Showing posts with label survival. Show all posts
Showing posts with label survival. Show all posts

14 January 2017

Calvaire ( 2004 ) : Kegilaan nan Surreal dari Pelosok Belgia

Calvaire udah nge-set tone unsettling dark humor nya sejak menit pertama lewat adegan pertunjukan musik yang gue duga berlangsung disebuah panti jompo dimana karakter utama kita, Marc Stevens ( Laurent Lucas ) ternyata adalah penampilnya. Ya, Marc adalah seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu cinta cheesy dengan jubah panggungnya yang juga terkesan murahan. Meskipun hanya penyanyi undangan yang bermain di acara-acara  kecil, Marc rupanya cukup populer dan disukai audiensnya, terbukti abis dia nyelesein pertunjukan,  seorang nenek nyelonong menemui Marc dibelakang panggung dan melakukan gestur ajakan seksual haha. Marc dengan awkward menolaknya yang langsung membuat nenek itu memaki dirinya sendiri. Adegan ini seperti ngasih tau apaan yang akan gue liat : sebuah unsettling dark comedy yang nantinya mungkin akan di mix ama atmospheric-horror.  

Abis itu, diceritain Marc langsung melanjutkan tur-kecil nya ke daerah selatan untuk tampil di sebuah acara natal. Ditengah perjalanan, ketika nyampe di sebuah hutan berkabut nan terpencil, tiba-tiba aje mobil Marc mogok. Untungnya, saat sedang kebingungan, datang seorang warga sekitar ( Boris ) yang meski berperilaku aneh, mau membantu mengantarkan Marc ke sebuah rumah penginapan terdekat. Bartel, ( orang tua pemilik rumah penginapan ) segera menyambut Marc dengan ramah. Malam yang cukup sial itu sepertinya akan dilewati Marc dengan menginap di penginapan itu sambil menunggu mekanik datang untuk memperbaiki mobilnya. 

Tapi kita sedang menonton sebuah film yang kedefinisi sebagai horror, dimana segala sesuatu tidak sebaik kelihatannya bukan? hehe.

23 September 2016

Don't Breathe ( 2016 ) : Meraba langkah di kegelapan yang menyesakkan

Barangkali alesan paling besar yang membuat gue bersemangat ama film ini adalah karena nama Fede Alvarez didalamnya. Buat yang belum tau, sutradara asal Uruguay ini udah memberi gue banyak kesenangan lewat remake Evil Dead tiga tahun silam. Sementara itu, cerita dalam Dont' Breathe sendiri bukan sesuatu yang baru, cek postingan blog ini sebelumnya untuk ngeliat film-film laen yang punya ide similiar. Premisnya sangat sederhana, tentang pemilik rumah yang terpaksa harus mempertahankan diri dari penyusup. Yup, thriller home invasion! subgenre ini   menjanjikan thrill-ride seru namun dengan rute yang begitu predictable. Ini sangat riskan dan menurut gue sedikit aje 'sopir'nya salah 'nyetir', film ginian akan dengan mudah nyungsep di selokan. Tapi, hey, ini filmnya Fede Alvarez dan ada nama Jane Levy, Sam Raimi, serta Rob Tapert disana yang kembali terlibat. So, antusiasme gue cukup tinggi. 
 
Jadi folks, ceritanya sederhana aja

 
Sekelompok pencuri remaja Money ( Daniel Zovatto ), Alex ( Dylan Minnette ) ama Rocky ( Jane Levy ) mutusin buat ngerampok rumah yang diatas kertas adalah sebuah target empuk.  Pertama, rumah itu terletak di pemukiman sepi, kedua, pemiliknya diketahui menyimpan sejumlah besar uang, ketiga, dia tinggal sendirian dan jekpotnya adalah..dia seorang tuna netra! Apa yang terasa akan menjadi sebuah perampokan mudah, secara tak disangka berubah menjadi perjuangan survival dimana para perampok amatir ini akhirnya cuma berharap bisa keluar dari rumah itu hidup-hidup. Ya, veteran tua bertubuh kekar ( Stephen Lang ) yang meski buta namun memiliki insting kuat ini bertekad nggak akan ngebiarin itu terjadi.


22 July 2016

Green Room ( 2016 ) terror gig dari neraka

Cukup lama gue nungguin pilem ini. Pertama, karena gue lumayan suka Blue Ruin ( 2013 ) , yang merupakan pilem ke dua sang sutradara Jeremy Saulnier ( debut pertamanya adalah sebuah horror komedi low budget Murder Party -2007- ). Kedua, desain kovernya keren ngingetin gue pada kover album The Clash "London Calling", dan alesan yang ketiga adalah pilihan tema yang lagi-lagi, menurut gue  kreatif. 

Buat yang belum tau, green room adalah sebuah ruangan/kamar di belakang panggung/venue/studio yang di sediakan untuk performer sebelum mereka tampil.


Nah, dari kata kunci green room inilah, Saulnier mulai nge-develop ceritanya. 


Btw, sekilas info Saulnier memang pernah menjadi bagian dari skena hardcore/punk di Virgina pada tahun 90an. Dia menghadiri banyak gigs, jatuh cinta dengan estetika dan energi musik hc/punk, dan bahkan bergabung dalam sebuah band ( No Turn On Fred ). Gue duga Saulnier mendapatkan ide tentang Green Room ini ketika band nya sedang menunggu waktu manggung di kamar tunggu sebuah venue gig. Dan ide itu terus berkembang liar. 


Dalam sebuah wawancara, Saulnier mengaku bahkan sudah pernah membuat pilem pendek  micro-budget ( untuk sebuah festival kecil ) yang mengambil setting sebuah green room. Ceritanya konon tentang sebuah ben heavy metal yang muter musik secara kebalik dan nggak sengaja malah ngebangkitin iblis-iblis ( laaaaah malah mirip 'Deathgasm' yaa haha ). 


28 October 2012

DOG SOLDIERS ( 2002 )

Gue bisa nyebutin banyak bangat pilem tentang zombie atau vampire yang keren, tapi kalo ditanya pilem tentang manusia serigala ( werewolf ) yg memorable dan badass, hmmm..kayanya gue cuma bisa ngitungnya dengan sebelah jari tangan saja,
let's check..An American Werewolf in London (1981) (gue akan nyeritain pilem ini dalam review terpisah ), The Howling (1981), Ginger Snaps (2000)..apalagi ya? remake The Wolfman ( 2010 )? hm,  i don't think so. Twilight? aah, c'mon yang bener aja. Nah, sedikit sekali ternyata, cuma inget 3 judul. (  ada yang mau ngasih gue rekomendasi judul laen? ).

Jadi, pas suatu hari seorang temen berkicau tentang betapa badass nya serigala jejadian dalam 'Dog Soldiers', gue pun mengeluh kenapa ya dulu selalu ngelewatin pilem ini pas di rental DVD, mungkin karena ngebaca judulnya gue mengira ini pilem tentang anjing yang menjadi tentara (?) atau kemungkinan lainnya, mungkin karena Twilight udah ngilangin selera gue buat peduli ama kisah manusia serigala ( hal yang sama juga terjadi pada vampire ), Padahal setelah di cek, pilem ini ternyata adalah directorial debut dari Neil Marshall, nama yang kita kenal bertanggung jawab atas kisah horror klaustrofobik monster goa nan fenomenal 'The Descent' ( 2005), nama yang ini nggak mungkin bikin emo teen werewolf in love kan?  segera saja gue memerintahkan divisi per-download-an untuk mengunduh file nya. Tentu saja setelah gue menyogoknya dengan semangkok siomay.

Ok, kita liat kaya apa pilemnya :)

Storyline : 

Satu squad tentara Inggris di bawah pimpinan Sgt. Harry Wells (Sean Pertwee) di terjunkan ke hutan Skotlandia untuk menjalankan latihan militer rutin. Misi latihan yang awalnya lebih mirip acara piknik para tentara lengkap dengan candaan kasar dan api unggun, mendadak berubah ketika seseorang ( atau sesuatu ? ) melemparkan bangkai sapi ke arah mereka. Penasaran, mereka mulai mencari tahu siapa yang melakukannya. Tak lama kemudian squad ini mulai sadar sedang berhadapan dengan musuh nyata ketika mereka menemukan base camp batalion lain dalam keadaan porak poranda, penuh darah dan organ tubuh berceceran. Di tempat itu pula, mereka menemukan Capt.Ryan (Liam Cunningham) dalam keadaan sekarat, usus nya terburai. Dia meracau tentang makhluk buas yang telah merobek perut dan membantai anak buahnya.

We are now up against live, hostile targets. So, if Little Red Riding Hood should show up with a bazooka and a bad attitude, I expect you to chin the bitch!.” Sgt. Harry Wells mengeluarkan perintah.

ketika hari mulai gelap, sosok-sosok besar berbulu dengan taring tersembul dari mulutnya mulai terlihat diantara kegelapan dan pohon-pohon, mengintai mereka. itu Werewolf!

dan horror pun di mulai.

Review :


Diawali ama adegan penerjunan squad ini ke hutan Skotlandia, pilem mulai ngenalin para anggota cast. Biasanya, ini bagian yang rada ngebosenin buat diliat, itu soalnya di kebanyakan pilem lain kita tau mereka cuma 'daging kurban' yang perannya emang cuma buat di makan monster.  Si penakut di telen pertama, si menyebalkan di caplok berikutnya etc, tapi untunglah pengkarakteran para tokoh disini gue pikir tidak terlalu dibuat buat, natural dan unik satu sama lain, satu satunya kesamaan mereka cuma : sama sama foul-mouthed! So, no stereotypes there then. 
Pada gilirannya, ini membuat gue kemudian merasa terlibat secara emosi dan tidak hanya menganggap mereka sebagai 'future victims' belaka. Gue sendiri sangat suka Karakter Spoon ( Darren Morfitt ) dan Sersan Wells ( Sean Pertwee ) . Khusus nama terakhir, dia berakting sangat baik disini meski akting terbaiknya hanyalah ketika memerankan orang yang tewas dengan sangat mengenaskan ( cek di 'Doomsday', 'Wilderness', atau 'Event Horizon' ) haha. 

Sementara itu, dialognya menggunakan logat british yang kental lengkap dengan makian dan joke yang beberapa diantaranya cuman bakal bikin ngakak orang Inggris doang. Gue sering membuka google translate cuma buat ngertiin apa yang lagi mereka omongin dan tetep nggak ngerti haha tapi untungnya lagi lebih banyak yang berhasil bikin gue ketawa. Hal, yang gue suka lainnya, skripnya punya banyak lines memorabel.

Selain karakter yang natural dan nggak stereotip, reaksi mereka ngadepin makhluk jejaden ini juga nggak kaya tokoh di kebanyakan pilem horror laen yang biasanya cuma ngejerit frustasi sambil memekik " oh God..What the hell are these fucking things?!". Abis itu ngelakuin hal yang luar biasa bodoh.

Cek reaksi sersan Wells ketika ngeliat ususnya mbrojol, dia cuma menatap ususnya sambil menggumam " sosis.." badass! haha

atau yang ini :


Mereka beneran kaya tentara, lengkap dengan attitude nganggep semua hal sebagai  bullshit, nggak gampang frustasi dan selalu punya strategi. Ketika amunisi mulai menipis, nggak segan mereka menggunakan penggorengan buat senjata, dan bahkan ketika penggorengan udah nggak ada, salah seorang diantara mereka ( prajurit Spoon..whoa, i love Spoon! ) tak gentar menantang duel adu jotos. Ya, adu jotos melawan werewolf!!
"Come On, Beauties!! "
Gimana dengan efek nya sendiri? kalo mengingat ini adalah sebuah pilem dengan bujet cekak, gue cukup khawatir kru pilem bakal make CGI medioker buat nyiptain sosok sang siluman serigala. Tentunya, gue bukan anti-CGI, tapi masalahnya ketidakhadiran fisik sang monster dalam setting dan aktor yang cuma berakting di depan green screen biasanya gagal menghadirkan feel terror yang hendak dicapai, lebih buruk lagi  penggunaan CGI di banyak pilem horror low budget sering ngerubah horror malah menjadi komedi menyedihkan nan absurd.
Gue bisa nikmatin 'komedi' diatas pada lain waktu dengan mood yang berbeda. tapi, saat nonton 'Dog soldiers'  gue cuma pengen siluman serigala yang badass!

Dan Marshall bersama divisi spesial efek di pilem ini ngejawab request gue dengan nyiptain kepala werewolfnya menggunakan teknologi animatronik.

cek,



Bagian tubuhnya sendiri tetap menggunakan aktor yang memakai kostum prostetik, dan jika kalian bertanya mengapa sang serigala keliatan tinggi, itu karena sang aktor juga memakai 'stilts' ( semacam egrang mekanis ) dibalik kostumnya haha

Liat gimana owsom nya egrang mekanis yang gue maksud :


Gua baca dalam sebuah wawancara, Neil Marshall emang menolak menggunakan CGI karena dianggap over-used padahal teknologi animatonik menurutnya sudah sangat pesat.

" I wanted to tried and tested method ( animatronics ) because i needed the werewolfes in the same frame as the actors so they could properly react to what they were seeing in order to communicate total pulse -pounding terror to a wide-eyed audience ". Neil Marshall

Dan hasilnya memang efektif, kehadiran fisik sang monster mampu memaksimalkan terror yang hendak disampein. Reaksi yang diharapkan dari para aktor dapet. Feelnya dapet. Walaupun memang nggak se-spektakuler SFX di 'An American Werewolf in London'  &  di beberapa adegan mimik sang serigala terlihat sedikit kaku ( maklum robot hehe ), namun sedikit kelemahan ini mendapat support dari kerja kamera dan editing yang tepat guna. Gue mencatat ada beberapa adegan dramatis dari pemunculan sang serigala jejadian yang cukup memorabel. Sementara itu, untuk desainnya sendiri lebih mirip serigala besar yang bisa berdiri. Bagian kaki dan tangannya terlihat kurus tapi berotot dan hanya mempunyai sedikit bulu. Seinget gue, cuma 'The Howling' (1981 ) yang punya desain hampir serupa. Keren!


Jadi, 2 hal penting udah berhasil membuat gue tersenyum, character development yang menarik ama keputusan nggak make CGI. Berikutnya, gimana dengan ceritanya?

Buat sebuah flick horror berdana rendah yang punya premis werewolf vs serombongan tentara, gue jelas nggak naro harepan bakal dapet cerita yang outstanding. Pokoknya kasi aja adegan serigala menerkam ama adegan tembak-tembakan ( libatkan granat + bazooka kalo perlu ) yang banyak, itu aja udah udah cukup bikin otak gue lebih enteng. Dan Marshall kembali ngasih gue lebih dari yang gue harepin. Tetep nggak outstanding sih, tapi ceritanya tuh keliatan bener2 di pikirin buat bisa ngedukung semua aksi dan karakter di dalamnya. Tak lupa dia nyelipin beberapa twist, yang salah satunya sebenarnya udah bisa ditebak di pertengahan durasi, tapi bagaimanapun ini rasanya kaya beli chiki dan nemu selembar ribuan di dalamnya. surprise! haha.

Selain itu 'Dog Soldiers' juga punya banyak referensi pilem cult horror favorit gue, misalnya aja di menit-menit awal dia ngingetin gue ama 'Predator', ketika cerita mulai bergerak dan squad menemukan kabin, jelas ingatan gue melayang pada 'Evil Dead', berikutnya seluruh durasi pilem dihabisin didalam kabin tersebut, squad mulai membuat barikade dan mencoba bertahan dari werewolfes yang mengepung diluar. Disini banyak adegan yang gue rasa ngambil referensi dari 'Night of the Living dead', 'Zulu', 'Aliens', 'Dawn of The Dead', 'Gremlins' dll. Gue sih seneng ngeliatnya, rasanya kalo suatu saat gue bikin pilem pun bakalan dengan seneng hati ngasih tribut buat pilem2 keren favorit gue dengan nge-homage nya. Dan nggak usah khawatir ini bakal kerasa repetitif, karena 'Dog Soldiers' juga punya beberapa adegan orisinil-fresh yang salah satunya bikin gue ngakak, misalnya, adegan prajurit Cooper ngelem usus Sersan Wells yang mbrojol pake superglue. WTF?!



Dari tadi muji muji mulu, jadi ini pilem yang layak dapat rating 10 gitu? sayangnya bukan. Rating 10  udah gue kasih buat 'Braindead' haha.

MINUS POINT :
- Ada beberapa pemunculan werewolf yang stylish & memorabel, tapi gue bakalan lebih seneng kalo penampakan full frontal dari sang werewolf ditambah. Sebagian besar penampakannya emang cuma ditunjukin sekilas2 dalam adegan yang cepat, berbentuk siluet atau close up
- Terima kasih untuk darah, usus mbrojol dan satu adegan yang berhubungan dengan kepala buntung. Itu sangat brutal, Terima kasih juga udah nggak make CGI. Tapi, lebih banyak on screen gory scene, please.
- kamera yang goyang dan perpindahan antar adegan yang sering terlalu cepet, terutama di adegan2 kontak terbuka dengan para werewolf. Tujuannya jelas buat nyiptain 'sense of urgency dan speed', emang sih berhasil, dan gue suka kesan RAW yang dihasilin, tapi kadang bikin pusing juga.
- Aksen british yang kental, bikin gue sering nggak ngerti mereka lagi ngomong apaan haha.

..................................

Overall, dengan segala kekurangannya, 'Dog Soldiers' adalah pilem horror kecil yang nyaris nggak kedeteksi 'radar' , namun kala ditemukan dia secara mengejutkan mampu ngasih gue lebih dari yang di ekspektasiin, karenanya dia layak untuk direkomendasikan. Sebuah kerja yang sangat bagus dari seorang debutan.

Rough, fast pacing, intense, twisty, brutal sekaligus funny.

Dan yang paling penting, 

Neil Marshall berhasil ngingetin kita akan fitrah werewolf sebagai makhluk mitologi yang setiap bulan purnama akan mendedikasikan hidupnya buat mencabik dan memamah daging manusia..

dan bukannya galau gara2 cinta segitiga. ho-hum.

Highly recommended.

RATING:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


.......................................

 ++ Sempat tersiar kabar, kalo sekuelnya sedang diproduksi ( Dog soldiers : Fresh Meat ) dengan Rob Green sebagai sutradara. tapi, setelah blusukan kesana kemari nyari informasi, gue ngedapetin official update kalo proyek itu ternyata batal terealisasi. nggak tau kenapa.

22 March 2012

THE GREY ( 2012 )

Gue tidak sedang tergila-gila dengan hewan buas, anjing, atau srigala. Tapi, cukup aneh juga menyadari bahwa 3 postingan terakhir di blog ini secara kebetulan sepertinya berhubungan dengan hewan buas ( walaupun pilem 'Srigala' sebenarnya nggak ada serigala nya, whatever hehe ). Ini membuat gue berfikir, kalo di postingan berikutnya gue mereview pilem tentang hewan buas lagi, lebih baik nama blog ini diganti saja. animalgoesmad.blogspot.com?

Bagaimanapun, 'The Grey' memang susah ditolak. disana ada Liam Neeson, ada petualangan survival di Alaska, srigala-srigala buas, dan duel melawan raja srigala dengan menggunakan pecahan kaca yang ngingetin pecinta action pada duel Van Damme vs Tong Po.

Jadi, gue membayangkan Bryan Millis ( peran Liam Neeson dalam 'Taken' ) kali ini akan memburu srigala-srigala Alaska yang telah menculik puteri nya, menghabisi mereka tanpa ampun, mengobrak-abrik sarangnya, dan akhirnya harus bertarung satu lawan satu melawan bos srigala dalam sebuah duel hidup mati nan epik? Baiklah, gue bercanda , bayangan diatas jelas terlalu konyol. hehe. Yang pasti, rating tinggi di IMDB cukup ngeyakinin gue kalo 'The Grey' layak diperjuangkan untuk di donlot meski dengan size yang sebenarnya mustahil buat modem cap kaleng Khong-Guan gue.

STORYLINE :


John Ottway ( Liam Neeson ) adalah seorang penembak srigala ( bekerja untuk sebuah perusahaan minyak ) yang diceritain kayanya lagi punya masalah berat dalam hidup. Dia keliatan putus asa dan sempat berencana buat nembak dirinya sendiri.

Dalam sebuah penerbangan, pesawat yang mengangkut John dan para pekerja perusahaan itu mengalami kecelakan naas. Ya, pesawat mereka terjatuh di tengah-tengah alam Alaska yang liar. Hanya 7 penumpang yang selamat, tentu saja John diantaranya.

Jadi sekarang, mereka harus mulai berjuang untuk bertahan hidup, bukan saja melawan ancaman hawa dingin ekstrem, kelaparan, dehidrasi, dan kawanan srigala cerdas, tapi juga melawan.....ahem, diri mereka sendiri.
Lalu, bagimana John yang sedang galau menghadapi situasi ini.?

*drum rolling.


REVIEW


Ya, sepertinya ekspektasi instan bahwa ini pilem aksi-survival yang bakalan seru dan murni menghibur hanya karena ngeliat trailernya emang meleset. Joe Carnahan ternyata emang nggak berencana membuat pilem seperti yang gue harep dan nyoba ngasih sesuatu yang lain saja. 'The Grey' yang diangkat dari sebuah cerita-pendek berjudul 'Ghost Walker' ( karya Ian MacKenzie Jeffers ) lebih ingin menyampaikan kisah tentang harapan, keputusasaan, ketakutan dan perjuangan yang dibalut tema survival. Itu sebenarnya udah bisa dideteksi dari judulnya yang terkesan 'moody'. Tentu saja nggak ada yang salah dengan itu. Gpp, gue tidak pernah menutup diri kok. hehe.

Tapi, sayang gue menjadi tidak peduli dengan semua yang ada dalam 'The Grey'  ketika mendapati beberapa beberapa error-script yang berhubungan dengan karakter utama kita, misalnya aja nih..

Sejak awal kita sudah dikenalin ama tokoh John Ottway seorang master pembunuh serigala yang terlihat sangat berpengalaman dengan mengaku sebagai 'orang yang dibayar perusahaan buat mencegah serigala memakan kalian', seseorang yang terlihat bisa diandalkan, seseorang yang berkata bahwa cara mengatasi situasi ini adalah dengan "menghabisi mereka ( kawanan serigala ) satu persatu..mengurangi jumlah mereka, " Dan itu membuat gue yang sebenarnya tidak berharap apa-apa menjadi sedikit berharap pada sebuah..hmm setidaknya..aksi survival yang jantan. Pada kenyataannya John Ottway tidak pernah 'menghabisi mereka satu persatu ' ( kecuali satu serigala berpangkat rendah yang dikirim raja serigala untuk 'bunuh diri' ) dan terlihat hanya berlari saja sepanjang pilem.


Sebagai seorang berpengalaman, sikap Ottway menghadapi situasi kritis juga terlihat tidak jelas. ( Gue tidak akan menceritakan karakter lain semenjak karakterisasi tokoh lain terasa sangat generik dan terasa hanya sebagai 'figuran' belaka .) 

Jadi, rencana Ottway hanya : berlari menjauhi serigala, terus bergerak sambil berharap ada peradaban disebelah sana. Yang lain ngikut. Dia sedikit sekali berbicara tentang bagaimana menghadapi situasi, tentang mengatur strategi atau tentang cara memperbesar harapan dan lebih senang berbincang-bincang tentang sesuatu yang terdengar sangat 'penting' dan intelek seperti...syair puisi 4 baris di rumahnya.

Oke mungkin emang sebenarnya itulah yang mau diceritain, tentang penyikapan manusia biasa ketika berhadapan dengan alam dan situasi ekstrim. Okelah,  Tapi kemudian dengan sikap lembek kaya gitu  ketika nyawanya benar-benar di ujung tanduk, Ottway secara menyedihkan berusaha membuat dirinya terlihat macho dengan mengingat syair puisi tentang 'perjuangan hidup-mati'  yang membuatnya merasa sedang masuk kedalam medan pertempuran dan sedang berjihad mempertahankan hidupnya mati-matian?

Run! Run! Run!
Selain itu, detil-detil kecil terkesan diabaikan yang kemudian menjadikannya begitu konyol dan menjengkelkan buat diliat.

Misalnya aja, bagaimana Ottway dkk tidak mempersenjatai dirinya ketika berjalan padahal mereka tahu kawanan serigala selalu mengintai ( kemana tombak kayu yang semalam mereka buat? ), memilih buat secara tidak masuk akal meloncat ke pohon diseberang jurang daripada membuat tali dan menuruni bukit perlahan2? ( walau 2 pilihan ini sebenarnya sama-sama percuma, karena serigala2 sudah menanti mereka di bawah haha ) atau bagaimana Ottway, seorang master-serigala yang sedang berusaha menghindari serigala justru malah nyasar ke sarangnya??


Bukan hal yang terlalu buruk memang, tapi seperti udah gue tulis diatas, ini menjengkelkan.

ketika seseorang terperangkap dalam peti mati dan melakukan hal-hal bodoh, gue bisa memaafkan.

Tapi ketika seorang yang terlihat punya skill dan pengalaman nyaris tidak berbuat apa-apa selain menghindar, terlihat galau, membuat serangkaian keputusan konyol, memprotes Tuhan lantas menganggap dirinya sedang 'into the fray', gue bener-bener  kehilangan respek.  

Dengan sikap kaya gitu, dia sebenernya nggak punya hidup yang layak buat dipertahankan. 

.....................................................

Selain akting Liam Neeson, skoring, setting ama beberapa pengambilan gambar yang cukup bagus nggak ada lagi yang bisa dinikmatin dari 'The Grey'. Sensasi terror?  biasa aja. killing scene? malah ngingetin ama 'Jenglot Pantai Selatan' dimana itu terjadi secara cepat dengan memakai teknik close-up dan shaky cam. Efek? tidak istimewa dengan penggambaran serigala yang cukup aneh, misalnya mereka mempunyai taktik mengirim 'prajurit serigala berpangkat rendah' atau punya insting duel dengan mangsanya? Baiklah gue memang tidak mengerti seluk beluk sifat serigala, John Ottway does.



Ngomong-ngomong masalah ending, gue sendiri sebenernya nggak punya masalah dengan tipe ending seperti itu, hanya saja respek gue buat pilem ini terus terang udah hilang semenjak pertengahan durasi. Jadi ketika 'The Grey' memilih mengakhiri kisahnya dengan cara seperti itu, gue udah mati rasa dan memasang tampang Squidward sambil mendengus tak peduli


Oh yeaaahh??
Verdict, 

Seperti striker yang berusaha keras mencetak gol indah tanpa peduli pada pelanggaran2 yang dilakukannya, Joe Carnahan terlalu fokus untuk menjadikan 'The Grey' sebuah pilem survival yang penuh makna, 'dalem', cerdas, puitis, nyeni dan bercita rasa tinggi namun sayangnya dengan mengabaikan beberapa detil-script yang menurutnya adalah sesuatu yang sepele.

Hehe, apakah gue terlihat seperti orang dengan 'bad taste' yang hanya menginginkan sajian pertempuran berdarah antara manusia vs serigala dengan organ tubuh bertebaran? walau itu memang sedikit bener hehe aslinya gue nggak selalu berharap seperti itu. Gue bahkan pernah terlibat emosi begitu dalam pada sebuah drama-survival-puitis seperti "Into the wild" atau 'The Road'. Singkatnya sih, pilem ini nggak berhasil 'menyentuh' gue.


I don't know, mungkin kalian bisa menikmatinya, tapi ini jelas bukan buat gue.

Atau kah gue sebenarnya sudah melewatkan sesuatu?? so, correct me.


RATING:


Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic

20 December 2011

THE DEAD ( 2010 )

Kalo ditanya makhluk horror impor yang punya tampilan visual paling mengerikan, barangkali gue akan dengan cepat menjawabnya : zombie. 

Zombie tuh orang mati, ( yang karena beberapa sebab menggelikan ) bisa idup lagi lengkap dengan luka-luka di tubuhnya. Bisa perutnya sobek, mata nyoplok, atau tangannya buntung. Terus dengan bodi ancur kaya gitu dia ngerayap sambil ngeluarin erangan nggak jelas, ( kemungkinannya zombie ini menggumam 'Brraainnns..", tapi kadang2 kedengeran seperti "Bryaaaann.." sebagian lagi malah " Bieberrrrr " ) nyari siapa aja yang masih idup buat dimakan otaknya. Dan lebih gawatnya, jumlah mereka tuh biasanya banyak! kalo kata Z, mereka nggak beda jauh sama hipster, sementara gue cuma nemuin sedikit persamaan mereka pada calon penumpang KRL di stasiun Depok Baru. Sama-sama berwajah kosong.

Tongkrongan kaya gitu membuat zombie selama bertahun2 berhasil memuncaki klasemen liga horror versi pribadi meninggalkan jauh pesaing2nya yg tidak konsisten karena mungkin salah strategi apa pelatihnya yang emang buruk. Nasib paling buruk menimpa Vampire yang kini sudah ter degradasi ke divisi dua saking keterlaluan tampan ( dan sixpack! ) nya.

Nah, selama ini gue lebih mengenal zombie ini sebagai mayat2 orang Eropa/Amerika ( sebagian kecil Asia ) yang bangkit kembali dan berjalan gontai menyusuri jalanan kota megapolitan mereka yang porak-poranda.

Akan sangat menarik, kalo seseorang nyoba mindahin kisah tentang zombie2 ini kesebuah benua dimana semua penderitaan dan horror-dunia sepertinya emang bermula dari sana : Afrika.

Storyline : 


Diceritain Letnan Brian Murphy ( Rob Freeman ) terdampar di sebuah pantai, setelah pesawat-evakuasi yang ditumpanginya jatuh ke laut. Belum sempat Brian mengatur nafas, dia ngeliat sosok-sosok gontai perlahan mendekatinya. Itu Zombie! 

Yah, ditengah perang ( antara Afrika dan Amerika ) yang sedang terjadi, Afrika tiba-tiba dilanda wabah zombie dengan penyebab yang nggak diceritain. Nyaris 70% penduduk Afrika udah jadi zombie, 20% lainnya pasti udah tewas, praktis yang kesisa tinggal militer2 ama siapa aja yang masih megang shotgun apa golok buat mempertahankan diri. Letnan Brian menjadi salah satu dari persentasi kecil itu.

Sekarang, dari pantai dimana dia terdampar, Letnan Brian sadar harus terus menjaga kemungkinan hidupnya dengan menerobos desa-desa yang sudah dikuasai zombie, lalu menempuh jarak puluhan kilometer, buat menuju suatu tempat di mana dia yakin harapan untuk bisa segera keluar dari benua terkutuk itu masih ada.

Review :

ternyata ada pocong-zombie di Afrika
  
Gue akan memulai review dengan ngebahas sedikit perdebatan paling penting didunia setelah debat " kenapa Mr.Krabb yang kepiting bisa mempunyai puteri seekor ikan paus? " yaitu tentang " Slow Zombie vs Fast Zombie ".

Di satu kubu ada penyembah George Romero yang mengklaim bahwa zombie itu sejatinya berjalan lambat. Mereka menilai zombie-cepat itu bagaikan poser yang udah mengkhianati konsep atmosperik-apokaliptik dalam pilem zombie 60-70 an pujaan mereka menjadi sekedar pilem horror-aksi belaka.
Sementara kubu 'Running Zombie' menginterupsi ide itu dengan berpendapat zombie lambat bener-bener membosankan. Sama sekali tidak mengancam, konyol, lemah dan sangat mudah dibunuh. Mereka lalu menambahkan bahwa zombie-cepat lebih berhasil dalam membuat sebuah pilem mendapat gelar " seru, menegangkan dan penuh aksi ".

Dari sini kita bisa ngeliat running-zombie fan kemungkinan adalah penonton2 zombie generasi 2000-an keatas yang menemukan kenyataan bahwa 'Dawn of The Dead' versi Zack Snyder dan '28 Days Later ' nya Danny Boyle adalah 2 pilem zombie terbaik di dunia. Seperti itulah harusnya sosok zombie-ideal. cepat, bengis, brutal, dan kuat. Bisa dimaklumi ketika kemudian mereka ngubek2 judul lain demi mendapatkan pilem yang similiar, akhirnya malah menggerutu ketika yang didapatinya hanya sosok monster menyedihkan yang bahkan nenek-nenek hamil pun masih bisa menyelamatkan diri darinya.

Seperti zombie yang ada dalam pilem ini.

Beneran prends, zombie2 dalam pelem ini bergerak dengan kecepatan hanya 20cm/detik dan baru menyerang ketika dia udah berjarak 50 cm dari target. Itu satu hal yang jarang kejadian, soalnya dalam jarak 2 meter, protagonis kita sih biasanya udah mecahin batok kepala zombie-zombie ini pake pistol. Dan di sela-sela nunggu zombie lainnya mendekat, kalo mau protagonis kita sebenernya masih punya banyak waktu buat nge-tweet dulu.

jadi, dengan villain yang sama sekali nggak mengancam kaya gitu, ini akan jadi pilem zombie konyol-membosankan gitu?


Untungnya gue bukan hardline-fan dari zombie-cepat, bukan pula puritan fanatik slow-zombie. Lebih tepatnya gue adalah openminded-liberal lintas zombie fan. Maksud gue, kagak peduli zombie nya cepet apa lambat, kalo pilemnya ternyata jelek gue bakalan bilang kalo itu jelek, dan sebaliknya kalo pilemnya bagus ya gue bilang bagus. Itu juga artinya, gue kaga peduli kenapa Mr.Krabb punya puteri seekor paus.

Kenyataanya, walau zombie disini emang nggak pernah berpotensi untuk membuat 'The Dead' menjadi seru dan penuh aksi ( yang artinya : membosankan ) , tapi kelambatannya justru ngasih sesuatu yang nggak gue dapetin pas ngeliat zombie di 'zombieland'. Sesuatu yang udah lama banget nggak gue rasain semenjak terakhir..mm.. kapan ya.. remake 'Night of the Living Dead' nya Tom Savini? yaitu : aura atmosperik-creepy-apokaliptik.

Bayangin adegan mayat-mayat yg berjalan gontai dengan latar belakang lanskap Afrika yang eksotis. Mayat-mayat berjalan ini ada dimana-mana. Di pantai, ladang jagung, perkampungan, padang rumput, gurun, bukit, atau hutan. Dan Afrika punya banyak SDM untuk membuat sosok zombie keliatan lebih serem. Anjir, gue bukannya rasis tapi zombie kulit item 2 kali lebih creepy dari zombie Eropa :D



Sutradara Ford Brothers nyoba ngembaliin zombie gaya-lama yang udah dipatenkan Romero dan mindahin settingnya ke Afrika. 

Sama seperti Romero, Dia juga nggak ngasih eksplansi tentang apa penyebab dari wabah ini. Aslinya, gue juga nggak terlalu peduli sih segala macam eksplanasi penyebab wabah-zombie yang pastinya akan menggelikan hehe. Film2 zombie 60-70 an emang kebanyakan ngejadiin zombie hanya sebagai 'latar-belakang' dan lebih suka ber fokus pada eksplorasi-karakter, drama sambil sesekali ngasih sedikit komentar sosial di sana-sini. Style itu yang diadopsi Ford Brothers dalam 'The Dead'. Dia nggak pernah menempatkan zombie disini sebagai ancaman utama, lebih berfokus pada karakter, ngebangun drama, ama ada beberapa dialog atau adegan disini yang gue asumsiin sebagai komentar/kritik untuk beberapa isu sosial, walaupun secara cepat orang mungkin hanya akan nginget ini sebagai pelem dimana 'orang kulit putih selama nyaris 2 jam secara konstan ngeledakin kepala orang kulit item pake pestol'

'The Dead' tuh lebih mirip drama road-movie rasa 'Diary of The dead' ( mengingat protagonis kita yang berpindah dari satu tempat ketempat lain, ketimbang terjebak di sebuah ruangan sempit ).  Kita hanya akan diajak buat ngikutin perjalanan survival Letnan Brian di benua yang sedang terkena wabah-zombie menuju sebuah tempat bernama 'harapan'. Semacem 'The Road' dengan banyak zombie, gore ama darah. jadi, gue pikir ini akan lebih pas kalo dia diberi judul 'The Road of the Dead'.  Lagipula, bukankah 'The Dead' kedengeran kaya salah satu judul pelem paling nggak kreatif di dunia?



Sayangnya cukup banyak part yang seharusnya mampu menciptakan tensi justru berakhir dengan cara yang mengecewakan. Di bagian ini, Ford Bro's gue pikir kurang mampu mengeksplorasi semua potensi dalam pelemnya dan malah terjebak pada sesuatu yang repetitive dan klise. contohnya, Berapa kali sih kita ngeliat adegan 'dilema' dalam pelem zombie.? Kamu tau kan apa yan gue maksud dengan adegan 'dilema'? Gue pikir scene ini sudah saatnya dihapus dari pelem zombie.

Sinematografinya sendiri bisa gue bilang bagus, di shot hanya dengan kamera 35mm, namun beberapa frame dramatis berhasil di capture. kamu bisa liat itu di opening-scene nya. Sementara, akting protagonis kita ( Rob Freeman ) sangat datar, monoton dan tidak istimewa, tapi kita seharusnya memang tidak berharap apa-apa soal skill-akting pada sebuah pelem zombie low-budget kaya gini.


Dan kalo ada hal paling mengesankan dari 'The Dead' selain atmosperik-creepy nya yang mengingatkan gue pada pelem zombie jadul, tentu itu adalah divisi gore-efek nya. Ada cukup banyak gore disini. Ya, setiap kali Letnan Brian berenti dari perjalanannya, setiap kali itu pula zombie-zombie bakal bermunculan..dan setiap kali itu pula dia bakal ngasih headshot. blown! Terdengar repetitif emang, tapi seenggaknya salah satu alesan gue nonton pelem zombie ( yaitu ngeliat orang nembakin kepala zombie ) cukup terpenuhi. Dan surprisenya dia hadir dengan efek yang lumayan bagus untuk ukuran low-budget. no-CGI tentu saja. Bahkan, selain headshot dia juga punya satu adegan yang berpotensi buat menjadi salah satu dari list 'most awesome exploding-head movie scene'. Cek aja hehe.

Oke, verdictnya 

"The Dead" sama sekali nggak punya aksi seru kaya yang udah pernah gue liat di 'The Horde', nggak ada hal konyol buat diketawain ( this movie is deadly serious! ), nggak ada boobs buat cuci mata ( bahkan nggak ada cewe didalemnya ), tapi dibalik itu dia mungkin bisa ngasih nafas segar buat audiens yang sedang jenuh dengan gelombang zombie-action/ zombie-komedi akhir-akhir ini, punya setting/lanskap yang menarik, dan sedikit ngingetin gue pada era kebangkitan zombie beberapa puluh tahun silam ketika dia belum bisa berlari, melompat, menyelam, memanjat, salto, parkour, kayang atau terbang.

Sekarang kendali ada ditangan kalian untuk memutuskan apakah mau nonton ini atau ngehapus judulnya dari daftar planning download bulan ini.

RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic