Showing posts with label sosiphat. Show all posts
Showing posts with label sosiphat. Show all posts

18 December 2009

THE TRIPPER (2006)


REVIEWED BY 'M'.

Di cover DVDnya sih dibilangnya film ini ‘political horror’.
Duh, kata horror itu udah cakep. Tapi kalo digabungin sama kata politik, bisa dijamin bakal jelek dan nggak ada lucu-lucunya. Apalagi ngeliat covernya: orang pake topeng muka Ronald Reagan [jangan tanya saya dia presiden amerika yg keberapa, saya nggak tau!] lengkap dengan jas yg penuh percikan darah, lagi bawa2 kapak. Duh, jelek banget! Tapi sesuai dengan prinsip para reviewer di blog ini, makin jelek cover DVD sebuah film, makin memanggil-manggil pula film itu untuk ditonton! Hehehe.

Tadinya saya mikir ini pastilah film yg luar biasa jelek, semacam film2 kelas B yg dibikin dengan budget seadanya. Setelah ngeliat siapa sutradaranya, wo-hoo ternyata David Arquette emang pecinta horror sejati. Setelah maen jadi aktor di salah satu film horror terkeren sepanjang masa, Scream, dia mutusin untuk bikin film horror juga. Saya yakin, pasti jelek nih! Hehehe. Tapi mendadak ragu apa nih film bener2 jelek setelah ngeliat siapa yg ikutan nulis skenarionya, Joe Harris [Darkness Falls]. Well, kenapa nggak ditonton aja, mengingat saya nemu film ini di keranjang DVD diskonan dan membelinya dengan harga seribu perak saja! [harga mencerminkan kualitas, anyone?]

Dibuka dengan adegan seorang bocah yg lagi sibuk mantengin TV berisi berita perang, lengkap sama speech presiden amerika waktu itu, Ronald Reagan, yg dengan pedenya ngomong kalo perang itu jahat, tapi kadang emang diperlukan. Ckckck. Si bocah pun kemudian ngikut bokapnya yg semacam mandor proyek gitu, ke tempat kerja bokapnya yg bertugas nebangin hutan, entah mau dibikin apaan. Rupanya di sana lagi ada keributan. Para pendemo lagi ngalang-ngalangin orang proyek supaya nggak nebangin pohon dan terlibat adu mulut sama bokap si bocah yg bikin bokapnya ilang kontrol dan ngeluarin pistol. Polisi dateng dan nangkep si bokap yg sebenernya nggak ngelakuin apa2 juga. Nggak tau emang kalap atau terinfeksi adegan perang di kepalanya karena keseringan nonton TV, si bocah pun ngambil gergaji mesin dan dengan garangnya menghabisi salah satu pendemo. Darah pun muncrat, memenuhi kamera.
Wo-hoo.

Nah, cerita beralih ke masa sekarang, di mana sekelompok remaja hippies, dengan tipikal pake baju kedombrangan full aksesori, bepergian bareng-bareng naik van sambil cekikikan karena kebanyakan nyimeng dan nenggak pil plus alkohol, sedang menuju festival musik outdoor di tengah hutan suatu kota kecil. Berisik, emang. Dan kayak hippie laennya, mereka emang bener2 keliatan kayak Tarzan, dengan cara jalan sok-sok mirip Jane dan baunya cuman sebelas dua belas sama cheetah [ini bukan saya yg ngomong, tapi Ronald Reagan lho]. Dan udah kayak pattern film horror lainnya, sekumpulan remaja ngeselin ini adalah sasaran empuk buat maniak gila haus darah untuk dikejer-kejer dan dihabisin pake kapak, yah rasanya mungkin kayak semacam gatal yg minta digaruk.

Sesampainya di festival musik yg udah dipadetin sama para hippies [dan juga asap marijuana dan narkoba dalem bentuk lainnya]. Tanpa dinyana, ada pembunuh gila yg berkeliaran dan berniat ngabisin remaja-remaja jaman sekarang yg dia bilang “udah nggak punya rasa hormat lagi!”. Nggak cuman gila, pembunuh ini agak pemalu rupanya, soalnya dia demen pake topeng berwujud muka Ronald Reagan [kenapa harus dia ya?]. Selain gila dan pemalu, dia pecinta kerapihan juga, soalnya dia sempet2nya make jas dan dasi selama beraksi. Biar lebih mirip RR juga barangkali. Bermodal kapak yg bisa memisahkan kepala dari badan orang dalam sekali tebas, si RR gadungan ini mulai menebar terror dan merusak pesta dengan cueknya. Favoritnya adalah nebas anggota badan orang [bisa kepala, bisa tangan] sampe moncor, nusuk-nusuk perut orang tanpa ampun, ngobok-ngobok jeroan orang bahkan sebelum si pemilik jeroan bener2 mampus dan tentu aja nyalain gergaji mesin!


Tapi tenang aja, kita punya jagoan, salah satu cewek anggota geng-cimeng tadi yg lagi bermasalah sama pacarnya [konflik yg nggak perlu, soalnya si pacar cewek ini nggak menolong sama sekali, malah jadi anggota dari daftar korban tambahan si RR jadi-jadian] dan taraaa….kok ya gitu, harus polisi yg jadi jagoannya! Tebas sana-tebas sini, dar der dor, pokoknya mah intinya si pembunuh bisa ditumpas lah! Setelah ketauan kedok asli si pembunuh, yg nggak lain adalah penggila R.R, film pun berakhir. Tapi eitss, mayat si pembunuhnya ilang ternyata! Kemana dia? Ya beraksi lagi dong ah. Upss, spoiler :D

....................

Sejak adegan awal, saya udah terpikat sama tampilan film ini: pemilihan tone warna dan eksperimen sinematografi yg kelas B bangeettt. Atau seenggaknya ngingetin sama film2 Amerika taun 90-an awal lah. Meskipun gitu, ini ‘dirusak’ sama beberapa pengambilan gambar yg sebenernya mah canggih! Keliatan banget nih emang niat meng-eksplor pergerakan kamera, padahal saya udah ngarep semoga film ini bakalan jelek beneran dari awal sampe akhir. Tapi ya itu tadi, banyak angle-angle cantik yg buat saya sih terlalu asik untuk film dengan tema…geez, maniak bertopeng [tokoh politik] yg lagi haus darah.

Saya sebenernya nggak terlalu ngerti apa yg mau disampein Arquette di film ini, mengingat plot dan ide ceritanya juga terlalu simpel buat saya. Udah tau kan, nggak usah diceritain lagi. Tapi buat saya masukin percakapan yg nggak penting tentang politik, atau ngejadiin salah satu tokoh politik sebagai ‘villain’, nggak bikin film ini bertambah kadar kelucuannya, dan nggak bikin dia [ato saya] jadi keliatan tambah politis pula! Malah garing jadinya. Saya nggak ngerti di bagian mana harus ngetawain lelucon itu. Maksudnya apa sih, mau bikin semacam parodi gitu, atau apa ya? Terlepas dari fakta bahwa R.R emang salah satu ‘penjahat’ beneran dalam dunia nyata, yang saya tangkep cuman: jangan biarin anak-anak kalian kebanyakan nonton TV berisi berita perang dan politik, atau mereka bakal tumbuh gede jadi pembunuh psycho! Percakapan yg dimasukin dengan paksa, hanya untuk bilang kalo George Bush adalah presiden paling buruk sepanjang sejarah amerika, itu jelas2 bertendensi politis, tapi malahan norak jadinya dan sama sekali nggak menolong film ini untuk jadi enjoyable! C’mon, nggak ada yg peduli sama sikap politis siapapun, kita cuman pengen ngeliat adegan sadis doang di sini. Tapi saya curiga kalo sebenernya film ini nggak ada tendensi politis juga sih, cuman sok-sok politis aja. Tai ah. Busuk banget yg kayak gini. Masukin isu politik dalam film horror? Nggak terdengar brilian. Saya bukannya nggak politis, cuman saya emang nggak punya kepentingan dan kebutuhan akan politik dalam film berdarah-darah yg saya tonton.

Banyak yg menyebalkan dari film ini, salah satunya yang paling saya sebelin adalah visualisasi maboknya yg lebayyy pisann, aneh dan lama pula! Jelek ih. Lainnya ya masih lebay2 juga sih, ya namanya juga film ‘sok-sok murahan’. Bagian tentang politik adalah bagian terburuk dalam film ini. Cuman, yg buruk dari film ini bukan melulu tentang sisi politisnya sih, tapi buat saya semuanya kerasa nanggung. Bikin serem, nggak. Bikin tegang, nggak. Bikin ngakak, nggak juga. Yaudah aja, nanggung gitu. Dan yg nanggung2 biasanya jarang ada yg mau nginget. Saya juga nggak jatuh cinta sama film ini. Ada beberapa yg lumayan bisa dinikmati lah, apalagi bagian ngacak-ngacak usus dan sembunyi di dalem WC yg sumpah mampus, kocak abis! Hahahaha.

Tapi selebihnya, nggak ada yg istimewa dari film ini.
Jelek sih. Tapi ya nggak jelek-jelek amat juga sebenernya.
Nanggung kan?

..................................

The.Tripper [2006]
Size : 700.94MB

18 October 2008

MONSTER

 "I'm one who seriously hates human life and would kill again. So what's the point! Let's move on. I am asking here then for the Florida Supreme Court to step in and 'Do Something.'" - Aileen Wuornos (in a letter to the Florida Supreme Court pleading for execution, June 2001)

Ini adalah film yang diangkat dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 80-an yang menghantarkan Charlize Theron meraih Academy Award dan Golden Globe sebagai artis terbaik.

Berperan sebagai Aileen Wuornos salah satu pembunuh berantai yang pernah ada dalam sejarah serial-killers Amerika, aktingnya memang sungguh luar biasa.
Aileen mengalami masa kecil yang sulit dan keras. mempunyai keluarga yang bobrok dan di usia tiga belas tahun dia sudah menjadi pelacur. Menginjak remaja dia pindah ke Florida dan bertahan hidup di jalan dengan menjadi pelacur pinggir jalan yang melayani nafsu para pengendara mobil yang kesepian. Kehidupan yang demikian keras, membuat dia menjadi seorang yang introvert, kasar dan liar.

Jalan hidupnya mulai berubah, ketika dia bertemu dengan Selby ( Christina Ricci ), seorang gadis kesepian yang juga bosan dengan keluargamya. Aileen akhirnya jatuh cinta pada Selby dan menjalin hubungan lesbi dengannya.


Dijalanan Aileen kerap menerima perlakuan buruk dari orang2 yang memandang rendah profesinya sebagai pelacur. Tak jarang, pria yang me ’makai’ nya juga melakukan penyiksaan kepadanya. Ini membuat dia merasa terbuang dan direndahkan harga dirinya.

Sampai suatu saat, ketika dia tak mampu menahan emosinya. Dia menembak mati pria yang menyiksanya. Itu adalah pembunuhan pertamanya.


Selby diajak kabur dari rumah dan pergi bersamanya..setelah pembunuhan pertama itu, Aileen sempat ingin merubah hidupnya dan menjalani hidup normal bersama Selby. Dia mulai mencari pekerjaan ‘normal’. Tapi, perusahaan mana yang mau mempekerjakan orang dengan latar belakang seperti Aileen? Bahkan gereja saja menolaknya. Putus asa, karena benar2 membutuhkan uang untuk menunjang hidup kekasihnya, Selby, Aileen kembali melacur di pinggir jalan..tapi, dia sudah muak dengan sex dan pria-pria hidung belang. Maka, yang dilakukannya adalah membunuh para pelanggannya dan merampoknya!

Dia melakukan serentetan pembunuhan dan perampokan mobil, yang berujung pada penangkapan dirinya.
Aileen Wuornos dieksekusi mati pada tahun 2002 setelah menjalani penahanan selama 12 tahun.

Itulah kisah hidup Aileen Wuornos yang tragis.


Aileen 'Lee' Carol Wuornos ( yang asli )
Born: February 29, 1956 as Aileen Carol Pittman
Birthplace: Rochester, Michigan, USA
Died: October 9, 2002 - execution by lethal injection


Oke, kekuatan film ini memang akting Charlize Theron yang luar biasa. Lihat bagaimana ekspresi, gestur, dan cara berbicaranya menimbulkan kesan bahwa dia memang jalang dan liar, bahkan ketika ia melamar pekerjaan dan berpakaian rapih pun dia tetap kelihatan jalang. Juga kerutan2 diwajahnya seperti wajah wanita yang sarat permasalahan, beban hidup dan tamparan kerasnya jalanan. lihat juga bagaimana cara Charlize Theron menghisap rokoknya…keren!! jangan bayangkan wajah menawan Charlize Theron seperti di film Mighty Joe Young atau Sweet November, di film ini wajahnya benar-benar berubah menjadi saperti pelacur jalanan sekaligus pembunuh anti sosial!! Cukup puja-puji untuk akting si Charlize ini.


Kisah hidupnya juga sedikit menjungkirbalikan stereotype pelacur yang biasanya malah jadi korban psikopat. Dalam kisah ini, sang pelacurlah yang menjadi predator. Juga tentu saja, kisah ini berbeda dari kasus Ryan dari Jombang itu, karena pembunuh berantai dalam kisah ini adalah seorang lesbian! Tapi, entah kenapa gue malah jatuh simpati pada Aileen Wuornos…

dia bukanlah pembunuh gila yang menikmati aksi nya sebagai kesenangan, tapi lebih kepada seorang yang begitu muak dan dendam pada kehidupan yang ‘membuang’ nya. Di luar itu, Aileen tetaplah seorang manusia yang punya hati dan membutuhkan cinta.
Jangan-jangan masih banyak Aileen-Aileen lainnya diluar sana yang terbuang dari hidup, butuh cinta dan perhatian dari kita, namun tak kunjung mendapatkannya..dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk meledakkan revolver nya di keramaian?!!

Film ini bagus, gue pernah nonton dua film yang diangkat dari kisah nyata pembunuh berantai di Amerika yang pertama adalah ‘Ed Gein’ ( jagal dari Plainfiled yang menginspirasikan Hollywood untuk membuat karakter fiktif Thomas Hewitt sang pembantai bergergaji mesin dari Texas ), lalu yang ke dua T.B.K -Torture, Bind, Killing- ( kisah seorang ayah kelainan jiwa yang membunuh-i pelacur yang di sewa nya ) dan keduanya di perankan oleh Kane Hodder. Nah, dibandingkan 2 film itu yang lebih menonjolkan ke gore-an nya, film ‘Monster’ besutan sutradara Patty Jenkins ini lebih memenuhi selera menonton gue.

Sekedar nanya, udah ada belum yah film yang mengisahkan hidup si pembunuh berantai legendaris dari Amerika juga yaitu, Ted Bundy?? Kalo ada dan kamu punya, minjem doooong hehehehehe


Rating gue untuk film ini adalah ‘applause panjang’.