Reviewed By GAMBIR
Korea sedang berusaha menciptakan kebudayaannya sendiri di dunia hiburan untuk mendapatkan tempat dimata dunia. Lewat media yang sebenarnya sudah lama kita kenal, namun dengan piawainya memberi lebel seakan produk tersebut adalah ciptaannya. Siapa yang tidak mengenal istilah k-drama, k-pop dan yang terbaru webtoon.
Padahal kalau kita telisik sebenarnya ketiga produk Korea yang sedang ngehits ini adalah hasil dari serapan negara lain. Sebut saja K-Pop ( girband/boyband ) yang sebenarnya hanya group vocal biasa, namun mereka kemas dan dilebeli sehingga menjadi identitas tersendiri. Sedangkan webtoon mungkin dibuat untuk menyaingi manga milik jepang yang sudah lebih dulu dikenal.
Dan dari dunia K-drama belakangan ini mulai bergeser dengan mengikuti format serial tv amerika. Korea kini mulai berani keluar dari genre romansa dan kolosal yang selama ini menjadi andalannya, dan mencoba merambah ke thriller, mistery dan fantasi. Khususnya di dunia thriller karena kita berada di blog horror, serial Gap-Dong dan Signal bisa dikatakan berhasil menarik perhatian.
Perkembangan dunia hiburan korea selatan belakangan ini mengalami perubahan yang sangat signifikan baik dari segi kualitas maupun industrinya.
Khususnya di dunia sinema, rupanya korea terus memperbaiki diri dan tak main-main dalam meningkatkan kualitas dan siap bersaing dengan Hollywod. Berdasarkan artikel media daring yang saya kutip, Direktur Penelitian Kebijakan Korean Film Council (Kofic), Hyoun-soo Kim, memaparkan, para sineas di negerinya berbenah sedikit demi sedikit memperbaiki kualitas teknis film, seperti suara, gambar dan penceritaan.
Showing posts with label thriller. Show all posts
Showing posts with label thriller. Show all posts
15 February 2017
01 February 2017
Ouija : Origin of Evil (2016) : Jadul Versus Urban
Reviewed By GAMBIR
Film horror adalah candu bagi sebagian orang termasuk saya. semakin seram bukannya bikin kapok tapi malah bikin nagih. mungkin karena manusia sebenarnya senang dengan terror, jantung yang berdegup dengan kencang akan menghasilkan hormon adrenalin gratis tanpa harus melakukan olahraga ekstrem, yang katanya bagus buat kesehatan.
Horror supranatural adalah film favorit saya dibanding genre horror turunannya yang mengeksploitasi kekejian, kebrutalan yang bisa kita temukan dalam film-film gore. Mungkin karena supranatural begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari, memori masa kecil tentang cerita-cerita hantu membentuk rasa takut sendiri dalam ingatan, sehingga begitu melihat sosok menyeramkan walaupun itu hanya dalam film, tombol dikepala saya terasa ditekan dan bulu kuduk secara otomatis langsung merinding.
Jika bertanya film horror apa yang paling seram, mungkin banyak orang yang akan menjawab film horror era 80an. terbukti Suzzana telah berhasil menjadi wajah bagaimana berhasilnya sinema horror saaat itu. Keistimewaan dari film horror jadul adalah terletak pada suasana yang coba dibangun, dengan template perkampungan dan menjadikan tempat-tempat seperti telaga, pohon besar dan rumah tua sebagai sarang dedemit, sangat terasa dekat dengan kita.
Namun menuju era 2000an film horror banyak diangkat dari legenda-legenda urban yang sayangnya belum bisa mengalahkan kemasyhuran film-film terdahulunya. Entah apa penyebabnya karena belum ada penelitian yang pasti terkait masalah ini. Tetapi menurut saya film horror yang bagus bukan cuma menakuti tapi seharusnya menghantui, dan lebih bagus lagi kalau bisa sampai membuat trauma seumur hidup.
Film horror adalah candu bagi sebagian orang termasuk saya. semakin seram bukannya bikin kapok tapi malah bikin nagih. mungkin karena manusia sebenarnya senang dengan terror, jantung yang berdegup dengan kencang akan menghasilkan hormon adrenalin gratis tanpa harus melakukan olahraga ekstrem, yang katanya bagus buat kesehatan.
Horror supranatural adalah film favorit saya dibanding genre horror turunannya yang mengeksploitasi kekejian, kebrutalan yang bisa kita temukan dalam film-film gore. Mungkin karena supranatural begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari, memori masa kecil tentang cerita-cerita hantu membentuk rasa takut sendiri dalam ingatan, sehingga begitu melihat sosok menyeramkan walaupun itu hanya dalam film, tombol dikepala saya terasa ditekan dan bulu kuduk secara otomatis langsung merinding.
Jika bertanya film horror apa yang paling seram, mungkin banyak orang yang akan menjawab film horror era 80an. terbukti Suzzana telah berhasil menjadi wajah bagaimana berhasilnya sinema horror saaat itu. Keistimewaan dari film horror jadul adalah terletak pada suasana yang coba dibangun, dengan template perkampungan dan menjadikan tempat-tempat seperti telaga, pohon besar dan rumah tua sebagai sarang dedemit, sangat terasa dekat dengan kita.
Namun menuju era 2000an film horror banyak diangkat dari legenda-legenda urban yang sayangnya belum bisa mengalahkan kemasyhuran film-film terdahulunya. Entah apa penyebabnya karena belum ada penelitian yang pasti terkait masalah ini. Tetapi menurut saya film horror yang bagus bukan cuma menakuti tapi seharusnya menghantui, dan lebih bagus lagi kalau bisa sampai membuat trauma seumur hidup.
14 January 2017
Calvaire ( 2004 ) : Kegilaan nan Surreal dari Pelosok Belgia
Calvaire udah nge-set tone unsettling dark humor nya sejak menit pertama lewat adegan pertunjukan musik yang gue duga berlangsung disebuah panti jompo dimana karakter utama kita, Marc Stevens ( Laurent Lucas ) ternyata adalah penampilnya. Ya, Marc adalah seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu cinta cheesy dengan jubah panggungnya yang juga terkesan murahan. Meskipun hanya penyanyi undangan yang bermain di acara-acara kecil, Marc rupanya cukup populer dan disukai audiensnya, terbukti abis dia nyelesein pertunjukan, seorang nenek nyelonong menemui Marc dibelakang panggung dan melakukan gestur ajakan seksual haha. Marc dengan awkward menolaknya yang langsung membuat nenek itu memaki dirinya sendiri. Adegan ini seperti ngasih tau apaan yang akan gue liat : sebuah unsettling dark comedy yang nantinya mungkin akan di mix ama atmospheric-horror.
Abis itu, diceritain Marc langsung melanjutkan tur-kecil nya ke daerah selatan untuk tampil di sebuah acara natal. Ditengah perjalanan, ketika nyampe di sebuah hutan berkabut nan terpencil, tiba-tiba aje mobil Marc mogok. Untungnya, saat sedang kebingungan, datang seorang warga sekitar ( Boris ) yang meski berperilaku aneh, mau membantu mengantarkan Marc ke sebuah rumah penginapan terdekat. Bartel, ( orang tua pemilik rumah penginapan ) segera menyambut Marc dengan ramah. Malam yang cukup sial itu sepertinya akan dilewati Marc dengan menginap di penginapan itu sambil menunggu mekanik datang untuk memperbaiki mobilnya.
Tapi kita sedang menonton sebuah film yang kedefinisi sebagai horror, dimana segala sesuatu tidak sebaik kelihatannya bukan? hehe.
Abis itu, diceritain Marc langsung melanjutkan tur-kecil nya ke daerah selatan untuk tampil di sebuah acara natal. Ditengah perjalanan, ketika nyampe di sebuah hutan berkabut nan terpencil, tiba-tiba aje mobil Marc mogok. Untungnya, saat sedang kebingungan, datang seorang warga sekitar ( Boris ) yang meski berperilaku aneh, mau membantu mengantarkan Marc ke sebuah rumah penginapan terdekat. Bartel, ( orang tua pemilik rumah penginapan ) segera menyambut Marc dengan ramah. Malam yang cukup sial itu sepertinya akan dilewati Marc dengan menginap di penginapan itu sambil menunggu mekanik datang untuk memperbaiki mobilnya.
Tapi kita sedang menonton sebuah film yang kedefinisi sebagai horror, dimana segala sesuatu tidak sebaik kelihatannya bukan? hehe.
Open Windows (2014) : Sang Idola Yang Turun Ranjang
Reviewed By GAMBIR
Saya ingin berterima kasih kepada KK Dheeraj yang telah memperkenalkan Sasha Grey lewat Pocong Mandi Goyang Pinggul nya. Saya baru tahu perihal bintang porno ini setelah kontroversi filmnya beberapa tahun lalu yang ribut-ribut dengan FPI, karena jujur di Pornhub saya lebih anteng dengan JAV ( japan adult video ) dibanding AV (adult video).
Setelah berkarir selama 5 tahun dengan membintangi 300 lebih film biru Sasha Grey memutuskan untuk pensiun. Dan belakangan dia lebih disibukan dengan bermain dibeberapa serial tv dan film, juga mengisi suara untuk video game. Bagi saya Sasha Grey sangat cerdik menjadikan film porno sebagai bantu loncatan dalam karirnya. Dia sadar dunia peresek-esekan tidak akan bertahan lama baginya, mengingat bukan hanya penampilan saja yang menjadi daya pikat dari industri ini tetapi juga performanya. Jadi sebelum tubuhnya keriput dan tak lagi menjadi komoditi dia memberanikan diri untuk ikut bersaing di industri film blockbuster.
Perjalanan Grey tentunya akan sangat panjang sebelum dia dilirik oleh hollywood sebagai salah satu aktris yang patut diperhitungkan. Namun rupanya bermain di film Open Windows bersama Elijah Wood bagi saya patut dia sukuri sebagai keberuntungan yang luar biasa.
Hey, siapa yang tidak mengenal hobit yang satu ini, walaupun setelah berhenti dari trilogy LOTR nampaknya Elijah Wood tak banyak bermain di film-film garapan rumah produksi besar. Apakah karena tinggi badannya ? atau peran Frodo yang kandung melekat pada dirinya ?. Daniel Radcliffe setidaknya lebih beruntung bisa lepas dari bayang-bayang Harry Potter dan masih dipercaya memerankan karakter lain oleh rumah produksi besar.
13 December 2016
Headshot ( 2016 ) : Cheesy Romance with a Mindless Violence
This review may contain minor-spoiler!
Setelah membuat kisah tentang keluarga kanibal ( Rumah Dara ) dan jurnalis stres vs psikopat dari Jepang ( Killers ), rupanya Mo Brothers ( Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel ) ingin menjajal genre baru di luar zona pilihan mereka selama ini. Mungkin karena terinspirasi kesuksesan The Raid & Berandal atau mungkin juga karena genre ini masih belum jauh-jauh amat dari apa yang menjadi kegemaran mereka : muncratan darah ama kekerasan ekstrim. Ya, action. Lebih spesifik lagi, hardcore-action. Tentunya menarik buat tau sejauh mana duo sakit jiwa ini mampu bermain di area baru ini, terutama setelah standar di genre hardcore-action sudah di kerek begitu tinggi oleh Gareth Evans lewat The Raid & Berandal.
Mo Brothers mengambil premis klasik tentang pria amnesia yang diburu orang-orang dari masa lalunya yang kelam. Semacam Jason Bourne meets Kill Bill lah. Mo's kemudian nambahin itu dengan drama-romansa sebagai bumbunya. Nah, bagian romansa ini selain dimaksudkan untuk meraih pasar yang lebih luas, menurut gue juga bisa jadi pemanis dari pahitnya kekerasan yang akan hadir nanti.
Sayangnya, relasi antara Ailin ( Chelsea Islan ) dengan Ishmael ( Iko Uwais ) terasa kurang kuat. Selain karena pendekatannya yang terasa FTV-esque, maksud gue gimana seorang dokter cantik-muda bisa begitu mudah terlibat hubungan dengan seorang pria misterius yang ga jelas asal-usulnya? ( hey, tapi ini bisa aja kejadian kalo lu punya perut sixpack! ), juga karena proses hubungan ( dari relasi antara perawat-pasien sampe ke berpelukan-dibawah-payung-imut ) yang diceritakan berkembang terlalu cepat. Mo Bros bukannya ngga berusaha untuk membuat ini terasa manis, hanya saja effortnya terasa kurang maksimal ( atau tidak bekerja ) di sejumlah aspek. Imbas dari ini adalah datarnya emosi gue pas ngeliat adegan yang dimaksudkan untuk menjadi sentimentil-emosional. Tentu saja, ini sangat disayangkan kalo nginget Chelsea Islan sebenernya tampil cukup bagus disini ( terutama dibagian dia berlumuran darah hehe ). Pada naskah yang ditulis dengan lebih matang, drama-romansa bisa tetap menjadi bagian yang sama menariknya dengan kekerasan tingkat tinggi yang hadir dibagian lainnya, contohnya seperti yang udah ditunjukin dalam Near Dark atau True Romance.
Setelah membuat kisah tentang keluarga kanibal ( Rumah Dara ) dan jurnalis stres vs psikopat dari Jepang ( Killers ), rupanya Mo Brothers ( Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel ) ingin menjajal genre baru di luar zona pilihan mereka selama ini. Mungkin karena terinspirasi kesuksesan The Raid & Berandal atau mungkin juga karena genre ini masih belum jauh-jauh amat dari apa yang menjadi kegemaran mereka : muncratan darah ama kekerasan ekstrim. Ya, action. Lebih spesifik lagi, hardcore-action. Tentunya menarik buat tau sejauh mana duo sakit jiwa ini mampu bermain di area baru ini, terutama setelah standar di genre hardcore-action sudah di kerek begitu tinggi oleh Gareth Evans lewat The Raid & Berandal.
Mo Brothers mengambil premis klasik tentang pria amnesia yang diburu orang-orang dari masa lalunya yang kelam. Semacam Jason Bourne meets Kill Bill lah. Mo's kemudian nambahin itu dengan drama-romansa sebagai bumbunya. Nah, bagian romansa ini selain dimaksudkan untuk meraih pasar yang lebih luas, menurut gue juga bisa jadi pemanis dari pahitnya kekerasan yang akan hadir nanti.
Cheesy Romance
Sayangnya, relasi antara Ailin ( Chelsea Islan ) dengan Ishmael ( Iko Uwais ) terasa kurang kuat. Selain karena pendekatannya yang terasa FTV-esque, maksud gue gimana seorang dokter cantik-muda bisa begitu mudah terlibat hubungan dengan seorang pria misterius yang ga jelas asal-usulnya? ( hey, tapi ini bisa aja kejadian kalo lu punya perut sixpack! ), juga karena proses hubungan ( dari relasi antara perawat-pasien sampe ke berpelukan-dibawah-payung-imut ) yang diceritakan berkembang terlalu cepat. Mo Bros bukannya ngga berusaha untuk membuat ini terasa manis, hanya saja effortnya terasa kurang maksimal ( atau tidak bekerja ) di sejumlah aspek. Imbas dari ini adalah datarnya emosi gue pas ngeliat adegan yang dimaksudkan untuk menjadi sentimentil-emosional. Tentu saja, ini sangat disayangkan kalo nginget Chelsea Islan sebenernya tampil cukup bagus disini ( terutama dibagian dia berlumuran darah hehe ). Pada naskah yang ditulis dengan lebih matang, drama-romansa bisa tetap menjadi bagian yang sama menariknya dengan kekerasan tingkat tinggi yang hadir dibagian lainnya, contohnya seperti yang udah ditunjukin dalam Near Dark atau True Romance.
23 September 2016
Don't Breathe ( 2016 ) : Meraba langkah di kegelapan yang menyesakkan
Barangkali alesan paling besar yang membuat gue bersemangat ama film ini adalah karena nama Fede Alvarez didalamnya. Buat yang belum tau, sutradara asal Uruguay ini udah memberi gue banyak kesenangan lewat remake Evil Dead tiga tahun silam. Sementara itu, cerita dalam Dont' Breathe sendiri bukan sesuatu yang baru, cek postingan blog ini sebelumnya untuk ngeliat film-film laen yang punya ide similiar. Premisnya sangat sederhana, tentang pemilik rumah yang terpaksa harus mempertahankan diri dari penyusup. Yup, thriller home invasion! subgenre ini menjanjikan thrill-ride seru namun dengan rute yang begitu predictable. Ini sangat riskan dan menurut gue sedikit aje 'sopir'nya salah 'nyetir', film ginian akan dengan mudah nyungsep di selokan. Tapi, hey, ini filmnya Fede Alvarez dan ada nama Jane Levy, Sam Raimi, serta Rob Tapert disana yang kembali terlibat. So, antusiasme gue cukup tinggi.
Jadi folks, ceritanya sederhana aja
Sekelompok pencuri remaja Money ( Daniel Zovatto ), Alex ( Dylan Minnette ) ama Rocky ( Jane Levy ) mutusin buat ngerampok rumah yang diatas kertas adalah sebuah target empuk. Pertama, rumah itu terletak di pemukiman sepi, kedua, pemiliknya diketahui menyimpan sejumlah besar uang, ketiga, dia tinggal sendirian dan jekpotnya adalah..dia seorang tuna netra! Apa yang terasa akan menjadi sebuah perampokan mudah, secara tak disangka berubah menjadi perjuangan survival dimana para perampok amatir ini akhirnya cuma berharap bisa keluar dari rumah itu hidup-hidup. Ya, veteran tua bertubuh kekar ( Stephen Lang ) yang meski buta namun memiliki insting kuat ini bertekad nggak akan ngebiarin itu terjadi.
Jadi folks, ceritanya sederhana aja
Sekelompok pencuri remaja Money ( Daniel Zovatto ), Alex ( Dylan Minnette ) ama Rocky ( Jane Levy ) mutusin buat ngerampok rumah yang diatas kertas adalah sebuah target empuk. Pertama, rumah itu terletak di pemukiman sepi, kedua, pemiliknya diketahui menyimpan sejumlah besar uang, ketiga, dia tinggal sendirian dan jekpotnya adalah..dia seorang tuna netra! Apa yang terasa akan menjadi sebuah perampokan mudah, secara tak disangka berubah menjadi perjuangan survival dimana para perampok amatir ini akhirnya cuma berharap bisa keluar dari rumah itu hidup-hidup. Ya, veteran tua bertubuh kekar ( Stephen Lang ) yang meski buta namun memiliki insting kuat ini bertekad nggak akan ngebiarin itu terjadi.
15 September 2016
Perfect Number ( 2012 )
Reviewed By Gambir
Saya bukan penggemar film-film romantis, sekalipun kemaysuran Titanic telah menjadi buah bibir dari generasi ke kegenrasi atas kesuriteladanannya sebagai pasangan yang romantis, tapi tidak berlaku bagi saya pribadi. Semenjak dari bangku SMA sampai kuliah seperti sekarang pengalaman cinta saya tak ada yang istimewa-istimewa amat, semuanya berjalan normal-normal saja. kecuali kalau memakaikan jaket saat cuaca dingin, mengantarnya pulang saat gerimis atau menraktirnya makan adalah sebuah tindakan yang amat heroik untuk pasangan.
Tapi seteleh menonton Perfect Number saya tahu apa itu arti romantis dan cinta. Dan jika kalian pernah menontonnya juga, seharusnya kalian malu akan ungkapan “aku rela berkorban semuanya demi dia."
Kisah cinta secret admirer yang berujung pada tragedi, Perfect Number seperti kisah recycle dari Romeo dan Juliet namun dengan versi korea. Bagi saya cinta itu memanglah tragedi, atau setidaknya begitulah kisah-kisah legendaris akan kisah cinta yang kita kenal selama ini, mulai dari yang versi klasik Romeo and Juliet, atau yang paling modern Titanic yang dua-duanya berujung pada kematian atau perpisahan.
Saya bukan penggemar film-film romantis, sekalipun kemaysuran Titanic telah menjadi buah bibir dari generasi ke kegenrasi atas kesuriteladanannya sebagai pasangan yang romantis, tapi tidak berlaku bagi saya pribadi. Semenjak dari bangku SMA sampai kuliah seperti sekarang pengalaman cinta saya tak ada yang istimewa-istimewa amat, semuanya berjalan normal-normal saja. kecuali kalau memakaikan jaket saat cuaca dingin, mengantarnya pulang saat gerimis atau menraktirnya makan adalah sebuah tindakan yang amat heroik untuk pasangan.
Tapi seteleh menonton Perfect Number saya tahu apa itu arti romantis dan cinta. Dan jika kalian pernah menontonnya juga, seharusnya kalian malu akan ungkapan “aku rela berkorban semuanya demi dia."
Kisah cinta secret admirer yang berujung pada tragedi, Perfect Number seperti kisah recycle dari Romeo dan Juliet namun dengan versi korea. Bagi saya cinta itu memanglah tragedi, atau setidaknya begitulah kisah-kisah legendaris akan kisah cinta yang kita kenal selama ini, mulai dari yang versi klasik Romeo and Juliet, atau yang paling modern Titanic yang dua-duanya berujung pada kematian atau perpisahan.
27 August 2016
Maniak Vs Karakter Cacat Fisik : 5 Judul Yang Gue Inget
![]() |
| adegan What Ever Happened To baby Jane |
Nah, setelah gue inget-inget, ini bukan pilem pertama yang menempatkan karakter cacat fisik dalam sebuah keadaan penuh bahaya, gue buka-buka lagi folder film dan nemuin 7 judul lain yang punya premis similiar. Tapi, setelah melewati pertimbangan, gue kurangin jadi 5 saja hehe.
Catatan, gue tidak sedang me-ranking pilem nya yap, ini gue urut dari yang paling jadul sampe yang paling baru.
1. What Ever Happened to Baby Jane? ( 1962 )
Wanita Patah Kaki vs Wanita Sinting
Ini adalah sebuah drama thriller-psikologikal yang menurut gue cukup intense dan creepy. Bercerita tentang dua kakak-beradik, Baby Jane Hudson ( diperankan dengan gemilang oleh Bette Davis ) dan adiknya Blanche Hudson ( Joan Crawford ). Jane adalah mantan bintang cilik yang karirnya meredup ketika dia beranjak dewasa. Sementara itu, karir sang adik ( Blanche ) di dunia hiburan justru semakin cemerlang. Dirasuki perasaan putus asa dan iri, dalam keadaan mabuk Jane menabrak adiknya sendiri dengan mobil. Insiden itu membuat Blanche terpaksa hidup dengan kursi roda. Lebih buruk lagi, Jane mengurung sang adik dalam kamarnya. Ya, Jane semakin kehilangan kewarasan, dia mengalami delusi-akut dan nyawa Blanche pun berada diujung tanduk.
11 August 2016
Stuck ( 2007 ) : Satire-horror that 'stuck' with the viewer
Kalian perhatiin deh desain posternya, udah kaya headline tabloid kriminal murahan ya haha. Tapi btw, cerita pilem ini emang terinspirasi dari sebuah berita kriminal yang rame di tabloid2 Texas, Amerika di tahun 2001 silam.
Kasus ini sepertinya akan hilang tanpa jejak. Sampe sekitar 3 bulan kemudian, dalam keadaan mabuk, Chante malah nyeritain sendiri insiden ini ke temennya. Si teman yang shock ngedenger cerita itu, langsung lapor polisi yang segera bergerak cepat menangkap Chante. Setelah menjalani persidangan, pengadilan akhirnya memvonis doi 50 tahun.
Seorang seniman ( Emi Gennis ) membuat cerita bergambar untuk kasus ini, kalian bisa ngeliatnya disini The Unusual Death Of Gregory Biggs
Real Story
Beritanya emang sangat aneh dan tragis, yaitu tentang insiden tabrak lari yang dilakukan oleh seorang perawat bernama Chante Jawan Mallard. Korbannya adalah Gregory Glen Biggs seorang gelandangan berusia 37 tahun. Jadi folks, karena benturan, tubuh Biggs terlontar menembus kaca depan, membuat dia kemudian nyangkut ( stuck! ) dengan posisi setengah tubuhnya ( dari pinggang keatas ) masuk ke bagian depan mobil Chante. Nah, si Chante karena panik, bukannya lapor polisi atau ngebawa korban ke RS, malah nerusin perjalanan pulang. Dia lalu nyembunyiin mobilnya di garasi ( dengan tubuh sekarat Biggs masih merintih rintih diatasnya ), dan ngebiarin hobo malang itu akhirnya meninggal kehabisan darah. Sehari kemudian, dibantu dengan dua teman prianya, Chante lalu ngebuang mayat Biggs di sebuah taman.
Kasus ini sepertinya akan hilang tanpa jejak. Sampe sekitar 3 bulan kemudian, dalam keadaan mabuk, Chante malah nyeritain sendiri insiden ini ke temennya. Si teman yang shock ngedenger cerita itu, langsung lapor polisi yang segera bergerak cepat menangkap Chante. Setelah menjalani persidangan, pengadilan akhirnya memvonis doi 50 tahun.
Seorang seniman ( Emi Gennis ) membuat cerita bergambar untuk kasus ini, kalian bisa ngeliatnya disini The Unusual Death Of Gregory Biggs
01 August 2016
Near Dark ( 1987 ) : Romansa dan petualangan ugal-ugalan geng vampir ala Kathryn Bigelow
Jauh sebelum menyutradarai pilem drama-action perang timur tengah The Hurt Locker ( ya, yang menang Academy Award itu ) ama pilem blockbuster perang timur tengah laennya, Zero Dark Thirty, dan hanya beberapa tahun sebelum namanya terangkat oleh Point Break ( 1991 ), sutradara Kathryn Bigelow ternyata mengawali solo-directorial debutnya dengan nancepin taring di genre pilem horror, judulnya : Near Dark. Gue terjemahin secara bebas berarti sendakala atau menjelang maghrib ( gelap ) hehe.
Gue baru nonton filmnya kemaren, dan dengan cepat bisa gue katakan kalo ini salah satu film vampire paling brutal ( juga romantis ) di era 80'an.
Meski begitu, ketika dirilis, Near Dark ternyata gagal di box office. Penyebabnya diduga karena pilem ini rilis ditahun yang sama ( hanya beda beberapa bulan ) dengan pilem bertema vampir laennya yang lebih besar, The Lost Boys ( 1987 ). Alesan laennya adalah karena studio yang memproduksi pilem ini , DEG (DeLaurentiis Entertainment Group) saat itu sedang diawal kebangkrutan, akibatnya Near Dark tidak mendapat publisitas layak dan akhirnya K.O di box office.
Kita langsung ke ceritanya,
Gue baru nonton filmnya kemaren, dan dengan cepat bisa gue katakan kalo ini salah satu film vampire paling brutal ( juga romantis ) di era 80'an.
Meski begitu, ketika dirilis, Near Dark ternyata gagal di box office. Penyebabnya diduga karena pilem ini rilis ditahun yang sama ( hanya beda beberapa bulan ) dengan pilem bertema vampir laennya yang lebih besar, The Lost Boys ( 1987 ). Alesan laennya adalah karena studio yang memproduksi pilem ini , DEG (DeLaurentiis Entertainment Group) saat itu sedang diawal kebangkrutan, akibatnya Near Dark tidak mendapat publisitas layak dan akhirnya K.O di box office.
Kita langsung ke ceritanya,
22 July 2016
Green Room ( 2016 ) terror gig dari neraka
Cukup lama gue nungguin pilem ini. Pertama, karena gue lumayan suka Blue Ruin ( 2013 ) , yang merupakan pilem ke dua sang sutradara Jeremy Saulnier ( debut pertamanya adalah sebuah horror komedi low budget Murder Party -2007- ). Kedua, desain kovernya keren ngingetin gue pada kover album The Clash "London Calling", dan alesan yang ketiga adalah pilihan tema yang lagi-lagi, menurut gue kreatif.
Buat yang belum tau, green room adalah sebuah ruangan/kamar di belakang panggung/venue/studio yang di sediakan untuk performer sebelum mereka tampil.
Nah, dari kata kunci green room inilah, Saulnier mulai nge-develop ceritanya.
Btw, sekilas info Saulnier memang pernah menjadi bagian dari skena hardcore/punk di Virgina pada tahun 90an. Dia menghadiri banyak gigs, jatuh cinta dengan estetika dan energi musik hc/punk, dan bahkan bergabung dalam sebuah band ( No Turn On Fred ). Gue duga Saulnier mendapatkan ide tentang Green Room ini ketika band nya sedang menunggu waktu manggung di kamar tunggu sebuah venue gig. Dan ide itu terus berkembang liar.
Dalam sebuah wawancara, Saulnier mengaku bahkan sudah pernah membuat pilem pendek micro-budget ( untuk sebuah festival kecil ) yang mengambil setting sebuah green room. Ceritanya konon tentang sebuah ben heavy metal yang muter musik secara kebalik dan nggak sengaja malah ngebangkitin iblis-iblis ( laaaaah malah mirip 'Deathgasm' yaa haha ).
Buat yang belum tau, green room adalah sebuah ruangan/kamar di belakang panggung/venue/studio yang di sediakan untuk performer sebelum mereka tampil.
Nah, dari kata kunci green room inilah, Saulnier mulai nge-develop ceritanya.
Btw, sekilas info Saulnier memang pernah menjadi bagian dari skena hardcore/punk di Virgina pada tahun 90an. Dia menghadiri banyak gigs, jatuh cinta dengan estetika dan energi musik hc/punk, dan bahkan bergabung dalam sebuah band ( No Turn On Fred ). Gue duga Saulnier mendapatkan ide tentang Green Room ini ketika band nya sedang menunggu waktu manggung di kamar tunggu sebuah venue gig. Dan ide itu terus berkembang liar.
Dalam sebuah wawancara, Saulnier mengaku bahkan sudah pernah membuat pilem pendek micro-budget ( untuk sebuah festival kecil ) yang mengambil setting sebuah green room. Ceritanya konon tentang sebuah ben heavy metal yang muter musik secara kebalik dan nggak sengaja malah ngebangkitin iblis-iblis ( laaaaah malah mirip 'Deathgasm' yaa haha ).
12 July 2016
Apa yang dilakukan Joko Anwar dalam Modus Anomali?
Dalam review ini saya tidak akan menyertakan sinopsis atau bahkan memberikan sekilas jalan ceritanya. Mengingat sang sutradara menginginkan film ini misterius sejak awal, bahkan dalam berbagai promosinya sinopsis fiilm ini begitu singkat tentang “seorang pria yang kebingungan”. mungkin untuk menjaga twist yang serderhana film ini mengingat hanya ini modal jualan modus anomali.
Saya adalah orang yang percaya bahwa seorang filmmaker mempunyai motivasi tertentu dibalik pencipataan karyanya, entah tujuan serius, bersenang-senang atau hanya sekedar mencari uang. KK Dheraj yang selalu banjir hujatan itu setidaknya memiliki tujuan yang jelas yaitu mendulang rupiah sebanyak-banyaknya. Tak peduli berapa jumlah kritik yang telah dibuat di ribuan blog betapa amburadul hasil karyanya, namun kenyataan berkata lain filmnya laris manis dipasaran atau setidaknya masih bisa menghasilkan uang sesuai dengan tujuannya.
23 May 2016
He Never Died ( 2015 ) : Horror dan humor-gelap vampire anti sosial
Kira-kira apa yang akan kalian lakukan dan rasakan jika kalian mempunyai umur yang panjang? Bukan, maksud gue bukan 80 atau 90 tahun. Tapi, 1000, 3000, atau 5000 tahun. Haha 300 tahun pertama mungkin kalian akan mengisinya dengan banyak pesta, tapi bagaimana 1000 tahun kemudian? nah, Ini jadi menarik.
Seperti judulnya yang spoiler ( He Never Died ), seburuk apapun hal-hal menimpa tokoh sentral kita Jack ( Henry Rollins ), dia nggak bisa mati. Jack sudah mengalami, melihat dan merasakan banyak sekali peristiwa, berbagai macam profesi pun sudah pernah dia lakoni, dan bagian buruknya adalah dia harus selalu meminum darah dan memakan daging manusia. Apa dia itu vampire? atau kanibal? Tak pernah dijelaskan secara pasti, tapi kemungkinan Jack emang vampire ( atau semacamnya lah ). Pendeknya, dia seorang immortal haus darah yang sudah melihat dan melakukan banyak hal-hal mengerikan di masa lalu.
19 April 2016
The Invitation ( 2016 )
Selalu menyenangkan menemukan sebuah film yang diluar dugaan ternyata mampu melampaui ekspektasi. Sejujurnya, ngeliat desain posternya gue emang skeptis ama pilem ini. Terlihat medioker, kaya sebagian besar pilem thriller-horror yang gue dapet dari situs2 download gratisan itu. Jadi gue nggak berharap banyak, lagipula gue lebih milih nonton ini daripada ngerjain revisi kerjaan. Viva la procrastination!
.......................................
Seperti judulnya, The Invitation nyeritain tentang undangan.
2 tahun setelah sebuah tragedi yang menghancurkan rumah tangganya, Will ( Logan Marshall-Green ) mendapat undangan pesta makan malam dari mantan istrinya, Eden ( Tammy Blanchard ) dan suami baru nya, David ( Michiel Huisman ). Will pun memenuhi undangan itu, dia datang bersama pacar baru, Kira. Sesampai di lokasi pesta ( rumah sang mantan istri ), disana sudah berkumpul setengah lusin teman lama yang rupanya juga diundang oleh Eden. Will pun berjumpa kembali dengan Eden, dan dia segera menyadari satu hal : mantan istrinya telah jauh berubah dari yang dulu pernah dia kenal. Eden yang baru. Eden yang mengaku bahwa semua penderitaan, trauma dan duka nya kini telah lenyap tak berbekas.
02 January 2015
The Guest ( 2014 )
Kali ini Horrorpopcorn mendapat kontribusi review dari seseorang yang mengaku bernama Gambir. Dan bagian tidak terduganya adalah ketika gue kemudian merasa terpancing untuk menulis review pilem yang sama. Ini ngasih gue ide. Di kesempatan berikutnya jika ada seseorang yang ngirim kontribusi review, gue akan berusaha untuk menulis review versi gue sendiri. Jadi kalian akan mendapatkan 2 review! hehe.
Nggak usah takut nantinya akan berbeda penilaian, karena justru perbedaan sudut pandang akan membuat ini semakin menarik.
Terima kasih sodara Gambir akan kontribusinya.
Btw kamu Gambir yang suka bikin patung itu? atau Gambir yang tetangganya Gondangdia?
Langsung aja..
Nggak usah takut nantinya akan berbeda penilaian, karena justru perbedaan sudut pandang akan membuat ini semakin menarik.
Terima kasih sodara Gambir akan kontribusinya.
Langsung aja..
14 December 2014
The Raid 2 : Berandal
Gue sebenernya langsung nulis review film ini sejak keluar dari bioskop di hari pertama pemutarannya. Tapi tumpukan pekerjaan membuat tulisan terhenti ketika baru nyampe 80%. Bulan demi bulan berlalu, euphoria film ini mulai turun, kemudian gue ngerasa nggak perlu nerusin nulis reviewnya. Lagipula, bukankah akan sangat telat kalo gue mostingnya sekarang?
tapi, kemudian gue mikir lagi, gue ngerasa telat mosting review The Raid 2,tapi kenapa gue nggak ngerasa telat pas ngereview film film jadul tahun 40-an?? hehe
Jadi bro, gue akhirnya ngebuka kembali file review setengah jadi itu, menyelesaikannya, kemudian langsung mostingnya disini.
Ini dia.
....................
Satu pertanyaan menyelinap di benak gue sehabis nonton pilem ini. Kenapa subjudulnya Berandal? bukan apa-apa, gue nggak ngeliat satupun berandal keliatan di pilem ini, kalo diinget2 gue malah lebih banyak nemuin banyak berandalan dalam The Raid 1 : Redemption. Ya, preman pasar, penjahat liar, bajingan ugal-ugalan dan pembunuh brutal dalam pilem pertamanya menurut gue lebih pantes di sebut berandal. Lebih jauh, gue juga nggak nemuin adegan penyerbuan ( The Raid ) dalam The Raid 2.
Baiklah, skip aja pertanyaan nggak penting diatas hehe
Kita, langsung aja ke poin poin pentingnya :
06 December 2014
The Collector ( 2009 )
Halo sodara-sodara..
Jadi, akhirnya blog ini masih bisa apdet lagi ketika seorang misterius berinisial 'HL' mengirimi gue imel berisi review buat di muat di sini. Ya, blog ini memang menerima kontribusi dari siapa aja, Tujuannya adalah, selain karena berbagi kegemaran itu indah ( cailah ) gue juga ingin memotivasi kawula muda untuk gemar meresensi film horror. Tapi baiklah, alasan sebenernya adalah karena gue udah sangat nggak produktif nulis review ( eh, gue malu nyebut itu sebagai review, gue lebih seneng nyebutnya curhat-abis-nonton-film ) sementara itu, Ming cuman nulis kalo lagi khilaf aja dan Zombem? dia udah punya 'markas' sendiri dan sepertinya saat ini sedang meniti karir menjadi selebtwit.
Kalo udah nggak produktif mestinya sekalian aja diumumin tanggal kematiannya dong!? mestinya sih begitu, tapi terus terang gue masih sayang blog ini dan belum pengen menguburnya. Gue seneng ngeliat ada apdet baru di blog ini, meskipun bukan gue yang nulis. So guys, kontribusi dari kalian akan membuat blog yang udah penuh debu dan sarang laba-laba ini tetep hidup. Tapi, ngomong-ngomong emang ada yang peduli yah kalo blog ini udah mati atau masih hidup? haha whatever lah..
Sori buat HL, kontribusi ulasannya baru sempet gue posting hari ini hehe Terima kasih banyak dan semoga masih punya banyak stok ulasan film horror buat di taro disini.
Ngomong-ngomong HL ini siapa yah? Hannibal Lecter?
Kita langsung cek aja reviewnya,
07 November 2014
EDISI I-LOVE-KOREA: MEMORIES OF MURDER (2003)
Pengantar
Anda salah satu korban Korean Wave (jelas yang saya maksud Korea di sini dan nantinya adalah Korea Selatan, bukan tetangganya yang punya pemimpin berambut Mohawk itu) dengan drama-drama cintanya yang cute dan mengharu biru? Atau penggemar boyband-girlband-groupband—apapun itu sebutannya dengan personel berwajah boneka hasil polesan operasi plastik? Atau begini, setidaknya anda bakal mengetatkan ikat pinggang dengan berpuasa atau cukup mengonsumsi Indomie 3 kali sehari, misalnya, hanya untuk memiliki tablet Samsung terbaru, bukan? Hohoho, tenang saja. Anda tidak sendiri. Saya pun salah satu korban gelombang budaya Korea yang telah mengglobal.
Cuma, yang saya gemari ini bisa dibilang sepi penggemar di sini—jika dibandingkan dengan produk Korea yang sudah saya sebut di atas, dan cuma bisa jadi obrolan seru sesama penggemar film horror beserta turunannya yang bisa dibilang masih satu spesies dengan pengunjung setia—dan tidak setia—blog horror kacangan (saya sebagai salah satu kontributor abadi dan satu-satunya, memang sudah mengajukan proposal kepada editor blog ini untuk mengganti saja nama Horror Popcorn menjadi Horror Kacang) yang makin sepi postingan hingga membuat sekelompok penggemar fanatik melakukan demo di depan kantor fiktif kami.
01 November 2014
7 Days (Les 7 jours du talion) (2010)
Bales Dendam. Tema ini nggak pernah abis ( dan basi ) buat diangkat ke layar lebar. Dan sebenernya, kalo ngomongin film bertema bales dendam, ingetan gue akan langsung tertuju ke revenge-movies produksi Korea Selatan. Bukan apa-apa, soalnya kalo misalnya suatu saat gue mesti ngelist 10 pilem thriller crime revenge terbaik, separuh lebih isinya akan diisi oleh film-film produksi orang2 sakit dari negeri itu. Mungkin gue akan bikin listnya suatu hari nanti, tapi untuk kali ini, gue pengen cerita dulu tentang yang satu ini.
7 Days tuh film kecil bertema bales dendam produksi Kanada garapan sutradara asal Perancis, Daniel Grou ( film ini berbahasa Perancis dan diisi aktor/aktris asal perancis, meski sutingnya mengambil tempat di Kanada ). Screenplaynya ditulis oleh Patrick Senécal, berdasarkan novel karyanya sendiri 'Les sept jours du talion'.
Jadi plotnya simpel aja
20 October 2014
Repulsion ( 1965 )
Repulsion merupakan instalasi pertama dari trilogi apartemen Polanski yang terkenal ( Rosemary's Baby -1968- dan The Tenant -1976- ) yang mana ketiganya sama-sama mengambil setting sebagian besar berada di dalam gedung apartemen.
Repulsion diawali dengan bola mata dan diakhiri dengan bola mata. Ini menarik, ada apa dengan mata? hmm..mungkin Polanski ingin mengatakan filmnya adalah tentang apa yang penonton lihat dan apa yang karakter dalam filmnya lihat. Atau jika benar pepatah yang mengatakan 'mata adalah jendela jiwa', Polanski mungkin hendak mengajak penonton melihat kondisi ruang kejiwaan karakternya lewat jendela mata nya.
Pemilik mata itu bernama Carol's Ledoux ( Catherine Deneuve's ). Seorang wanita Belgia yang bekerja sebagai manicurist di sebuah salon kecantikan di London. Dari awal kita sudah menduga ada yang tidak beres dengan Carol. Dia sering terlihat melamun, jarang menampakkan emosi tertentu, kikuk dan sangat pendiam. Carol tinggal dengan kakaknya, Helene (Yvonne Furneaux) di sebuah apartemen kontrakan. Keduanya pun digambarkan sangat bertolak belakang, baik dari sikap dan cara berpakaian. Helene sangat atraktif, percaya diri, mandiri, dan 'outgoing' sementara Carol terlihat rapuh, tertekan dan hanya ingin menyendiri. Dia benar-benar 'out of place'. Bahkan ketika dibandingkan dengan kakaknya sendiri, Carol terlihat seperti makhluk asing.
Subscribe to:
Posts (Atom)




















