Showing posts with label asian horror. Show all posts
Showing posts with label asian horror. Show all posts

20 February 2017

[ MANGA ] UZUMAKI - Spiral Into Horror VOL 1-3 : Horror spiral ala Junji Ito

Kalo kalian nge-klik menu 'About' di blog ini, disana tertulis 'Selain film, kami juga menulis tentang game, buku, atau komik'. Nyatanya, cuma ada review film di blog ini, haha. Tapi tenang, bisa gue pastiin kalo itu cuma soal waktu saja sebelum akhirnya gue ngereview medium horror selain film. Dan, inilah waktunya. Yap, review HSD kali ini adalah sebuah manga fantastis yang konon telah menjadi benchmark bagi dunia komik ( bergenre horror ) di Jepang.  

Ngomongin manga, aslinya gue bukan pengkonsumsi medium ini dan bahkan nyaris lupa kapan terakhir kali gue membaca sebuah manga. Ah ya, beberapa tahun lalu, seorang kawan merekomendasikan sebuah manga berjudul Parasyte karya Hitoshi Iwaaki, sebuah perkenalan yang kurang berkesan karena meski ceritanya cukup menarik dan dipenuhi gambar-gambar body-horror  gue nggak sampe selesai membacanya. Mungkin mood gue lagi kurang bagus atau sedang malas ( next time, gue akan mencoba membaca ulang manga ini ) tapi memang setelah Parasyte, gue nggak pernah membaca manga-horror lagi.  

Dan mengenai manga yang akan gue review ini, gue malah udah lama nonton versi filmnya ( berjudul 'Spiral' ( 2000 ) , disutradarai Higuchinsky ) , seinget gue, itu film dengan premis yang menarik namun memiliki skrip dan editing berantakan, membuat versi film ini terlalu absurd dan membingungkan ( terutama buat yang belum membaca manganya ) dan pada akhirnya mudah dilupakan. Lalu kemarin, entah kenapa tiba-tiba saja gue memutuskan untuk membaca versi manganya. Gue duga ini karena hujan deras diluar tidak kunjung berhenti dan gue butuh selingan hiburan pembunuh waktu selain koleksi film horror di harddisk yang udah ditonton berkali-kali dan gim Limbo yang juga udah ditamatkan berkali-kali. Pilihan gue jatuh pada manga karya Junji Ito ini.  

Kita ke plot nya dulu. 

15 February 2017

KILLER TOON ( 2013 ) : Inovasi Korea yang Tidak Ada Habis-Habisnya

Reviewed By GAMBIR

Korea sedang berusaha menciptakan kebudayaannya sendiri di dunia hiburan untuk mendapatkan tempat dimata dunia. Lewat media yang sebenarnya sudah lama kita kenal, namun dengan piawainya memberi lebel seakan produk tersebut adalah ciptaannya. Siapa yang tidak mengenal istilah k-drama, k-pop  dan yang terbaru webtoon. 

Padahal kalau kita telisik sebenarnya ketiga produk Korea yang sedang ngehits ini adalah hasil dari serapan  negara lain. Sebut saja K-Pop ( girband/boyband ) yang sebenarnya hanya group vocal biasa, namun mereka kemas dan dilebeli sehingga menjadi identitas tersendiri. Sedangkan webtoon mungkin dibuat untuk menyaingi manga milik jepang yang sudah lebih dulu dikenal. 

Dan dari dunia K-drama belakangan ini mulai bergeser dengan mengikuti format serial tv amerika. Korea kini mulai berani keluar dari genre romansa dan kolosal yang selama ini menjadi andalannya, dan mencoba merambah ke thriller, mistery dan fantasi. Khususnya di dunia thriller karena kita berada di blog horror, serial Gap-Dong dan Signal bisa dikatakan berhasil menarik perhatian. 

Perkembangan dunia hiburan korea selatan belakangan ini mengalami perubahan yang sangat signifikan baik dari segi kualitas maupun industrinya. 

Khususnya di dunia sinema, rupanya korea terus memperbaiki diri dan tak main-main dalam meningkatkan kualitas dan siap bersaing dengan  Hollywod. Berdasarkan artikel media daring yang saya kutip, Direktur Penelitian Kebijakan Korean Film Council (Kofic), Hyoun-soo Kim, memaparkan, para sineas di negerinya  berbenah sedikit demi sedikit memperbaiki kualitas teknis film, seperti suara, gambar dan penceritaan.  

07 November 2014

EDISI I-LOVE-KOREA: MEMORIES OF MURDER (2003)

Written By Ming

Pengantar

Anda salah satu korban Korean Wave (jelas yang saya maksud Korea di sini dan nantinya adalah Korea Selatan, bukan tetangganya yang punya pemimpin berambut Mohawk itu) dengan drama-drama cintanya yang cute dan mengharu biru? Atau penggemar boyband-girlband-groupband—apapun itu sebutannya dengan personel berwajah boneka hasil polesan operasi plastik? Atau begini, setidaknya anda bakal mengetatkan ikat pinggang dengan berpuasa atau cukup mengonsumsi Indomie 3 kali sehari, misalnya, hanya untuk memiliki tablet Samsung terbaru, bukan? Hohoho, tenang saja. Anda tidak sendiri. Saya pun salah satu korban gelombang budaya Korea yang telah mengglobal. 

Cuma, yang saya gemari ini bisa dibilang sepi penggemar di sini—jika dibandingkan dengan produk Korea yang sudah saya sebut di atas, dan cuma bisa jadi obrolan seru sesama penggemar film horror beserta turunannya yang bisa dibilang masih satu spesies dengan pengunjung setia—dan tidak setia—blog horror kacangan (saya sebagai salah satu kontributor abadi dan satu-satunya, memang sudah mengajukan proposal kepada editor blog ini untuk mengganti saja nama Horror Popcorn menjadi Horror Kacang) yang makin sepi postingan hingga membuat sekelompok penggemar fanatik melakukan demo di depan kantor fiktif kami. 

18 February 2013

Sinema HK Cat III ( The Untold story, Ebola Syndrome, Daughter of Darkness & Red To Kill )

Pertengahan tahun 90-an, dunia sinema-lokal kita mengalami kebangkrutan. Penonton beralih ke Laser Disc atau VCD dan enggan mendatangi gedung bisokop, sementara sineas memperparah kondisi itu dengan hanya memproduksi film-film seks absurd berdana rendah yang membuat kita akrab dengan nama Windy Chindyana, Reynaldi atau Ibra Azhari. Kita nggak sendirian mengalami era kelesuan-sinema ini, hal yang sama juga ternyata terjadi pada sinema Hongkong.  

Menurut sumber terpercaya kita ( Bang Wiki ),
karena beberapa penyebab, penjualan tiket bioskop udah terasa menurun sejak akhir 80-an, gejala tidak baik itu mencapai puncaknya pada mid 90-an dimana sinema HK mulai kolaps dan akhirnya terjun bebas. Indikasinya bisa dilihat dari turun drastisnya jumlah penonton dan jumlah pilem yang di produksi ( terutama jika dibandingkan dekade sebelumnya ), dan dari jumlah itu, pilem2 yang diproduksi sebagian besar ternyata bergenre eksploitasi alias Cat III. Cat III ( Category III ) sendiri adalah sistem rating yang di tetapkan pemerintah HK pada tahun 1988 untuk pilem2 yang konon kaga cocok buat dikonsumsi anak-anak. Kalo di Indonesia mungkin seperti '17 tahun ke atas', dan untuk di Hollywood sono levelnya sama kaya Rated-R atau NC-17.
Cek : http://en.wikipedia.org/wiki/Cinema_of_Hong_Kong

 Jadi, kasusnya sama seperti sinema lokal kita di era itu yang frustasi merayu penonton untuk datang ke gedung bioskop dengan nyoba memfasilitasi fantasi dan selera murahan-primitif kita akan seks dan ketelanjangan. Kita tau bersama, trik yang biasanya selalu manjur ini pun gagal membuat gedung bioskop kembali ramai, salah satu penyebabnya adalah 

judul dan poster vulgar yang sudah terlanjur melambungkan imajinasi dan ekspektasi penonton, tidak pernah mampu dipenuhi pilemnya sendiri. 

Kefrustasian itu kemudian semakin terasa ketika kru gedung bioskop menghembuskan isu bahwa mereka akan menyelipkan beberapa menit potongan adegan film porno kedalam pilem yang akan diputar. Bisa di tebak, kursi bioskop hanya diisi mereka yang berniat hendak onani saja. Lebih buruk lagi, penonton hardcore-sange ini siap menjungkir balikkan kursi2 jika janji tentang potongan pilem porno itu dilanggar. Chaos.

Nah, sinema Hongkong mencoba membujuk penonton di era krisis itu dengan lebih banyak pilihan. Selain softcore-erotica, action-campy  dan komedi-slapstick, di inspirasikan kesuksesan 'Men Behind The Sun ( 1988 )', mereka gencar menawarkan tema2 tabu tentang pemerkosaan, sadisme, penyiksaan, kanibalisme, muncratan darah, potongan tubuh dan hal-hal menjijikkan lainnya yang ditampilkan dengan sangat eksplisit. ( jangan lupa 'Riki-Oh' juga lahir di era ini ).

Sebenernya, sinema HK sudah akrab dengan tema violence dan tumpahan darah sejak era vintage-horrornya Ma-Xu Weibang atau Kungfu-Splatter ala Chang Cheh, namun mid 90-an inilah era dimana sinema Cat III mereka menjadi sangat populer dan diproduksi dalam jumlah massif.

Dan berbeda dengan era pilem-seks-berdana-rendah kita yang gagal menghasilkan satupun pilem yang layak diinget ( selain judulnya saja yang mengandung kata ternoda, gairah, sex, binal, ranjang, godaan, kenikmatan atau nafsu ), sinema eksploitasi HK Cat III era 90-an berhasil ngelahirin banyak pilem fenomenal nan memorabel yang akhirnya sekarang menyandang predikat cult.
cek judul-judulnya nya disini :http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Hong_Kong_Category_III_films

Dan kalo sudah sampe sini, rasanya salah besar kalo nggak menyebut nama ini : Anthony Wong. Yup, dialah salah satu ikon untuk genre eksploitasi HK era itu, bersanding dengan nama lain seperti Simon Yam, Chingmy Yau, Lily Chung atau Pheng Tan yang lebih dikenal untuk genre softcore-erotica.

Oke, Folks hehe
Tanpa banyak bacot lagi, gue akan menceritakan satu pilem Anthony Wong yang pernah membuat sinema HK Cat III era 90-an menjadi penuh muncratan darah. 
.............................................

The Eight Immortals Restaurant: The Untold Story (1993)


Storyline :

Di ceritakan, Wong Chi Hang ( Anthony Wong ) melarikan diri ke Hongkong setelah melakukan pembunuhan di Macau. Tak lama setelah berada di Hongkong, dia segera menjalankan bisnis restoran 'The 8 Immortal'.

Sementara itu, masyarakat Hongkong tiba2 di gegerkan dengan penemuan tulang belulang dan potongan tubuh manusia di sebuah pantai. Polisi segera turun tangan, dan penyelidikan mereka mengarah pada Wong Chi Hang. Polisi menduga itu adalah potongan tubuh keluarga pemilik asli restoran 'The 8 Immortal' yang menghilang entah kemana. Setelah beberapa saat melakukan investigasi, polisi akhirnya mengambil kesimpulan kalo Wong Chi Hang telah membantai keluarga ini demi menguasai restorannya.

Awalnya, Wong Chi Hang bersikeras tidak mau mengakui tuduhan itu, namun karena tak sanggup menanggung banyak siksaan oleh polisi dan napi lain di dalam tahanan, dia akhirnya menyerah dan menceritakan dengan gamblang kronologis kejadian di malam itu..malam durjana ketika dia dengan brutal membantai 8 anggota keluarga pemilik restoran yang terdiri dari sang nenek, suami-istri dan 5 anaknya yang masih berusia di bawah 10 tahun! 

Lalu, gimana nasib Wong Chi Hang selanjutnya?

Review :

The Eight Immortals Restaurant: The Untold Story ( Bunman ), konon diangkat dari sebuah kejadian nyata yang pernah terjadi di Macau. Namun klaim itu sendiri masih diperdebatkan beberapa pihak sebagai sekedar trik marketing untuk menciptakan sensasi, rasa penasaran dan mendongkrak jumlah penonton saja.

Ok, kaga peduli ini berdasarkan 'real events' atau bukan, 'The Untold Story' tetaplah pilem yang ultra sick-fuck.

Memiliki cerita yang lempeng dan tidak punya banyak kejutan, The Untold Story menghebohkan sinema HK dengan kandungan kekerasannya yang melimpah dan ditampilkan begitu vulgar. Dari mulai mutilasi eksplisit sampai pemerkosaan brutal yang melibatkan sumpit pangsit ( ada apa dengan sumpit pangsit? kalian liat aja sendiri hehe ), Namun yang paling menggegerkan tentu saja adegan pembantaian satu keluarga itu. Bukan apa-apa, kalian pasti udah terbiasa ngeliat orang dewasa terbunuh dengan mengenaskan dalam sebuah pilem horror, tapi gimana kalo kali ini yg menjadi korban adalah lima anak kecil polos nan menggemaskan? sintingnya, Herman Yau ( sang sutradara ) memilih menggelar adegan ini apa adanya, raw, dan slow. Sementara kamera tak pernah menjauh dari kekerasan yang tersaji. Jadi kalian akan ngeliat adegan gimana Wong Chi Hang menghabisi satu persatu anak-anak yang terikat tak berdaya ini dengan pisau pemotong dagingnya, salah satunya bernasib sangat mengerikan karena Wong Chi Hang memenggal kepalanya dengan brutal.


Setelah itu, ditampilkan pula adegan Wong Chi Hang mulai memutilasi mayat2 keluarga itu, memisahkan tulang dan mengumpulkan daging2nya untuk digiling menjadi bahan baku pembuat kue di restorannya. sickfuck.

Gue pernah nonton pilem ini di Bioskop Mulya dulu, dan dengan mudah terlupakan karena rupanya LSF memotong terlalu banyak adegan, itu makanya gue cukup terperangah ketika ngeliat versi Uncut nya kemaren.

20 menit menjelang akhir, pilem ber setting di dalam penjara. Semua napi rupanya marah dan setiap hari menghajar Wong Chi Hang, sementara polisi pun menginterogasi Wong dengan siksaan. Gue ngerasa ini upaya Herman Yau untuk memainkan emosi audiens. Kadang kalian akan ngerasa siksaan yang di terima Wong terlalu banyak dan sedikit kasian ngeliatnya hehe, sampai akhirnya pada satu titik dimana Wong mengakui semua perbuatannya. Dan seperti sebuah rekonstruksi, pengakuan Wong diceritain dalam 10 menit adegan yang berdarah-darah yang udah gue ceritain diatas.

Tenang aja, gue belum bercerita terlalu banyak hehe kalian harus nonton sendiri untuk menemukan adegan2 sinting lainnya.

Meski mempunyai cerita yang begitu kelam dengan adegan2nya yang disturbing, anehnya 'The Untold Story' juga mempunyai sisi kontras berupa komedi-goofy. Bukan, ini bukan seperti komedi-horror gaya Braindead, dimana kepala termutilasi akan membuat kalian tertawa ngakak, adegan pembantaian dan segala hal yang berhubungan dengan Wong Chi Hang sendiri tetep disturbing, memilukan dan serius, namun ketika cerita berpindah ke para polisi, pilem seperti menekan tombol 'Komedi' nya dan atmosfir pun segera berubah menjadi seperti ketika kalian nonton pilemnya Wu Meng Ta. Ya, karakter polisi2 HK disini ditampilkan sangat konyol & komikal. Ciri ini juga bisa ditemui di banyak pilem HK Cat III ( dan kalian juga akan selalu menemukan karakter polwan tomboy didalamnya ). Komedi yang ditampilkan sendiri seringkali terasa klise dan tidak penting, tapi yang jelas ini memang membuat 'The Untold Story' menjadi lebih mudah...hmm..di kunyah, di telan dan dinikmati.

Sementara itu, Anthony Wong berakting dengan fenomenal. Perannya sebagai Wong Chi Hang disini tak terlupakan, dia membuat pisau pemotong daging tidak lagi terlihat sama ( temen gue selalu menyebut pisau pemotong daging sebagai 'Pisau Anthony Wong'  setelah menonton pilem ini haha ), persis seperti bagaimana Jason membuat topeng hoki identik dengan topeng pembunuh. Untuk effortnya, Anthony Wong sendiri akhirnya diganjar penghargaan best actor pada HK Film Award tahun 1994.

Kesuksesan pilem ini memperderas gelombang sinema HK Cat III era itu dan berujung pada pembuatan sekuel2nya  ( 'The Untold Story 2 & 3' --yang sayangnya tak pernah bisa melampaui atau setidaknya menyamai bagian pertamanya ini-- kanibalisme menjadi tema yang populer di HK, beberapa pilem bertema serupa segera dibuat, sampai akhirnya ditutup dengan cantik oleh Fruit Chan's 'Dumpling' (2004) yang lebih psychological.

....................................

Di bawah ini adalah beberapa judul lain dari sinema HK Cat III era 90-an, gue akan nyeritainnya dengan singkat aja ya hehe

....................................
Ebola Syndrome ( 1996 )


Dalam pilem ini Anthony Wong bernama Kai San. Tapi karakternya sama saja dengan Wong Chi Hang, begitu juga dengan ceritanya. Jika dalam 'Untold Story' sehabis melakukan pembunuhan Chi Hang melarikan diri ke HK, dalam 'Ebola Syndrome' Kai San kabur ke....Afrika Selatan.


Di Afrika, Kai San juga bekerja di sebuah restoran Cina, dengan boss yang otoriter. kegilaan dimulai ketika Kai San memperkosa wanita suku Zulu yang ternyata terjangkit virus Ebola. Kai San pun tertular. Dilanda putus asa, Kai San membunuh sang boss, istri dan saudaranya lalu menguasai restoran. Tak lupa dia juga menjadikan daging korbannya sebagai bahan baku kue. Setelah beberapa saat, Kai San memutuskan untuk kembali ke HK dan membuat gempar penduduk sana dengan secara sengaja menyebarkan virus Ebola secara serampangan kepada siapa saja yang ditemuinya.

Seperti gue bilang, ini seperti 'The Untold Story' versi Afrika dengan dosis kegilaan, kesadisan ( dan kekonyolan ) 2 kali lipet. Kali ini tanpa polisi-idiot namun mempunyai atmosfer komedi-sakit yang lebih kental.

Gue nggak perlu menceritakan semua adegan stress nya, tapi ada satu scene yang paling gue inget dari pilem ini :
Kai San, ber onani menggunakan daging ayam dan menumpahkan semen-nya disitu. tak lama kemudian, dia menggunakan daging ayam yang berlumuran sperma itu untuk bahan baku membuat kue.

......................................

Daughter of Darkness ( 1993 )


Anthony Wong tidak menjadi pemeran utama disini. dia memerankan penyidik polisi ( opsir Lui ) haha, lebih tepatnya polisi pervert-konyol yang cerdas.

Opsir Lui sedang menyelidiki kasus pembantaian satu keluarga, dimana hanya ada satu survivor, yaitu sang puteri bernama Wei-Fong ( Lily Chung ). Setelah serangkaian investigasi konyol-asal asalan ( yang ngingetin gue ama investigasi serampangan di 'Memories of Murder' ) opsir Lui akhirnya dapat menemukan sang pelaku pembantaian yang sebenernya udah bisa kita tebak sejak awal haha baiklah, ( ini bukan spoiler ) pelakunya emang Wei-Fong sendiri.

Wei Fong bercerita bahwa ia akhirnya membantai keluarganya, setelah sekian lama mengalami diskriminasi, pelecehan, penyiksaan bahkan pemerkosaan oleh seluruh anggota keluarganya sendiri.

Daughter of Darkness ( DoD ) banyak menampilkan adegan kekerasan, bullying, ketelanjangan, pemerkosaan yang diakhiri dengan aksi balas dendam berdarah, namun jangan ber-ekspektasi ini bakal sesolid 'Bedevilled', plot hole kesebar disana sini ( kalo km masih peduli itu ) DoD bahkan masih terasa inferior jika dibandingkan dengan 'The Untold Story'. Walau begitu, ini termasuk dalam jajaran judul populer/laris di HK pada saat itu. Dan meski memiliki rating Cat III, pada akhirnya konon semua usia boleh menonton pilem ini. Persis kaya gimana dulu, nyaris 50% penonton 'Ranjang yang Ternoda' adalah remaja dibawah usia 17 tahun.

Dan seperti juga 'The Untold Story' meski memiliki cerita gelap dengan banyak adegan kekerasan dan pemerkosaan, DoD mempunyai sisi lain berupa komedi gelap-konyol. kalian bisa ngeliat salah satu potongan adegan investigasi absurd ala Anthony Wong lewat klip dibawah ini haha

 

Selain itu, kritik/sindiran untuk aparat kepolisian HK yang sering salah tangkap dan melakukan penyiksaan pada saat interogasi sangat terasa disini.
 
Dan oh iya, pilem ini sering disebut sebut sebagai  'I spit on your Grave' versi HK

.........................

Yang satu ini bukan pilem Anthony Wong, tapi merupakan salah satu judul yang esensial untuk genre Cat III.
 
.........................
 
Red To Kill (1994)


Seorang psikopat-pemerkosa yang trauma dengan masa kecilnya berkeliaran di HK untuk membunuh dan memerkosa gadis yang memakai baju berwarna merah. Sementara itu, Ming Ming ( Lily Chung ) adalah seorang yatim piatu terbelakang mental yang dirawat di sebuah rumah khusus untuk orang orang yang senasib dengannya. Awalnya, Ming Ming bahagia berada di tempat tersebut, hingga akhirnya pada suatu hari tanpa sengaja dia memakai baju berwarna merah. Sang psikopat-pemerkosa yang ternyata adalah salah satu staff rumah perawatan tersebut, tak mampu mengontrol dirinya...dari seorang santun penuh perhatian dia berubah menjadi seperti Hulk, hanya saja Hulk yang satu ini dikuasai nafsu untuk memerkosa dan membunuh. 

Penuh shocking graphics, ketelanjangan dan glorifikasi adegan pemerkosaan.

Berbeda, dengan 3 judul diatas yang kental dengan komedi gelap, Red To Kill tidak memiliki karakter konyol ataupun sesuatu untuk membuat kita tertawa. Ini beneran kelam dan serius. ( meski pada akhirnya penggambaran sang psikopat yang hiperbola/overakting membuat beberapa adegan malah keliatan konyol juga haha ) , 
Walau begitu Red To Kill mempunyai skrip yang lebih solid dan tense yg lebih terjaga jika dibandingkan dengan 'DoD' dan poin plus lainnya adalah akting Lily Chung yang sangat bagus.
Sementara untuk violence dan gore sendiri hanya tampil brutal di menit-menit akhir durasi.

Shocking Graphics Scene : Ming-Ming merasa dirinya kotor setelah diperkosa oleh sang psikopat, dia menangis lalu mengambil silet untuk menyayat-nyayat..maaf..vagina nya sendiri.

Setelah menonton pilem ini, gue jadi ngebayangin betapa tersiksanya sang psikopat kalo tiap ngeliat cewe berbaju merah dia jadi nggak bisa ngontrol dirinya sendiri. Maksud gue, gimana kalo misalnya yang make baju merah nggak 1 orang, tapi misalnya..20 orang??


.............................................

Itulah beberapa judul dari Sinema HK cat 3 yang booming di era 90-an. Masih ada banyak lagi, kalian mungkin bisa ngerekomendasiin yang bagus buat gue. 

Seperti pilem2 eksploitasi lokal kita di era 70-80an, betapapun buruk, miskin kreatifitas dan murahannya kualitas pilem2 tersebut ( yang berbanding lurus dengan buruknya selera orang2 yang menontonnya -seperti gue- haha ), sinema eksploitasi udah menjadi catatan sejarah dunia sinema dalam usahanya : ngasih hiburan ( dan juga nyari duit :D ). Untuk era 2000-an ke atas, gue nggak tau apa yang kemudian terjadi pada sinema HK semenjak 2 raksasa perfilman Asia lainnya ( Jepang dan Korea ) tampaknya lebih mendominasi.

Ciao.

19 June 2011

THREE..EXTREMES ( 2004 )

Reviewed By 'R'

Pelem yang gue review kali ini adalah sebuah proyek split-movie karya 3 sutradara besar Asia ( Park Chan-Wook, Takeshi Miike dan Fruit Chan ). Ke tiga nya berbagi film dengan durasi sekitar 30 menit buat dijejelin kedalamnya. Ini semacem kaya antologi 'Takut : Faces of Fear' atau '4Bia' beberapa waktu silam lah.

Park Chan-Wook dengan sebuah thriller berjudul 'Cut'.
Takeshi Miike dengan atmospheric-horror berjudul 'Box'.
Dan terakhir, Fruit Chan ngasih kite sebuah drama-psikologikal-disturbing yang diberi judul 'Dumplings'.

+ khusus untuk 'Dumplings', die sebenernye punya versi full-length nya sendiri ( rilis di tahun yang sama : 2004 ) , tapi demi proyek ini kemudian mengalami 'pemangkasan-adegan' disana-sini sampe durasinye dianggap pas.

Naaah, ketiga pelem pendek yang lahir dari tiga tangan berbeda ini kemudian dibungkus jadi satu dengan judul 'Three...Extremes'.

..................................

Oke, brad kite langsung aje ke pelemnya.

CUT

Park Chan-Wook adalah salah satu sutradara yang seneng banget mengeksplorasi kemungkinan apa aja yang bisa digali dari sebuah tema tentang dendam.

Ya, die orang keempat setelah Quentin Tarantino, Barry Prima dan Sundel Bolong yang gue tau kayanye terobsesi ama balas dendam hehe Dan dalam 'Cut' pun die masih bermain di ranah itu.

storyline : Seorang sutradara muda sukses mengalami hari yang buruk ketika salah satu figuran dalam sebuah filmnya menyelinap kedalam rumah dan menyandera istrinya. Figuran-psikopat yang rupanya menaruh dendam ini kemudian memaksa sang sutradara buat memainkan sebuah psikologikal-mind games dengan nyawa istri sang sutradara sebagai taruhan.


'Cut' sempet ngelambungin ekspektasi gue ketika pelem mengarah kesebuah 'torture-revenge-thriller' yang gruesome atau atau kalo nggak dia bakalan dipenuhi letupan kesumat seperti 'Oldboy'. Sementara itu setting dan karakter yang minimal, ngingetin gue ama pelem paling disturbing yang pernah gue tonton ‘Funny Games ( 1997 ) ’ .

Tapi, kemudian level gruesome yang biasa-biasa aje, penggarapan yang terlalu stylish ama tipikal ending yang seperti 'nyuruh penonton buat ngertiin sendiri maksudnye' membuat mood gue terjun bebas.

Buat otak gue yang lelah dan cuma ngarepin sajian bales dendam ala Charles Bronson yang bodoh namun meledak-ledak, tentu aja ini kerasa terlalu sinematik skillfull, bercita rasa tinggi, pinter dan..ehm, sayangnya gagal ngasih hiburan buat gue.

Untungnye ada sedikit balutan dark-humour yang lumayan bikin gue ketawa pas ngeliat tingkah polah sang psikopat yang ngelakuin hal-hal konyol di depan korbannye. Maksud gue, kalo lu pengen ngeliat psikopat make kostum renang terus nari balet, lu bisa nonton pelem ini.

BOX

Semua tahu Takeshi Miike adalah seorang psikopat, dan kebeneran die juga seorang seniman. Die seneng ber eksperimen, lalu membuat pelem sesuka hati tanpa pernah peduli apa kata penonton. Jadi, nggak ada yang bisa menghentikan die buat bikin pelem se-membosankan ini hehe

Storyline : Sebuah tragedi yang melibatkan rasa cemburu dan cinta segitiga membuat seorang mantan pemain sirkus ( Kyoko Hasegawa ) dihantui rasa bersalah. Penyesalan yang mendalam itu, memaksa dia harus berhadapan dengan kenangan dan mimpi buruk yang datang dari masa lalu.

Ya, 'Box' nggak seperti pelem Miike yang laen, tampil terlalu lamban, lirih, sunyi, atmospheric, puzzling dan artistik. Oke, 'Audition' juga lamban yah, tapi disitu mah seenggaknye ada orang ditusuk-tusuk pake jarum hehe. Jejak-jejak ke abnormal-an Miike dalam 'Visitor-Q' atau ke brutalannya dalam ‘Ichi The Killer’ juga nggak ke deteksi di sini.


Kalian akan nemuin banyak shot-shot panjang tak bergerak dengan hanya sedikit sekali musik latar atau dialog. Sementara itu setting yang dominan di sebuah lokasi bersalju akan membuat kalian semakin membeku. Mungkin karena terlarut dalam atmosfir pelem, atau dalam kasus gue : membeku karena bosen.


 'Box' bahkan terlalu indah buat sebuah genre film yang dipuja oleh sebagian penikmatnye justru karena 'kotor dan mentah'. Dalam pelem ini Miike emang keliatan berniat nge-blender cerita horror yang biasanye ‘kotor’ dengan sebuah seni sinematografi yang ‘matang’.

Seandainya di translate kedalam sebuah karya sastra, pelem Miike kali ini pastilah akan menjadi sebuah puisi. Tepatnya, puisi-horror.

Tentu aja nggak ada yang salah dengan puisi-horror..malah kalo lu punya sedikit kesabaran dan konsentrasi, kemungkinan lu masih bisa menikmati pelem ini dan terpesona dengan twist yang disajiin Miike.

Sementara buat gue...hehe gue nggak begitu ngerti puisi.



DUMPLINGS

Selain semua produk yang diiklanin Sule, menurut kalian produk apa lagi yang paling sering nongol iklan nye di tipi?

Hmmm..gue pikir itu adalah iklan kosmetik atau kecantikan hehe.

Gue inget-inget,
Ada iklan sabun yang konon bisa bikin cewe keliatan cakep terus sukses ngedapetin cowo-cowo ( yang pastinye akan ninggalin begitu die keliatan jelek lagi ), terus ada iklan lotion yang nunjukin kalo ungkapan perhatian seorang kawan sejati buat temennye adalah cekikikan sambil berkata “ ih..kulitmu belang-belang kaya tembok..pake dong lotion ini”, sampe krim pemutih yang mampu ngembaliin ‘cahaya muda mu’, bikin lu keliatan 20 tahun lebih muda dari aslinye, persis kaya tante Titiek Puspa.

Semua produk instan yang sebenernya nggak kalah palsu ama teknik skin-retouching di Photoshop atau CPAC ini menyerbu ke ruang tamu kita selama 1x24 jam nonstop. Die menyelinap ke alam bawah sadar, lalu memberi calon konsumennya imaji akan kecantikan yang akan ngebuat cewe mana aje jadi tak percaya diri ketika ngeliat kerutan di wajahnya.

( Sambil ngeliat iklannye, lu juga bisa baca tabloid gosip yang nampilin artikel tentang gimane seorang artis kelas jetset ngabisin duit sebesar gaji lu seumur hidup kerja di pabrik buat sebuah produk kosmetik. )

Secara cepet kita bisa nyimpulin, massifnya iklan2 kaya diatas, mengisyaratkan demand akan produk2 tersebut emang gede. Yang artinye, produknye emang laku. Dan demand yang gede itu mungkin salah satunya disebabin oleh iklan-iklan tersebut. Lah? kenapa jadi mbulet gini?? Padahal gue belum ngomongin sisi psikologis masyarakat di era modern dalam kaitannya dengan feminisme serta anarko-sindikalis bwahahaha..

Buat gue, ( orang biasa-biasa aje ) yang ngerasa aneh ama fenomena ‘kegilaan para wanita akan kecantikan dan kemudaan’ seperti yang ditampilin iklan-iklan itu, reaksi yang gue lakuin nggak pernah lebih dari menggerutu lalu membanting remote.

Tapi buat seorang ‘Fruit Chan’, itu kayanye cukup ngasih die inspirasi buat bikin pelem berjudul ‘Dumplings’.


Storyline :

Mrs.Li ( Pauline Lau ) adalah seorang mantan bintang TV yang sedang dilanda perasaan putus asa dan nggak berguna. Dia ngerasa perhatian suaminya mulai berkurang ( itu karena ternyata sang suami berselingkuh dengan cewe lain. )

Parahnya, bukannya nyalahin ketidak-setiaan sang suami, Mrs. Li justru ngerasa itu disebabin oleh usia yang semakin tua dan penampilannya yang tidak lagi menarik.

Ngeliat kehidupannya yang diceritain cukup mapan, gue ber-asumsi Mrs. Li pasti udah nyobain segala macam merk kosmetik dan terapi tertentu untuk membuatnya tetep keliatan muda dan cantik. Tapi, kayanye semua itu belum memuaskan hatinya.

Dia butuh sesuatu yang lebih instan,
sesuatu yang lebih ajaib.
Dan untuk itu die bersedia ngelakuin apa aja.

Nah, suatu hari Mrs.Li merasa ngedapetin titik terang buat masalahnye ketika dia ngedenger tentang seseorang yang punya resep dumpling ( dumpling = kue bola, kaya baso atau siomay..tapi bentuknya sekilas keliatan mirip vagina maenan :p ). Konon, resep kue itu terkenal punya khasiat mujarab sebagai obat kecantikan dan awet muda.

Tak menunggu lama, Mrs. Li pun segera mendatangi kediaman sang pembuat kue . Kemudian kita akan tahu bahwa pembuat kue terkenal itu bernama bibi Mei ( diperanin dengan impresif oleh Bai Ling ). Ajaib memang, walau bibi Mei mengaku sudah berusia senja, tapi penampilannya ternyata terlihat seperti wanita dibawah usia 30 tahun.

“ ini karena khasiat dari resep kue istimewa gue “ katanya sambil tersenyum bangga.

Bibi Mei pun langsung menghidangkan semangkok kue buat Mrs.Li.

Mrs.Li ingin mencicipi, namun entah kenapa dia terlihat ragu-ragu...

  
Sejenak kemudian, Mrs.Li pun menyendok satu kue, memasukannya kemulut, dan mengunyahnya pelan-pelan…nyammm…


Jreeeng..singkat cerita, sejak saat itulah Mrs.Li secara berkala mendatangi rumah bibi Mei buat mengkonsumsi ‘kue-awet-muda’ itu. Semua berjalan lancar, sampai ketika Mrs.Li nggak bisa menahan rasa penasarannya tentang bahan baku dan resep ‘misterius’ yang digunakan bibi Mei untuk formula kue nya.

Pada sebuah kesempatan, dia mengintip ke dapur,

dan.. oh!

……

apa yang disaksikannya adalah sebuah horror.

Review :

Kalo kita terlibat sebuah obrolan tentang sutradara sinema-horror Asia, ‘Fruit Chan’ jelas bukan nama yang akan segera terlontar dari mulut. Ya, nama ‘Park Chan-Wook’ atau ‘Takeshi Miike’ lebih menggoda untuk disebutkan. Sementara gue sendiri lebih seneng menyebut nama ‘Ng Kai Lam’ hehe

Siape sebenernya ‘Fruit Chan’ ?
Bukankah namanya lebih mirip sejenis permen rasa buah-buahan?

Setelah gue nanya ke ‘kakek segala tahu’ ( baca : google ), dia sebenernya sutradara yang cukup sering dapet penghargaan, tapi catet : sebagian besar pelem yang dihasilkannya ternyata ber-genre drama. Ini cukup ngejawab pertanyaan kenapa ‘Dumplings’ lebih kerasa sebagai drama-psikologikal ketimbang thriller atau horror.

Terus kenape pelem drama bisa nyelip di kompilasi-horror yang ngakunya ekstrim ini??

Seperti opini gue di intro-review ,

pelem ini mempunyai komentar-sosial tentang ‘kegilaan para wanita akan kecantikan dan kemudaan’ yang disampaikan Chan dengan sangat tajam, provokatif, satir, sinikal, hiperbola, dark, disturbing, dan yeah..ekstrim.

Gue nggak bilang bahwa hal paling 'mengganggu' dalam 'Dumplings' adalah resep 'misterius' Bibi Mei. Hehe soalnye, para horror-freak gue yakin sih udah pernah ngeliat yang lebih brutal dari ini. Jangan harap pula bakal ngeliat glorifikasi-kanibalisme dengan organ tubuh dan darah bermuncratan disini. Fruit Chan bahkan boleh dibilang pelit nampilin gambar-gambar gruesome. Ya, segeralah kecewa kalo itu yang kalian cari, soalnye

alih-alih ngasih penontonnya horror untuk diliat, Chan lebih seneng mikirin cara gimana supaya horror itu terjadi dalam kepala kita.

Setelah kita tau rahasia bahan baku kue Bibi Mei yang ternyata ‘memiriskan+menjijikkan’ buat dijadiin makanan, Fruit Chan dengan sengaja nge-shot adegan Mrs.Li memakannya dengan sangat detil dari mulai ‘kue’ itu masuk mulut, dikunyah sampe die melewati tenggorokan Mrs.Li.

Ya. lewat kamera yang dipegang sinematografer Christopher Doyle ( remake ‘Psycho’ | 1998 ) penonton seperti dipaksa ikut ngerasain kenyalnya ‘daging’ yang dimakan Mrs.Li.

Dan kalo porsi visual belum cukup buat buat kalian berimajinasi,..there is sound!
Desain sound yang sederhana tapi efektif dalam ‘Dumplings’ ngebantu kita untuk bisa ngedenger suara daging terkunyah atau tulang-tulang yang berkeriuk lembut dalam mulut Mrs.Li.
 

Gue jamin sensasi yang dihasilin nggak sama kaya kalo kalian nonton salah satu episod ‘Fear Factor’ dimana para kontestan disuruh makan jus tai kebo. Dalam ‘Dumplings’, ada ironi, sindiran-sosial, sick-joke dan rasa kemanusiaan yang terkunyah bersamaan dengan terkunyahnya ‘kue’ di mulut Mrs.Li.

Suatu hari, ketika ketergantungan Mrs.Li pada ‘kue’ buatan Bibi Mei sudah nyampe level addict, sesuatu yang tak terduga terjadi. Bibi Mei kabur keluar kota karena terlibat kasus ‘malpraktek’ yang berujung pada sebuah tragedi.

Pertanyaan yang tersembul kemudian adalah ‘apa yang akan dilakukan Mrs.Li untuk memenuhi ketergantungannya pada ‘kue’ buatan Bibi Mei?' Ini dijawab Fruit Chan lewat sebuah shocking-ending didukung musik-latar menyayat yang berhasil membuat gue merinding. Kayanya ini akan menjadi salah satu ‘most-memorable-scene’ versi gue.


Pada titik ini, kalian akan mengerti kenapa walaupun bergenre drama, ‘Dumplings’ pantas dimasukin ke dalam kompilasi horror-ekstrim bersanding dengan dua nama lain yang udah menyandang predikat cult di genre-spesifiknya.

Overall, Dilengkapi oleh akting brillian, skrip tajam, setting sederhana, karakter kuat, sinematografi impresif dan tata-suara yang efektif, ‘Dumplings’ menjadi satu-satunya pelem dalam kompilasi ‘Three..Extremes’ yang ga disangka-sangka ( dengan caranya sendiri ) mampu membuat gue terkesan.

…………..

Setelah selesai menonton, kalo kalian kemudian nyimpulin wanita sebagai kaum bodoh dan kalap karena mau memakan apa aja cuma biar die tetep keliatan cantik, awet muda dan nggak ditinggalin cowo nya, tentu adalah hal yang terlalu gegabah. Soalnye, ( selain bahwa nggak semua cewe se-desperate Mr.Li ) ngomongin cewe yang berfikir harus cantik supaya die nggak ditinggal cowo, sebenernya sama aja dengan ngomong bahwa cowo cuman ngeliat cewe dari fisiknya aja. ( padahal kan emang bener kan ya? Hehe ) .

Lagipula, kalo misalkan lu suatu hari ngebaca iklan tentang khasiat penis-goreng yang menggaransi lu kuat ngesex 5 jam nonstop, bukannya lo juga akan memakannye? Eh??

Berfikir seperti itu, pada akhirnya gue ngerasa ‘Dumplings’ bukan cuma menyindir para wanita, tapi lebih dari itu dia juga menyasar ke kite..umat manusia, yang sebenernya ( pada saat tertentu ) nggak lebih dari ‘hewan-buas-berlidah panjang’ yang sanggup ngelakuin hal menjijikkan apa aje, memakan apa aje, ngebunuh siapa aje demi obsesi/keinginan/nafsu pribadi nye.

Anjir dah, kenapa review ini mulai mirip khotbah Jum’at??

……………

yummmy..

Yaudah, hehe
Akhirnya gue cuman pengen sharing ama pembaca blog ini bahwa 'Three..Extremes' sepertinya nyoba nawarin kita sensasi menikmati horror dengan cara yang berbeda. 2 pelem didalamnya ( 'Cut' dan 'Box' ) ternyata nggak berhasil ngasih gue sesuatu buat diinget, namun pelem terakhir ( 'Dumplings' ) ternyata mampu membuat gue nulis review cukup panjang hehehe dan itu artinya gue terkesan.

Walau begitu, buat fans Miike dan Chan-Wook gue masih ngerekomendasiin pelem ini. Sementara buat fans ultras-militan-garis keras Lloyd Kauffman..lo tau kalo yang ini bukan buat elo hehe.


RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


22 May 2010

TOKUSATSU & HOROR !! Pemutaran film gratis master legendaris Jepang.

Sambil menunggu review-review baru di blog nggak-profesional-sekarep dewek yang akhir2 ini kuantitasnya postingannya menurun karena berbagai macam permasalahan teknis dan non-teknis yang melanda para reviewer blognya, ini saya kasih info menarik yang saya ambil dari milis 'indomovie'.

Selain filmnya yang menarik tentu yang lebih menarik lagi adalah bahwa acaranya gratis hehehe seneng kan ama yang gratis-gratis? Jadi kalo tertarik, tinggal catet tanggal maennya, dateng rame-rame, duduk, dan enjoy film2 tokusatsu dan horror jepang ini. Sementara, kekurangannya adalah : kurang banyak! hehe coba kalo film model 'Suicide Club' atau Tokyo Gore Police  diputer juga hahaha

Hmmm...jadi berharap kalo suatu saat bakal ada even Grindhouse atau festival tahunan  yang muter film-film horror-campy-b-movie di Jakarta.

Tapi, buat kamu2 yang tertarik ama sinema-jepang khususnya yang bergenre tokusatsu atau horror, even ini kayanya sayang buat dilewatkan. check this!

.......................................................


TOKUSATSU & HOROR !!
Pemutaran film master legendaris Jepang.
Teks bahasa Indonesia.

di Hall JF.Gd. Summitmas I lt.2 Jl. Jend.Sudirman kav.61-62, Jakarta Selatan. (seberang Ratu Plaza)

Tempat terbatas (120 kursi).Tiket GRATIS dapat diperoleh sejak 1 jam sebelum pemutaran di tempat yang sama. Mohon informasikan rombongan dalam jumlah besar kepada : Ratri 021-520-1266.

JADWAL FILM :

Kamis, 24 Juni
pk. 16:30 | Jumat 25 Juni pk.19:00
GAMERA penjaga alam - (Gamera Daikaiju Kuchu Kessen)
Sutradara : Shusuke Kameko | 1995/95 menit

Sinopsis:
3 burung raksasa menghancurkan pulau Himegami. Yonemori dan kelompoknya menyelidiki pulau tersebut dan menemukan benda aneh dan batu bersejarah. Dalam perjalanan pulang kapal mereka tertelan gelombang dan tenggelam hingga ke dasar laut. Di sana hiduplah kura-kura raksasa : Gamera....
Film terkenal dan menjadi legendaris ini banyak dipuji oleh para kritikus dan terpilih menjadi film terbaik dalam Kinema Junpo.






Kamis, 24 Juni 
pk. 19:00
KAIRO-(Aliran/Pulse)
Sutradara : Kiyoshi Kurosawa | 2001/118 menit

Sinopsis :
Tiba-tiba Michi menemukan temannya Taguchi, gantung diri. Ia juga menemukan pesan minta tolong dari Taguchi dalam ha-pe temannya. Berbagai kejadian aneh terjadi berurutan, termasuk boss-nya yang tiba-tiba kecanduan komputer. Semua kejadian aneh ada hubungannya dengan sirkuit komputer.

Semua yang terkait kan lenyap tak berbekas. Kota pun menjadi sepi.... meninggalkan Michi yang bertekad menyelamatkan kehidupan ini...





Jumat, 25 Juni 2010 
pk.16:00
KOLAM SETAN (Yashagaike)
Sutradara : Masahiro Shinoda | 1979/123 menit

Sinopsis
Akira dan Yuri adalah pasangan penunggu lonceng di kolam keramat. Konon, di dalam kolam bersemayam dewa naga. Bila lonceng tidak dibunyikan pada waktu yang tepat, air akan meluap dan membuat banjir.

Ketika kemarau tiba, seorang pendeta meminta agar Yuri dikorbankan bagi sang dewa naga. Wanita itu menolak dan memilih bunuh diri, disusul Akira yang setia padanya. Lonceng tak berbunyi, dalam sekejap air menenggelamkan desa......




+ Acara ini diselenggarakan oleh :
The Japan Foundation, Jakarta merupakan lembaga administrasi independen yang didirikan tahun 1974 dengan nama Pusat Kebudayaan Jepang untuk mempromosikan kegiatan pertukaran budaya antara Jepang-Indonesia.

.........................................

Nah, semoga infonya bermanfaat.