Showing posts with label gore. Show all posts
Showing posts with label gore. Show all posts

15 May 2016

Deathgasm ( 2015 )

Terus terang gue nggak terlalu fasih berbicara tentang metal dan referensinya semenjak masa remaja gue telah direnggut dengan menyedihkan oleh Kurt Cobain dan gerombolan ben pecundang dari Seattle lainnya.  Meski begitu, gue masih inget ada beberapa poster Iron Maiden terpasang di kamar gue dulu. Nggak, gue mah nggak ngerti musiknya hehe, gue masang poster Iron Maiden karena menurut gue maskot Eddie The Head nya keren. Selain itu, typography Sepultura juga jadi gaya huruf favorit gue pas milox tembok ruko pasar dengan nama geng kampung kami, Galter ( Gabungan Anak Liar Terminal ).

Tapi kalo diinget, genre musik ini emang deket banget ama tema horror. Gue pernah ngeliat sebuah pentas musik dulu dimana salah satu pementasnya adalah sebuah ben yang konon mengusung genre satanic black metal. Ben ini menamai dirinya Singkill. Nah, sedikit info, Singkil adalah nama untuk sebuah areal pemakaman di desa tetangga yang terkenal angker. Dengan nama itu, para personel ben ini seperti mau nunjukin kalo mereka berasal dari dasar neraka dan baru saja merangkak keluar lewat gerbang alam gaib di pekuburan singkil. 


28 November 2011

THE HUMAN CENTIPEDE 2 ( FULL-SEQUENCE )

Masih inget Dr. Heiter? Dokter edan yang terobsesi menciptakan manusia kelabang dan sempat bikin sinema horror hiruk-pikuk dua tahun silam? aksinya dalam pelem itu ( The Human Centipede ) ternyata udah menginspirasi seorang penjaga area parkir di salah satu kota di Inggris buat ngewujudin teori '100% medically accurate' nya ke 'dunia nyata', menjadikan itu bukan hanya sekedar tagline pelem horror-medioker-murahan tapi juga sebagai terapi dari derita-psikologis yang dialaminya.

..............

Martin Lomax ( Laurence .R Harvey ) adalah seorang pengidap asma yang punya bobot ga beda ama atlit sumo, dia bekerja sebagai penjaga area parkir di sebuah kota yang keliatan sangat sepi ( dan nggak ada polisi ). Ibunya seorang renta yang udah nggak punya harapan hidup dan tiap hari memaki Martin dengan panggilan babi soalnya selain gendut, Martin emang sering berak dikasur (!), bokapnya di penjara karena kasus pelecehan seksual dan penyiksaan terhadap dirinya, dan sisa idup Martin sepulangnya dari tempat gawe dia dedikasikan buat nerima serangkaian tendangan dari tetangganya yang gue curigain adalah salah satu hooligan Tottenham Hotspurs.

Dengan kondisi kehidupan yang suram dan hopeless kaya gitu, Martin ternyata terobsesi dengan film The Human Centipede 1 ( THC1 ). Ya, waktu luangnya dia abisin buat bolak-balik nyetel pelem itu. Gue bilang bolak-balik, soalnya pas pelemnya abis Martin akan nge-rewind pelem itu buat nonton nya lagi dari awal. Terus pas pelem yang ditontonnya nyampe pada adegan tertentu dia akan ngambil ampelas ( iye, ampelas! ) buat masturbasi. Bukan itu aja, Martin juga ngumpulin foto2/gambar dari apa aja yang berhubungan ama pelem THC buat dijadiin kliping, nyimpennya di bawah kasur, terus nganggep itu sebagai kitab suci, ama oh iya satu lagi yang paling serem dia juga miara kelabang gede diakuarium, satu-satunya makhluk hidup yang bisa dia ajak ngobrol dan curhat.

Kalo udah gini, tinggal nunggu waktu aja buat si Martin akhirnya melakukan pembunuhan dan mraktekin teori '100% medically accurate' itu. Hanya saja, berbeda dengan Dr.Heiter, Martin berencana menciptakan manusia kelabang dengan menggunakan 12 manusia! ( kenapa 12? itu soalnya, populasi manusia di kota itu kayanya emang cuma 12 orang ) . Jadi dia mulai ngelumpuhin siapa aja yang keliatan dilayar pake pestol dan linggis ( termasuk Ashlynn Yennie --salah satu pemeran THC1-- yang dia tipu dengan berpura2 ngajak doi membintangi pelem Quentin Tarantino! haha! ) lalu ngumpulin semua korban nya ke dalam sebuah gudang besar. Oke, jadi bahan baku buat bikin manusia-kelabang udah siap. Tapi kemudian, apa yang seorang tukang parkir pecundang tau tentang ilmu medis dan operasi?

Review :
THIS REVIEW MAY CONTAIN SPOILER.


Beberapa tahun lalu gue pernah menulis review 'Funny Games', dimana menurut gue pelem itu sebenernya adalah sebuah statement-personal Michael Haneke buat sinema Holiwud & media lainnya yang dipenuhi glorifikasi kekerasan. Haneke menyerang langsung pengkonsumsi media kekerasan dengan membuat sebuah pelem yang secara psikologis terasa sangat 'menganggu' dan menyesakkan buat ditonton.

Nah, apa yang dilakuin Tom Six dalam The Human Centipede 2 ( THC 2 ), gue pikir nggak beda jauh ama apa yang udah dilakuin Haneke. Ya, ini lebih terasa seperti sebuah statement atau serangan balik!. Bedanya, selain bahwa dia bukan penganut anti-violence kaya Haneke, Tom Six menyasar para pengkritik pelem pertamanya ( yang banyak menuai respon negatif karena premis THC1 dinilai terlalu konyol sekaligus 'nggak ada apa-apanya' ketika diterjemahin dalam bentuk visual ). Tom Six seperti mempelajari semua review yang ditujukan buat THC1, dan memutuskan untuk men jawabnya dengan merilis pelem ini.

THC2 sengaja dibuat nyaris tanpa plot, dia juga nggak punya tensi ( kamu nggak akan nemuin adegan hide-run-seek disini ) sementara ruang untuk pengenalan karakter para korban nyaris nol. 


Jadi, setelah serangkaian adegan Martin membunuh, nembak dan ngelumpuhin korban-kobannya, praktis separo durasi pelem cuma berisi adegan Martin 'bereksperimen' di gedung tua dengan 12 korban dan seperangkat alat pertukangan yang nggak ada hubungannya ama dunia medis. Dan entah ini berita buruk apa berita baik, untuk adegan ini, Six membuang gaya mind-horror yang banyak dikritik dipelem pertamanya untuk kemudian secara vulgar ngasih apa yang dia anggep sebagai keinginan banyak penggemar horror. Dan yah, udah begitu aja. Selepas menit ke 50 itu, penonton dipaksa untuk berada di sebuah TKP buat menyaksikan aksi kejahatan sinting berlangsung. no plot, no tension..no hope. just watch it.

" bukankah emang ini yang kalian pengenin.? explicit mindless violence? so, nikmati aja " disuatu tempat kayanya Tom Six ngomong kaya gitu sambil menyeringai.

kalian bisa liat seringai nya..
Tingkahnya ini sedikit ngingetin gue sama anak kecil yang nyoba nunjukin gambar ulet buat nakut2in temen-emennya, tapi dia malah dilecehkan, karena kesel dia akhirnya membuat gambar uler sanca yang sedang mengunyah temen-temennya. harapannya, kali ini temen-temennya bakal pingsan. ( Satu hal yang dia lupa adalah, buat sebagian audiens yang kaya gituan mah bukan sesuatu yang offensive, tapi emang beneran menghibur. hihi. )

Sementara itu,  buat 'menyeret' penonton ikut hadir dalam TKP martin, Six seringkali membingkai Martin dalam sebuah frame jendela ruang parkir, dengan kamera ( di ibaratkan mata penonton ) nge-shoot tingkahnya dari sebuah tempat tersembunyi. Bener, penonton diposisikan sebagai pengintip.

Gue akui, walau apa yang tersaji di THC2 sebenernya udah mengalami 32 cuts oleh BBFC, Six bener2 ngebuktiin janjinya bahwa sequel ini akan membuat predecessor nya keliatan se imut kuda poni.


Sedikit berbaik hati, Six ngebalut semua hal menjijikan itu dalam format hitem-putih ( monochrome ), jadi penonton non-horror masih bisa menghibur diri sendiri dengan berkata " oh..itu pasti kecap yang muncrat dari kepalanya ". Tapi, secara kebetulan konsep hitam-putih ini justru membuat THC2 kerasa lebih dark, creepy, weird, kotor, sunyi dan oh ya..'berlumpur'. Dan kubangan lumpur itu bukankah sebuah tempat yang tepat buat seekor babi-gendut? cocok dah.

Dan walau dipenuhi adegan shocking-disturbing, beberapa adegan secara aneh malah menciptakan komedi-situasi-gelap, contohnya adalah adegan dimana martin menjemput Miss Yennie untuk datang ke lokasi suting 'Quentin Tarantino'. Haha. Cek pula aksi hillarious yang dia lakukan terhadap Martin di menit-menit akhir. it's hillarious-sick-joke haha.


Aksi Laurence R.Harvey disini ( yang walau nyaris nggak pernah ngomong sepanjang durasi + cuma masang ekspresi aneh ) menurut gue lebih creepy ( lebih tepatnya menjijikan ) daripada apa yang udah diusahakan Dieter Laser. Konon, kenapa akhirnya Tom Six memilih dia buat jadi villain disini adalah karena dalam audisi dia begitu sempurna ketika disuruh memperkosa kursi (?!).

Tampilnya penjahat seperti Martin juga seakan pemenuhan-keinginan Six atas review THC1 di blog ini, dimana gue menulis " tanpa harus secara konstan menampilkan wajah bengis seperti Dr.Hieter, siapa aja yang punya ide nyambungin manusia buat jadi kelabang pasti akan mengerikan, bahkan kalo dia punya wajah sepolos Baim. " Dan 2 tahun kemudian dia ngasih gue pria-pengidap asma-gendut-pecundang-tukang parkir. Untuk ini, gue cukup tekesan hehe

Dan terakhir, tokoh Martin Lomax ( seorang yang menganggap terlalu serius dan terobsesi pelem THC1 ) kayanya diciptain Tom Six buat menyindir sebagian horror-fan yang menurutnya juga terlalu serius menanggapi imajinasi/ide/konsep dari karya pertamanya.
Lewat karakter Martin Lomax, kali ini Six seperti berkata :

" kalian terlalu serius men, kenapa sih nggak nganggep aje imajinasi gue dalam THC1 tuh cuman sebagai 'karya seni' biasa..damn you lah pokona mah "

Gue pikir, dia harus mulai berfikir buat mengganti namanya menjadi Tom Sick.
Apalagi pas tau kalo dia sudah mempromosikan seri ke-3 nya ( dari rencana trilogi THC ) yang dijanjikan akan membuat THC2 ini kerasa kaya pelem Disney! Ohh...

.............................

begitulah interpretasi-instan gue ketika usai menonton ini.

Tapi jangan terlalu percaya juga sih, karena bisa aja gue salah.
Bisa aja sebenernya pelem ini sama kaya pelem horror-exploitation buruk lainnya yang nggak bemakna? Mungkinkah seperti halnya Martin Lomax, gue udah terlalu serius dengan mengkhayal tentang metafora dan statement-terselubung Tom Six yang sebenernya nggak ada? haha bisa jadi.

satu hal yang pengen gue kasi tau, gue mulai pengen masang poster Dr. Dieter dan miara kelabang.


hrrrrrrrrrrrhhhhh....

...................................................................

Don't take it too seriously.
kalo misalnya bener apa yang dlakukan Six disini terasa offensive, ini jelas sebuah serangan yang sungguh lemah, karena kalian bisa mencet tombol 'stop' kapan aja dan kembali ngelanjutin hidup.


RATING:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


21 December 2010

A SERBIAN FILM

Reviewed By 'Z'

Horror-fans tuh sampah masyarakat sinema, apa yg buat orang laen menjijikan & ofensif buat kite adalah bahan lawakan, orang cuman masuk toilet buat buang hajat trus cabut tapi kite nangkring di situ, kite menikmati yg buruk & memuja yg absurd, kite nodain apaan yg sakral, ngotorin apa yg murni & ngga nerima batesan akan segala sesuatu yg tasteless. Itu adalah salah satu hal yg bikin gue bangga jadi horror-fan; kite adalah sebuah komunitas yg bad-ass!

Jadi waktu sesuatu kaya A Serbian Film muncul dengan sebuah reputasi sebagai tontonan vulgar dari kekerasan yg berlebihan, apa yg kite lakuin?

Ya jelas lah kite jadi pengen nonton.

........................................

Milos adalah seorang mantan porn-star. Dulu, die itu maestro dalem apa yg die lakuin, dulu die itu effin’ Hercules! Sekarang die idup bareng istri, anak & jutaan memori indah yg setiap bijinye terabadikan dalem bentuk DVD. Tentunye, idup itu sulit buat seorang mantan porn-star laki-laki, soalnye semua tau ekuivalensi matematis dari “mantan” + “porn star” + “laki-laki” tuh selalu = 0. Idup aja udah susah buat mantan porn-star di Amrik, sekarang bayangin kaya apa susahnye buat seorang mantan porn-star di Serbia. Yup, tragis.

Di tengah-tengah prahara ekonomi, datenglah Lejla, sendirinye juga seorang porn-star, buat nawarin Milos kesempatan maen di sebuah produksi baru bokep avant-garde nan menjanjikan. Film biru yg digadang bakal bikin porno buat diakuin sebagai sebuah bentuk kesenian tinggi yg terakreditasi, gue ngga tau kalo lo ye? Tapi kalo porno bener-bener diakuin sebagai seni, sumpah gue bakal kuliah di jurusan itu. Pemimpin dari produksi bokep cutting-edge ini sendiri adalah Vukmir, seorang seniman nyentrik yg dari awal kemunculannye udah keliatan ganjil. Untuk sebuah alesan tertentu, Vukmir tu penggemar berat Milos. Gue seumur-umur belon pernah nemuin ada cowo yg ngaku kalo die tuh penggemar berat seorang pemaen bokep cowo...tapi ya, udah gue bilang kan kalo orang ini ganjil?

Kalo pas pertama lo ngga ngeliat keanehan pada diri Vukmir, maka pada beberapa menit berikutnye semua dengan tingkat intelejensia di atas simpanse bakal bisa nyimpulin kalo die tuh bukan orang paling bagus buat diajak kerja bareng. Salah satu syarat utama dari “video art”-nye tuh sang aktor sama sekali ngga boleh tau apaan yg bakal die shoot sampe pas saatnye die lagi shooting. Ini sama aje kaya beli kucing dalem karung, cuman semuanye punya rabies & yg lo pake buat ngambilnye tuh genitalia lo! Vukmir makin bertingkah aneh pas nyodorin kontrak & secara eksplisit nganjurin Milos buat nanda tangan tanpa perlu ngebaca isinye yg setebel buku telpon. Ini keliatannye luar biasa mencurigakan, plus harusnye sebagai orang dewasa kite sadar akan bahayanye naro tanda tangan di sesuatu yg kite ngga ngerti. Tapi Milos, gue asumsiin terinspirasi ama kesuksesan kisah comeback karier Mickey Rourke, mutusin buat ngelakuin hal paling ngga bijaksana dengan ngambil pulpen & ngejual jiwanye pada Pikachu (aka Satan). Segera abis itu,120 Days of Sodom pun dimulai.


Abis nonton film “kontroversial” ini sampe abis, gue kok ngerasa kebanyakan orang-orang nganggep ini terlalu serius ye? Sederhana aje, A Serbian Film itu film eksploitasi, 

bukan yg terbaik dalem sejarah genrenye emang, tapi masih banyak yg lebih buruk. Kalo masalah kekerasan-grafik yg terlalu eksplisit...ya bukannye emang itu yg selalu dilakuin ama film eksploitasi? Buat nunjukin sesuatu dengan lebih ekstrim dari yg pernah dilakuin orang laen sebelonnye? Lagian, bukannye “kelewatan” di genre ini tuh batesan yg udah dilanggar puluhan kali? Di dunia ginian, tiap taunnye bakal ada sesuatu yg keliatan lebih gila dari ape yg pernah keluar sebelonnye tuh seusuatu yg punya kartu garansi. Itu udah bagian ngga terpisahin dari kultur horror, & waktu selalu berhasil ngebuktiin kalo apaan yg dianggep keterlaluan ama satu generasi selalu bakalan dianggep jadi biasa aje buat generasi berikutnye. Dengan penjelasan itu, gue sama sekali ngga pengen ngomong kalo ini tuh “lunak” ye? Ngga kok, A Serbian Film itu brutal. Cumaaa, gue ngerasa ngga adil aje film ini dapet nama buruk hanya gara-gara die itu keliatan brutal semata, gimane ama Guinea Pig? August Underground Mordum? Itu sama aje brutalnye kalo ngga bisa dibilang lebih. Ini emang jenis tontonan’ model gitu’ & buat tontonan model gitu, A Serbian Film tuh –sejujurnye- masih lebih bagus dari kebanyakan.

Ceritanye jauh lebih memikat daripada, contoh gampangnye, August Underground Mordum, yg sedemikian ngebosenin sampe lo praktis “nonton” dengan dicepet-cepetin buat ngecek bagian gore-nye doang. A Serbian Film mah punya cerite beneran buat diikutin, dialog yg ngga semata-mata diisi ama orang nyebutin F-words berkali-kali, ama karakter-karakter yg menarik. Ya emang sih ada banyak darah, ada banyak gorn, ama ia menyentuh titik pesakitan tingkat ekstrim lebih dari sekali, tapi ini kan sinema-eksploitasi? Harusnye sih orang udah siap buat ngeliat kaya gituan. Malah, kalo mau jujur, sutradara cukup punya “sensibilitas artistik” buat berusaha bikin audiens lebih ngerasa “nyaman” ama semua kekerasannye. Adegan-adegan paling sakit di sini semuanye terjadi off-screen ape minimal, ke blok sesuatu biar ngga keliatan gamblang di frame. Ini contoh model pendekatan kompromis yg ngga akan muncul pada Guinea Pig.    

Gue pikir salah satu hal yg paling ngerugiin film ini tuh soalnye ia dipasarin sebagai “sebuah film Serbia”, yg bikin orang-orang ngekspektasiin ini buat jadi semacem kritik-politis pada kultur kekerasan dari satu negara yg udah kelamaan dicabik ama perang sodara. 


Walau tema itu emang ada di sini, tapi pada dasarnye, itu cuman ada di background aje. Soalnye ini emang bukan sebuah dokumenter, A Serbian Film make isu di atas buat platform sementara ngegarap aspek-aspek eksploitasi di dalemnye. Jujur aje, ada banyak film horror yg juga punya isu sosial sebagai landasan ceritanye: Last House on the Left ama –bahkan- Texas Chainsaw Massacre tu ada hubungannye ama kondisi masyarakat AS pada masa perang Vietnam, Rampage aje ngomongin soal alienasi dunia modern. Tapi bedanye, ngga ada film-film itu yg dipasarin sebagai “film politis”, semuanye dianggep horror & karena itu, semua kekerasan yg ada di dalemnye ngga dianggep terlalu jadi masalah soalnye orang-orang udah tau “film horror” emang punya kecendrungan begitu. Kalo aje A Serbian Film dari awalnye udah disebut sebagai film-eksploitasi, ia bakalan tetep shocking sih, tapi ngga akan sampe se-shocking kaya ia saat ini. 

Buat sesuatu yg bikin sensasi gara-gara kebrutalannye, A Serbian Film secara mengejutkan punya banyak momen-momen menggelitik di dalemnye. Kalo menimbang faktor bagaimana itu bersanding ama sebagian visual yg intens, ini mungkin bisa didefinisiin sebagai apa yg disebut “dead baby comedy” (bentuk lebih hardcore dari black comedy). Biarpun film ini emang ngga punya niat buat ngelucu, tapi kayanye mustahil buat ngga nganggep beberapa adegannye menggelikan, terutama kalo itu udah ngelibatin Vukmir, aksi hiperbolis Sergej Trifunovic sebagai sang sutradara gila bikin die jadi MVP dari semua anggota cast. Gue suka banget kalo die udah, dengan berapi-api, nyampein visi & misi buat menuhin obsesinye untuk bikin film porno yg “artistik”, die keliatan kaya seorang sutradara Itali lagi pitching sebuah ide film giallo baru: dengan penuh semangat  berusaha naro logika pada sesuatu yg pada dasarnye ngga logis. Itu baru namanye “performa” sodara-sodara, mari kite kasih aplus buat orang ini.

Karakter kedua paling menarik jatoh ke tangan Marko, ade kandung Milos yg perannye di sini tuh jadi orang dengan pikiran kotor buat nidurin Marija, yg adalah istri sang kakak. Meski ide gitu ngga bisa dibilang orisinil, tapi kite kudu ngasih poin kepada orang ini dalam hal dedikasi. Die ngabisin malem harinye dengan nontonin video ulang taun ponakan semata-mata soalnye die punya mimpi basah ama ibunye! Tentu momen terbaiknye muncul pas die ngobrol ama Marija di dapur, nampaknye ngeliat sang ipar mengunyah apel bikin napsu libido Marko terbakar sampe die kudu minta ijin ke kamar mandi buat bisa “ngelepasin ketegangan” saat itu juga. God-damn, nyoliin kakak ipar, di atas wastafel kamar mandi doi sendiri! EPIC!!! Peran Katarina Zutic sebagai Lejla, sang porn-queen has-been, muncul demi kepentingan eye-candy penonton. Make busana yg bakal bikin kebanyakan remaja putri digampar nyokap kemanepun doski pergi, & death-scene doi bakal muasin kebutuhan mereka-mereka yg nonton ini buat nyari gorn.


Jadi, A Serbian Film emang bukan tontonan fun. Kaya Requiem for a Dream, film ini keliatan gelap & murung sampe abis, tapi ia juga ngga “semengerikan” kaya yg dibilang sebagian orang. Kalo diliat sebagai satu “film”, maka ini bisa dibilang satu yg sukses ngegarap tema sinema-eksploitasi. 

Dengan sedikit pesen sosial, sedikit pesen moral (dilakuin secara ironis, tentunye), sedikit noir, sedikit tradisi snuff Eropa Timur, ama banyaaaak shock-value. Masalah lo setuju ape kaga ama caranye sih urusan pribadi masing-masing kepala yg nonton, tapi yg pasti, dalem soal nyeritain sebuah kisah, mereka ngelakuinnye pake cara yg layak buat disimak.

Apa ini layak diliat? Kenape ngga? Gue sering liat yg lebih jelek.      

Rating : 
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

22 September 2010

Riki-Oh : The Story of Ricky ( 1991 )

Storyline :

Ricky Ho ( Siu-Wong Fan ) adalah seorang pemuda yang sejak kecil dikaruniai bakat ilmu 'Chi-Gung', yaitu sejenis ilmu tenaga dalam super yang membuatnya mampu menghancurkan batu-beton dengan sekali pukul. Dengan tenaga super itu dia mampu memecahkan kepala manusia seperti layaknya buah semangka. haha

Suatu hari, ketika kekasih Ricky ditemukan tewas karena ulah triad-narkoba setempat, Ricky pun mengamuk dan membunuh boss triad tersebut.

Karena pembunuhan itu, Ricky dijebloskan ke sebuah penjara.
Diceritain pada tahun 2001 ( film ini dirilis thaun 1991 ) , sistem kapitalistik di Hongkong membuat penjara telah menjadi bisnis franchise pihak swasta.
Nah, Ricky di jeblosin ke penjara swasta tersebut.

Ternyata penjara itu dipimpin oleh seorang sipir bermata satu & berlengan kait ( seperti kapten hook ) yang korup, sadis dan diktator. Bukan hanya itu, penjara juga digunakan olehnya untuk menanam ganja dan memproduksi opium. Sementara, kekerasan terus terjadi sehari-sehari didalamnya akibat dari sepak-terjang 'The Gang of Four' yang menguasai 4 wilayah blok penjara dengan mem-bully siapa saja yang lebih lemah.

Nah, sekarang rasanya pukulan maut Ricky dibutuhkan untuk menghentikan kedazliman yang terjadi dalam penjara tersebut!

Review :


Pertama kali nonton pelem ini dulu di bioskop kampung , (  di Indonesia beredar dengan judul ' The King of Power' ) yang herannya, adegan eksplist-graphic nya nggak disensor. Kalo ga salah, beberapa minggu setelah pelem ini, bioskop juga menayangkan 'Braindead' nya Peter Jackson. Bayangin, anak kecil rumahnya deket bioskop grindhouse, pantes aja gedenya bikin blog sampah haha

Kalo gue bilang, 'The Story of Ricky' itu seperti film 'Kungfu Hustle' versi hardcore dengan level cheap-splatter-gore setingkat ama Bad Taste.

Gue nggak tau apa emang Ng Kai Lam ( sutradara film ini ) sengaja bikin pelemnya jadi laughable-ridiculous kaya gini ?

Ataukah dia sebenernya lagi nyoba bikin pelem serius dengan banyak adegan mega-violence di dalemnya? haha Ini sebenernya bisa ditelusuri dari keterlibatan Tetsuya Saruwatari yang mana merupakan mangaka (pembuat Manga/komik jepang ) sebagai salah satu penulis naskah film ini. FYI, film ini sendiri adaptasi lepas dari manga 'Riki-Oh' karyanya.

Nah, sepertinya sutradara Ng Kai Lam pengen style-komik itu diterjemahin dengan persis kelayar lebar. Dengan ide kaya gitu, maka semua adegan dan dialog dalam pelem ini terasa bener2 komikal. Sementara adegan gore-nya juga secara naif ditampilin tanpa ragu-ragu dengan efek yang ultra-cheap!

Haha ya, disini kamu akan nemuin sederetan adegan silly-splatstick-gore yang membuat gue maklum kalo 'The Story of Ricky' akhirnya menjadi film paling gory sepanjang sejarah sinema eksploitasi di Hongkong, sementara publik Eropa/Amerika menjulukinya sebagai 'Asian-Braindead'.

Kepala pecah, wajah tertusuk paku, muka di 'gusruk' penyerut-kayu, perut robek, orang dikubur hidup-hidup, bola mata nyoplok, orang dimasukin mesin penggiling daging, tubuh meledak, orang dikuliti, dan gue bahkan belum nyebutin adegan gore paling konyol yang mustahil untuk tidak membuat siapapun tertawa terbahak-bahak ( atau kemungkinan lain meraung-raung sambil menggerogoti bangku ). Gue nggak hiperbola, coba aja tonton sendiri :D

Rambo mah lewaaatt....

The Story of Ricky juga mempunyai klimaks-ending yang ( sekali lagi ) ngingetin ama Braindead dimana bos-sipir nya mampu berubah menjadi monster raksasa, so jangan lewatin the ultimate-battle antara Ricky si jotosan maut melawan monster-sipir!

Terus gimana dengan ceritanya? story? what? you kidding me haha

ya, rentetan adegan hillarious sepanjang film yang tanpa sadar membuat mulut nganga dan otak lumer ini membuat gue nggak peduli lagi ama cerita dan semua plot-hole nya dll hahaha this movie is stupiidd asshooollleeeee!!!

Cukup sudah, kalo diterusin review ini hanya akan berisi kalimat praising/glorifikasi subyektif semata. Menyebalkan bukan? hehe





Overall, 'The Story of Ricky' pantes masuk klasifikasi film yang 'jadi menghibur + fun justru karena keterlaluan konyol, bodoh dan jeleknya. So, kalo kamu mencari film eksyen-thrashy-eksploitasi murahan dengan banyak silly-splatstick-gore didalemnya..then, this is your paradise..

Rating : 
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

28 June 2010

POULTRYGEIST : NIGHT OF THE CHICKEN DEAD ( 2006 )

Reviewed By 'Z'

Buat gue, cukup ada 2 alesan kenape film ini kudu ditonton:

1. Ini keluaran Troma.

2. Ini dibikin ama Llyod Kaufman...yg berarti ini keluaran Troma.

Biasanye, 2 itu selalu ngasilin hasil akhir yg sama: satu film yg jorok, menjijikan & amoral. Sangat memuaskan buat ditonton sendiri, tapi, jauh lebih memuaskan buat ditonton bareng ama temen2 lo dari kaum penggemar film berkelas. Asli, ngga ada yg lebih indah dari sebuah rilisan Troma selaen muternye bareng orang laen & nikmatin momen2 ngeliat mereka menderita! Rasanye kaya megang remote DVD dalem kamar dengan seorang SG bikinin lo popcorn, trus tiba2 ada bir jatoh dari langit2. Kira2 kaya gitu lah indahnye.


Cerita dari Poultrygeist, rilisan Troma pertama dalem 4 taun, itu berkisar pada Arbie & Wendy, sepasang muda-mudi yg "tumpang-tindih" di malem minggu, nikmatin waktu2 terakhir sebelon mereka lulus SMA & nempuh jalan idupnye masing2: Wendy pergi kuliah sementara Arbie milih buat tetep true pada tradisi-panjang tokoh-sentral film Troma dengan tinggal di kampung guna berkarier sebagai pecundang sejati. Nah, abis sebuah insiden menjijikan lalu berlanjut ke beberapa taun kemudian, Arbie ketemu Wendy dalem barisan demonstran anti-korporasi yg lagi memprotes berdirinye cabang American Chicken Bunker, sebuah gerai siap-saji, di Tromaville. Ternyata, pergaulan buruk kehidupan kampus telah ngebawa Wendy ke dalam satu jurang gelap tanpa dasar bernama “feminisme”. Tentunye ngga ada yg lebih cool dalem lingkar radikal feminis daripada jadi seorang lesbi (atau bi, atau apapun asal bukan straight) kan ? Maka disitulah Wendy berdiri, mengepalkan tangan untuk menentang tirani pasar bebas atau apalah gitu, bersama sist2-nye dari chapter lokal CLAM (Collegiate Lesbians Against Mega-Conglomerations), kabar buruk buat Arbie eh? Dan karena script film ini emang nuntut Arbie buat menderita, kini Wendy pun ngejalin hubungan ama Micki, lesbo-militan ama satu2nye cewe yg keliatannye nelen lebih banyak steroid dari Linda Hamilton di Terminator 2.

Rasa sakit hati Arbie gara2 dilepehin ama high-school sweetheart-nye demi Sarah Connor tadi ngebawa die buat ngambil aksi putus asa terakhir untuk kerja jadi "gadis" penjaga mesin counternye ACB. Ya kaya pura2 bunuh-diri lah, cuman lebih ngga pathetic aje. Nah, kayanye kite semua tau kalo, behind-the-scene, dapur restoran siap-saji itu adalah sesuatu yg udah cukup menjijikan. Dengan semua daging cincang produk dari pabrik pemotong, campuran variasi zat kimia, ama tetesan peluh pekerja yg jatoh ke pesenan tanpa kite ketahui. Sekarang tambahin itu ama imajinasi liar dari seorang Llyod Kaufman disana/sini, dan hasilnye adalah rangkaian gambar2 yg bikin seseorang bisa keilangan napsu makannye. Tak terkecuali kalo “seseorang” itu adalah Oprah Winfrey sekalipun! Nambah masalah pas ternyata outlet ACB ini didiriin di atas tanah pemakaman sakral suku Indian. Yup, mirip ama film “itu”, tau kan? Yg judulnye cuman beda 2 huruf ama yg ini.

Secara perlahan-lahan, arwah murka para Indian pun mulai menghantui ruang dapur. Awalnye Paco, seorang gay-hispanik, nyungsep ke mesin penggiling daging. Satu nasib yg umum diterima ama seorang gay di film Troma. Die kemudian beresureksi dalam bentuk sepotong sandwich yg bisa ngomong. Juga satu nasib yg umum diterima ama seorang gay di film Troma. Berikutnye giliran orang gendut, waktu Michael Hertz…um…”meledak” di WC setelah ngonsumsi telor hasil kutukan Indian kuno. Kalo lo ngga familiar ama Michael Hertz, die itu keliatan semacem kaya gimane bentuknye Preston Lacy kalo nelen Kirstie Alley bulet2, & sudut pengambilan gambar yg dipilih buat nunjukin itu bener2 bakalan ninggalin luka permanen dalem memori lo. Beneran, gue ngga becanda, adegan satu ini sumpah mengerikan.


Menyadari sepenuhnye kalo review ini bakalan lebih menjijikan dari review2 gue biasanye. Maka demi kenyamanan pengunjung setia blog ini, gue recap aje kalo abis 45-menit-penuh-semburan-dari-berbagai-variasi-cairan-ajaib-warna/ni-ke-atas-makanan kemudian, marathon jekpot pun dimulai. Jekpot ke properti umum, jekpot ke properti pribadi, orang jekpot saling ngejekpotin satu sama laen, dst, dst. Situasinye kaya keadaan di kampus gue dulu kalo lagi ada acara musik. Marathon jekpot ini kudu ditulis soalnye itu menandai transformasi para pengunjung restoran buat jadi armada zombie-ayam, yup, zombie-ayam! Lengkap dengan bulu2 yg tumbuh dari tempat2 absurd ama paruh tajem. Tentunye ini adalah bagian jualan utama film ini, waktu massa yg ”terzombifikasi” mulai ngebantai massa laen yg engga “terzombifikasi”, dan seperti biasa, Troma ngeksekusi momen itu secara fenomenal. Guts, blood, boobs, senapan mesin, semuanye tumpah-ruah di bagian ini. Sampe Arbie, Wendy ama beberapa survivor terakhir mulai terdesak & siap buat menerima ajalnye. Sebelon kemudian, Humus, sang koki wanita, mati buat kedua kalinye & protagonis kite nemuin senjata pemusnah massal ajaib guna nutup film ini pake sebuah ending yg ‘WTF’.

Fyuh! Capek gue ngereview ini…

Ape sebenernye yg bikin sebagian orang jadi zombie sementara sebagian laennye ngga? Sumpah gue kaga tau. Kenape Humus bisa mati 2 kali juga gue ngga ngerti, kemungkinannye sapepun yg nulis script film ini juga ngga ngerti. Pokoknye doski mati 2 kali, terima aje! Lagian dengan sedemikian banyak adegan splat-stick di sini, lo kaga akan peduli ama detil2 kaya gitu. Kaya semua produksi Troma laennye, Poultrygeist itu tontonan dengan nilai entertainment tinggi. Artinye, isinye dipenuhin ama hal2 menyenangkan yg sinonim ama kata entertainment, tau kan ? Bagian “guts, blood, boobs, senapan mesin” tadi. & kalo semua itu plus ratusan punchline ama toilet-humor masih ngga cukup buat lo, kali ini Kaufman punya trik ekstra: ternyata film ini juga sebuah musikal.

Gue baru tau kalo ternyata musikal itu beda sama opera. Selama ini gue pikir dua2nye tuh sama2 aje, tapi, sebagaimana bisa dijelasin ama para personelnye My Chemical Romance, keduanye ternyata punya perbedaan esensial. Musikal dipake buat ngedeskripsiin film yg sebagian scriptnye ditulis berbentuk lagu, jadi semacam acara Indonesian Idol. Nah sementara kalo opera itu semua dialognye emang dilantunin, semacem kaya yg dilakuin 50 Cents di film di mane die berperan sebagai…50 Cents. Berhubung Poultrygeist ini adalah sebuah musikal, maka lo bisa dengerin serangkaian tembang beraransemen buruk di dalemnye. Sebagian juga dilengkapin ama koreografi jenius pada battle-ballet antara General Sanders vs liga demonstran lesbian. Yup, semua lagu2nye emang achterlijk, tapi keseluruhan packaging-nye? Brilian!!

Tentunye, selera humor Troma itu cuman buat nyervis selera spesifik doang. Mayoritas orang, terutama mereka dengan fanatisme ideologi tertentu, bakalan nganggep lelucon2 film ini sebagai sesuatu yg ofensif. 

Asli, scriptnye ini emang praktis dipenuhin ama tsunami dari punchline & wordplay secara tasteless. Semua dialognye sengaja jadi set-up buat ngeledek sesuatu atau seseorang, dan mereka ngelakuinnye ke semua lapisan tanpa pandang bulu. Gue tau kalo sampe saat ini, film sering dijadiin medium buat agenda ngga tau malu dari propaganda tertentu (Avatar, anyone?), tapi yg dilakuin Poultrygeist unik dalem pengertian kalo mereka mah ngga jelas mau propagandain apaan. Semua dijelek-jelekin. Mau kiri-kanan, liberal-konservatif, amerika-etnis, bisnis gede-bisnis kecil kaga ada yg luput jadi bahan maenan. “Politik” dengan versi hantem rata gini bikin nontonnye jadi menyenangkan soalnye lo ngga ngerasa kalo ada orang yg lagi berusaha nyogokin agendanye ke lobang pantat lo.

Kerennye Troma tuh mereka selalu bikin film buat dikonsumsi ama orang idiot tanpa ngerasa perlu merlakuin penontonnye kaya orang idiot. Leluconnye tasteless, gue setuju, tapi semuanye emang beneran lucu, & ngga ada satu momen pun dalem film ini yg bikin gue ngerasa lagi digembala ke satu arah tertentu.

Gue bisa aje nulis semua kemerosotan mental yg terkandung dalem film ini, tapi itu bakalan ngabisin space, plus, kebanyakan orang bakalan nganggepnye sebagai glorifikasi fetishisme semata. Jadi, berhubung kite lagi ada dalam atmosfer piala dunia, biar gue rangkum aje ini pake kronologi update pertandingan via yahoo:

(“*” diitung sebagai menit)

* 3 - Kayanye itu hal paling menjijikan yg pernah gue liat.

* 4 - Bukan ketang, bagian yg ini jauh lebih menjijikan.

* 7 - BOOBIES!

* 11 - Lo yakin die ngomongin fried-chicken?

* 22 - Koreksi, kayanye ini nih hal paling menjijikan yg pernah gue liat.

* 27 - BOOBIES!

* 53 - Biar ngga semenjijikan yg sebelon2-nye, tapi ini masih cukup menjijikan.

* 60 - Gue bingung kenape orang2 ini ngga keabisan hal2 menjijikan buat ditunjukin.

* 71 - BOOBIES!

* 86 - Goblog, gue pikir udah selesai.

TRAILER






rating: 10/10

17 February 2010

FEAST II: SLOPPY SECONDS


REVIEWED BY 'Z'.

Ketika fajar menyingsing di padang pasir antah-berantah tempat bar kite dulu dibuat porak-poranda, seorang survivor-kejutan dari seri pertama berbaring sekarat dengan sepenggal harapan buat meninggal dalam damai. Tentu harapannya buat menikmati sedikit ketenangan terakhir harus dipangkas pendek begitu orang itu sadar kalo dia cukup sial buat punya peran dalam sekuelnya pas satu wajah baru, yg sangat familiar, datang demi vendetta pribadi balas dendam buat nasib super-sial yg nimpa sodara-kembarnya. Tanpa disadari keduanya nganterin konsumsi daging mentah ke sebuah kota kecil antah-berantah yg jadi ladang perburuannye sekelompok karnivora luar angkasa. Bel ronde kedua berdenting pas kekacauan memuncak & organ tubuh beterbangan ke segala penjuru.




Ini judulnya Sloppy Seconds, seri II buat gorefest klasik John Gulager sekitar 2-3 tahun lalu: Feast! Kisah sekelompok orang tolol dalam sebuah bar serta usaha mereka buat bertahan hidup semalam di tengah badai gempuran predator2 tak dikenal. Feast pertama itu B-movie dengan produksi profesional. Penuh darah, gore ama humor sakit yg mungkin cuman bisa diterima dalam lingkaran ruang lingkup komunitas genre spesifik. Buat sesuatu yg sebegini memorable bagi mereka2 yg dulu nonton, gerakan marketing apaan yg lebih logis daripada bikin cast orang2 tolol baru buat ngisi slot peran expendable pada sekuelnya?


Ensemble tokoh yg berusaha menghindari kematian mengerikan kali ini terdiri dari gank biker all-grrrl bernama The Bleeders (gank cewe…bleeders, get it?), sepasang Luchadore kerdil sama neneknye, segitiga penjual mobil bekas-istrinya yg selingkuh-plus cowo yg doski tidurin, ama temen lama kita Bartender. Honey Pie, jezebel Babylon dari film pertama juga kembali. Tentunya, dengan cara gimane doski cabut dari seri pertama dulu die ngga dapet sambutan yg hangat dari yg laen & setelah sebuah reuni singkat, doski ngabisin sisa film ini buat berusaha nyelesaiin masalahnya sendiri. Dengan semua tokoh yg semuanye ngga bisa digolongin sebagai “orang baik2” ini, praktis panggung gore kita ini udah siap buat dilumurin darah. Pastinye darah tu cuman salah satu jenis santapan yg ada di daftar menu, masih ada sodomi binatang, cewe2 ber-tato buka baju, otopsi non-medikal, perlombaan muntah, balita pecah kaya jus tomat, monster ngencingin mulut cewe2 ber-tato buka baju, dll, dll. Asli, kalo semua itu bukan sesuatu yg pengen lo liat kalo nonton dvd...kayanya lo lagi baca review dari orang yg salah deh.



Benang merah semua kekacauan di atas adalah eksploitasi fantastis dari selera buruk dalam dosis tinggi. Ngga kaya kebanyakan film2 (yg katanya mah) "horror" di mana rentetan even yg terjadi cenderung berpihak kepada protagonisnye, di sini praktis apapun yg terjadi selalu naro para calon daging cincang yg disebut dengan “karakter”2nya ini dalam situasi yg sulit. Kaya gimane semestinya, kenikmatan dari nonton Feast II itu greget dari nungguin sapa yg bakalan mati di adegan berikutnya...serta seberapa gruesome hal itu bakalan terjadi.

Semua karakternya diperkenalkan secara acak lewat montase2 acak-acakan yg sebenernye ngga ngasih tau apapun yg signifikan, itu ditambah dengan fakta kalo ngga ada satupun diantaranya yg diperanin ama aktor/aktris kredibel, bikin nomor urut daftar terbunuh mereka jadi ngga kedeteksi, jelas sebuah nilai plus. Film ini juga padat berisi selera humor “kurang pantes”, cairan2 misterius sama gag kelas redah buat terkualifikasi sebagai film porno fetish, Sloppy Seconds boleh jadi adalah produksi Tromaville terbaik yg ngga dikeluarin ama Troma.

Dari sisi yg -relatif- negatif, ini dibikin dengan budget yg -juga relatif- rendah & dalam beberapa scene hal itu keliatan banget, terutama di bagian2 dimana sejenis sentuhan grafis komputer mulai dilibatin. Shot2 green-screen luar biasa keliatan green-screennye sampe pada tahap menggelikan. Tapi, kalo efek-visual a la Toxic Avenger adalah nilai minus buat satu jenis audiens, sejujurnya sih itu justru malahan jadi nilai plus buat jenis audiens yg lain, kaya yg gue bilang tadi: relatif.

................................................

Blood…guts…boobs…vomit…blood…urinal…blood…guns…guts…vomit…boobs. Feast II: Sloppy Seconds itu sekuel brilian dari film pertama yg brilian. Kabar2 belakang layar bilang kalo seri II ini sebenernya di-shoot bareng ama seri III-nya yg sekarang juga udah keluar dvdnye. Jadi keliatannya kita bakal punya franchise yg menjanjikan ke depan & kalo John Gulager tetep naro fokusnya di tempat yg bener, jangan heran kalo gue bakalan menghujani episode III nanti dengan puja-puji yg lahir dari fanatisme buta. Hell yeah,

MAKE FEASTS NOT SAWS!!!