Showing posts with label vampire. Show all posts
Showing posts with label vampire. Show all posts

01 August 2016

Near Dark ( 1987 ) : Romansa dan petualangan ugal-ugalan geng vampir ala Kathryn Bigelow

Jauh sebelum menyutradarai pilem  drama-action perang timur tengah The Hurt Locker ( ya, yang menang Academy Award itu ) ama pilem blockbuster perang timur tengah laennya,  Zero Dark Thirty, dan hanya beberapa tahun sebelum namanya terangkat oleh Point Break ( 1991 ), sutradara Kathryn Bigelow ternyata mengawali solo-directorial debutnya  dengan nancepin taring di genre pilem horror, judulnya : Near Dark. Gue terjemahin secara bebas berarti sendakala atau menjelang maghrib ( gelap ) hehe.

Gue baru nonton filmnya kemaren, dan dengan cepat bisa gue katakan kalo ini salah satu film vampire paling brutal ( juga romantis ) di era 80'an.


Meski begitu, ketika dirilis, Near Dark ternyata gagal di box office. Penyebabnya diduga karena pilem ini rilis ditahun yang sama ( hanya beda beberapa bulan ) dengan pilem bertema vampir laennya yang lebih besar, The Lost Boys ( 1987 ). Alesan laennya adalah karena studio yang memproduksi pilem ini , DEG (DeLaurentiis Entertainment Group) saat itu sedang diawal kebangkrutan, akibatnya Near Dark tidak mendapat publisitas layak dan akhirnya K.O di box office.


Kita langsung ke ceritanya,


23 May 2016

He Never Died ( 2015 ) : Horror dan humor-gelap vampire anti sosial

Kira-kira apa yang akan kalian lakukan dan rasakan jika kalian mempunyai umur yang panjang? Bukan, maksud gue bukan 80 atau 90 tahun. Tapi, 1000, 3000, atau 5000 tahun. Haha 300 tahun pertama mungkin kalian akan mengisinya dengan banyak pesta, tapi bagaimana 1000 tahun kemudian? nah, Ini jadi menarik.

Seperti judulnya yang spoiler ( He Never Died ), seburuk apapun hal-hal menimpa tokoh sentral kita Jack ( Henry Rollins ), dia nggak bisa mati.  Jack sudah mengalami, melihat dan merasakan banyak sekali peristiwa, berbagai macam profesi pun sudah pernah dia lakoni, dan bagian buruknya adalah dia harus selalu meminum darah dan memakan daging manusia. Apa dia itu vampire? atau kanibal? Tak pernah dijelaskan secara pasti, tapi kemungkinan Jack emang vampire ( atau semacamnya lah ). Pendeknya, dia seorang immortal haus darah  yang sudah melihat dan melakukan banyak hal-hal mengerikan di masa lalu.

28 August 2010

Lets Scare Jessica To Death ( 1971 )

Terus terang, gue tertarik ama film ini cuman karena ngeliat desain poster nya yang ada ditengah-tengah definisi stupid ama keren. Liat aja tuh :D. Selain itu, tentu aja judulnya, 'Lets Scare Jessica To Death'!. Haha Judul yang sangat eksploitatif, ngingetin ama 'I spit On Your Grave' atau 'I Drink Your Blood' dll.

Dalam bayangan gue ini adalah sebuah film yang bercerita tentang sekelompok pemuda iseng  nakut-nakutin seorang cewe montok bernama Jessica sampe mati. Woo-hoo kedengeran kaya sebuah pelem yang cocok buat ngebuang waktu sejam-setengah.

Let's sheck..

Storyline :
Jessica ( Zohra Lampert ) adalah seorang perempuan yang baru saja dinyatakan sembuh dari mengalami gangguan jiwa. Sekarang dia terlihat baik-baik saja dan gembira.

Sang suami, Duncan ( Barton Heyman ) --bersama satu orang temannya Woody ( Kevin O' Connor )-- kemudian berniat memulai segalanya dari awal dengan mengajak Jessica pindah ke sebuah rumah di pedesaan di Connecticut ( seperti biasanya, tentu aja lengkap dengan danaunya :D )

Disana mereka tidak sengaja berkenalan dengan seorang wanita dan setelah beberapa saat perkenalan, Jessica mengundang wanita itu untuk ikut makan malam dan menginap beberapa hari.

Namun dari sinilah horror mulai terjadi.
Jessica merasa mendengarkan bisikan2 aneh ditelinganya. Bukan itu saja, dia juga sering mendapat penampakan2 yang tidak dilihat orang lain. semula ia memutuskan untuk mengabaikan hal ini dan tidak menceritakan apa yang dialaminya karena takut sang suami mengira gangguan jiwanya kambuh.

Suatu hari, seorang pemilik toko barang2 antik didesa itu bercerita kalo rumah yang mereka tempati adalah bekas rumah bangsawan Bishop, dia bercerita kalo pada tahun 1880 sebuah tragedi pernah terjadi disitu. Puteri Bishop, -Abigail- tewas tenggelam di danau samping rumah mereka tepat satu hari sebelum hari pernikahannya. Menurut legenda penduduk pula, arwah Abigail sekarang bergentayangan menghantui desa sebagai Vampire.

Dan setelah Jessica mengamati foto putri Bishop itu, wajahnya ternyata tak jauh beda dengan wanita misterius yang kini sedang menginap di rumahnya!

Sejak itulah Jessica semakin sering mendapat penampakan dan eskalasinya justru semakin meningkat. Dari mulai dia melihat sosok wanita bergaun putih melambai-lambai, sikap penduduk desa yang aneh dengan luka di lehernya, sampai melihat penampakan mayat wanita tenggelam di danau tempat dia biasa berenang.

Akhirnya, kerena Jessica sering terlihat ketakutan dan histeris, Duncan mengira gangguan jiwa Jessica kambuh, dia lalu berniat membawanya kembali ke dokter di kota. Jessica pun dilanda depresi dan kebingungan.

Apakah yang di lihat, didengar atau dialaminya adalah kejadian nyata atau hanya ada didalam pikirannya saja?? benarkah dia masih gila? atau memang ada sesuatu yang buruk di rumah itu?

Dan didalam kebingungannya dia akhirnya mengalami sebuah tragedi mengerikan....


Review :

Klik 'Play.

Setelah logo Paramount menghilang dari layar, kita akan mendapati sebuah shot dramatis sunset dengan cahaya oranye-nya yang memantul di sebuah danau berkabut. Senyap. Hanya terdengar suara burung danau dan kesiur angin.

Next frame, seorang perempuan terlihat duduk disebuah perahu kecil di danau itu, cahaya sunset membuat tubuhnya menjadi siluet.

Lalu kita mendengar narasi lirih yang terdengar seperti orang menggumam, suara itu pastilah berasal dari pikiran perempuan yang sedang duduk di perahu itu..

" I sit here and i can't believe that it happened. Dreams or nightmare..madness or sanity..i don't know which is which..."

.......................................

Dan hanya dari adegan opening seperti yang gue deskripsiin diatas saja, gue tahu kalo tebakan gue tentang film ini salah. Ini jelas bukan sebuah film eksploitasi-bodoh khas 70-an. Iye bener, dont ever judge movie by its poster ( kecuali poster film2nye Nayato ).

Ya, berlawanan ama desain poster ama judulnya yang eksploitatif, film ini ternyata sebuah psychological-atmospheric-surreal-poetic horror. Dan untungnya lumayan bagus buat jadi pilihan terakhir ketika lawakan Sule di tipi mulai membosankan.

Let's Scare Jessica To Death ( LSJTD ) adalah debut film panjang John D.Hancock setelah sebelumnya ( ditahun 1970 ) dia hanya membuat sebuah film pendek berdurasi 15 menit.

John D. Hancock memilih membuat filmnya berjalan sangat pelan namun terus merambat naik untuk akhirnya di akhir film dia meledak menjadi tragedi yang cukup untuk membuat gue merinding, walau begitu ini jelas bukan buat horror-hardcore yang hanya doyan tempo tinggi ( apalagi Zombem :D ). Nggak ada gore atau nudity. Hanya ada sedikit darah dan kematian dengan level-violence yang aman untuk seluruh keluarga. Yeah, rating film ini emang PG-13. Ngarepin apa lagi ya?

Namun, film ini nawarin beberapa adegan scare-tactics creepy yang didukung oleh kostum dan setting beraroma gothic. Kalo kamu seneng film horror yang mengandung adegan  seperti : 'cewek bergaun pengantin putih melambai-lambai dibalik kabut yang ketika dikejar dia kemudian menghilang', kamu pasti juga akan suka film ini.

Tapi tentu aja adegan yang menjadi ikonik di pelem ini adalah adegan ketika hantu Vampire-Abigail, perlahan-lahan keluar dari dalam danau..sayang, hantunya nggak telanjang seperti di 'Lady Terminator' :D



Film semakin terasa unik dengan menjadikan Jessica ( yang baru sembuh dari gangguan jiwa ) sebagai sentral film dengan pergolakan pikirannnya yang ditunjukin ke penonton ( inner-voice ). Ini membuat LSJTD terasa  creepy, sekaligus lirih dan puitis . Teknik inner-voice inilah mungkin yang menginspirasi  adegan populer di sinetron lokal, yaitu adegan Baim menengadahkan tangan, lalu terdengar inner-voice : "Tolong Baim Ya Allah.." ya, seperti itulah.

Poster Versi DVD (2006)
yang menarik lagi, film yang menjadi salah satu favoritnya Stephen King ini ngebiarin semua misteri dalam film ini tetap terbuka, dengan begitu penonton dipersilahkan berinterpretasi sendiri. Nggak tahu, yang kaya gini bisa dibilang nyebelin apa keren hehe..buat gue sih tergantung, dan untuk film ini..oke, cukup impresif.

Terus terang, kalo misalkan ini adalah sebuah film rilisan baru, plot atau premise-nya akan gue bilang 'nggak kreatif + membosankan'.  Makanya, kalo di-remake hasilnya pasti jelek.

Tapi gue selalu respek ama film-film klasik ( dalam artian : jadul ). Itu rasanya kaya kalo misalkan elu nggak terlalu tertarik ngeliat orang modern bisa nyiptain Smartphone, tapi pasti merasa kagum ketika tahu orang zaman dulu udah bisa berkomunikasi jarak jauh dengan perantara kabel + kaleng. Haha oldschool + classic.
Overall sih, emang bukan film horror yang sangat bagus atau essensial, tapi surprisingly-watchable. Terutama mungkin karena rendahnya ekspektasi gue.
Semuanya dieksekusi dengan mulus. setting, atmosfir, shot-shot, photografi, akting ( terutama akting Zohra Lampert ) dan didukung scoring yang pas, 'Lets Scare Jessica To Death' menjadi salah satu film horror-misteri di era 70-an yang terlihat percaya diri di genre nya.



Rating :

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

+++ : Yang ini ga ada hubungannya ama review. cuman pengen curhat, kalo kita perhatiin di pelem2 horror luar sono, kalo ada adegan yang memakai setting sebuah danau, gue iri banget soalnya danau-nya keliatan sepi banget. Seakan-akan kita bisa kesana di akhir pekan dan memiliki danau itu sendirian. Di Indonesia, sepanjang pengalaman gue kemping, hiking, blusukan ke hutan-hutan, setiap kali gue nemuin danau/telaga, gue juga selalu nemu pemandangan : tukang gorengan. -.-"

09 December 2009

NOSFERATU - A SYMPHONY OF HORRORS-- (1922)


REVIEWED BY ‘R’.

Synopsis :
Sebuah misi bisnis membuat Hutter harus meninggalkan Nina, istrinya. Dia diutus oleh Knock untuk pergi ke sebuah kastil di Transyllvania, tempat tinggal Count Orlok yang tertarik membeli sebuah rumah di Wisburg, Jerman.

Tanpa mempedulikan isu-isu menyeramkan seputar Count Orlok, Hutter berangkat. Ditengah jalan penduduk memperingatinya untuk tidak melanjutkan niatnya, entah kenapa, yang jelas ada sesuatu yang menakutkan pada diri Count Orlok..” jangan menyebut namanya dengan keras “ kata penduduk.

Namun, Hutter memang digambarkan sebagai pemuda yang tidak percaya mitos, maka dia mengabaikan semua dan melanjutkan perjalanannya ke Transyllvania.

Sampailah dia di kastil misterius itu,
tempat tinggal ” pangeran-kegelapan-setengah-tikus-setengah-kelelawar-yang-meminum darah-dan-tidur di peti mati!”
siap membawa malapetaka untuk Hutter, penduduk kota Wisburg dan Nina istrinya…



Review :
film ini disutradarai oleh sineas Jerman F.W Murnau pada tahun 1922. Merupakan adaptasi tidak sah dari buku legendaris Bram Stoker’s ‘Dracula’. Ceritanya sama persis, hanya sosok Vampire yang seharusnya bernama Count Dracula, dirubah menjadi Count Orlok. Kasus ‘ngebajak-ide’ ini juga dipermasalahkan ama janda Bram Stoker’s di pengadilan, yang akhirnya di menangkan olehnya. Kemudian dia menuntut pemusnahan semua kopi film ini, untungnya nggak semua kopi bisa dimusnahin, jadi kita generasi satu abad kemudian masih bisa menikmati film keren ini :D

Film ini sendiri bukan film pertama yang lahir di sejarah sinema-horror. Film ‘Le Manoir du diable’ ( Rumah Iblis ) karya sineas Perancis Georges Melies (1896) disebut-sebut sebagai film horror pertama. --Kaya apa tuh filmnye, gue kaga bisa ngebayangin???--- Sementara untuk Jerman sendiri di era-ekspresionis itu sebelumnya udah menghasilkan film horror lain sebelum Nosferatu, judulnya The Golem (1915). Ya, film horror yang dibuat sebelum perang dunia II umumnya dibuat berdasarkan karya sastra klasik gothic/horror barat dengan monster-monsternya yang ikonik seperti Nosferatu, Golem, Dracula, Frankenstein, Dr.Jeckyll And Ms.Hyde dll namun diantara yang lain, Nosferatu karya Murnau inilah yang paling meledak dan ramai diperbincangkan masyarakat Eropa pada saat itu. Jadi ini bukan film horror pertama, namun inilah film Vampire pertama!

...........................

Back to review, yah, inilah pertama kalinya gue nonton film sedemikian jadulnya. 1922 men! Perang Diponegoro aja belum mulai, Hitler juga belum kumisan hahaha.

Dan awalnya gue kebingungan karena kok ‘audio-dialog’ nya nggak kedengeran? Beberapa menit kemudian gue baru sadar kalo zaman itu filmnya masih bisu!! Goblok beneer..hahaha Jadi nonton film ini kaya nonton sandiwara panggung pantomim, atau kiasan lain ‘komik yang bergerak’ hahaha untunglah teks yang muncul disela-sela scene cukup membantu gue memahami jalannya cerita. Bayangin, nonton film item-putih- bisu dengan kualitas gambar yang burem-jelek-banget, kalo gue berhasil nonton ampe selesai berarti ada yang keren dalam film itu hehe

Soal teknis sinematografi, kaga usah di bahas lah, ini film seabad silam men! Ngasilin gambar bergerak aja udah ajaib tuh..namun, walau begitu--untuk zamannya-- film ini berhasil menyajikan scene-scene dari sudut pandang yang impresif! Salah satu adegan nya yang terkenal adalah ketika kamera menyorot bayangan sang Vampire ketika sedang merayap…

Untuk tahun 1922, film ini juga hebat karena udah bisa ngambil gambar dari lokasi2 yang berbeda, bahkan ada beberapa scene yang berlokasi di tengah lautan ketika sang Count Orlok berlayar menuju Wisburg, Jerman. Sementara iringan music klasik sepanjang film, menambah kesan dramatis di setiap adegannya

Satu lagi yang dahsyat dari film ini adalah penampilan ‘Max Schreck’ yang berperan sebagai Count Orlok ( Nosferatu—the Vampire ), he’s a perfect as a Vampire! Apa vampire dalam filmnya Coppola udah creepy menurut kamu? Coba liat Vampire yang satu ini! gue ampe percaya kalo ni orang Vampire beneran! Tubuhnya yang kurus, jangkung, wajahnya tirus, telinga mirip tikus, dan dua taring di mulutnya itu beneran creepy banget. Apa ini kerjaan divisi make-up? Kalo gitu, superb. Sang Vampir juga tidak perlu beraksi berlebihan dengan merayap atau meloncat kesana-kemari untuk menghasilkan sensasi horror, namun cukup berjalan perlahan-lahan dengan tangannya yang selalu menekuk seperti kelelawar kedinginan. Maka, gue membayangkan penonton bioskop pada zaman itu, menyaksikan ini sambil menutup wajahnya. Its sooo scary..

max schreck is real-nosferatu!
Sebelum film ini, gue selalu nganggep Vampire tuh makhluk-horror yang nggak begitu nakutin. Mungkin karena terlalu seringnya makhluk ini dieksploitasi dalam film2 atau serial cheesy seperti Vampire jatuh cinta, Vampire setengah manusia, Vampire lesbian, vampire Gay ( dalam ‘gayracula’ ) dll membuat Vampire, --buat gue-- kelihatan tolol dan kehilangan ancaman-nya. Dan ‘Nosferatu’, kembali ngingetin gue kalo sang makhluk penghisap darah ini sebenarnya juga punya karakter yang kuat dan legenda-nya sendiri buat ngasih horror ke kita. Tentu saja, kalo digarap dengan bener.

This movie is classic, epic, creepy, intrigued, scary, awesome and monumental for horror movie genre.

.................

detail info

Kalo males nyari DVD nya, film full nya ( 85 menit ) bisa dilihat secara streaming di link di bawah ini:

watch full movie from youtube

Kalo pengen download, lebih baik milih yang udah dipecah2 ( menjadi 10 bagian dengan size yang relative kecil ). Ikuti link ini :

Nosferatu part.1
part berikutnya tinggal cari saja.

Ini adalah alternative download lainnya :
DOWNLOAD 512kb MPEG4
DOWNLOAD OGG VIDEO
DOWNLOAD MPEG2


05 December 2009

BLOOD: THE LAST VAMPIRE (2009)



REVIEWED BY 'Z'.

Ok, yg kite tonton di sini itu, pada dasarnya, ngga lebih dari ngikutin petualangan cewe bernama Saya (diperanin ama aktris Korea, Gianna Jun) hybrid setengah orang/setengah vampir dengan cukup kepedulian pada budaya tradisional Jepang buat pergi sekolah pake baju seragam Sailor Moon khas anime. Doski kerja buat organisasi rahasia yg disebut The Council buat ngebasmi vampir2 yg bersembunyi diantara kita dalam bentuk manusia lewat penguasaan mumpuni doski pada kesenian kuno pedang samurai. Saat itu dunia lagi ada di era 70-an & Saya ditugasin dalam misi penyamaran sebagai pelajar lokal di satu basis militer AS yg udah diinfiltrasi ama monster2 musuh umat manusia. Dah…segitu aje kok intinye, lagian ini kan emang adaptasi dari film animasi pendek.

Tentunye, buat bikin ini terdefinisi jadi sebuah film-penuh, mereka2 yg terlibat dalam pra-produksi mutusin buat nambahin sub-plot yg menggelikan. Soal kehadiran penjahat paling jahat dari semua yg bisa dibilang jahat: setan-betina dengan nama Onegin (apa Onigen ye? Salah satu dari itu lah pokoknye), yg, ceritanye, segimana kite dijelasin lewat kemunculan rolling text persis pas lo baru neken play, punya peran sebagai musuh bebuyutannye Saya. Nah, dari sini gue nebak kalo alesan utama Saya gabung ke Council tuh, mungkin, emang buat ngelacak keberadaan si Onegin/Onigen yg bersangkutan. Gue kepaksa nebak soalnye begitu nyiptain kerangka cerita tadi, para pembuat film ini ngerasa kalo mereka ngga perlu lagi bikin penjelasan apapun soal apapun ke audiens selaen adegan flashback ke Jepang-feodal, waktu Saya masih dilatih ama master-samurai Kato & dikasih tau kalo Onegin/Onigen itu sebenernye antagonis utama dalam plot asasinasi yg namatin riwayat ayahanda doski tercinta. Ga seberapa lama abis itu, giliran Kato dihabisin ama segerombolan iblis/setan/vampir/ bercaping dalam adegan pertarungan yg diambil langsung dari frame American Ninja 3.



Terus kite punya markas militer yg, buat sebuah alesan tertentu yg gue ngga tau, dipenuhin ama vampir2 jahat. Disinilah kite dikenalin ama aspek paling annoying dalam dongeng ini: Allison Miller sebagai Alice McKee, anak Jenderal yg, lagi2 buat sebuah alesan tertentu yg gue ngga tau, mendadak jadi sidekick superhero kisah petualangan ini, praktis ngga lagi pernah ngilang dari frame sampe waktunye kredit akhir muncul.
Gue bilang annoying soalnye buat seorang sidekick, doi bener-bener-sama-sekali ngga ada gunanye! Kontribusinye sepanjang durasi praktis cuman bolak/lik ada dalam bahaya konstan, nungguin Saya buat nyabetin katana ke sana/sini dalam misi penyelamatan yg repetitif. Guna nyelametin hubungan antara 2 karakter ini dari jadi terlalu ada pada dimensi hubungan antara Popeye ama Olive Oil.

Kadang2 para penulis skenario ngasih Alice script buat ngeluarin nasehat2 tulus-dari-hati-temen-baik ke Saya, ngeyakinin kalo doski teteplah seorang “manusia”, kalo “jauh dalam lubuk hatinye”, bla bla bla, bla bla bla, bla bla bla. Pokoknye asli 100% karakter yg ngga perlu ada dalam film horror lah intinya mah, adalah siksaan yg mengerikan gimane kite kudu nahan muntah ngeliatin ama ngedengerin eksistensi doski di layar sampe ke scene paling akhir…

Sementara itu, Onegin/Onigen, sang ratu iblis, pantes buat dinobatin jadi setan paling tidak mengancam sepanjang sejarah cinema. Buat seseorang yg digembar-gemborin buat punya kemampuan “ngebawa neraka ke atas dunia” doski asli ngga ngelakuin apapun selaen berdiri2 dalam usaha buat keliatan misterius. Ok, doi ngebunuh seorang penjaga hotel dengan sekibasan tangan…terus…udah!! Itu doang seinget gue sampe ke pertempuran akhirnye; sebuah epic-finale dengan total running time sekitar 2 setengah menit berisi debat verbal, kontak fisik minimal, ama pembongkaran twist-megah yg udah kaga lo peduliin lagi. Semuanye terjadi sementara seluruh setting yg ada di sekitar mereka mendadak termakan ledakan2 ama ketelen kobaran api dalam proporsi ending film Michael Bay, dengan penyebab yg sama sekali ngga bisa dipahamin ama orang2 yg nonton.

Tapi dari semuanye itu, poin ngecewain paling gede dari ini tuh level violence-nye.
Asli, sumpah gue bisa nolerir praktis apapun dari satu film asal di dalemnye ada aksi2 kekerasan yg ngga bisa diterima masyarakat umum. Masalahnye praktis semua adegan berantem di sini isinye shoot close-up lewat lensa shaky-cam, jadi lo ngga bisa bener2 ngeliat apa yg lagi kejadian. Antara itu ama kamera super-slo-mo Matrix-esque yg, ngga tau kenape, kayanye jadi pakem buat apa yg disebut “adegan eksyen” beberapa taun ke belakang ini. Editing cut-to-cut dari ribuan stock-shot juga jelas ngga ngebantu & buat satu film dengan kata “blood”” di judulnye…ide mereka dari apaan yg disebut “darah” bener2 idiotik.

Para pembuat film ini kayanye keobsesi buat bikin gimane film real-life bisa keliatan se-animasi mungkin. Ngga puas dengan bikin segerombolan Ninja menyerang dengan teknik yg diadopsi dari kartun Bugs Bunny, mereka ngerasa perlu ngelangkah lebih jauh & ngebikin percikan darah dalam gaya retouch photoshop buku komik!! Gue ngga ngerti apa ada keuntungan tertentu buat didapet dari bikin darah CGI, yg jelas mah itu keliatannye jelek banget anjing!! Kite punya apa yg kayanye dimaksudin sebagai aksi vampir2 dibelah vertikal, horizontal, kepenggal, kemutilasi, kecolok, de el el, de el el, & gara2 darah digital yg ngotorin semua scene, segalanye cuman jadi keliatan ngejengkelin!

Udah lah, cukup kayanye ngabisin waktu buat ngebahas hal seburuk ini. Akhir kata, Blood: The Last Vampire masuk dengan pas dalem jajaran panjang film-buruk-yg-ngelibatin-vampir-di-dalemnye. Ambil pasak panjang trus tancepin ke jantung Dracula…genre ini bener2 udah sekarat.

Onegin : setan paling tidak mengancam sepanjang sejarah cinema.



............................

R : Oke, buat yang penasaran ama gimana tu aksinye si setan paling tidak mengancam dalam sejarah sinema, kamu bisa download filmnya disini :D

detail info
BTLVampire-A.avi
Size : 444.38MB

19 November 2009

LESBIAN VAMPIRE KILLERS

REVIEWED BY 'Z'

Ok lah, jujur aje, satu2nye alesan kenape film ini gue tonton tu emang gara2 judulnye doang. Kayanye kenape sesuatu dengan judul kaya “Lesbian Vampire Killers” itu menarik buat diliat adalah hal yg udah ngga perlu dijelasin lagi. Simpel aja, biarpun kentel ama tendensi ambigu, susunan kata2 kaya gitu tetep aja punya nilai komersil yg tinggi. Apa ini film soal vampir lesbian? Apa justru soal sepasang lesbian pembunuh vampir? Sape yg peduli, pokoknye asal di dalemnye ada yg lesbian, ya beres perkara.


Sekitar beberapa ratus tahun silam, hiduplah seorang ratu vampir bernama Carmilla. Nah, dalam beberapa menit pertama kite langsung dikasih tau kalo doski tu ratu-vampir-lesbian, jadi kite semua bisa tersenyum puas. Kaya semua lesbian laen, Carmilla memangsa gadis2 muda montok di daerah sekitar & ngerubah mereka semuanye jadi lesbian. Kebetulan salah satu korban doski itu calon istri dari seorang ksatria Templar dengan nama yg ngga bisa gue inget, tapi gue cukup yakin kalo itu pasti semacam “Lancelot” apa sesuatu yg similar. Tentunye, si Lancelot ini keki berat kekasihnye mendadak kehilangan interes seksual ke laki2 & dengan kemurkaan Arthurian sejati, die pun ngedatengin Carmilla buat nebas kepala bondon itu sampe putus. Sayangnye, dengan ngelakuin itu die juga naro kutukan vampir kuno, yg ngebikin semua gadis di daerah tersebut bakalan bertransformasi jadi vampir lesbi begitu mereka ngerayain ulang tahun ke 18, & ini akan berlangsung sepanjang jaman sampe keturunan garis darah langsung dari si Lancelot tadi dateng buat matahin kutukan tersebut.

Dan itu, adalah bagian terbaik dari fim ini…

Fast forward ke masa kini, Jimmy (James Corden) diputusin lagi ama cewenye pada waktu yg bersamaan ama sohibnye, Fletch (Matthew Horne) dipecat dari kerjaannye. Sama2 ngerasa idup ini ngga adil, 2 sahabat ini mutusin buat berkelana dalam misi mulia guna mencari makna sejati dari kehidupan, alias nidurin sebanyak mungkin cewe cakep yg mereka temuin di jalan. Dengan budget terbatas, tangan2 takdir yg kasat mata menuntun mereka ke lo-tau-kemana, dimane mereka ketemu ama segerombol cewe silikon dengan aksen Eropa kentel di tengah hutan. Waktu mereka berenti pada kabin kecil, serangkaian lo-tau-apaan pun terjadi, & Jimmy menemukan garis keturunannye dari lo-tau-sape untuk memenuhin takdirnye buat lo-tau-ngapain.

Yg mengecawakan, Lesbian Vampire Killers ini ternyata bukan film vampir lesbian. Maksud gue, iye sih, emang disini betebaran eye-candy adegan topless ama gadis2 vampir saling “bersilat lidah” satu sama lain, tapi ini sama sekali ngga ada hubungannye ama sub-genre lesbo-vamp sinema eksploitatif masa lalu. Buat sesuatu yg gue harepin sebagai tontonan murahan dengan semangat retro ke masa kejayaan Ingrid Pitt, ini malah lebih cenderung jatoh ke teritori parodi tolol dari softcore-porn. Itu bisa dianggep pujian, mengingat fakta sederhana bahwa gue cukup menikmati softcore-porn, tapi kalo ini emang softcore-porn juga gue tetep bakalan kecewa soalnye semua aksi “lesbian” disini ngga pernah cukup erotis buat sekedar muasin rasa ingin tau dari bocah 8 taun dalam diri gue sekalipun. Untuk sesuatu yg dipasarin dalam balutan judul menantang gini, LVK kerasa luar biasa hambar ama kelewat vanilla. Bahkan “adegan panas” di seri American Pie pun bisa dianggep lebih eksplisit dari ini.

Ok, jadi ini ngga seksi. Tapi lucu ngga? Sedihnye…ngga juga. Sutradara Phil Claydon bukan cuma ngga tau caranye bikin film horror yg bisa memancing ereksi, tapi die juga gagal ngebikin ini jadi sebuah komedi, mungkin soalnye die emang pada dasarnye ngga pernah tau sebenermye pengen bikin apaan. Lelucon2 (yg ngga terlalu pinter) film ini terlalu keterlaluan repetitif kalo ngga bisa dibilang luar biasa annoying. Satu contoh sempurnanye tu joke soal “the sword of Dialdo”, mestika pembunuh vampir dalam bentuk pedang bergagang genital pria, lelucon garing soal ini diulang-ulang melulu sepanjang film sampe kedengeran memuakan. Yayaya, itu sword of Di(a)ldo, we fucking get it the first time kok!! Sepertinye Claydon ama sapepun yg bikin script ngga bisa nyari lawakan laen buat ngisi kuota durasi 109 menit filmnye, jadi mereka kudu we terus bikin referensi2 pathetic ke gimmick kojonye itu…yg sebenernye ngga lucu2 amat.

Ini emang jenis film yg kaga pernah punya tujuan jelas, kurang hiperbolis buat jadi campy tapi juga terlalu dangkal buat bisa dianggep serius. Terlalu over-produksi buat tontonan murahan tapi juga kelewat komikal buat bisa nyiptain atmosfer tertentu. Sementara itu para “lesbian”nye kekurangan determinasi buat maenin peran mereka secara all-out, ngejelasin absensi wajah2 mereka dari sirkuit porno internasional. Dengan semua fakta dipertimbangin, ini asli keliatan kaya usaha desperade dari satu program di Syfy Channel buat nebeng kesuksesan komersil Shaun Of The Dead, dengan vampir cewe ngisi peranan zombie & kata lesbi diadopsi sebagai manuver-marketing. Produksinye sendiri cukup profesional (yawn) & glossy, tapi semuanye kerasa “salah” aje, penuh pretensi ama berkesan terlalu “palsu” buat bisa bener2 ngehibur. Kata blunder ngga bisa lebih cocok daripada waktu mereka nampilin sosok Carmilla, buat vampir ningrat yg ngambil namanye dari karya klasik Joseph Sheridan Le Fanu, di ujung film doski malah beresureksi dalam bentuk yg dicolong dari tokoh komiknye Neil Gaiman, itu jelas salah. Seorang ratu vampir, gue koreksi, seorang ratu-vampir-lesbian ngga keliatan kaya antagonis androgini di Mirrormask! Ini kan film vampir, bukan videonye Annie Lennox. Tapi absurditasnye ngga berakhir di situ, dengan akumulasi tingkat apatisme gue pada film ini mendekati klimaksnye, tibalah adegan pertempuran akhir, dimana gue bagaikan ngeliat Ziggy Stardust berduel lawan Richard Dean Anderson dalam ending yg bikin gue ngerasa lagi nonton satu episode Stargate SG-1, ampuuunn.

Jadi, kalo lo punya secuil ekspektasi apapun buat ini, lupain aje lah!! Menyedihkannye, film ini adalah produk gagal dari segi manapun lo ngeliatnye. Semua yg kenal gue tau kalo standar film gue teramat-sangat rendah, tapi buat sekedar menuhin standar itu pun ini kaga mampu. 109 menit dari total buang2 waktu percuma, Lesbian Vampire Killers adalah film yg ngga pernah nawarin apapun yg menarik…selaen dari judulnye doang.

(taro rating paling rendah versi lo disini)


yang penasaran download filmnya disini
Lesbian.Vampire.Killers.DVDSCR.XviD-DoNE.avi
Size : 699.69MB