ed Gein, tapi kita sendiri nggak pernah dikasih tau gimana proses pengelupasan kulit wajah itu kan.? Dalam Dagon, ini ditampilkan cukup eksplisit dalam sebuah adegan dimana seorang tawanan di kelupas kulit wajahnya... hidup-hidup!

skinning alive!
Stuart Gordon sendiri terlihat masih terngang-ngiang kesuksesan Re-Animator dengan memilih karakter Paul mirip dengan Dr.Herbert West ( Paul bahkan memakai sweater Miskatonic ) dan oh ya..karakter cewe disini namanya Barbara, itu maksudnya pasti tribute buat Barbara Crampton hehe.

horny??
Overall, satu hal yang pengen gue protes dari Dagon adalah penggunaan CGI yang terasa sangat buruk ( ini membuat Dagon keliatan amateurish-cheapy ), mengecewakan karena jika dalam From Beyond, Gordon bisa menampilkan slimy-monster yang keren tanpa CGI, kenapa 10 tahun kemudian dia nggak bisa bikin itu. Oh, mungkin keterbatasan budget..baiklah. Dalam sebuah artikel, gue ngebaca kalo Gordon sebenernya berniat membuat Dagon setelah Re-Animator, tapi proyek From Beyond membuat dia membatalkannya. gue ngebayangin kalo aja Dagon dibuat pada dekade itu ( 80-an atau awal 90 ), pastinya itu bakalan penuh ama slimy-monster / creepy-creature keren dan itu jelas bakalan lebih..ehm, menyenangkan hehe.

Secara umum, Dagon terasa tidak sesuperior dan semenghibur 'Re-Animator', walau begitu, dia gue masukin ke kategori 'well-done' ( apalagi kalo nginget budget yang micro ).

Nggak gagal, tapi juga nggak sukses besar. Medioker. Kemungkinannya akan mudah dilupakan, tapi setidaknya, Dynamic-duo Gordon-Yuzna berani bereksperimen menawarkan warna yang lain untuk pilemnya dan thumbs-up nya dia nggak mengecewakan gue. 

Akhirul review, gue cuma berharap suatu saat nanti keduanya akan kembali bergabung buat menghasilkan pilem hillarious-awesome seperti pilem2 di masa kejayaan mereka.

Jadi, untuk Dagon. well, dengan semua kekurangannya..gue cukup menikmatinya :)

RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic