Showing posts with label myths. Show all posts
Showing posts with label myths. Show all posts

18 December 2016

[ REQUEST REVIEW ] La Maldicion de La Llorona/Curse of the Crying Woman ( 1963 )

Jadi, ceritanya kali ini gue mau nyoba memenuhi request-review dari pembaca blog Horrorsekarepdewek ( HSD ) yang gue terima lewat fasilitas chat di salah satu media sosial. Judul yang ini ( Curse of the Crying Woman )  gue putuskan untuk di review setelah beberapa judul lain yang dia ajukan ternyata tidak memiliki subtitle. Mungkin karena film2 yang diajukannya boleh di bilang rare dan kebanyakan berasal dari Meksiko. Dan oh well, ngga banyak yang gue tau tentang sinema horror dari negara pegulat bertopeng ( Lucha Libre ) ini secara gue emang lebih sering nonton film horror secara random dan berdasarkan mood saja. Hehe, tapi it's okay, ini menarik ( dan juga challenging ),  gue akan mencoba mengulasnya. 

Btw ini juga membuat gue punya ide untuk menambahkan menu 'request' di blog ini, dimana nantinya pembaca bisa nulis request disitu, dan gue akan mencoba memenuhinya. Gimana tuh idenya para penontoooon ??

 ..........

krik krik

*sunyi senyap

Oke, baiklah.....

........

 REVIEW


Dibuka ama adegan kereta kuda melintasi daerah angker ( juga penampakan wanita bergaun hitam memegang 3 ekor anjing besar) yang sangat similiar ama sekuens opening dan satu adegan di Mario Bava's Black Sunday (1960 ), gue sempat mengira kalo ini cuma versi lebih buruk ( rip-off ) dari film itu. Namun, ketika film bergulir, Curse of the Crying Woman ternyata memiliki alur yang lebih enak untuk diikuti, seenggaknya sampe 30 menit pertama hehe. 

nggak dijelasin kenapa hantu wanita yang menangis ini malah nggak punya bola mata

01 August 2016

Near Dark ( 1987 ) : Romansa dan petualangan ugal-ugalan geng vampir ala Kathryn Bigelow

Jauh sebelum menyutradarai pilem  drama-action perang timur tengah The Hurt Locker ( ya, yang menang Academy Award itu ) ama pilem blockbuster perang timur tengah laennya,  Zero Dark Thirty, dan hanya beberapa tahun sebelum namanya terangkat oleh Point Break ( 1991 ), sutradara Kathryn Bigelow ternyata mengawali solo-directorial debutnya  dengan nancepin taring di genre pilem horror, judulnya : Near Dark. Gue terjemahin secara bebas berarti sendakala atau menjelang maghrib ( gelap ) hehe.

Gue baru nonton filmnya kemaren, dan dengan cepat bisa gue katakan kalo ini salah satu film vampire paling brutal ( juga romantis ) di era 80'an.


Meski begitu, ketika dirilis, Near Dark ternyata gagal di box office. Penyebabnya diduga karena pilem ini rilis ditahun yang sama ( hanya beda beberapa bulan ) dengan pilem bertema vampir laennya yang lebih besar, The Lost Boys ( 1987 ). Alesan laennya adalah karena studio yang memproduksi pilem ini , DEG (DeLaurentiis Entertainment Group) saat itu sedang diawal kebangkrutan, akibatnya Near Dark tidak mendapat publisitas layak dan akhirnya K.O di box office.


Kita langsung ke ceritanya,


23 May 2016

He Never Died ( 2015 ) : Horror dan humor-gelap vampire anti sosial

Kira-kira apa yang akan kalian lakukan dan rasakan jika kalian mempunyai umur yang panjang? Bukan, maksud gue bukan 80 atau 90 tahun. Tapi, 1000, 3000, atau 5000 tahun. Haha 300 tahun pertama mungkin kalian akan mengisinya dengan banyak pesta, tapi bagaimana 1000 tahun kemudian? nah, Ini jadi menarik.

Seperti judulnya yang spoiler ( He Never Died ), seburuk apapun hal-hal menimpa tokoh sentral kita Jack ( Henry Rollins ), dia nggak bisa mati.  Jack sudah mengalami, melihat dan merasakan banyak sekali peristiwa, berbagai macam profesi pun sudah pernah dia lakoni, dan bagian buruknya adalah dia harus selalu meminum darah dan memakan daging manusia. Apa dia itu vampire? atau kanibal? Tak pernah dijelaskan secara pasti, tapi kemungkinan Jack emang vampire ( atau semacamnya lah ). Pendeknya, dia seorang immortal haus darah  yang sudah melihat dan melakukan banyak hal-hal mengerikan di masa lalu.

01 May 2012

DAGON ( 2001 )

Ini sebenernya pilem yang sering banget gue lewatin pas milih2 pilem di rental dvd. Ga tau kenapa yah? gue nggak pernah tertarik pilem ini. Mungkin desain kovernya yang ( buat gue ) kurang merangsang secara visual, atau mungkin karena gue mengira bahwa pilem ini pastilah salah satu pilem horror-monster micro-budget yang sebenernya udah gue tonton pas sebuah stasiun TV nayanginnya malem-malem. Bukan berarti horror-monster micro-budget nggak keren sih, cuman sayang aja kalo udah bayar sewa, tapi ternyata pilemnya udah di tonton hehe.

Sampai pada suatu hari, akhirnya gue tahu kalo ini pilemnya Stuart Gordon. Ok, tentunya nggak perlu dijelasin lagi siapa beliau. Dan lebih istimewanya lagi, dalam pilem ini Gordon kembali satu tim ama Brian Yuzna ( Produser ) dan Dennis Paoli ( Screenplay ).

Asal tau aja, gue sangat menyukai 2 film yang udah dibuat geng Gordon ini ( Re-Animator dan From Beyond ), itu 2 pilem yang udah gue kategoriin sebagai cult hehe. Selain itu, gue juga ternyata suka pilem Gordon era sebelumnya, Castle Freak ( dalam pilem ini produsernya bukan Brian Yuzna ), dan jangan lupain pilem eksyen kelas B yang membuat gue bertepuk tangan pas nontonnya dulu di bioskop Mulya , Fortress. Itu juga hasil arahan opa Gordon ini.

Jadi, dengan resume kaya gitu 'Dagon' harusnya sih bakalan keren juga dong yah..rasa kepenasaranan itu yang ngebuat gue segera mencari pilem ini lagi. Hehe.

dan prends, ini reviewnya..


Storyline :

Paul Marsh ( Ezra Godden ) dan Barbara ( Raquel Merono ) bersama sepasang lagi kolega nya ( Howard & Viki ), mengalami hari yang naas ketika boat mereka terbentur karang akibat badai yang tiba-tiba datang. Viki terluka cukup parah, maka Paul dan Barbara segera mencari bantuan di kota tepi pantai terdekat, sementara Howard menjaga Viki.

Hal yang Paul dan Barbara tidak tahu adalah, kejadian lebih buruk sudah menanti mereka di kota kecil misterius bernama Imboca itu. Sesuatu yang memiliki lendir, suara aneh, dan tentakel mengintai mereka. Apakah itu Squidwad?? tentu saja bukan.

Apa sebenarnya yang terjadi di kota itu?
Lalu apakah ini ada hubungannya dengan mimpi buruk tentang puteri duyung bergigi tajam yang sering menghantui Paul?


Review :

Dibuka dengan adegan creepy ( sayangnya dengan desain font jelek ) yang nyeritain mimpi paul dimana dia bertemu hantu puteri duyung di dasar lautan, pilem secara efektif langsung menebarkan atmosfir gelap dan misterius. Dan nggak kaya pilem lain dimana di menit2 awal biasanya tempo diperlambat dulu buat ngenalin karakter dan tetek bengeknya, 'Dagon' sudah mengajak penontonnya masuk ke kota Imboca di menit ke 15, dan di menit ke 20, Paul udah terlibat run, hide and seek dengan para fishy-mutant-zombiesque creepy villagers yang akan ngingetin kamu pada adegan di Resident Evil 4.

Baiklah gue kasi tau sedikit, kalo penduduk kota kecil Imboca ini sebenernya para manusia mutan ( separo ikan, separo katak ) yang sedang bertransformasi menjadi ikan ( atau katak? atau cumi cumi? entahlah..) untuk pada akhirnya hidup dilautan. Dan yang lebih buruk dari itu, mereka mengincar Paul dkk untuk diambil kulitnya! Gue nggak tau apa alesannya mereka suka kulit manusia.

Namun tidak seperti Re-Animator atau From Beyond yang bergenre splatstick horror-sci-fi ( sebuah genre yang gue antisipasi kalo mendengar nama Stuart Gordon dan Brian Yuzna ), kisah Dagon ( yang juga diangkat dari cerita H.P Lovercraft's ) ini lebih mirip cerita mitos/dongeng fantasy mistik yang nyaris minus humor. Ini aslinya membuat gue sedikit kecewa karena berharap manusia mutan itu tercipta karena eksperimen konyol atau apalah gitu.

Sorry, gue emang belum pernah membaca buku/novel H.P Lovercraft's dan hanya menilai dari pilem adaptasinya saja :)

Tapi, untunglah kekecewaan gue nggak lama, karena Gordon membuat pilem ini terus bergerak dengan tempo yang enak buat diikuti. Gordon juga menurut gue berhasil ngebangun atmosfir dark gothic nan creepy dengan setting kota kecil Spanyol nya. Segera saja ketika atmosfir creepy sudah terbangun, beberapa jump-scares ditampilkan dengan efektif. make-up efek nya sendiri sangat baik dan menempati posisi ke3 untuk kategori Best Make Up di Fangoria Chainsaw Awards. Sementara itu, nudity dan eksplisit gore nggak bertebaran disana-sini tapi ditempatkan dengan sangat efisien di adegan2 yang emang ngebutuhin itu. Sayangnya beberapa part gue rasa emang terlalu panjang/repetitif dan tidak berpengaruh seandainya dipotong.

Ngomongin adegan gory, Dagon punya beberapa scene yang cukup graphics ( namun seperti gue bilang diatas, ditempatkan efisien di bagian yang emang ngebutuhin itu ) misalnya, seppuku scene, a slashed throat scene, mayat tergantung dengan kulit terkelupas, dll. Namun yang paling disturbing tentu saja adegan pengelupasan wajah yang gue nggak nyangka sungguh brutal. Iya, kita udah tau kalo Hannibal Lecter juga mengelupas wajah korbannya buat jadi topeng, begitu juga Leatherface dan Ed Gein, tapi kita sendiri nggak pernah dikasih tau gimana proses pengelupasan kulit wajah itu kan.? Dalam Dagon, ini ditampilkan cukup eksplisit dalam sebuah adegan dimana seorang tawanan di kelupas kulit wajahnya... hidup-hidup!

skinning alive!
Stuart Gordon sendiri terlihat masih terngang-ngiang kesuksesan Re-Animator dengan memilih karakter Paul mirip dengan Dr.Herbert West ( Paul bahkan memakai sweater Miskatonic ) dan oh ya..karakter cewe disini namanya Barbara, itu maksudnya pasti tribute buat Barbara Crampton hehe.

horny??
Overall, satu hal yang pengen gue protes dari Dagon adalah penggunaan CGI yang terasa sangat buruk ( ini membuat Dagon keliatan amateurish-cheapy ), mengecewakan karena jika dalam From Beyond, Gordon bisa menampilkan slimy-monster yang keren tanpa CGI, kenapa 10 tahun kemudian dia nggak bisa bikin itu. Oh, mungkin keterbatasan budget..baiklah. Dalam sebuah artikel, gue ngebaca kalo Gordon sebenernya berniat membuat Dagon setelah Re-Animator, tapi proyek From Beyond membuat dia membatalkannya. gue ngebayangin kalo aja Dagon dibuat pada dekade itu ( 80-an atau awal 90 ), pastinya itu bakalan penuh ama slimy-monster / creepy-creature keren dan itu jelas bakalan lebih..ehm, menyenangkan hehe.

Secara umum, Dagon terasa tidak sesuperior dan semenghibur 'Re-Animator', walau begitu, dia gue masukin ke kategori 'well-done' ( apalagi kalo nginget budget yang micro ).

Nggak gagal, tapi juga nggak sukses besar. Medioker. Kemungkinannya akan mudah dilupakan, tapi setidaknya, Dynamic-duo Gordon-Yuzna berani bereksperimen menawarkan warna yang lain untuk pilemnya dan thumbs-up nya dia nggak mengecewakan gue. 

Akhirul review, gue cuma berharap suatu saat nanti keduanya akan kembali bergabung buat menghasilkan pilem hillarious-awesome seperti pilem2 di masa kejayaan mereka.

Jadi, untuk Dagon. well, dengan semua kekurangannya..gue cukup menikmatinya :)

RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic