Showing posts with label zombie. Show all posts
Showing posts with label zombie. Show all posts

10 July 2012

NIGHT OF THE CREEPS ( 1986 )

Sebagai seorang yang mengaku menggemari pilem horror-splatstick kelas B ( apalagi yang rilis tahun 80-an ), gue sebenernya sudah terlalu banyak ketinggalan. Ada banyak banget judul2 wajib-tonton yang sampai saat ini belum sempet gue buktiin ke-awesome-an ( atau ke bodohannya ). Kenyataan ini sebenernya cukup menyembulkan tanda tanya kalo mengingat kita udah idup di zaman Torrent dimana hampir semua judul pilem udah tersedia di sono. Tinggal donlod aja. Tapi masalahnya, kemampuan modem gue tuh cuman handal ketika dipake buat download...subtitlenya doang haha. Jadi, seringnya sih kalo ngeliat judul dan poster pilem2 horror klasik itu melambai-lambai minta di unduh, gue jadi keinget ketika waktu kecil dulu nyaris netesin air liur pas ngeliat poster 'Six Wild Girls' nya Pheng Tan di pajang di bioskop Mulya, pengen nonton tapi apa daya kaga punya duit haha.

Air liur itu juga berlaku buat judul yang satu ini, Night of The Creeps sebenernya udah lama banget gue masukin dalam daftar list '100 pilem horror jelek tapi keren yang harus gue tonton sebelum bunuh diri', dan oh my.. gue baru berhasil menontonnya...kemaren. Itu pun setelah salah seorang temen yang kelihatannya prihatin, mengirimkan DVD nya ke gue.

Ok, skip 2 paragraf diatas.
Terus, apa bener pilem ini adalah salah satu judul esensial dari genre horror-splatstick kelas B rilisan era sillyness-80?
Langsung aja,

Seperti kebanyakan pilem horror dari subgenre ini, ceritanya bisa diceritain dengan satu paragraf singkat :

Dua mahasiswa pecundang Universitas Corman ( Chris dan J.C ), secara tidak sengaja melepaskan parasit-luar angkasa dari mayat yang diawetkan di laboratorium selama hampir 30 tahun. Hal yang mereka tidak tahu adalah parasit2 yang mirip lintah itu akan memakan otak manusia ( setelah meloncat masuk lewat mulut ) kemudian mengendalikan tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa itu untuk merubahnya menjadi..killer outer-space zombie. 

Sekarang, Detective Cameron, Chris dan Cynthia harus berjibaku melawan zombie2 ini demi menyelamatkan pesta dansa mahasiswa Universitas Corman dari banjir darah.

..............................


Night of the Creeps dibuka dengan adegan yang sangat menarik,

Di sebuah pesawat ruang angkasa, alien-alien ( yang kostumnya lebih mirip Teletubbies :D ) terlihat panik ketika tabung eksperimen mereka terjatuh. 

Cerita segera beralih ke bumi sekitar tahun 50an, 

Sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran tiba2 melihat sebuah meteor jatuh, sang pria ( John ) segera menyelidiki benda langit misterius tersebut, sementara sang wanita ( Pam ) menunggu dengan cemas di mobilnya karena pada saat bersamaan di radio tersiar kabar bahwa seorang pembunuh berkampak baru saja kabur dari penjara. Dengan penuh rasa penasaran, John mendekati meteor yang ternyata adalah tabung ruang angkasa berisi makhluk melata sejenis lintah. Sementara itu, sesosok pria berkampak perlahan-lahan mendekati mobil Pam. Sosok pria berkampak yang ternyata adalah..zombie!


Whoa..hanya dari adegan pembuka ini gue langsung menyadari kalo sutradara pilem ini, ( Fred Dekker ) adalah seorang menyenangkan yang bukan saja senang membuat pilem tapi juga terlihat sangat mencintai genre horror. terutama b-grade horror. Dia baru saja nge-blender berbagai subgenre horror ( scifi, creature, zombie, sampe slasher ) lalu membuat homage dari berbagai referensi judul ( Alien, The Blob, They Came From Within, Invasion of The Body snatchers, sampe materi slasher tahun 80-an ) ke dalam satu scene! Dan senyum gue mulai mengembang.

Ya, memangnya apa yang lebih badass untuk ngebuka sebuah pilem selain weird alien, creepy-crawly-slimy creature, serial killer, dan zombie?


Pilem kemudian berpindah setting lagi ke tahun 80-an.
Dan kita mulai dikenalin ama tokoh Chris ( Jason Lively ) & J.C ( Steve Marshall ) dua mahasiswa geek Universitas Corman yang nantinya akan menjadi biang keladi kekacauan yang terjadi. Dari sini sebenernya pilem beranjak menjadi sedikit membosankan, ketika dia malah berubah suspenseful dengan investigasi Detective Cameron ( Tom Atkins ) atas berbagai kasus pembunuhan brutal yang terjadi di kota itu. Suspense yang tidak perlu, karena toh sejak awal penonton udah tau kalo yang ngelakuinnya adalah zombie yang dikendalikan parasit luar angkasa. Gue semakin tidak sabar ketika scene-scene yang sepertinya akan menjadi menarik, tiba2 kepotong begitu saja dan beralih ke adegan berikutnya.

Tapi, mungkin itu hanya karena gue nggak sabar buat ngeliat sajian silly-gory nya, karena pas gue nonton ini buat ke dua kali, semua bagian dalam Night of the Creeps ternyata tetep kerasa FUN. Termasuk di part yang awalnya bikin gue nggak sabar.

Night of The Living Dead Cat
Dekker seakan paham bener dia lagi bikin pilem horror model apa lantas ngebalut semuanya dengan dialog2 corny-witty dan ngasih banyak hillarious memorable line yang bikin gue ketawa. Selain itu, ada banyak sekali referensi pilem horror b-grade yang dipake Dekker sebagai tribute atau homage dan dia nggak lupa bersenang-senang dengan ngetawain atau mengejek kekonyolan pilem2 itu seperti apa yang kemudian juga dilakukan Wes Craven dalam Scream. What a fun! :D 

Itu masih belum seberapa, karena gue nemuin bahwa banyak tokoh atau tempat dalam pilem ini yang memakai nama2 sutradara cult seperti : sersan Raimi, Det.Cameron, Romero, Cronenberg, Corman, Miller, Landis, Dante, DePalma ( kucing zombie disini juga bernama Gordon, apakah itu merujuk pada Stuart Gordon? ) dan kalian tau siapa nama J.C sebenarnya? James Carpenter Hooper. Whattafuck haha. Kalo kalian mau ngelakuin hal yang sama, tolong masukin nama Fred Dekker ke dalamnya. Asli, ini jelas membuat gue memaafkan bagian investigasi2an yang sebenernya nggak perlu itu.

Mendekati 30 menit akhir, akhirnya pilem mulai beranjak ke arah yang gue harepin. Zombie-zombie mengepung pesta dansa mahasiswa, dan Det.Cameron ngeluarin best hillarious line nya :

" i got good news and bad news girls, the good news is your date are here.."
" What's the bad news? "
"They're Dead."

Dan Dekker ngelunasin janjinya pada gue dengan ngasih banyak zombie, head-exploding, creepy-crawlie-slimy creature..yeah, 20 menit nonstop fun silly-cheapy-gore!


Jagoan kita ( Chris & Cynthia ) beraksi dengan flamethrower dan shotgun. Ngebakar dan ngeledakin kepala zombie2 yang dari dalamnya akan keluar parasit2 seperti lintah. Gory efek nya sendiri sebenarnya lame, tapi gpp, itu nggak ngurangin ke FUN an nya kok, dan gue sangat menghargai usaha Dekker dan kru spesial efek nya. Sedikit kejutan juga ketika menemui kenyataan bahwa ternyata Lionel ( dalam 'Braindead' ) bukan yang pertama beraksi ngebantai zombie2 dengan mesin pemotong rumput, karena Chris sudah lebih dulu melakukannya! Haha gue pikir Night of the Creeps pasti adalah salah satu referensi Peter Jackson ketika membuat Braindead, mengingat adegan2 akhirnya begitu mirip ( pilem lain yang gue liat banyak ngambil referensi dari Night of the Creeps ini adalah Re-Animator dan Slither ).

Thrill Me
Dan meski Chris dan Cynthia sudah beraksi habis2an melawan zombie, karakter Det.Cameron ( Tom Atkins ) lah yang layak disandingkan dengan para badass-horror-heroes lainnya. Dia mencuri perhatian dan menenggelamkan karakter lain dengan line-line nya yang kocak, tak kenal takut, tanpa kompromi, pantang mundur dan mempunyai misi tersendiri terhadap para alien ini : membalas dendam. 

Sandingin Det.Cameron dengan Ash, Lionel, Ben, Ripley, R.J. MacReady, dan Derek maka mereka akan membuat The Expendables dan The Avengers pensiun.

...........................

Well, dengan semua apresiasi positif gue diatas, gue nggak ngerti kenapa Fred Dekker hanya menerima sedikit pengakuan dan respek dari industri perfilman, Tri-Star terlihat nggak antusias ama rilisan ini dan Night of The Creeps nggak punya wide-release atau promosi yang layak. ( Ini juga terjadi pada karya Dekker di tahun berikutnya, The Monster Squad (2007) yang sampe saat ini hanya tersedia dalam format bootleg DVDs di Amerika. ) why? Padahal buat gue Night of The Creeps adalah salah satu yang terbaik di genre spesifiknya, Fred Dekker jelas punya banyak sesuatu yang bisa ditawarkan buat sinema-horror.. Whateva.

so the verdict is,
meminjam salah satu line dari Det.Cameron :

" Zombies, exploding heads, creepy-crawlies... and a date for the formal. This is classic, Spanky. "

Yup, ini pilem horror b-grade sejati yang dibuat oleh sutradara penggemar horror b-grade sejati untuk audiens horror b-grade sejati. Highly recommended. Enjoy this,..jangan lupa siapin popcorn ama bir yang banyak.

Jadi, sekarang pilem wajib-tonton gue berikutnya adalah 'The Monster Squad' ( 1987 ), tolong siapa aja yang punya pilem itu buat menghibahkannya ke gue hehe.
ya gue tau..gue udah ketinggalan lagi :D


RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



20 December 2011

THE DEAD ( 2010 )

Kalo ditanya makhluk horror impor yang punya tampilan visual paling mengerikan, barangkali gue akan dengan cepat menjawabnya : zombie. 

Zombie tuh orang mati, ( yang karena beberapa sebab menggelikan ) bisa idup lagi lengkap dengan luka-luka di tubuhnya. Bisa perutnya sobek, mata nyoplok, atau tangannya buntung. Terus dengan bodi ancur kaya gitu dia ngerayap sambil ngeluarin erangan nggak jelas, ( kemungkinannya zombie ini menggumam 'Brraainnns..", tapi kadang2 kedengeran seperti "Bryaaaann.." sebagian lagi malah " Bieberrrrr " ) nyari siapa aja yang masih idup buat dimakan otaknya. Dan lebih gawatnya, jumlah mereka tuh biasanya banyak! kalo kata Z, mereka nggak beda jauh sama hipster, sementara gue cuma nemuin sedikit persamaan mereka pada calon penumpang KRL di stasiun Depok Baru. Sama-sama berwajah kosong.

Tongkrongan kaya gitu membuat zombie selama bertahun2 berhasil memuncaki klasemen liga horror versi pribadi meninggalkan jauh pesaing2nya yg tidak konsisten karena mungkin salah strategi apa pelatihnya yang emang buruk. Nasib paling buruk menimpa Vampire yang kini sudah ter degradasi ke divisi dua saking keterlaluan tampan ( dan sixpack! ) nya.

Nah, selama ini gue lebih mengenal zombie ini sebagai mayat2 orang Eropa/Amerika ( sebagian kecil Asia ) yang bangkit kembali dan berjalan gontai menyusuri jalanan kota megapolitan mereka yang porak-poranda.

Akan sangat menarik, kalo seseorang nyoba mindahin kisah tentang zombie2 ini kesebuah benua dimana semua penderitaan dan horror-dunia sepertinya emang bermula dari sana : Afrika.

Storyline : 


Diceritain Letnan Brian Murphy ( Rob Freeman ) terdampar di sebuah pantai, setelah pesawat-evakuasi yang ditumpanginya jatuh ke laut. Belum sempat Brian mengatur nafas, dia ngeliat sosok-sosok gontai perlahan mendekatinya. Itu Zombie! 

Yah, ditengah perang ( antara Afrika dan Amerika ) yang sedang terjadi, Afrika tiba-tiba dilanda wabah zombie dengan penyebab yang nggak diceritain. Nyaris 70% penduduk Afrika udah jadi zombie, 20% lainnya pasti udah tewas, praktis yang kesisa tinggal militer2 ama siapa aja yang masih megang shotgun apa golok buat mempertahankan diri. Letnan Brian menjadi salah satu dari persentasi kecil itu.

Sekarang, dari pantai dimana dia terdampar, Letnan Brian sadar harus terus menjaga kemungkinan hidupnya dengan menerobos desa-desa yang sudah dikuasai zombie, lalu menempuh jarak puluhan kilometer, buat menuju suatu tempat di mana dia yakin harapan untuk bisa segera keluar dari benua terkutuk itu masih ada.

Review :

ternyata ada pocong-zombie di Afrika
  
Gue akan memulai review dengan ngebahas sedikit perdebatan paling penting didunia setelah debat " kenapa Mr.Krabb yang kepiting bisa mempunyai puteri seekor ikan paus? " yaitu tentang " Slow Zombie vs Fast Zombie ".

Di satu kubu ada penyembah George Romero yang mengklaim bahwa zombie itu sejatinya berjalan lambat. Mereka menilai zombie-cepat itu bagaikan poser yang udah mengkhianati konsep atmosperik-apokaliptik dalam pilem zombie 60-70 an pujaan mereka menjadi sekedar pilem horror-aksi belaka.
Sementara kubu 'Running Zombie' menginterupsi ide itu dengan berpendapat zombie lambat bener-bener membosankan. Sama sekali tidak mengancam, konyol, lemah dan sangat mudah dibunuh. Mereka lalu menambahkan bahwa zombie-cepat lebih berhasil dalam membuat sebuah pilem mendapat gelar " seru, menegangkan dan penuh aksi ".

Dari sini kita bisa ngeliat running-zombie fan kemungkinan adalah penonton2 zombie generasi 2000-an keatas yang menemukan kenyataan bahwa 'Dawn of The Dead' versi Zack Snyder dan '28 Days Later ' nya Danny Boyle adalah 2 pilem zombie terbaik di dunia. Seperti itulah harusnya sosok zombie-ideal. cepat, bengis, brutal, dan kuat. Bisa dimaklumi ketika kemudian mereka ngubek2 judul lain demi mendapatkan pilem yang similiar, akhirnya malah menggerutu ketika yang didapatinya hanya sosok monster menyedihkan yang bahkan nenek-nenek hamil pun masih bisa menyelamatkan diri darinya.

Seperti zombie yang ada dalam pilem ini.

Beneran prends, zombie2 dalam pelem ini bergerak dengan kecepatan hanya 20cm/detik dan baru menyerang ketika dia udah berjarak 50 cm dari target. Itu satu hal yang jarang kejadian, soalnya dalam jarak 2 meter, protagonis kita sih biasanya udah mecahin batok kepala zombie-zombie ini pake pistol. Dan di sela-sela nunggu zombie lainnya mendekat, kalo mau protagonis kita sebenernya masih punya banyak waktu buat nge-tweet dulu.

jadi, dengan villain yang sama sekali nggak mengancam kaya gitu, ini akan jadi pilem zombie konyol-membosankan gitu?


Untungnya gue bukan hardline-fan dari zombie-cepat, bukan pula puritan fanatik slow-zombie. Lebih tepatnya gue adalah openminded-liberal lintas zombie fan. Maksud gue, kagak peduli zombie nya cepet apa lambat, kalo pilemnya ternyata jelek gue bakalan bilang kalo itu jelek, dan sebaliknya kalo pilemnya bagus ya gue bilang bagus. Itu juga artinya, gue kaga peduli kenapa Mr.Krabb punya puteri seekor paus.

Kenyataanya, walau zombie disini emang nggak pernah berpotensi untuk membuat 'The Dead' menjadi seru dan penuh aksi ( yang artinya : membosankan ) , tapi kelambatannya justru ngasih sesuatu yang nggak gue dapetin pas ngeliat zombie di 'zombieland'. Sesuatu yang udah lama banget nggak gue rasain semenjak terakhir..mm.. kapan ya.. remake 'Night of the Living Dead' nya Tom Savini? yaitu : aura atmosperik-creepy-apokaliptik.

Bayangin adegan mayat-mayat yg berjalan gontai dengan latar belakang lanskap Afrika yang eksotis. Mayat-mayat berjalan ini ada dimana-mana. Di pantai, ladang jagung, perkampungan, padang rumput, gurun, bukit, atau hutan. Dan Afrika punya banyak SDM untuk membuat sosok zombie keliatan lebih serem. Anjir, gue bukannya rasis tapi zombie kulit item 2 kali lebih creepy dari zombie Eropa :D



Sutradara Ford Brothers nyoba ngembaliin zombie gaya-lama yang udah dipatenkan Romero dan mindahin settingnya ke Afrika. 

Sama seperti Romero, Dia juga nggak ngasih eksplansi tentang apa penyebab dari wabah ini. Aslinya, gue juga nggak terlalu peduli sih segala macam eksplanasi penyebab wabah-zombie yang pastinya akan menggelikan hehe. Film2 zombie 60-70 an emang kebanyakan ngejadiin zombie hanya sebagai 'latar-belakang' dan lebih suka ber fokus pada eksplorasi-karakter, drama sambil sesekali ngasih sedikit komentar sosial di sana-sini. Style itu yang diadopsi Ford Brothers dalam 'The Dead'. Dia nggak pernah menempatkan zombie disini sebagai ancaman utama, lebih berfokus pada karakter, ngebangun drama, ama ada beberapa dialog atau adegan disini yang gue asumsiin sebagai komentar/kritik untuk beberapa isu sosial, walaupun secara cepat orang mungkin hanya akan nginget ini sebagai pelem dimana 'orang kulit putih selama nyaris 2 jam secara konstan ngeledakin kepala orang kulit item pake pestol'

'The Dead' tuh lebih mirip drama road-movie rasa 'Diary of The dead' ( mengingat protagonis kita yang berpindah dari satu tempat ketempat lain, ketimbang terjebak di sebuah ruangan sempit ).  Kita hanya akan diajak buat ngikutin perjalanan survival Letnan Brian di benua yang sedang terkena wabah-zombie menuju sebuah tempat bernama 'harapan'. Semacem 'The Road' dengan banyak zombie, gore ama darah. jadi, gue pikir ini akan lebih pas kalo dia diberi judul 'The Road of the Dead'.  Lagipula, bukankah 'The Dead' kedengeran kaya salah satu judul pelem paling nggak kreatif di dunia?



Sayangnya cukup banyak part yang seharusnya mampu menciptakan tensi justru berakhir dengan cara yang mengecewakan. Di bagian ini, Ford Bro's gue pikir kurang mampu mengeksplorasi semua potensi dalam pelemnya dan malah terjebak pada sesuatu yang repetitive dan klise. contohnya, Berapa kali sih kita ngeliat adegan 'dilema' dalam pelem zombie.? Kamu tau kan apa yan gue maksud dengan adegan 'dilema'? Gue pikir scene ini sudah saatnya dihapus dari pelem zombie.

Sinematografinya sendiri bisa gue bilang bagus, di shot hanya dengan kamera 35mm, namun beberapa frame dramatis berhasil di capture. kamu bisa liat itu di opening-scene nya. Sementara, akting protagonis kita ( Rob Freeman ) sangat datar, monoton dan tidak istimewa, tapi kita seharusnya memang tidak berharap apa-apa soal skill-akting pada sebuah pelem zombie low-budget kaya gini.


Dan kalo ada hal paling mengesankan dari 'The Dead' selain atmosperik-creepy nya yang mengingatkan gue pada pelem zombie jadul, tentu itu adalah divisi gore-efek nya. Ada cukup banyak gore disini. Ya, setiap kali Letnan Brian berenti dari perjalanannya, setiap kali itu pula zombie-zombie bakal bermunculan..dan setiap kali itu pula dia bakal ngasih headshot. blown! Terdengar repetitif emang, tapi seenggaknya salah satu alesan gue nonton pelem zombie ( yaitu ngeliat orang nembakin kepala zombie ) cukup terpenuhi. Dan surprisenya dia hadir dengan efek yang lumayan bagus untuk ukuran low-budget. no-CGI tentu saja. Bahkan, selain headshot dia juga punya satu adegan yang berpotensi buat menjadi salah satu dari list 'most awesome exploding-head movie scene'. Cek aja hehe.

Oke, verdictnya 

"The Dead" sama sekali nggak punya aksi seru kaya yang udah pernah gue liat di 'The Horde', nggak ada hal konyol buat diketawain ( this movie is deadly serious! ), nggak ada boobs buat cuci mata ( bahkan nggak ada cewe didalemnya ), tapi dibalik itu dia mungkin bisa ngasih nafas segar buat audiens yang sedang jenuh dengan gelombang zombie-action/ zombie-komedi akhir-akhir ini, punya setting/lanskap yang menarik, dan sedikit ngingetin gue pada era kebangkitan zombie beberapa puluh tahun silam ketika dia belum bisa berlari, melompat, menyelam, memanjat, salto, parkour, kayang atau terbang.

Sekarang kendali ada ditangan kalian untuk memutuskan apakah mau nonton ini atau ngehapus judulnya dari daftar planning download bulan ini.

RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

14 May 2011

DUKUN LINTAH ( 1981)

Reviewed By 'R'

Bukan rahasia lagi kalo sebagian pelem horror lokal produksi tahun 80 sampe 90-an adalah sebuah rip-off terang-terangan dari pelem horror yang tengah booming di Hollywood.

'Bayi Ajaib’ misalnya, adalah sebuah adaptasi bebas dari ide dalam ‘The Omen’, lalu ada ‘Ranjang Setan’ yang punya banyak adegan persis frame-by-frame ama ‘Nightmare on The Elmstreet’ ( cek juga review 'Perjanjian di Malam Keramat' disini ) , 'Pengabdi Setan' dijuluki sebagai ‘Phantasm’ versi Indonesia, lalu jangan lupain pula pelem slasher pertama di Indonesia, ‘Srigala’ yang kayanye dibuat setelah sutradaranye nonton ‘Friday The 13th’, sementara kalo kita menyebut judul 'Lady Terminator' ( Pembalasan Ratu Laut Selatan ), kalian bisa menebak dengan mudah pelem apa yang jadi korban ke ‘kreatif’-an sineas kita. Hehe

Dan pelem yang akan gue review kali ini, ‘Dukun Lintah’ ( diterjemahin buat pasar internasional dengan judul ‘Leeche Warlock’ ) --meski konon punya jalan cerita yang berbeda--, juga mempunyai banyak adegan yang dipercaya oleh seorang reviewer internasional sebagai rip-off dari pelem ‘They Came From Within! ( 1975 )’ nya David Cronenberg.

Terus terang gue belum nonton pelem Cronenberg yang satu itu, tapi lebih jauh sang ‘reviewer-internasional’ itu berkata dalam blognya :

“ What makes DUKUN LINTAH so fascinating is not its blatant plagiarism, but how the narrative plays in a diametrically opposed setting. “

Itu maksudnye, walau emang bener sutradara Ackyl Anwari nge rip-off pelemnya Cronenberg ( dan itu juga bukan sesuatu yang disangkal olehnya ), tapi die menolak buat menjadi sama dengan apa yang ditirunya dengan menambahkan mistik-lokal yang sangat khas ( orang sono menyebutnya : bizzare ), lalu secara cerdas ( atau boleh juga dibilang : naif ) memindahkan ide tersebut kedalam sesuatu yang sangat sangat Indonesia! Ini seperti meng-copy ide/materi dari ‘barat’ dan mem-paste kannya kedalam sebuah template bernama ‘timur’.

Liat aje, 'They Came From Within' nye Cronenberg yang aslinye bersetting di sebuah komplek apartemen steril, dipindahin ke sebuah kampung becek di kaki bukit, lengkap dengan rumah-rumah bambu, kebun dan sawah menghijau. Bukannye, itu tempat yang lebih cocok buat lintah-lintah merayap? haha

Ini persis ama apa yang dilakukan Mang Oma Irama ketika menggabungkan sound dan cara bermain gitar Ritchie Blackmore ( gitaris 'Deep Purple' ) yang nge-rock dengan irama Melayu+gendang+seruling. Sebuah peng-adopsi-an ide yang akhirnya ngebuat kita menggoyangkan kepala saat dia berdendang : "Judi!" teeeeeeeettt!

Bagaimanapun, secara nggak disengaja itu ternyata ngebuat hasil akhir pelemnya menjadi berbeda + punya karakter sendiri. Oke, lebih tepatnya 'weird' sih.

Contoh pelem rip-off an lain yang menjadi 'beda+aneh+idiot=fun' kala dipadukan dengan kultur-lokal negara pembuatnya.



Balik ke review,
Yah, ketika untuk nyiptain 'teror-nggak-masuk-akal' orang sono lebih seneng berimajinasi tentang makhluk dari planet laen, mutasi genetik, radiasi nuklir, atau eksperimen ilmiah dll..di kite, invasi lintah ganas yang bisa ngerubah orang satu kampung jadi zombie hanya bisa terjadi karena kedigdayaan sebuah aji ilmu hitam dan rapalan mantra sang dukun! Mungkin sekarang anak muda generasi Twitter, akan ngetawain ide kaya gitu, tapi yang jelas kite harus akui kalo ragam-macam ilmu hitam dan mistik lokal pernah begitu dekatnya dengan masyarakat kita. Dan ketika itu ditampilin dalam pita seluloid, ia bukan saja ngasih hiburan buat penonton kelas layar-tancep kampung Bojong Soang,

tapi juga mampu ngebuat seorang pemuda Seattle yang menyewa pelem ini dari sebuah rental Video tak henti-hentinya mengangakan mulut karena tak mengerti dari galaksi sebelah mana sebenernya pelem model gini berasal.

Haha, oke kita langsung ke cerita pelem ini :

Hany ( diperanin oleh Suzana Cicilia - Suzana yang ini bukan Suzzana yang suka makan sate itu yah hehe- FYI, doi yang juga berperan sebagai hantu dalam 'Mayat Hidup' ) dan Nurdin ( diperanin oleh Alex Kembar – doi kayanye salah satu dari duo ‘Kembar Group’.Tolong siapa aje yang lebih tua dari gue, buat ngasih tau apaan itu ‘Kembar Group’ ?? ) adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Lewat pelem ini kita bisa tau, ternyata sebelum ada mall, cara berpacaran anak zaman dulu adalah dengan berlarian di taman bunga, air terjun dan pantai.

Sayang bokapnye si Hany, Rustam ( A.Hamid Arief ) nggak setuju hubungan mereka dan punya rencana sendiri buat ngawinin si Hany ama Hendra ( Hendra Cipta ) yang lebih menjanjikan dari segi materi.

Tentu aja Hany menolak keinginan sepihak sang bokap dan rayuan Hendra yang kaya raya, soalnye dia tau ini cuma pelem. Sementara itu, si Hendra ngerasa tersinggung dengan penolakan itu dan nyoba berbagai macam cara buat ngeluluhin hati Hany, termasuk dengan melakukan hipnotis ala Uya Kuya.
tataap mata ojaann..

Namun upaya itu pun tetep gagal. Hany keukeuh menolak.
Ngeliat keteguhan sikap anaknye, Bokap Hany pun menyerah. Die akhirnye ngawinin Hany dengan cowok pilihannya sendiri, si Nurdin.

Ternyata ini membuat Hendra semakin sakit hati .
Setelah sadar ilmu hipnotis yang kayanye dia pelajari di Eropa ( dia diceritain baru pulang dari Eropa ) gagal-total, die pun akhirnye tau sesuatu yang lebih jenius buat ngebalesin sakit hatinya yaitu : datang ke dukun! Tepatnya ke Dukun Lintah ( AN Alcaf ). Dia adalah seorang dukun jahat yang mampu memerintahkan pasukan lintah ganas buat menyerang siapa aje yang jadi sasaran klien-nya.

Dan inilah awal bencana di kampung itu. Soalnye, lintah2 sang dukun yang awalnya hanya bertujuan menyerang si Nurdin, ternyata juga menyerang penduduk kampung lain yang nggak ada hubungannye ama pangkal-masalah. Dan lebih gawatnye lagi, setiap orang yang kemasukan lintah, bakalan jadi zombie maniak-sex. Sebagian lainnya menjadi zombie yang akan menggigit siapa aje didekatnye. Sementara yang tergigit, akan tertular. Begitulah, akhirnye wabah yang disebabin invasi lintah ini pun menyebar ke seantero kampung.


Village of The Dead!!!
Jadi, gimana akhir dari cerita ini? Tentunya kalian tak perlu berharap bakal muncul pasukan bersenjata lengkap buat ngebantai zombie-kampung ini. 

............................................

Yah, begitulah plot pelem ini. Kalian boleh menilainya sebagai simpel, sederhana, murahan, atau bahkan tolol. Tapi, seperti halnya review gue di 'Mayat Hidup' , gue lebih seneng nyebutnye sebagai : lugu . Walaupun emang lugu itu beda2 tipis ama idiot sih hehe. Sebegitu lugu dan simpelnya, kite bahkan masih akan ngerti ceritanya seandainya semua pemaen dalam pelem ini nggak ngomong.

Dan keluguan bukan hanya hadir dari jalan cerita, tapi juga dari dialog, akting dan spesial efek yang ditampilin.
Liat aje, kalian bisa ngeliat gimana kreatifnya kru pelem nyiptain efek buat adegan ini :


Tentunya keluguan kaya adegan diatas adalah sesuatu yang nggak pernah bisa sengaja diciptain sineas manapun.

Selain itu, berbeda ama horrornye Suzzanna yang udah sukses ngasih kite atmosfir mistis kental dengan eksploitasi legenda-hantu-lokal nye, 'Dukun Lintah' lebih memilih buat nampilin banyak sekuen gross-out yang ditampilin cukup eksplisit.

attack of the leeches!
Gue juga cukup surprised pas nemuin sebuah adegan yang ngingetin ama salah satu scene dalam Peter Jackson's 'Braindead' (1992 ). Inget adegan pas Lionel ngebawa mayat neneknya yang membusuk ke seorang dokter ( diperanin oleh Peter Jackson ) kemudian bola mata neneknya itu mecotot keluar? Kamu akan nemuin adegan itu di pelem ini. Dan gue jamin yang ini nggak kalah gross. So, bisa jadi 'Dukun Lintah' adalah salah satu referensi Peter Jackson ketika menggarap 'Braindead' hehe.


Namun, secara keseluruhan pelemnya sih lebih mirip ama 'Slither (2006)' nya James Gunn, malahan kalo seandainya aje nggak ada pelemnya Cronenberg itu, gue berani bilang kalo 'Slither' adalah remake versi Hollywood 'Dukun Lintah'.

Hanya perbedaannya ( selain bahwa lintah-lintah dalam 'Slither' diceritain dateng dari luar angkasa ) adalah ketika segmen humor/komedi dalam 'Dukun Lintah', seperti biasanye ditampilin secara....slapstick. ( sementara 'Slither' lebih seneng menampilkannya dalam aura dark/satir ).


Buat gue sih nggak masalah,
soalnya kapan lagi kita bisa ngeliat zombie naik becak dan ngegigit tukang becaknye?

Haha, pelem kaya ginian emang cocok buat working-class kaya gue yang butuh lepas sejenak dari kepenatan dan rutinitas. Dan semenjak pelem2 blockbuster kekinian sebagian besar ternyata nggak bisa membantu gue buat ngelupain cicilan kredit, ( sementara pelem thrash-horror ala KK Dheeraj malah bikin gue terserang stroke ), gue pun secara aneh bisa terhibur pas nonton pelem semacem ‘Dukun Lintah’. Akan lebih membahagiakan kalo nontonnya langsung di layar tancep, sambil ngemil kacang rebusnya mang Soleh, lalu ketika pelem nyampe pada bagian yang kurang seru, gue bisa menyelinap ke kebon singkong sebelah buat maen judi koprok hahay..


Oiyah terakhir, persamaan pelem2 seperti ini dengan pelem2 nya KK Dheeraj atau Nayato adalah dia luar biasa jelek, murahan, kampungan dan dibuat semata-mata cuman buat nyari keuntungan sebanyak mungkin.  Tapi, perbedaanya toh, nonton ‘Dukun Lintah’ nye Ackyl Anwari ini, gue ternyata ngedapetin apa yang gue harepin, gue nemuin apa yang emang sengaja gue cari dari awal, dan yang paling penting..

gue nggak ngerasa dibohongi.

Seenggaknye, dia nggak ngebohongin kite pake judul. Kalo judulnye, 'Dukun Lintah', gue jamin kalian emang bakal nemuin dukun dan lintah di dalemnye. Gue ngomong gini, soalnye kalo KK Dheeraj bikin pelem berjudul 'Dukun Lintah' yang lo dapetin paling-paling pelem yang 95% adegannya adalah bintang bokep mandi di kolam renang terus joget2 di diskotik.
Cukup aneh ngeliat masih banyak yang beli tiket cuma buat ngeliat adegan kaya gitu mengingat siapa aje sekarang bisa gratis ngeliat Sasha Grey bugil di ratusan website. Bah.

 'DUKUN LINTAH' IS STUPID CHEAPY GROSS-OUT FUN MOVIE! AND YOU CAN WATCH THIS MOVIE HERE

RATING:






Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic