Showing posts with label sci-fi. Show all posts
Showing posts with label sci-fi. Show all posts

16 November 2016

( TV-SERIES ) STRANGER THINGS ( 2016- ) Season 1 : 5 Alasan Kenapa Ini Sangat Menyenangkan

Stranger Things langsung menyita perhatian gue dengan tipografi/font judulnya yang terasa sangat familiar. Setelah diinget-inget barulah gue sadar kalo itu sangat menyerupai layout nama Stephen King di sampul novel2 era 80-annya. Dan juga..judul Stranger Things sendiri hmm bukankah itu  sangat nge-rhyme ama Stephen King?  Lalu coba lihat desain posternya, ada anak-anak belasan taun menaiki BMX! wow apakah ini mengingatkanmu akan sebuah film tentang bocah2 yang nyoba nyelamatin makhluk imut dari luar angkasa? 
 
Ya, dari sini saja semangat homage 80/90-an dan aroma nostalgianya sudah terasa begitu menyengat. Jadi, tanpa nyari tau lebih lanjut gue langsung donlot seri garapan Duffer Brothers yang berhasil menjadi hit Netflix di musim panas kemaren ini. 

 
Oke, folks. Kita langsung ke ceritanya :


Premise :

 
Tahun 1983. Ketenangan kota kecil Hawkins, Indiana terganggu dengan kasus hilangnya seorang bocah 12 tahun Will Byers ( Noah Schnapp ) sepulang dia bermain bersama teman-temannya. Kehilangan putera tanpa kejelasan nasib membuat sang ibu, Joyce ( Winona Ryder ) sangat terguncang, dia memaksa petugas polisi Jim Hopper ( David Harbour ) untuk terus melakukan investigasi sampai puteranya ditemukan. Namun, dalam proses penyelidikannya, Jim dan Joyce mulai menemukan banyak keganjilan.

24 July 2013

THE FLY ( 1958 )

Storyline :

Apa yang terjadi dalam 'The Fly'  dimulai ketika pada suatu hari Francois Delambre ( Vincent Price ) mendapat telepon dari Helen ( adik iparnya  ). 

Helen mengaku, bahwa dia telah membunuh Andre ( suaminya ) di laboratorium kerjanya. Francois pun terkejut bukan kepalang, karena pasangan suami-istri yang sudah dikarunai seorang putera ( Phillip ) ini sebelumnya tidak pernah mempunyai masalah apapun.

Ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Francois bersama inspektur Charas segera melakukan investigasi. Hal yang membuat mereka bingung adalah, ekspresi Helen terlihat tidak terlalu berduka. Dia bahkan mampu menceritakan kronologi pembunuhan suaminya dengan tenang. Inspektur Charas langsung menyimpulkan kalo Helen telah menjadi gila. Namun, Francois tak percaya itu. Dia yakin ada yang disembunyikan pada kasus ini, terutama karena Helen sering bertingkah aneh ketika melihat seekor lalat.

Pada suatu hari, putera Helen ( Phillip ), bercerita pada Francois kalo ibunya memang sedang mencari seekor lalat. Bukan sembarang lalat, yang dicarinya adalah seekor lalat berkepala putih dan berkaki aneh.

Lalat berkepala putih dan berkaki aneh??

Demi bisa menguak misteri ini, Francois berpura-pura telah menangkap 'lalat berkepala putih' itu dan akan memberikannya kepada Helen, asalkan dia mau menceritakan penyebab kenapa pembunuhan itu bisa terjadi.

Helen setuju. Dan dia mulai menceritakan kisah mengerikannya.....

Flashback.

20 July 2013

FORBIDDEN PLANET ( 1956 )


Storyline :

Diceritain di awal abad ke-23, pesawat antariksa Cruiser terbang menjelajahi ruang angkasa, menuju planet Altair-4 yang berjarak sekitar 16 tahun cahaya dari bumi. Misi mereka, menyelidiki nasib awak eskpedisi pesawat Belerephon yang di kirim ke planet tersebut 20 tahun sebelumnya.

sesampainya di planet itu, mereka menemukan Dr.Morbius, puterinya, Alta dan robot asisten bernama 'Robby'. Mereka tinggal dan bertahan hidup dalam sebuah tempat yang canggih ( sekaligus indah ) dengan memanfaatkan teknologi peninggalan bangsa 'Krell' ( penghuni asli planet Altair-4 yang diceritakan oleh Dr.Morbius telah punah oleh sebuah kekuatan tak terdeteksi ketika telah mencapai puncak ilmu pengetahuannya ). Sementara itu awak pesawat Belerephon yang lain sendiri konon  telah tewas.

Komandan Adams memutuskan untuk menyelidiki penyebab tewasnya awak pesawat Belerephon, ketika tiba2 dia mendapat laporan bahwa sebuah kekuatan tak dikenal telah menyelinap dan menyabotase pesawat Cruiser.

Kekuatan apa gerangan yang mengancam mereka? 

Penyelidikan semakin di intensifkan dengan mempelajari dan menggunakan peralatan canggih di laboratorium peninggalan bangsa Krell, dan apa yang kemudian mereka temukan adalah sebuah kenyataan yang sungguh mengejutkan! 


10 July 2012

NIGHT OF THE CREEPS ( 1986 )

Sebagai seorang yang mengaku menggemari pilem horror-splatstick kelas B ( apalagi yang rilis tahun 80-an ), gue sebenernya sudah terlalu banyak ketinggalan. Ada banyak banget judul2 wajib-tonton yang sampai saat ini belum sempet gue buktiin ke-awesome-an ( atau ke bodohannya ). Kenyataan ini sebenernya cukup menyembulkan tanda tanya kalo mengingat kita udah idup di zaman Torrent dimana hampir semua judul pilem udah tersedia di sono. Tinggal donlod aja. Tapi masalahnya, kemampuan modem gue tuh cuman handal ketika dipake buat download...subtitlenya doang haha. Jadi, seringnya sih kalo ngeliat judul dan poster pilem2 horror klasik itu melambai-lambai minta di unduh, gue jadi keinget ketika waktu kecil dulu nyaris netesin air liur pas ngeliat poster 'Six Wild Girls' nya Pheng Tan di pajang di bioskop Mulya, pengen nonton tapi apa daya kaga punya duit haha.

Air liur itu juga berlaku buat judul yang satu ini, Night of The Creeps sebenernya udah lama banget gue masukin dalam daftar list '100 pilem horror jelek tapi keren yang harus gue tonton sebelum bunuh diri', dan oh my.. gue baru berhasil menontonnya...kemaren. Itu pun setelah salah seorang temen yang kelihatannya prihatin, mengirimkan DVD nya ke gue.

Ok, skip 2 paragraf diatas.
Terus, apa bener pilem ini adalah salah satu judul esensial dari genre horror-splatstick kelas B rilisan era sillyness-80?
Langsung aja,

Seperti kebanyakan pilem horror dari subgenre ini, ceritanya bisa diceritain dengan satu paragraf singkat :

Dua mahasiswa pecundang Universitas Corman ( Chris dan J.C ), secara tidak sengaja melepaskan parasit-luar angkasa dari mayat yang diawetkan di laboratorium selama hampir 30 tahun. Hal yang mereka tidak tahu adalah parasit2 yang mirip lintah itu akan memakan otak manusia ( setelah meloncat masuk lewat mulut ) kemudian mengendalikan tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa itu untuk merubahnya menjadi..killer outer-space zombie. 

Sekarang, Detective Cameron, Chris dan Cynthia harus berjibaku melawan zombie2 ini demi menyelamatkan pesta dansa mahasiswa Universitas Corman dari banjir darah.

..............................


Night of the Creeps dibuka dengan adegan yang sangat menarik,

Di sebuah pesawat ruang angkasa, alien-alien ( yang kostumnya lebih mirip Teletubbies :D ) terlihat panik ketika tabung eksperimen mereka terjatuh. 

Cerita segera beralih ke bumi sekitar tahun 50an, 

Sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran tiba2 melihat sebuah meteor jatuh, sang pria ( John ) segera menyelidiki benda langit misterius tersebut, sementara sang wanita ( Pam ) menunggu dengan cemas di mobilnya karena pada saat bersamaan di radio tersiar kabar bahwa seorang pembunuh berkampak baru saja kabur dari penjara. Dengan penuh rasa penasaran, John mendekati meteor yang ternyata adalah tabung ruang angkasa berisi makhluk melata sejenis lintah. Sementara itu, sesosok pria berkampak perlahan-lahan mendekati mobil Pam. Sosok pria berkampak yang ternyata adalah..zombie!


Whoa..hanya dari adegan pembuka ini gue langsung menyadari kalo sutradara pilem ini, ( Fred Dekker ) adalah seorang menyenangkan yang bukan saja senang membuat pilem tapi juga terlihat sangat mencintai genre horror. terutama b-grade horror. Dia baru saja nge-blender berbagai subgenre horror ( scifi, creature, zombie, sampe slasher ) lalu membuat homage dari berbagai referensi judul ( Alien, The Blob, They Came From Within, Invasion of The Body snatchers, sampe materi slasher tahun 80-an ) ke dalam satu scene! Dan senyum gue mulai mengembang.

Ya, memangnya apa yang lebih badass untuk ngebuka sebuah pilem selain weird alien, creepy-crawly-slimy creature, serial killer, dan zombie?


Pilem kemudian berpindah setting lagi ke tahun 80-an.
Dan kita mulai dikenalin ama tokoh Chris ( Jason Lively ) & J.C ( Steve Marshall ) dua mahasiswa geek Universitas Corman yang nantinya akan menjadi biang keladi kekacauan yang terjadi. Dari sini sebenernya pilem beranjak menjadi sedikit membosankan, ketika dia malah berubah suspenseful dengan investigasi Detective Cameron ( Tom Atkins ) atas berbagai kasus pembunuhan brutal yang terjadi di kota itu. Suspense yang tidak perlu, karena toh sejak awal penonton udah tau kalo yang ngelakuinnya adalah zombie yang dikendalikan parasit luar angkasa. Gue semakin tidak sabar ketika scene-scene yang sepertinya akan menjadi menarik, tiba2 kepotong begitu saja dan beralih ke adegan berikutnya.

Tapi, mungkin itu hanya karena gue nggak sabar buat ngeliat sajian silly-gory nya, karena pas gue nonton ini buat ke dua kali, semua bagian dalam Night of the Creeps ternyata tetep kerasa FUN. Termasuk di part yang awalnya bikin gue nggak sabar.

Night of The Living Dead Cat
Dekker seakan paham bener dia lagi bikin pilem horror model apa lantas ngebalut semuanya dengan dialog2 corny-witty dan ngasih banyak hillarious memorable line yang bikin gue ketawa. Selain itu, ada banyak sekali referensi pilem horror b-grade yang dipake Dekker sebagai tribute atau homage dan dia nggak lupa bersenang-senang dengan ngetawain atau mengejek kekonyolan pilem2 itu seperti apa yang kemudian juga dilakukan Wes Craven dalam Scream. What a fun! :D 

Itu masih belum seberapa, karena gue nemuin bahwa banyak tokoh atau tempat dalam pilem ini yang memakai nama2 sutradara cult seperti : sersan Raimi, Det.Cameron, Romero, Cronenberg, Corman, Miller, Landis, Dante, DePalma ( kucing zombie disini juga bernama Gordon, apakah itu merujuk pada Stuart Gordon? ) dan kalian tau siapa nama J.C sebenarnya? James Carpenter Hooper. Whattafuck haha. Kalo kalian mau ngelakuin hal yang sama, tolong masukin nama Fred Dekker ke dalamnya. Asli, ini jelas membuat gue memaafkan bagian investigasi2an yang sebenernya nggak perlu itu.

Mendekati 30 menit akhir, akhirnya pilem mulai beranjak ke arah yang gue harepin. Zombie-zombie mengepung pesta dansa mahasiswa, dan Det.Cameron ngeluarin best hillarious line nya :

" i got good news and bad news girls, the good news is your date are here.."
" What's the bad news? "
"They're Dead."

Dan Dekker ngelunasin janjinya pada gue dengan ngasih banyak zombie, head-exploding, creepy-crawlie-slimy creature..yeah, 20 menit nonstop fun silly-cheapy-gore!


Jagoan kita ( Chris & Cynthia ) beraksi dengan flamethrower dan shotgun. Ngebakar dan ngeledakin kepala zombie2 yang dari dalamnya akan keluar parasit2 seperti lintah. Gory efek nya sendiri sebenarnya lame, tapi gpp, itu nggak ngurangin ke FUN an nya kok, dan gue sangat menghargai usaha Dekker dan kru spesial efek nya. Sedikit kejutan juga ketika menemui kenyataan bahwa ternyata Lionel ( dalam 'Braindead' ) bukan yang pertama beraksi ngebantai zombie2 dengan mesin pemotong rumput, karena Chris sudah lebih dulu melakukannya! Haha gue pikir Night of the Creeps pasti adalah salah satu referensi Peter Jackson ketika membuat Braindead, mengingat adegan2 akhirnya begitu mirip ( pilem lain yang gue liat banyak ngambil referensi dari Night of the Creeps ini adalah Re-Animator dan Slither ).

Thrill Me
Dan meski Chris dan Cynthia sudah beraksi habis2an melawan zombie, karakter Det.Cameron ( Tom Atkins ) lah yang layak disandingkan dengan para badass-horror-heroes lainnya. Dia mencuri perhatian dan menenggelamkan karakter lain dengan line-line nya yang kocak, tak kenal takut, tanpa kompromi, pantang mundur dan mempunyai misi tersendiri terhadap para alien ini : membalas dendam. 

Sandingin Det.Cameron dengan Ash, Lionel, Ben, Ripley, R.J. MacReady, dan Derek maka mereka akan membuat The Expendables dan The Avengers pensiun.

...........................

Well, dengan semua apresiasi positif gue diatas, gue nggak ngerti kenapa Fred Dekker hanya menerima sedikit pengakuan dan respek dari industri perfilman, Tri-Star terlihat nggak antusias ama rilisan ini dan Night of The Creeps nggak punya wide-release atau promosi yang layak. ( Ini juga terjadi pada karya Dekker di tahun berikutnya, The Monster Squad (2007) yang sampe saat ini hanya tersedia dalam format bootleg DVDs di Amerika. ) why? Padahal buat gue Night of The Creeps adalah salah satu yang terbaik di genre spesifiknya, Fred Dekker jelas punya banyak sesuatu yang bisa ditawarkan buat sinema-horror.. Whateva.

so the verdict is,
meminjam salah satu line dari Det.Cameron :

" Zombies, exploding heads, creepy-crawlies... and a date for the formal. This is classic, Spanky. "

Yup, ini pilem horror b-grade sejati yang dibuat oleh sutradara penggemar horror b-grade sejati untuk audiens horror b-grade sejati. Highly recommended. Enjoy this,..jangan lupa siapin popcorn ama bir yang banyak.

Jadi, sekarang pilem wajib-tonton gue berikutnya adalah 'The Monster Squad' ( 1987 ), tolong siapa aja yang punya pilem itu buat menghibahkannya ke gue hehe.
ya gue tau..gue udah ketinggalan lagi :D


RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



19 August 2010

The Living Dead At The Manchester Morgue ( 1974 )

Storyline :

George ( Ray Lovelock ) sedang dalam perjalanan ke sebuah kota, ketika motornya tanpa sengaja dibuat rusak, tersenggol mobil yang dikendarai oleh Edna ( Cristina Galbo ) yang juga sedang dalam perjalanan menuju sebuah kota untuk mengunjungi kakak perempuannya ( Katie ).

Merasa bersalah, Edna menawari George untuk menumpang mobilnya. Kebeneran mereka emang satu arah, walau kota yang dituju berbeda. George hendak ke Windermere, sementara Edna sedang dalam perjalanan ke Southgate ( kawasan Manchester ). Karena tak punya pilihan lain, George setuju. Mereka pun langsung meneruskan perjalanan bersama.

Ditengah jalan, Edna membujuk ( setengah maksa ) George untuk menemaninya dulu ke Southgate mengunjungi kakaknya, setelah itu dia berjanji akan mengantar George ke Windermere . Awalnya George menolak, tapi akhirnya dia mengalah. Sebuah keputusan yang pastinya akan di sesali George selamanya, karena dari sini lah semua horror dalam film ini dimulai.

Ya sesampainya di Southgate, mereka menemukan suami Katie ( Martin ) telah tewas mengenaskan. Menurut Katie yang terlihat sangat shock, suaminya diserang oleh sesosok pria yang sangat menyeramkan.


Kepolisian setempat segera melakukan investigasi. Namun kecurigaan sersan polisi justru jatuh pada mereka bertiga. Apalagi ketika polisi menemukan bukti bahwa Katie adalah seorang pecandu heroin. Sementara penampilan George yang shaggy-gondrong + brewokan menambah keyakinan pihak kepolisian bahwa mereka adalah gerombolan pemuda hippies-maniak-pemuja setan seperti Manson's family.

"You're all the same the lot of you, with your long hair and faggot clothes. Drugs, sex, every sort of filth! "

Begitu katanya ketika mengomentari style George, yang langsung dibalas George dengan melakukan hormat ala Nazi + teriakan : Hail Hilter! haha

Tak mau dituding sebagai pembunuh, George dan Edna mulai berpacu dengan waktu untuk mengungkap semuanya. dan akhirnya mereka menemukan sebuah fakta mengerikan : Semua ini ternyata berawal dari sebuah mesin penghasil gelombang-ultrasonik yang sedang dijui coba di kawasan itu. Mesin itu sebenernya bertujuan untuk membunuh hama-serangga. Namun ini film horror-scifi men, kita tahu dalam film horror-scifi, eksperimen biologi --dengan penjelasan yang sumpah gue nggak ngerti-- pasti akan menciptakan semut raksasa, laba-laba sebesar rumah dll Atau kalo nggak..ngebangkitin mayat-mayat dari kuburnya! haha dan yah, mayat-mayat yang bangkit kembali karena efek gelombang-radiasi-ultrasonik inilah yang melakukan serangkaian pembunuhan di kota kecil itu.

Namun sayangnya, sersan polisi yang menyebalkan itu tetap tidak percaya. Jarinya tetap mengarah ke George, Edna & Katie sebagai dalang disetiap kasus pembunuhan berantai yang terjadi. Maka sekarang, mereka terpaksa harus bergerak dengan cepat untuk mencegah kota itu menjadi 'city of the living dead' sekaligus ngebuktiin pada polisi kalo mereka tidak bersalah. Sayang semuanya terlambat..........

Review


Ini adalah sebuah film Spanyol ( yang dengan alasan yang gue juga nggak ngerti ) memilih buat mengambil setting di Inggris. Sutradara Jorge Grau diminta oleh seorang produser untuk membuat sebuah film yang similiar ama Romero's 'Night Of The Living Dead' yang mencetak hit 4 tahun sebelumnya. Dia menyanggupi dan akhirnya jadilah film ini.

Namun gue nggak tau sang produser akhirnya seneng apa kaga, soalnya ternyata film ini beda ama Night Of The Living Dead ( NOTLD ) yang apokaliptik itu ( walaupun emang ada beberapa scene nya yang mirip ) .

Jorge Grau keliatannya nggak pengen cuman nge rip-off mentah-mentah NOTLD dan cukup percaya diri untuk membuat film nya malah mempunyai style sendiri. Plotnya emang tetep tipis, sama kaya The Blob , Maniac Cop atau film-film laennya dimana sang protagonis dikejar-kejar polisi, sementara dia mengetahui sebuah 'horror' yang akan melanda. Model begitulah. 

Bedanya, Jorge Grau mengeksekusi thin-plot ini dengan shot-shot stylish. Jorge jelas orang yang tau gimana caranya ngambil shot dengan frame yang menarik dan impresif. Dia juga seneng bermain-main dengan setting atau background. Liat aje gimana keindahan desa kecil Southgate ( berlokasi di Derbyshire, Inggris ) terekspose dengan baik berpadu ama horror yang kemudian di sajikan. Konon, setelah film ini beredar, lokasi sutingnya sampe sekarang banyak dkunjungi para turis. Iye sih, gue juga pengen ke sono hehe *kalo ada yang ngongkosin. Sementara setting pekuburan ( dan suasana kota kecil Southgate ) nya malah terasa gothic, sama kaya atmosfir gothic di Michelle Soavi's Dellamorte Dellamore . Walaupun nggak se-surreal film itu, tapi kemungkinannye 'The Living Dead At The Manchester Morgue' ( TLDATMM ) emang salah satu referensi Michelle Soavi. 

Gue udah merasa suka film ini sejak 10 menit pertama. Yap, adegan opening George mengendarai sepeda motor di keramaian kota London dengan diiringi soundtrack musik rock-reggae khas 70-an itu  berhasil menarik minat gue. Disini sepertinya Jorge hendak menyampaikan opininya tentang masyarakat-kota.

Cek aja,  Ada shot keramaian kota London yang 'ramai tapi sepi', asap knalpot,  polusi pabrik-pabrik, public space yang udah ter-occupied ama papan reklame, sampah, lalu ada shot bangkai burung tergeletak di pinggir jalan,  pejalan kaki yang menutupi wajahnya dengan masker, seorang sakit yang sedang menenggak pil, kerumunan calon penumpang di terminal, penumpang2 bus yang berjubelan dengan wajah kosong/lelah ( sama kaya zombie ), dan kemudian gue dikejutkan oleh adegan ini : seorang perempuan tiba-tiba melepaskan bajunya, lalu berlari-telanjang menyeberang jalan. Wtf!, gue kaget tapi orang-orang dalam adegan ini digambarkan tidak menghiraukan aksi itu. mereka terlalu lelah/sibuk untuk mempedulikannya. Wow..big city is a real city of the living dead?? mereka emang hidup tapi kesibukan dan kerja membuat mereka terlihat 'mati'. Mungkin itu yang pengen Jorge opinikan :) Jleb! ga jauh beda ama gue yang udah 'mati' karena lebih sering jadi zombie di depan komputer hehe RRRHH im a zombie! brraiiinsss.....

Menit berikutnya, Jorge Grau malah ngasih sensasi yang kontras ama scene kota London tadi. Dia mulai meng-ekspos keindahan kota kecil Inggris dengan bukitnya yang hijau menyegarkan, ha, ini ngingetin gue ama gambar bukit-hijau 'Bliss' di salah satu wallpaper/theme nya Windows XP. Dan hanya karena ini saja gue udah menggumam dalam hati : "film ini keren."



40 menit awal berikutnya, dipake Jorge buat ngenalin dan membangun karakter tokoh-tokoh dalam usahanya membuat penonton peduli dan mengantisipasi apa yang akan terjadi kemudian. Dan dia berhasil. Terutama berkat dukungan para cast nya yang berakting sangat baik. Arthur Kennedy mencuri perhatian dengan perannya sebagai polisi menyebalkan, Ray Lovelock meyakinkan sebagai pemuda hippies-kritis yang rada brengsek, dan Cristina Galbo sekarang menjadi salah satu cewe yang masuk list favorit 'screen-screaming-queen' versi gue. Dan berkat perannya disini, Cristina ( yang juga sering maen di pelem2 Giallo ) akhirnya mendapat penghargaaan best-actress di sebuah festival. Dengan cast solid seperti itu, adegan intriguing-suspenseful yang dibalut ama dialog-dialog kocak-renyah kemudian digulirkan Jorge untuk menghindarkan penonton jatuh pada kebosanan. Dari sini tensi film sedikit demi sedikit mulai merambat naik.


Sampai akhirnya mulai menit 50 sampe abis, film berubah drastis dari suspense menjadi horror-survival-scifi-zombie yang intense dan menyenangkan buat ditonton. Jorge mulai ngasih apa yang para guts-lover tunggu dari tadi. walaupun emang level gory dalam film ini nggak pernah nyampe ke level splatter ala Fulci ( dan keliatannya Jorge juga nggak pengen membuat filmnya ke arah situ ), tapi film ini mempunyai adegan yang dikenal sebagai adegan 'breast-ripping'.  Sebuah adegan yang cukup eksplisit, dimana zombie-zombie itu menggrauk ( bahasa apaan tuh? haha ) payudara seorang resepsionis rumah sakit. Haha Dan masih banyak lagi seperti leher yang ditusuk, organ tubuh yang dimakan beramai-ramai sampe zombie yang terbakar dll. Sementara adegan terakhir di rumah sakit itu juga jelas influence besar untuk Lucio Fulci's The Beyond dan Stuart Gordon's Re-Animator .


Ngomong-ngomong soal zombie, zombie dalam film ini punya beberapa keunikan :
- Walau kepalanya ditembak, dia nggak bakalan mati ( para protagonis kita akhirnya  menemukan cara buat melumpuhkannya : dibakar! haha )
- Mayat-mayat itu akan bangkit lagi setelah terkena gelombang radiasi ultrasonik atau  mendapat transfer radiasi dari zombie lainnya. ( jadi bukan oleh gigitan ).
-  Zombie disini bertenaga kuat dan cukup pintar untuk menggunakan nisan kuburan sebagai senjata. Haha
-  Slow-moving, berwajah datar ( tidak menyeringai ), diam ( tidak mengeluarkan suara ) dan mempunyai tatapan kosong.

Namun, walau ini film tentang flesh-eater-zombie gue ngerasa kalo real-villain dalam film ini justru si sersan polisi yang menyebalkan itu. Dia sok tahu, rasis, terlalu menghakimi, konservatif, dan keras kepala. Dalam sebuah film, kamu pasti mengharapkan hal-hal buruk menimpa karakter seperti ini. Itu makanya sinetron bisa nyampe puluhan episode, soalnya produsernya tau penonton menunggu pemeran yang suka melotot dan menempeleng itu mendapat balasannya hehe 



Dalam film ini, kamu nggak perlu menunggu sampai puluhan episode dan akan mendapatkan 'kepuasan' itu di menit-menit akhir. it's time to zombie-revenge! Ups, spoiler ya? *peace :D Ya, film ini diakhiri oleh ending yang mengejutkan dan menarik hehe

Satu poin plus lagi, horror berdurasi 93 menit ini di dukung oleh backsound/scoring-music yang sangat efektif. Jorge Grau sendirilah yang membuat  scoring mirip gelombang suara/lenguhan nafas itu. Dan dia berhasil menciptakan 'sound of the dead' yang mendukung adegan dan keseluruhan ide cerita.


..................................................................

Sekarang, dengan semua opini positif yang gue tulis diatas, gue heran film ini ternyata jarang disertakan dalam list film zombie favorit para horror-fan. Kenape ye?

Analisa gue sih mungkin karena film ini terlalu suspense+stlylish buat penggemar zombie-splatter atau sebaliknya terlalu gory+eksploitatif buat penggemar suspense-scifi. jadi nanggung-nanggung gitu. 
Atau kemungkinan lainnya adalah karena film ini mempunyai alternate-title yang banyak sekali. gue itung-itung di IMDB sampe 17 judul haha. Lain negara yang mengedarkan, lain pula judulnya. Anchor Bay sendiri beberapa tahun lalu merilis versi DVD film ini dengan judul 'Let's Sleeping Corpses Lie', di IMDB film ini ditemukan dengan judul 'Don't Open the Window' , dan apakah kamu mencari-cari film 'Zombie 3?' Ga usah bingung, karena 'Zombie 3' adalah film ini, atau jangan-jangan kamu sudah nonton film ini tapi dengan judul yang beda? coba cek 14 judul lainnya haha.  Nah, mungkin judulnya yang banyak itu membuat film ini jadi gampang buat dilupain. Istilah cepet : nggak nancep di kepala.



Final verdict, nggak adil rasanya kalo membandingkan film ini ama film kelas A, ini tetep B-movie ringan yang buat beberapa audiens non-horror sering dibilang meaningless-garbage. Namun buat horror-fan seperti gue,  di genre-spesifik nya, 'The Living Dead At The Manchester Morgue' ( or whatever title ) adalah sebuah 'permata'. Nggak sempurna tentu aja, ada plot hole dan kekurangan disana-sini, tapi dari semuanya, yang paling membuat gue respek adalah, 

film ini punya style dan karakter yang kuat. Orang yang membuatnya berani untuk tidak menjadi George Romero atau Lucio Fulci, 'he's not wannabe', dia  adalah Jorge Grau dan ini filmnya. Kita tahu, sesuatu yang berkarakter itu biasanya akan menjadi influental. dan itu keren. hehe
Jorge juga berhasil memasukkan beberapa 'muatan-kritis' tanpa terlihat preachy tentang pemikiran konservatif orang tua melawan semangat & pemikiran baru generasi muda ( di simbolkan oleh karakter polisi dan pemuda hippies ) juga isu tentang lingkungan hidup seperti yang tertulis dalam salah satu taglinenya :


" They tampered with nature - now they must pay the price..."

dan yang terpenting, 'The Living Dead At The Manchester Morgue' nggak pernah lupa kalo dia tetep sebuah  hiburan dan mempunyai sederet momen-momen memorabelnya.

jadi, tanpa ragu film ini jelas akan masuk dalam daftar kult-klasik versi subyektif gue. Hehe. 





RATING :

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


25 June 2010

THE BLOB ( 1958 )

Storyline :

Film dibuka dengan adegan yang ngingetin gue ama film 'Slither' ( yap, film itu kayanya terinfluence dari 'The Blob' ini ). Sepasang kekasih, Steve dan Jane sedang bercumbu di tepi hutan, ketika tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ledakan yang berasal dari sebuah meteorit yang jatuh. Dengan semangat scientist-amatiran, mereka segera mencari lokasi jatuhnya meteor itu.

Namun seorang petani tua yang tinggal sendirian di tengah hutan, terlebih dahulu menemukannya.

Batu meteor sebesar buah jeruk bali itu mengeluarkan asap tipis dan menyebabkan lubang ditanah sedalam 30 cm. Karena penasaran dan bingung, sang petani-tua menyentuh meteorit itu dengan sebatang kayu. Tak disangka, batu meteor itu pecah. Dan dari dalamnya nampaklah seonggok daging-kenyal-berlendir. Semakin penasaran, sang petani mengambil daging-kenyal-berlendir itu dengan kayunya. Dia sibuk mengamati dengan seksama lendir-aneh yang menempel di kayunya, dan sebelum kebingungannya terjawab, tiba-tiba daging-kenyal-berlendir itu bergerak menyelimuti tangannya. Dia mencoba melepaskannya, namun tak bisa. Lendir itu menempel ditangannya!

Steve dan Jane yang menemukan petani malang itu, segera membawanya ke dokter.
Horror di mulai ketika ternyata lendir di tangan petani-malang itu tumbuh semakin besar dan menelan seluruh tubuhnya, bukan hanya itu, sang dokter dan perawat pun ditelan mentah-mentah ama lendir-alien yang sekarang kita sebut saja sebagai the blob. Setiap kali the blob menelan seseorang, tubuhnya semakin membesar, dan makhluk ini terus bergerak perlahan namun pasti untuk menelan apa saja yang ada di depannya.

Sekarang nasib kota kecil itu tergantung pada Steve & Jane ( dan beberapa pemuda lokal ) untuk memperingatkan para warga dan polisi akan ancaman the blob, namun seperti biasanya, tidak mudah untuk membuat mereka percaya.

Maka mereka pun mulai berpacu dengan waktu.


Review :

Di buat pada era 50-an dimana penonton sedang tergila-gila ama film sci-fi dan segala jenis monster-raksasa, The Blob hadir sebagai salah satu pioneer film Sci-fi-Alien selain 'Invasion of The Body snatchers', 'Forbidden Planet', 'Plan 9 from Outer Space' dan film2 sejenis yang banyak rilis pada era itu. Uniknya, The Blob menawarkan alien-nya dalam bentuk paling aneh dan konyol yang pernah gue liat di film. Namun, pada zamannya, konon the blob termasuk film yang mengerikan. Gue membaca di sebuah review, dimana seorang reviewer menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika menonton film ini. Dia bercerita bahwa dia tak berani melihat kearah layar ketika The Blob muncul. Haha

Pada kenyataannya, ketika menonton film ini kemarin, gue teringat pengalaman menggelikan ketika menyaksikan semut-raksasa dalam 'Them!' (1954) ,it's stupid & ridikulus! haha Bayangin, the blob ini cuma sebentuk lendir-kenyal berwarna merah, dia nggak punya wajah, nggak punya mata, mulut, kaki atau tangan..it's just the blob! Kamu tumpahin aja sebaskom agar-agar/jelly berwarna merah kelantai, dan seperti itulah bentuk the blob. Dia bahkan praktis nggak bisa ngapa-ngapain selain menggleserkan lendirnya buat bergerak dengan kecepatan nggak lebih cepet dari bekicot. Dengan kenyataan kaya gitu, ngeliat orang-orang dalam film ini pada jejeritan histeris ngeliat the blob, bikin gue ketawa terpingkal-pingkal dengan nikmatnya. It's so terrible and it's fun to watch.

Nuansa komedi ketimbang horror, udah gue dapetin ketika gue mendengar irama opening themesong khas 50-an nya yang ceria kaya musik pesta, liriknya kaya gini :

Beware of the Blob!
It creeps and leaps
And glides and slides across the floor
Right through the door
And all around the wall
A splotch, a blotch, be careful of the Blob.

Satu-satunya yang creep dalam The Blob adalah opening-themesongnya, sekali mendengarkannya kamu pasti pengen menyanyikannya ( atau membenturkan kepala ke tembok? ) hahaha cek :





The Blob juga keluar dari kebiasaan film horror yang sering memakai warna-warna gelap/suram di dalamnya dengan tampil penuh warna cerah-meriah kaya film kartun Scooby-Doo. Perhatiin deh warna mobil Steve, properti ama baju2 yang dipake para castnye. Gue nggak ngerti ini disengaja atau mereka sedang merayakan teknologi film berwarna yang era itu baru saja ditemukan?

Aktor Steve mcQueen ( Towering Inferno -1974- ) memerankan perannya sebagai Steve dengan baik walaupun dia keliatan tua sebagai remaja, sementara yang lainnya hanya membuat gue senyum2 plus ketawa geli ngeliat aktingnya. Dalam sebuah scene-nya, seseorang berteriak 'lihat, monster itu memakan restoran' dengan ekspresi dan intonasi datar seperti seseorang mengatakan " Hai, selamat siang ", belum lagi akting para figuran yang berlarian panik sambil tertawa, dan yang paling hillarious adalah kelakuan annoying Danny, seorang anak kecil yang berusaha membunuh the blob dengan pistol mainan! hahaha. Film 'Them!' yang rilis 4 tahun sebelumnya ( walaupun semut raksasanya konyol ), jelas jauh lebih superior dan solid kalo dibandingin ama film berbudget rendah ini.


Untungnye The Blob nggak berusaha buat tampil cerdas dan rumit, bukan apa-apa, kalo nyari yang rumit gue jelas nggak akan nyarinya di judul ini hehe The Blob tetep enak diikuti sambil makan keripik kentang dengan plotnya yang terus maju ke depan secara real-time, dan ceritanya berakhir malam itu juga tanpa berganti hari. straight and simple. Bersamaan dengan berakhirnya film, kamu akan menyadari kalo otak kamu terasa lebih ringan dari sebelumnya, hehe.

Oke, sekarang kamu udah bisa ngebayangin kan film kaya apa The Blob itu. Intinye, kalo kamu interest ama sinema scifi-monster era 40-70 an dan bisa nikmatin atau ngapresiasi film-film sejenis, kaya : Tarantula, Them!, Attack of the 50 Ft Woman, Amazing Colossal Man, dll ( liat artikel 'Monsterrr' ), The Blob adalah film yang harus kamu tonton.
Buat yang belum pernah nonton film kaya ginian dan masih ragu, nggak usah ngarepin nude-scene, violence, blood atau apaan, soalnya disini kamu cuma akan ngedapetin adegan segumpal lendir-kenyal menggleserkan lendirnya, sementara orang2 disekitarnya berlarian dengan heboh. Cukup menarik buat selera-buruk mu? haha Kalo nggak, mending jauh-jauh dari film ini.

..................................

Gue pikir The Blob menjadi film yang 'good' adalah karena dia 'simple, ridiculous, stupid and too-bad', seseorang seharusnya ngebiarin dia tetep apa-adanya seperti itu, biarin The Blob tetep bahagia di genre-spesifik nya, dan gue akan meng-apresiasi-nya dengan tulus sebagai sebuah karya klasik di jagad sinema-horror-scifi-monster-b movie.

Namun, tersiar kabar kalo Rob Zombie akan me-remake film ini untuk kedua kalinya tahun depan. FYI, remake The Blob yang pertama adalah tahun 1988 yang disutradarai oleh Chuck Russel. Dan dalam pernyataannya Rob mengumumkan bahwa satu hal pertama yang akan dia lakukan untuk The Blob versi remakenya adalah, tidak akan ada lagi 'lendir-kenyal berwarna merah' itu, dia akan membuat The Blob menjadi bernuansa dark.

What?? The Blob movie without the blob? mending judulnya ganti aja...The Rob!

Yaudahlah, kita liat aja gimana haslnya tahun depan :)




rating : 6/10

18 May 2010

RE-ANIMATOR ( 1985 )

REVIEWED BY 'R'.

Story :

Dan Cain ( Bruce Abbott ) adalah seorang mahasiswa-medis di Miskatonic Medical School, Arkham, Massachussets, yang  ber masa depan cerah. Dia mempunyai pacar cantik bernama Megan ( Barbara Crampton ) dan sudah merencanakan untuk menikah. Semuanya berjalan baik-baik saja, sampai semuanya berubah ketika seorang mahasiswa misterius-aneh, Herbert West ( Jeffrey Combs ), --yang juga mengikuti kelas tentang riset otak di Miskatonic Medical School--, menyewa salah satu ruangan di apartemennya.

Tanpa Dan sadari, West ternyata sedang melakukan sebuah eksperimen gila di kamarnya yang selalu tertutup. Dia menciptakan serum 'Re-Animator' dalam ambisinya untuk mampu menghidupkan kembali orang yang telah meninggal. Keadaan semakin memburuk, ketika Dan tanpa sengaja ikut terlibat eksperimen West yang akhirnya menyebabkan kekacauan tak terkendali di kamar jenazah Miskatonic Medical School!


Review :

Setelah akhir2 ini gue dibuat bosan oleh film horror-nowadays yang nggak lebih dari pameran gimana cara ngebunuh sebanyak-banyaknya remaja dalam rentang waktu 90 menit, akhirnya gue ngedapetin lagi TON OF FUN dari genre Horror yang lagi-lagi gue ngedapetinnya dari film jadul tahun 1980-an ( tepatnya 1985 ) ! wow! I Love 80's!

Diadaptasi dari cerita H.P Lovercrafts dan diproduseri ama Brian Yuzna ( produser anthology Takut : 'Faces Of Fear' ) , Re-Animator adalah sebuah film debut sutradara Stuart Gordon --sekaligus masterpiece-nya -- yang pantas disejajarin ama film2 campy-b-movie-splatstick-horror-komedi-cult-klasik ( panjang amat genrenya hahaha ) model Evil Dead , Braindead atau Bad Taste .

Re-Animator juga mungkin bisa disebut sebagai salah satu film Homage yang berhasil. Dari Romero sampe Hitchcock ( scoring 'psycho' jelas banget disini ) dari Frankenstein sampe Evil Dead. Namun kerennya, Stuart Gordon nggak mentah2 mengkopi-paste dan juga nggak berusaha buat menjadi sama seperti influence-influence-nya, dia memoles filmnya dengan adegan2 fresh-orisinil sinting yang akhirnya membuat Re-Animator berhasil punya karakter sendiri dan tanpa ragu berhak menyandang predikat cult-klasik.

Dengan tempo yang terjaga dan asyik buat diikutin, Re-Animator nggak kendor ngehibur penontonnya dari awal sampe film munculin kredit-titel. Dia juga punya adegan-adegan memorable komikal-splatstick-konyol yang bertebaran di tiap jeda menitnya. hillarious-fun!

Ada adegan berantem ama zombie-kucing, ada adegan zombie Arnold Schwarzenneger telanjang bulet ngamuk di kamar mayat, ada adegan zombie- kepala buntung yang nyoba ngendaliin tubuhnya, ada adegan usus ngebelit korbannya, ampe adegan sexual-abuse-weird yang belum pernah ada sebelonnya. Semua itu dibungkus ama performa luar biasa Jeffrey Combs dan David Gale yang membuat keduanya pantas masuk jajaran horror-ikon sepanjang masa. Asli, kalo semua itu kedengerannya terlalu murahan + menjijikan buat kalian tonton, gue dengan keras menyarankan kalian nonton ini sambil makan gorengan. ( lohhh??? ).

Hehe tapi emang bener, Re-Animator masih di bawah level Gory-nya Braindead, semua adegan ridiculous-gory disini cuma dipake sesuai kebutuhan film: Fix! Semua yang ada disini juga well-done : spesial efek, make-up, akting, dan pace semuanya pas pada proporsinya masing-masing. Dan itu semua, membuat Re-Animator terlihat superior jika dibandingin ama Braindead yang gross atau Bad Taste yang un-skillful, walaupun sensasi yang dihasilkan sih sebenernya sama : FUN FUN AND FUN!

Untuk mempersingkat --dan karena omongan reviewer di blog ini tidak bisa dipercaya karena terlalu subjektif wkwkw --, baiklah gue kasih quote dari reviewer sejuta umat idola kalian : Roger Ebert.

One of the pleasures of the movies, however, is to find a movie that chooses a disreputable genre and then tries with all its might to transcend the genre, to go over the top into some kind of artistic vision, however weird. And Stuart Gordon's "Re-Animator" is a pleasure like that. SUMBER.

Tumben nih, beliau satu selera ama gue hehehehe dan kayanya kata-kata engkong Ebert diatas udah cukup mewakili apa yang pengen gue tulis tentang film ini.

Jangan ragu masukin Re-Animator kedalam daftar film klasik yang wajib kalian download, beli, order, tonton dan koleksi. Terutama kalo kalian bisa menikmati, Braindead atau Evildead hehe Highly Recommended!




++ baca juga nih cerita menarik temen 'mondoterrore' yang berhasil ketemu ama Brian Yuzna dan dapet tanda tangannya di Screamfest tahun 2007! MONDOTERRORE BLOGSPOT dan baca juga review Re-Animator di blognya yang keren : MONDOTERRORE WORDPRESS

......................................................

RATING : 9/10