Buat kalian penggemar film yang besar di era 90-an, pasti akrab dengan nama-nama Malfin Shayna, Febby Lawrence, Cindy Windhyana, Sally Marcellina, Reynaldi atau Ibra Azhari. Ya, mereka adalah artis-artis panas dari begitu banyak film-film erotis murahan yang lahir dan memenuhi bisokop di era itu. Itu masa kegelapan sinema-lokal menurut gue, bukan..bukan karena genre ini lebih buruk dari genre lainnya, tapi karena saat itu penonton nyaris tak punya pilihan. Oma Irama, Warkop DKI, Barry Prima, dan Suzzanna masih nongol di awal-awal 90an, tapi mulai pertengahan sampai setelahnya, hampir semua produksi film lokal adalah film dari jenis sexploitation ini.
Penyebab situasi ini kalo menurut gue adalah karena kalah saingnya bioskop dengan program TV swasta ( yang saat itu sedang booming dan banyak menayangkan film barat berkualitas ) serta kemunculan VCD player ( dan rentalnya ) yang berhasil menawarkan alternatif hiburan rakyat. Ketika bisokop menjadi sepi ( terutama jika dibandingkan era 80an ), alih-alih mengimbangi tantangan itu dengan produksi inovatif dan berkualitas, rumah produksi malah dengan putus asa mencoba merayu penonton lewat jalan pintas : membuat film erotis. Sayangnya, hasil akhir film-film yang dibuat dengan dana cekak itu sungguh bertolak belakang dengan poster dan judulnya yang sangat menggiurkan. Ini membuat keadaan semakin buruk dan bioskop rakyat pun berada di senjakalanya.
Cerita nggak jelas, akting buruk, dialog bodoh, serta adegan yang sebenernya dimaksudkan menjadi sensual namun jatohnya malah menyedihkan adalah beberapa ciri dari film erotis lokal yang gue inget di era ini. Sementara itu, gunting sensor membuat film hanya tinggal berdurasi sekitar 50 menit saja dan membuat ini semakin menjengkelkan, terutama untuk bocah pre-teen dengan libido dan rasa penasaran yang sedang tinggi-tingginya haha.
Showing posts with label film indie. Show all posts
Showing posts with label film indie. Show all posts
31 March 2017
28 January 2014
Dead Man's Shoes ( 2004 )
..............................
Seorang pria dengan jaket panjang dan beanie hat ( kupluk ) memasuki sebuah bar kecil di kota Midlands, lalu dengan langkah santai dia langsung mendekati pria lainnya yang sedang bermain bilyar " fucking great pills, man " bisiknya sambil memberikan sesuatu. Segera saja kita tahu pria itu adalah preman setempat yang juga merangkap drug dealer.
Sementara itu, di meja sebelah sana, duduk pula 2 orang pria. Yang satu tampak tangguh dengan brewok dan jaket army nya, yang satu lagi terlihat lebih muda serta memiliki ciri-ciri wajah yang biasanya hanya ditemui pada para penderita keterbelakangan mental.
" Here's one, bro " bisik pria muda berwajah idiot ini pada pria tangguh didepannya, matanya menunjuk ke arah pria yang memakai topi kupluk tadi. Yang di beri tahu, bagaikan senapan menemukan sasaran tembak, langsung menatap lekat-lekat ke arah target. Itu jelas tatapan penuh kebencian untuk sejenis parasit menjijikkan-menyedihkan yang hanya layak untuk di hancurkan.
Tak terima di tatap seperti itu, sang preman berkupluk membentak " What the fuck are you looking at?!" namun dia segera tercekat ketika yang di terimanya adalah geraman murka yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang sedang memendam dendam kesumat.
02 April 2010
THE SIGNAL ( 2007 )
Bayangin layar televisi yang sedang anda tonton tiba-tiba hanya menampilkan gambar gelombang mirip tampilan visualisasi-ambience-random di Windows Media Player-mu. Handphone tidak berfungsi dan radio hanya mengeluarkan suara-suara aneh. Bukan itu saja, sinyal-sinyal misterius itu tak lama kemudian menyebabkan halusinasi, membuat orang cepat marah dan pada akhirnya merubah mereka menjadi pembunuh-pembunuh maniak.
Kota Terminus segera kolaps. orang-orang saling berbunuhan tanpa sebab. Chaos dimana-mana. Apokaliptik!
Ditengah Kota yang kacau-balau itu Maya ( Annesa Ramsey ) segera berniat keluar dari kota sekaligus menghindari Suaminya, Lewis ( AJ Bowen ) yang telah terjangkiti The Signal. Sementara Ben, --kekasih gelap Maya--- mencoba menyelamatkannya. Namun untuk itu, dia harus menentukan siapa yang dapat dipercaya di kota dimana setiap orang tampaknya sudah dalam pengaruh-kekerasan The Signal, termasuk dirinya sendiri.
....................
Nah, dengan premise seperti itu, 3 orang sutradara sinting-kelebihan duit bereksperimen memecah plotnya menjadi 3 chapter ( diberi nama Transmission ) yang mana tiap chapternya digarap sesuai perspektif, visi, style dan selera-genre masing2 ( David Bruckner -Transmision 1, Jacob Gentry -Transmision 2, Dan Bush - Transmision 3 ), Hadirnya 3 otak dalam film ini akhirnya menjadikan 'The Signal' seperti perpaduan kontras beberapa sub-genre horror yang kemudian di blender jadi satu menghasilkan film weird yang oleh beberapa audiens dianggap 'instant-horror-cult-classic' namun disisi lain di benci, -terutama oleh diehard-oldschool-horror- sebagai ' boring + wasting time ' ini.
TRANSMISSION 1, 'Crazy In Love'.
adalah chapter yang gue sebut mempunyai genre yang sama ama '28 Days Later' minus zombie.
Di segmen ini kita dikenalin ama karakter Maya. sepulang dari rumah Ben, Maya ngedapetin Lewis ( sang suami ) bersama 2 orang temannya sedang dilanda kebingungan karena layar televisi mereka hanya menampilkan gambar gelombang aneh. Mereka mulai berdebat satu-sama lain mempermasalahkan sesuatu yang tidak penting dan berakhir dengan saling membunuh. Mulai saat ini, kita ngeliat orang-orang yang terpengaruh The Signal, dengan berbagai macam senjata saling bunuh-membunuh tanpa sebab. 30 menit pertama bener-bener thrilling, brutal, dark, dan intense. Boleh dibilang, David Bruckner satu selera ama gue dalam chapter ini.
TRANSMISSION 1 = horror- apocalyptic!
Design penanda Chapter yang threshold dan didominasi warna merah-hitam seperti hendak menyampaikan kesan 'rebel+alternative' dan ngingetin gue kalo ini adalah sebuah film indie-low-budget. Nuansa alternative itu diperkuat oleh soundtrack 'Atmosphere' dari Joy Division ( di cover ama band indie-rock 'Ola Podrida' ) yang menghiasi beberapa scene-nya. wow Joy Division, Men! gue pun langsung googling buat mendownload track-nya hehehe
TRANSMISSION 2 , 'Jealousy Monster'.
Chapter ini disutradarai ama Jacob Gentry, dan film tiba-tiba membelok menjadi black-comedy-horror.
Selain itu, main character yang di chapter 1 adalah Maya, di chapter ini malah Lewis.
Kita diajak masuk ke sebuah rumah , dimana sepasang suami-istri yang sedang merencanakan pesta New year's Eve akhirnya malah ngedapetin horror ketika Lewis -yang sudah terjangkit The Signal- dalam usahanya mencari Maya, tanpa sengaja malah masuk ke rumah mereka.
Walaupun kental aroma surreal dan black-comedy nya, Chapter ini tetep menampilkan beberapa gruesome-death-scene yang cukup weird.
di sini kita juga akan ditunjukin gimana The Signal mempengaruhi dan menciptakan halusinasi2 yang membuat Lewis mampu melakukan sesuatu yang tak masuk akal, dan itu di visualisasiin oleh Jacob Gentry -yang juga ikut memproduseri film ini- dengan teknik stunning-camera dan trik-sinematography yang keren. Sayangnya, menurut gue Chapter ini sedikit ngerusak mood yang udah dibangun sebelumnya oleh Chapter 1. Namun, kalo mood kamu lagi bagus dan mau nyoba menyelaraskan diri dengan ide Jacob Gentry, kayanya kamu masih bisa ngelewatin chapter ini dan menikmatinya. hehe
TRANSMISSION 3, 'Escape from Terminus'.
Setelah disuguhi weird-black-comedy di Chapter 2, kali ini giliran Dan Bush mengejawantahkan idenya ( gile bahasa apa tuh mengejawantah hahaha ).
Dan Bush membalut The Signal menjadi satu kesatuan dengan menyelipkan beberapa flash-back yang diambil dari scene 2 chapter sebelumnya, tak ada lagi humor gelap disni, dan main character untuk chapter ini adalah Ben.
dia juga sedikit memberi sentuhan sci-fi dan drama-horror untuk chapternya. kamu akan ngedapetin adegan potongan kepala yang dialiri listrik supaya bisa ngomong, dan beberapa gruesome scene yang ngingetin ama The Shining + another slasher movie. Sayangnya, menurut gue Chapter inilah yang paling lemah penyampaiannya.
Terlepas dari statement para sutradaranya yang konon menyelipkan isu tentang : media, realitas sosial, relationship dan cinta, ending film ini terlihat datar, menggantung khas film2 apokalip, ambigu dan menyisakan banyak pertanyaan disana-sini. Buat yang moodnya sudah runtuh sejak Chapter 2, kayanya nggak bakalan selesai nonton Chapter ini.
....................................
Akhirnya, The Signal buat gue sebenernya film yang mempunyai konsep dan visi sangat menarik. Hal-hal yang langka terdapat di film mega budget mainstream akan kamu dapetin disini. Kreatif, liar, bebas dan kadang tolol.
Itu satu alasan kenapa nonton film Indie itu kadang menyenangkan walau sering juga suck. keliatan juga gimana para kreatornya saling adu kreatifitas dan bersenang-senang di dalamnya hanya dengan budget 50.000 dollar.. sayangnyaaa...sebagai satu kesatuan film utuh, film ini susah dinikmati..
Ibaratnya makan sayur asem tapi lauknya roti-bakar + gorengan. Campur aduk rasanya haha, kecuali kamu satu aliran ama Bondan Winarno yang seneng nyobain makanan aneh dengan sensasi baru, pasti akan berkomentar : " maknyooosss..this is instant classics!! "
sementara buat kamu Horror-fan-tradisional-anti-mikir jelas2 akan memuntahkan makanan seperti ini dan berteriak " gue pengen sate!!! " hehe jadi, film ini sama sekali nggak gue rekomendasiin buat mereka hehehe
.............................................................
Buat gue sih, film ini masih asik ditonton di malam minggu yang menyenangkan,
tapi menyebalkan ditonton di hari Senin sampe Jum'at.
tapi menyebalkan ditonton di hari Senin sampe Jum'at.
anyway, good work.
6,5/10
6,5/10
14 January 2010
SITANALA ( 2009 ) / ZOMBIE MOVIE ( 2005 )
REVIEWED BY 'R'.
Kali ini saya akan mencoba me-review 2 film pendek yang salah satunya buatan temen-temen kita yang masih SMU.

SITANALA ( BERGEGASLAH SEBELUM SENJA ).
TENTANG 'SITANALA'
Film Pendek Independen (mungkin yang pertama) buatan anak SMA.
Budget : 200 - 300 ribu RP
Sinopsis :
29 Febuari 2012...Laboratorium Rekayasa kimia di satu-satunya rumah sakit kusta di dunia, tiba-tiba saja meledak....wabah kusta jenis baru menyebar kota Tangerang dan sekitarnya, Kota Tangerang diberikan status siaga satu oleh pemerintah. Kami yang tadinya sedang meliput rumah sakit tersebut kini...harus menjadi beberapa orang yang masih selamat dan bertahan hidup hingga hari ini...
directed by Anugrah Surya Pratama
Ini adalah sebuah film indie bergenre horror-zombie bikinan anak2 SMU,
Film berdurasi sekitar 15 menit ini bercerita tentang meledaknya laboratorium di rumah sakit kusta 'Sitanala' yang yang nyebabin pasien2nya berubah menjadi zombie. kota Tangerang pun berstatus siaga satu.
seorang reporter bersama rekannya mencoba survive di tengah kepungan mayat hidup pemakan daging ini.
Film berdurasi sekitar 15 menit ini bercerita tentang meledaknya laboratorium di rumah sakit kusta 'Sitanala' yang yang nyebabin pasien2nya berubah menjadi zombie. kota Tangerang pun berstatus siaga satu.
seorang reporter bersama rekannya mencoba survive di tengah kepungan mayat hidup pemakan daging ini.
..........................
Saya nggak akan me-review film ini dari segi teknis mengingat mereka masih sedang dalam tahap belajar membuat film, dan budgetnya kecil ( cuma 200-300 ribu brad!! ) lagian saya sendiri nggak begitu ngerti teknis pembuatan film hehe. namun, memang kekurangan terlihat jelas disana-sini, tapi kalo terus belajar, saya yakin di film berikutnya mereka akan lebih baik.
oke, jadi saya ( sebagai horror-fan movie --bukan sebagai kritikus atau master per-sinema-an hehe-- ) akan mencoba membagi sedikit masukan dari sudut pandang saya sebagai upaya support dan apresiasi buat mereka.
oke, jadi saya ( sebagai horror-fan movie --bukan sebagai kritikus atau master per-sinema-an hehe-- ) akan mencoba membagi sedikit masukan dari sudut pandang saya sebagai upaya support dan apresiasi buat mereka.
.............................
- Kurangnya usaha pengenalan karakter, membuat emosi saya tidak ikut terlibat..
- Diawal, mereka nyoba buat make konsep 'handheld camera' gaya reportase langsung, dari konsep ini tentunya yang diharapin adalah aura 'reality-scare' yang spontan bisa di hadirkan. untuk konsep ini akting apa adanya/natural sangat di butuhkan. nah, rata-rata yang maen disini kan mereka yang sedang belajar, so akting paniknya masih terasa kurang. buat menutupi ini, sutradara sebagai director mestinya bisa turun langsung mengontrol mereka, misalnya :
di menit 00.50 ketika adegan orang2 berlarian panik karena laboratorium kimia rumah sakit meledak, rombongan kru reportase terlihat tidak terlalu panik selayaknya orang yang melihat orang lain berlarian dan mendengar suara ledakan, bahkan penjaga rumah sakit masih bisa menjelaskan dengan santai " kayanya laboratorium di sebelah sana meledak ",
seharusnya disini sutradara ngingetin dengan memberi perintah : " more panic! more panic!! "
untungnye di menit berikutnya keliatan tuh paniknya. saya suka aktingnya sang reporter-cewe dan pergerakan kameranya juga bagus. hehe
- Ide zombie ber jilbab itu keren :) hehe saya juga suka kemunculan zombie cowo di menit 03.49, tangannya tak perlu menggapai2 tapi kehadirannya cukup mengancam ..i like this scene hehe, film ini kayanya mencoba menengahi 2 kutub per-zombie-an ( zombie jalan dan zombie lari ) dengan membuat zombienya di awal berjalan merayap, kemudian ketika semakin lama terinfeksi mereka akhirnya mampu berlari ( menit 02.37 -part 2 ) hehe bagus..baguss..
- Entah kenapa gerakan zombienya gue lihat kurang creepy dan terlalu tipikal hehe mungkin perlu eksplorasi gerakan zombie lainnya..zombie ngesot misalnya
akan lebih keren juga kalo ada zombie suster, zombie dokter dll soalnya ini yang meledak laboratorium rumah sakit kan hehe
- Tentang adegan mengenang lewat rekaman handycam itu, mungkin terinspirasi adegan 'mengenang' di Cloverfield? hehe rasanya akan lebih terasa dramatis jika rekaman yang dilihat adalah rekaman ketika mereka sedang bercanda/tertawa bahagia lalu ditimpali soundtrack yang mendukung dengan durasi yang tidak terlalu panjang untuk efisiensi. atau kita bisa masukin sedikit humor dengan membuat rekaman handycam nya bertumpang tindih dengan rekaman2 konyol.
Anyway, pengambilan gambar dan editing yang bagus gue dapetin mulai menit 05.19 ( part 1 ) --mulai menit ini konsep 'handheld camera' nya ditinggalin-- sampe 01.40 ( part 2 ),
-Setting apokaliptik-post-outbreaknya kaga ada. Mengingat minimnya budget, tentunya kita ga mungkin bikin kaya di 'I Am Legend' hehe tapi mungkin kita bisa menggeletakkan tong sampah di tengah jalan, drum minyak bekas, membalikkan gerobak bubur ayam, sepeda anak-anak, atau jika kita berhasil membuat efek asap mengepul dari ban bekas yang dibakar, kayanya itu akan lebih yahud dll.
- Diawal, mereka nyoba buat make konsep 'handheld camera' gaya reportase langsung, dari konsep ini tentunya yang diharapin adalah aura 'reality-scare' yang spontan bisa di hadirkan. untuk konsep ini akting apa adanya/natural sangat di butuhkan. nah, rata-rata yang maen disini kan mereka yang sedang belajar, so akting paniknya masih terasa kurang. buat menutupi ini, sutradara sebagai director mestinya bisa turun langsung mengontrol mereka, misalnya :
di menit 00.50 ketika adegan orang2 berlarian panik karena laboratorium kimia rumah sakit meledak, rombongan kru reportase terlihat tidak terlalu panik selayaknya orang yang melihat orang lain berlarian dan mendengar suara ledakan, bahkan penjaga rumah sakit masih bisa menjelaskan dengan santai " kayanya laboratorium di sebelah sana meledak ",
untungnye di menit berikutnya keliatan tuh paniknya. saya suka aktingnya sang reporter-cewe dan pergerakan kameranya juga bagus. hehe
- Ide zombie ber jilbab itu keren :) hehe saya juga suka kemunculan zombie cowo di menit 03.49, tangannya tak perlu menggapai2 tapi kehadirannya cukup mengancam ..i like this scene hehe, film ini kayanya mencoba menengahi 2 kutub per-zombie-an ( zombie jalan dan zombie lari ) dengan membuat zombienya di awal berjalan merayap, kemudian ketika semakin lama terinfeksi mereka akhirnya mampu berlari ( menit 02.37 -part 2 ) hehe bagus..baguss..
- Entah kenapa gerakan zombienya gue lihat kurang creepy dan terlalu tipikal hehe mungkin perlu eksplorasi gerakan zombie lainnya..zombie ngesot misalnya
akan lebih keren juga kalo ada zombie suster, zombie dokter dll soalnya ini yang meledak laboratorium rumah sakit kan hehe
- Tentang adegan mengenang lewat rekaman handycam itu, mungkin terinspirasi adegan 'mengenang' di Cloverfield? hehe rasanya akan lebih terasa dramatis jika rekaman yang dilihat adalah rekaman ketika mereka sedang bercanda/tertawa bahagia lalu ditimpali soundtrack yang mendukung dengan durasi yang tidak terlalu panjang untuk efisiensi. atau kita bisa masukin sedikit humor dengan membuat rekaman handycam nya bertumpang tindih dengan rekaman2 konyol.
Anyway, pengambilan gambar dan editing yang bagus gue dapetin mulai menit 05.19 ( part 1 ) --mulai menit ini konsep 'handheld camera' nya ditinggalin-- sampe 01.40 ( part 2 ),
-Setting apokaliptik-post-outbreaknya kaga ada. Mengingat minimnya budget, tentunya kita ga mungkin bikin kaya di 'I Am Legend' hehe tapi mungkin kita bisa menggeletakkan tong sampah di tengah jalan, drum minyak bekas, membalikkan gerobak bubur ayam, sepeda anak-anak, atau jika kita berhasil membuat efek asap mengepul dari ban bekas yang dibakar, kayanya itu akan lebih yahud dll.
..........................
udah segitu aja hehe selebihnya tentu aja saya seneng banget ternyata banyak harapan2 baru untuk dunia sinema kita apalagi jika itu berhubungan sama yang namanya horror dan zombie hehehe. bravo! sekali lagi review diatas bukan sok-ngritik atau sok-pinter, tp cm sekedar sharing, sebagai upaya apresiasi dan support.Salut buat semangatnya, its inspiring! tetap berkarya dan sukses selalu.
yang pengen nonton filmnya bisa di streaming atau download dari link di bawah ini :
..........................................

Yang ini juga sebuah film pendek ( 15 menit ) bergenre situational-horror-dark-comedy-zombieyang ditulis dan di sutradarai oleh Michael. J .Asquith dan Ben Stenbeck, ( setelah dtelusuri 2 orang ini pernah bekerja sebagai kru untuk divisi SFX di film : Xena, Hercules, trilogi The Lord Of The Rings, dan Bride Corps. mereka adalah alumni WETA-Workshop. ) dan ternyata film ini memenangi penghargaan 'New York City Horror Film Festival' dan 'Screamfest' ( 2005 ) untuk kategori 'Best Short Film'.
..............................
Tahun 1986, setahun setelah meledaknya zombie-apokalipsnye Romero 'Day Of The dead' ( 1985 ), wabah itu juga akhirnya melanda Selandia Baru.
semua orang menjadi zombie.
nah, Film ini berfokus pada 3 berandal yang terjebak dalam mobil mereka yang kehabisan bensin di tengah kepungan zombie2. Dengan hanya sedikit makanan dan rokok, usaha saling bertahan diri diantara mereka berubah menjadi keputus-asa an memuncak yang lebih mengancam dari pada para undead diluar sana.
semua orang menjadi zombie.
nah, Film ini berfokus pada 3 berandal yang terjebak dalam mobil mereka yang kehabisan bensin di tengah kepungan zombie2. Dengan hanya sedikit makanan dan rokok, usaha saling bertahan diri diantara mereka berubah menjadi keputus-asa an memuncak yang lebih mengancam dari pada para undead diluar sana.
..............................
gue suka film ini, hillarious, kocak, entertain dan intrigued.
Film ini emang lebih mengeksploitasi intrik-survival diantara para karakternya, sementara zombienya sendiri hanya menjadi background yang memperkuat situasi-horror.
15 menit kayanya menjadi waktu yang efisien terkemas dengan pas. padet dan ringkas. Akting 3 tokoh sentralnya memang tidak akan pernah meraih Oscar namun cukup untuk kebutuhan cerita film. sebagai film yang dibuat oleh alumni WETA, SFX zombienya emang keren ( untuk ukuran b-movie / berbudget rendah ), lihat ada zombie kaki-patah..it's cool. sementara hadirnya gore dan violence membuat gue semakin suka film ini. Untuk zombienya sendiri, Ben Stenbeck merujuk pada zombie ala Romero yang berjalan patah-patah dan tidak terlalu agresif, namun selalu siap memangsa siapapun makhluk hidup di dekatnya. ya pilihan tepat, soalnye kalo zombienya ganas bisa ngedobrak mobil, habislah dalam sekejap 3 pria ini. hehe satu hal yang gue sayangkan adalah, kenapa judulnya "zombie movie" ???
Film ini emang lebih mengeksploitasi intrik-survival diantara para karakternya, sementara zombienya sendiri hanya menjadi background yang memperkuat situasi-horror.
15 menit kayanya menjadi waktu yang efisien terkemas dengan pas. padet dan ringkas. Akting 3 tokoh sentralnya memang tidak akan pernah meraih Oscar namun cukup untuk kebutuhan cerita film. sebagai film yang dibuat oleh alumni WETA, SFX zombienya emang keren ( untuk ukuran b-movie / berbudget rendah ), lihat ada zombie kaki-patah..it's cool. sementara hadirnya gore dan violence membuat gue semakin suka film ini. Untuk zombienya sendiri, Ben Stenbeck merujuk pada zombie ala Romero yang berjalan patah-patah dan tidak terlalu agresif, namun selalu siap memangsa siapapun makhluk hidup di dekatnya. ya pilihan tepat, soalnye kalo zombienya ganas bisa ngedobrak mobil, habislah dalam sekejap 3 pria ini. hehe satu hal yang gue sayangkan adalah, kenapa judulnya "zombie movie" ???
wahtever, gue suka film ini.
dan jika kalian ga suka film ini, bersyukurlah karena ini hanya akan menyita 15 menit saja dalam hidupmu. :)
dan jika kalian ga suka film ini, bersyukurlah karena ini hanya akan menyita 15 menit saja dalam hidupmu. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)






