Showing posts with label b-movie. Show all posts
Showing posts with label b-movie. Show all posts

01 December 2016

SOCIETY ( 1989 ) : WHAT THE FUCK DID I JUST WATCH??!

Brian Yuzna mengawali karir profesional perfilmannya sebagai  produser film splatstick horror keren yang sekarang menjadi cult classic, Re Animator ( 1985 ). Kaya yang kita tau, film yang disutadarai Stuart Gordon ini sukses. Selepas itu, Gordon dan Yuzna tercatat kembali terlibat di beberapa proyekan film yang juga cukup mendapat apresiasi positif dari penggemar B-horror ( From Beyond ( 1986 ), Dolls ( 1987 ), Dagon ( 2001 ) )

Namun rupanya, Yuzna tidak puas hanya duduk manis sebagai produser, dia pengen tantangan baru. Menurutnya, " produser mungkin mendapat uang paling banyak, tapi sutradaralah yang pada akhirnya mendapat semua kredit " haha.  Maka, ketika pada suatu hari seorang kolega menawarinya untuk menyutradarai sebuah film, tanpa pikir panjang dia langsung menyanggupinya. Ini menarik, kalo nginget Yuzna tuh sebenernya nggak memiliki bakat sebesar Gordon, dia nggak punya background resmi pendidikan film dan semata-mata dikenal hanya karena memproduseri Re-Animator ( yang kebetulan sukses ) haha. Tapi, bodo amat. Kesempatan datang, dan dia nggak ingin menyia-nyiakannya. 

Naskah untuk directorial debut Yuzna ditulis oleh Rick Fry. Ketika pertama kali membacanya, Yuzna langsung tertarik. Itu tentang paranoia dan punya banyak suspense didalamnya. Namun, bagian endingnya ( yang tentang sekte pemuja darah ) rupanya kurang membuatnya terkesan. Yuzna pun berniat mengganti bagian itu dengan sesuatu yang lebih aneh, surreal, fantastis dan imajinatif. Hanya saja saat itu dia belum memiliki ide. Kemudian, mungkin setelah ngabisin beberapa botol alkohol dan berjam-jam merenung di wc, akhirnya ilham itu turunlah. Dia teringat mimpi buruknya, dan Eurekaaa! seketika bohlam menyala terang diatas kepalanya, ngasih dia ide untuk me reka-ulang mimpi buruk itu menjadi  sebuah sekuens yang akan ditaronya di film. Dan holy shit, sekuens yang sangat imajinatif itu, jujur aja ternyata jadi satu-satunya poin paling brillian di debut filmnya ini haha

Kita ke premisenya dulu. 

07 October 2016

( TV-SERIES ) ASH VS EVIL DEAD ( 2015 - ) Season 01 : HE'S BACK!

Ash VS Evil Dead season 01 udah selesai Januari lalu, dan Season 02 nya baru aja dimulai. Sampe sejauh itu, sebenernya gue belum tertarik buat nyoba nonton. Alasan utamanya jelas, gue nggak yakin semua hal yg bikin franchise ini jadi asik ( blood, gore, prostetik ) bakal ke display di layar TV.  Bukan apa-apa, The Evil Dead versi original ( 1981 & 1987 ), beberapa kali gue pergoki tayang di TV swasta, dan TV ngebuang nyaris semua bagian asiknya sampe durasi film kesisa tinggal 45 menit doang. Tanpa materi R-rated nya, apa poin dari nonton ini coba? 
 
Nah, kemaren nggak tau kenapa tiba-tiba gue ngeklik trailer untuk Season 02 nya, dan terkejutlah gue..holy shit, organ-organ tubuh berterbangan! haha 


Terus terang gue emang nggak familiar ama TV-Series, dan sampe sejauh mana sebenernya peran badan sensor di sono ( Amerika ) dalam menentukan layak atau tidaknya konten sebuah program TV. Mungkinkah ada konten TV yang memiliki rating R? 

Ah ya, mungkin gue nya aja yang kurang apdet, maklumlah boro-boro TV kabel,  emak aje sering nyuruh gue muter-muterin antena supaya channel yang nayangin Uttaran nggak goyang. 

Btw, ini trailer untuk season 02 nya :


Jadi folks, gue mutusin buat nyoba ini ( terima kasih buat internet yang nyediain semuanya.) . Dan biar afdol, gue akan memulainya dari Season 01  dulu. 
 
Garis besar ceritanya seperti ini :


15 May 2016

Deathgasm ( 2015 )

Terus terang gue nggak terlalu fasih berbicara tentang metal dan referensinya semenjak masa remaja gue telah direnggut dengan menyedihkan oleh Kurt Cobain dan gerombolan ben pecundang dari Seattle lainnya.  Meski begitu, gue masih inget ada beberapa poster Iron Maiden terpasang di kamar gue dulu. Nggak, gue mah nggak ngerti musiknya hehe, gue masang poster Iron Maiden karena menurut gue maskot Eddie The Head nya keren. Selain itu, typography Sepultura juga jadi gaya huruf favorit gue pas milox tembok ruko pasar dengan nama geng kampung kami, Galter ( Gabungan Anak Liar Terminal ).

Tapi kalo diinget, genre musik ini emang deket banget ama tema horror. Gue pernah ngeliat sebuah pentas musik dulu dimana salah satu pementasnya adalah sebuah ben yang konon mengusung genre satanic black metal. Ben ini menamai dirinya Singkill. Nah, sedikit info, Singkil adalah nama untuk sebuah areal pemakaman di desa tetangga yang terkenal angker. Dengan nama itu, para personel ben ini seperti mau nunjukin kalo mereka berasal dari dasar neraka dan baru saja merangkak keluar lewat gerbang alam gaib di pekuburan singkil. 


28 October 2012

DOG SOLDIERS ( 2002 )

Gue bisa nyebutin banyak bangat pilem tentang zombie atau vampire yang keren, tapi kalo ditanya pilem tentang manusia serigala ( werewolf ) yg memorable dan badass, hmmm..kayanya gue cuma bisa ngitungnya dengan sebelah jari tangan saja,
let's check..An American Werewolf in London (1981) (gue akan nyeritain pilem ini dalam review terpisah ), The Howling (1981), Ginger Snaps (2000)..apalagi ya? remake The Wolfman ( 2010 )? hm,  i don't think so. Twilight? aah, c'mon yang bener aja. Nah, sedikit sekali ternyata, cuma inget 3 judul. (  ada yang mau ngasih gue rekomendasi judul laen? ).

Jadi, pas suatu hari seorang temen berkicau tentang betapa badass nya serigala jejadian dalam 'Dog Soldiers', gue pun mengeluh kenapa ya dulu selalu ngelewatin pilem ini pas di rental DVD, mungkin karena ngebaca judulnya gue mengira ini pilem tentang anjing yang menjadi tentara (?) atau kemungkinan lainnya, mungkin karena Twilight udah ngilangin selera gue buat peduli ama kisah manusia serigala ( hal yang sama juga terjadi pada vampire ), Padahal setelah di cek, pilem ini ternyata adalah directorial debut dari Neil Marshall, nama yang kita kenal bertanggung jawab atas kisah horror klaustrofobik monster goa nan fenomenal 'The Descent' ( 2005), nama yang ini nggak mungkin bikin emo teen werewolf in love kan?  segera saja gue memerintahkan divisi per-download-an untuk mengunduh file nya. Tentu saja setelah gue menyogoknya dengan semangkok siomay.

Ok, kita liat kaya apa pilemnya :)

Storyline : 

Satu squad tentara Inggris di bawah pimpinan Sgt. Harry Wells (Sean Pertwee) di terjunkan ke hutan Skotlandia untuk menjalankan latihan militer rutin. Misi latihan yang awalnya lebih mirip acara piknik para tentara lengkap dengan candaan kasar dan api unggun, mendadak berubah ketika seseorang ( atau sesuatu ? ) melemparkan bangkai sapi ke arah mereka. Penasaran, mereka mulai mencari tahu siapa yang melakukannya. Tak lama kemudian squad ini mulai sadar sedang berhadapan dengan musuh nyata ketika mereka menemukan base camp batalion lain dalam keadaan porak poranda, penuh darah dan organ tubuh berceceran. Di tempat itu pula, mereka menemukan Capt.Ryan (Liam Cunningham) dalam keadaan sekarat, usus nya terburai. Dia meracau tentang makhluk buas yang telah merobek perut dan membantai anak buahnya.

We are now up against live, hostile targets. So, if Little Red Riding Hood should show up with a bazooka and a bad attitude, I expect you to chin the bitch!.” Sgt. Harry Wells mengeluarkan perintah.

ketika hari mulai gelap, sosok-sosok besar berbulu dengan taring tersembul dari mulutnya mulai terlihat diantara kegelapan dan pohon-pohon, mengintai mereka. itu Werewolf!

dan horror pun di mulai.

Review :


Diawali ama adegan penerjunan squad ini ke hutan Skotlandia, pilem mulai ngenalin para anggota cast. Biasanya, ini bagian yang rada ngebosenin buat diliat, itu soalnya di kebanyakan pilem lain kita tau mereka cuma 'daging kurban' yang perannya emang cuma buat di makan monster.  Si penakut di telen pertama, si menyebalkan di caplok berikutnya etc, tapi untunglah pengkarakteran para tokoh disini gue pikir tidak terlalu dibuat buat, natural dan unik satu sama lain, satu satunya kesamaan mereka cuma : sama sama foul-mouthed! So, no stereotypes there then. 
Pada gilirannya, ini membuat gue kemudian merasa terlibat secara emosi dan tidak hanya menganggap mereka sebagai 'future victims' belaka. Gue sendiri sangat suka Karakter Spoon ( Darren Morfitt ) dan Sersan Wells ( Sean Pertwee ) . Khusus nama terakhir, dia berakting sangat baik disini meski akting terbaiknya hanyalah ketika memerankan orang yang tewas dengan sangat mengenaskan ( cek di 'Doomsday', 'Wilderness', atau 'Event Horizon' ) haha. 

Sementara itu, dialognya menggunakan logat british yang kental lengkap dengan makian dan joke yang beberapa diantaranya cuman bakal bikin ngakak orang Inggris doang. Gue sering membuka google translate cuma buat ngertiin apa yang lagi mereka omongin dan tetep nggak ngerti haha tapi untungnya lagi lebih banyak yang berhasil bikin gue ketawa. Hal, yang gue suka lainnya, skripnya punya banyak lines memorabel.

Selain karakter yang natural dan nggak stereotip, reaksi mereka ngadepin makhluk jejaden ini juga nggak kaya tokoh di kebanyakan pilem horror laen yang biasanya cuma ngejerit frustasi sambil memekik " oh God..What the hell are these fucking things?!". Abis itu ngelakuin hal yang luar biasa bodoh.

Cek reaksi sersan Wells ketika ngeliat ususnya mbrojol, dia cuma menatap ususnya sambil menggumam " sosis.." badass! haha

atau yang ini :


Mereka beneran kaya tentara, lengkap dengan attitude nganggep semua hal sebagai  bullshit, nggak gampang frustasi dan selalu punya strategi. Ketika amunisi mulai menipis, nggak segan mereka menggunakan penggorengan buat senjata, dan bahkan ketika penggorengan udah nggak ada, salah seorang diantara mereka ( prajurit Spoon..whoa, i love Spoon! ) tak gentar menantang duel adu jotos. Ya, adu jotos melawan werewolf!!
"Come On, Beauties!! "
Gimana dengan efek nya sendiri? kalo mengingat ini adalah sebuah pilem dengan bujet cekak, gue cukup khawatir kru pilem bakal make CGI medioker buat nyiptain sosok sang siluman serigala. Tentunya, gue bukan anti-CGI, tapi masalahnya ketidakhadiran fisik sang monster dalam setting dan aktor yang cuma berakting di depan green screen biasanya gagal menghadirkan feel terror yang hendak dicapai, lebih buruk lagi  penggunaan CGI di banyak pilem horror low budget sering ngerubah horror malah menjadi komedi menyedihkan nan absurd.
Gue bisa nikmatin 'komedi' diatas pada lain waktu dengan mood yang berbeda. tapi, saat nonton 'Dog soldiers'  gue cuma pengen siluman serigala yang badass!

Dan Marshall bersama divisi spesial efek di pilem ini ngejawab request gue dengan nyiptain kepala werewolfnya menggunakan teknologi animatronik.

cek,



Bagian tubuhnya sendiri tetap menggunakan aktor yang memakai kostum prostetik, dan jika kalian bertanya mengapa sang serigala keliatan tinggi, itu karena sang aktor juga memakai 'stilts' ( semacam egrang mekanis ) dibalik kostumnya haha

Liat gimana owsom nya egrang mekanis yang gue maksud :


Gua baca dalam sebuah wawancara, Neil Marshall emang menolak menggunakan CGI karena dianggap over-used padahal teknologi animatonik menurutnya sudah sangat pesat.

" I wanted to tried and tested method ( animatronics ) because i needed the werewolfes in the same frame as the actors so they could properly react to what they were seeing in order to communicate total pulse -pounding terror to a wide-eyed audience ". Neil Marshall

Dan hasilnya memang efektif, kehadiran fisik sang monster mampu memaksimalkan terror yang hendak disampein. Reaksi yang diharapkan dari para aktor dapet. Feelnya dapet. Walaupun memang nggak se-spektakuler SFX di 'An American Werewolf in London'  &  di beberapa adegan mimik sang serigala terlihat sedikit kaku ( maklum robot hehe ), namun sedikit kelemahan ini mendapat support dari kerja kamera dan editing yang tepat guna. Gue mencatat ada beberapa adegan dramatis dari pemunculan sang serigala jejadian yang cukup memorabel. Sementara itu, untuk desainnya sendiri lebih mirip serigala besar yang bisa berdiri. Bagian kaki dan tangannya terlihat kurus tapi berotot dan hanya mempunyai sedikit bulu. Seinget gue, cuma 'The Howling' (1981 ) yang punya desain hampir serupa. Keren!


Jadi, 2 hal penting udah berhasil membuat gue tersenyum, character development yang menarik ama keputusan nggak make CGI. Berikutnya, gimana dengan ceritanya?

Buat sebuah flick horror berdana rendah yang punya premis werewolf vs serombongan tentara, gue jelas nggak naro harepan bakal dapet cerita yang outstanding. Pokoknya kasi aja adegan serigala menerkam ama adegan tembak-tembakan ( libatkan granat + bazooka kalo perlu ) yang banyak, itu aja udah udah cukup bikin otak gue lebih enteng. Dan Marshall kembali ngasih gue lebih dari yang gue harepin. Tetep nggak outstanding sih, tapi ceritanya tuh keliatan bener2 di pikirin buat bisa ngedukung semua aksi dan karakter di dalamnya. Tak lupa dia nyelipin beberapa twist, yang salah satunya sebenarnya udah bisa ditebak di pertengahan durasi, tapi bagaimanapun ini rasanya kaya beli chiki dan nemu selembar ribuan di dalamnya. surprise! haha.

Selain itu 'Dog Soldiers' juga punya banyak referensi pilem cult horror favorit gue, misalnya aja di menit-menit awal dia ngingetin gue ama 'Predator', ketika cerita mulai bergerak dan squad menemukan kabin, jelas ingatan gue melayang pada 'Evil Dead', berikutnya seluruh durasi pilem dihabisin didalam kabin tersebut, squad mulai membuat barikade dan mencoba bertahan dari werewolfes yang mengepung diluar. Disini banyak adegan yang gue rasa ngambil referensi dari 'Night of the Living dead', 'Zulu', 'Aliens', 'Dawn of The Dead', 'Gremlins' dll. Gue sih seneng ngeliatnya, rasanya kalo suatu saat gue bikin pilem pun bakalan dengan seneng hati ngasih tribut buat pilem2 keren favorit gue dengan nge-homage nya. Dan nggak usah khawatir ini bakal kerasa repetitif, karena 'Dog Soldiers' juga punya beberapa adegan orisinil-fresh yang salah satunya bikin gue ngakak, misalnya, adegan prajurit Cooper ngelem usus Sersan Wells yang mbrojol pake superglue. WTF?!



Dari tadi muji muji mulu, jadi ini pilem yang layak dapat rating 10 gitu? sayangnya bukan. Rating 10  udah gue kasih buat 'Braindead' haha.

MINUS POINT :
- Ada beberapa pemunculan werewolf yang stylish & memorabel, tapi gue bakalan lebih seneng kalo penampakan full frontal dari sang werewolf ditambah. Sebagian besar penampakannya emang cuma ditunjukin sekilas2 dalam adegan yang cepat, berbentuk siluet atau close up
- Terima kasih untuk darah, usus mbrojol dan satu adegan yang berhubungan dengan kepala buntung. Itu sangat brutal, Terima kasih juga udah nggak make CGI. Tapi, lebih banyak on screen gory scene, please.
- kamera yang goyang dan perpindahan antar adegan yang sering terlalu cepet, terutama di adegan2 kontak terbuka dengan para werewolf. Tujuannya jelas buat nyiptain 'sense of urgency dan speed', emang sih berhasil, dan gue suka kesan RAW yang dihasilin, tapi kadang bikin pusing juga.
- Aksen british yang kental, bikin gue sering nggak ngerti mereka lagi ngomong apaan haha.

..................................

Overall, dengan segala kekurangannya, 'Dog Soldiers' adalah pilem horror kecil yang nyaris nggak kedeteksi 'radar' , namun kala ditemukan dia secara mengejutkan mampu ngasih gue lebih dari yang di ekspektasiin, karenanya dia layak untuk direkomendasikan. Sebuah kerja yang sangat bagus dari seorang debutan.

Rough, fast pacing, intense, twisty, brutal sekaligus funny.

Dan yang paling penting, 

Neil Marshall berhasil ngingetin kita akan fitrah werewolf sebagai makhluk mitologi yang setiap bulan purnama akan mendedikasikan hidupnya buat mencabik dan memamah daging manusia..

dan bukannya galau gara2 cinta segitiga. ho-hum.

Highly recommended.

RATING:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


.......................................

 ++ Sempat tersiar kabar, kalo sekuelnya sedang diproduksi ( Dog soldiers : Fresh Meat ) dengan Rob Green sebagai sutradara. tapi, setelah blusukan kesana kemari nyari informasi, gue ngedapetin official update kalo proyek itu ternyata batal terealisasi. nggak tau kenapa.

25 August 2012

THE MONSTER SQUAD (1987)

Gue nggak tau apa yang kalian kerjakan buat ngabisin waktu pas guru dan pelajaran di kelas dulu begitu membosankan. Kalo gue sih, biasanya gue mulai ngerubah halaman belakang buku tulis jadi buku gambar. Iya, corat-coret disitu hehe. dan nggak tau kenapa obyek yang paling sering gue gambar tuh kalo diinget-inget ternyata hantu ama monster ( selain He-Man, The Lone Rangers ama Kura Kura Ninja tentu saja ).

Untuk hantu yang paling sering gue gambar tuh pocong, kuntilanak ama kepala buntung sementara untuk gambar monster, ini yang paling nyenengin, soalnya gue bisa bereksperimen dengan bebas..nyiptain monster2 khayalan sendiri. Misalnya ajaa..bikin monster Pak Siswanto. Guru sejarah ini gue rubah jadi monster gurita dengan sepasang taring mencuat dari mulutnya yang berlumuran darah karena mengunyah kepala temen-temen gue. Selain itu, gue juga suka nggambar monster2 dari pilem atau komik horror/fantasi seperti godzilla, drakula, zombie atau mummy. Tentu yang ini berkaitan erat dengan kedoyanan gue ama pilem dan komik horror semenjak kecil ( hobi yang selalu membuat emak marah-marah karena tiap malem terpaksa nganterin gue pipis ke wc ).

Kok serem amat ya anak kecil hobinya nggambar kaya gitu, haha
Nggak sih , gue cuman pengen bilang kalo sebenernya para villain ( monster ) tuh nggak kalah menarik dari karakter superhero. Dua duanya sama memorable dan menempati ruang khayalnya masing2 dalam kepala gue.

Nah, sungguh menyenangkan pas mengetahui ada anak-anak lain di belahan bumi sebelah sana yang ternyata punya hobi dan passion serupa ama gue, haha walaupun itu ternyata cuma ada dalam pilem :P. yeah, it's 'Monster Squad' !!

Storyline :



Sekumpulan anak kecil yang sangat menyukai pilem horror dan monster membentuk sebuah geng bernama 'Monster Squad' . Aktifitas geng ini selain nonton pilem horor, nggambar monster di kelas ( sama kaya gue ) mereka secara aktif juga berdiskusi membahas masalah per-monster-an. Misalnya, tentang '3 cara membunuh vampire', 'siapa sebenarnya Frankenstein, atau kenapa di pilem2, manusia serigala selalu memakai celana? haha yg terakhir itu kedengeran lebih mirip pertanyaan cewe2 abg untuk pilem 'Twilight'.

Sementara itu diceritain, setelah 100 tahun silam kekuatan kegelapan Dracula berhasil dihancurkan Dr .Abraham Van Helsing, kini makhluk penghisap darah itu kembali ke bumi dengan sebuah rencana besar. Dia memanggil monster-monster lainnya..Werewolf, Mummy, Frankenstein, dan Gillman ( monster dari 'Creature from the Black Lagoon' --gue akan ngereview pilem ini kapan-kapan-- ) buat bergabung dalam sebuah misi kegelapan : nyari amulet ( jimat ) yang akan membuat dunia berada dalam genggaman mereka.

Dengan telah meninggalnya Van Helsing, siapa lagi yang akan menghentikan mereka kali ini?

Ghustbusters? No! The Goonies? No! Scooby Doo? Nooope!..

this is Monster Squad Job!!

REVIEW :

 

Rilis hanya setahun setelah 'Night of The Creeps' yang silly splatter, pilem kedua Fred Dekker ini ternyata lebih kerasa kaya pilem Lima Sekawan, Ghostbusters atau The Goonies versi horror. Hehe ya, Monster Squad gue pikir punya bates yang tipis antara pilem drama, keluarga, anak-anak, komedi, petualangan, dan horror. tapi, whatever Fred Dekker untuk kedua kalinya berhasil mengemasnya menjadi sangat sangat menyenangkan.

Selain karena tetep dipenuhi referensi pilem horror dan hillarious funny line, Dekker juga keliatan seneng ngasih olok-olok sekaligus tribute buat genre b-grade horror ( yang sepertinya adalah genre favorit sang sutradara ) , dan jangan lupain pula keterlibatan sang maestro spesial efek untuk urusan ngedesain monster badass : Stan Winston.



Oke, kostum Drakulanya emang cheesy dan keliatan kaya kostum yg banyak dijual di Pasar Baru, tapi desain Mummy, Werewolf, Gillman dan Frankenstein-nya sangatlah keren. Terutama untuk Mummy dan Werewolf, sekali lagi kerja yang sangat bagus dari Stan Winston, Dan andai saja Fred Dekker mau nambah screen time buat mereka, gue pasti akan ngasih 1 rating lagi buat Monster Squad.

Selain itu ada subplot tentang Frankenstein yang membelot dan berteman dengan Phoebe ( anak kecil cewe annoying yang selalu ditolak masuk geng Monster Squad ), juga cerita tentang tetangga Jerman misterius yang di juluki geng ini sebagai 'Scary German Guy'. funny. Semuanya dibalut ama fast pacing, tanpa terlalu banyak adegan yang sia-sia.



Untuk adegan action nya sediri, jangan terlalu berharap akan penuh head exploding dan eksplisit gore seperti di Night of The creeps, selain satu adegan keren dimana tubuh Werewolf yang hancur bersatu kembali, praktis adegan yang lain terasa sangat karikatural, contohnya, adegan gimana anak-anak ini berhasil menendang 'wolfman's-dork' ( yang menghasilkan line hillarious 'Wolf's got nards!!" ) dan gimana cara mereka mengalahkan Mummy kemungkinannya udah sering kalian liat di pilem kartun Scooby Doo, haha. Emang se kiddies itu, meski sebenernya tetep butuh parental guidance juga mengingat ada adegan salah satu anak ini ngintip cewe ganti baju dan cukup banyak bertebaran f-words.

...........................


So, apa yang membuat Monster Squad tetep terasa sangat menyenangkan buat gue adalah, Fred dekker membuatnya dengan passion dan semangat bersenang-senang. Dia nggak pernah peduli pilemnya bakal laku apa nggak ( nyatanya emang nggak laku hehe ), nggak pernah berpura-pura sedang membuat pilem yang berkualitas, nggak juga sengaja membuat pilem jelek supaya dibilang cult. seperti salah satu quotenya :

" You never set out to make a cult movie."

Dia hanya sedang mengerjakan apa yang dia sangat gemari...dengan penuh antusiasme dan kegembiraan. Dan kalian tau, kegembiraan bisa menular.

Monster Squad membuat anak kecil yang berada dalam tubuh dewasa gue melonjak-lonjak kegirangan lalu pada akhirnya terharu karena merindukan masa itu : 80-an. Masa dimana gue selalu percaya dibawah ranjang ada monster berlendir dan yakin digigit laba-laba akan membuatmu memiliki kekuatan super. Masa dimana dunia kerasa baik-baik saja, langit terlihat selalu cerah, hanya bermain setiap hari, penuh fantasi, imajinasi, nggak punya tanggung jawab dan nggak ditanyain kapan kawin hehe.

Fred Dekker's 'Monster Squad', dengan caranya sendiri berhasil ngelemparin gue kembali ke masa-masa indah itu, persis seperti yang dialami kritikus masakan yang terharu pada masakan sederhana masa kecil nya dalam 'Ratatouille'.

Sungguh disayangkan, karir Fred Dekker ternyata cukup menyedihkan, selepas ngebesut Robocop 3 yang flop dan menuai caci maki dari audiens luas, nggak ada lagi pilem yang dia hasilkan. Kemaren gue nonton ulang 'Robocop 3' dan dia memang cukup keras kepala masukin style nya, ngerubah kisah polisi robot yang sudah lekat dengan tone dark menjadi bright, silly dan kiddies. Itu jelas membuat  Robo-fan murka haha. Mulai dari sini gue berasumsi  nggak ada lagi produser yang mau rugi dengan make jasanya haha. You know, produser nggak butuh predikat cult, mereka butuh duitnya berlipat ganda heheh. 

My name is Horace.. | Whore ass??

Gue sendiri berharap suatu saat dia hadir kembali dan ngasih audiens horror sesuatu yang udah sangat langka gue rasain pada pilem2 horror ke kinian : passion, kejujuran, dan semangat bersenang-senang.

Whatever, Miss You, Fred.



RATING:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



10 July 2012

NIGHT OF THE CREEPS ( 1986 )

Sebagai seorang yang mengaku menggemari pilem horror-splatstick kelas B ( apalagi yang rilis tahun 80-an ), gue sebenernya sudah terlalu banyak ketinggalan. Ada banyak banget judul2 wajib-tonton yang sampai saat ini belum sempet gue buktiin ke-awesome-an ( atau ke bodohannya ). Kenyataan ini sebenernya cukup menyembulkan tanda tanya kalo mengingat kita udah idup di zaman Torrent dimana hampir semua judul pilem udah tersedia di sono. Tinggal donlod aja. Tapi masalahnya, kemampuan modem gue tuh cuman handal ketika dipake buat download...subtitlenya doang haha. Jadi, seringnya sih kalo ngeliat judul dan poster pilem2 horror klasik itu melambai-lambai minta di unduh, gue jadi keinget ketika waktu kecil dulu nyaris netesin air liur pas ngeliat poster 'Six Wild Girls' nya Pheng Tan di pajang di bioskop Mulya, pengen nonton tapi apa daya kaga punya duit haha.

Air liur itu juga berlaku buat judul yang satu ini, Night of The Creeps sebenernya udah lama banget gue masukin dalam daftar list '100 pilem horror jelek tapi keren yang harus gue tonton sebelum bunuh diri', dan oh my.. gue baru berhasil menontonnya...kemaren. Itu pun setelah salah seorang temen yang kelihatannya prihatin, mengirimkan DVD nya ke gue.

Ok, skip 2 paragraf diatas.
Terus, apa bener pilem ini adalah salah satu judul esensial dari genre horror-splatstick kelas B rilisan era sillyness-80?
Langsung aja,

Seperti kebanyakan pilem horror dari subgenre ini, ceritanya bisa diceritain dengan satu paragraf singkat :

Dua mahasiswa pecundang Universitas Corman ( Chris dan J.C ), secara tidak sengaja melepaskan parasit-luar angkasa dari mayat yang diawetkan di laboratorium selama hampir 30 tahun. Hal yang mereka tidak tahu adalah parasit2 yang mirip lintah itu akan memakan otak manusia ( setelah meloncat masuk lewat mulut ) kemudian mengendalikan tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa itu untuk merubahnya menjadi..killer outer-space zombie. 

Sekarang, Detective Cameron, Chris dan Cynthia harus berjibaku melawan zombie2 ini demi menyelamatkan pesta dansa mahasiswa Universitas Corman dari banjir darah.

..............................


Night of the Creeps dibuka dengan adegan yang sangat menarik,

Di sebuah pesawat ruang angkasa, alien-alien ( yang kostumnya lebih mirip Teletubbies :D ) terlihat panik ketika tabung eksperimen mereka terjatuh. 

Cerita segera beralih ke bumi sekitar tahun 50an, 

Sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran tiba2 melihat sebuah meteor jatuh, sang pria ( John ) segera menyelidiki benda langit misterius tersebut, sementara sang wanita ( Pam ) menunggu dengan cemas di mobilnya karena pada saat bersamaan di radio tersiar kabar bahwa seorang pembunuh berkampak baru saja kabur dari penjara. Dengan penuh rasa penasaran, John mendekati meteor yang ternyata adalah tabung ruang angkasa berisi makhluk melata sejenis lintah. Sementara itu, sesosok pria berkampak perlahan-lahan mendekati mobil Pam. Sosok pria berkampak yang ternyata adalah..zombie!


Whoa..hanya dari adegan pembuka ini gue langsung menyadari kalo sutradara pilem ini, ( Fred Dekker ) adalah seorang menyenangkan yang bukan saja senang membuat pilem tapi juga terlihat sangat mencintai genre horror. terutama b-grade horror. Dia baru saja nge-blender berbagai subgenre horror ( scifi, creature, zombie, sampe slasher ) lalu membuat homage dari berbagai referensi judul ( Alien, The Blob, They Came From Within, Invasion of The Body snatchers, sampe materi slasher tahun 80-an ) ke dalam satu scene! Dan senyum gue mulai mengembang.

Ya, memangnya apa yang lebih badass untuk ngebuka sebuah pilem selain weird alien, creepy-crawly-slimy creature, serial killer, dan zombie?


Pilem kemudian berpindah setting lagi ke tahun 80-an.
Dan kita mulai dikenalin ama tokoh Chris ( Jason Lively ) & J.C ( Steve Marshall ) dua mahasiswa geek Universitas Corman yang nantinya akan menjadi biang keladi kekacauan yang terjadi. Dari sini sebenernya pilem beranjak menjadi sedikit membosankan, ketika dia malah berubah suspenseful dengan investigasi Detective Cameron ( Tom Atkins ) atas berbagai kasus pembunuhan brutal yang terjadi di kota itu. Suspense yang tidak perlu, karena toh sejak awal penonton udah tau kalo yang ngelakuinnya adalah zombie yang dikendalikan parasit luar angkasa. Gue semakin tidak sabar ketika scene-scene yang sepertinya akan menjadi menarik, tiba2 kepotong begitu saja dan beralih ke adegan berikutnya.

Tapi, mungkin itu hanya karena gue nggak sabar buat ngeliat sajian silly-gory nya, karena pas gue nonton ini buat ke dua kali, semua bagian dalam Night of the Creeps ternyata tetep kerasa FUN. Termasuk di part yang awalnya bikin gue nggak sabar.

Night of The Living Dead Cat
Dekker seakan paham bener dia lagi bikin pilem horror model apa lantas ngebalut semuanya dengan dialog2 corny-witty dan ngasih banyak hillarious memorable line yang bikin gue ketawa. Selain itu, ada banyak sekali referensi pilem horror b-grade yang dipake Dekker sebagai tribute atau homage dan dia nggak lupa bersenang-senang dengan ngetawain atau mengejek kekonyolan pilem2 itu seperti apa yang kemudian juga dilakukan Wes Craven dalam Scream. What a fun! :D 

Itu masih belum seberapa, karena gue nemuin bahwa banyak tokoh atau tempat dalam pilem ini yang memakai nama2 sutradara cult seperti : sersan Raimi, Det.Cameron, Romero, Cronenberg, Corman, Miller, Landis, Dante, DePalma ( kucing zombie disini juga bernama Gordon, apakah itu merujuk pada Stuart Gordon? ) dan kalian tau siapa nama J.C sebenarnya? James Carpenter Hooper. Whattafuck haha. Kalo kalian mau ngelakuin hal yang sama, tolong masukin nama Fred Dekker ke dalamnya. Asli, ini jelas membuat gue memaafkan bagian investigasi2an yang sebenernya nggak perlu itu.

Mendekati 30 menit akhir, akhirnya pilem mulai beranjak ke arah yang gue harepin. Zombie-zombie mengepung pesta dansa mahasiswa, dan Det.Cameron ngeluarin best hillarious line nya :

" i got good news and bad news girls, the good news is your date are here.."
" What's the bad news? "
"They're Dead."

Dan Dekker ngelunasin janjinya pada gue dengan ngasih banyak zombie, head-exploding, creepy-crawlie-slimy creature..yeah, 20 menit nonstop fun silly-cheapy-gore!


Jagoan kita ( Chris & Cynthia ) beraksi dengan flamethrower dan shotgun. Ngebakar dan ngeledakin kepala zombie2 yang dari dalamnya akan keluar parasit2 seperti lintah. Gory efek nya sendiri sebenarnya lame, tapi gpp, itu nggak ngurangin ke FUN an nya kok, dan gue sangat menghargai usaha Dekker dan kru spesial efek nya. Sedikit kejutan juga ketika menemui kenyataan bahwa ternyata Lionel ( dalam 'Braindead' ) bukan yang pertama beraksi ngebantai zombie2 dengan mesin pemotong rumput, karena Chris sudah lebih dulu melakukannya! Haha gue pikir Night of the Creeps pasti adalah salah satu referensi Peter Jackson ketika membuat Braindead, mengingat adegan2 akhirnya begitu mirip ( pilem lain yang gue liat banyak ngambil referensi dari Night of the Creeps ini adalah Re-Animator dan Slither ).

Thrill Me
Dan meski Chris dan Cynthia sudah beraksi habis2an melawan zombie, karakter Det.Cameron ( Tom Atkins ) lah yang layak disandingkan dengan para badass-horror-heroes lainnya. Dia mencuri perhatian dan menenggelamkan karakter lain dengan line-line nya yang kocak, tak kenal takut, tanpa kompromi, pantang mundur dan mempunyai misi tersendiri terhadap para alien ini : membalas dendam. 

Sandingin Det.Cameron dengan Ash, Lionel, Ben, Ripley, R.J. MacReady, dan Derek maka mereka akan membuat The Expendables dan The Avengers pensiun.

...........................

Well, dengan semua apresiasi positif gue diatas, gue nggak ngerti kenapa Fred Dekker hanya menerima sedikit pengakuan dan respek dari industri perfilman, Tri-Star terlihat nggak antusias ama rilisan ini dan Night of The Creeps nggak punya wide-release atau promosi yang layak. ( Ini juga terjadi pada karya Dekker di tahun berikutnya, The Monster Squad (2007) yang sampe saat ini hanya tersedia dalam format bootleg DVDs di Amerika. ) why? Padahal buat gue Night of The Creeps adalah salah satu yang terbaik di genre spesifiknya, Fred Dekker jelas punya banyak sesuatu yang bisa ditawarkan buat sinema-horror.. Whateva.

so the verdict is,
meminjam salah satu line dari Det.Cameron :

" Zombies, exploding heads, creepy-crawlies... and a date for the formal. This is classic, Spanky. "

Yup, ini pilem horror b-grade sejati yang dibuat oleh sutradara penggemar horror b-grade sejati untuk audiens horror b-grade sejati. Highly recommended. Enjoy this,..jangan lupa siapin popcorn ama bir yang banyak.

Jadi, sekarang pilem wajib-tonton gue berikutnya adalah 'The Monster Squad' ( 1987 ), tolong siapa aja yang punya pilem itu buat menghibahkannya ke gue hehe.
ya gue tau..gue udah ketinggalan lagi :D


RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic