Showing posts with label action. Show all posts
Showing posts with label action. Show all posts

13 December 2016

Headshot ( 2016 ) : Cheesy Romance with a Mindless Violence

This review may contain minor-spoiler! 

Setelah membuat kisah tentang keluarga kanibal ( Rumah Dara ) dan jurnalis stres vs psikopat dari Jepang ( Killers ), rupanya Mo Brothers ( Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel ) ingin menjajal genre baru  di luar zona pilihan mereka selama ini. Mungkin karena terinspirasi kesuksesan The Raid & Berandal atau mungkin juga karena genre ini masih belum jauh-jauh amat dari apa yang menjadi kegemaran mereka : muncratan darah ama kekerasan ekstrim.  Ya, action. Lebih spesifik lagi, hardcore-action. Tentunya menarik buat tau sejauh mana duo sakit jiwa ini mampu bermain di area baru ini, terutama setelah standar di genre hardcore-action sudah di kerek begitu tinggi oleh Gareth Evans lewat The Raid & Berandal.  

Mo Brothers mengambil premis klasik tentang pria amnesia yang diburu orang-orang dari masa lalunya yang kelam. Semacam Jason Bourne meets Kill Bill lah. Mo's kemudian nambahin itu dengan drama-romansa sebagai bumbunya. Nah, bagian romansa ini selain dimaksudkan untuk meraih pasar yang lebih luas, menurut gue juga bisa jadi pemanis dari pahitnya kekerasan yang akan hadir nanti. 

Cheesy Romance


Sayangnya, relasi antara Ailin ( Chelsea Islan ) dengan Ishmael  ( Iko Uwais ) terasa kurang kuat. Selain karena pendekatannya yang terasa FTV-esque, maksud gue gimana seorang dokter cantik-muda bisa begitu mudah terlibat hubungan dengan seorang pria misterius yang ga jelas asal-usulnya? ( hey, tapi ini bisa aja kejadian kalo lu punya perut sixpack! ), juga karena proses hubungan ( dari relasi antara perawat-pasien sampe ke berpelukan-dibawah-payung-imut ) yang diceritakan berkembang terlalu cepat. Mo Bros bukannya ngga berusaha untuk membuat ini terasa manis, hanya saja effortnya terasa kurang maksimal ( atau tidak bekerja ) di sejumlah aspek. Imbas dari ini adalah datarnya emosi gue pas ngeliat adegan yang dimaksudkan untuk menjadi sentimentil-emosional. Tentu saja, ini sangat disayangkan kalo nginget Chelsea Islan sebenernya tampil cukup bagus disini ( terutama dibagian dia berlumuran darah hehe ). Pada naskah yang ditulis dengan lebih matang, drama-romansa bisa tetap menjadi bagian yang sama menariknya dengan kekerasan tingkat tinggi yang hadir dibagian lainnya, contohnya seperti yang udah ditunjukin dalam Near Dark atau True Romance

01 August 2016

Near Dark ( 1987 ) : Romansa dan petualangan ugal-ugalan geng vampir ala Kathryn Bigelow

Jauh sebelum menyutradarai pilem  drama-action perang timur tengah The Hurt Locker ( ya, yang menang Academy Award itu ) ama pilem blockbuster perang timur tengah laennya,  Zero Dark Thirty, dan hanya beberapa tahun sebelum namanya terangkat oleh Point Break ( 1991 ), sutradara Kathryn Bigelow ternyata mengawali solo-directorial debutnya  dengan nancepin taring di genre pilem horror, judulnya : Near Dark. Gue terjemahin secara bebas berarti sendakala atau menjelang maghrib ( gelap ) hehe.

Gue baru nonton filmnya kemaren, dan dengan cepat bisa gue katakan kalo ini salah satu film vampire paling brutal ( juga romantis ) di era 80'an.


Meski begitu, ketika dirilis, Near Dark ternyata gagal di box office. Penyebabnya diduga karena pilem ini rilis ditahun yang sama ( hanya beda beberapa bulan ) dengan pilem bertema vampir laennya yang lebih besar, The Lost Boys ( 1987 ). Alesan laennya adalah karena studio yang memproduksi pilem ini , DEG (DeLaurentiis Entertainment Group) saat itu sedang diawal kebangkrutan, akibatnya Near Dark tidak mendapat publisitas layak dan akhirnya K.O di box office.


Kita langsung ke ceritanya,


02 January 2015

The Guest ( 2014 )

Kali ini Horrorpopcorn mendapat kontribusi review dari seseorang yang mengaku bernama Gambir. Dan bagian tidak terduganya adalah ketika gue kemudian merasa terpancing untuk menulis review pilem yang sama. Ini ngasih gue ide. Di kesempatan berikutnya jika ada seseorang yang ngirim kontribusi review, gue akan berusaha untuk menulis review versi gue sendiri. Jadi kalian akan mendapatkan 2 review! hehe.

Nggak usah takut nantinya akan berbeda penilaian, karena justru perbedaan sudut pandang akan membuat ini semakin menarik.
Terima kasih sodara Gambir akan kontribusinya. 

Btw kamu Gambir yang suka bikin patung itu? atau Gambir yang tetangganya Gondangdia?
 

Langsung aja..

14 December 2014

The Raid 2 : Berandal

Written By 'R'

Gue sebenernya langsung nulis review film ini sejak keluar dari bioskop di hari pertama pemutarannya. Tapi tumpukan pekerjaan membuat tulisan terhenti ketika baru nyampe 80%. Bulan demi bulan berlalu,  euphoria film ini mulai turun, kemudian gue ngerasa nggak perlu nerusin nulis reviewnya. Lagipula, bukankah akan sangat telat kalo gue mostingnya sekarang?

tapi, kemudian gue mikir lagi, gue ngerasa telat mosting review The Raid 2,tapi kenapa gue nggak ngerasa telat pas ngereview film film jadul tahun 40-an?? hehe


Jadi bro, gue akhirnya ngebuka kembali file review setengah jadi itu, menyelesaikannya, kemudian langsung mostingnya disini.

Ini dia.

....................


Satu pertanyaan menyelinap di benak gue sehabis nonton pilem ini. Kenapa subjudulnya Berandal? bukan apa-apa, gue nggak ngeliat satupun berandal keliatan di pilem ini, kalo diinget2 gue malah lebih banyak nemuin banyak berandalan dalam The Raid 1 : Redemption. Ya, preman pasar, penjahat liar, bajingan ugal-ugalan dan pembunuh brutal dalam pilem pertamanya menurut gue lebih pantes di sebut berandal. Lebih jauh, gue juga nggak nemuin adegan penyerbuan ( The Raid ) dalam The Raid 2.

Baiklah, skip aja pertanyaan nggak penting diatas hehe

Kita, langsung aja ke poin poin pentingnya :

28 October 2012

DOG SOLDIERS ( 2002 )

Gue bisa nyebutin banyak bangat pilem tentang zombie atau vampire yang keren, tapi kalo ditanya pilem tentang manusia serigala ( werewolf ) yg memorable dan badass, hmmm..kayanya gue cuma bisa ngitungnya dengan sebelah jari tangan saja,
let's check..An American Werewolf in London (1981) (gue akan nyeritain pilem ini dalam review terpisah ), The Howling (1981), Ginger Snaps (2000)..apalagi ya? remake The Wolfman ( 2010 )? hm,  i don't think so. Twilight? aah, c'mon yang bener aja. Nah, sedikit sekali ternyata, cuma inget 3 judul. (  ada yang mau ngasih gue rekomendasi judul laen? ).

Jadi, pas suatu hari seorang temen berkicau tentang betapa badass nya serigala jejadian dalam 'Dog Soldiers', gue pun mengeluh kenapa ya dulu selalu ngelewatin pilem ini pas di rental DVD, mungkin karena ngebaca judulnya gue mengira ini pilem tentang anjing yang menjadi tentara (?) atau kemungkinan lainnya, mungkin karena Twilight udah ngilangin selera gue buat peduli ama kisah manusia serigala ( hal yang sama juga terjadi pada vampire ), Padahal setelah di cek, pilem ini ternyata adalah directorial debut dari Neil Marshall, nama yang kita kenal bertanggung jawab atas kisah horror klaustrofobik monster goa nan fenomenal 'The Descent' ( 2005), nama yang ini nggak mungkin bikin emo teen werewolf in love kan?  segera saja gue memerintahkan divisi per-download-an untuk mengunduh file nya. Tentu saja setelah gue menyogoknya dengan semangkok siomay.

Ok, kita liat kaya apa pilemnya :)

Storyline : 

Satu squad tentara Inggris di bawah pimpinan Sgt. Harry Wells (Sean Pertwee) di terjunkan ke hutan Skotlandia untuk menjalankan latihan militer rutin. Misi latihan yang awalnya lebih mirip acara piknik para tentara lengkap dengan candaan kasar dan api unggun, mendadak berubah ketika seseorang ( atau sesuatu ? ) melemparkan bangkai sapi ke arah mereka. Penasaran, mereka mulai mencari tahu siapa yang melakukannya. Tak lama kemudian squad ini mulai sadar sedang berhadapan dengan musuh nyata ketika mereka menemukan base camp batalion lain dalam keadaan porak poranda, penuh darah dan organ tubuh berceceran. Di tempat itu pula, mereka menemukan Capt.Ryan (Liam Cunningham) dalam keadaan sekarat, usus nya terburai. Dia meracau tentang makhluk buas yang telah merobek perut dan membantai anak buahnya.

We are now up against live, hostile targets. So, if Little Red Riding Hood should show up with a bazooka and a bad attitude, I expect you to chin the bitch!.” Sgt. Harry Wells mengeluarkan perintah.

ketika hari mulai gelap, sosok-sosok besar berbulu dengan taring tersembul dari mulutnya mulai terlihat diantara kegelapan dan pohon-pohon, mengintai mereka. itu Werewolf!

dan horror pun di mulai.

Review :


Diawali ama adegan penerjunan squad ini ke hutan Skotlandia, pilem mulai ngenalin para anggota cast. Biasanya, ini bagian yang rada ngebosenin buat diliat, itu soalnya di kebanyakan pilem lain kita tau mereka cuma 'daging kurban' yang perannya emang cuma buat di makan monster.  Si penakut di telen pertama, si menyebalkan di caplok berikutnya etc, tapi untunglah pengkarakteran para tokoh disini gue pikir tidak terlalu dibuat buat, natural dan unik satu sama lain, satu satunya kesamaan mereka cuma : sama sama foul-mouthed! So, no stereotypes there then. 
Pada gilirannya, ini membuat gue kemudian merasa terlibat secara emosi dan tidak hanya menganggap mereka sebagai 'future victims' belaka. Gue sendiri sangat suka Karakter Spoon ( Darren Morfitt ) dan Sersan Wells ( Sean Pertwee ) . Khusus nama terakhir, dia berakting sangat baik disini meski akting terbaiknya hanyalah ketika memerankan orang yang tewas dengan sangat mengenaskan ( cek di 'Doomsday', 'Wilderness', atau 'Event Horizon' ) haha. 

Sementara itu, dialognya menggunakan logat british yang kental lengkap dengan makian dan joke yang beberapa diantaranya cuman bakal bikin ngakak orang Inggris doang. Gue sering membuka google translate cuma buat ngertiin apa yang lagi mereka omongin dan tetep nggak ngerti haha tapi untungnya lagi lebih banyak yang berhasil bikin gue ketawa. Hal, yang gue suka lainnya, skripnya punya banyak lines memorabel.

Selain karakter yang natural dan nggak stereotip, reaksi mereka ngadepin makhluk jejaden ini juga nggak kaya tokoh di kebanyakan pilem horror laen yang biasanya cuma ngejerit frustasi sambil memekik " oh God..What the hell are these fucking things?!". Abis itu ngelakuin hal yang luar biasa bodoh.

Cek reaksi sersan Wells ketika ngeliat ususnya mbrojol, dia cuma menatap ususnya sambil menggumam " sosis.." badass! haha

atau yang ini :


Mereka beneran kaya tentara, lengkap dengan attitude nganggep semua hal sebagai  bullshit, nggak gampang frustasi dan selalu punya strategi. Ketika amunisi mulai menipis, nggak segan mereka menggunakan penggorengan buat senjata, dan bahkan ketika penggorengan udah nggak ada, salah seorang diantara mereka ( prajurit Spoon..whoa, i love Spoon! ) tak gentar menantang duel adu jotos. Ya, adu jotos melawan werewolf!!
"Come On, Beauties!! "
Gimana dengan efek nya sendiri? kalo mengingat ini adalah sebuah pilem dengan bujet cekak, gue cukup khawatir kru pilem bakal make CGI medioker buat nyiptain sosok sang siluman serigala. Tentunya, gue bukan anti-CGI, tapi masalahnya ketidakhadiran fisik sang monster dalam setting dan aktor yang cuma berakting di depan green screen biasanya gagal menghadirkan feel terror yang hendak dicapai, lebih buruk lagi  penggunaan CGI di banyak pilem horror low budget sering ngerubah horror malah menjadi komedi menyedihkan nan absurd.
Gue bisa nikmatin 'komedi' diatas pada lain waktu dengan mood yang berbeda. tapi, saat nonton 'Dog soldiers'  gue cuma pengen siluman serigala yang badass!

Dan Marshall bersama divisi spesial efek di pilem ini ngejawab request gue dengan nyiptain kepala werewolfnya menggunakan teknologi animatronik.

cek,



Bagian tubuhnya sendiri tetap menggunakan aktor yang memakai kostum prostetik, dan jika kalian bertanya mengapa sang serigala keliatan tinggi, itu karena sang aktor juga memakai 'stilts' ( semacam egrang mekanis ) dibalik kostumnya haha

Liat gimana owsom nya egrang mekanis yang gue maksud :


Gua baca dalam sebuah wawancara, Neil Marshall emang menolak menggunakan CGI karena dianggap over-used padahal teknologi animatonik menurutnya sudah sangat pesat.

" I wanted to tried and tested method ( animatronics ) because i needed the werewolfes in the same frame as the actors so they could properly react to what they were seeing in order to communicate total pulse -pounding terror to a wide-eyed audience ". Neil Marshall

Dan hasilnya memang efektif, kehadiran fisik sang monster mampu memaksimalkan terror yang hendak disampein. Reaksi yang diharapkan dari para aktor dapet. Feelnya dapet. Walaupun memang nggak se-spektakuler SFX di 'An American Werewolf in London'  &  di beberapa adegan mimik sang serigala terlihat sedikit kaku ( maklum robot hehe ), namun sedikit kelemahan ini mendapat support dari kerja kamera dan editing yang tepat guna. Gue mencatat ada beberapa adegan dramatis dari pemunculan sang serigala jejadian yang cukup memorabel. Sementara itu, untuk desainnya sendiri lebih mirip serigala besar yang bisa berdiri. Bagian kaki dan tangannya terlihat kurus tapi berotot dan hanya mempunyai sedikit bulu. Seinget gue, cuma 'The Howling' (1981 ) yang punya desain hampir serupa. Keren!


Jadi, 2 hal penting udah berhasil membuat gue tersenyum, character development yang menarik ama keputusan nggak make CGI. Berikutnya, gimana dengan ceritanya?

Buat sebuah flick horror berdana rendah yang punya premis werewolf vs serombongan tentara, gue jelas nggak naro harepan bakal dapet cerita yang outstanding. Pokoknya kasi aja adegan serigala menerkam ama adegan tembak-tembakan ( libatkan granat + bazooka kalo perlu ) yang banyak, itu aja udah udah cukup bikin otak gue lebih enteng. Dan Marshall kembali ngasih gue lebih dari yang gue harepin. Tetep nggak outstanding sih, tapi ceritanya tuh keliatan bener2 di pikirin buat bisa ngedukung semua aksi dan karakter di dalamnya. Tak lupa dia nyelipin beberapa twist, yang salah satunya sebenarnya udah bisa ditebak di pertengahan durasi, tapi bagaimanapun ini rasanya kaya beli chiki dan nemu selembar ribuan di dalamnya. surprise! haha.

Selain itu 'Dog Soldiers' juga punya banyak referensi pilem cult horror favorit gue, misalnya aja di menit-menit awal dia ngingetin gue ama 'Predator', ketika cerita mulai bergerak dan squad menemukan kabin, jelas ingatan gue melayang pada 'Evil Dead', berikutnya seluruh durasi pilem dihabisin didalam kabin tersebut, squad mulai membuat barikade dan mencoba bertahan dari werewolfes yang mengepung diluar. Disini banyak adegan yang gue rasa ngambil referensi dari 'Night of the Living dead', 'Zulu', 'Aliens', 'Dawn of The Dead', 'Gremlins' dll. Gue sih seneng ngeliatnya, rasanya kalo suatu saat gue bikin pilem pun bakalan dengan seneng hati ngasih tribut buat pilem2 keren favorit gue dengan nge-homage nya. Dan nggak usah khawatir ini bakal kerasa repetitif, karena 'Dog Soldiers' juga punya beberapa adegan orisinil-fresh yang salah satunya bikin gue ngakak, misalnya, adegan prajurit Cooper ngelem usus Sersan Wells yang mbrojol pake superglue. WTF?!



Dari tadi muji muji mulu, jadi ini pilem yang layak dapat rating 10 gitu? sayangnya bukan. Rating 10  udah gue kasih buat 'Braindead' haha.

MINUS POINT :
- Ada beberapa pemunculan werewolf yang stylish & memorabel, tapi gue bakalan lebih seneng kalo penampakan full frontal dari sang werewolf ditambah. Sebagian besar penampakannya emang cuma ditunjukin sekilas2 dalam adegan yang cepat, berbentuk siluet atau close up
- Terima kasih untuk darah, usus mbrojol dan satu adegan yang berhubungan dengan kepala buntung. Itu sangat brutal, Terima kasih juga udah nggak make CGI. Tapi, lebih banyak on screen gory scene, please.
- kamera yang goyang dan perpindahan antar adegan yang sering terlalu cepet, terutama di adegan2 kontak terbuka dengan para werewolf. Tujuannya jelas buat nyiptain 'sense of urgency dan speed', emang sih berhasil, dan gue suka kesan RAW yang dihasilin, tapi kadang bikin pusing juga.
- Aksen british yang kental, bikin gue sering nggak ngerti mereka lagi ngomong apaan haha.

..................................

Overall, dengan segala kekurangannya, 'Dog Soldiers' adalah pilem horror kecil yang nyaris nggak kedeteksi 'radar' , namun kala ditemukan dia secara mengejutkan mampu ngasih gue lebih dari yang di ekspektasiin, karenanya dia layak untuk direkomendasikan. Sebuah kerja yang sangat bagus dari seorang debutan.

Rough, fast pacing, intense, twisty, brutal sekaligus funny.

Dan yang paling penting, 

Neil Marshall berhasil ngingetin kita akan fitrah werewolf sebagai makhluk mitologi yang setiap bulan purnama akan mendedikasikan hidupnya buat mencabik dan memamah daging manusia..

dan bukannya galau gara2 cinta segitiga. ho-hum.

Highly recommended.

RATING:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


.......................................

 ++ Sempat tersiar kabar, kalo sekuelnya sedang diproduksi ( Dog soldiers : Fresh Meat ) dengan Rob Green sebagai sutradara. tapi, setelah blusukan kesana kemari nyari informasi, gue ngedapetin official update kalo proyek itu ternyata batal terealisasi. nggak tau kenapa.

07 November 2010

The Disappearance of Alice Creed (2009)

Reviewed By 'Z'

Waktu ngeliat film ini di tempat gue gawe, jujur aje gue kaga tau apa-apa soal ini. Gue pikir itu cuman salah satu DVD yg dibeli secara acak ama kolega gue berhubung di kovernye ada gambar orang megang beceng aja, makanye pas mereka muternye di sebuah momen “hey-kite-ngga-perlu kerja-tapi-juga-ngga-punya-keidupan” bareng-bareng, gue kaga punya ekspektasi apepun soal apa yg bakal gue liat.

Ngga kaya Piranha, Machete, Nude Nuns with Big Guns, Mutant Girls Squad atau bahkan Scott Pilgrim vs the World, The Disappearance of Alice Creed ngga termasuk dalam judul yg gue cari ataupun tunggu. Jadi pas gue tau ini juga diputer di INAFFF dengan animo cukup tinggi, jujur gue rada kaget. Darimane orang tau film ini? Terkenal gitu? Ini sebenernye Dread Central punya page rahasia yg gue kaga tau? Apa mungkin emang guenye aja yg terlalu lama ngabisin waktu di edarem ? Ngga tau juga.

Film ini sendiri awalnye cukup ngebingungin, terutama buat orang yg –kaya gue- sama sekali ngga tau apa-apa soal ini. 

Pertama 2 orang keliatan kaya mereka lagi ngebangun parameter pertahanan buat mengantisipasi apokalips zombie: nutupin jendela pake kayu, masang rentetan gembok di pintu, ngestok alkohol, dll, pokoknye praktis segala hal yg lo lakuin di rumah pas tau Persebaya bakal maen. Terus tau-tau mereka pergi naek mobil dalem pakaian kembar-identik Thompson & Thompson, abis itu semuanye jadi keliatan kaya video-manual Kopasus soal taktik dasar cara ngambil-orang-dari-jalan-trus-bawa-ke-tempat-terpencil.

Kaya tadi gue bilang: ngebingungin.

Tapi mulai dari situ, segalanye jadi jelas. Jadi 2 orang tadi tuh ceritanye antagonis kite, & cewe yg kepalanye dikantongin itu? Itu anak orang kaya yg diculik demi uang tebusan. Gue sedikit ngarep kalo itu Paris Hilton, soalnye diculik buat bikin orang laen dapet duit tebusan praktis bakalan jadi satu-satunye kontribusi berguna yg pernah dilakuin ama Paris Hilton kepada masyarakat sepanjang idupnye. Tapi pas pakaiannye dilucuti, ternyata bodi doi ngga bikin sakit perut & pas kantongnye dilepas mukenye ngga bikin muntah, dari situ lo bisa ngambil kesimpulan kalo doi pasti bukanlah Paris Hilton. Dengan fakta penting demi kewarasan menonton itu dikemukain, maka versi ngga-terlalu-annoying, lebih-sedap-dipandang-mata sekaligus bebas-STD dari anak orang kaya kite ini pun terjebak dalem satu plot AD/ART skenario penculikan tipikal, & dari sini relasi antara 3 orang yg terlibat di dalemnye mulai ber-Melrose Place ria.

Sekian laporan pandangan mata gue dari The Disappearance of Alice Creed, sebuah film yg secara keseluruhan bisa disimpulin pake satu kata sederhana: thriller.

Tunggu Bem, itu doang yg bakalan kite liat? Orang nyekep orang laen semau-mau, ngasih peraturan-peraturan absurd yg ngga bisa dibantah, motong akses, ama ngebiri hak asasi manusia buat milih ataupun mikir, semua cuman demi kepentingan pribadi. Itu yg namanye thriller?

Um, sebenernye sih bukan.

itu sih Tif Sembiring
Thriller tuh jenis hiburan yg make suspense, tensi ama ketegangan sebagai bumbu utamanye. Genre ini punya ciri buat nunjukin kriminalitas ama kekerasan sebagai potret kelam dari masyarakat modern yg korup ama fucked-up...& ia juga cenderung keliatan tolol. Jadi gampangnye sih, thriller adalah hal-hal yg tiap hari lo liat di berita.     

Udah? Gitu doang?

Yup.

Ga ada gore?

Nihil.

Darah?

Sangat diminimalisir.

Ummmm...boobies?

Nah! Kalo itu ada.

Malah, salah satu alesan kenape gue tetep nonton ini & ngga segera beralih ke 4chan kaya yg umumnye terjadi di thriller-thriller laen tuh soalnye, buat beberapa menit yg tak ternilai harganye, kite bisa liat boobs-nye Gemma Arterton. Ya...cewe yg bikin cokelat keliatan 1000 kali lebih menarik buat dijilat lewat Quantum of Solace.

Iye, yg itu.
Harep dicatet kalo itu cuman salah satunye doang. Sebenernye alesan lebih utama kenape gue ngga sanggup nolak daya tarik dari film ini adalah soalnye, di sini, doski ngabisin sekitar 70% aksinye sambil keliatan kaya gini:


Yoi sodara-sodara, Gemma Arterton mungkin adalah aktris utama yg pake ballgag paling lama pada sebuah film non-Giallo sejak Donna D’Errico di Candyman: Day of the Dead. Kalo lo rindu pada masa kejayaan spaghetti-western ama Detective Magazine, maka film ini bakalan muasin semua hasrat knotty-boy terpendam lo pada plot Damsel-in-Distress klasik. 10 menit pertamanye aje udah cukup buat jadi momen-pengundang-boner, & thriller Britania ini ngedisplay unsur kinky-nye dengan lebih apik daripade kebanyakan torture-porn belakangan. The Disappearance of Alice Creed tuh cuman punya, semacem, 3 orang yg maen di dalemnye, jadi semuanye punya screen-time seimbang & salah satunye adalah seorang cewe diiket di ranjang. Maka kaga usah heran kalo banyak porsinye keliatan kaya setting tipikal video streaming dari sebuah situs bondage.

Gue ngga ngerasa perlu komplen.
Tentu, film ini sih punya sebuah cerita beneran, tau kan? Satu yg ngga ngewajibin aktris utamanye buat lari-lari di tempat menjijikan dengan cairan-cairan aneh ngebasahin seluruh badannye. Bahkan cewe yg ngabisin waktu disumpel di dalemnye pun –percaya ngga percaya- punya script buat dibaca pada bagian di mane doi kudu ngomong. Gue yakin lah pokoknye blog-blog film lebih kompeten laen bakal punya bahasan lebih mendalam soal ginian, tapi buat sementara ini, berhubung lo udah stuck di sini, hal paling mengesankan dari film ini tuh jelas level kuantitas dari bagian-bagian kaya gini:

Gue tetep ngga ngerasa perlu komplen.
Kalo ada kecacatan fatal di mata gue, itu pastilah endingnye yg bertele-tele. Film ini ngambil waktu terlalu lama buat ngebungkus epilognye pake sesuatu yg udah ketauan dari 10 menit yg lalu.  

Tapi kalo mau objektif, misalnye itu diabisin di titik tertentu maka satu-satunye yg kurang dari bikin itu keliatan kaya rip-off pasti cuman theme-songnye Saw doang. Dan berhubung kaga semua bisa maen comot adegan dari film laen trus nyebutnye “homage” dengan ekstravaganza seorang Rob Zombie, J Blakeson kayanye emang mau ngga mau kudu milih jalan yg lebih subtil. Subtil emang keliatannye kunci keberhasilan film ini buat bisa diterima ama penonton umum. Seperti gimane praktek prostitusi biasanye bersembunyi di balik nama panti pijet, Blakeson sukses ngaburin nuansa sleaze filmnye (paling ngga buat kebanyakan orang) pake formula thriller-komersil yg ditulis dengan baik. Striptease tuh bukan striptease kalo ngga dilakuin di strip-pole, jauhin seorang stripper dari situ, suruh doi ngelakuin hal yg persis sama di panggung moderat dengan background lagu Agnes Monica & secara ajaib, apa yg doski lakuin namanye jadi “modern-dancing”.

Alice Creed ini, buat gue, keliatan kaya gimane film Giallo tuh sebenernye bisa jadi kalo aje para sutradara Italia-gila itu sudi buat rada ngontrol libido ama napsu goretastic mereka sedikiiit aje. Kalo diliat-liat sebenernye ini kaga jauh beda kok, bahkan mereka yg familiar ama pulp-pulp Italia bakal bisa nyium aroma dari semua twist-nye dalem radius 15 menit sebelon itu ditunjukin di layar.

Film ini kaga bisa dibilang orisinil emang, tapi mereka make cara storytelling yg lebih koheren ama ngebuang semua faktor gross yg ngga akan pernah absen di sebuah produksi Itali aje, maksud gue, coba pikir deh apa yg bakal dilakuin ama Lucio Fulci pada seorang Gemma Arterton dalem keadaan terikat ngga berdaya? Dalam sekejap aje, udah ada 10 aksi fetish yg muncul di kepala gue. Plus, Fulci ngga akan ngijinin doski buat pake sehelai benang pun di atas badannye sampe film abis, kalopun ada, itu dijamin berbentuk korset latex dengan rante-rante di sekelilingnye. Meskipun gue yakin itu bukan hal yg buruk, tapi di sini doi cuman nunjukin kulit penuh selama sekitar 10 menit total, gue asumsiin itu ada pengaruh dari Brittish-etiquette. Ngebuktiin kalo, asal ngga ngelibatin Hugh Grant, Brittish-etiquette itu ternyata sesuatu yg bisa ditolerir.  

Gue tetep ngga perlu komplen.
Gemma Arterton sendiri maenin peran heroine-in-peril doi dengan kemajuan pesat kalo dibandingin ama peran di Prince of Persia yg mirip-mirip. Tentunye Prince of Persia itu bikinan Disney, sebuah perusahaan yg sama sekali ngga kepikiran gimane caranye dunia berputar kalo kaga ada binatang yg bisa ngomong di dalemnye, jadi mungkin itu bukan sepenuhnye salah doski. Di sini, dedikasi Gemma pada karakternye ada pada level yg, kalo aja ini disutradarain Roman Nowicki, bakal bikin doski kudu nanggung beberapa bekas pecut di punggungnye. Sementara 2 orang lagi...hmmm, emang ada sih 2 lagi, tapi kaya gimane nasib Luigi ama Dick Grayson dalem kultur pop, gue rasa kaga ada yg peduli ama mereka kok. Jujur aje gue sama sekali kaga akan peduli kalo yg maennye Danny Dyer buat nimpukin puntungan rokok ke Sean Connery. Faktanye adalah -di memori kebanyakan orang- The Disappearance of Alice Creed cuman bakalan diinget sebagai “filmnye Gemma Arterton...ama 2 orang lagi”, persis kaya keseluruhan kariernye The Distillers.

Jadi kalo lo mau contoh terkini dari rilisan langka yg bisa nyeimbangin dirinye antara 2 jenis audiens yg saling bertolak-belakang secara sempurna, maka ini mungkin emang pilihan paling tepat. Ia punya cerita cukup signifikan buat ngejaga minat penonton umum, sementara nyodorin porsi gede visual chick-in-captivity buat menuhin interes para penggemar erotisisme teater Grand Guignol.

Dan yg paling penting: ini satu film yg bisa lo tonton bareng temen-temen, tanpa ada satupun diantaranye bakalan nyadar kalo diem-diem lo dapet boner.





Rating : 
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

22 September 2010

Riki-Oh : The Story of Ricky ( 1991 )

Storyline :

Ricky Ho ( Siu-Wong Fan ) adalah seorang pemuda yang sejak kecil dikaruniai bakat ilmu 'Chi-Gung', yaitu sejenis ilmu tenaga dalam super yang membuatnya mampu menghancurkan batu-beton dengan sekali pukul. Dengan tenaga super itu dia mampu memecahkan kepala manusia seperti layaknya buah semangka. haha

Suatu hari, ketika kekasih Ricky ditemukan tewas karena ulah triad-narkoba setempat, Ricky pun mengamuk dan membunuh boss triad tersebut.

Karena pembunuhan itu, Ricky dijebloskan ke sebuah penjara.
Diceritain pada tahun 2001 ( film ini dirilis thaun 1991 ) , sistem kapitalistik di Hongkong membuat penjara telah menjadi bisnis franchise pihak swasta.
Nah, Ricky di jeblosin ke penjara swasta tersebut.

Ternyata penjara itu dipimpin oleh seorang sipir bermata satu & berlengan kait ( seperti kapten hook ) yang korup, sadis dan diktator. Bukan hanya itu, penjara juga digunakan olehnya untuk menanam ganja dan memproduksi opium. Sementara, kekerasan terus terjadi sehari-sehari didalamnya akibat dari sepak-terjang 'The Gang of Four' yang menguasai 4 wilayah blok penjara dengan mem-bully siapa saja yang lebih lemah.

Nah, sekarang rasanya pukulan maut Ricky dibutuhkan untuk menghentikan kedazliman yang terjadi dalam penjara tersebut!

Review :


Pertama kali nonton pelem ini dulu di bioskop kampung , (  di Indonesia beredar dengan judul ' The King of Power' ) yang herannya, adegan eksplist-graphic nya nggak disensor. Kalo ga salah, beberapa minggu setelah pelem ini, bioskop juga menayangkan 'Braindead' nya Peter Jackson. Bayangin, anak kecil rumahnya deket bioskop grindhouse, pantes aja gedenya bikin blog sampah haha

Kalo gue bilang, 'The Story of Ricky' itu seperti film 'Kungfu Hustle' versi hardcore dengan level cheap-splatter-gore setingkat ama Bad Taste.

Gue nggak tau apa emang Ng Kai Lam ( sutradara film ini ) sengaja bikin pelemnya jadi laughable-ridiculous kaya gini ?

Ataukah dia sebenernya lagi nyoba bikin pelem serius dengan banyak adegan mega-violence di dalemnya? haha Ini sebenernya bisa ditelusuri dari keterlibatan Tetsuya Saruwatari yang mana merupakan mangaka (pembuat Manga/komik jepang ) sebagai salah satu penulis naskah film ini. FYI, film ini sendiri adaptasi lepas dari manga 'Riki-Oh' karyanya.

Nah, sepertinya sutradara Ng Kai Lam pengen style-komik itu diterjemahin dengan persis kelayar lebar. Dengan ide kaya gitu, maka semua adegan dan dialog dalam pelem ini terasa bener2 komikal. Sementara adegan gore-nya juga secara naif ditampilin tanpa ragu-ragu dengan efek yang ultra-cheap!

Haha ya, disini kamu akan nemuin sederetan adegan silly-splatstick-gore yang membuat gue maklum kalo 'The Story of Ricky' akhirnya menjadi film paling gory sepanjang sejarah sinema eksploitasi di Hongkong, sementara publik Eropa/Amerika menjulukinya sebagai 'Asian-Braindead'.

Kepala pecah, wajah tertusuk paku, muka di 'gusruk' penyerut-kayu, perut robek, orang dikubur hidup-hidup, bola mata nyoplok, orang dimasukin mesin penggiling daging, tubuh meledak, orang dikuliti, dan gue bahkan belum nyebutin adegan gore paling konyol yang mustahil untuk tidak membuat siapapun tertawa terbahak-bahak ( atau kemungkinan lain meraung-raung sambil menggerogoti bangku ). Gue nggak hiperbola, coba aja tonton sendiri :D

Rambo mah lewaaatt....

The Story of Ricky juga mempunyai klimaks-ending yang ( sekali lagi ) ngingetin ama Braindead dimana bos-sipir nya mampu berubah menjadi monster raksasa, so jangan lewatin the ultimate-battle antara Ricky si jotosan maut melawan monster-sipir!

Terus gimana dengan ceritanya? story? what? you kidding me haha

ya, rentetan adegan hillarious sepanjang film yang tanpa sadar membuat mulut nganga dan otak lumer ini membuat gue nggak peduli lagi ama cerita dan semua plot-hole nya dll hahaha this movie is stupiidd asshooollleeeee!!!

Cukup sudah, kalo diterusin review ini hanya akan berisi kalimat praising/glorifikasi subyektif semata. Menyebalkan bukan? hehe





Overall, 'The Story of Ricky' pantes masuk klasifikasi film yang 'jadi menghibur + fun justru karena keterlaluan konyol, bodoh dan jeleknya. So, kalo kamu mencari film eksyen-thrashy-eksploitasi murahan dengan banyak silly-splatstick-gore didalemnya..then, this is your paradise..

Rating : 
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic