Perbincangan bersama beberapa kawan lama malam itu tiba-tiba saja nyampe pada obrolan seputar hal-hal mistis di kampung gue. Meski menyeramkan, obrolan ini lebih sering malah berakhir dengan gelak tawa karena menyadari betapa konyolnya cerita itu. Lalu entah gimana awalnya, obrolan mulai bergeser ke soal film horor. Tentang pilem2 almarhum Suzzanna, Joyce Erna, nyampe ke pilem2 horor lokal kekinian yang berujung dengan perdebatan tentang payudara siapa yang paling montok. Hingga akhirnya pertanyaan krusial itu terlontar dari salah satu temen " pilem horror lokal apa yang menurut kamu paling serem ?"
Judul 'Pengabdi Setan' langsung disebut si Wandi, lalu ada judul-judul seperti 'Keramat, 'Sundel Bolong', 'Malam satu Suro', 'Jelangkung', 'Pocong' dll silih berganti di sebut. Si Tatang malah menyebut 'Air Terjun Penganten' sebagai pilem horor lokal terbaik versinya. Gue pengen ketawa, tapi urung ketika ngeliat mimiknya yang serius. Baiklah, sori.
Tapi asli, ini bikin gue mengerutkan jidat, tentu gue setuju kalo beberapa pilem yang disebut diatas emang beneran serem ( juga menghibur ), tapi kenapa tak ada yang menyebut judul 'Beranak Dalam Kubur? ( BDK )'.
Biar gue ceritain kenapa BDK gue anggep sebagai salah satu pilem horor lokal yang paling menyeramkan bahkan merupakan yang terbaik yang pernah di produksi sineas kita.
Terus terang, gue tertarik ama film ini cuman karena ngeliat desain poster nya yang ada ditengah-tengah definisi stupid ama keren. Liat aja tuh :D. Selain itu, tentu aja judulnya, 'Lets Scare Jessica To Death'!. Haha Judul yang sangat eksploitatif, ngingetin ama 'I spit On Your Grave' atau 'I Drink Your Blood' dll.
Dalam bayangan gue ini adalah sebuah film yang bercerita tentang sekelompok pemuda iseng nakut-nakutin seorang cewe montok bernama Jessica sampe mati. Woo-hoo kedengeran kaya sebuah pelem yang cocok buat ngebuang waktu sejam-setengah.
Let's sheck..
Storyline :
Jessica ( Zohra Lampert ) adalah seorang perempuan yang baru saja dinyatakan sembuh dari mengalami gangguan jiwa. Sekarang dia terlihat baik-baik saja dan gembira.
Sang suami, Duncan ( Barton Heyman ) --bersama satu orang temannya Woody ( Kevin O' Connor )-- kemudian berniat memulai segalanya dari awal dengan mengajak Jessica pindah ke sebuah rumah di pedesaan di Connecticut ( seperti biasanya, tentu aja lengkap dengan danaunya :D )
Disana mereka tidak sengaja berkenalan dengan seorang wanita dan setelah beberapa saat perkenalan, Jessica mengundang wanita itu untuk ikut makan malam dan menginap beberapa hari.
Namun dari sinilah horror mulai terjadi. Jessica merasa mendengarkan bisikan2 aneh ditelinganya. Bukan itu saja, dia juga sering mendapat penampakan2 yang tidak dilihat orang lain. semula ia memutuskan untuk mengabaikan hal ini dan tidak menceritakan apa yang dialaminya karena takut sang suami mengira gangguan jiwanya kambuh.
Suatu hari, seorang pemilik toko barang2 antik didesa itu bercerita kalo rumah yang mereka tempati adalah bekas rumah bangsawan Bishop, dia bercerita kalo pada tahun 1880 sebuah tragedi pernah terjadi disitu. Puteri Bishop, -Abigail- tewas tenggelam di danau samping rumah mereka tepat satu hari sebelum hari pernikahannya. Menurut legenda penduduk pula, arwah Abigail sekarang bergentayangan menghantui desa sebagai Vampire.
Dan setelah Jessica mengamati foto putri Bishop itu, wajahnya ternyata tak jauh beda dengan wanita misterius yang kini sedang menginap di rumahnya!
Sejak itulah Jessica semakin sering mendapat penampakan dan eskalasinya justru semakin meningkat. Dari mulai dia melihat sosok wanita bergaun putih melambai-lambai, sikap penduduk desa yang aneh dengan luka di lehernya, sampai melihat penampakan mayat wanita tenggelam di danau tempat dia biasa berenang.
Akhirnya, kerena Jessica sering terlihat ketakutan dan histeris, Duncan mengira gangguan jiwa Jessica kambuh, dia lalu berniat membawanya kembali ke dokter di kota. Jessica pun dilanda depresi dan kebingungan.
Apakah yang di lihat, didengar atau dialaminya adalah kejadian nyata atau hanya ada didalam pikirannya saja?? benarkah dia masih gila? atau memang ada sesuatu yang buruk di rumah itu?
Dan didalam kebingungannya dia akhirnya mengalami sebuah tragedi mengerikan....
Review :
Klik 'Play.
Setelah logo Paramount menghilang dari layar, kita akan mendapati sebuah shot dramatis sunset dengan cahaya oranye-nya yang memantul di sebuah danau berkabut. Senyap. Hanya terdengar suara burung danau dan kesiur angin.
Next frame, seorang perempuan terlihat duduk disebuah perahu kecil di danau itu, cahaya sunset membuat tubuhnya menjadi siluet.
Lalu kita mendengar narasi lirih yang terdengar seperti orang menggumam, suara itu pastilah berasal dari pikiran perempuan yang sedang duduk di perahu itu..
" I sit here and i can't believe that it happened. Dreams or nightmare..madness or sanity..i don't know which is which..."
.......................................
Dan hanya dari adegan opening seperti yang gue deskripsiin diatas saja, gue tahu kalo tebakan gue tentang film ini salah. Ini jelas bukan sebuah film eksploitasi-bodoh khas 70-an. Iye bener, dont ever judge movie by its poster ( kecuali poster film2nye Nayato ).
Ya, berlawanan ama desain poster ama judulnya yang eksploitatif, film ini ternyata sebuah psychological-atmospheric-surreal-poetic horror. Dan untungnya lumayan bagus buat jadi pilihan terakhir ketika lawakan Sule di tipi mulai membosankan.
Let's Scare Jessica To Death ( LSJTD ) adalah debut film panjang John D.Hancock setelah sebelumnya ( ditahun 1970 ) dia hanya membuat sebuah film pendek berdurasi 15 menit.
John D. Hancock memilih membuat filmnya berjalan sangat pelan namun terus merambat naik untuk akhirnya di akhir film dia meledak menjadi tragedi yang cukup untuk membuat gue merinding, walau begitu ini jelas bukan buat horror-hardcore yang hanya doyan tempo tinggi ( apalagi Zombem :D ). Nggak ada gore atau nudity. Hanya ada sedikit darah dan kematian dengan level-violence yang aman untuk seluruh keluarga. Yeah, rating film ini emang PG-13. Ngarepin apa lagi ya?
Namun, film ini nawarin beberapa adegan scare-tactics creepy yang didukung oleh kostum dan setting beraroma gothic. Kalo kamu seneng film horror yang mengandung adegan seperti : 'cewek bergaun pengantin putih melambai-lambai dibalik kabut yang ketika dikejar dia kemudianmenghilang', kamu pasti juga akan suka film ini.
Tapi tentu aja adegan yang menjadi ikonik di pelem ini adalah adegan ketika hantu Vampire-Abigail, perlahan-lahan keluar dari dalam danau..sayang, hantunya nggak telanjang seperti di 'Lady Terminator' :D
Film semakin terasa unik dengan menjadikan Jessica ( yang baru sembuh dari gangguan jiwa ) sebagai sentral film dengan pergolakan pikirannnya yang ditunjukin ke penonton ( inner-voice ). Ini membuat LSJTD terasa creepy, sekaligus lirih dan puitis . Teknik inner-voice inilah mungkin yang menginspirasi adegan populer di sinetron lokal, yaitu adegan Baim menengadahkan tangan, lalu terdengar inner-voice : "Tolong Baim Ya Allah.." ya, seperti itulah.
Poster Versi DVD (2006)
yang menarik lagi, film yang menjadi salah satu favoritnya Stephen King ini ngebiarin semua misteri dalam film ini tetap terbuka, dengan begitu penonton dipersilahkan berinterpretasi sendiri. Nggak tahu, yang kaya gini bisa dibilang nyebelin apa keren hehe..buat gue sih tergantung, dan untuk film ini..oke, cukup impresif.
Terus terang, kalo misalkan ini adalah sebuah film rilisan baru, plot atau premise-nya akan gue bilang 'nggak kreatif + membosankan'. Makanya, kalo di-remake hasilnya pasti jelek.
Tapi gue selalu respek ama film-film klasik ( dalam artian : jadul ). Itu rasanya kaya kalo misalkan elu nggak terlalu tertarik ngeliat orang modern bisa nyiptain Smartphone, tapi pasti merasa kagum ketika tahu orang zaman dulu udah bisa berkomunikasi jarak jauh dengan perantara kabel + kaleng. Haha oldschool + classic.
Overall sih, emang bukan film horror yang sangat bagus atau essensial, tapi surprisingly-watchable. Terutama mungkin karena rendahnya ekspektasi gue.
Semuanya dieksekusi dengan mulus. setting, atmosfir, shot-shot, photografi, akting ( terutama akting Zohra Lampert ) dan didukung scoring yang pas, 'Lets Scare Jessica To Death' menjadi salah satu film horror-misteri di era 70-an yang terlihat percaya diri di genre nya.
Rating :
+++ : Yang ini ga ada hubungannya ama review. cuman pengen curhat, kalo kita perhatiin di pelem2 horror luar sono, kalo ada adegan yang memakai setting sebuah danau, gue iri banget soalnya danau-nya keliatan sepi banget. Seakan-akan kita bisa kesana di akhir pekan dan memiliki danau itu sendirian. Di Indonesia, sepanjang pengalaman gue kemping, hiking, blusukan ke hutan-hutan, setiap kali gue nemuin danau/telaga, gue juga selalu nemu pemandangan : tukang gorengan. -.-"
George ( Ray Lovelock ) sedang dalam perjalanan ke sebuah kota, ketika motornya tanpa sengaja dibuat rusak, tersenggol mobil yang dikendarai oleh Edna ( Cristina Galbo ) yang juga sedang dalam perjalanan menuju sebuah kota untuk mengunjungi kakak perempuannya ( Katie ).
Merasa bersalah, Edna menawari George untuk menumpang mobilnya. Kebeneran mereka emang satu arah, walau kota yang dituju berbeda. George hendak ke Windermere, sementara Edna sedang dalam perjalanan ke Southgate ( kawasan Manchester ). Karena tak punya pilihan lain, George setuju. Mereka pun langsung meneruskan perjalanan bersama.
Ditengah jalan, Edna membujuk ( setengah maksa ) George untuk menemaninya dulu ke Southgate mengunjungi kakaknya, setelah itu dia berjanji akan mengantar George ke Windermere . Awalnya George menolak, tapi akhirnya dia mengalah. Sebuah keputusan yang pastinya akan di sesali George selamanya, karena dari sini lah semua horror dalam film ini dimulai.
Ya sesampainya di Southgate, mereka menemukan suami Katie ( Martin ) telah tewas mengenaskan. Menurut Katie yang terlihat sangat shock, suaminya diserang oleh sesosok pria yang sangat menyeramkan.
Kepolisian setempat segera melakukan investigasi. Namun kecurigaan sersan polisi justru jatuh pada mereka bertiga. Apalagi ketika polisi menemukan bukti bahwa Katie adalah seorang pecandu heroin. Sementara penampilan George yang shaggy-gondrong + brewokan menambah keyakinan pihak kepolisian bahwa mereka adalah gerombolan pemuda hippies-maniak-pemuja setan seperti Manson's family.
"You're all the same the lot of you, with your long hair and faggot clothes. Drugs, sex, every sort of filth! "
Begitu katanya ketika mengomentari style George, yang langsung dibalas George dengan melakukan hormat ala Nazi + teriakan : Hail Hilter! haha
Tak mau dituding sebagai pembunuh, George dan Edna mulai berpacu dengan waktu untuk mengungkap semuanya. dan akhirnya mereka menemukan sebuah fakta mengerikan : Semua ini ternyata berawal dari sebuah mesin penghasil gelombang-ultrasonik yang sedang dijui coba di kawasan itu. Mesin itu sebenernya bertujuan untuk membunuh hama-serangga. Namun ini film horror-scifi men, kita tahu dalam film horror-scifi, eksperimen biologi --dengan penjelasan yang sumpah gue nggak ngerti-- pasti akan menciptakan semut raksasa, laba-laba sebesar rumah dll Atau kalo nggak..ngebangkitin mayat-mayat dari kuburnya! haha dan yah, mayat-mayat yang bangkit kembali karena efek gelombang-radiasi-ultrasonik inilah yang melakukan serangkaian pembunuhan di kota kecil itu.
Namun sayangnya, sersan polisi yang menyebalkan itu tetap tidak percaya. Jarinya tetap mengarah ke George, Edna & Katie sebagai dalang disetiap kasus pembunuhan berantai yang terjadi. Maka sekarang, mereka terpaksa harus bergerak dengan cepat untuk mencegah kota itu menjadi 'city of the living dead' sekaligus ngebuktiin pada polisi kalo mereka tidak bersalah. Sayang semuanya terlambat..........
Review
Ini adalah sebuah film Spanyol ( yang dengan alasan yang gue juga nggak ngerti ) memilih buat mengambil setting di Inggris. Sutradara Jorge Grau diminta oleh seorang produser untuk membuat sebuah film yang similiar ama Romero's 'Night Of The Living Dead' yang mencetak hit 4 tahun sebelumnya. Dia menyanggupi dan akhirnya jadilah film ini.
Namun gue nggak tau sang produser akhirnya seneng apa kaga, soalnya ternyata film ini beda ama Night Of The Living Dead ( NOTLD ) yang apokaliptik itu ( walaupun emang ada beberapa scene nya yang mirip ) .
Jorge Grau keliatannya nggak pengen cuman nge rip-off mentah-mentah NOTLD dan cukup percaya diri untuk membuat film nya malah mempunyai style sendiri. Plotnya emang tetep tipis, sama kayaThe Blob, Maniac Copatau film-film laennya dimana sang protagonis dikejar-kejar polisi, sementara dia mengetahui sebuah 'horror' yang akan melanda. Model begitulah.
Bedanya, Jorge Grau mengeksekusi thin-plot ini dengan shot-shot stylish. Jorge jelas orang yang tau gimana caranya ngambil shot dengan frame yang menarik dan impresif. Dia juga seneng bermain-main dengan setting atau background. Liat aje gimana keindahan desa kecil Southgate ( berlokasi di Derbyshire, Inggris ) terekspose dengan baik berpadu ama horror yang kemudian di sajikan. Konon, setelah film ini beredar, lokasi sutingnya sampe sekarang banyak dkunjungi para turis. Iye sih, gue juga pengen ke sono hehe *kalo ada yang ngongkosin. Sementara setting pekuburan ( dan suasana kota kecil Southgate ) nya malah terasa gothic, sama kaya atmosfir gothic di Michelle Soavi's Dellamorte Dellamore. Walaupun nggak se-surreal film itu, tapi kemungkinannye 'The Living Dead At The Manchester Morgue' ( TLDATMM ) emang salah satu referensi Michelle Soavi.
Gue udah merasa suka film ini sejak 10 menit pertama. Yap, adegan opening George mengendarai sepeda motor di keramaian kota London dengan diiringi soundtrack musik rock-reggae khas 70-an itu berhasil menarik minat gue. Disini sepertinya Jorge hendak menyampaikan opininya tentang masyarakat-kota.
Cek aja, Ada shot keramaian kota London yang 'ramai tapi sepi', asap knalpot, polusi pabrik-pabrik, public space yang udah ter-occupied ama papan reklame, sampah, lalu ada shot bangkai burung tergeletak di pinggir jalan, pejalan kaki yang menutupi wajahnya dengan masker, seorang sakit yang sedang menenggak pil, kerumunan calon penumpang di terminal, penumpang2 bus yang berjubelan dengan wajah kosong/lelah ( sama kaya zombie ), dan kemudian gue dikejutkan oleh adegan ini : seorang perempuan tiba-tiba melepaskan bajunya, lalu berlari-telanjang menyeberang jalan. Wtf!, gue kaget tapi orang-orang dalam adegan ini digambarkan tidak menghiraukan aksi itu. mereka terlalu lelah/sibuk untuk mempedulikannya. Wow..big city is a real city of the living dead?? mereka emang hidup tapi kesibukan dan kerja membuat mereka terlihat 'mati'. Mungkin itu yang pengen Jorge opinikan :) Jleb! ga jauh beda ama gue yang udah 'mati' karena lebih sering jadi zombie di depan komputer hehe RRRHH im a zombie! brraiiinsss.....
Menit berikutnya, Jorge Grau malah ngasih sensasi yang kontras ama scene kota London tadi. Dia mulai meng-ekspos keindahan kota kecil Inggris dengan bukitnya yang hijau menyegarkan, ha, ini ngingetin gue ama gambar bukit-hijau 'Bliss' di salah satu wallpaper/theme nya Windows XP. Dan hanya karena ini saja gue udah menggumam dalam hati : "film ini keren."
40 menit awal berikutnya, dipake Jorge buat ngenalin dan membangun karakter tokoh-tokoh dalam usahanya membuat penonton peduli dan mengantisipasi apa yang akan terjadi kemudian. Dan dia berhasil. Terutama berkat dukungan para cast nya yang berakting sangat baik. Arthur Kennedy mencuri perhatian dengan perannya sebagai polisi menyebalkan, Ray Lovelock meyakinkan sebagai pemuda hippies-kritis yang rada brengsek, dan Cristina Galbo sekarang menjadi salah satu cewe yang masuk list favorit 'screen-screaming-queen' versi gue. Dan berkat perannya disini, Cristina ( yang juga sering maen di pelem2 Giallo ) akhirnya mendapat penghargaaan best-actress di sebuah festival. Dengan cast solid seperti itu, adegan intriguing-suspenseful yang dibalut ama dialog-dialog kocak-renyah kemudian digulirkan Jorge untuk menghindarkan penonton jatuh pada kebosanan. Dari sini tensi film sedikit demi sedikit mulai merambat naik.
Sampai akhirnya mulai menit 50 sampe abis, film berubah drastis dari suspense menjadi horror-survival-scifi-zombie yang intense dan menyenangkan buat ditonton. Jorge mulai ngasih apa yang para guts-lover tunggu dari tadi. walaupun emang level gory dalam film ini nggak pernah nyampe ke level splatter ala Fulci ( dan keliatannya Jorge juga nggak pengen membuat filmnya ke arah situ ), tapi film ini mempunyai adegan yang dikenal sebagai adegan 'breast-ripping'. Sebuah adegan yang cukup eksplisit, dimana zombie-zombie itu menggrauk ( bahasa apaan tuh? haha ) payudara seorang resepsionis rumah sakit. Haha Dan masih banyak lagi seperti leher yang ditusuk, organ tubuh yang dimakan beramai-ramai sampe zombie yang terbakar dll. Sementara adegan terakhir di rumah sakit itu juga jelas influence besar untuk Lucio Fulci's The Beyond dan Stuart Gordon's Re-Animator .
Ngomong-ngomong soal zombie, zombie dalam film ini punya beberapa keunikan :
- Walau kepalanya ditembak, dia nggak bakalan mati ( para protagonis kita akhirnya menemukan cara buat melumpuhkannya : dibakar! haha )
- Mayat-mayat itu akan bangkit lagi setelah terkena gelombang radiasi ultrasonik atau mendapat transfer radiasi dari zombie lainnya. ( jadi bukan oleh gigitan ).
- Zombie disini bertenaga kuat dan cukup pintar untuk menggunakan nisan kuburan sebagai senjata. Haha
- Slow-moving, berwajah datar ( tidak menyeringai ), diam ( tidak mengeluarkan suara ) dan mempunyai tatapan kosong.
Namun, walau ini film tentang flesh-eater-zombie gue ngerasa kalo real-villain dalam film ini justru si sersan polisi yang menyebalkan itu. Dia sok tahu, rasis, terlalu menghakimi, konservatif, dan keras kepala. Dalam sebuah film, kamu pasti mengharapkan hal-hal buruk menimpa karakter seperti ini. Itu makanya sinetron bisa nyampe puluhan episode, soalnya produsernya tau penonton menunggu pemeran yang suka melotot dan menempeleng itu mendapat balasannya hehe
Dalam film ini, kamu nggak perlu menunggu sampai puluhan episode dan akan mendapatkan 'kepuasan' itu di menit-menit akhir. it's time to zombie-revenge! Ups, spoiler ya? *peace :D Ya, film ini diakhiri oleh ending yang mengejutkan dan menarik hehe
Satu poin plus lagi, horror berdurasi 93 menit ini di dukung oleh backsound/scoring-music yang sangat efektif. Jorge Grau sendirilah yang membuat scoring mirip gelombang suara/lenguhan nafas itu. Dan dia berhasil menciptakan 'sound of the dead' yang mendukung adegan dan keseluruhan ide cerita.
Sekarang, dengan semua opini positif yang gue tulis diatas, gue heran film ini ternyata jarang disertakan dalam list film zombie favorit para horror-fan. Kenape ye?
Analisa gue sih mungkin karena film ini terlalu suspense+stlylish buat penggemar zombie-splatter atau sebaliknya terlalu gory+eksploitatif buat penggemar suspense-scifi. jadi nanggung-nanggung gitu.
Atau kemungkinan lainnya adalah karena film ini mempunyai alternate-title yang banyak sekali. gue itung-itung di IMDB sampe 17 judul haha. Lain negara yang mengedarkan, lain pula judulnya. Anchor Bay sendiri beberapa tahun lalu merilis versi DVD film ini dengan judul 'Let's Sleeping Corpses Lie', di IMDB film ini ditemukan dengan judul 'Don't Open the Window' , dan apakah kamu mencari-cari film 'Zombie 3?' Ga usah bingung, karena 'Zombie 3' adalah film ini, atau jangan-jangan kamu sudah nonton film ini tapi dengan judul yang beda? coba cek 14 judul lainnya haha. Nah, mungkin judulnya yang banyak itu membuat film ini jadi gampang buat dilupain. Istilah cepet : nggak nancep di kepala.
Final verdict, nggak adil rasanya kalo membandingkan film ini ama film kelas A, ini tetep B-movie ringan yang buat beberapa audiens non-horror sering dibilang meaningless-garbage. Namun buat horror-fan seperti gue, di genre-spesifik nya, 'The Living Dead At The Manchester Morgue' ( or whatever title ) adalah sebuah 'permata'. Nggak sempurna tentu aja, ada plot hole dan kekurangan disana-sini, tapi dari semuanya, yang paling membuat gue respek adalah,
film ini punya style dan karakter yang kuat. Orang yang membuatnya berani untuk tidak menjadi George Romero atau Lucio Fulci, 'he's not wannabe', dia adalah Jorge Grau dan ini filmnya. Kita tahu, sesuatu yang berkarakter itu biasanya akan menjadi influental. dan itu keren. hehe
Jorge juga berhasil memasukkan beberapa 'muatan-kritis' tanpa terlihat preachy tentang pemikiran konservatif orang tua melawan semangat & pemikiran baru generasi muda ( di simbolkan oleh karakter polisi dan pemuda hippies ) juga isu tentang lingkungan hidup seperti yang tertulis dalam salah satu taglinenya :
" They tampered with nature - now they must pay the price..."
dan yang terpenting, 'The Living Dead At The Manchester Morgue' nggak pernah lupa kalo dia tetep sebuah hiburan dan mempunyai sederet momen-momen memorabelnya.
jadi, tanpa ragu film ini jelas akan masuk dalam daftar kult-klasik versi subyektif gue. Hehe.