Reviewed By GAMBIR
Korea sedang berusaha menciptakan kebudayaannya sendiri di dunia hiburan untuk mendapatkan tempat dimata dunia. Lewat media yang sebenarnya sudah lama kita kenal, namun dengan piawainya memberi lebel seakan produk tersebut adalah ciptaannya. Siapa yang tidak mengenal istilah k-drama, k-pop dan yang terbaru webtoon.
Padahal kalau kita telisik sebenarnya ketiga produk Korea yang sedang ngehits ini adalah hasil dari serapan negara lain. Sebut saja K-Pop ( girband/boyband ) yang sebenarnya hanya group vocal biasa, namun mereka kemas dan dilebeli sehingga menjadi identitas tersendiri. Sedangkan webtoon mungkin dibuat untuk menyaingi manga milik jepang yang sudah lebih dulu dikenal.
Dan dari dunia K-drama belakangan ini mulai bergeser dengan mengikuti format serial tv amerika. Korea kini mulai berani keluar dari genre romansa dan kolosal yang selama ini menjadi andalannya, dan mencoba merambah ke thriller, mistery dan fantasi. Khususnya di dunia thriller karena kita berada di blog horror, serial Gap-Dong dan Signal bisa dikatakan berhasil menarik perhatian.
Perkembangan dunia hiburan korea selatan belakangan ini mengalami perubahan yang sangat signifikan baik dari segi kualitas maupun industrinya.
Khususnya di dunia sinema, rupanya korea terus memperbaiki diri dan tak main-main dalam meningkatkan kualitas dan siap bersaing dengan Hollywod. Berdasarkan artikel media daring yang saya kutip, Direktur Penelitian Kebijakan Korean Film Council (Kofic), Hyoun-soo Kim, memaparkan, para sineas di negerinya berbenah sedikit demi sedikit memperbaiki kualitas teknis film, seperti suara, gambar dan penceritaan.
Showing posts with label korea selatan. Show all posts
Showing posts with label korea selatan. Show all posts
15 February 2017
15 September 2016
Perfect Number ( 2012 )
Reviewed By Gambir
Saya bukan penggemar film-film romantis, sekalipun kemaysuran Titanic telah menjadi buah bibir dari generasi ke kegenrasi atas kesuriteladanannya sebagai pasangan yang romantis, tapi tidak berlaku bagi saya pribadi. Semenjak dari bangku SMA sampai kuliah seperti sekarang pengalaman cinta saya tak ada yang istimewa-istimewa amat, semuanya berjalan normal-normal saja. kecuali kalau memakaikan jaket saat cuaca dingin, mengantarnya pulang saat gerimis atau menraktirnya makan adalah sebuah tindakan yang amat heroik untuk pasangan.
Tapi seteleh menonton Perfect Number saya tahu apa itu arti romantis dan cinta. Dan jika kalian pernah menontonnya juga, seharusnya kalian malu akan ungkapan “aku rela berkorban semuanya demi dia."
Kisah cinta secret admirer yang berujung pada tragedi, Perfect Number seperti kisah recycle dari Romeo dan Juliet namun dengan versi korea. Bagi saya cinta itu memanglah tragedi, atau setidaknya begitulah kisah-kisah legendaris akan kisah cinta yang kita kenal selama ini, mulai dari yang versi klasik Romeo and Juliet, atau yang paling modern Titanic yang dua-duanya berujung pada kematian atau perpisahan.
Saya bukan penggemar film-film romantis, sekalipun kemaysuran Titanic telah menjadi buah bibir dari generasi ke kegenrasi atas kesuriteladanannya sebagai pasangan yang romantis, tapi tidak berlaku bagi saya pribadi. Semenjak dari bangku SMA sampai kuliah seperti sekarang pengalaman cinta saya tak ada yang istimewa-istimewa amat, semuanya berjalan normal-normal saja. kecuali kalau memakaikan jaket saat cuaca dingin, mengantarnya pulang saat gerimis atau menraktirnya makan adalah sebuah tindakan yang amat heroik untuk pasangan.
Tapi seteleh menonton Perfect Number saya tahu apa itu arti romantis dan cinta. Dan jika kalian pernah menontonnya juga, seharusnya kalian malu akan ungkapan “aku rela berkorban semuanya demi dia."
Kisah cinta secret admirer yang berujung pada tragedi, Perfect Number seperti kisah recycle dari Romeo dan Juliet namun dengan versi korea. Bagi saya cinta itu memanglah tragedi, atau setidaknya begitulah kisah-kisah legendaris akan kisah cinta yang kita kenal selama ini, mulai dari yang versi klasik Romeo and Juliet, atau yang paling modern Titanic yang dua-duanya berujung pada kematian atau perpisahan.
07 November 2014
EDISI I-LOVE-KOREA: MEMORIES OF MURDER (2003)
Pengantar
Anda salah satu korban Korean Wave (jelas yang saya maksud Korea di sini dan nantinya adalah Korea Selatan, bukan tetangganya yang punya pemimpin berambut Mohawk itu) dengan drama-drama cintanya yang cute dan mengharu biru? Atau penggemar boyband-girlband-groupband—apapun itu sebutannya dengan personel berwajah boneka hasil polesan operasi plastik? Atau begini, setidaknya anda bakal mengetatkan ikat pinggang dengan berpuasa atau cukup mengonsumsi Indomie 3 kali sehari, misalnya, hanya untuk memiliki tablet Samsung terbaru, bukan? Hohoho, tenang saja. Anda tidak sendiri. Saya pun salah satu korban gelombang budaya Korea yang telah mengglobal.
Cuma, yang saya gemari ini bisa dibilang sepi penggemar di sini—jika dibandingkan dengan produk Korea yang sudah saya sebut di atas, dan cuma bisa jadi obrolan seru sesama penggemar film horror beserta turunannya yang bisa dibilang masih satu spesies dengan pengunjung setia—dan tidak setia—blog horror kacangan (saya sebagai salah satu kontributor abadi dan satu-satunya, memang sudah mengajukan proposal kepada editor blog ini untuk mengganti saja nama Horror Popcorn menjadi Horror Kacang) yang makin sepi postingan hingga membuat sekelompok penggemar fanatik melakukan demo di depan kantor fiktif kami.
Subscribe to:
Posts (Atom)


