Dalam review ini saya tidak akan menyertakan sinopsis atau bahkan memberikan sekilas jalan ceritanya. Mengingat sang sutradara menginginkan film ini misterius sejak awal, bahkan dalam berbagai promosinya sinopsis fiilm ini begitu singkat tentang “seorang pria yang kebingungan”. mungkin untuk menjaga twist yang serderhana film ini mengingat hanya ini modal jualan modus anomali.
Saya adalah orang yang percaya bahwa seorang filmmaker mempunyai motivasi tertentu dibalik pencipataan karyanya, entah tujuan serius, bersenang-senang atau hanya sekedar mencari uang. KK Dheraj yang selalu banjir hujatan itu setidaknya memiliki tujuan yang jelas yaitu mendulang rupiah sebanyak-banyaknya. Tak peduli berapa jumlah kritik yang telah dibuat di ribuan blog betapa amburadul hasil karyanya, namun kenyataan berkata lain filmnya laris manis dipasaran atau setidaknya masih bisa menghasilkan uang sesuai dengan tujuannya.
Kita udah lihat banyak adegan-adegan menakutkan dari sebuah pelem horror. Walaupun adegan yang gagal dan bener2 membosankan ternyata lebih banyak lagi haha. Kalo ketemunya kasus yang terakhir, analisa gue sih, itu karena pas kita nonton sebuah pelem horror, mental dan psikis kita udah bersiap-siap untuk menerima hal yang paling mengerikan. Jadi, ketika yang kita dapetin cuman hantu Darth Maul ama cewe menjerit2 di depan kamera, maka reaksi kita cuman bilang “ udah, segitu doang? “
Lalu gue teringat adegan pelem ‘Pan’s Labyrinth’ dimana Ofelia harus berlari dari kejaran monster Pale Man yang menyeramkan itu. Walau akhirnya gue kecewa dan sebenernya pengen liat sang monster memakan gadis kecil itu ( seperti dia juga memakan 2 peri kecil ) tapi, gue pikir, adegan ini bener-bener scary moment dalam pelem horr..
“ tunggu! Tapi, ‘Pan’s Labyrinth’ bukan pelem horror!! “
Eh, iya ya..? ‘Pan’s Labyrinth’ tuh bukan pelem horror hehe tapi lebih ke drama-fantasi kaya semodel Narnia apa Alice in Wonderland tapi dengan tone yang lebih dark aja.
Dari sini gue langsung teringat beberapa pelem yang sebenernya bukan horror, tapi punya creepy moment dalam adegannya. Oh iya, kalo dibilang menakutkan sih sebenernya nggak. Gue lebih seneng nyebutnya sebagai creepy. Dan agar kalian bisa lebih memahami apa yang gue maksud dengan creepy, kalian bisa liat gambar di bawah ini :
Asli, gue lebih milih berantem ama pocong daripada harus duduk segerbong ama mereka!!
Yaudah, langsung aje ke list 5 'CREEPY-WEIRD-SCARY' MOMENT FROM NON-HORROR MOVIES yang sebenernya gue bikin karena gue belum sempet nonton pelem horror yang keren lagi hahaha
1. Crawling Baby
‘Trainspotting ( 1996 )’
Directed By Danny Boyle
Plot :
Trainspotting itu pelem drama Inggris yang disutradrain ama Danny Boyle berdasarkan novel dengan judul sama karya Irvine Welsh. Filmnya sendiri bercerita tentang sekelompok pemuda low-life resah di daerah Edinburg yang melarikan diri dari betapa memuakkan nya kehidupan modern dengan memakai narkoba. Dengan berfokus pada salah seorang dari mereka, Mark Renton ( Ewan mc Gregor ) yang diceritan nyoba menghentikan kecanduannya akan heroin, pelem terus mengalir berbalutkan adegan2 surreal yang menghasilkan sebuah drama-komedi-gelap nan memiriskan.
Creepy Scene :
Sedikit curhat hehe dulu, gue juga pernah mengalami halusinasi cukup menyeramkan ketika terlalu banyak menghisap ganja. Gue ngerasa ruangan kamer bergoyang-goyang, kepala pusing dan tubuh serasa sangat ringan, lalu gue juga seperti mendengar suara2 aneh didalem kepala, itu seperti suara orang banyak yang sedang mengaji..hehe sempet terlintas pikiran, kalo gue sedang diambang kematian. Segera saja perasan takut menyergap, lalu dengan terhuyung gue pergi ke kamar mandi buat cuci muka tentu dengan harapan pengaruh ganja itu segera hilang. Namun setelah cuci muka, tanpa sengaja gue melihat ke arah cermin..dan guess what? bayangan yang terpantul di cermin adalah wajah yang sama sekali nggak gue kenal!
Nah, dalam ‘Trainspotting’ Danny Boyle gue pikir sukses membuat visual halusinasi-surreal yang sedang dialami para drug-user ketika die sedang mabok atau sakauw. Salah satu adegannya yang mampu membuat gue tercekat dan berteriak : “ oh shit! This is fuckin-creepy!! “ adalah yang ini :
Dikamarnya yang terkunci dari luar, Renton diceritain mengalami sakauw luar biasa. Tubuhnya menggigil sementara keringat bercucuran. Yah, sepertinya dia dalam sebuah kondisi yang sangat menyiksa. Saat itulah dia mengalami hallusinasi.
Renton melihat bayi sodaranya yang telah meninggal, merayap ( dengan posisi terbalik ) di langit-langit kamar. Ngeliat itu, kontan Renton merintih ketakutan namun bayi itu terus merayap sambil menangis, dan ketika die nyampe tepat di atas kepala Renton, sang bayi tiba-tiba berhenti lalu memutar kepalanya hingga 180 derajat (!) Dia kemudian menatap Renton dengan tatapan mata kosong. Renton menjerit histeris melihat pemandangan aneh itu. Namun, sang bayi tiba-tiba terjatuh dari atap…tepat di wajahnya! Creepy!
2.The tunnel
"Willy Wonka and the Chocolate Factory" (1971)
Directed by Mel Stuart
Plot :
Dunia terkejut ketika Willy Wonka, yang selama bertahun-tahun sangat menjaga ke-rahasia-an pabrik coklatnya mengumumkan bahwa dia telah memasukkan 5 tiket emas kedalam coklat produksinya. 5 orang yang beruntung mendapatkan tiket emas itu akan diajak melakukan tur ke pabrik coklat miliknya, sementara satu yang terpilih akan mendapatkan pasokan coklat Wonka seumur hidup! Tentu saja semua anak berusaha mendapatkan tiket emas itu dengan berbagai macam cara. Charlie adalah salah satu anak yang sangat memimpikan mendapatkan tiket emas itu. Tapi apa daya, sebagai anak dari keluarga miskin yang jarang membeli coklat Wonka, dia hampir nggak punya peluang buat mendapatkan tiket itu. Tapi prends, dalam film, keajaiban bisa saja terjadi. Dan yeah, ternyata Charlie mendapatkan tiket emas itu dan berhak mengikuti tur ke pabrik coklat Willy Wonka!
Bersama 4 anak lain yang mempunyai karakter berbeda2, Charlie pun memulai petualangan ajaib ( sekaligus mengerikan! ) nya di pabrik coklat milik orang aneh Willy Wonka.
Crepy Scene :
Sebagai sebuah film fantasi anak-anak, gue pikir Willy Wonka and the Chocolate Factory ( 1971 ) nggak seceria dan penuh pelangi kaya pelem fantasi lainnya. Karakter Willy Wonka, Oompa Loompa, setting, tone dan ide ceritanya membuat gue sempat berfikir kalo ini lebih mendekati pelem slasher dalam versi anak-anak. Tentunya kalian para pembenci anak-anak ( terutama yang sikapnya nyebelin ) akan seneng ngeliat gimana anak-anak bandel itu mendapat hukuman dari pabrik coklat Wonka yang aneh.
Ada anak yang berubah warna dan menggelembung menjadi sebesar gajah, ada anak yang tenggelam dalam sungai coklat dll.. weird.
Tapi, tentu yang paling creepy dan cukup menakutkan ( terutama kalo ditonton anak-anak ) adalah adegan yang satu ini :
Wonka menaikkan para pengunjung pabriknya ke sebuah perahu yang keliatannya akan menjadi sebuah perjalanan ajaib menelusuri sungai coklat. Tapi, sama kaya semua hal aneh yang ada di pabrik itu, perjalanan ini pun kayanya nggak akan seperti naek perahu-bebek di Dunia Fantasi. Bener aja, perahu itu ternyata masuk ke sebuah terowongan yang berisi kerjapan cahaya-cahaya aneh dan gambar-gambar surreal, mata raksasa, cacing, serangga, mayat dengan ulat dimulutnya, wajah pria jahat, ama ayam-ayam yang disembelih. Sepertinya itu adalah terowongan neraka. Anak2 itu pun menjerit2 ketakutan, tapi seperti seorang maniak, Wonka malah tersenyum misterius dan mulai menyanyikan puisi mengerikan. Weird.
Dan kita tau, seseorang yang akan sangat tertarik untuk membuat remake pelem seperti ini pastilah dia yang bernama Tim Burton. Oh, bener aje. Hehehehe.
3. Bathtub Scene
‘Dumplings ( 2004 )’
Directed By Fruit Chan
Plot :
Mrs.Li ( Pauline Lau ) adalah seorang mantan bintang TV yang sedang dilanda perasaan putus asa dan nggak berguna. Dia ngerasa perhatian suaminya mulai berkurang ( itu karena ternyata sang suami berselingkuh dengan cewe lain. ) Parahnya, bukannya nyalahin ketidak-setiaan sang suami, Mrs. Li justru ngerasa itu disebabin oleh usia yang semakin tua dan penampilannya yang tidak lagi menarik.
Dalam keresahannya, Mrs. Li akhirnya bertemu dengan Bibi Mei ( Bai Ling ) yang mengaku punya resep dumplings istimewa untuk membuat Mrs.Li kembali cantik dan awet muda. Mrs.Li pun segera mengkonsumsi kue buatan Bibi Mei, sampai akhirnya dia tahu resep yang di gunakan Bibi Mei untuk kue nya adalah sebuah horror!
Gue tegesin, ‘Dumplings’ adalah sebuah drama. Entah, kenapa IMDB melabelinya sebagai horror? Tapi memang, sebagai sebuah drama, ‘Dumplings’ punya ide cerita yang sangat subversive, kontroversial, ekstrim dan disturbing. Mungkin itu yang ngebuat die jadi kaya pelem horror. Tapi, diluar itu ‘Dumplings’ beneran sebuah drama. Makanya, gue masukin ke dalam list ini hehe.
Atau mungkin juga IMDB melabelinya sebagai horror, karena adegan ini :
Warning! Spoiler!
Resep rahasia Bibi Mei sebenernya adalah..die menggunakan mayat-janin ( yang die dapet dari rumah sakit atau aborsi illegal yan g dilakukannya sendiri ) sebagai bahan baku kue nya. Nah, suatu kali Bibi Mei kabur keluar kota karena terlibat sebuah kasus aborsi illegal yang berujung pada sebuah tragedi.
Mrs. Li yang terlanjur kecanduan kue-janin Bibi Mei pun harus memikirkan cara agar dia tetep bisa mengkonsumsi ‘obat-awet-muda’ nya. Hingga dia akhirnya memikirkan sebuah ide yang luar biasa gila.
Di sebuah bathtub, dengan iringan musik latar yang sungguh menyayat, Mrs. Li memutuskan untuk menggugurkan kandungannya sendiri. Dia memasukkan besi pengait ke dalam selangkangannya. Air dalam bathtub itu pun segera berubah merah-darah. Lalu adegan selanjutnya, kita akan melihat mulut Mrs.Li berlumuran darah. Dia seperti habis memakan sesuatu. Lalu kita akan melihat lidah Mrs.Li ( yang tiba-tiba berubah menjadi panjang seperti lidah reptil ) menjilati sisa darah di bibirnya. Yah, Mrs.Li memakan bayinya sendiri!
Ini pelem drama sci-fi nya Steven Spielberg yang dia bikin berdasarkan cerpen Brian Aldiss “ Super Toys Last All Summer Long “. Bersetting di masa depan yang nggak terlalu jauh dari sekarang, A.I berkisah tentang David ( Haley Joel Osment ) sebuah android anak-anak yang mempunyai program unik : kemampuan untuk mencintai.
Plot :
Di tahun 2014 ketika bencana akibat global warming membuat populasi manusia menurun drastis, diciptakanlah sebuah robot canggih kontroversial. Robot ini disebut dengan nama : Mechas. Nah, David ( Haley Joel Osment ) adalah sebuah model-prototipe Mechas yang diciptain menyerupai anak kecil dan diprogram untuk mampu menirukan pikiran, emosi, dan perasaan manusia.
Perusahaan pembuatnya ( Cybertronics ) lalu mencoba model-prototipe robot ini ( David ), ke sebuah keluarga yang sedang berduka. Itu karena putera keluarga ini ( Martin ) dalam keadaan koma karena sakit. Masalah mulai muncul ketika Martin kemudian sembuh dari sakitnya,dan menganggap David hanya robot pembantu mainan. Dari sini kisah petualangan robot David yang mencari cinta sejati lalu mengalir, ngingetin kita akan petualangan Pinokio si boneka kayu itu hehe.
Creepy Scene :
Dalam pelem ini, diceritain robot-robot rusak atau malfungsi akan ditangkap oleh perusahan Cybertronics untuk segera dihancurkan. Nah, ada yang memanfaatkan ini sebagai peluang bisnis dengan membuat sebuah pertunjukan brutal. Di pertunjukan yang diberi nama Flesh Fair ini, atraksi penghancuran para Mechas digelar dihadapan ratusan penonton yang bersorak sorai.
Haha aslinye, gue cukup merinding ( sekaligus terhibur :P ) ngeliat robot yang mirip manusia ini di bantai, diledakkan, dimutilasi, dan dieksekusi dengan berbagai cara gruesome. Apalagi ketika sebelum atraksi penghancuran, para Mechas ( yang seperti mempunyai perasaan itu ) memohon untuk dibiarkan hidup.
Adegan ini sih lebih pantes kalo dimasukin ke sebuah pelem zombie, dan gue bakalan lebih seneng ngeliat atraksi eksekusi zombie.
Di adegan lain, kita akan ngeliat beberapa android mengais2 sesuatu disebuah tempat yang terlihat mirip kubangan ‘sampah robot’. Ternyata, mereka adalah para robot rusak/cacat dengan ( bagian tubuh buntung ) yang sedang mencari2 bagian tubuh robot lain dari kubangan sampah itu untuk dipasangkan ke tubuhnya sendiri. Unsettling-Creepy!
Nggak tau buat yang lain, tapi buat gue ini terlalu disturbing dan horror untuk sebuah tontonan berlabel PG13.
5. Broken Neck Undead ‘Death Becomes Her ( 1992 )’
Directed By Robert Zemeckis
Sebuah dark komedi-fantasi nya Robert Zemeckis yang dibintangi Bruce Willis, Meryl Streep, ama Goldie Hawn.
Plot :
Ceritanya berkisar tentang perseteruan 2 orang cewe, Madeline ( Meryl Streep ) dan Helen ( Goldie Hawn ) dalam memperebutkan cinta Ernest ( Bruce Willis ). Demi memenangkan persaingan, ke dua nya meminum sebuah ramuan ajaib yang mampu membuat mereka kembali cantik, muda dan hidup abadi.
Perseteruan semakin memuncak ketika Madeline dan Helen akhirnya saling membunuh. Yah, ke dua nya tewas dalam sebuah perkelahian konyol. Namun ramuan ajaib itu mampu menghidupkan mereka kembali. Celakanya, setelah itu khasiat untuk membuat mereka tetap muda ternyata hilang. Maka, Madeline dan Helen pun terpaksa harus merawat tubuh mereka yang lama kelamaan semakin tua dan membusuk sambil menunggu kematian yang tak akan pernah datang.
Creepy Scene :
Madeline terjatuh dari tangga karena didorong Ernest. Tubuhnya terhempas, terguling-guling tanpa daya. Krak! Kita akan ngeliat leher Madeline patah. Nggak akan ada yang selamat jatuh dari tangga setinggi itu.
Mengira Madeline telah tewas, Ernest segera menelepon Helen untuk memberitahunya.
Namun, tanpa dia tahu, dibelakangnya ‘mayat’ Medeline mulai bergerak-gerak, kemudian bangkit dan perlahan-lahan menghampiri Ernest dengan leher yang terpuntir patah.
Haha sungguh aneh ngerasain merinding di sebuah film komedi kaya gini.
But this scene is really fucking fun hilarious creepy as hell!
……………………………………………
Bagaimana dengan pelem lokal? Ada nggak pelem yang bukan horror tapi punya adegan menyeramkan?
Gue mencatat ada ‘Fiksi’ nya Mouly Surya, terus pelem drama-jadul ‘Sumpah Keramat’ ( Rano Karno ama Yessy Gusman ) dimana adegan sumpah-pocongnya dulu sungguhlah menakutkan hehe..teruuusss apa lagi yaaa hmmm..
oh iya..ama adegan dari pelem dibawah ini :
Jembatan Kematian
‘Buah Hati Mama ( 1980 )’
Directed By Sophan Sophiaan
Plot :
Ini pelem drama jadul jaman TVRI haha.
Kalo ga salah ceritanya sih tentang keluarga kaya yang ( gue lupa sebabnya ) tiba-tiba jatuh miskin. Anak keluarga ini, si Eka ( nah gue masih inget nama anaknya ) kabur dari rumah karena sering dimarahin bokap-nyokapnya. Kalo ga salah dia lalu bertahan hidup dijalanan dengan berjualan es ( haha sinetron banget dah pokoknya ). Orang tua Eka kemudian sangat menyesal lalu mencari dia ke mana-mana. Sayang sekali, ketika ditemukan Eka sedang terserang sakit typhus parah yang akhirnya ngebuat dia koma dan diambang kematian.
Creepy Scene :
Jadi ceritanya si Eka ini koma di rumah sakit.
Nah, pelem lalu nyoba ngegambarin alam 'ambang-maut' ( near-death experience ) dimana adegannya adalah Eka berdiri di tepi sebuah jembatan.
Yang nyeremin, diujung jembatan sebelah sana berdiri beberapa orang berpakaian putih-putih yang melambaikan tangan sambil memanggil2 namanya. Mereka kemungkinan adalah visualisasi dari roh orang2 yang sudah meninggal. Sementara dunia di seberang jembatan itu sendiri adalah alam akherat. Artinya, kalo Eka menyeberang jembatan itu matilah dia.
Asli adegan ini serem banget ( terutama buat anak 5 tahun kaya gue ) haha bikin merinding dan ga bisa tidur. Herannya, nyokap gue malah nangis ngeliat adegan ini.
Hehe Nah itu dia 5 + 1 adegan-adegan yang berhasil ngasih sensasi horror dari sebuah pelem yang sebenernya bukan pelem horror versi gue. Tentunya, masih banyak lagi pelem-pelem lain yang punya adegan kaya diatas. Tapi buat, sementara cukup 5 dulu yah, soalnya cape juga ngetiknya hehe
Hehe interview2an ini sebenernye udah bisa diposting sejak sebulan silam, tapi berhubung gue sekarang sedang berada di sebuah kota kecil yang suhu rata-ratanya adalah 16 derajat celcius dimana untuk menemui warnet terdekat gue harus menuruni bukit, menyeberang sungai deras, menembus kabut, dan menyibak belantara dulu hehe maka obrolan ringan+iseng bareng sutradara muda potensial yang ramah ini baru sempet gue posting sekarang.
Oke,
Sekilas tentang The Mo Brothers:
Walau menggunakan kata 'Brothers', Timo Tjahjanto dan Kimo Sitamboel pada dasarnya bukanlah saudara sekandung. Mereka adalah dua orang filmmaker yang bertemu di Sydney, kemudian bekerjasama dalam film karya Kimo, Bunian, lalu kembali bekerjasama membuat film pendek berjudul Sendiri (Alone), dan meneruskan kerjasama itu hingga sekarang mereka menjadi sahabat (mungkin sudah seperti saudara » 'Brothers') yang tentunya terus membuat film!
Setelah sebelumnya sukses lewat film pendek Dara yang tergabung dalam antalogi Takut: Faces of Fear, The Mo Brothers meneruskan bloody work mereka ke sebuah film panjang yang kemudian bertajuk Rumah Dara, keluaran dari PH mereka sendiri, Merah Production dan Guerilla Visual Movement. Rumah Dara yang merupakan film layar lebar pertama The Mo Brothers merupakan film dengan genre slasher pertama di Indonesia, dan dipercaya akan menjadi trend setter bagi perfilman nasional.
Nah, yang gue ajak ngobrol kali ini adalah salah satu dari The Mo Brothers yaitu Timo Tjahjanto. Kenapa cuma Timo? Kimo nya kemana? Hehe Ga kenapa-napa, itu cuman karena yang punya twitter die doang :P
Balik ke ‘Rumah Dara’, Buat kalian tau, itu adalah satu-satunya pelem horror-lokal di tahun 2010 yang mampu bikin gue nggak peduli matahari siang-bolong Jakarta yang menyengat, ikhlas berhimpit2an di metromini yang suasana didalemnya ternyata nggak kalah thriller ama pelem yang mau gue tonton ( gue pikir seseorang harus membuat pelem thriller dengan setting di dalem metromini..serius ) dan menembus macet sejak dari Mampang Prapatan sampai Blok M Square.
Semuanya itu cuma demi bisa nonton pelem ini langsung di layar lebar.
The Mo Brothers patut berbangga hehe soalnye buat pelem horror lokal yang laennya gue udah ngerasa cukup buat nontonnye lewat VCD rental ato streaming di yutub aje hehe
Walau secara keseluruhan pelemnya sendiri ternyata belum bisa memenuhi selera-subyektif gue untuk menyebut ‘Rumah Dara’ sebagai pelem slasher-thriller yang sangat menegangkan, tapi bisa gue pastiin kalo ini pelem slasher terbaik yang pernah di buat di Indonesia.
Selain semua lini teknis yang dikerjakan dengan penuh passion ( dan hasilnya cukup mantap ) , Mo Bros nggak pernah berpura-pura sedang membuat film orisinil yang cerdas. Mereka sebaliknya terlihat hanya hendak bersenang-senang dengan cerita simpel untuk kemudian menggelontorkan sebanyak mungkin cipratan darah ama potongan tubuh termutilasi di set filmnya.
Beberapa kali gue ngedenger Daniel Mananta di awal2 film mengucapkan kalimat “klasik men ! “ haha kalimat itu mungkin sebenernya nggak bermaksud apa-apa tapi buat gue itu kedengeran seperti Mo Bros sedang ngasih tau ke penonton kalo adegan2 dalem Rumah Dara juga bakalan menggunakan cerita dan template film2 slasher influental yang udah masuk kategori ‘klasik’ ( baca : klise ) . hehe. Dari sini gue udah memaafkan semua ke-klise an yang ada dan mulai ngarep sajian blood and gore nya saja.
sayangnya kemudian gunting sensor begitu menyebalkan menghilangkan semua momen-momen yang seharusnya menyenangkan dalam sebuah film-slasher. Soalnya buat seorang konsumen horror berselera najis ( yang pasti dibenci ama Michael Haneke ) kaya gue, kalo diibaratin makan bakso, dalam pelem slasher, genangan darah ama cewek menjerit2 itu cuma bumbunya doang. Sekarang bisa kalian bayangin gimana rasanya makan bakso kalo baksonya udah dibuang LSF dan kita dipaksa cuman makan bumbunya doang? DAMN YOU LSF!!
soal ini sebenernya udah sempet gue tanyain pas event online ‘1 jam ngaskus bareng The Mo Brothers’ di kaskus beberapa waktu silam :
Ringo : 'Rumah Dara' sebenernya bagus, cuman gue agak kecewa dengan kinerja LSF, bagian2 paling entertain dari film slasher malah di sensor. Nah, di film berikutnya apa sih rencana kalian buat menyiasati pe-nyensor-an ini..??
Timo : nggak ada siasat, just keep on making it until u bleed, yg pasti we always make movies for the world to see, not just utk pemirsa Indonesia .
Yaudahlah yang jelas gue ngarep sih kalo ‘Rumah Dara’ bakalan ngerilis DVD versi Un-Cut nya. Apalagi kalo ditambahin bonus feature scene2 yang nggak jadi di shoot seperti yang diceritain bang Timo dalam interview ini hehe
Cukup ngebacotnya, kita langsung simak aja obrolan ngalor-ngidul bersama Timo Tjahjanto yang bukan hanya ngomongin tentang ‘Rumah Dara’ tapi juga tentang sinema-horror pada umumnya.
Q : Di Rumah Dara, gue ngeliat ada penghormatan ( homage ) bang Timo pada film2 slasher seperti Frontiere's, Texas Chainsaw Massacre, Inside, The Descent ( adegan akhir Julie Estelle nyetir mobil dan berlumuran darah ) bahkan Braindead ( adegan kepleset darah )..bener ga? atau ada pelem lain yang sangat meng-influence bang Timo ketika membuat RD?
A: gue akan (usahakan) super jujur disini, terus terang satu2 nya film yang benar2 gue ambil sebagai materi homage adalah Tobe Hooper’s Texas Chainsaw Massacre.
Homage yang pada dasarnya gue ambil adalah nilai “kedekilan” film tersebut, rasa kotor dan keruh nya film itu ngabantu banget menjadikan TCM sebuah horror legendaris yang timeless buat gue, dan of course juga Gergaji mesin itu sendiri… di TCM begitu gergaji mesin masuk ke layar, Gergaji tersebut mendominasi layar, dari kebuasannya, kepulan asapnya, dan teriakan mesin itu balapan sama teriakan si cewek protagonis.
Gue suka banget braindead tapi terakhir gue nonton braindead itu sekitar 9 tahun lalu kali (deket2 september 11 2001 gue inget banget) jadi gue nggak sadar kalau kepleset darah itu ada disitu.
Sebenarnya ada cerita yang lucu dan lumayan keren mengenai INSIDE dan Rumah Dara terserah loe mau lampirin atau nggak :D :
Seperti yg udah pernah gue bilang kronologis Rumah Dara berasal dari cerita yang udah kita buat secara synopsis dan naskah kasar. Cuman berhubung kaga ada yg mau modalin makanya kita buat DARA dulu .
Nah sewaktu kita ada di LA 2007 untuk nayangin DARA, kita juga nonton INSIDE (film gokil yg semakin gokil diliat dilayar besar) gue sama Kimo antara kagum dan juga grogi ngeliat persamaan2 yg ada di naskah RD kita.
Sebenarnya masalah Astrid hamil itu diubah sewaktu kita workshop, di naskah RD anaknya astrid dan adjie itu memang sudah lahir..bocah berumur 10 bulan- 1 tahunan gitu, cuman waktu workshop aktor cilik nya suaah banget untuk diatur , akhirnya kira2 2 minggu sebelum shoot gue sama kimo darurat bikin Astrid jadi hamil , tentunya kita sadar bahwa buset nihudah semakin mirip juga sama INSIDE. Cuman apa daya, kita tau bahwa anak balita yg lagi umur segitu pasti bakal jadi nightmare di set film kita yg super najis itu…
Lucunya setelah RD itu memasuki phase keliling film festival nya , ada seorang representative dari prancis menghubingi kita, dia bilang bos nya tertarik menjadi distributor DVD RD di prancis, setelah kita pelajari dia siapa ..ternyata dia produser film INSIDE, cukup membanggakan bahwa sebuah film favorit gue 2007 ternyata bisa terkait dengan film gue sendiri.
Q : Bang kenapa sih Shareeefa Daanish di RD cara ngomongnya gitu? haha i mean, penonton banyak yang ketawa pas denger cara dia ngomong..dan gue akan kabur ( sambil ngakak ) kalo di dunia nyata ketemu orang yang ngomongnya gitu haha
si.. lah.. kan.. du..duk..
A: sebenarnya inti gue adalah , gue nggak mau lagi bikin si Daanish itu karakter yang sama dengan film pendek DARA, kalau di DARA dia masih mempunyai sisi yang sensual, di RD dia harus mempunya sisi yang surreal, ini mungkin pada akhirnya sebuah penafsiran yang berbeda2 tergantung penontonnya siapa.. karena cuman yang mengerti bahasa Indonesia doing yang menganggap suara dia itu kocak, ya sudah itu bukan hal yg buruk juga buat gue…toh menambahkan factor grindhouse nya juga.
Tapi diluar untuk orang bule atau non Indonesia speaking, mereka menafsirkan suara Daanish sebagai aneh dan gender-less..dalam arti kata mereka mendapatkan sesuatu yang seram disitu . Suara itu juga kebanyakan ciptaan Daanish sendiri, walau dia juga pernah bilang “pasti di sini org bakal ketawa denger suara gue” gue bilang ke dia cuek lah, yg penting Daanish yg kayak gini bukan Daanish yg seperti sebelumnya.
Q : Ada ngga adegan yang sebenernya pengen bang Timo masukin di Rumah Dara, tapi ga jadi lantaran pertimbangan 'pasti kena sensor' ? kalo ada, adegan yang kaya gimana tuh?
A: ada banget , ini semua hasil perseteruan gue dengan Kimo juga, yang kalau gue bilang nggak ada yg bener atau salah…
Di skrip awal yang gue tulis ada bbrp adegan yg pasti nggak bakal lulus sensor, jadi sama Kimo gue udah dihadang duluan supaya nggak usah shoot scenes itu jadi nggak usah buang budget “
Contoh2 scene yg nggak di shoot: A: Scene Adam membunuh polisi, di naskah gue tulis bahwa si Adam menarik paksa tangan polisi itu sampai sendi dan ototnya robek, sehingga putus, si Adam kemudian menggebuki polisi itu dengan tangan putusnya sendiri sampai mati
Ringo : illustrasi gue untuk tribute 'adegan yang nggak di shoot dalam 'Rumah Dara' hehe. Ini gambar intel polisi yang tangannya buntung di cabut paksa ama Adam wkwkw sebenernya gambarnya blom selesai, tapi gue udah kebelet pengen posting Q+A ini haha
B: ada 2 scene yang pengen gue masukin sebagai bukti konkrit bahwa mereka itu cannibal, salah satunya Adam mencabik dengan mulutnya daging salah satu polisi yang udah mati .
C: request dari para produser2 Singapore mereka pengen ada shot cewek telanjang yang udah mati dan brojol peranakannya ..yang itu gue juga setuju nggak usah ditaruh karena nggak ada maknanya
Q : Apakah bang Timo udah cukup puas dengan Rumah Dara? kalo disuruh ngerating film sendiri, dapat rating berapa tuh? Hehe
A : Gue sih sebenarnya ngerasa RD masih bisa jauh lebih bagus, banyak yang nggak kesampaian oleh kita karena keterbatasan budget dan waktu shooting, tapi kalau di suruh rating RD ..susah juga yeh..mungkin 6.4 ?
Q : Bisa kasi bocoroan dikit untuk proyek film berikutnya? The Killers? Mistress? Rumah Dara 2?
A : Killers adalah projek tersinting yang gue pernah tulis, salah satu protagonisnya memang gila dan sama sekali nggak bermoral,
maka karena itu juga lah financing film ini sangat susah untuk di dapat, walau secara gore film ini jauh lebih jinak dari RD. Tapi perjuangan masih berjalan terus, pasti akan gue update kelangsungan nya.
Mistress adalah sebuah ide yang gue dapet karena gue pengen banget bikin film dimana dunia yang diterapkan adalah dunianya perempuan, berbeda banget dgn KILLERS dimana sudut pandang ceritanya diceritakan dari Point of View lelaki. Kalau KILLERS belum dapat funding Kita akan go ahead dengan MISTRESS dulu.
Terus terang ttg RD2 mungkin gue dan Kimo masih jauh dari situ, banyak idea yang pengen kita laksanakan dulu sebelum balik lagi ke teritori slasher.
Q : Gue mendengar selentingan2 tentang Jakarta Zombie Festival :D, woow..gue excited banget. Festival seperti apakah ini gerangan? apa ini baru sekedar rencana, atau udah mulai di realisasikan?
A : Hahah karena ini menyangkut para cineas lain juga seperti ibu Lala Timothy (produser Pintu Terlarang) , Gareth Evans, mas Ekky Imanjaya, dan Joko Anwar, juga Rusli Eddy (INAFFF) gue belum bisa bilang banyak, cuman kalau sampai terjadi ini akan jadi revolusi yg bagus untuk perfilman horror Indonesia… dimana para penonton juga akhirnya bisa berpatisipasi langsung dalam perfilman horror Indonesia.
'Jakarta zombie Festival' (?)
'Jakarta's House of The Dead'
Q : Bang, kita tahu pelem2 seperti Lady terminator, Satan's Slave, Virgins from Hell dll ternyata berhasil mendapat atensi dari exploitation-fan di luar negeri sana, menurut bang Timo apakah2 pelem2 seperti Diperkosa Setan ( Raped By satan ) atau Dendam Pocong Mupeng ( Revenge of the Horny Pocong ) suatu saat akan digemari dan menjadi cult seperti Pembalasan Ratu Laut Selatan?
A : Ini pertanyaan yang menarik, yang gue nggak bisa jawab.
Asumsi idealis gue adalah Lady Terminator , perawan disarang perompak , pengabdi setan masih mempunya nilai Cult yg tinggi, ada sebuah hati dan jiwa di film2 itu yg nggak bisa dijelasin , cuman pecinta film doang yg bisa ngerasa… tapi rasa itu nggak eksis pas gue nonton film KKD atau si Nayato.
Lets say gini aja; mungkin film2 diperkosa setan , etc itu akan di enjoy dalam ruang lingkup Youtube utk jadi bahan ketawa, tapi gue skeptis bakal di pick-up untuk di distribusi keluar lewat dvd dsb, buktinya superman India, Indian hulk (Halka) atau yg gituan juga di pick up dong sama mereka?
Q : Bang, waktu kecil nonton 'Sundel Bolong' nya Suzzanna takut ga? kenapa alasannya?
A : Dulu mungkin takut , tapi sekarang gue cuman bisa ketawa2, tapi gue mengerti kenapa sampai sekarang itu masih bisa dibilang ngeri…karena keangkeran Indonesia (dalam segi mistis) memang nggak ada tandingannya , lucunya keangkeran itu udah nggak eksis lagi di horror supernatural yg berjibun gitu.
Q : Kalo salah satu adegan paling memorabel dalam film horror versi bang Timo..?
A : Gue pertama kali nonton Psycho pas umur 8 tahun; ada satu adegan dimana seorang detektif lagi mencari tahu apa yg terjadi sebenarnya di rumah Norman Bates, scene nya diawali dengan kesunyian yg mencekam, tiba2 ada sebuah shot dari atas (birds eye view) dimana Norman berpakaian perempuan lari menuju si detektif dan menusuknya , diiringi dengan suara violin bernada tinggi.
Thank you Hitchcock, gue nggak pernah berani tidur sendiri sampai umur 13 tahun, itu juga karena dipaksa.
( Ringo : Yap, scene ini juga salah satu scene dalam pelem horror yang udah berhasil bikin gue merinding, melebihi adegan terkenal ‘shower+bathtub scene’ dalam pelem yang sama..dan, oh.. scoring untuk adegan ini masih bisa gue inget dengan jelas sampe sekarang ngek-ngek-ngek-ngek-ngek stab!!! ).
Sekitar 15 tahun kemudian, gue nonton The Birds untuk pertama kali, Scene dimana seorang ibu paruh baya memasuki rumah seorang teman yang baru saja diserbu sama burung..sepi..sepi, sampai di melihat sepasang kaki dibalik ranjang, dia mendongak sedikit melihat mayat temannya udah nggak ada bola matanya . Scene seperti itu dibuat pada tahun 60an ..cuman seorang dewa yang bisa membuat scene2 kayak gitu, yang lain hanya bisa mengekor.
Q : Terakhir, bang minta list pelem Horror/thriller lokal ( Indonesia ) terbaik yang pernah bang Timo tonton? :D
A : Gue cuman bisa bilang Pintu Terlarang,
dan film Anto Sinaga berjudul Hantu juga oke,
kenyataannya memang kita masih mesti banyak belajar
Ringo : Oke bang Makasih banyak udah nyempetin waktu buat ngejawab pertanyaan2 gue :D ditunggu pelem berikutnya!
Hehe demikianlah sesi obrolan ngalor-ngidul with Timo Tjahjanto. Buat pembaca, sori kalo pertanyaannya kurang menggali dan terlalu generik hehe soalnya pas gue baca ulang, ternyata masih banyak pertanyaan penting yang kelupaan buat ditanyain. Dasar pelupa..my bad
+ sekilas info : berhubung saat ini gue masih jauh dari yang namanya film, bioskop atau DVD, gue masih belum bisa melakukan review film horror sampe jangka waktu yang gue sendiri nggak bisa mastiin.
Tapi kalo sempet gue akan nyoba buat nulis artikel, membuat list atau melakukan interview seperti ini :D
Sementara, untuk review film gue tinggal bergantung pada review kiriman dari Zombem dan Ming
Sepertinya gue nggak perlu lagi menceritakan storyline film yang sempet jadi perbincangan horror-fan beberapa bulan kebelakang ini. Semua kayanya udah pada tau ya hehe ini memang review telat. Tapi kalo emang ada yang kebeneran belum tau ( belum nonton ) baiklah gue ceritain aja premise pelem ini dengan satu paragraf singkat :
................................
Dr. Heiter ( Dieter Laser ) adalah mantan dokter bedah yang terobsesi membuat 'manusia-kelabang'. Impiannya itu menjadi kenyataan ketika dua turis Amerika yang mengalami kesialan, tak sengaja berkunjung kerumahnya. Dr. Heiter segera membius mereka. Berikutnya, seorang turis Jepang yang sial juga menjadi korbannya. Nah, source untuk membuat 'manusia-kelabang' udah fix, maka, operasi penggabungan pun segera dilakukan. jreeeng...tak lama kemudian manusia kelabang pun tercipta!
lalu bagaimana kisah selanjutnya? akankah mereka selamat?
..................................
Dengan premise seperti itu, sneak-preview The Human Centipede ( yang didukung trik viral-marketing dan trailer di Youtube ) sempat membuat shock calon-audiens nya. Bahkan beberapanya langsung melabeli pelem ini sebagai calon pelem paling disturbing tahun 2009.
Namun hype dan ekspektasi melambung itu rupanya tidak mampu dipenuhi Tom Six ketika The Human Centipede akhirnya rilis. Terbukti, film ini mendapat rating kurang bagus di IMDB atau Rotten-Tomatoes.
Gue perhatiin di berbagai review, kebanyakan yang kecewa adalah para horror-big-fan yang udah bersiap-siap dengan kantung muntahnya untuk melihat betapa disturbingnya operasi 'penyambungan-anus' yang dalam bayangan mereka itu akan ditunjukin secara eksplisit dalam level gorefest. ( kalo penonton pelem yang masang poster 'Finding Nemo' dikamernya sih nggak gue itung ya, soalnya pasti muak ama pelem ini :D ) Sementara untuk penonton 'liberal-lintas-genre' yang tidak menaruh ekspektasi apa apa, sepertinya fine-fine saja dengan film ini.
Yah, gue kasi tau aja : filemnya ternyata nggak se gruesome-anjing-edan premisenya.
Langsung ke review,
Sebenernya gue tidak terlalu mempermasalahkan adegan gore ( operasi penyambungan ) yang di-skip dalam pelem ini. Soalnya jika itu di tampilkan, gue yakin ( dengan premis seperti itu ) The Human Centipede akan menjadi film gross-torture-exploitation yang cuma bisa diputer di festival2 Underground atau bioskop Grindhouse.
Jadi gue bisa memahami keputusan Tom Six yang harus berkompromi dengan penyandang dana, lalu membuat adegan yang 'gross-potentially' nya menjadi soft supaya pelem ini bisa meraih audiens yang lebih luas.
Kemudian dia memilih memakai konsep 'Mind-Horror' buat menyajikan horrornya ( itu maksudnya kita disuruh ngebayangin sendiri horror yang tengah tersaji di layar, dalam beberapa film lain seperti 'Funny Games' , konsep ini cukup berhasil menebar terror ). Gue juga nggak punya masalah ama konsep model begini, apalagi di beberapa scenenya 'The Human Centipede' berhasil bikin lobang-pantat gue 'nyut-nyut-an' karena ngebayangin rasa sakit yang dialami ketiga objek-penderitanya.
Yang jadi masalah adalah ketika Tom Six ternyata nggak berhasil ngembangin plotnya. Dia seperti kebingungan untuk ngelanjutin cerita, ketika 'manusia kelabang' impiannya sudah tercipta. Inilah titik dimana pelem kemudian meluncur ke jurang bernama 'generik + boring'.
Hal ini diperparah dengan keputusannya yang dengan sengaja hanya mem-paste-kan ide ceritanya nya itu kedalam sebuah 'template' film-film horror yang udah sering dipake oleh ribuan pelem horror lainnya.
Dengan keputusan 'nggak kreatif' seperti ini, yang audiens dapet adalah adegan2 klise + predictable ( turis, ban kempes, nggak ada sinyal, middle of nowhere, rumah terpencil, bla bla bla dll ), plot-hole2, dan adegan2 yang terasa dipaksakan cuman demi ngisi durasi sejam-setengah. redundant.
Kesan bahwa film ini hanya bertumpu pada ide 'menyatukan-3-orang-jadi-kelabang' saja, semakin kuat dengan absurdnya alesan Dr.Heiter membuat 'manusia kelabang' itu sendiri. Apa tujuannya dia bikin manusia-kelabang? kita cuman mendapat penjelasan dari ucapan Dr.Heiter : 'I don't like human beings'. Selain itu, sederhana aje : doi agak kurang waras dan pengen membuktikan teori-medisnya. itu doang. Nah, sekarang bisa dimengerti kalo plot film akhirnye susah buat dikembangin.
Gue pikir, pelem mungkin akan lebih menarik jika Tom Six mempunyai slot-durasi khusus untuk nyeritain karakter ( masa lalu ) Dr.Heiter lebih dalam dan bukan hanya nyoba nampilin disturbing-graphic lengkap dengan 'hide-run-seek' klise nya sepanjang film.
Ngomong-ngomong tentang akting, Dieter Laser bisa dikatakan kalo doi berhasil ngidupin karakter 'dokter-sinting' yang Tom Six harapkan. Sick, frikkin' and creepy.
Namun menurut gue, tanpa harus pasang muka bengis, siapa aje yang punya ide nyambungin 3 manusia jadi 'kelabang', pastilah dia gila dan itu udah cukup untuk membuat penonton bergidik ngeri, termasuk kalo dia punya wajah sepolos Baim. So, keputusan Tom Six buat ngasih karakter dokter berwajah sangar bin bengis, membuat film ini malah terkesan ambisius ( try-hard ) sekaligus kurang percaya diri. ( Lagipula, dengan ekspresi kaya gitu, Dr.Heiter lebih mirip pedofil pemerkosa anak dibawah umur daripada seorang dokter. ) haha
Feed her! feed her!..swallow it bitch!!
Coba cek 'mad-scientist' lainnya : Herbert West, Victor Frankenstein, Don Brandon, Seth Brundle, Dr.Moreau, Dr.Jeckyll dll semuanye nggak ada yang berwajah sangar, kenape? karena ide dan apa yang mereka kerjain di laboratorium aja udah cukup sangar.
Sementara pemeran2 lainnya...ugh, apa sih yang bisa diharepin dari artis yang kebagian peran mulutnya nempel di bokong lawan maennya selain nangis-nangis? Dalam hal ini, untunglah ada si Katsuro ( Akihiro Kitamura ) yang dengan makian kocaknya membuat pelem sedikit lebih 'hidup'.
So my verdict is : menurut gue, Tom Six terjebak pada 'ide besar' nya sendiri. Dia terlihat kewalahan mengisi durasi, mengembangkan plot, dan ngimbangin orisinalitas idenya yang membuat The Human Centipede akhirnya hanya menjadi tipikal slasher medioker yang generik.
....................................
Yang diatas tadi adalah review gue setelah nonton film ini untuk kedua kalinya dalam keadaan normal. haha
Iye, soalnye ketika pertama kali nonton pelem ini dalam keadaan fungsi otak menurun karena sedikit mabuk ( mabuk tape ), beramai-ramai dan ekspektasi yang sangat rendah, The Human Centipede berhasil ngasih kegembiraan hahaha gue pikir The Human Centipede akan cukup menghibur pada orang yang lagi males mikir dan tidak mempunyai harapan ( ekspektasi ) apa-apa. Lupain juga 'ide besar' Tom-Six tentang manusia-kelabang, anggep ini sebagai film thriller-slasher biasa, dan kamu akan menemukan beberapa breathtaking-moment yang cukup thrilling.
Seperti temen gue yang cuma : nonton, ngemil keripik, ngebir, tereak2 dan ketawa. Ketika film selesai ini lah komentarnya :
" gue mau di jadiin kelabang!!"
" kenapa?" tanya gue ngantuk dengan mulut masih penuh pisang goreng.
" iye, mau aja..asal yang didepan Sora Aoi..dan dibelakang gue Sena Ayanami.."
Begitulah. don't take it too seriously.
Rating :
..........................................
Trivia :
-- Tom Six terlihat sangat 'try-hard to be smarty' dengan memilih korbannya yang ( dengan kebetulan luar biasa ) berasal dari Amerika dan Jepang. sementara Dr.Heiter sendiri adalah seorang Jerman. Ini maksudnya apa? parodi atau statement sinikal tentang Perang Dunia 2??? haha
-- Tersiar kabar kalo disekuelnya Tom Six akan menggabungkan 12 orang. Semoga yang dimaksud adalah, dia akan membuat 1 kelabang jantan yang terdiri dari 6 pria, dan 1 kelabang betina yang terdiri dari 6 cewek. Terus keduanya disuruh ML yang akhirnya akan menghasilkan 1 bayi manusia-kelabang super yang nantinya akan mencaplok Tom Six. wkwkwk ngaco.
kalo kelabangnya kaya gini sih keren banget!
.........................................
3 ILMUWAN/DOKTER SINTING LAINNYA DAN MONSTER CIPTAANNYA :
Salah satu hal positif dari The Human Centipede adalah bahwa Tom Six udah menyajikan kembali tema ' Mad-Scientist' yang pernah populer di genre horror. Idenya tentu cukup menyegarkan ditengah seragamnya tema-horror belakangan ini.
Yap selain psikopat, hantu dan alien/zombie, genre horror masih mempunyai penebar terror yang sedikit terlupakan: dialah dokter/ilmuwan sinting.
Dalam pelem2 horror bertema 'mad-scientist' terdahulu, -seperti gue bilang diatas- yang menyeramkan darinya adalah bukan tampang atau betapa psikotiknya sang dokter/ilmuwan. ilmuwan2 ini sebenernya orang baik biasa-biasa saja. keliatan kaya orang kurang tidur dengan rambut acak-acakan. Namun dia mempunyai obsesi akan sebuah teori-medis, dan obsesinya ini kemudian dituangkan dalam sebuah eksperimen ekstrim.
Disinilah horrornya, apa yang dilakukan Ilmuwan-gila di laboratorium ( dengan botol berisi cairan berwarna hijau itu ) biasanya menghasilkan sesuatu yang mengerikan!
Nah, di bawah ini adalah 3 'mad-scientist' legendaris dengan makhluk ciptaannya :
Notes : Ke 3 karakter dibawah ini sebenernya adalah karakter fiksi yang diadaptasi dari novel/buku ke layar lebar. Victor Frankenstein dari novel karya Mary Shelley ( 1818 ), Dr. Moreau dari novel H.G. Wells ( 1896 ) dan Dr. Herbert West adalah karakter dari cerita-pendek novelis H.P. Lovercraft yang ditulisnya pada tahun 1921.
Tapi karena gue belum pernah membaca versi novel/buku nya, gue ceritain secara singkat berdasarkan versi film yang udah gue tonton aja yah hehe
Victor Frankenstein :
Gue pernah menyangka kalo Frankenstein itu nama monster-tinggi besar dengan banyak bekas jahitan di tubuhnya itu. Yang sebenarnya, Frankenstein adalah nama seorang mahasiswa kedokteran/medis universitas Ingolstadt, Jerman. Nama lengkapnya Victor Frankenstein.
Ketika Eropa diceritain mengalami wabah kusta yang membuat ribuan orang tewas ( termasuk orang2 yang dicintai Frankenstein ) , dia menjadi terobsesi untuk bisa menghidupkan kembali orang yang telah meninggal.
Frankenstein lalu dengan gila menyusun, menggabungkan dan menjahit bagian2 tubuh mayat yang udah dikumpulkannya secara diam-diam dari berbagai tempat. Setelah terbentuk, 'mayat penuh jahitan' itu dialiri listrik dengan perangkat rumit ciptaannya.
Eksperimennya selalu gagal.
Namun, pada suatu ketika badai petir menghantam perangkat listrik ciptaannya..dan secara mengejutkan kombinasi petir + listrik membuat 'mayat penuh jahitan' itupun mulai menggerakkan jarinya. " It's Alive!! it's Alive!!" teriak Frankenstein kegirangan. Dia tak sadar sesosok monster telah tercipta :
ini dia monster klasik ciptaan Victor Frankenstein :
Dr. Moreau :
Masih di era-nya Victor Frankenstein, hidup pula seorang ilmuwan edan yang mempunyai ekperimen-medis nggak kalah ekstrim.
Berbeda dengan Frankenstein, Dr. Moreau ini tertarik melakukan operasi pembedahan pada hewan-hewan ( vivsisection ), transfusi darah antar spesies dan sejenisnya. Dia kemudian terobsesi untuk menciptakan makhluk hibrid separo hewan separo manusia. Yap, Dr. Moreau bermain-main menjadi Tuhan ( playing god ) dan meyakini makhluk hibrid dalam teori-medisnya ini akan menjadi spesies yang lebih unggul dari manusia sendiri.
Idenya tentu mencengangkan banyak pihak, terutama setelah seorang jurnalis berhasil menyelinap ke laboratorium Dr.Moreau dan menulis artikel 'The Moreau Horrors' di surat kabar.
Resah dengan kejaran para jurnalis dan kontroversi di masyarakat Inggris tentang idenya, Dr. Moreau dan seorang asistennya yang setia ( Dr.Montgomery ) lalu menyembunyikan diri di sebuah pulau terpencil di pasifik selatan untuk melanjutkan eksperimennya dengan tenang. Di versi filmnya, ( The Island of Dr. Moreau ) kamu akan tahu kalo pulau itu ternyata adalah salah satu pulau di Indonesia, di deteksi dari nelayan yang ngomong Indonesia dan nama perahunya : 'ombak penari'.
Di pulau itu eksperimennya ternyata berhasil, dia lalu menciptakan dan mengembang-biakkan banyak makhluk-hibrid setengah manusia dari bermacam2 spesies hewan. Segera saja Dr.Moreau menciptakan hukum buatannya sendiri untuk dipatuhi para hybrid-ciptaannya.
Yang Dr.Moreau lupa, insting hewan liar dalam makhluk-hybrid ini kerap kali keluar terutama ketika mereka memakan daging dan melihat darah. Ditambah dengan keresahan para hybrid yang bingung dengan jati-diri nya..maka para hybrid yang semula patuh ini, hanya tinggal menunggu waktu saja untukmemberontak dan membalas dendam kepada 'tuhan' nya sendiri.
Makhluk Hybrid ciptaan DR.Moreau :
Dr. Herbert West :
Menurut gue, Dr.Herbert West adalah Frankenstein versi modern. Dia sama- sama mahasiswa sebuah sekolah medis dan mempunyai obsesi menghidupkan kembali orang-mati.
Bedanya, Dr.Herbert West tidak perlu aliran listrik ( atau petir ) untuk bereksperimen, namun menggunakan cairan hijau hasil ciptaannya sendiri yang diberi nama : 'Re-Animator'. Dr. Herbert West juga tidak merangkai/menjahit bagian2 tubuh mayat seperti Frankenstein, tapi cukup menyelinap ke dalam kamar mayat rumah sakit Miskatonic untuk bereksperimen menyuntikkan cairan Re-Animator itu ke jenazah2 yang ada di sana. Oiyah, cairan-ajaibnya juga nggak hanya mampu menghidupkan jenazah, namun juga bisa digunakan pada bangkai hewan. Buktinya, dia bisa menghidupkan kembali bangkai seekor kucing haha.
Sayangnya, mayat yang hidup kembali itu menjadi buas, liar , gila dan menyerang siapa aja yang ada di dekatnya. beda kan ama monster ciptaan Frankenstein yang mellow dan kesepian hehe
review lengkap tentang film 'Re-Animator' silahkan baca disini :
Hehe sebenernya masih banyak lagi dokter-dokter sinting lainnya yang nggak mungkin gue sebutin satu-persatu karena lupa atau gue blum nonton pelemnya :D seperti Seth Brundle ( The Fly ), Dr.Brandon ( The Body Shop ) , Dr. Hannibal Lecter ( SotL ), Dr. Logan ( Day of the Dead ), Dr.Jeckyll ( Dr. Jeckyll & Mr. Hyde ), Sebastian Cane ( Hollow Man ), Dr. Caligari ( the Cabinet of dr. Caligari ), Dr. Frank N. Furter ( The Rocky Horror Picture Show ).
Apakah 'Dr.Heiter' dalam The Human Centipede bisa masuk list 'mad-scientist' ini? tentu aja. Tapi apa dia layak bersanding dengan 'Dr.Herbert West' & 'Victor Frankenstein' ? biar waktu yang menjawab :D
Kalo di Indonesia gimana? hmmmm..kalo dukun-edan banyak :D
Oke, jadi terakhir.. pelajaran yang bisa kamu ambil dari artikel ini adalah : kalo kalian suatu saat pergi ke dokter, dan si dokter mulai ngeluarin jarum suntiknya, pastiin kalo cairan dalem suntikannya itu nggak berwarna hijau.