Showing posts with label horror-comedy. Show all posts
Showing posts with label horror-comedy. Show all posts

07 October 2016

( TV-SERIES ) ASH VS EVIL DEAD ( 2015 - ) Season 01 : HE'S BACK!

Ash VS Evil Dead season 01 udah selesai Januari lalu, dan Season 02 nya baru aja dimulai. Sampe sejauh itu, sebenernya gue belum tertarik buat nyoba nonton. Alasan utamanya jelas, gue nggak yakin semua hal yg bikin franchise ini jadi asik ( blood, gore, prostetik ) bakal ke display di layar TV.  Bukan apa-apa, The Evil Dead versi original ( 1981 & 1987 ), beberapa kali gue pergoki tayang di TV swasta, dan TV ngebuang nyaris semua bagian asiknya sampe durasi film kesisa tinggal 45 menit doang. Tanpa materi R-rated nya, apa poin dari nonton ini coba? 
 
Nah, kemaren nggak tau kenapa tiba-tiba gue ngeklik trailer untuk Season 02 nya, dan terkejutlah gue..holy shit, organ-organ tubuh berterbangan! haha 


Terus terang gue emang nggak familiar ama TV-Series, dan sampe sejauh mana sebenernya peran badan sensor di sono ( Amerika ) dalam menentukan layak atau tidaknya konten sebuah program TV. Mungkinkah ada konten TV yang memiliki rating R? 

Ah ya, mungkin gue nya aja yang kurang apdet, maklumlah boro-boro TV kabel,  emak aje sering nyuruh gue muter-muterin antena supaya channel yang nayangin Uttaran nggak goyang. 

Btw, ini trailer untuk season 02 nya :


Jadi folks, gue mutusin buat nyoba ini ( terima kasih buat internet yang nyediain semuanya.) . Dan biar afdol, gue akan memulainya dari Season 01  dulu. 
 
Garis besar ceritanya seperti ini :


11 August 2016

Stuck ( 2007 ) : Satire-horror that 'stuck' with the viewer

Kalian perhatiin deh desain posternya, udah kaya headline tabloid kriminal murahan ya haha. Tapi btw,  cerita  pilem ini emang terinspirasi dari sebuah berita kriminal yang rame di tabloid2 Texas, Amerika di tahun 2001 silam.

Real Story

 

Beritanya emang sangat aneh dan tragis, yaitu tentang insiden tabrak lari yang dilakukan oleh seorang perawat bernama Chante Jawan Mallard. Korbannya adalah Gregory Glen Biggs seorang gelandangan berusia 37 tahun. Jadi folks, karena benturan, tubuh Biggs terlontar menembus kaca depan, membuat dia kemudian nyangkut ( stuck! ) dengan posisi setengah tubuhnya ( dari pinggang keatas ) masuk ke bagian depan mobil Chante. Nah, si Chante  karena panik, bukannya lapor polisi atau ngebawa korban ke RS, malah nerusin perjalanan pulang. Dia lalu nyembunyiin mobilnya di garasi ( dengan tubuh sekarat Biggs masih merintih rintih diatasnya ), dan ngebiarin hobo malang itu akhirnya meninggal kehabisan darah. Sehari kemudian, dibantu dengan dua teman prianya, Chante lalu ngebuang mayat Biggs di sebuah taman. 

Kasus ini sepertinya akan hilang tanpa jejak. Sampe sekitar 3 bulan kemudian, dalam keadaan mabuk, Chante malah nyeritain sendiri insiden ini ke temennya. Si teman yang shock ngedenger cerita itu,  langsung lapor polisi yang segera bergerak cepat menangkap Chante. Setelah menjalani persidangan, pengadilan akhirnya memvonis doi 50 tahun.


Seorang seniman ( Emi Gennis ) membuat cerita bergambar untuk kasus ini, kalian bisa ngeliatnya disini The Unusual Death Of Gregory Biggs

 

23 May 2016

He Never Died ( 2015 ) : Horror dan humor-gelap vampire anti sosial

Kira-kira apa yang akan kalian lakukan dan rasakan jika kalian mempunyai umur yang panjang? Bukan, maksud gue bukan 80 atau 90 tahun. Tapi, 1000, 3000, atau 5000 tahun. Haha 300 tahun pertama mungkin kalian akan mengisinya dengan banyak pesta, tapi bagaimana 1000 tahun kemudian? nah, Ini jadi menarik.

Seperti judulnya yang spoiler ( He Never Died ), seburuk apapun hal-hal menimpa tokoh sentral kita Jack ( Henry Rollins ), dia nggak bisa mati.  Jack sudah mengalami, melihat dan merasakan banyak sekali peristiwa, berbagai macam profesi pun sudah pernah dia lakoni, dan bagian buruknya adalah dia harus selalu meminum darah dan memakan daging manusia. Apa dia itu vampire? atau kanibal? Tak pernah dijelaskan secara pasti, tapi kemungkinan Jack emang vampire ( atau semacamnya lah ). Pendeknya, dia seorang immortal haus darah  yang sudah melihat dan melakukan banyak hal-hal mengerikan di masa lalu.

15 May 2016

Deathgasm ( 2015 )

Terus terang gue nggak terlalu fasih berbicara tentang metal dan referensinya semenjak masa remaja gue telah direnggut dengan menyedihkan oleh Kurt Cobain dan gerombolan ben pecundang dari Seattle lainnya.  Meski begitu, gue masih inget ada beberapa poster Iron Maiden terpasang di kamar gue dulu. Nggak, gue mah nggak ngerti musiknya hehe, gue masang poster Iron Maiden karena menurut gue maskot Eddie The Head nya keren. Selain itu, typography Sepultura juga jadi gaya huruf favorit gue pas milox tembok ruko pasar dengan nama geng kampung kami, Galter ( Gabungan Anak Liar Terminal ).

Tapi kalo diinget, genre musik ini emang deket banget ama tema horror. Gue pernah ngeliat sebuah pentas musik dulu dimana salah satu pementasnya adalah sebuah ben yang konon mengusung genre satanic black metal. Ben ini menamai dirinya Singkill. Nah, sedikit info, Singkil adalah nama untuk sebuah areal pemakaman di desa tetangga yang terkenal angker. Dengan nama itu, para personel ben ini seperti mau nunjukin kalo mereka berasal dari dasar neraka dan baru saja merangkak keluar lewat gerbang alam gaib di pekuburan singkil. 


25 August 2012

THE MONSTER SQUAD (1987)

Gue nggak tau apa yang kalian kerjakan buat ngabisin waktu pas guru dan pelajaran di kelas dulu begitu membosankan. Kalo gue sih, biasanya gue mulai ngerubah halaman belakang buku tulis jadi buku gambar. Iya, corat-coret disitu hehe. dan nggak tau kenapa obyek yang paling sering gue gambar tuh kalo diinget-inget ternyata hantu ama monster ( selain He-Man, The Lone Rangers ama Kura Kura Ninja tentu saja ).

Untuk hantu yang paling sering gue gambar tuh pocong, kuntilanak ama kepala buntung sementara untuk gambar monster, ini yang paling nyenengin, soalnya gue bisa bereksperimen dengan bebas..nyiptain monster2 khayalan sendiri. Misalnya ajaa..bikin monster Pak Siswanto. Guru sejarah ini gue rubah jadi monster gurita dengan sepasang taring mencuat dari mulutnya yang berlumuran darah karena mengunyah kepala temen-temen gue. Selain itu, gue juga suka nggambar monster2 dari pilem atau komik horror/fantasi seperti godzilla, drakula, zombie atau mummy. Tentu yang ini berkaitan erat dengan kedoyanan gue ama pilem dan komik horror semenjak kecil ( hobi yang selalu membuat emak marah-marah karena tiap malem terpaksa nganterin gue pipis ke wc ).

Kok serem amat ya anak kecil hobinya nggambar kaya gitu, haha
Nggak sih , gue cuman pengen bilang kalo sebenernya para villain ( monster ) tuh nggak kalah menarik dari karakter superhero. Dua duanya sama memorable dan menempati ruang khayalnya masing2 dalam kepala gue.

Nah, sungguh menyenangkan pas mengetahui ada anak-anak lain di belahan bumi sebelah sana yang ternyata punya hobi dan passion serupa ama gue, haha walaupun itu ternyata cuma ada dalam pilem :P. yeah, it's 'Monster Squad' !!

Storyline :



Sekumpulan anak kecil yang sangat menyukai pilem horror dan monster membentuk sebuah geng bernama 'Monster Squad' . Aktifitas geng ini selain nonton pilem horor, nggambar monster di kelas ( sama kaya gue ) mereka secara aktif juga berdiskusi membahas masalah per-monster-an. Misalnya, tentang '3 cara membunuh vampire', 'siapa sebenarnya Frankenstein, atau kenapa di pilem2, manusia serigala selalu memakai celana? haha yg terakhir itu kedengeran lebih mirip pertanyaan cewe2 abg untuk pilem 'Twilight'.

Sementara itu diceritain, setelah 100 tahun silam kekuatan kegelapan Dracula berhasil dihancurkan Dr .Abraham Van Helsing, kini makhluk penghisap darah itu kembali ke bumi dengan sebuah rencana besar. Dia memanggil monster-monster lainnya..Werewolf, Mummy, Frankenstein, dan Gillman ( monster dari 'Creature from the Black Lagoon' --gue akan ngereview pilem ini kapan-kapan-- ) buat bergabung dalam sebuah misi kegelapan : nyari amulet ( jimat ) yang akan membuat dunia berada dalam genggaman mereka.

Dengan telah meninggalnya Van Helsing, siapa lagi yang akan menghentikan mereka kali ini?

Ghustbusters? No! The Goonies? No! Scooby Doo? Nooope!..

this is Monster Squad Job!!

REVIEW :

 

Rilis hanya setahun setelah 'Night of The Creeps' yang silly splatter, pilem kedua Fred Dekker ini ternyata lebih kerasa kaya pilem Lima Sekawan, Ghostbusters atau The Goonies versi horror. Hehe ya, Monster Squad gue pikir punya bates yang tipis antara pilem drama, keluarga, anak-anak, komedi, petualangan, dan horror. tapi, whatever Fred Dekker untuk kedua kalinya berhasil mengemasnya menjadi sangat sangat menyenangkan.

Selain karena tetep dipenuhi referensi pilem horror dan hillarious funny line, Dekker juga keliatan seneng ngasih olok-olok sekaligus tribute buat genre b-grade horror ( yang sepertinya adalah genre favorit sang sutradara ) , dan jangan lupain pula keterlibatan sang maestro spesial efek untuk urusan ngedesain monster badass : Stan Winston.



Oke, kostum Drakulanya emang cheesy dan keliatan kaya kostum yg banyak dijual di Pasar Baru, tapi desain Mummy, Werewolf, Gillman dan Frankenstein-nya sangatlah keren. Terutama untuk Mummy dan Werewolf, sekali lagi kerja yang sangat bagus dari Stan Winston, Dan andai saja Fred Dekker mau nambah screen time buat mereka, gue pasti akan ngasih 1 rating lagi buat Monster Squad.

Selain itu ada subplot tentang Frankenstein yang membelot dan berteman dengan Phoebe ( anak kecil cewe annoying yang selalu ditolak masuk geng Monster Squad ), juga cerita tentang tetangga Jerman misterius yang di juluki geng ini sebagai 'Scary German Guy'. funny. Semuanya dibalut ama fast pacing, tanpa terlalu banyak adegan yang sia-sia.



Untuk adegan action nya sediri, jangan terlalu berharap akan penuh head exploding dan eksplisit gore seperti di Night of The creeps, selain satu adegan keren dimana tubuh Werewolf yang hancur bersatu kembali, praktis adegan yang lain terasa sangat karikatural, contohnya, adegan gimana anak-anak ini berhasil menendang 'wolfman's-dork' ( yang menghasilkan line hillarious 'Wolf's got nards!!" ) dan gimana cara mereka mengalahkan Mummy kemungkinannya udah sering kalian liat di pilem kartun Scooby Doo, haha. Emang se kiddies itu, meski sebenernya tetep butuh parental guidance juga mengingat ada adegan salah satu anak ini ngintip cewe ganti baju dan cukup banyak bertebaran f-words.

...........................


So, apa yang membuat Monster Squad tetep terasa sangat menyenangkan buat gue adalah, Fred dekker membuatnya dengan passion dan semangat bersenang-senang. Dia nggak pernah peduli pilemnya bakal laku apa nggak ( nyatanya emang nggak laku hehe ), nggak pernah berpura-pura sedang membuat pilem yang berkualitas, nggak juga sengaja membuat pilem jelek supaya dibilang cult. seperti salah satu quotenya :

" You never set out to make a cult movie."

Dia hanya sedang mengerjakan apa yang dia sangat gemari...dengan penuh antusiasme dan kegembiraan. Dan kalian tau, kegembiraan bisa menular.

Monster Squad membuat anak kecil yang berada dalam tubuh dewasa gue melonjak-lonjak kegirangan lalu pada akhirnya terharu karena merindukan masa itu : 80-an. Masa dimana gue selalu percaya dibawah ranjang ada monster berlendir dan yakin digigit laba-laba akan membuatmu memiliki kekuatan super. Masa dimana dunia kerasa baik-baik saja, langit terlihat selalu cerah, hanya bermain setiap hari, penuh fantasi, imajinasi, nggak punya tanggung jawab dan nggak ditanyain kapan kawin hehe.

Fred Dekker's 'Monster Squad', dengan caranya sendiri berhasil ngelemparin gue kembali ke masa-masa indah itu, persis seperti yang dialami kritikus masakan yang terharu pada masakan sederhana masa kecil nya dalam 'Ratatouille'.

Sungguh disayangkan, karir Fred Dekker ternyata cukup menyedihkan, selepas ngebesut Robocop 3 yang flop dan menuai caci maki dari audiens luas, nggak ada lagi pilem yang dia hasilkan. Kemaren gue nonton ulang 'Robocop 3' dan dia memang cukup keras kepala masukin style nya, ngerubah kisah polisi robot yang sudah lekat dengan tone dark menjadi bright, silly dan kiddies. Itu jelas membuat  Robo-fan murka haha. Mulai dari sini gue berasumsi  nggak ada lagi produser yang mau rugi dengan make jasanya haha. You know, produser nggak butuh predikat cult, mereka butuh duitnya berlipat ganda heheh. 

My name is Horace.. | Whore ass??

Gue sendiri berharap suatu saat dia hadir kembali dan ngasih audiens horror sesuatu yang udah sangat langka gue rasain pada pilem2 horror ke kinian : passion, kejujuran, dan semangat bersenang-senang.

Whatever, Miss You, Fred.



RATING:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



10 July 2012

NIGHT OF THE CREEPS ( 1986 )

Sebagai seorang yang mengaku menggemari pilem horror-splatstick kelas B ( apalagi yang rilis tahun 80-an ), gue sebenernya sudah terlalu banyak ketinggalan. Ada banyak banget judul2 wajib-tonton yang sampai saat ini belum sempet gue buktiin ke-awesome-an ( atau ke bodohannya ). Kenyataan ini sebenernya cukup menyembulkan tanda tanya kalo mengingat kita udah idup di zaman Torrent dimana hampir semua judul pilem udah tersedia di sono. Tinggal donlod aja. Tapi masalahnya, kemampuan modem gue tuh cuman handal ketika dipake buat download...subtitlenya doang haha. Jadi, seringnya sih kalo ngeliat judul dan poster pilem2 horror klasik itu melambai-lambai minta di unduh, gue jadi keinget ketika waktu kecil dulu nyaris netesin air liur pas ngeliat poster 'Six Wild Girls' nya Pheng Tan di pajang di bioskop Mulya, pengen nonton tapi apa daya kaga punya duit haha.

Air liur itu juga berlaku buat judul yang satu ini, Night of The Creeps sebenernya udah lama banget gue masukin dalam daftar list '100 pilem horror jelek tapi keren yang harus gue tonton sebelum bunuh diri', dan oh my.. gue baru berhasil menontonnya...kemaren. Itu pun setelah salah seorang temen yang kelihatannya prihatin, mengirimkan DVD nya ke gue.

Ok, skip 2 paragraf diatas.
Terus, apa bener pilem ini adalah salah satu judul esensial dari genre horror-splatstick kelas B rilisan era sillyness-80?
Langsung aja,

Seperti kebanyakan pilem horror dari subgenre ini, ceritanya bisa diceritain dengan satu paragraf singkat :

Dua mahasiswa pecundang Universitas Corman ( Chris dan J.C ), secara tidak sengaja melepaskan parasit-luar angkasa dari mayat yang diawetkan di laboratorium selama hampir 30 tahun. Hal yang mereka tidak tahu adalah parasit2 yang mirip lintah itu akan memakan otak manusia ( setelah meloncat masuk lewat mulut ) kemudian mengendalikan tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa itu untuk merubahnya menjadi..killer outer-space zombie. 

Sekarang, Detective Cameron, Chris dan Cynthia harus berjibaku melawan zombie2 ini demi menyelamatkan pesta dansa mahasiswa Universitas Corman dari banjir darah.

..............................


Night of the Creeps dibuka dengan adegan yang sangat menarik,

Di sebuah pesawat ruang angkasa, alien-alien ( yang kostumnya lebih mirip Teletubbies :D ) terlihat panik ketika tabung eksperimen mereka terjatuh. 

Cerita segera beralih ke bumi sekitar tahun 50an, 

Sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran tiba2 melihat sebuah meteor jatuh, sang pria ( John ) segera menyelidiki benda langit misterius tersebut, sementara sang wanita ( Pam ) menunggu dengan cemas di mobilnya karena pada saat bersamaan di radio tersiar kabar bahwa seorang pembunuh berkampak baru saja kabur dari penjara. Dengan penuh rasa penasaran, John mendekati meteor yang ternyata adalah tabung ruang angkasa berisi makhluk melata sejenis lintah. Sementara itu, sesosok pria berkampak perlahan-lahan mendekati mobil Pam. Sosok pria berkampak yang ternyata adalah..zombie!


Whoa..hanya dari adegan pembuka ini gue langsung menyadari kalo sutradara pilem ini, ( Fred Dekker ) adalah seorang menyenangkan yang bukan saja senang membuat pilem tapi juga terlihat sangat mencintai genre horror. terutama b-grade horror. Dia baru saja nge-blender berbagai subgenre horror ( scifi, creature, zombie, sampe slasher ) lalu membuat homage dari berbagai referensi judul ( Alien, The Blob, They Came From Within, Invasion of The Body snatchers, sampe materi slasher tahun 80-an ) ke dalam satu scene! Dan senyum gue mulai mengembang.

Ya, memangnya apa yang lebih badass untuk ngebuka sebuah pilem selain weird alien, creepy-crawly-slimy creature, serial killer, dan zombie?


Pilem kemudian berpindah setting lagi ke tahun 80-an.
Dan kita mulai dikenalin ama tokoh Chris ( Jason Lively ) & J.C ( Steve Marshall ) dua mahasiswa geek Universitas Corman yang nantinya akan menjadi biang keladi kekacauan yang terjadi. Dari sini sebenernya pilem beranjak menjadi sedikit membosankan, ketika dia malah berubah suspenseful dengan investigasi Detective Cameron ( Tom Atkins ) atas berbagai kasus pembunuhan brutal yang terjadi di kota itu. Suspense yang tidak perlu, karena toh sejak awal penonton udah tau kalo yang ngelakuinnya adalah zombie yang dikendalikan parasit luar angkasa. Gue semakin tidak sabar ketika scene-scene yang sepertinya akan menjadi menarik, tiba2 kepotong begitu saja dan beralih ke adegan berikutnya.

Tapi, mungkin itu hanya karena gue nggak sabar buat ngeliat sajian silly-gory nya, karena pas gue nonton ini buat ke dua kali, semua bagian dalam Night of the Creeps ternyata tetep kerasa FUN. Termasuk di part yang awalnya bikin gue nggak sabar.

Night of The Living Dead Cat
Dekker seakan paham bener dia lagi bikin pilem horror model apa lantas ngebalut semuanya dengan dialog2 corny-witty dan ngasih banyak hillarious memorable line yang bikin gue ketawa. Selain itu, ada banyak sekali referensi pilem horror b-grade yang dipake Dekker sebagai tribute atau homage dan dia nggak lupa bersenang-senang dengan ngetawain atau mengejek kekonyolan pilem2 itu seperti apa yang kemudian juga dilakukan Wes Craven dalam Scream. What a fun! :D 

Itu masih belum seberapa, karena gue nemuin bahwa banyak tokoh atau tempat dalam pilem ini yang memakai nama2 sutradara cult seperti : sersan Raimi, Det.Cameron, Romero, Cronenberg, Corman, Miller, Landis, Dante, DePalma ( kucing zombie disini juga bernama Gordon, apakah itu merujuk pada Stuart Gordon? ) dan kalian tau siapa nama J.C sebenarnya? James Carpenter Hooper. Whattafuck haha. Kalo kalian mau ngelakuin hal yang sama, tolong masukin nama Fred Dekker ke dalamnya. Asli, ini jelas membuat gue memaafkan bagian investigasi2an yang sebenernya nggak perlu itu.

Mendekati 30 menit akhir, akhirnya pilem mulai beranjak ke arah yang gue harepin. Zombie-zombie mengepung pesta dansa mahasiswa, dan Det.Cameron ngeluarin best hillarious line nya :

" i got good news and bad news girls, the good news is your date are here.."
" What's the bad news? "
"They're Dead."

Dan Dekker ngelunasin janjinya pada gue dengan ngasih banyak zombie, head-exploding, creepy-crawlie-slimy creature..yeah, 20 menit nonstop fun silly-cheapy-gore!


Jagoan kita ( Chris & Cynthia ) beraksi dengan flamethrower dan shotgun. Ngebakar dan ngeledakin kepala zombie2 yang dari dalamnya akan keluar parasit2 seperti lintah. Gory efek nya sendiri sebenarnya lame, tapi gpp, itu nggak ngurangin ke FUN an nya kok, dan gue sangat menghargai usaha Dekker dan kru spesial efek nya. Sedikit kejutan juga ketika menemui kenyataan bahwa ternyata Lionel ( dalam 'Braindead' ) bukan yang pertama beraksi ngebantai zombie2 dengan mesin pemotong rumput, karena Chris sudah lebih dulu melakukannya! Haha gue pikir Night of the Creeps pasti adalah salah satu referensi Peter Jackson ketika membuat Braindead, mengingat adegan2 akhirnya begitu mirip ( pilem lain yang gue liat banyak ngambil referensi dari Night of the Creeps ini adalah Re-Animator dan Slither ).

Thrill Me
Dan meski Chris dan Cynthia sudah beraksi habis2an melawan zombie, karakter Det.Cameron ( Tom Atkins ) lah yang layak disandingkan dengan para badass-horror-heroes lainnya. Dia mencuri perhatian dan menenggelamkan karakter lain dengan line-line nya yang kocak, tak kenal takut, tanpa kompromi, pantang mundur dan mempunyai misi tersendiri terhadap para alien ini : membalas dendam. 

Sandingin Det.Cameron dengan Ash, Lionel, Ben, Ripley, R.J. MacReady, dan Derek maka mereka akan membuat The Expendables dan The Avengers pensiun.

...........................

Well, dengan semua apresiasi positif gue diatas, gue nggak ngerti kenapa Fred Dekker hanya menerima sedikit pengakuan dan respek dari industri perfilman, Tri-Star terlihat nggak antusias ama rilisan ini dan Night of The Creeps nggak punya wide-release atau promosi yang layak. ( Ini juga terjadi pada karya Dekker di tahun berikutnya, The Monster Squad (2007) yang sampe saat ini hanya tersedia dalam format bootleg DVDs di Amerika. ) why? Padahal buat gue Night of The Creeps adalah salah satu yang terbaik di genre spesifiknya, Fred Dekker jelas punya banyak sesuatu yang bisa ditawarkan buat sinema-horror.. Whateva.

so the verdict is,
meminjam salah satu line dari Det.Cameron :

" Zombies, exploding heads, creepy-crawlies... and a date for the formal. This is classic, Spanky. "

Yup, ini pilem horror b-grade sejati yang dibuat oleh sutradara penggemar horror b-grade sejati untuk audiens horror b-grade sejati. Highly recommended. Enjoy this,..jangan lupa siapin popcorn ama bir yang banyak.

Jadi, sekarang pilem wajib-tonton gue berikutnya adalah 'The Monster Squad' ( 1987 ), tolong siapa aja yang punya pilem itu buat menghibahkannya ke gue hehe.
ya gue tau..gue udah ketinggalan lagi :D


RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



24 July 2011

TUCKER & DALE VS EVIL ( 2010 )

Reviewed by ‘R’

Eli Craig ( sutradara debutan yang sebelumnya adalah seorang aktor gagal ) bekerja sama dengan co-writer Morgan Jurgenson menyapa horror-fan dengan sebuah konsep yang kalo gue baca di review-review blog/web laen sepertinya menawarkan sebuah slasher - komedi yang fresh sekaligus tetep setia nampilin elemen tradisionalnya : silly chase, hot-girl with big boobs, dan tentu saja..gory death. 

Ah..Bukannya sebuah tawaran yang sayang buat dilewatkan?

Tucker ( Alan Tudyk ) dan Dale ( Tyler Labine ) adalah dua orang hillbillies ( sebutan buat orang yang tinggal di hutan, bukit, apa gunung.—biasanya di deskripsiin sebagai aneh dan nggak ngikutin fashion-- ) yang berencana ngabisin waktu di pondok mereka di tengah hutan.
Kebeneran serombongan remaja kuliahan juga terlihat berencana kemping di tempat yang nggak jauh dari pondok mereka.

Nah, sebuah insiden kecil yang berawal dari prasangka dan kesalah-pahaman membuat rombongan remaja kuliahan ini mengira sedang berhadapan dengan semacem kawanan kanibal ala ‘Texas Chainsaw Massacre’ apa ‘Wrong Turn’. Kesalah pahaman ini kemudian semakin memburuk yang akhirnya malah mengakibat kan satu-persatu dari mereka menemui ajal secara konyol.

Kematian konyol yang di jelasin Tucker dengan polos sebagai : “ a bunch of college kids runnin’ around killin’ themselves..!” haha. 

…………………..

THIS REVIEW MAY CONTAINS SPOILER

Asli, menit-menit pertama pelem ini begitu hilarious. Eli Craig berhasil nge-mix laugh & gore dengan brillian buat memaksa penonton tertawa ngakak sekaligus menjerit : “ouch!” . Yeah..Nggak ada lagi yang lebih menyenangkan dari ngeliat rombongan remaja idiot tewas satu persatu..


Tentu saja selain ngeliat sheriff tewas dengan cara kaya gini,

bukan karena pembunuh maniak tapi karena kebodohannya sendiri. Gue bahkan nggak akan bosen seandainya itu terjadi sepanjang durasi. haha ini jelas Sebuah ide segar yang membuat gue berfikir ‘kenapa yang kaya gini enggak pernah kepikiran dari dulu yah..’

Nyampe, titik ini gue bahkan ngerasa Eli Craig itu seorang jenius yang ngebawa teen-slasher ke jalur sebenernya. Eh sebentar, emang lu  nganggep kisah maniak bertopeng ( yang susah mati + bisa muncul dimana saja ) ngebantai rombongan remaja kesasar yang kehilangan sinyal henpon itu bukan komedi?

Namun prends, euphoria gue nggak lama. Karena ternyata seperti ‘a bunch of college kids’ diatas , gue terlalu cepat nge-judge pelem ini hanya dari menit2 pertamanya .


Ketika pelem terus berjalan dan mendekati akhir, jelas keliatan kalo ‘materi-seger’ dari Tucker & Dale Vs Evil cuma bisa gue dapetin di 40 menit awal saja. Selebihnya Eli Craig keliatan memaksa agar pelem menjadi berdurasi pas 86 menit dan maen aman dengan plot akhir yang sama sekali tidak se-istimewa premise nya..

Iye, berkebalikan dari konsep teen slasher-parodical yang sejak awal ditawarin Eli Craig, masuk ke separo akhir, ‘Tucker and Dale Vs Evil’ tiba2 seperti mengkhianati konsep itu dengan berbelok menjadi pelem slasher beneran, lengkap dengan antagonis beneran plus adegan2 tipikal yang sangat klise dan predictable. 

Die berubah dari pelem menyenangkan yang ngetawain ke-klise annya sendiri, jadi pelem yang nyiptain klise buat gue ketawain saking membosankannya.

Sementara itu, twist kecil yang diselipin sama sekali nggak ngebantu naekin mood gue yang udah keburu turun.

Dan momen yang menggenapi hilangnya interest gue adalah ketika diceritain Dale mengalami pencerahan psikologis instan. Maksud gue, kalo lu orang culun yang punya krisis percaya diri parah, lu bisa nyoba dengerin petuah sohib lu yang lagi terluka parah.

Dale’s grown-personality ini terus terang mengecewakan mengingat keluguan duo pria gunung-pecundang ‘Tucker & Dale’ ini adalah salah satu ide yang ngebuat konsep teen slasher-komedi yang diusung Eli Craig di menit awal terasa segar, beda dengan teen-slasher laen dan berhasil bikin gue ngakak.


Sayang banget, soalnye karakter awal ‘Tucker & Dale’ sebenernya juga punya potensi buat menjadi horror-icons selanjutnya setelah Ash atau Derek. Semacem Mr. Bean nya pelem slasher lah haha. Lu bisa bayangin malapetaka macam apa yang bisa ditimbulin dua pria ‘ innocent tapi selalu berada dalam masalah ‘ ini kalo seandainya mereka pergi ke kota dalam pelem berjudul ‘Tucker & Dale in New York’.

Ya, mungkin Eli Craig nggak pernah mikir sejauh itu, dan cuman pengen bikin satu pelem hiburan satir ringan sekaligus nyampein pesan naïf ‘don’t judge book by it’s cover’ nya. Yang artinye, kalo lu lagi ada diterminal Pulogadung, terus tiba2 ada pria sangar-brewokan-bertatto nyamperin sambil megang piso dan nyoba minjem hp yang lagi lu pegang, jangan berburuk sangka dulu, kasihin aja hp lu sambil kasi senyum manis, karena siapa tau dia cuman mau ngasih lu pulsa gratis. Eh..?

Overall, Alan Tudyk dan Tyler Labine mencuri perhatian dengan peran mereka sebagai duo hillbillies yang ngingetin gue ama duo hillbillies brutal di ”Deliverance', Peran keduanya sangat mudah disukai penonton dan selalu berhasil memancing tawa. Sementara Katrina Bowden selaen ngasih sedikit boner juga sukses berperan sebagai gadis remaja yang maen bowling terus berciuman tanpa trauma sedikitpun setelah 7 temennya tewas dengan cara mengenaskan. Laurie Strode ama Sidney Prescott tentu bakalan heran ngeliatnya.

................................................

Jadi final verdict nya,
Nge-skip semua komentar personal gue diatas, sebagai pelem yang dibikin oleh orang yang baru aja mengawali karir sutradara nya, gue tetep nggak ragu ngasih applause buat effortnya. Yup, ‘ Tucker & Dale vs Evil’ masih sangat berpeluang menciptakan gemuruh tawa kalo ditonton rame-rame, gue juga masih akan tetep mengingat adegan Dale berlari panik ( karena dikerubutin tawon ) sambil ngayunin gergaji mesin sebagai salah satu ‘most silly-death in horror movies’, 
tapi sebagai sebuah film secara keseluruhan, ‘Tucker & Dale Vs Evil’ masuk kategori pelem yang bakal mudah gue lupain.





Rating : 
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic