Brian Yuzna mengawali karir profesional perfilmannya sebagai produser film splatstick horror keren yang sekarang menjadi cult classic, Re Animator ( 1985 ). Kaya yang kita tau, film yang disutadarai Stuart Gordon ini sukses. Selepas itu, Gordon dan Yuzna tercatat kembali terlibat di beberapa proyekan film yang juga cukup mendapat apresiasi positif dari penggemar B-horror ( From Beyond ( 1986 ), Dolls ( 1987 ), Dagon ( 2001 ) ).
Namun rupanya, Yuzna tidak puas hanya duduk manis sebagai produser, dia pengen tantangan baru. Menurutnya, " produser mungkin mendapat uang paling banyak, tapi sutradaralah yang pada akhirnya mendapat semua kredit " haha. Maka, ketika pada suatu hari seorang kolega menawarinya untuk menyutradarai sebuah film, tanpa pikir panjang dia langsung menyanggupinya. Ini menarik, kalo nginget Yuzna tuh sebenernya nggak memiliki bakat sebesar Gordon, dia nggak punya background resmi pendidikan film dan semata-mata dikenal hanya karena memproduseri Re-Animator ( yang kebetulan sukses ) haha. Tapi, bodo amat. Kesempatan datang, dan dia nggak ingin menyia-nyiakannya.
Naskah untuk directorial debut Yuzna ditulis oleh Rick Fry. Ketika pertama kali membacanya, Yuzna langsung tertarik. Itu tentang paranoia dan punya banyak suspense didalamnya. Namun, bagian endingnya ( yang tentang sekte pemuja darah ) rupanya kurang membuatnya terkesan. Yuzna pun berniat mengganti bagian itu dengan sesuatu yang lebih aneh, surreal, fantastis dan imajinatif. Hanya saja saat itu dia belum memiliki ide. Kemudian, mungkin setelah ngabisin beberapa botol alkohol dan berjam-jam merenung di wc, akhirnya ilham itu turunlah. Dia teringat mimpi buruknya, dan Eurekaaa! seketika bohlam menyala terang diatas kepalanya, ngasih dia ide untuk me reka-ulang mimpi buruk itu menjadi sebuah sekuens yang akan ditaronya di film. Dan holy shit, sekuens yang sangat imajinatif itu, jujur aja ternyata jadi satu-satunya poin paling brillian di debut filmnya ini haha
Kita ke premisenya dulu.
Showing posts with label black-comedy horror. Show all posts
Showing posts with label black-comedy horror. Show all posts
01 December 2016
11 August 2016
Stuck ( 2007 ) : Satire-horror that 'stuck' with the viewer
Kalian perhatiin deh desain posternya, udah kaya headline tabloid kriminal murahan ya haha. Tapi btw, cerita pilem ini emang terinspirasi dari sebuah berita kriminal yang rame di tabloid2 Texas, Amerika di tahun 2001 silam.
Kasus ini sepertinya akan hilang tanpa jejak. Sampe sekitar 3 bulan kemudian, dalam keadaan mabuk, Chante malah nyeritain sendiri insiden ini ke temennya. Si teman yang shock ngedenger cerita itu, langsung lapor polisi yang segera bergerak cepat menangkap Chante. Setelah menjalani persidangan, pengadilan akhirnya memvonis doi 50 tahun.
Seorang seniman ( Emi Gennis ) membuat cerita bergambar untuk kasus ini, kalian bisa ngeliatnya disini The Unusual Death Of Gregory Biggs
Real Story
Beritanya emang sangat aneh dan tragis, yaitu tentang insiden tabrak lari yang dilakukan oleh seorang perawat bernama Chante Jawan Mallard. Korbannya adalah Gregory Glen Biggs seorang gelandangan berusia 37 tahun. Jadi folks, karena benturan, tubuh Biggs terlontar menembus kaca depan, membuat dia kemudian nyangkut ( stuck! ) dengan posisi setengah tubuhnya ( dari pinggang keatas ) masuk ke bagian depan mobil Chante. Nah, si Chante karena panik, bukannya lapor polisi atau ngebawa korban ke RS, malah nerusin perjalanan pulang. Dia lalu nyembunyiin mobilnya di garasi ( dengan tubuh sekarat Biggs masih merintih rintih diatasnya ), dan ngebiarin hobo malang itu akhirnya meninggal kehabisan darah. Sehari kemudian, dibantu dengan dua teman prianya, Chante lalu ngebuang mayat Biggs di sebuah taman.
Kasus ini sepertinya akan hilang tanpa jejak. Sampe sekitar 3 bulan kemudian, dalam keadaan mabuk, Chante malah nyeritain sendiri insiden ini ke temennya. Si teman yang shock ngedenger cerita itu, langsung lapor polisi yang segera bergerak cepat menangkap Chante. Setelah menjalani persidangan, pengadilan akhirnya memvonis doi 50 tahun.
Seorang seniman ( Emi Gennis ) membuat cerita bergambar untuk kasus ini, kalian bisa ngeliatnya disini The Unusual Death Of Gregory Biggs
23 May 2016
He Never Died ( 2015 ) : Horror dan humor-gelap vampire anti sosial
Kira-kira apa yang akan kalian lakukan dan rasakan jika kalian mempunyai umur yang panjang? Bukan, maksud gue bukan 80 atau 90 tahun. Tapi, 1000, 3000, atau 5000 tahun. Haha 300 tahun pertama mungkin kalian akan mengisinya dengan banyak pesta, tapi bagaimana 1000 tahun kemudian? nah, Ini jadi menarik.
Seperti judulnya yang spoiler ( He Never Died ), seburuk apapun hal-hal menimpa tokoh sentral kita Jack ( Henry Rollins ), dia nggak bisa mati. Jack sudah mengalami, melihat dan merasakan banyak sekali peristiwa, berbagai macam profesi pun sudah pernah dia lakoni, dan bagian buruknya adalah dia harus selalu meminum darah dan memakan daging manusia. Apa dia itu vampire? atau kanibal? Tak pernah dijelaskan secara pasti, tapi kemungkinan Jack emang vampire ( atau semacamnya lah ). Pendeknya, dia seorang immortal haus darah yang sudah melihat dan melakukan banyak hal-hal mengerikan di masa lalu.
15 May 2016
Deathgasm ( 2015 )
Terus terang gue nggak terlalu fasih berbicara tentang metal dan referensinya semenjak masa remaja gue telah direnggut dengan menyedihkan oleh Kurt Cobain dan gerombolan ben pecundang dari Seattle lainnya. Meski begitu, gue masih inget ada beberapa poster Iron Maiden terpasang di kamar gue dulu. Nggak, gue mah nggak ngerti musiknya hehe, gue masang poster Iron Maiden karena menurut gue maskot Eddie The Head nya keren. Selain itu, typography Sepultura juga jadi gaya huruf favorit gue pas milox tembok ruko pasar dengan nama geng kampung kami, Galter ( Gabungan Anak Liar Terminal ).
Tapi kalo diinget, genre musik ini emang deket banget ama tema horror. Gue pernah ngeliat sebuah pentas musik dulu dimana salah satu pementasnya adalah sebuah ben yang konon mengusung genre satanic black metal. Ben ini menamai dirinya Singkill. Nah, sedikit info, Singkil adalah nama untuk sebuah areal pemakaman di desa tetangga yang terkenal angker. Dengan nama itu, para personel ben ini seperti mau nunjukin kalo mereka berasal dari dasar neraka dan baru saja merangkak keluar lewat gerbang alam gaib di pekuburan singkil.
24 July 2011
TUCKER & DALE VS EVIL ( 2010 )
Reviewed by ‘R’
Eli Craig ( sutradara debutan yang sebelumnya adalah seorang aktor gagal ) bekerja sama dengan co-writer Morgan Jurgenson menyapa horror-fan dengan sebuah konsep yang kalo gue baca di review-review blog/web laen sepertinya menawarkan sebuah slasher - komedi yang fresh sekaligus tetep setia nampilin elemen tradisionalnya : silly chase, hot-girl with big boobs, dan tentu saja..gory death.
Ah..Bukannya sebuah tawaran yang sayang buat dilewatkan?
Tucker ( Alan Tudyk ) dan Dale ( Tyler Labine ) adalah dua orang hillbillies ( sebutan buat orang yang tinggal di hutan, bukit, apa gunung.—biasanya di deskripsiin sebagai aneh dan nggak ngikutin fashion-- ) yang berencana ngabisin waktu di pondok mereka di tengah hutan.
Kebeneran serombongan remaja kuliahan juga terlihat berencana kemping di tempat yang nggak jauh dari pondok mereka.
Nah, sebuah insiden kecil yang berawal dari prasangka dan kesalah-pahaman membuat rombongan remaja kuliahan ini mengira sedang berhadapan dengan semacem kawanan kanibal ala ‘Texas Chainsaw Massacre’ apa ‘Wrong Turn’. Kesalah pahaman ini kemudian semakin memburuk yang akhirnya malah mengakibat kan satu-persatu dari mereka menemui ajal secara konyol.
Kematian konyol yang di jelasin Tucker dengan polos sebagai : “ a bunch of college kids runnin’ around killin’ themselves..!” haha.
…………………..
THIS REVIEW MAY CONTAINS SPOILER
Asli, menit-menit pertama pelem ini begitu hilarious. Eli Craig berhasil nge-mix laugh & gore dengan brillian buat memaksa penonton tertawa ngakak sekaligus menjerit : “ouch!” . Yeah..Nggak ada lagi yang lebih menyenangkan dari ngeliat rombongan remaja idiot tewas satu persatu..
![]() | |
| Tentu saja selain ngeliat sheriff tewas dengan cara kaya gini, |
bukan karena pembunuh maniak tapi karena kebodohannya sendiri. Gue bahkan nggak akan bosen seandainya itu terjadi sepanjang durasi. haha ini jelas Sebuah ide segar yang membuat gue berfikir ‘kenapa yang kaya gini enggak pernah kepikiran dari dulu yah..’
Nyampe, titik ini gue bahkan ngerasa Eli Craig itu seorang jenius yang ngebawa teen-slasher ke jalur sebenernya. Eh sebentar, emang lu nganggep kisah maniak bertopeng ( yang susah mati + bisa muncul dimana saja ) ngebantai rombongan remaja kesasar yang kehilangan sinyal henpon itu bukan komedi?
Namun prends, euphoria gue nggak lama. Karena ternyata seperti ‘a bunch of college kids’ diatas , gue terlalu cepat nge-judge pelem ini hanya dari menit2 pertamanya .
Ketika pelem terus berjalan dan mendekati akhir, jelas keliatan kalo ‘materi-seger’ dari Tucker & Dale Vs Evil cuma bisa gue dapetin di 40 menit awal saja. Selebihnya Eli Craig keliatan memaksa agar pelem menjadi berdurasi pas 86 menit dan maen aman dengan plot akhir yang sama sekali tidak se-istimewa premise nya..
Iye, berkebalikan dari konsep teen slasher-parodical yang sejak awal ditawarin Eli Craig, masuk ke separo akhir, ‘Tucker and Dale Vs Evil’ tiba2 seperti mengkhianati konsep itu dengan berbelok menjadi pelem slasher beneran, lengkap dengan antagonis beneran plus adegan2 tipikal yang sangat klise dan predictable.
Die berubah dari pelem menyenangkan yang ngetawain ke-klise annya sendiri, jadi pelem yang nyiptain klise buat gue ketawain saking membosankannya.
Sementara itu, twist kecil yang diselipin sama sekali nggak ngebantu naekin mood gue yang udah keburu turun.
Dan momen yang menggenapi hilangnya interest gue adalah ketika diceritain Dale mengalami pencerahan psikologis instan. Maksud gue, kalo lu orang culun yang punya krisis percaya diri parah, lu bisa nyoba dengerin petuah sohib lu yang lagi terluka parah.
Dale’s grown-personality ini terus terang mengecewakan mengingat keluguan duo pria gunung-pecundang ‘Tucker & Dale’ ini adalah salah satu ide yang ngebuat konsep teen slasher-komedi yang diusung Eli Craig di menit awal terasa segar, beda dengan teen-slasher laen dan berhasil bikin gue ngakak.
Sayang banget, soalnye karakter awal ‘Tucker & Dale’ sebenernya juga punya potensi buat menjadi horror-icons selanjutnya setelah Ash atau Derek. Semacem Mr. Bean nya pelem slasher lah haha. Lu bisa bayangin malapetaka macam apa yang bisa ditimbulin dua pria ‘ innocent tapi selalu berada dalam masalah ‘ ini kalo seandainya mereka pergi ke kota dalam pelem berjudul ‘Tucker & Dale in New York’.
Ya, mungkin Eli Craig nggak pernah mikir sejauh itu, dan cuman pengen bikin satu pelem hiburan satir ringan sekaligus nyampein pesan naïf ‘don’t judge book by it’s cover’ nya. Yang artinye, kalo lu lagi ada diterminal Pulogadung, terus tiba2 ada pria sangar-brewokan-bertatto nyamperin sambil megang piso dan nyoba minjem hp yang lagi lu pegang, jangan berburuk sangka dulu, kasihin aja hp lu sambil kasi senyum manis, karena siapa tau dia cuman mau ngasih lu pulsa gratis. Eh..?
Overall, Alan Tudyk dan Tyler Labine mencuri perhatian dengan peran mereka sebagai duo hillbillies yang ngingetin gue ama duo hillbillies brutal di ”Deliverance', Peran keduanya sangat mudah disukai penonton dan selalu berhasil memancing tawa. Sementara Katrina Bowden selaen ngasih sedikit boner juga sukses berperan sebagai gadis remaja yang maen bowling terus berciuman tanpa trauma sedikitpun setelah 7 temennya tewas dengan cara mengenaskan. Laurie Strode ama Sidney Prescott tentu bakalan heran ngeliatnya.
................................................
Jadi final verdict nya,
Nge-skip semua komentar personal gue diatas, sebagai pelem yang dibikin oleh orang yang baru aja mengawali karir sutradara nya, gue tetep nggak ragu ngasih applause buat effortnya. Yup, ‘ Tucker & Dale vs Evil’ masih sangat berpeluang menciptakan gemuruh tawa kalo ditonton rame-rame, gue juga masih akan tetep mengingat adegan Dale berlari panik ( karena dikerubutin tawon ) sambil ngayunin gergaji mesin sebagai salah satu ‘most silly-death in horror movies’,
tapi sebagai sebuah film secara keseluruhan, ‘Tucker & Dale Vs Evil’ masuk kategori pelem yang bakal mudah gue lupain.
29 August 2010
Black Devil Doll ( 2007 )
Reviewed By 'Z'
Tapi Mubia itu seorang “playa”, jadi satu cewe ngga akan cukup buat die. Malahan, Mubia adalah ‘playa’ yg sangat dashyat sampe die berhasil ngeyakinin Heather buat ngumpulin temen2 Kaukasia doi demi kepentingan napsu libido pacar-boneka doi semata. Nah, gue yakin semua laki2 di luar sana pengen tau gimane cara die bisa ngelakuinnye kan? Ngaku deh. Well, sebenernye cukup simpel kok: bilang terus terang & tabokin aje pacar lo kalo die ngga mau. Mubia sih gitu & itu sukses bikin Heather ngirimin 4 orang bondon ke rumah khusus buat kepetingan jadi objek napsu-binatang sang pacar sementara doi sendiri pergi makan ke Mc Donalds. Semuanye sementara eks doi, seorang wannabe rap-superstar yg terperangkap dalem tubuh pria kulit putih, sibuk nyiapin rencana buat menangin doski kembali.
Apa yg terjadi berikutnye? Sederhananye sih: eksebisi non-stop awesomeness dari standar paling rendah bencana-sinema.
Rasisme, seksisme, hubungan antar-spesies (kalo lo ngitung boneka sebagai sebuah spesies), darah, boobies, shit-fetish, montase2 skinemax, necro, necro cum-shot, pembunuhan dengan senjata tajam, pembunuhan dengan benda tumpul, dumb-blondes, anal, ini adalah sebagian dari apaan isi film yg sepenuhnye dibikin dalem “Negroscope” ini.
Dibikin pake konsep throwback ke era Grindhouse, ia ngekspos semangat blackxploitation dengan suntikan attitude Troma, praktis ngasih jari tengah (dua2nye) ke muka para kritikus sambil ngencingin semua pakem etika dasar film-making...& semuanye dilakuin dengan sengaja.
Sapepun yg ngukur ini pake standar -kualitas-film- konvensional bakalan missing the point, ini bukan film normal sodara2. Black Devil Doll itu abnormal! Intinye terletak semata-mata pada humor-sakit ama schlock-value. Dan ia nunjukinnye secara eksplisit dengan bangga, dari kredit awalnye aje ia udah nyebut diri sebagai “a Lewis Brothers fiasco”. Waktu sebuah film udah ngga ngerasa perlu nutup-nutupin keburukannye, maka lo tau kalo segala jenis penyimpangan moral ama kebobrokan akhlak bakalan belepotan di dalemnye. Asli, buat punya setitik harepan kalo ini masih nyisain secuilpun nilai estetika adalah sesuatu yg bodoh.
Kaya bisa ditebak, di sini kaga ada yg namanye plot, jalan cerita, atau bahkan karakter sekalipun. 5 bondon-tanpa-isi-kepala yg ada di dalemnye ngga punya peran apapun selaen objek eye-candy semata. Sutradara Jonathan Lewis emang lebih manfaatin talenta ASLI aktris2 ini, kaya nyuci mobil pake, ehmmm, “bagian tubuh” mereka sementara sebuah lagu rap berjudul “Wet Pussy” diputer sebagai latar belakang.
Toh gue pikir sih sesuatu kaya “karakter” itu praktis mustahil buat diidupin ama aktris2 yg bahkan ngga akting, tapi sekedar ngebaca line mereka dari script yg ditaro di lantai, dan fakta bahwa scriptnye sendiri ngga lebih dari kata2 model “OHMIGOOOOD” ama “THAT’S SO GROOOOOSSSS” jelas ngga ngebantu apepun.
Kalo emang mereka “punya sesuatu buat ditujukin”, maka John Lewis dipastiin bakalan ngeksposnye sesering mungkin, “sesering mungkin” disini maksudnye adalah “setiap kali mereka nongol di frame”. Black Devil Doll mungkin punya boobs-shot colongan paling banyak dalem sejarah B-movies, sebagian nyempil & sebagian lagi frontal, tapi satupun kaga ada yg subtil. Yup, komitmen orang2 ini pada tontonan-murahan emang hardcore, suka ngga suka, itu adalah sebuah kenyataan yg sapepun ngga bisa sangkal.
Nah, sekarang dengan ngesampingin semua glorifikasi sleaze-fest pada film ini, gue harus akuin kalo secara produksi, buat sebuah film indie yg dibikin pake Mac, Black Devil Doll keliatan top-notch. Kualitas gambarnye maksimal, dengan tiap montase yg diedit pake teknik split-screen (sebuah homage buat sinema-eksploitasi 80-an) keliatan jauh lebih berkelas daripada keseluruhan filmnye sendiri.
Mereka bahkan, ngga tau gimane caranye, bisa nyisihin cukup budget buat bikin opening-title berbau James Bond yg dashyat. Musiknye juga harus diancungin jempol. Giallos Flame yg bertanggung jawab buat score film ini berhasil ngisi tiap scene pake aransemen2 Jazz-Funk yg maduin riff2 film giallo ama theme2 slasher dengan style Soul yg negro banget. Bagi seseorang yg mencintai black-music setengah mati, gue ngerasa kalo soundtrack di sini kerasa lebih “item” daripada album Eminem manepun. Buat sesuatu yg semua orang dalem proses produksinye harus ngerangkep di 10 kerjaan yg beda, ini bisa dibilang mengagumkan.
Intinye, ngga peduli nama lo sape, ngga peduli berapa banyak sampah yg pernah lo liat, gue yakin kalo misalnye lo tonton, maka Black Devil Doll bakalan jadi sesuatu yg memorabel. Mungkin lo bakalan senyum dari kuping ke kuping, atau mungkin lo bakalan ketawa kepingkal-pingkal, yg pasti lo dijamin bereaksi ngeliat lelucon2 paling seksis, vulgar, politically-incorrect, sekaligus ofensif dalem sejarah sejak –mungkin- hari2 terakhir Grindhouse. Emang sih ia keliatan sama sekali ngga bermutu ataupun serem.
Gue tulis aje di depan buat ngehemat waktu mereka2 yg baca: lo suka film “bagus” apa lo suka film yg “awesome”? Kalo lo suka yg bagus, berarti lo bisa berenti baca mulai dari sini, soalnye ngga ada apapun dalem apaan yg akan gue tulis di sini bakalan menarik buat lo. Kalo lo suka film yg “awesome”, maka Black Devil Doll punya sesuatu buat memuaskan iblis kecil yg idup dalem hati lo, ngga peduli seabsurd apapun seleranye.
Black Devil Doll emang bukan film “bagus”, bahkan dari sudut pandang penggemar tontonan sampah kaya gue sekalipun. Mau gimanepun juga, sesuatu kaya gini ngga berhak buat dibilang "bagus". Tentunye, orang kaya gue idup dengan kepercayaan kalo sebuah film tuh ngga perlu “bagus” untuk jadi “awesome” & Black Devil Doll adalah sebuah film yg sedemikian fantastis dalam awesomeness-nye sampe gue sama sekali ngga peduli ama semua kejelekannye. Ini adalah alesan yg sama ama kenape gue selalu nyari & nonton keluaran2nye Troma ama film2nye Bruce Campbell, bukan karena itu “bagus”, tapi soalnye gue tau itu bakalan “awesome”!!!
Black Devil Doll emang bukan film “bagus”, bahkan dari sudut pandang penggemar tontonan sampah kaya gue sekalipun. Mau gimanepun juga, sesuatu kaya gini ngga berhak buat dibilang "bagus". Tentunye, orang kaya gue idup dengan kepercayaan kalo sebuah film tuh ngga perlu “bagus” untuk jadi “awesome” & Black Devil Doll adalah sebuah film yg sedemikian fantastis dalam awesomeness-nye sampe gue sama sekali ngga peduli ama semua kejelekannye. Ini adalah alesan yg sama ama kenape gue selalu nyari & nonton keluaran2nye Troma ama film2nye Bruce Campbell, bukan karena itu “bagus”, tapi soalnye gue tau itu bakalan “awesome”!!!
Guyonan ngaco film ini udah nunjukin muke jeleknye dari pas ini dimulai. Sejak dari tampilan animasi yg ngomong kalo “this movie is rated X, by an all-white jury”, lalu berlanjut ke Mubia Abul-Jamma (plesetan dari tahanan-politis sesungguhnye: Mummia Abu-Jammal), seorang aktifis kulit item yg dieksekusi gara2 merkosa ama ngebunuh 15 bondon Kaukasia, dipanggang di kursi listrik (absurdnye, ‘aktifis kulit item’ ini diperanin ama sutradara Jonathan Lewis, yg notabene kulit putih). Pada waktu bersamaan, seorang bondon dengan buah dada gede & otak kecil bernama Heather (Heather Murphy) maen2 papan Ouija tanpa alesan yg jelas, ini pun ngebawa Mubia –dalem visual-efek paling mahal di sepanjang film ini- buat ngerasukin boneka Pee Wee Herman yg ada di sofa doi & ngerubahnye jadi versi Soul Brother dari Chucky, lengkap dengan rambut afro ama kaos Black Panther!
Dengan kemampuan magisnye memikat wanita (mungkin dengan nambahin kata “bitch” pada akhir setiap kalimat), Mubia pun secepat kilat bikin Heather jatuh hati, maka masuklah kite ke montase puppet-romance yg keliatan kaya gimane karya seorang Charles Band kalo die mutusin buat bikin video R’n’B....cukup keren ternyata.
Tapi Mubia itu seorang “playa”, jadi satu cewe ngga akan cukup buat die. Malahan, Mubia adalah ‘playa’ yg sangat dashyat sampe die berhasil ngeyakinin Heather buat ngumpulin temen2 Kaukasia doi demi kepentingan napsu libido pacar-boneka doi semata. Nah, gue yakin semua laki2 di luar sana pengen tau gimane cara die bisa ngelakuinnye kan? Ngaku deh. Well, sebenernye cukup simpel kok: bilang terus terang & tabokin aje pacar lo kalo die ngga mau. Mubia sih gitu & itu sukses bikin Heather ngirimin 4 orang bondon ke rumah khusus buat kepetingan jadi objek napsu-binatang sang pacar sementara doi sendiri pergi makan ke Mc Donalds. Semuanye sementara eks doi, seorang wannabe rap-superstar yg terperangkap dalem tubuh pria kulit putih, sibuk nyiapin rencana buat menangin doski kembali.
Apa yg terjadi berikutnye? Sederhananye sih: eksebisi non-stop awesomeness dari standar paling rendah bencana-sinema.
Rasisme, seksisme, hubungan antar-spesies (kalo lo ngitung boneka sebagai sebuah spesies), darah, boobies, shit-fetish, montase2 skinemax, necro, necro cum-shot, pembunuhan dengan senjata tajam, pembunuhan dengan benda tumpul, dumb-blondes, anal, ini adalah sebagian dari apaan isi film yg sepenuhnye dibikin dalem “Negroscope” ini.
Black Devil Doll tuh jenis2 film yg dulunye sering dibikin ama sinema-eksploitasi 70-an, tapi sekarang praktis udah punah gara2 masuknye unsur political-correctness kepada era perfilman modern.
Dibikin pake konsep throwback ke era Grindhouse, ia ngekspos semangat blackxploitation dengan suntikan attitude Troma, praktis ngasih jari tengah (dua2nye) ke muka para kritikus sambil ngencingin semua pakem etika dasar film-making...& semuanye dilakuin dengan sengaja.
Sapepun yg ngukur ini pake standar -kualitas-film- konvensional bakalan missing the point, ini bukan film normal sodara2. Black Devil Doll itu abnormal! Intinye terletak semata-mata pada humor-sakit ama schlock-value. Dan ia nunjukinnye secara eksplisit dengan bangga, dari kredit awalnye aje ia udah nyebut diri sebagai “a Lewis Brothers fiasco”. Waktu sebuah film udah ngga ngerasa perlu nutup-nutupin keburukannye, maka lo tau kalo segala jenis penyimpangan moral ama kebobrokan akhlak bakalan belepotan di dalemnye. Asli, buat punya setitik harepan kalo ini masih nyisain secuilpun nilai estetika adalah sesuatu yg bodoh.
Kaya bisa ditebak, di sini kaga ada yg namanye plot, jalan cerita, atau bahkan karakter sekalipun. 5 bondon-tanpa-isi-kepala yg ada di dalemnye ngga punya peran apapun selaen objek eye-candy semata. Sutradara Jonathan Lewis emang lebih manfaatin talenta ASLI aktris2 ini, kaya nyuci mobil pake, ehmmm, “bagian tubuh” mereka sementara sebuah lagu rap berjudul “Wet Pussy” diputer sebagai latar belakang.
Toh gue pikir sih sesuatu kaya “karakter” itu praktis mustahil buat diidupin ama aktris2 yg bahkan ngga akting, tapi sekedar ngebaca line mereka dari script yg ditaro di lantai, dan fakta bahwa scriptnye sendiri ngga lebih dari kata2 model “OHMIGOOOOD” ama “THAT’S SO GROOOOOSSSS” jelas ngga ngebantu apepun.
Kalo emang mereka “punya sesuatu buat ditujukin”, maka John Lewis dipastiin bakalan ngeksposnye sesering mungkin, “sesering mungkin” disini maksudnye adalah “setiap kali mereka nongol di frame”. Black Devil Doll mungkin punya boobs-shot colongan paling banyak dalem sejarah B-movies, sebagian nyempil & sebagian lagi frontal, tapi satupun kaga ada yg subtil. Yup, komitmen orang2 ini pada tontonan-murahan emang hardcore, suka ngga suka, itu adalah sebuah kenyataan yg sapepun ngga bisa sangkal.
Nah, sekarang dengan ngesampingin semua glorifikasi sleaze-fest pada film ini, gue harus akuin kalo secara produksi, buat sebuah film indie yg dibikin pake Mac, Black Devil Doll keliatan top-notch. Kualitas gambarnye maksimal, dengan tiap montase yg diedit pake teknik split-screen (sebuah homage buat sinema-eksploitasi 80-an) keliatan jauh lebih berkelas daripada keseluruhan filmnye sendiri.
Mereka bahkan, ngga tau gimane caranye, bisa nyisihin cukup budget buat bikin opening-title berbau James Bond yg dashyat. Musiknye juga harus diancungin jempol. Giallos Flame yg bertanggung jawab buat score film ini berhasil ngisi tiap scene pake aransemen2 Jazz-Funk yg maduin riff2 film giallo ama theme2 slasher dengan style Soul yg negro banget. Bagi seseorang yg mencintai black-music setengah mati, gue ngerasa kalo soundtrack di sini kerasa lebih “item” daripada album Eminem manepun. Buat sesuatu yg semua orang dalem proses produksinye harus ngerangkep di 10 kerjaan yg beda, ini bisa dibilang mengagumkan.
Intinye, ngga peduli nama lo sape, ngga peduli berapa banyak sampah yg pernah lo liat, gue yakin kalo misalnye lo tonton, maka Black Devil Doll bakalan jadi sesuatu yg memorabel. Mungkin lo bakalan senyum dari kuping ke kuping, atau mungkin lo bakalan ketawa kepingkal-pingkal, yg pasti lo dijamin bereaksi ngeliat lelucon2 paling seksis, vulgar, politically-incorrect, sekaligus ofensif dalem sejarah sejak –mungkin- hari2 terakhir Grindhouse. Emang sih ia keliatan sama sekali ngga bermutu ataupun serem.
Tapiiii, sebagai satu paket guyonan komplit dari awal sampe akhir, Black Devil Doll ngga akan pernah berenti ngehibur tipe2 “perv-macem-kite” lewat caranye yg awesome, sementara para penggemar film-serius pada muntah2 di pinggir...
Info : silahkan visit juga blognya si Zombem ( Z ) di blog
31 July 2010
DELLAMORTE DELLAMORE ( CEMETERY MAN ) | 1994
Storyline :
Francesco Dellamorte ( Rupert Everett ) adalah seorang penjaga pemakaman Buffalora di Itali Utara. Dia tinggal di areal itu bersama asistennya Gnaghi yang menderita keterbelakangan mental dan hanya mampu mengeluarkan satu kosakata 'gnya' dari mulutnya ( diperankan dengan sempurna oleh Francois Hadji Lazaro ). Selain Gnaghi yang idiot, Francesco hanya mempunyai satu orang teman di kota bernama Franco. Sementara, orang-orang lain hanya menganggap Francesco sebagai pathetics-freak-impotent yang layak untuk di olok-olok.
Masalah Francesco bukan itu saja, pekuburan yang dijaganya ternyata mempunyai misteri yang tidak di mengerti oleh nya. Ya, beberapa minggu setelah dikubur di Buffalora, mayat -mayat itu akan bangkit menjadi flesh-eater-zombie ( yang disebut olehnya sebagai 'Returner' ). Zombie2 ini hanya bisa dihentikan dan tidak akan bangkit kembali menjadi 'Returner' setelah Francesco atau asistennya ( Gnaghi ) memecahkan kepala zombie itu dengan pistol atau sekop! Jadilah setiap malam, aktifitas Francesco & Gnaghi hanyalah menunggu Returner yang mengetuk pintu, meledakkan kepala rotten-corpse berjalan itu, untuk kemudian menguburkannya lagi.
Kejadian seperti itu jelas sangat mengganggu Francesco, namun dia tidak punya pilihan lain. Dia sadar, jika dia melaporkan misteri para zombie ini kepada pihak berwajib, pekuburan Buffalora pastinya akan ditutup dan dia akan kehilangan pekerjaan. So, Francesco memilih diam dan lebih suka meledakkan kepala zombie itu saja dengan revolver. Beres.
Namun, minimnya relasi sosial dan rutinitas kerja, membuat Francesco dilanda kesepian,
"well at a certain in life, you realize..you know more dead people than living." keluhnya.
Suatu hari, kehidupan Francesco yang bak 'mayat-hidup' mendadak berubah ketika dia merasakan 'passion of love' pada seorang wanita ( Anna Falchi ), seorang janda yang suaminya baru saja di kubur di pemakaman itu. Mereka lalu saling jatuh cinta. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ketika sang wanita di gigit oleh zombie mantan suaminya, Francesco menyangka kekasihnya telah meninggal akibat gigitan dan bangkit menjadi 'Returner' , maka diapun dengan perasaan hancur terpaksa menembaknya. Keputusan yang salah, karena kemudian akhirnya dia tahu bahwa gigitan zombie sebenarnya tidak menyebabkan kematian. Artinya, Francesco membunuh kekasihnya sendiri yang sebenernya saat itu belum meninggal. Jiwa Francesco terguncang.
Dikelilingi setiap hari oleh masalah kematian dan cinta, kemudian membuat Francesco merasa frustasi+bingung dan mulai mempertanyakan misteri keberadaan, hidup, cinta, dan kematian. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk melakukan tindakan yang sama sekali tidak kita duga!
Review :
Kalo kita ngeliat sebuah judul film Zombie-Itali ama ngebaca tagline 'Zombies, Gun and Sex..OH MY!" di posternya apa sih yang kita harepin selaen sebuah film yang akan ngasih kita ceceran otak, boobs ama organ tubuh termutilasi seperti yang biasanya dikasih oleh zombie-splatter-flick ala negeri Pizza? Kenyataannya, Michelle Soavi's Dellamorte Dellamore ( di beri judul 'Cemetery Man' untuk peredaran di luar Eropa ) keluar dari stereotipikal film Zombie-Splatter Itali dan membuat gue mengernyitkan jidat buat mengerti apaan sih nih yang lagi gue tonton?.
Ini adalah sebuah sebuah film horror-komedi-gelap dengan sentuhan gothic dan tone-ambience yang penuh dengan adegan simbolis atau metafor2 tertentu yang harus kamu singkap maksudnya kalo pengen ngertiin apa yang pengen sutradara nya sampein. Film zombie tapi harus mikir, kebayang ga sih? haha
Dalam kasus berbeda, model tontonan kaya gini akan membuat gue menggerutu, tapi untungnya tidak dengan Dellamorte Dellamore. Michelle Soavi terus membuat filmnya tidak pernah berhenti bergerak, twisting disana-sini, sampe akhirnya berhenti pada sebuah ending yang kemungkinannya akan membuat sebal setengah mati atau malah terpesona dan penasaran akan maksudnya.
Gue adalah jenis penonton yang terpesona, mungkin karena 2 karakter Francesco & Gnaghi berhasil membuat gue peduli dan terlibat ( bravo untuk akting ke duanya ), mungkin karena shot-shot nya yang stylish, dan mungkin juga karena gue dibuat terkesan dan ketawa oleh beberapa adegan komedi-satirnya yang sungguh bizzare+ikonik seperti : Zombie yang bangkit dari kubur dengan mengendarai motor!, cewek yang merengek-rengek minta di makan ama Zombie-kekasihnya, beberapa momen splatter yang keren, adegan sex-scene Francesco dengan Anna Falchi yang super seksi ( walaupun huge-breast nya dalam film ini digosipin : fake ), tapi jelaslah kalo Anna Falchi hot banget disini! atau mungkin karena ini : percintaan Gnaghi dengan potongan-kepala gadis pujaannya!!
Ya, sub-plot kisah percintaan Gnaghi yang idiot dengan potongan-kepala Valentina menjadi plot sampingan yang tidak kalah menariknya. Sungguh menyentuh sekaligus membuat gue merinding. Bayangin adegan orang idiot menggesek biola di sebuah pekuburan antik, sementara pacarnya yang cuma potongan-kepala menggelinding mengikutinya. Anjrooot! hahaha sebuah adegan yang pastinya pengen dibuat oleh Tim Burton. Adegan ridikulus 'kepala ngomong' ini ngingetin gue ama film Itali lainnya yaitu Dario Argento's Trauma, yang mana Argento menyajikannya dengan tone yang lebih serius..dan Oh ya, tentu saja Stuart Gordon's Re-Animator yang silly-fun itu :)
Menjelang akhir, skenario yang ditulis untuk screen oleh Gianni Romoli dari novel-graphis karya Tiziano Scalvi ini semakin extremely-strange dan membingungkan. it's so surreal-weird. Seseorang yang sudah il-fil dan kehilangan atensi sejak pertengahan film, tentunya akan memencet tombol stop pada momen ini dan memilih nonton Sule di OVJ . Tapi seperti gue bilang diatas, gue udah keburu penasaran, maka yang gue lakuin adalah terus menontonnya sampe abis. Dan bener aja..gue cengok nggak ngerti nih film maunya apaan? ngajak ribut?
Tapi, tentu aje kita sekarang punya banyak forum di Internet yang dipenuhi orang2 kelebihan waktu buat mendiskusikan sebuah cerita film, se-absurd apapun itu. Maka, dengan bantuan mbah google gue mulai searching, ngebaca sekian banyak interpretasi orang, dan akhirnya gue nemu interpretasi yang paling cocok. Setelah itu, gue menonton kembali film ini dan kali ini, ketika film usai..tersungging senyum kepuasan dari bibir gue.Ya, Dellamorte Dellamore itu film mumet yang ketika ditonton kembali akan terasa semakin keren. dan anehnya itu film zombie??!
Gue jelas nggak pikir panjang dulu ketika berpendapat, " gore ya gore ajalah..ga usah nyeni-nyenian " karena pada kenyataannya Michelle Soavi berhasil ngegabungin horror, zombie, gore, romance dan juga nyeni-nyenian menjadi sebuah tontonan yang bisa gue apresiasi.Gue nggak tau apa film kaya gini yang dikategoriin ber-genre arthouse? iya kali ya..hehe. Dan sekarang gue yakin kalo gue sebenernya bisa nikmatin semua subgenre horror dari Thriller sampe Splatter, dari B Movie sampe Z Movie ( hehe ), dari Suspense sampe Exploitation dan dari Grindhouse sampe Arthouse..asal dibikinnya menuhin standar-subyektif gue aja sih hehe.
Dellamorte Dellamore is a zombie flick with a brain. funny-dark, tragic, hot ( Anna Falchi is Hot! ), surreal, weird, scary, smart, twisting and..still bloody-gory. Nah.
8/10
28 June 2010
POULTRYGEIST : NIGHT OF THE CHICKEN DEAD ( 2006 )
Reviewed By 'Z'
Buat gue, cukup ada 2 alesan kenape film ini kudu ditonton:
1. Ini keluaran Troma.
2. Ini dibikin ama Llyod Kaufman...yg berarti ini keluaran Troma.
Biasanye, 2 itu selalu ngasilin hasil akhir yg sama: satu film yg jorok, menjijikan & amoral. Sangat memuaskan buat ditonton sendiri, tapi, jauh lebih memuaskan buat ditonton bareng ama temen2 lo dari kaum penggemar film berkelas. Asli, ngga ada yg lebih indah dari sebuah rilisan Troma selaen muternye bareng orang laen & nikmatin momen2 ngeliat mereka menderita! Rasanye kaya megang remote DVD dalem kamar dengan seorang SG bikinin lo popcorn, trus tiba2 ada bir jatoh dari langit2. Kira2 kaya gitu lah indahnye.
Cerita dari Poultrygeist, rilisan Troma pertama dalem 4 taun, itu berkisar pada Arbie & Wendy, sepasang muda-mudi yg "tumpang-tindih" di malem minggu, nikmatin waktu2 terakhir sebelon mereka lulus SMA & nempuh jalan idupnye masing2: Wendy pergi kuliah sementara Arbie milih buat tetep true pada tradisi-panjang tokoh-sentral film Troma dengan tinggal di kampung guna berkarier sebagai pecundang sejati. Nah, abis sebuah insiden menjijikan lalu berlanjut ke beberapa taun kemudian, Arbie ketemu Wendy dalem barisan demonstran anti-korporasi yg lagi memprotes berdirinye cabang American Chicken Bunker, sebuah gerai siap-saji, di Tromaville. Ternyata, pergaulan buruk kehidupan kampus telah ngebawa Wendy ke dalam satu jurang gelap tanpa dasar bernama “feminisme”. Tentunye ngga ada yg lebih cool dalem lingkar radikal feminis daripada jadi seorang lesbi (atau bi, atau apapun asal bukan straight) kan ? Maka disitulah Wendy berdiri, mengepalkan tangan untuk menentang tirani pasar bebas atau apalah gitu, bersama sist2-nye dari chapter lokal CLAM (Collegiate Lesbians Against Mega-Conglomerations), kabar buruk buat Arbie eh? Dan karena script film ini emang nuntut Arbie buat menderita, kini Wendy pun ngejalin hubungan ama Micki, lesbo-militan ama satu2nye cewe yg keliatannye nelen lebih banyak steroid dari Linda Hamilton di Terminator 2.
Rasa sakit hati Arbie gara2 dilepehin ama high-school sweetheart-nye demi Sarah Connor tadi ngebawa die buat ngambil aksi putus asa terakhir untuk kerja jadi "gadis" penjaga mesin counternye ACB. Ya kaya pura2 bunuh-diri lah, cuman lebih ngga pathetic aje. Nah, kayanye kite semua tau kalo, behind-the-scene, dapur restoran siap-saji itu adalah sesuatu yg udah cukup menjijikan. Dengan semua daging cincang produk dari pabrik pemotong, campuran variasi zat kimia, ama tetesan peluh pekerja yg jatoh ke pesenan tanpa kite ketahui. Sekarang tambahin itu ama imajinasi liar dari seorang Llyod Kaufman disana/sini, dan hasilnye adalah rangkaian gambar2 yg bikin seseorang bisa keilangan napsu makannye. Tak terkecuali kalo “seseorang” itu adalah Oprah Winfrey sekalipun! Nambah masalah pas ternyata outlet ACB ini didiriin di atas tanah pemakaman sakral suku Indian. Yup, mirip ama film “itu”, tau kan? Yg judulnye cuman beda 2 huruf ama yg ini.
Secara perlahan-lahan, arwah murka para Indian pun mulai menghantui ruang dapur. Awalnye Paco, seorang gay-hispanik, nyungsep ke mesin penggiling daging. Satu nasib yg umum diterima ama seorang gay di film Troma. Die kemudian beresureksi dalam bentuk sepotong sandwich yg bisa ngomong. Juga satu nasib yg umum diterima ama seorang gay di film Troma. Berikutnye giliran orang gendut, waktu Michael Hertz…um…”meledak” di WC setelah ngonsumsi telor hasil kutukan Indian kuno. Kalo lo ngga familiar ama Michael Hertz, die itu keliatan semacem kaya gimane bentuknye Preston Lacy kalo nelen Kirstie Alley bulet2, & sudut pengambilan gambar yg dipilih buat nunjukin itu bener2 bakalan ninggalin luka permanen dalem memori lo. Beneran, gue ngga becanda, adegan satu ini sumpah mengerikan.
Secara perlahan-lahan, arwah murka para Indian pun mulai menghantui ruang dapur. Awalnye Paco, seorang gay-hispanik, nyungsep ke mesin penggiling daging. Satu nasib yg umum diterima ama seorang gay di film Troma. Die kemudian beresureksi dalam bentuk sepotong sandwich yg bisa ngomong. Juga satu nasib yg umum diterima ama seorang gay di film Troma. Berikutnye giliran orang gendut, waktu Michael Hertz…um…”meledak” di WC setelah ngonsumsi telor hasil kutukan Indian kuno. Kalo lo ngga familiar ama Michael Hertz, die itu keliatan semacem kaya gimane bentuknye Preston Lacy kalo nelen Kirstie Alley bulet2, & sudut pengambilan gambar yg dipilih buat nunjukin itu bener2 bakalan ninggalin luka permanen dalem memori lo. Beneran, gue ngga becanda, adegan satu ini sumpah mengerikan.
Menyadari sepenuhnye kalo review ini bakalan lebih menjijikan dari review2 gue biasanye. Maka demi kenyamanan pengunjung setia blog ini, gue recap aje kalo abis 45-menit-penuh-semburan-dari-berbagai-variasi-cairan-ajaib-warna/ni-ke-atas-makanan kemudian, marathon jekpot pun dimulai. Jekpot ke properti umum, jekpot ke properti pribadi, orang jekpot saling ngejekpotin satu sama laen, dst, dst. Situasinye kaya keadaan di kampus gue dulu kalo lagi ada acara musik. Marathon jekpot ini kudu ditulis soalnye itu menandai transformasi para pengunjung restoran buat jadi armada zombie-ayam, yup, zombie-ayam! Lengkap dengan bulu2 yg tumbuh dari tempat2 absurd ama paruh tajem. Tentunye ini adalah bagian jualan utama film ini, waktu massa yg ”terzombifikasi” mulai ngebantai massa laen yg engga “terzombifikasi”, dan seperti biasa, Troma ngeksekusi momen itu secara fenomenal. Guts, blood, boobs, senapan mesin, semuanye tumpah-ruah di bagian ini. Sampe Arbie, Wendy ama beberapa survivor terakhir mulai terdesak & siap buat menerima ajalnye. Sebelon kemudian, Humus, sang koki wanita, mati buat kedua kalinye & protagonis kite nemuin senjata pemusnah massal ajaib guna nutup film ini pake sebuah ending yg ‘WTF’.
Fyuh! Capek gue ngereview ini…
Ape sebenernye yg bikin sebagian orang jadi zombie sementara sebagian laennye ngga? Sumpah gue kaga tau. Kenape Humus bisa mati 2 kali juga gue ngga ngerti, kemungkinannye sapepun yg nulis script film ini juga ngga ngerti. Pokoknye doski mati 2 kali, terima aje! Lagian dengan sedemikian banyak adegan splat-stick di sini, lo kaga akan peduli ama detil2 kaya gitu. Kaya semua produksi Troma laennye, Poultrygeist itu tontonan dengan nilai entertainment tinggi. Artinye, isinye dipenuhin ama hal2 menyenangkan yg sinonim ama kata entertainment, tau kan ? Bagian “guts, blood, boobs, senapan mesin” tadi. & kalo semua itu plus ratusan punchline ama toilet-humor masih ngga cukup buat lo, kali ini Kaufman punya trik ekstra: ternyata film ini juga sebuah musikal.
Gue baru tau kalo ternyata musikal itu beda sama opera. Selama ini gue pikir dua2nye tuh sama2 aje, tapi, sebagaimana bisa dijelasin ama para personelnye My Chemical Romance, keduanye ternyata punya perbedaan esensial. Musikal dipake buat ngedeskripsiin film yg sebagian scriptnye ditulis berbentuk lagu, jadi semacam acara Indonesian Idol. Nah sementara kalo opera itu semua dialognye emang dilantunin, semacem kaya yg dilakuin 50 Cents di film di mane die berperan sebagai…50 Cents. Berhubung Poultrygeist ini adalah sebuah musikal, maka lo bisa dengerin serangkaian tembang beraransemen buruk di dalemnye. Sebagian juga dilengkapin ama koreografi jenius pada battle-ballet antara General Sanders vs liga demonstran lesbian. Yup, semua lagu2nye emang achterlijk, tapi keseluruhan packaging-nye? Brilian!!
Tentunye, selera humor Troma itu cuman buat nyervis selera spesifik doang. Mayoritas orang, terutama mereka dengan fanatisme ideologi tertentu, bakalan nganggep lelucon2 film ini sebagai sesuatu yg ofensif.
Asli, scriptnye ini emang praktis dipenuhin ama tsunami dari punchline & wordplay secara tasteless. Semua dialognye sengaja jadi set-up buat ngeledek sesuatu atau seseorang, dan mereka ngelakuinnye ke semua lapisan tanpa pandang bulu. Gue tau kalo sampe saat ini, film sering dijadiin medium buat agenda ngga tau malu dari propaganda tertentu (Avatar, anyone?), tapi yg dilakuin Poultrygeist unik dalem pengertian kalo mereka mah ngga jelas mau propagandain apaan. Semua dijelek-jelekin. Mau kiri-kanan, liberal-konservatif, amerika-etnis, bisnis gede-bisnis kecil kaga ada yg luput jadi bahan maenan. “Politik” dengan versi hantem rata gini bikin nontonnye jadi menyenangkan soalnye lo ngga ngerasa kalo ada orang yg lagi berusaha nyogokin agendanye ke lobang pantat lo.
Kerennye Troma tuh mereka selalu bikin film buat dikonsumsi ama orang idiot tanpa ngerasa perlu merlakuin penontonnye kaya orang idiot. Leluconnye tasteless, gue setuju, tapi semuanye emang beneran lucu, & ngga ada satu momen pun dalem film ini yg bikin gue ngerasa lagi digembala ke satu arah tertentu.
Gue bisa aje nulis semua kemerosotan mental yg terkandung dalem film ini, tapi itu bakalan ngabisin space, plus, kebanyakan orang bakalan nganggepnye sebagai glorifikasi fetishisme semata. Jadi, berhubung kite lagi ada dalam atmosfer piala dunia, biar gue rangkum aje ini pake kronologi update pertandingan via yahoo:
(“*” diitung sebagai menit)
* 3 - Kayanye itu hal paling menjijikan yg pernah gue liat.
* 4 - Bukan ketang, bagian yg ini jauh lebih menjijikan.
* 7 - BOOBIES!
* 11 - Lo yakin die ngomongin fried-chicken?
* 22 - Koreksi, kayanye ini nih hal paling menjijikan yg pernah gue liat.
* 27 - BOOBIES!
* 53 - Biar ngga semenjijikan yg sebelon2-nye, tapi ini masih cukup menjijikan.
* 60 - Gue bingung kenape orang2 ini ngga keabisan hal2 menjijikan buat ditunjukin.
* 71 - BOOBIES!
* 86 - Goblog, gue pikir udah selesai.
TRAILER
rating: 10/10
Labels:
b-movie,
black-comedy horror,
gore,
splatstick,
splatter,
troma,
zombie
18 May 2010
RE-ANIMATOR ( 1985 )
Dan Cain ( Bruce Abbott ) adalah seorang mahasiswa-medis di Miskatonic Medical School, Arkham, Massachussets, yang ber masa depan cerah. Dia mempunyai pacar cantik bernama Megan ( Barbara Crampton ) dan sudah merencanakan untuk menikah. Semuanya berjalan baik-baik saja, sampai semuanya berubah ketika seorang mahasiswa misterius-aneh, Herbert West ( Jeffrey Combs ), --yang juga mengikuti kelas tentang riset otak di Miskatonic Medical School--, menyewa salah satu ruangan di apartemennya.
Tanpa Dan sadari, West ternyata sedang melakukan sebuah eksperimen gila di kamarnya yang selalu tertutup. Dia menciptakan serum 'Re-Animator' dalam ambisinya untuk mampu menghidupkan kembali orang yang telah meninggal. Keadaan semakin memburuk, ketika Dan tanpa sengaja ikut terlibat eksperimen West yang akhirnya menyebabkan kekacauan tak terkendali di kamar jenazah Miskatonic Medical School!
Review :
Setelah akhir2 ini gue dibuat bosan oleh film horror-nowadays yang nggak lebih dari pameran gimana cara ngebunuh sebanyak-banyaknya remaja dalam rentang waktu 90 menit, akhirnya gue ngedapetin lagi TON OF FUN dari genre Horror yang lagi-lagi gue ngedapetinnya dari film jadul tahun 1980-an ( tepatnya 1985 ) ! wow! I Love 80's!
Diadaptasi dari cerita H.P Lovercrafts dan diproduseri ama Brian Yuzna ( produser anthology Takut : 'Faces Of Fear' ) , Re-Animator adalah sebuah film debut sutradara Stuart Gordon --sekaligus masterpiece-nya -- yang pantas disejajarin ama film2 campy-b-movie-splatstick-horror-komedi-cult-klasik ( panjang amat genrenya hahaha ) model Evil Dead , Braindead atau Bad Taste .
Re-Animator juga mungkin bisa disebut sebagai salah satu film Homage yang berhasil. Dari Romero sampe Hitchcock ( scoring 'psycho' jelas banget disini ) dari Frankenstein sampe Evil Dead. Namun kerennya, Stuart Gordon nggak mentah2 mengkopi-paste dan juga nggak berusaha buat menjadi sama seperti influence-influence-nya, dia memoles filmnya dengan adegan2 fresh-orisinil sinting yang akhirnya membuat Re-Animator berhasil punya karakter sendiri dan tanpa ragu berhak menyandang predikat cult-klasik.
Dengan tempo yang terjaga dan asyik buat diikutin, Re-Animator nggak kendor ngehibur penontonnya dari awal sampe film munculin kredit-titel. Dia juga punya adegan-adegan memorable komikal-splatstick-konyol yang bertebaran di tiap jeda menitnya. hillarious-fun!
Ada adegan berantem ama zombie-kucing, ada adegan zombie Arnold Schwarzenneger telanjang bulet ngamuk di kamar mayat, ada adegan zombie- kepala buntung yang nyoba ngendaliin tubuhnya, ada adegan usus ngebelit korbannya, ampe adegan sexual-abuse-weird yang belum pernah ada sebelonnya. Semua itu dibungkus ama performa luar biasa Jeffrey Combs dan David Gale yang membuat keduanya pantas masuk jajaran horror-ikon sepanjang masa. Asli, kalo semua itu kedengerannya terlalu murahan + menjijikan buat kalian tonton, gue dengan keras menyarankan kalian nonton ini sambil makan gorengan. ( lohhh??? ).
Hehe tapi emang bener, Re-Animator masih di bawah level Gory-nya Braindead, semua adegan ridiculous-gory disini cuma dipake sesuai kebutuhan film: Fix! Semua yang ada disini juga well-done : spesial efek, make-up, akting, dan pace semuanya pas pada proporsinya masing-masing. Dan itu semua, membuat Re-Animator terlihat superior jika dibandingin ama Braindead yang gross atau Bad Taste yang un-skillful, walaupun sensasi yang dihasilkan sih sebenernya sama : FUN FUN AND FUN!
Untuk mempersingkat --dan karena omongan reviewer di blog ini tidak bisa dipercaya karena terlalu subjektif wkwkw --, baiklah gue kasih quote dari reviewer sejuta umat idola kalian : Roger Ebert.
One of the pleasures of the movies, however, is to find a movie that chooses a disreputable genre and then tries with all its might to transcend the genre, to go over the top into some kind of artistic vision, however weird. And Stuart Gordon's "Re-Animator" is a pleasure like that. SUMBER.
Tumben nih, beliau satu selera ama gue hehehehe dan kayanya kata-kata engkong Ebert diatas udah cukup mewakili apa yang pengen gue tulis tentang film ini.
Jangan ragu masukin Re-Animator kedalam daftar film klasik yang wajib kalian download, beli, order, tonton dan koleksi. Terutama kalo kalian bisa menikmati, Braindead atau Evildead hehe Highly Recommended!
Jangan ragu masukin Re-Animator kedalam daftar film klasik yang wajib kalian download, beli, order, tonton dan koleksi. Terutama kalo kalian bisa menikmati, Braindead atau Evildead hehe Highly Recommended!
++ baca juga nih cerita menarik temen 'mondoterrore' yang berhasil ketemu ama Brian Yuzna dan dapet tanda tangannya di Screamfest tahun 2007! MONDOTERRORE BLOGSPOT dan baca juga review Re-Animator di blognya yang keren : MONDOTERRORE WORDPRESS
......................................................
RATING : 9/10
Subscribe to:
Posts (Atom)





























