Showing posts with label suspense. Show all posts
Showing posts with label suspense. Show all posts

23 September 2016

Don't Breathe ( 2016 ) : Meraba langkah di kegelapan yang menyesakkan

Barangkali alesan paling besar yang membuat gue bersemangat ama film ini adalah karena nama Fede Alvarez didalamnya. Buat yang belum tau, sutradara asal Uruguay ini udah memberi gue banyak kesenangan lewat remake Evil Dead tiga tahun silam. Sementara itu, cerita dalam Dont' Breathe sendiri bukan sesuatu yang baru, cek postingan blog ini sebelumnya untuk ngeliat film-film laen yang punya ide similiar. Premisnya sangat sederhana, tentang pemilik rumah yang terpaksa harus mempertahankan diri dari penyusup. Yup, thriller home invasion! subgenre ini   menjanjikan thrill-ride seru namun dengan rute yang begitu predictable. Ini sangat riskan dan menurut gue sedikit aje 'sopir'nya salah 'nyetir', film ginian akan dengan mudah nyungsep di selokan. Tapi, hey, ini filmnya Fede Alvarez dan ada nama Jane Levy, Sam Raimi, serta Rob Tapert disana yang kembali terlibat. So, antusiasme gue cukup tinggi. 
 
Jadi folks, ceritanya sederhana aja

 
Sekelompok pencuri remaja Money ( Daniel Zovatto ), Alex ( Dylan Minnette ) ama Rocky ( Jane Levy ) mutusin buat ngerampok rumah yang diatas kertas adalah sebuah target empuk.  Pertama, rumah itu terletak di pemukiman sepi, kedua, pemiliknya diketahui menyimpan sejumlah besar uang, ketiga, dia tinggal sendirian dan jekpotnya adalah..dia seorang tuna netra! Apa yang terasa akan menjadi sebuah perampokan mudah, secara tak disangka berubah menjadi perjuangan survival dimana para perampok amatir ini akhirnya cuma berharap bisa keluar dari rumah itu hidup-hidup. Ya, veteran tua bertubuh kekar ( Stephen Lang ) yang meski buta namun memiliki insting kuat ini bertekad nggak akan ngebiarin itu terjadi.


12 July 2016

Apa yang dilakukan Joko Anwar dalam Modus Anomali?

Written By Gambir

Dalam review ini saya tidak akan menyertakan sinopsis atau bahkan memberikan sekilas jalan ceritanya. Mengingat sang sutradara menginginkan film ini misterius sejak awal, bahkan dalam berbagai promosinya sinopsis fiilm ini begitu singkat tentang “seorang pria yang kebingungan”. mungkin untuk menjaga twist yang serderhana film ini mengingat hanya ini modal jualan modus anomali. 

Saya adalah orang yang percaya bahwa seorang filmmaker mempunyai motivasi tertentu dibalik pencipataan karyanya, entah tujuan serius, bersenang-senang atau hanya sekedar mencari uang. KK Dheraj yang selalu banjir hujatan itu setidaknya memiliki tujuan yang jelas yaitu mendulang rupiah sebanyak-banyaknya. Tak peduli berapa jumlah kritik yang telah dibuat di ribuan blog betapa amburadul hasil karyanya, namun kenyataan berkata lain filmnya laris manis dipasaran atau setidaknya masih bisa menghasilkan uang sesuai dengan tujuannya.
 

19 April 2016

The Invitation ( 2016 )

Selalu menyenangkan menemukan sebuah film yang diluar dugaan ternyata mampu melampaui ekspektasi. Sejujurnya, ngeliat desain posternya gue emang skeptis ama pilem ini. Terlihat medioker, kaya sebagian besar pilem thriller-horror yang gue dapet dari situs2 download gratisan itu. Jadi gue nggak berharap banyak, lagipula gue lebih milih nonton ini daripada ngerjain revisi kerjaan. Viva la procrastination!

.......................................

Seperti judulnya, The Invitation nyeritain tentang undangan.

2 tahun setelah sebuah tragedi yang menghancurkan rumah tangganya, Will ( Logan Marshall-Green ) mendapat undangan pesta makan malam dari mantan istrinya, Eden ( Tammy Blanchard ) dan suami baru nya, David ( Michiel Huisman ). Will pun memenuhi undangan itu, dia datang bersama pacar baru, Kira. Sesampai di lokasi pesta ( rumah sang mantan istri ), disana sudah berkumpul setengah lusin teman lama yang rupanya juga diundang oleh Eden. Will pun berjumpa kembali dengan Eden, dan dia segera menyadari satu hal : mantan istrinya telah jauh berubah dari yang dulu pernah dia kenal. Eden yang baru. Eden yang mengaku bahwa semua penderitaan, trauma dan duka nya kini telah lenyap tak berbekas. 

07 November 2014

EDISI I-LOVE-KOREA: MEMORIES OF MURDER (2003)

Written By Ming

Pengantar

Anda salah satu korban Korean Wave (jelas yang saya maksud Korea di sini dan nantinya adalah Korea Selatan, bukan tetangganya yang punya pemimpin berambut Mohawk itu) dengan drama-drama cintanya yang cute dan mengharu biru? Atau penggemar boyband-girlband-groupband—apapun itu sebutannya dengan personel berwajah boneka hasil polesan operasi plastik? Atau begini, setidaknya anda bakal mengetatkan ikat pinggang dengan berpuasa atau cukup mengonsumsi Indomie 3 kali sehari, misalnya, hanya untuk memiliki tablet Samsung terbaru, bukan? Hohoho, tenang saja. Anda tidak sendiri. Saya pun salah satu korban gelombang budaya Korea yang telah mengglobal. 

Cuma, yang saya gemari ini bisa dibilang sepi penggemar di sini—jika dibandingkan dengan produk Korea yang sudah saya sebut di atas, dan cuma bisa jadi obrolan seru sesama penggemar film horror beserta turunannya yang bisa dibilang masih satu spesies dengan pengunjung setia—dan tidak setia—blog horror kacangan (saya sebagai salah satu kontributor abadi dan satu-satunya, memang sudah mengajukan proposal kepada editor blog ini untuk mengganti saja nama Horror Popcorn menjadi Horror Kacang) yang makin sepi postingan hingga membuat sekelompok penggemar fanatik melakukan demo di depan kantor fiktif kami. 

14 July 2013

ROPE ( 1948 )

Storyline : 


Entah buku siapa yang dia baca ( namun nama Nietzsche dengan teori 'Super Man' nya disebut-sebut disini ) , Rupert Candell ( diperankan oleh James Stewart yang 6 tahun setelah film ini menjadi pemeran utama dalam salah satu karya fenomenal Hitchcock 'Rear Window' ) mempercayai teori bahwa manusia yang superior secara intelektual dan berkepribadian unggul dimana mereka dianggap telah melampaui konsep moral tradisional tentang baik-buruk atau benar-salah, berhak melakukan pembunuhan ( yang disebutnya juga sebagai 'karya seni' ) terhadap manusia bodoh-menyedihkan-tak berguna dari kelas sosial yang lebih rendah. Lebih jauh, setengah bercanda Rupert juga berkata kalo dia percaya pada ekstremis yang mengharuskan adanya musim membunuh setiap tahun, atau 'pekan penggorokan' atau bahkan 'hari pencekikan'. Tentunya, jika umat manusia menjalankan ide itu, gue --sebagai manusia berkasta paling menyedihkan yang datang dari ras terbelakang mental-- pastilah akan menjadi salah satu yang bernasib paling mengerikan di 'pekan penggorokan' yang diadakan para super human. 

Beruntunglah, Rupert menyampaikan gagasan horor itu hanya setengah serius di sebuah pesta para kolega yang di penuhi gelak tawa. 


14 June 2012

FRAILTY ( 2001 )

Selain motif dendam, ekonomi, politik atau kelainan jiwa ( psikopat ), motif apa lagi yang paling sering me latar-belakangi terjadinya kasus pembunuhan berantai? Gue ga tau di negara lain, tapi di Indonesia, yang sering gue denger dari media salah satunya adalah motif  ilmu hitam. Kita bisa liat pada kasus Sumanto atau di beberapa kasus lain yang gue lupa, pelakunya mengaku melakukan serangkaian pembunuhan dalam rangka mendapatkan ilmu kesaktian. Tolol memang hehe. Nah, selain ilmu hitam, ada satu motif lain yang sering gue baca sebagai alasan seseorang untuk menghabisi nyawa orang lain.

Pernah baca berita tentang seseorang ( atau sekelompok orang ) yang membunuh karena konon mendapat semacam bisikan/wahyu dari Tuhan?

Mungkin kasus semacam itu bisa langsung kalian komentari sebagai bagian dari gejala sakit jiwa. Delusional? Skizophrenia? Namun, jikalau memang begitu halnya, apakah kalian juga akan berkata hal yang sama pada Nabi Ibrahim yang konon diwahyukan Tuhan untuk menyembelih puteranya sendiri?


Storyline :




Disebuah kota kecil, di Texas sekitar tahun 70-an, sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, Dad Meiks ( Bill Paxton ), dan dua puteranya Fenton ( Matt O' Leary ) dan Adam ( Jeremy Sumpter ) terlihat bahagia walau baru saja kehilangan sang ibu tercinta.

Semuanya terlihat baik-baik saja, sampai pada suatu hari...
sang ayah bercerita pada ke dua putera nya bahwa semalam dia baru saja mendapat 'vision' ( penampakan ) dari malaikat yang menyampaikan sebuah pesan dari Tuhan buat keluarga kecil mereka.

Konon sang malaikat yang menampakkan diri itu berkata bahwa hari kiamat sudah dekat. Iblis-iblis dikatakan telah menguasai bumi. Dan Tuhan telah memilih keluarga mereka menjadi 'God Hand's' ( tangan Tuhan ) untuk membantu melenyapkan semua iblis yang meraja lela dibumi. Dikatakan lagi, mereka harus menunggu karena Tuhan sedang menyiapkan senjata  untuk mereka beserta informasi daftar nama 'iblis' yang harus mereka musnahkan.

Mendengar itu, Adam ( yang berusia sekitar 6 tahun ) terlihat sangat antusias karena mengira dia akan menjadi semacam superhero pembasmi kejahatan pilihan Tuhan, tapi Fenton, ( 12 tahun ) rupanya bersikap skeptis dan meyakini ada yang salah dalam otak ayah nya. Sementara itu, sang ayah sendiri masih terlihat bingung dengan pengalaman spiritual nya.

Hingga pada suatu hari, ketika Dad Meiks dalam perjalanan, dia mendapat 'vision' sebuah rumah kosong ditengah tanah lapang yang secara aneh disinari selarik cahaya dari balik awan-awan. 


Dia pun memasuki rumah itu dan segera mengetahui bahwa selarik cahaya dari langit tadi, ternyata menyorot langsung ke beberapa benda di tengah2 ruangan. 
jreeeeeng!
Itu adalah sebuah kampak ( ! ) bertuliskan OTIS di gagangnya dan sepasang sarung tangan. Itukah senjata yang dijanjikan Tuhan buatnya ?? OTIS? it's 'Only The Idiot Survive'? 
Di lain hari, sang ayah kembali melihat penampakan dari malaikat ( di gambarkan bersayap dan menghunus sebilah pedang ) yang memberikan daftar nama 'iblis-iblis' yang harus segera keluarga ini lenyapkan.

Sekarang Dad Meiks yakin bahwa dia dan kedua puteranya memang ditakdirkan harus mengemban 'misi suci' Tuhan. Senjata dan daftar nama 'iblis' sudah di berikan , kini saatnya melakukan aksi...

gambaran seseorang yang baru saja mendapat pencerahan

Keluarga ini pun mulai melakukan serangkaian pembunuhan berdasarkan daftar nama yang konon diberikan 'malaikat'. Fenton tak setuju aksi ini dan menganggap ayahnya sudah gila ( dia bahkan pernah punya rencana kabur dan memberitahukan aksi gila sang ayah pada orang-orang ), namun pada akhirnya dia tak mampu berbuat banyak, sementara Adam malah terlihat menikmati aksi 'superhero' mereka.

Jadi, setelah mendapat nama dari 'malaikat', keluarga ini akan melacak alamat sang 'iblis' untuk kemudian mendatangi rumah nya, sang ayah lalu akan  melumpuhkannnya dengan pipa besi, lantas membawa 'tersangka iblis' ini ke ruang bawah tanah untuk memastikan apakah orang yang mereka bawa itu memang iblis atau bukan ( konon Dad Meiks bisa melihat dosa apa saja yang sudah dilakukan orang dihadapannya dengan mencengkeram kepalanya  ). Jika sudah pasti, maka  di saksikan ke dua puteranya, Dad akan segera melakukan 'ibadah' melenyapkan 'iblis' dengan mengkampaknya! ( mungkin juga memutilasinya, karena kemudian kita akan melihat ketika keluarga ini menguburkan korban, ternyata jenazah berada dalam kantong2 plastik terpisah berukuran kecil ).

Bertahun tahun kasus yang kemudian terkenal di Texas dengan sebutan 'Pembantaian Tangan Tuhan' ini tak pernah terungkap ( oh my..ada berapa orang gila dan pembantaian sebenarnya di Texas?? ).

Hingga suatu saat,
Fenton yang telah beranjak dewasa ( diperankan oleh Matthew McConaughey ) dan sejak awal tak setuju dengan apa yang dilakukan ayah dan adiknya, akhirnya memutuskan untuk mengungkap kegilaan mereka dengan menceritakan semuanya pada seorang agen FBI. Fenton bahkan bersedia menunjukkan lokasi dimana mereka menguburkan jasad para korban.


Seakan semuanya akan berakhir disini..
tapi ternyata....

...

tidak.


Review :


Film ini dibuat konon diilhami dari kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Joseph Kallinger bersama puteranya Michael ( yang baru berusia 13 tahun ), dimana ayah-anak ini melakukan 3 pembunuhan dan menyiksa 4 keluarga pada sekitar tahun 1974-1975 di New Jersey. Sama seperti keluarga Meiks dalam kisah film 'Frailty' ini, Joseph Kallinger juga mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah Tuhan.


Merupakan debut penyutradaraan film-panjang Bill Paxton ( lebih dikenal sebagai aktor dan dia juga memerankan karakter Dad Meiks di pilem ini ) setelah di tahun 80-an hanya menyutradarai pilem pendek dan satu serial TV, 'Frailty' yang boleh dibilang sebagai pilem berbujet rendah, tidak meraih sukses secara komersial, walau begitu film ini ternyata mendapat cukup banyak komentar positif dari audiens. Termasuk yang memuji pilem ini diantaranya adalah James Cameron, Sam Raimi dan Stephen King ( kemana Peter Jackson? ). Khusus Stephen King, dia bahkan menyebut 'Frailty' sebagai pilem horror-thriller terbaik di tahun 2001. Filmnya gue pikir memang sangat berbau Stephen King. Bisa gue bayangin kalo King menyesal bukan dia yang menulis ceritanya.


'Frailty' diawali dari adegan dimana Fenton dewasa ( Matthew Mcconaughey ) mendatangi kantor agen FBI Wesley Doyle ( Powers Boothe ) untuk membongkar kasus tak terpecahkan berjuluk 'Pembantaian Tangan Tuhan' yang dilakukan keluarganya. Dalam perjalanan menuju tempat dimana dia hendak menunjukkan lokasi penguburan para korban, Fenton mulai menceritakan kisahnya pada agen Wesley. Dan film secara flashback mulai bergulir.


Well, pilem bertema supranatural-religius aslinya bukan selera gue. Kebanyakan dari mereka asli beneran konyol dan membosankan. Tentang stigmata lah, tentang darah keramat kristus, malaikat pelindung dll dll. nggak menarik. Tapi, bukan berarti gue serta merta nolak dan langsung ngebenci semua pilem yang mempunyai tema itu sih. Ntar gue jadi fanatik-fundamentalis-film dong haha. Soalnya,  kadang ndilalah kok adaa aja gitu yang bagus. Misalnya aja, meski gue nggak suka buah nanas, tapi pas dia dibikin jus, ternyata gue bisa juga ngabisin segelas. aneh. Mungkinkah cara pengolahannya, yang membuat gue tiba-tiba jadi bisa nikmatin nanas? ataukah cuma karena gue lagi naksir ama penjual es jus nya? Oke,  lupain analogi menyedihkan tentang nanas ini.

Dan gue juga nyoba buat nggak terpengaruh komentar Cameron, Raimi  atau King tentang pilem ini, tapi pada kenyataannya secara tak disangka2 'Frailty' yang mempunyai desain poister jelek ini emang berhasil membuat gue terpaku di depan layar GOM Player buat ngikutin cerita keluarga gila Meiks sampe abis.




Kehadiran 2 anak kecil nan polos ditengah-tengah kekerasan yang berlangsung jelas menambah efek creepy pilem ini. Gue mungkin bakal ketiduran nonton 'Frailty' seandainya tidak ada karakter anak kecil disini. Begitu juga dengan setting pertengahan tahun 70-annya. Gue suka banget. nggak tau kenapa.

Sementara itu, konflik di hadirkan dengan pertentangan  ide antara Fenton yang semakin lama semakin membenci ayahnya ( karena menganggap dia udah jadi psikopat ) dan fanatisme ayahnya yang semakin lama justru semakin kuat. Dia bahkan menganggap, Fenton yang berani menentangnya adalah 'iblis', lantas mengurungnya di ruang bawah tanah selama seminggu agar Fenton mendapat 'pencerahan'. Cukup menarik juga ngeliat kenyataan bahwa meski sang ayah terlihat kejam, tapi dia juga diceritain sangat menyayangi kedua puteranya dan mengaku sebenarnya tidak ingin melakukan semua aksi berdarah itu. Hanya saja, sang ayah selalu berdalih bahwa dia tidak kuasa menolak perintah Tuhan. Karakter Adam yang polos, terlihat tidak penting. Tapi, nantinya kalian akan tahu bahwa Adam juga mempunyai peran yang cukup krusial disini.

By the way, semua aksi kekerasan dalam pilem ini ditampilkan secara minimal dan off-screen, nggak ada cewe bugil, apa darah muncrat dalam jumlah massif. Tanpa elemen-elemen krusial diatas, jelas dibutuhkan script yang solid, cerita yang menarik, juga eksekusi sinematik yang tepat-guna untuk membuat gue terpikat pada sebuah pilem horror-thriller yang mempunyai premise cukup konyol : keluarga pembunuh berantai yang digerakkan motif supranatural-religius.

 

Jadi, silahkan taro semua hal-hal positif dari aspek teknis sinematografi yang kalian ngerti disini. Gue nggak ngerti hal-hal berbau teknis soalnya.

Di menit2 akhir, 'Frailty' juga mempunyai twist yang sebenernya udah sering dipake pilem lain, tapi tetep aja gue ketipu ama trik ini. 'belokan tajam cerita' berlapis yang terungkap pada akhir cerita membuat gue terpaksa menontonnya sekali lagi buat mastiin nggak ada poin-poin penting yang kelewat. Asli men, selain pas nongton pilem bokep JAV, jarang loh gue sampe mau-maunya nge-rewind pilem buat fokus merhatiin detil2 nya.

Sekarang, ngomongin poin yang hendak disampaikan 'Frailty' gue ngerasa itu sungguh membuat jidat berkerut dan membawa gue kembali pada pertanyaan yang gue sampein di awal review : apakah Nabi Ibrahim mengalami delusi atau dia memang sedang mengerjakan titah Tuhan? pertanyaan yang sama juga ditujukan buat mereka yang meletakkan bom di keramaian untuk membinasakan 'musuh Tuhan', dan juga buat para pembela Tuhan, yang dengan bersemangat menghabisi 3 nyawa di Cikeusik. itukah aksi tangan Tuhan?

Lalu, kenapa 'tangan Tuhan' tak segera jatuh untuk menumpas 'iblis-iblis' di gedung DPR?


ini akan menjadi sangat subyektif dan memancing debat kusir yang tak berujung pangkal.

Ada baiknya, jika kalian selalu mengingat bahwa kisah dalam 'Frailty' hanya sekedar cerita pilem, karenanya semua yang ada didalamnya juga cuma produk khayal seseorang yang sepertinya kurang tidur dan terlalu banyak menenggak alkohol. Dengan demikian, kalian mungkin akan bisa menikmati 'Frailty' sebagai hiburan biasa yang akan ngabisin waktu sejam setengah kalian yang ngebosenin itu dengan cukup layak.

Untuk menyebut 'Frailty' sebagai pilem terbaik di tahun 2001, kedengeran sedikit berlebihan. Walau begitu, Gue memang sangat menikmati pilem ini, sebuah thriller-psikologikal yang efektif dan menyentak. it's not gory. It's not very scary. But it's very, very deliciously-twisty-creepy.
.........................................................

TRIVIA : Di tahun 1986, Maradona, mengemban misi suci 'tangan Tuhan' buat menunjukkan kepada dunia bahwa Tuhan begitu ingin ngeliat Inggris kalah. Kemungkinannya,  Dia nggak mau kalah taruhan dengan iblis.


RATING:





Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



20 February 2012

CUJO (1983)

Suatu hari, motor yang dikendarai seorang pria kurus berambut acak-acakan tiba-tiba mogok, dan dia memutuskan buat mampir ke sebuah bengkel. Nyampe di bengkel, dia malah ngeliat pemandangan menegangkan dimana sang mekanik ternyata sedang di serang seekor anjing yang terlihat ganas. Beruntung, keadaan buruk itu segera bisa diatasi,  namun rupanya kejadian tadi sudah cukup untuk memunculkan sebuah 'bohlam' ( disertai suara 'ting!' ) di kepala sang pria kurus.

Dan kita semua tau, orang yang bisa mendapat inspirasi nulis cerita dari peristiwa remeh seperti itu, pastilah bernama Stephen King. Dan, emang bener hehe.

Jadi ceritanya, King segera pulang ke rumah buat menulis sebuah novel yang lalu diberi judul 'Cujo'. Tahun 1981 novel itu rilis, ditahun berikutnya 'Cujo' meraih British Fantasy Award, dan hanya butuh satu tahun lagi (1983) buat ahirnya fiksi tentang 'Cujo' diangkat ke layar lebar.

Well, gue belum baca novelnya, tapi mari kita liat gimana pilemnya :)

Storyline :

Keluarga kecil Donna ( Dee Wallace ) mengalami masalah ketika suaminya, Vic ( Daniel Hugh Kelly ) akhirnya mengetahui kalo dia berselingkuh. Donna sendiri beralasan, dia melakukan itu karena sang suami jarang meluangkan waktu buat mereka dan terlalu sibuk dengan pekerjaannya..bla bla bla seperti itulah.

Suatu hari, Vic pergi keluar kota beberapa hari buat sebuah urusan kerja,  dan itu segera dimanfaatkan Donna buat..berselingkuh? oh, nggak hehe dia memutuskan pergi bersama putera nya Tad ( Danny Pintauro ) ke sebuah bengkel buat ngereparasi mobil bobroknya. Ini mungkin hal yang akan disesali Donna seumur hidup, karena tanpa dia sadari, sebuah terror sudah menantinya di sana.

Ya, sesampainya di bengkel yang terpencil itu, Donna menyadari anjing peliharaan sang tukang bengkel yang bernama 'Cujo' ternyata terjangkit rabies ( karena di gigit kelelawar ). Cujo berubah dari seekor Lassie yang hanya mengejar kelinci menjadi predator ganas yang akan menyerang dan membunuh siapa saja . Dan kini, setelah membantai sang pemilik bengkel dan tetangganya ( juga seorang polisi ), target mangsa 'Cujo' adalah Donna dan Tad yang terjebak dalam mobilnya yang mogok.

Review :


Separo pertama durasi pilem digunakan sutradara Lewis Tague buat ngenalin kita pada karakter-karakter dan tetek-bengek permasalahannya. Donna yang berselingkuh, Vic yang sibuk membicarakan pekerjaannya, Tad yang sepanjang pilem hanya terlihat merengek saja, lalu ada, Steve Kemp,  keluarga tukang bengkel dll dll

Gue sebagai penonton baik hati yang cukup menghormati usaha pengembangan karakter dalam sebuah pilem memutuskan untuk berkompromi ngikutin semuanya, walaupun pada bagian ini  'Cujo'  jadi terasa kaya pilem drama keluarga. Tentunya itu sebuah genre yang nggak lagi pengen gue tonton, apalagi dari sebuah pilem yang punya tagline 'A New Name For Terror'. Ini dimana terrornya? jadi di paruh pertama durasi satu-satunya terror yang gue dapet adalah rengekan anak kecil bernama Tad dan err..gue udah berkali-kali menguap.

Sampai akhirnya ketika gue berhasil ngelewatin menit ke 50 tanpa tertidur , pilem nyampe pada bagian yang ngingetin gue kalo ini pilem thriller tentang anjing predator.

Mulai menit ke 50 itu, gue kembali menemukan ciri khas cerita King yang senang bermain-main dengan thriller-psikologi, ruang sempit ama karakter minimal ( walau tidak semuanya cerita King seperti itu ). Kali ini settingnya adalah di sebuah mobil mogok, dengan main-character Donna & puteranya ( Tad ) dan antagonis sang anjing rabies ( Cujo ) .

Dan seperti berniat membayar semua hal membosankan di paro pertama,  adegan kejebak dalam mobil ini digelar cukup intense sampai menit terakhir.

+ sedikit tambahan info, ide yang similiar pernah juga digunakan oleh sebuah pilem berjudul 'Penny Dreadful ( 2006 )' dimana seorang cewe  terperangkap dalam mobilnya yang mogok, sementara seorang pembunuh maniak berkeliaran mengancamnya diluar. + 'Man's Best Friends' (1993 ) juga ngegunain anjing sebagai antagonis tapi itu terjadi karena genetically-modified alias mutan )

Balik ke 'Cujo', kenyataan bahwa monsternya tuh cuman anjing rabies biasa, memang tidak membuat ini jadi se-menyenangkan seperti pas gue nonton pilem dengan villain monster cacing tanah raksasa atau kadal mutan, tapi di sisi lain, teror anjing rabies ini membuat gue berfikir kalo kejadian kaya gitu pernah beneran terjadi di suatu tempat.  Dan ini ngebuat 'Cujo' ( dengan sekuen adegan yang sebenernya udah sering gue liat di pilem lain ) menjadi cukup mencekam.

Intinya sih gue pengen bilang bahwa tujuan sederhana 'Cujo' menghadirkan thriller kengerian berhasil dicapai di separuh akhir  pilem.

Menit-menit akhir ini beneran total-thriller. Beautifully photographed, well-directed, tense, scary,  apalagi Dee Wallace berakting brillian sebagai ibu yang mengalami kepanikan, bingung, takut, frustasi dan akhirnya..nekad. Sementara Danny Pintauro ( yang rengekannya semakin menjadi2 dalam adegan ini ) membuatnya layak mendapat gelar  'most annoying kid in horror movies'. Haha semua itu membuat gue bisa memaafkan endingnya yang klise dan predictable.

Sementara buat sebagian audiens Amerika, gue mencatat 'Cujo' sedikit susah dinikmati dan menciptakan trauma tersendiri mengingat antagonisnya adalah seekor anjing. Itu hewan peliharaan kesayangan masyarakat sono yang punya julukan 'sahabat terbaik manusia' . Jadi, ini mungkin seperti kalo orang India ngeliat sapi sembahannya menjadi jahat dan nyeruduk anak kecil kali. Mau dibunuh ga tega, mau dibiarin juga salah. haha




Namun, dilihat secara keseluruhan, kalo apa yang pengen gue liat dari 'Cujo' cuma usaha survival seorang heroine dari anjing rabies, gue jadi ngerasa paruh pertama durasi pilem yang cukup melelahkan ( tentang pengenalan karakter, cerita perselingkuhan dll ) menjadi bagian yang sebenernya nggak penting buat diceritain. Sia-sia.

Mungkin film akan lebih efektif seandainya, Lewis Tague langsung aja ke bagian Donna kejebak dalam mobil dan printilan2 story-background atau pengenalan karakternya bisa dilakukan lewat kilasan2 flashback singkat atau monolog Donna..atau apalah..asal bukan nyeritainnya secara detil sampe nyaris separo durasi.

Overall, Gue nggak tau gimana novelnya, tapi ini salah satu pilem adaptasi dari cerita Stephen King yang terasa inferior. Sia-sia di awal, intense di bagian akhir. Gue cukup berbaik hati dengan tidak memberinya rating lebih rendah :)

RATING:


Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic






....................

( ++ Dari segi cerita, kisah 'Cujo' cukup konyol kalo diliat sekarang. Maksud gue, di zaman ponsel udah jadi piranti wajib kehidupan, kalo ngalamin kejadian kaya diatas kita bisa langsung nelpon siapa aja buat minta bantuan, ( gue jamin lu dapet sinyal, kecuali lu lagi ada dalam sebuah pilem horror. ) . Dan sambil nunggu bantuan, lu bisa santai-santai sambil namatin Angry Birds apa nge-tweet. Tapi, karena ini terjadinya di tahun 1981 ( dimana Blackberry masih nama buah-buah-an ) dan Amerika punya banyak tempat sepi yang keliatan kaya markas keluarga Leatherface, asli, kejadian kaya diatas sangat mungkin terjadi. )

19 June 2011

THREE..EXTREMES ( 2004 )

Reviewed By 'R'

Pelem yang gue review kali ini adalah sebuah proyek split-movie karya 3 sutradara besar Asia ( Park Chan-Wook, Takeshi Miike dan Fruit Chan ). Ke tiga nya berbagi film dengan durasi sekitar 30 menit buat dijejelin kedalamnya. Ini semacem kaya antologi 'Takut : Faces of Fear' atau '4Bia' beberapa waktu silam lah.

Park Chan-Wook dengan sebuah thriller berjudul 'Cut'.
Takeshi Miike dengan atmospheric-horror berjudul 'Box'.
Dan terakhir, Fruit Chan ngasih kite sebuah drama-psikologikal-disturbing yang diberi judul 'Dumplings'.

+ khusus untuk 'Dumplings', die sebenernye punya versi full-length nya sendiri ( rilis di tahun yang sama : 2004 ) , tapi demi proyek ini kemudian mengalami 'pemangkasan-adegan' disana-sini sampe durasinye dianggap pas.

Naaah, ketiga pelem pendek yang lahir dari tiga tangan berbeda ini kemudian dibungkus jadi satu dengan judul 'Three...Extremes'.

..................................

Oke, brad kite langsung aje ke pelemnya.

CUT

Park Chan-Wook adalah salah satu sutradara yang seneng banget mengeksplorasi kemungkinan apa aja yang bisa digali dari sebuah tema tentang dendam.

Ya, die orang keempat setelah Quentin Tarantino, Barry Prima dan Sundel Bolong yang gue tau kayanye terobsesi ama balas dendam hehe Dan dalam 'Cut' pun die masih bermain di ranah itu.

storyline : Seorang sutradara muda sukses mengalami hari yang buruk ketika salah satu figuran dalam sebuah filmnya menyelinap kedalam rumah dan menyandera istrinya. Figuran-psikopat yang rupanya menaruh dendam ini kemudian memaksa sang sutradara buat memainkan sebuah psikologikal-mind games dengan nyawa istri sang sutradara sebagai taruhan.


'Cut' sempet ngelambungin ekspektasi gue ketika pelem mengarah kesebuah 'torture-revenge-thriller' yang gruesome atau atau kalo nggak dia bakalan dipenuhi letupan kesumat seperti 'Oldboy'. Sementara itu setting dan karakter yang minimal, ngingetin gue ama pelem paling disturbing yang pernah gue tonton ‘Funny Games ( 1997 ) ’ .

Tapi, kemudian level gruesome yang biasa-biasa aje, penggarapan yang terlalu stylish ama tipikal ending yang seperti 'nyuruh penonton buat ngertiin sendiri maksudnye' membuat mood gue terjun bebas.

Buat otak gue yang lelah dan cuma ngarepin sajian bales dendam ala Charles Bronson yang bodoh namun meledak-ledak, tentu aja ini kerasa terlalu sinematik skillfull, bercita rasa tinggi, pinter dan..ehm, sayangnya gagal ngasih hiburan buat gue.

Untungnye ada sedikit balutan dark-humour yang lumayan bikin gue ketawa pas ngeliat tingkah polah sang psikopat yang ngelakuin hal-hal konyol di depan korbannye. Maksud gue, kalo lu pengen ngeliat psikopat make kostum renang terus nari balet, lu bisa nonton pelem ini.

BOX

Semua tahu Takeshi Miike adalah seorang psikopat, dan kebeneran die juga seorang seniman. Die seneng ber eksperimen, lalu membuat pelem sesuka hati tanpa pernah peduli apa kata penonton. Jadi, nggak ada yang bisa menghentikan die buat bikin pelem se-membosankan ini hehe

Storyline : Sebuah tragedi yang melibatkan rasa cemburu dan cinta segitiga membuat seorang mantan pemain sirkus ( Kyoko Hasegawa ) dihantui rasa bersalah. Penyesalan yang mendalam itu, memaksa dia harus berhadapan dengan kenangan dan mimpi buruk yang datang dari masa lalu.

Ya, 'Box' nggak seperti pelem Miike yang laen, tampil terlalu lamban, lirih, sunyi, atmospheric, puzzling dan artistik. Oke, 'Audition' juga lamban yah, tapi disitu mah seenggaknye ada orang ditusuk-tusuk pake jarum hehe. Jejak-jejak ke abnormal-an Miike dalam 'Visitor-Q' atau ke brutalannya dalam ‘Ichi The Killer’ juga nggak ke deteksi di sini.


Kalian akan nemuin banyak shot-shot panjang tak bergerak dengan hanya sedikit sekali musik latar atau dialog. Sementara itu setting yang dominan di sebuah lokasi bersalju akan membuat kalian semakin membeku. Mungkin karena terlarut dalam atmosfir pelem, atau dalam kasus gue : membeku karena bosen.


 'Box' bahkan terlalu indah buat sebuah genre film yang dipuja oleh sebagian penikmatnye justru karena 'kotor dan mentah'. Dalam pelem ini Miike emang keliatan berniat nge-blender cerita horror yang biasanye ‘kotor’ dengan sebuah seni sinematografi yang ‘matang’.

Seandainya di translate kedalam sebuah karya sastra, pelem Miike kali ini pastilah akan menjadi sebuah puisi. Tepatnya, puisi-horror.

Tentu aja nggak ada yang salah dengan puisi-horror..malah kalo lu punya sedikit kesabaran dan konsentrasi, kemungkinan lu masih bisa menikmati pelem ini dan terpesona dengan twist yang disajiin Miike.

Sementara buat gue...hehe gue nggak begitu ngerti puisi.



DUMPLINGS

Selain semua produk yang diiklanin Sule, menurut kalian produk apa lagi yang paling sering nongol iklan nye di tipi?

Hmmm..gue pikir itu adalah iklan kosmetik atau kecantikan hehe.

Gue inget-inget,
Ada iklan sabun yang konon bisa bikin cewe keliatan cakep terus sukses ngedapetin cowo-cowo ( yang pastinye akan ninggalin begitu die keliatan jelek lagi ), terus ada iklan lotion yang nunjukin kalo ungkapan perhatian seorang kawan sejati buat temennye adalah cekikikan sambil berkata “ ih..kulitmu belang-belang kaya tembok..pake dong lotion ini”, sampe krim pemutih yang mampu ngembaliin ‘cahaya muda mu’, bikin lu keliatan 20 tahun lebih muda dari aslinye, persis kaya tante Titiek Puspa.

Semua produk instan yang sebenernya nggak kalah palsu ama teknik skin-retouching di Photoshop atau CPAC ini menyerbu ke ruang tamu kita selama 1x24 jam nonstop. Die menyelinap ke alam bawah sadar, lalu memberi calon konsumennya imaji akan kecantikan yang akan ngebuat cewe mana aje jadi tak percaya diri ketika ngeliat kerutan di wajahnya.

( Sambil ngeliat iklannye, lu juga bisa baca tabloid gosip yang nampilin artikel tentang gimane seorang artis kelas jetset ngabisin duit sebesar gaji lu seumur hidup kerja di pabrik buat sebuah produk kosmetik. )

Secara cepet kita bisa nyimpulin, massifnya iklan2 kaya diatas, mengisyaratkan demand akan produk2 tersebut emang gede. Yang artinye, produknye emang laku. Dan demand yang gede itu mungkin salah satunya disebabin oleh iklan-iklan tersebut. Lah? kenapa jadi mbulet gini?? Padahal gue belum ngomongin sisi psikologis masyarakat di era modern dalam kaitannya dengan feminisme serta anarko-sindikalis bwahahaha..

Buat gue, ( orang biasa-biasa aje ) yang ngerasa aneh ama fenomena ‘kegilaan para wanita akan kecantikan dan kemudaan’ seperti yang ditampilin iklan-iklan itu, reaksi yang gue lakuin nggak pernah lebih dari menggerutu lalu membanting remote.

Tapi buat seorang ‘Fruit Chan’, itu kayanye cukup ngasih die inspirasi buat bikin pelem berjudul ‘Dumplings’.


Storyline :

Mrs.Li ( Pauline Lau ) adalah seorang mantan bintang TV yang sedang dilanda perasaan putus asa dan nggak berguna. Dia ngerasa perhatian suaminya mulai berkurang ( itu karena ternyata sang suami berselingkuh dengan cewe lain. )

Parahnya, bukannya nyalahin ketidak-setiaan sang suami, Mrs. Li justru ngerasa itu disebabin oleh usia yang semakin tua dan penampilannya yang tidak lagi menarik.

Ngeliat kehidupannya yang diceritain cukup mapan, gue ber-asumsi Mrs. Li pasti udah nyobain segala macam merk kosmetik dan terapi tertentu untuk membuatnya tetep keliatan muda dan cantik. Tapi, kayanye semua itu belum memuaskan hatinya.

Dia butuh sesuatu yang lebih instan,
sesuatu yang lebih ajaib.
Dan untuk itu die bersedia ngelakuin apa aja.

Nah, suatu hari Mrs.Li merasa ngedapetin titik terang buat masalahnye ketika dia ngedenger tentang seseorang yang punya resep dumpling ( dumpling = kue bola, kaya baso atau siomay..tapi bentuknya sekilas keliatan mirip vagina maenan :p ). Konon, resep kue itu terkenal punya khasiat mujarab sebagai obat kecantikan dan awet muda.

Tak menunggu lama, Mrs. Li pun segera mendatangi kediaman sang pembuat kue . Kemudian kita akan tahu bahwa pembuat kue terkenal itu bernama bibi Mei ( diperanin dengan impresif oleh Bai Ling ). Ajaib memang, walau bibi Mei mengaku sudah berusia senja, tapi penampilannya ternyata terlihat seperti wanita dibawah usia 30 tahun.

“ ini karena khasiat dari resep kue istimewa gue “ katanya sambil tersenyum bangga.

Bibi Mei pun langsung menghidangkan semangkok kue buat Mrs.Li.

Mrs.Li ingin mencicipi, namun entah kenapa dia terlihat ragu-ragu...

  
Sejenak kemudian, Mrs.Li pun menyendok satu kue, memasukannya kemulut, dan mengunyahnya pelan-pelan…nyammm…


Jreeeng..singkat cerita, sejak saat itulah Mrs.Li secara berkala mendatangi rumah bibi Mei buat mengkonsumsi ‘kue-awet-muda’ itu. Semua berjalan lancar, sampai ketika Mrs.Li nggak bisa menahan rasa penasarannya tentang bahan baku dan resep ‘misterius’ yang digunakan bibi Mei untuk formula kue nya.

Pada sebuah kesempatan, dia mengintip ke dapur,

dan.. oh!

……

apa yang disaksikannya adalah sebuah horror.

Review :

Kalo kita terlibat sebuah obrolan tentang sutradara sinema-horror Asia, ‘Fruit Chan’ jelas bukan nama yang akan segera terlontar dari mulut. Ya, nama ‘Park Chan-Wook’ atau ‘Takeshi Miike’ lebih menggoda untuk disebutkan. Sementara gue sendiri lebih seneng menyebut nama ‘Ng Kai Lam’ hehe

Siape sebenernya ‘Fruit Chan’ ?
Bukankah namanya lebih mirip sejenis permen rasa buah-buahan?

Setelah gue nanya ke ‘kakek segala tahu’ ( baca : google ), dia sebenernya sutradara yang cukup sering dapet penghargaan, tapi catet : sebagian besar pelem yang dihasilkannya ternyata ber-genre drama. Ini cukup ngejawab pertanyaan kenapa ‘Dumplings’ lebih kerasa sebagai drama-psikologikal ketimbang thriller atau horror.

Terus kenape pelem drama bisa nyelip di kompilasi-horror yang ngakunya ekstrim ini??

Seperti opini gue di intro-review ,

pelem ini mempunyai komentar-sosial tentang ‘kegilaan para wanita akan kecantikan dan kemudaan’ yang disampaikan Chan dengan sangat tajam, provokatif, satir, sinikal, hiperbola, dark, disturbing, dan yeah..ekstrim.

Gue nggak bilang bahwa hal paling 'mengganggu' dalam 'Dumplings' adalah resep 'misterius' Bibi Mei. Hehe soalnye, para horror-freak gue yakin sih udah pernah ngeliat yang lebih brutal dari ini. Jangan harap pula bakal ngeliat glorifikasi-kanibalisme dengan organ tubuh dan darah bermuncratan disini. Fruit Chan bahkan boleh dibilang pelit nampilin gambar-gambar gruesome. Ya, segeralah kecewa kalo itu yang kalian cari, soalnye

alih-alih ngasih penontonnya horror untuk diliat, Chan lebih seneng mikirin cara gimana supaya horror itu terjadi dalam kepala kita.

Setelah kita tau rahasia bahan baku kue Bibi Mei yang ternyata ‘memiriskan+menjijikkan’ buat dijadiin makanan, Fruit Chan dengan sengaja nge-shot adegan Mrs.Li memakannya dengan sangat detil dari mulai ‘kue’ itu masuk mulut, dikunyah sampe die melewati tenggorokan Mrs.Li.

Ya. lewat kamera yang dipegang sinematografer Christopher Doyle ( remake ‘Psycho’ | 1998 ) penonton seperti dipaksa ikut ngerasain kenyalnya ‘daging’ yang dimakan Mrs.Li.

Dan kalo porsi visual belum cukup buat buat kalian berimajinasi,..there is sound!
Desain sound yang sederhana tapi efektif dalam ‘Dumplings’ ngebantu kita untuk bisa ngedenger suara daging terkunyah atau tulang-tulang yang berkeriuk lembut dalam mulut Mrs.Li.
 

Gue jamin sensasi yang dihasilin nggak sama kaya kalo kalian nonton salah satu episod ‘Fear Factor’ dimana para kontestan disuruh makan jus tai kebo. Dalam ‘Dumplings’, ada ironi, sindiran-sosial, sick-joke dan rasa kemanusiaan yang terkunyah bersamaan dengan terkunyahnya ‘kue’ di mulut Mrs.Li.

Suatu hari, ketika ketergantungan Mrs.Li pada ‘kue’ buatan Bibi Mei sudah nyampe level addict, sesuatu yang tak terduga terjadi. Bibi Mei kabur keluar kota karena terlibat kasus ‘malpraktek’ yang berujung pada sebuah tragedi.

Pertanyaan yang tersembul kemudian adalah ‘apa yang akan dilakukan Mrs.Li untuk memenuhi ketergantungannya pada ‘kue’ buatan Bibi Mei?' Ini dijawab Fruit Chan lewat sebuah shocking-ending didukung musik-latar menyayat yang berhasil membuat gue merinding. Kayanya ini akan menjadi salah satu ‘most-memorable-scene’ versi gue.


Pada titik ini, kalian akan mengerti kenapa walaupun bergenre drama, ‘Dumplings’ pantas dimasukin ke dalam kompilasi horror-ekstrim bersanding dengan dua nama lain yang udah menyandang predikat cult di genre-spesifiknya.

Overall, Dilengkapi oleh akting brillian, skrip tajam, setting sederhana, karakter kuat, sinematografi impresif dan tata-suara yang efektif, ‘Dumplings’ menjadi satu-satunya pelem dalam kompilasi ‘Three..Extremes’ yang ga disangka-sangka ( dengan caranya sendiri ) mampu membuat gue terkesan.

…………..

Setelah selesai menonton, kalo kalian kemudian nyimpulin wanita sebagai kaum bodoh dan kalap karena mau memakan apa aja cuma biar die tetep keliatan cantik, awet muda dan nggak ditinggalin cowo nya, tentu adalah hal yang terlalu gegabah. Soalnye, ( selain bahwa nggak semua cewe se-desperate Mr.Li ) ngomongin cewe yang berfikir harus cantik supaya die nggak ditinggal cowo, sebenernya sama aja dengan ngomong bahwa cowo cuman ngeliat cewe dari fisiknya aja. ( padahal kan emang bener kan ya? Hehe ) .

Lagipula, kalo misalkan lu suatu hari ngebaca iklan tentang khasiat penis-goreng yang menggaransi lu kuat ngesex 5 jam nonstop, bukannya lo juga akan memakannye? Eh??

Berfikir seperti itu, pada akhirnya gue ngerasa ‘Dumplings’ bukan cuma menyindir para wanita, tapi lebih dari itu dia juga menyasar ke kite..umat manusia, yang sebenernya ( pada saat tertentu ) nggak lebih dari ‘hewan-buas-berlidah panjang’ yang sanggup ngelakuin hal menjijikkan apa aje, memakan apa aje, ngebunuh siapa aje demi obsesi/keinginan/nafsu pribadi nye.

Anjir dah, kenapa review ini mulai mirip khotbah Jum’at??

……………

yummmy..

Yaudah, hehe
Akhirnya gue cuman pengen sharing ama pembaca blog ini bahwa 'Three..Extremes' sepertinya nyoba nawarin kita sensasi menikmati horror dengan cara yang berbeda. 2 pelem didalamnya ( 'Cut' dan 'Box' ) ternyata nggak berhasil ngasih gue sesuatu buat diinget, namun pelem terakhir ( 'Dumplings' ) ternyata mampu membuat gue nulis review cukup panjang hehehe dan itu artinya gue terkesan.

Walau begitu, buat fans Miike dan Chan-Wook gue masih ngerekomendasiin pelem ini. Sementara buat fans ultras-militan-garis keras Lloyd Kauffman..lo tau kalo yang ini bukan buat elo hehe.


RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic