Showing posts with label classic horror. Show all posts
Showing posts with label classic horror. Show all posts

18 December 2016

[ REQUEST REVIEW ] La Maldicion de La Llorona/Curse of the Crying Woman ( 1963 )

Jadi, ceritanya kali ini gue mau nyoba memenuhi request-review dari pembaca blog Horrorsekarepdewek ( HSD ) yang gue terima lewat fasilitas chat di salah satu media sosial. Judul yang ini ( Curse of the Crying Woman )  gue putuskan untuk di review setelah beberapa judul lain yang dia ajukan ternyata tidak memiliki subtitle. Mungkin karena film2 yang diajukannya boleh di bilang rare dan kebanyakan berasal dari Meksiko. Dan oh well, ngga banyak yang gue tau tentang sinema horror dari negara pegulat bertopeng ( Lucha Libre ) ini secara gue emang lebih sering nonton film horror secara random dan berdasarkan mood saja. Hehe, tapi it's okay, ini menarik ( dan juga challenging ),  gue akan mencoba mengulasnya. 

Btw ini juga membuat gue punya ide untuk menambahkan menu 'request' di blog ini, dimana nantinya pembaca bisa nulis request disitu, dan gue akan mencoba memenuhinya. Gimana tuh idenya para penontoooon ??

 ..........

krik krik

*sunyi senyap

Oke, baiklah.....

........

 REVIEW


Dibuka ama adegan kereta kuda melintasi daerah angker ( juga penampakan wanita bergaun hitam memegang 3 ekor anjing besar) yang sangat similiar ama sekuens opening dan satu adegan di Mario Bava's Black Sunday (1960 ), gue sempat mengira kalo ini cuma versi lebih buruk ( rip-off ) dari film itu. Namun, ketika film bergulir, Curse of the Crying Woman ternyata memiliki alur yang lebih enak untuk diikuti, seenggaknya sampe 30 menit pertama hehe. 

nggak dijelasin kenapa hantu wanita yang menangis ini malah nggak punya bola mata

20 October 2014

Repulsion ( 1965 )


Repulsion merupakan instalasi pertama dari trilogi apartemen Polanski yang terkenal ( Rosemary's Baby -1968- dan The Tenant -1976- ) yang mana ketiganya sama-sama mengambil  setting sebagian besar berada di dalam gedung apartemen.

Repulsion diawali dengan bola mata dan diakhiri dengan bola mata. Ini menarik, ada apa dengan mata? hmm..mungkin Polanski ingin mengatakan filmnya adalah tentang apa yang penonton lihat dan apa yang karakter dalam filmnya lihat. Atau jika benar pepatah yang mengatakan 'mata adalah jendela jiwa', Polanski mungkin hendak mengajak penonton melihat kondisi ruang kejiwaan karakternya lewat jendela mata nya.

Pemilik mata itu bernama Carol's Ledoux ( Catherine Deneuve's ). Seorang wanita Belgia yang bekerja sebagai manicurist di sebuah salon kecantikan di London. Dari awal kita sudah menduga ada yang tidak beres dengan Carol. Dia sering terlihat melamun, jarang menampakkan emosi tertentu, kikuk dan sangat pendiam. Carol tinggal dengan kakaknya, Helene (Yvonne Furneaux) di sebuah apartemen kontrakan. Keduanya pun digambarkan sangat bertolak belakang, baik dari sikap dan cara berpakaian. Helene sangat atraktif, percaya diri, mandiri,  dan 'outgoing' sementara Carol terlihat rapuh, tertekan dan hanya ingin menyendiri. Dia benar-benar 'out of place'. Bahkan ketika dibandingkan dengan kakaknya sendiri, Carol terlihat seperti makhluk asing.

24 July 2013

THE FLY ( 1958 )

Storyline :

Apa yang terjadi dalam 'The Fly'  dimulai ketika pada suatu hari Francois Delambre ( Vincent Price ) mendapat telepon dari Helen ( adik iparnya  ). 

Helen mengaku, bahwa dia telah membunuh Andre ( suaminya ) di laboratorium kerjanya. Francois pun terkejut bukan kepalang, karena pasangan suami-istri yang sudah dikarunai seorang putera ( Phillip ) ini sebelumnya tidak pernah mempunyai masalah apapun.

Ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Francois bersama inspektur Charas segera melakukan investigasi. Hal yang membuat mereka bingung adalah, ekspresi Helen terlihat tidak terlalu berduka. Dia bahkan mampu menceritakan kronologi pembunuhan suaminya dengan tenang. Inspektur Charas langsung menyimpulkan kalo Helen telah menjadi gila. Namun, Francois tak percaya itu. Dia yakin ada yang disembunyikan pada kasus ini, terutama karena Helen sering bertingkah aneh ketika melihat seekor lalat.

Pada suatu hari, putera Helen ( Phillip ), bercerita pada Francois kalo ibunya memang sedang mencari seekor lalat. Bukan sembarang lalat, yang dicarinya adalah seekor lalat berkepala putih dan berkaki aneh.

Lalat berkepala putih dan berkaki aneh??

Demi bisa menguak misteri ini, Francois berpura-pura telah menangkap 'lalat berkepala putih' itu dan akan memberikannya kepada Helen, asalkan dia mau menceritakan penyebab kenapa pembunuhan itu bisa terjadi.

Helen setuju. Dan dia mulai menceritakan kisah mengerikannya.....

Flashback.

14 July 2013

ROPE ( 1948 )

Storyline : 


Entah buku siapa yang dia baca ( namun nama Nietzsche dengan teori 'Super Man' nya disebut-sebut disini ) , Rupert Candell ( diperankan oleh James Stewart yang 6 tahun setelah film ini menjadi pemeran utama dalam salah satu karya fenomenal Hitchcock 'Rear Window' ) mempercayai teori bahwa manusia yang superior secara intelektual dan berkepribadian unggul dimana mereka dianggap telah melampaui konsep moral tradisional tentang baik-buruk atau benar-salah, berhak melakukan pembunuhan ( yang disebutnya juga sebagai 'karya seni' ) terhadap manusia bodoh-menyedihkan-tak berguna dari kelas sosial yang lebih rendah. Lebih jauh, setengah bercanda Rupert juga berkata kalo dia percaya pada ekstremis yang mengharuskan adanya musim membunuh setiap tahun, atau 'pekan penggorokan' atau bahkan 'hari pencekikan'. Tentunya, jika umat manusia menjalankan ide itu, gue --sebagai manusia berkasta paling menyedihkan yang datang dari ras terbelakang mental-- pastilah akan menjadi salah satu yang bernasib paling mengerikan di 'pekan penggorokan' yang diadakan para super human. 

Beruntunglah, Rupert menyampaikan gagasan horor itu hanya setengah serius di sebuah pesta para kolega yang di penuhi gelak tawa. 


07 September 2010

Horror lokal 80-an, Suzzanna & Telaga Angker

Indonesia sebagai negara yang punya kultur mistik kuat, punya banyak sekali cerita hantu. Setiap daerah bahkan mempunyai 'hantu-khas' nya sendiri-sendiri.

Di kampung gue dulu, selain 'hantu-mainstream' ( hantu kelas A ) --pocong, kuntilanak, atau genderuwo-- kami masih punya banyak lagi hantu-hantu kelas B yang sebenernya menarik kalo dieksplorasi dan dijadiin pelem.

Misalnya aja, hantu 'Glundung Pringis'. Itu sejenis hantu berbentuk kepala berwajah rusak yang kalo dideketin akan nyengir ( meringis ) dan lari dengan cara meng-gelundung-kan diri. Ada lagi yang namanya 'Tripenjalak', sesosok hantu yang disetiap pemunculannya konon selalu ditandai bunyi gemerincing, hantu ini berbentuk kuda namun berwajah perempuan cantik. Masih ada lagi 'Banaspati ( Fire Demon ) ', 'Teluh ( Black Magic )' 'Wewe Gombel ( Big-Boobs ghost haha )' dll. Nah, hanya dari satu wilayah aja kita bisa mendapat sederet nama hantu. Gue nggak bisa ngebayangin hantu apa yang ada di Samarinda, Makassar, Maluku, atau Papua haha. ( Sementara di benua lain kita hanya kenal beberapa makhluk supranatural seperti Dracula, Werewolf atau zombie. )

Tentu aja sekarang kita tahu kalo hantu-hantu itu cuman karangan orang tua buat nakutin anak kecil yang suka maen diluar malem-malem. Tapi toh, dongeng-urban seperti ini udah terlanjur meresap di masyarakat yang akhirnya malah membuat dongeng-dongeng itu jadi beneran seperti hidup. Kisah-kisah itu di dongengkan turun temurun di tiap generasi ( ditambah bumbu-bumbu ciptaan sendiri agar ceritanya makin dramatis ) lalu menjadi  favorit anak-anak untuk dijadikan bahan bualan kepada yang lainnya.

Kunang-kunang dibilang kuku orang mati, kelapa jatuh tengah malem dibilang Glundhung Pringis, meteor dibilang teluh/santet, monyet piaraan lepas dan nongkrong di genteng dibilang ada yang nyupang monyet. Kucing seliweran didepan rumah orang yang lagi hamil tua, dibilang perwujudan Kuntilanak. Macem-macem.

Begitulah, masyarakat lebih akrab ama penebar terror dari alam lain alias hantu daripada pembunuh-berkampak atau keluarga sakit-jiwa.

Dalam hubungannya ama dunia per-film an, itulah alasan kenapa sineas-sineas lokal kita lebih seneng maen-aman memenuhi selera masyarakat dengan bikin pelem demonic-horror daripada beresiko rugi membuat pelem2 bertema apokalip-horror atau personality-horror.

Lewat layar bioskop/film, 'hantu-hantu' yang selama ini hanya hidup dalam imajinasi, dipertontonkan wujud nya dan itu terbukti ampuh untuk membuat gedung2 bioskop selalu penuh pada era nya.

Gue nggak mau ngebahas tentang gimana 
sineas kita kemudian terjebak pada horror hantu-hantuan tanpa diimbangi ama progress kreatifitas, taste dan skill, sementara zaman mulai berubah dan audiens menuntut sesuatu yang lebih. 
Gue juga nggak mau mulai ngebahas tentang pelem horror-lokal era 2003 keatas, soalnye ngomongin ini cuman bikin gue emosi doang hehe.

Gue cuma pengen cerita, bahwa dulu ditahun 70-80an sinema horror-hantu lokal kita pernah menemukan karakter dan jati dirinya sendiri. Itu sebuah era ketika sineas kita belum me-makeup hantunya buat jadi semirip mungkin ama Sadako dan cuma mengkopi-paste feel ama spooky-tactics pelem hantu2an dari Jepang, Korea atau Thailand.

Nggaaak, gue nggak bilang kalo pilem2 dari negara itu jelek kok, cuman maksud gue..err..yaudahlah, itu style mereka..ga usah juga kita copy-paste. Kita pernah punya cara sendiri buat nakut-nakutin penonton kok, dan bahkan kalo mau ber-eksplorasi ( dengan banyaknya hantu  dinegeri ini ) kita bakalan jadi kiblat pelem per-hantu-an di Asia. Trust me.


Kalo udah nyampe sini, mau gak mau kita harus ngomongin artis yang namanya 'Suzzanna' (alm). Seorang artis-horror yang selalu berperan sebagai hantu kuntilanak/sundel bolong, saking lekatnya dia dengan peran itu sampai aura mistisnya tetep terpancar bahkan ketika dia sedang tidak berperan ( ada yang bilang doi makannya bunga-bunga an haha serem banget ya ). Gue pikir belum ada artis lain di Indonesia saat ini yang bisa menggantikan posisi Suzzana (alm) sebagai ikon horror lokal.

Ini salah satu pelemnya :

TELAGA ANGKER (1984 )

Storyline : 

Anita ( Suzzana ) adalah seorang ibu dari sebuah keluarga kecil yang bahagia.

Namun, kebahagiaan keluarga ini hancur berantakan ketika sekawanan perampok berkostum gay menyatroni rumahnya. Lena, adik suaminya tewas ditusuk sementara dia yang sedang hamil tua mencoba melarikan diri dengan mobil. Sayang, gerombolan perampok itu mengejarnya ( yang satu pake jeep, yang satu lagi pake mobil bak yang biasa kita liat buat ngangkut pasir :D ) , dan bukannya kabur kejalan ramai, Anita malah nyetir mobilnya ke arah jalanan sepi. Gue juga nggak tahu kenapa, mungkin panik.

Maka ketika mobil Anita terjebak di tepi sebuah telaga, tanpa ampun jeep perampok itu mendorongnya. Dan dengan di dukung efek paling megah dalam film ini, mobil Anita pun terpelanting ke arah telaga lalu tenggelam. Anita tewas.

Sejak itulah telaga itu menjadi angker.

Ya, para penjahat itu lupa, bahwa di Indonesia, semua perempuan korban kekejaman perampok ( apalagi pemerkosaan ) dipastikan akan menjadi arwah gentayangan ( kalo nggak Kuntilanak ya Sundel Bolong ).

Dan repotnya, sang arwah gentayangan ternyata bukan hanya menteror musuh2 yang menyebabkan kematiannya saja, namun dengan sense-of-humor yang tinggi, hantu ini juga menjahili beberapa tukang ronda, hansip iseng, tukang kerupuk tak bersalah, dukun bergigi tonggos, muda-mudi yang pacaran di tengah hutan, sampe sindikat pengedar narkoba perusak moral bangsa.

Yah, Anita telah menjelma menjadi hantu iseng penjaga akhlak dan moral bangsa! Bagaimana kisah selanjutnya? kalian bisa tonton pelemnya kapan-kapan di TPI :D

Review :

Ini adalah pelem yang waktu kecil dulu berhasil membuat nyokap gue marah-marah, " makanya..lain kali nggak usah nonton pilem horror! " iye, beliau marah-marah, soalnya setelah nonton pelem ini gue selalu minta ditemenin kalo ke W.C haha. Tapi beneran, adegan kepala nongol dari kloset dalam pelem ini berhasil  menghantui gue untuk beberapa minggu.

dan ketika kemaren akhirnya gue bisa nonton lagi pelem ini, alamaaakk..pelem ini ternyata tetep berhasil bikin gue ngompol di celana. Bedanya kali ini bukan karena serem, tapi karena ketawa terpingkal-pingkal. haha

Bayangin aja, semua tragedi dalam 'Telaga Angker' ternyata berawal dari adegan ini :

Suami Anita, Rudi ( George Rudy ) kecopetan ketika sedang berjalan-jalan di err..kalo ga Dufan mungkin Ragunan. Di adegan ini, kamu bisa liat kalo ciri khas preman jaman dulu adalah dia suka minum teh kotak.

Nah, dikejar dah tuh salah satu pencopet ama Rudi, dan akhirnya dia berhasil mengalahkan sang pencopet setelah terlibat perkelahian seru menggunakan tongkat bambu.

sang pencopet pun mengembalikan dompet Rudi,

Rudi sedang memeriksa dompetnya..
Namun setelah diperiksa, ternyata uangnya sudah hilang. Dia pun terlihat kesal lalu sambil menggerutu : 'bangsat!' Rudi melemparkan dompet kosongnya kembali ke arah pencopet yang baru dipukulinya. dan ternyata..jreeeng!

oh my braiin..dia nggak ngambil KTP-nya!!
Haha dan dengan bantuan alamat di KTP di dompet  itulah kawanan copet sekaligus perampok ini menyatroni rumah Anita. Jadi, gue nggak tahu harus mengutuk kekejaman kawanan perampok atau ke-idiot-an George Rudy yang nggak ngambil KTPnya haha.

..........................

'Telaga Angker'  ternyata mempunyai premise dan plot sama persis dengan film hit Sisworo sebelumnya, 'Sundel Bolong ( 1981 )',

Keluarga bahagia-mengalami tragedi ( diperkosa/dirampok )-jadi hantu-bales dendam-bokir+dorman borisman- kyai baca ayat kursi-Tamat.

Namun disini, premise itu digarap dengan terburu-buru dan lemah di semua lini nya.  Alur cerita yang sebenernya bisa dibikin tight sepert Pengabdi Setan, kali ini nggak dilakukan oleh Sisworo. akibatnya cerita menjadi melebar dan pointless mulai menit ke 40 ketika hantu Anita tanpa alasan mulai mengganggu orang-orang yang sebenernya nggak ada hubungan ama kematiannya.

Dalam sebuah adegan ketika Rudi, sedang berjalan-jalan dia melihat warga yang sedang menggotong jenazah.

" Maaf, ada apa pak? " tanya Rudi.
Warga : " ada muda-mudi mati gancet. anunya nggak bisa lepas "
Rudi : " Loh, kenapa? "
Warga : " Gara-garanya semalem mereka 'main' di tepi telaga angker itu.."

Haha begitulah, hantu Anita bahkan membuat sepasang muda-mudi ini mati gancet, yang ternyata alasannya adalah mereka merusak akhlak bangsa wkwkwkw dasar Orde Baru! bwahahahaha

Lalu nggak dijelasin pula  kenapa Anita yang tewas tenggelam di telaga ketika bangkit malah menjadi hantu dengan lubang besar di punggung? apakah punggungnya di gerogotin ikan didalam telaga? sayangnya gue juga nggak tau, haha

Jangan lupain pula dialog-dialog kocak super-kaku yang sepertinya diucapin para pemainnya sambil menghafal skrip dengan penghayatan nggak lebih bagus dari akting pemaen sandiwara panggung agustusan.

Ya, kamu akan cape sendiri kalo maksa membuat list semua kebodohan yang ada di pelem ini.

Karena gue ga tau mau nulis apalagi,  gue kasih aja deh gambar2 dari beberapa hillarious-stupid-fun yang ada dalam pelem ini  :

Q : Sundel Bolong bisa nyetir buldoser? A : Bisa!!
die you asshole!!


Q : Sundel Bolong bisa ngerokok? A : Bisa!!
bahkan die bisa ngeluarin asepnya dari kuping!
Lupain spinning-headnya Linda Blair! ini lebih hardcore!
Q: apa persamaan Sundel Bolong & Superman? A : Liat aja gambar diatas.
oyah, die juga kebal peluru!
tp jelas Sundel Bolong jauh lebih super dari Superman..die bahkan bisa nyemburin api.
Nah kalo adegan yang ini pasti ditunggu2 oleh para penonton pria ( sengaja gue spoiler ) :

Boobs!!



Image and video hosting by TinyPic


Overall, Telaga Angker menurut gue sih bukan salah satu pelem terbaiknya Sisworo Gautama Putra. Dia begitu inferior dibandingkan ama Pengabdi Setan atau Sundel Bolong, walaupun begitu, pelem ini nyatanya udah terlanjur menempati memori di kepala gue sebagai salah satu pelem horror lokal yang paling memorabel.
.......................................................

desain tribute untuk adegan memorabel dalam 'Sundel Bolong (1981)' bikinan temen gue, taken from : http://tremorizer.deviantart.com/

Kalo udah gini, timbul pertanyaan, apa sih istimewanya pelem-pelem horror Suzzana sampai dia begitu membekas di benak audiensnya bahkan adegan-adegannya pun masih kita ingat sampe sekarang ? ( Sundel Bolong makan sate, anyone? ). Kalo kamu perhatiin lapak-lapak DVD, pasti kamu akan menemukan VCD/DVD Suzzanna disana. Ini menandakan permintaan masyarakat masih banyak. Film2nya ternyata masih digemari. Kasusnya menjadi menarik, karena pelem-pelem Suzzanna ini sudah berumur hampir 30 tahun!

Haha dari segi teknis sih, seperti udah gue opinikan di review Telaga Angker jelas nggak ada yang istimewa, jadi kenapa? Kalo pendapat instan gue sih, mungkin itu karena :

Film-film horror Suzzana terasa sangat dekat dengan penontonnya.

Perhatiin cerita, setting ( perkampungan ), karakter-karakter ( hansip, tukang ronda, tukang kerupuk, tukang sate, dukun, Kyai, dll ), sampe jenis hantunya yang orisinil khas Indonesia dan nggak ada dinegara manapun. ngomongin soal jenis hantu, ke-khas-an ini pula yang membuat audiens mancanegara mencap Indonesia di sebuah forum internasional sebagai : weird-ghost country. Bayangin, kita punya hantu bernama 'Leak' yang konon adalah hantu berbentuk kepala wanita terbang dengan organ-organ tubuhnya yang bergelantungan. Amazing!

Di film2 jadul, semuanya begitu kental akan lokalitas dan itu berhasil membuat penonton larut dalam cerita. Mereka merinding ketika layar menayangkan adegan seram, mereka juga tertawa ketika adegan sampai pada sesi Bokir + Dorman Borisman.

Pelem horror tahun 80-an ( selain Telaga Angker ) juga nggak lupa ama cerita. Jadi, ceritanya sendiri udah serem, misal ( Lukisan Berdarah, Pengabdi Setan dll ) dan hantu disitu muncul sebagai bagian dari cerita.

Kalo kita liat sebagian besar pelem2 horror nowadays, menu utamanya cuman pemunculan hantu yang seneng nongol di sekolahan atau kampus dengan make-up dan spooky-tactics bombastis yang justru dibikin menjauh dari penontonnya dengan mengadopsi look & feel pelem hantu2an dari negara yang udah gue sebutin diatas. Dan parahnya mereka nggak berusaha membangun cerita atau menciptakan atmosfir ( atau mungkin berusaha namun gagal ). Mereka cuma pengen terlihat se-keren mungkin memunculkan hantunya, Oyah tentu aja dengan dilengkapi trik-kejut nyebelin +  backsound yang sama sekali nggak nakutin tapi ngagetin doang. shitty-fuck. Cukup..cukup jangan diterusin haha.

Tentu aja bukan berarti pelem horror lokal harus kembali ke-tradisional dengan bersetting di desa atau nampilin tokoh dukun atau kyai.  Tapi, maksud gue seorang sineas seharusnya melakukan riset dulu sebelum membuat filmnya. ( terutama kalo pelem yang dibuat ber-genre horror hantu  'urban-legends'. )  Dia harus menggali sebanyak mungkin lokalitas untuk membuat film dan ceritanya menjadi dekat dengan penonton.

Salah satu pelem horror-hantu lokal baru yang cukup jeli mengeksplorasi ini adalah pelem 'Keramat' nya Monty Tiwa. Walaupun output nya ternyata belum maksimal, tapi usaha Monty buat menggali lokalitas tentunya harus kita apresiaisi.

Nah, kalo atmosfir udah di dapet, percaya deh sang hantu nggak perlu menunjukkan muka-seramnya sambil mengesot dengan efek-efek berlebihan buat nakutin penonton. 

Soalnya, mistis indonesia tuh udah serem dari sononya! 

Gimana caranya, itu tugasnya kru-film ye, bukan tugas gue hehe.

kembali ke soal pelem horror 80-an, 
Selain hal yang udah gue ceritain diatas, keluguan/kejujuran/ kesederhanaan ( atau boleh juga kalian bilang : kebodohan ) Sisworo Gautama Putra, Tjut Djalil dll  dalam usahanya untuk semaksimal mungkin menghibur penonton tanpa berusaha terlihat keren, --Misalnya, buat bikin hantu tengkorak, doi cuma pake tengkorak yang sering kita liat di laboratorium Biologi SMP wakakak--- akhirnya juga malah membuat penonton memaafkan kelemahan-kelemahan itu untuk kemudian dengan tulus mau mentertawakannya meng-apresiasi-nya. 
Bahkan sekarang kelemahan itu menjadi bagian yang sangat menghibur hahaha


Ya, gue emang nggak lagi ngomongin film bagus secara teknis diliat dari standar-konvensional, tapi sedang curhat 

tentang sebuah film ( ber genre horror-hantu ) yang setelah melewati waktu cukup lama, dengan caranya sendiri ternyata berhasil untuk terus diingat. Dia terus diperbincangkan, digemari, dipuji dan tetap mempunyai pendukungnya sampai sekarang.  Bahasa kerennya : Cult-Classic.

Dan beberapa film hantunya Suzzana (alm) ( nggak semuanya ) udah berhak menyandang predikat cult. Bersanding ama Jaka Sembung, Pembalasan Ratu Laut Selatan, Balada Cewek Jagoan dll.

............................................................

Sayangnya, semenjak hit 'Sundel Bolong' industri film Indonesia seperti mempunyai kebiasaan jelek yaitu, ketika sebuah film berhasil menjadi box-office ( diterima masyarakat ) maka dipastikan bulan-bulan berikutnya bioskop akan dipenuhi film-film bertema sejenis. Dan sayangnya lagi, ini tanpa diimbangi ama kreatifitas. 

Dalam hal ini kita patut merasa iri dengan perkembangan sinema-horror di negara tetangga ( Thailand ), yang jika kamu nonton Phobia 1 & 2, disitu keliatan banget para filmmakernya berlomba2 saling adu kreatifitas, menggali kultur, pamer skill dan nggak mau sama dengan yang lainnya. Di Indonesia yang terjadi justru sebaliknya.

Ini jugalah yang kemudian membuat geliat perfilman nasional pernah ambruk di pertengahan tahun 90-an ketika penonton  akhirnya sampai pada titik bosan dan lelah dengan repetisi dan tema yang seragam. Kemudian bioskop diserbu pelem-pelem sex-nanggung yang diproduksi mungkin dengan biaya sekitar 5 juta saja dan di syut pake handycam haha. Lesunya perfilman seakan mendapat pukulan telak ketika VCD Player + rental VCD nya lahir dan menjadi media alternatif masyarakat buat nonton pelem. Bioskop mulai ditinggalkan dan sejak saat itu, perfilman nasional bisa dikatakan 'mati-lemas'.

.......................................................

Gejala yang sama terulang lagi sekarang ketika kesuksesan 'Jelangkung'  yang dianggap sebagai tonggak awal kebangkitan sinema-horror lokal ( walaupun buat gue film ini overrated ) ternyata dijawab dengan serbuan pelem-pelem horror sejenis tanpa progress-kreatifitas berarti.

FYI, Pelem horror terbaru yang siap rilis adalah 'Pocong Jumat Kliwon' ( yang merupakan film horror dengan kandungan kata Pocong kesekian-ratus kalinya ) dan 'Pengantin Pantai Biru' ( juga pelem thriller kesekian yang mengandung kata 'Pengantin' didalamnya ). Nah tuh, kalo udah gini tinggal tunggu aja momen untuk menyambut matinya kembali sinema horror lokal kita.

desain kaos Sundel Bolong bikinan temen gue, cek : http://corpseeaters.blogdrive.com/

Oyah terakhir, gue mau cerita kalo rumah gue kebeneran deket ama rental VCD/DVD. Gue sering maen ke rental itu dan tahu kalo peng-konsumsi terbesar pelem horror-lokal 2005an keatas ternyata justru anak-anak kecil usia SD.

gue pernah nanya ke salah satu diantara mereka,
" kenapa sih suka nonton pelem2 horror kaya gitu? emang serem ya?"

jawabnya..

" nggak serem sih mas..tapi seru banyak tete' nya "

-______-"

.......................................................

Haha. panjang ya tulisannya :D
Tulisan ini emang sengaja gue posting sebagai 'EDISI LEBARAN' seperti halnya pelem Warkop, Oma Irama , Barry Prima dan Suzzana yang dulu selalu menghiasi  ketika lebaran tiba.

Jadi, selamat berlebaran :)

+ disclaimer :
desain illustrasi Sundel Bolong yang gue pasang di awal tulisan, gue ambil dari blog ini :http://unded.deviantart.com/

28 August 2010

Lets Scare Jessica To Death ( 1971 )

Terus terang, gue tertarik ama film ini cuman karena ngeliat desain poster nya yang ada ditengah-tengah definisi stupid ama keren. Liat aja tuh :D. Selain itu, tentu aja judulnya, 'Lets Scare Jessica To Death'!. Haha Judul yang sangat eksploitatif, ngingetin ama 'I spit On Your Grave' atau 'I Drink Your Blood' dll.

Dalam bayangan gue ini adalah sebuah film yang bercerita tentang sekelompok pemuda iseng  nakut-nakutin seorang cewe montok bernama Jessica sampe mati. Woo-hoo kedengeran kaya sebuah pelem yang cocok buat ngebuang waktu sejam-setengah.

Let's sheck..

Storyline :
Jessica ( Zohra Lampert ) adalah seorang perempuan yang baru saja dinyatakan sembuh dari mengalami gangguan jiwa. Sekarang dia terlihat baik-baik saja dan gembira.

Sang suami, Duncan ( Barton Heyman ) --bersama satu orang temannya Woody ( Kevin O' Connor )-- kemudian berniat memulai segalanya dari awal dengan mengajak Jessica pindah ke sebuah rumah di pedesaan di Connecticut ( seperti biasanya, tentu aja lengkap dengan danaunya :D )

Disana mereka tidak sengaja berkenalan dengan seorang wanita dan setelah beberapa saat perkenalan, Jessica mengundang wanita itu untuk ikut makan malam dan menginap beberapa hari.

Namun dari sinilah horror mulai terjadi.
Jessica merasa mendengarkan bisikan2 aneh ditelinganya. Bukan itu saja, dia juga sering mendapat penampakan2 yang tidak dilihat orang lain. semula ia memutuskan untuk mengabaikan hal ini dan tidak menceritakan apa yang dialaminya karena takut sang suami mengira gangguan jiwanya kambuh.

Suatu hari, seorang pemilik toko barang2 antik didesa itu bercerita kalo rumah yang mereka tempati adalah bekas rumah bangsawan Bishop, dia bercerita kalo pada tahun 1880 sebuah tragedi pernah terjadi disitu. Puteri Bishop, -Abigail- tewas tenggelam di danau samping rumah mereka tepat satu hari sebelum hari pernikahannya. Menurut legenda penduduk pula, arwah Abigail sekarang bergentayangan menghantui desa sebagai Vampire.

Dan setelah Jessica mengamati foto putri Bishop itu, wajahnya ternyata tak jauh beda dengan wanita misterius yang kini sedang menginap di rumahnya!

Sejak itulah Jessica semakin sering mendapat penampakan dan eskalasinya justru semakin meningkat. Dari mulai dia melihat sosok wanita bergaun putih melambai-lambai, sikap penduduk desa yang aneh dengan luka di lehernya, sampai melihat penampakan mayat wanita tenggelam di danau tempat dia biasa berenang.

Akhirnya, kerena Jessica sering terlihat ketakutan dan histeris, Duncan mengira gangguan jiwa Jessica kambuh, dia lalu berniat membawanya kembali ke dokter di kota. Jessica pun dilanda depresi dan kebingungan.

Apakah yang di lihat, didengar atau dialaminya adalah kejadian nyata atau hanya ada didalam pikirannya saja?? benarkah dia masih gila? atau memang ada sesuatu yang buruk di rumah itu?

Dan didalam kebingungannya dia akhirnya mengalami sebuah tragedi mengerikan....


Review :

Klik 'Play.

Setelah logo Paramount menghilang dari layar, kita akan mendapati sebuah shot dramatis sunset dengan cahaya oranye-nya yang memantul di sebuah danau berkabut. Senyap. Hanya terdengar suara burung danau dan kesiur angin.

Next frame, seorang perempuan terlihat duduk disebuah perahu kecil di danau itu, cahaya sunset membuat tubuhnya menjadi siluet.

Lalu kita mendengar narasi lirih yang terdengar seperti orang menggumam, suara itu pastilah berasal dari pikiran perempuan yang sedang duduk di perahu itu..

" I sit here and i can't believe that it happened. Dreams or nightmare..madness or sanity..i don't know which is which..."

.......................................

Dan hanya dari adegan opening seperti yang gue deskripsiin diatas saja, gue tahu kalo tebakan gue tentang film ini salah. Ini jelas bukan sebuah film eksploitasi-bodoh khas 70-an. Iye bener, dont ever judge movie by its poster ( kecuali poster film2nye Nayato ).

Ya, berlawanan ama desain poster ama judulnya yang eksploitatif, film ini ternyata sebuah psychological-atmospheric-surreal-poetic horror. Dan untungnya lumayan bagus buat jadi pilihan terakhir ketika lawakan Sule di tipi mulai membosankan.

Let's Scare Jessica To Death ( LSJTD ) adalah debut film panjang John D.Hancock setelah sebelumnya ( ditahun 1970 ) dia hanya membuat sebuah film pendek berdurasi 15 menit.

John D. Hancock memilih membuat filmnya berjalan sangat pelan namun terus merambat naik untuk akhirnya di akhir film dia meledak menjadi tragedi yang cukup untuk membuat gue merinding, walau begitu ini jelas bukan buat horror-hardcore yang hanya doyan tempo tinggi ( apalagi Zombem :D ). Nggak ada gore atau nudity. Hanya ada sedikit darah dan kematian dengan level-violence yang aman untuk seluruh keluarga. Yeah, rating film ini emang PG-13. Ngarepin apa lagi ya?

Namun, film ini nawarin beberapa adegan scare-tactics creepy yang didukung oleh kostum dan setting beraroma gothic. Kalo kamu seneng film horror yang mengandung adegan  seperti : 'cewek bergaun pengantin putih melambai-lambai dibalik kabut yang ketika dikejar dia kemudian menghilang', kamu pasti juga akan suka film ini.

Tapi tentu aja adegan yang menjadi ikonik di pelem ini adalah adegan ketika hantu Vampire-Abigail, perlahan-lahan keluar dari dalam danau..sayang, hantunya nggak telanjang seperti di 'Lady Terminator' :D



Film semakin terasa unik dengan menjadikan Jessica ( yang baru sembuh dari gangguan jiwa ) sebagai sentral film dengan pergolakan pikirannnya yang ditunjukin ke penonton ( inner-voice ). Ini membuat LSJTD terasa  creepy, sekaligus lirih dan puitis . Teknik inner-voice inilah mungkin yang menginspirasi  adegan populer di sinetron lokal, yaitu adegan Baim menengadahkan tangan, lalu terdengar inner-voice : "Tolong Baim Ya Allah.." ya, seperti itulah.

Poster Versi DVD (2006)
yang menarik lagi, film yang menjadi salah satu favoritnya Stephen King ini ngebiarin semua misteri dalam film ini tetap terbuka, dengan begitu penonton dipersilahkan berinterpretasi sendiri. Nggak tahu, yang kaya gini bisa dibilang nyebelin apa keren hehe..buat gue sih tergantung, dan untuk film ini..oke, cukup impresif.

Terus terang, kalo misalkan ini adalah sebuah film rilisan baru, plot atau premise-nya akan gue bilang 'nggak kreatif + membosankan'.  Makanya, kalo di-remake hasilnya pasti jelek.

Tapi gue selalu respek ama film-film klasik ( dalam artian : jadul ). Itu rasanya kaya kalo misalkan elu nggak terlalu tertarik ngeliat orang modern bisa nyiptain Smartphone, tapi pasti merasa kagum ketika tahu orang zaman dulu udah bisa berkomunikasi jarak jauh dengan perantara kabel + kaleng. Haha oldschool + classic.
Overall sih, emang bukan film horror yang sangat bagus atau essensial, tapi surprisingly-watchable. Terutama mungkin karena rendahnya ekspektasi gue.
Semuanya dieksekusi dengan mulus. setting, atmosfir, shot-shot, photografi, akting ( terutama akting Zohra Lampert ) dan didukung scoring yang pas, 'Lets Scare Jessica To Death' menjadi salah satu film horror-misteri di era 70-an yang terlihat percaya diri di genre nya.



Rating :

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

+++ : Yang ini ga ada hubungannya ama review. cuman pengen curhat, kalo kita perhatiin di pelem2 horror luar sono, kalo ada adegan yang memakai setting sebuah danau, gue iri banget soalnya danau-nya keliatan sepi banget. Seakan-akan kita bisa kesana di akhir pekan dan memiliki danau itu sendirian. Di Indonesia, sepanjang pengalaman gue kemping, hiking, blusukan ke hutan-hutan, setiap kali gue nemuin danau/telaga, gue juga selalu nemu pemandangan : tukang gorengan. -.-"

19 August 2010

The Living Dead At The Manchester Morgue ( 1974 )

Storyline :

George ( Ray Lovelock ) sedang dalam perjalanan ke sebuah kota, ketika motornya tanpa sengaja dibuat rusak, tersenggol mobil yang dikendarai oleh Edna ( Cristina Galbo ) yang juga sedang dalam perjalanan menuju sebuah kota untuk mengunjungi kakak perempuannya ( Katie ).

Merasa bersalah, Edna menawari George untuk menumpang mobilnya. Kebeneran mereka emang satu arah, walau kota yang dituju berbeda. George hendak ke Windermere, sementara Edna sedang dalam perjalanan ke Southgate ( kawasan Manchester ). Karena tak punya pilihan lain, George setuju. Mereka pun langsung meneruskan perjalanan bersama.

Ditengah jalan, Edna membujuk ( setengah maksa ) George untuk menemaninya dulu ke Southgate mengunjungi kakaknya, setelah itu dia berjanji akan mengantar George ke Windermere . Awalnya George menolak, tapi akhirnya dia mengalah. Sebuah keputusan yang pastinya akan di sesali George selamanya, karena dari sini lah semua horror dalam film ini dimulai.

Ya sesampainya di Southgate, mereka menemukan suami Katie ( Martin ) telah tewas mengenaskan. Menurut Katie yang terlihat sangat shock, suaminya diserang oleh sesosok pria yang sangat menyeramkan.


Kepolisian setempat segera melakukan investigasi. Namun kecurigaan sersan polisi justru jatuh pada mereka bertiga. Apalagi ketika polisi menemukan bukti bahwa Katie adalah seorang pecandu heroin. Sementara penampilan George yang shaggy-gondrong + brewokan menambah keyakinan pihak kepolisian bahwa mereka adalah gerombolan pemuda hippies-maniak-pemuja setan seperti Manson's family.

"You're all the same the lot of you, with your long hair and faggot clothes. Drugs, sex, every sort of filth! "

Begitu katanya ketika mengomentari style George, yang langsung dibalas George dengan melakukan hormat ala Nazi + teriakan : Hail Hilter! haha

Tak mau dituding sebagai pembunuh, George dan Edna mulai berpacu dengan waktu untuk mengungkap semuanya. dan akhirnya mereka menemukan sebuah fakta mengerikan : Semua ini ternyata berawal dari sebuah mesin penghasil gelombang-ultrasonik yang sedang dijui coba di kawasan itu. Mesin itu sebenernya bertujuan untuk membunuh hama-serangga. Namun ini film horror-scifi men, kita tahu dalam film horror-scifi, eksperimen biologi --dengan penjelasan yang sumpah gue nggak ngerti-- pasti akan menciptakan semut raksasa, laba-laba sebesar rumah dll Atau kalo nggak..ngebangkitin mayat-mayat dari kuburnya! haha dan yah, mayat-mayat yang bangkit kembali karena efek gelombang-radiasi-ultrasonik inilah yang melakukan serangkaian pembunuhan di kota kecil itu.

Namun sayangnya, sersan polisi yang menyebalkan itu tetap tidak percaya. Jarinya tetap mengarah ke George, Edna & Katie sebagai dalang disetiap kasus pembunuhan berantai yang terjadi. Maka sekarang, mereka terpaksa harus bergerak dengan cepat untuk mencegah kota itu menjadi 'city of the living dead' sekaligus ngebuktiin pada polisi kalo mereka tidak bersalah. Sayang semuanya terlambat..........

Review


Ini adalah sebuah film Spanyol ( yang dengan alasan yang gue juga nggak ngerti ) memilih buat mengambil setting di Inggris. Sutradara Jorge Grau diminta oleh seorang produser untuk membuat sebuah film yang similiar ama Romero's 'Night Of The Living Dead' yang mencetak hit 4 tahun sebelumnya. Dia menyanggupi dan akhirnya jadilah film ini.

Namun gue nggak tau sang produser akhirnya seneng apa kaga, soalnya ternyata film ini beda ama Night Of The Living Dead ( NOTLD ) yang apokaliptik itu ( walaupun emang ada beberapa scene nya yang mirip ) .

Jorge Grau keliatannya nggak pengen cuman nge rip-off mentah-mentah NOTLD dan cukup percaya diri untuk membuat film nya malah mempunyai style sendiri. Plotnya emang tetep tipis, sama kaya The Blob , Maniac Cop atau film-film laennya dimana sang protagonis dikejar-kejar polisi, sementara dia mengetahui sebuah 'horror' yang akan melanda. Model begitulah. 

Bedanya, Jorge Grau mengeksekusi thin-plot ini dengan shot-shot stylish. Jorge jelas orang yang tau gimana caranya ngambil shot dengan frame yang menarik dan impresif. Dia juga seneng bermain-main dengan setting atau background. Liat aje gimana keindahan desa kecil Southgate ( berlokasi di Derbyshire, Inggris ) terekspose dengan baik berpadu ama horror yang kemudian di sajikan. Konon, setelah film ini beredar, lokasi sutingnya sampe sekarang banyak dkunjungi para turis. Iye sih, gue juga pengen ke sono hehe *kalo ada yang ngongkosin. Sementara setting pekuburan ( dan suasana kota kecil Southgate ) nya malah terasa gothic, sama kaya atmosfir gothic di Michelle Soavi's Dellamorte Dellamore . Walaupun nggak se-surreal film itu, tapi kemungkinannye 'The Living Dead At The Manchester Morgue' ( TLDATMM ) emang salah satu referensi Michelle Soavi. 

Gue udah merasa suka film ini sejak 10 menit pertama. Yap, adegan opening George mengendarai sepeda motor di keramaian kota London dengan diiringi soundtrack musik rock-reggae khas 70-an itu  berhasil menarik minat gue. Disini sepertinya Jorge hendak menyampaikan opininya tentang masyarakat-kota.

Cek aja,  Ada shot keramaian kota London yang 'ramai tapi sepi', asap knalpot,  polusi pabrik-pabrik, public space yang udah ter-occupied ama papan reklame, sampah, lalu ada shot bangkai burung tergeletak di pinggir jalan,  pejalan kaki yang menutupi wajahnya dengan masker, seorang sakit yang sedang menenggak pil, kerumunan calon penumpang di terminal, penumpang2 bus yang berjubelan dengan wajah kosong/lelah ( sama kaya zombie ), dan kemudian gue dikejutkan oleh adegan ini : seorang perempuan tiba-tiba melepaskan bajunya, lalu berlari-telanjang menyeberang jalan. Wtf!, gue kaget tapi orang-orang dalam adegan ini digambarkan tidak menghiraukan aksi itu. mereka terlalu lelah/sibuk untuk mempedulikannya. Wow..big city is a real city of the living dead?? mereka emang hidup tapi kesibukan dan kerja membuat mereka terlihat 'mati'. Mungkin itu yang pengen Jorge opinikan :) Jleb! ga jauh beda ama gue yang udah 'mati' karena lebih sering jadi zombie di depan komputer hehe RRRHH im a zombie! brraiiinsss.....

Menit berikutnya, Jorge Grau malah ngasih sensasi yang kontras ama scene kota London tadi. Dia mulai meng-ekspos keindahan kota kecil Inggris dengan bukitnya yang hijau menyegarkan, ha, ini ngingetin gue ama gambar bukit-hijau 'Bliss' di salah satu wallpaper/theme nya Windows XP. Dan hanya karena ini saja gue udah menggumam dalam hati : "film ini keren."



40 menit awal berikutnya, dipake Jorge buat ngenalin dan membangun karakter tokoh-tokoh dalam usahanya membuat penonton peduli dan mengantisipasi apa yang akan terjadi kemudian. Dan dia berhasil. Terutama berkat dukungan para cast nya yang berakting sangat baik. Arthur Kennedy mencuri perhatian dengan perannya sebagai polisi menyebalkan, Ray Lovelock meyakinkan sebagai pemuda hippies-kritis yang rada brengsek, dan Cristina Galbo sekarang menjadi salah satu cewe yang masuk list favorit 'screen-screaming-queen' versi gue. Dan berkat perannya disini, Cristina ( yang juga sering maen di pelem2 Giallo ) akhirnya mendapat penghargaaan best-actress di sebuah festival. Dengan cast solid seperti itu, adegan intriguing-suspenseful yang dibalut ama dialog-dialog kocak-renyah kemudian digulirkan Jorge untuk menghindarkan penonton jatuh pada kebosanan. Dari sini tensi film sedikit demi sedikit mulai merambat naik.


Sampai akhirnya mulai menit 50 sampe abis, film berubah drastis dari suspense menjadi horror-survival-scifi-zombie yang intense dan menyenangkan buat ditonton. Jorge mulai ngasih apa yang para guts-lover tunggu dari tadi. walaupun emang level gory dalam film ini nggak pernah nyampe ke level splatter ala Fulci ( dan keliatannya Jorge juga nggak pengen membuat filmnya ke arah situ ), tapi film ini mempunyai adegan yang dikenal sebagai adegan 'breast-ripping'.  Sebuah adegan yang cukup eksplisit, dimana zombie-zombie itu menggrauk ( bahasa apaan tuh? haha ) payudara seorang resepsionis rumah sakit. Haha Dan masih banyak lagi seperti leher yang ditusuk, organ tubuh yang dimakan beramai-ramai sampe zombie yang terbakar dll. Sementara adegan terakhir di rumah sakit itu juga jelas influence besar untuk Lucio Fulci's The Beyond dan Stuart Gordon's Re-Animator .


Ngomong-ngomong soal zombie, zombie dalam film ini punya beberapa keunikan :
- Walau kepalanya ditembak, dia nggak bakalan mati ( para protagonis kita akhirnya  menemukan cara buat melumpuhkannya : dibakar! haha )
- Mayat-mayat itu akan bangkit lagi setelah terkena gelombang radiasi ultrasonik atau  mendapat transfer radiasi dari zombie lainnya. ( jadi bukan oleh gigitan ).
-  Zombie disini bertenaga kuat dan cukup pintar untuk menggunakan nisan kuburan sebagai senjata. Haha
-  Slow-moving, berwajah datar ( tidak menyeringai ), diam ( tidak mengeluarkan suara ) dan mempunyai tatapan kosong.

Namun, walau ini film tentang flesh-eater-zombie gue ngerasa kalo real-villain dalam film ini justru si sersan polisi yang menyebalkan itu. Dia sok tahu, rasis, terlalu menghakimi, konservatif, dan keras kepala. Dalam sebuah film, kamu pasti mengharapkan hal-hal buruk menimpa karakter seperti ini. Itu makanya sinetron bisa nyampe puluhan episode, soalnya produsernya tau penonton menunggu pemeran yang suka melotot dan menempeleng itu mendapat balasannya hehe 



Dalam film ini, kamu nggak perlu menunggu sampai puluhan episode dan akan mendapatkan 'kepuasan' itu di menit-menit akhir. it's time to zombie-revenge! Ups, spoiler ya? *peace :D Ya, film ini diakhiri oleh ending yang mengejutkan dan menarik hehe

Satu poin plus lagi, horror berdurasi 93 menit ini di dukung oleh backsound/scoring-music yang sangat efektif. Jorge Grau sendirilah yang membuat  scoring mirip gelombang suara/lenguhan nafas itu. Dan dia berhasil menciptakan 'sound of the dead' yang mendukung adegan dan keseluruhan ide cerita.


..................................................................

Sekarang, dengan semua opini positif yang gue tulis diatas, gue heran film ini ternyata jarang disertakan dalam list film zombie favorit para horror-fan. Kenape ye?

Analisa gue sih mungkin karena film ini terlalu suspense+stlylish buat penggemar zombie-splatter atau sebaliknya terlalu gory+eksploitatif buat penggemar suspense-scifi. jadi nanggung-nanggung gitu. 
Atau kemungkinan lainnya adalah karena film ini mempunyai alternate-title yang banyak sekali. gue itung-itung di IMDB sampe 17 judul haha. Lain negara yang mengedarkan, lain pula judulnya. Anchor Bay sendiri beberapa tahun lalu merilis versi DVD film ini dengan judul 'Let's Sleeping Corpses Lie', di IMDB film ini ditemukan dengan judul 'Don't Open the Window' , dan apakah kamu mencari-cari film 'Zombie 3?' Ga usah bingung, karena 'Zombie 3' adalah film ini, atau jangan-jangan kamu sudah nonton film ini tapi dengan judul yang beda? coba cek 14 judul lainnya haha.  Nah, mungkin judulnya yang banyak itu membuat film ini jadi gampang buat dilupain. Istilah cepet : nggak nancep di kepala.



Final verdict, nggak adil rasanya kalo membandingkan film ini ama film kelas A, ini tetep B-movie ringan yang buat beberapa audiens non-horror sering dibilang meaningless-garbage. Namun buat horror-fan seperti gue,  di genre-spesifik nya, 'The Living Dead At The Manchester Morgue' ( or whatever title ) adalah sebuah 'permata'. Nggak sempurna tentu aja, ada plot hole dan kekurangan disana-sini, tapi dari semuanya, yang paling membuat gue respek adalah, 

film ini punya style dan karakter yang kuat. Orang yang membuatnya berani untuk tidak menjadi George Romero atau Lucio Fulci, 'he's not wannabe', dia  adalah Jorge Grau dan ini filmnya. Kita tahu, sesuatu yang berkarakter itu biasanya akan menjadi influental. dan itu keren. hehe
Jorge juga berhasil memasukkan beberapa 'muatan-kritis' tanpa terlihat preachy tentang pemikiran konservatif orang tua melawan semangat & pemikiran baru generasi muda ( di simbolkan oleh karakter polisi dan pemuda hippies ) juga isu tentang lingkungan hidup seperti yang tertulis dalam salah satu taglinenya :


" They tampered with nature - now they must pay the price..."

dan yang terpenting, 'The Living Dead At The Manchester Morgue' nggak pernah lupa kalo dia tetep sebuah  hiburan dan mempunyai sederet momen-momen memorabelnya.

jadi, tanpa ragu film ini jelas akan masuk dalam daftar kult-klasik versi subyektif gue. Hehe. 





RATING :

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic