01 February 2017

Ouija : Origin of Evil (2016) : Jadul Versus Urban

Reviewed By GAMBIR 

Film horror adalah candu bagi sebagian orang termasuk saya. semakin seram bukannya bikin kapok tapi malah bikin nagih. mungkin karena manusia sebenarnya senang dengan terror, jantung yang berdegup dengan kencang akan menghasilkan hormon adrenalin gratis tanpa harus melakukan olahraga ekstrem, yang katanya bagus buat kesehatan. 

Horror supranatural adalah film favorit saya dibanding genre horror turunannya yang mengeksploitasi kekejian, kebrutalan yang bisa kita temukan dalam film-film gore. Mungkin karena supranatural begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari, memori masa kecil tentang cerita-cerita hantu membentuk rasa takut sendiri dalam ingatan, sehingga begitu  melihat sosok menyeramkan walaupun itu hanya dalam film, tombol dikepala saya terasa ditekan dan bulu kuduk secara otomatis langsung merinding. 

Jika bertanya film horror apa yang paling seram, mungkin banyak orang yang akan menjawab film horror era 80an. terbukti Suzzana telah berhasil menjadi wajah bagaimana berhasilnya sinema horror saaat itu. Keistimewaan dari film horror jadul adalah terletak pada suasana yang coba dibangun, dengan template perkampungan dan menjadikan tempat-tempat seperti telaga, pohon besar dan rumah tua sebagai sarang dedemit, sangat terasa dekat dengan kita. 

Namun menuju era 2000an film horror banyak diangkat dari legenda-legenda urban yang sayangnya belum bisa mengalahkan kemasyhuran film-film terdahulunya. Entah apa penyebabnya karena belum ada penelitian yang pasti terkait masalah ini. Tetapi menurut saya film horror yang bagus bukan cuma menakuti tapi seharusnya menghantui, dan lebih bagus lagi kalau bisa sampai membuat trauma seumur hidup. 

Coba bandingkan adegan di film horror yang masih menghantui kamu sampai sekarang ? adegan kepala yang nongol ditoilet dalam Telaga Angker, adegan penampakan arwah dari balik jendela di Pengabdi Setan. Siapa yang tidak mengingat adegan-adegan ikonik tersebut yang masih dibicarakan di forum-forum maupun diwarung kopi tempat pecinta horror berkumpul. 

Begitu pula dengan perfilman Hollywood, tapi bukannya film diera urban jelek semua, ada yang berhasil ada juga yang tidak. Namun bila merujuk pada adegan ikonik tadi, siapa yang tidak ingat momen-momen di film The Shining yang bahkan scene terkecilpun berhasil menjadi memorable seperti adegan sepasang hantu anak kembar. Atau dalam The Exorcist adegan ranjang melayang. 

Maka tak heran para sineas yang mendapat kritikan baik akan hasil karyanya adalah film dengan membawa nuansa jadul itu kembali, seperti halnya The Conjuring. Atas dasar itulah kemudian Hasbro Studio merilis Ouija : Origin of Evil yang sebelumnya telah merilis film horror berjudul sama yaitu Ouija (2014) tanpa embel-embel Origin of Evil. 

SINOPSIS : 

Seorang janda bernama Alice harus menghidupi kedua anaknya Lina dan Doris dengan cara membuka praktek meramal. Namun sayangnya praktek konsultasi dunia gaib itu hanya kedok dari penipuan yang dilakukan Alice dengan kedua anaknya. kehidupan mereka berubah setelah membeli papan Ouija yang awalnya hanya dimaksudnya sebagai property baru penipuan malah mengundang hantu beneran. 

Masalah pun semakin pelik, ketika anak bungsunya yaitu Doris mulai menunjukan tanda-tanda aneh. bukan hanya terror hantu yang datang tapi juga masalah ekonomi yang harus Alice selesaikan, bisakah Alice mengatasi semuanya ? 

REVIEW :


Film dibuka tampak menjanjikan dengan kredit title bertuliskan “Los Angeles 1967” wah sepertinya nuansa yang dibangun akan seperti The Conjuring. Adegan berlanjut dengan shock therapy pertama yang berhasil membuat penonton berdebar dengan tanda-tanda penampakan, cerita pembuka tentang pasien seorang ayah dan anak yang berlangsung beberapa menit diawal itu berhasil membuat saya tersenyum kecut.  

Kalau saja film berakhir sampai disitu mungkin saya akan memberi rating sepuluh, namun sayangnya film berlanjut. Adegan menakuti memang tidak terlalu dominan, dan  film tampak berusaha ingin mempertebal cerita dengan menghadirkan masalah yang kompleks dari setiap karakternya. 

Sayangnya lagi, cerita yang dibangun dengan serius itu, dikacaukan dengan menyelipkan unsur roman. Hubungan percintaan antara seorang janda dengan pastur menurut saya tampak menggelikan, apalagi dalam adegan makan malam kedua pasangan yang sedang kasmaran itu tampak menyedihkan seperti dua orang horni yang sudah lama tak bercinta dan berusaha saling menggoda. Dan lebih mengenaskan lagi adegan tersebut tidak memberikan efek apapun pada jalan cerita. Entah siapa yang harus bertanggung jawab atas terselipnya plot macam ini karena di Ouija : Origin of Evil ada empat nama yang bertanggung jawab atas naskahnya. 

Identitas hantu yang wagu, karena diawal film ini sudah mengeset tema klasik, yang dimana biasanya identitas si hantu berasal dari sebuah sekte, legenda, atau bahkan  setan sejati macam iblis Lucifer. Origin of Evil malah lebih memilih mengundang sosiopat dari alam baka. 

Twist yang baik tecipta dari pelintiran jalan cerita yang sebelumnya kita duga-duga. Namun fakta yang tersaji diakhir film tanpa kita menduga-duga sebelumnya menurut saya itu kebetulan yang luar biasa. Dan seperti yang banyak dibilang dalam tips menulis, banyaknya kebetulan dalam ceritamu adalah pertanda sebuah naskah yang buruk. Dan itulah yang terjadi pada Ouija : Origin of Evil. 

Ending cerita dari film ini saya rasa lebih cocok untuk sebuah film thriller sosiopat. Tokoh Lina yang tiba-tiba mengambil alih cerita seperti terasa dipaksakan untuk memancing sekuel saja. Padahal yang menarik perhatian di film ini justru penampilan Doris si bocah lugu yang tiba-tiba bertingkah aneh. 


Untunglah film ini ditolong dengan penampilan Lulu Wilson yang berakting luar biasa. Liat bagaimana  dia memainkan mimik muka saat bermain karakter, ada saatnya dia tampak innocent  dan ada saatnya dia tampak dewasa dengan ekpresi wajah licik dan kejam. Sedangkan Annalise Basso juga cukup baik memainkan karakter remaja tanggung yang bertingkah centil seakan minta untuk dikelonin. Dan tokoh sisanya saya tak peduli, karena tidak ada apapun dari mereka yang bisa menarik perhatian. 

Andai saja cerita di film ini mengambil setting metropolitan dijaman sekarang mungkin akan tampak lebih buruk lagi seperti film pendahulunya. tidak ada kreasi baru dalam cara menakuti, tidak ada detail-detail kecil yang berpotensi menjadi identitas dari Ouija. Dan tak ada adegan yang menarik sebagai kenang-kenangan dikepala. 
Sebagai sebuah film horror Ouija : Origin of evil memang layak untuk ditonton, namun bila kembali pada misi film ini untuk menggali ketakutan lewat nuansa jadul dan cerita yang solid tentunya sangat gagal total. 
Saya tidak peduli kalau diluar sana ada orang yang mereview film ini dengan ratting bagus atau lumayan, bagi saya ini tetap film yang buruk. Maafkan bila reviewnya terlalu subjektif dan terkesan suka-suka, tapi bukankah itu alasan kenapa blog ini dinamakan horrorsekarepdewek?

1 comment: