01 August 2016

Near Dark ( 1987 ) : Romansa dan petualangan ugal-ugalan geng vampir ala Kathryn Bigelow

Jauh sebelum menyutradarai pilem  drama-action perang timur tengah The Hurt Locker ( ya, yang menang Academy Award itu ) ama pilem blockbuster perang timur tengah laennya,  Zero Dark Thirty, dan hanya beberapa tahun sebelum namanya terangkat oleh Point Break ( 1991 ), sutradara Kathryn Bigelow ternyata mengawali solo-directorial debutnya  dengan nancepin taring di genre pilem horror, judulnya : Near Dark. Gue terjemahin secara bebas berarti sendakala atau menjelang maghrib ( gelap ) hehe.

Gue baru nonton filmnya kemaren, dan dengan cepat bisa gue katakan kalo ini salah satu film vampire paling brutal ( juga romantis ) di era 80'an.


Meski begitu, ketika dirilis, Near Dark ternyata gagal di box office. Penyebabnya diduga karena pilem ini rilis ditahun yang sama ( hanya beda beberapa bulan ) dengan pilem bertema vampir laennya yang lebih besar, The Lost Boys ( 1987 ). Alesan laennya adalah karena studio yang memproduksi pilem ini , DEG (DeLaurentiis Entertainment Group) saat itu sedang diawal kebangkrutan, akibatnya Near Dark tidak mendapat publisitas layak dan akhirnya K.O di box office.


Kita langsung ke ceritanya,




 Storyline : 


Caleb ( Adrian Pasdar) , seorang koboi muda dari sebuah kota kecil, suatu malam menggoda cewek cantik-misterius bernama Mae ( Jenny Wright ). Setelah beberapa saat melancarkan sepik-sepik iblis, merekapun akhirnya berciuman. Sialnya, Mae kebablasan menggigit leher Caleb. Nah, kalo aja Mae itu manusia normal tentunya digigit di leher itu cukup mengasyikkan, hehe sayangnya, Mae adalah Vampir. Maka, tak lama setelah digigit, Caleb merasakan dirinya mulai berubah. 


Dengan sempoyongan Caleb berjalan pulang kerumah, tubuhnya pun secara aneh mulai terbakar karena sengatan sinar matahari.


Untungnya, sebelum tubuh Caleb terbakar habis, seseorang menariknya kedalam sebuah mobil RV. Ternyata itu Mae dan komplotannya.  Mereka adalah geng vampir brutal yang banyak membunuh dan melakukan kekacauan di sepanjang perjalanannya. Klan vampir ini beranggotakan Mae ( Jenny Wright ), Diamondback ( Janette Goldstein ), Severen ( Bill Paxton ) , Homer ( Joshua John Millerr  ) dan dipimpin oleh Jesse ( Lance Henrikssen ). Mereka tidak tertarik dengan anggota baru dan hendak membunuh Caleb, tapi Mae yang mulai jatuh cinta, meyakinkan mereka untuk memberi Caleb kesempatan bergabung. Jesse memberinya waktu satu minggu.


Caleb, vampir baru yang bingung dengan pengalaman yang dialaminya, Mae yang jatuh cinta, dan gerombolan vampir psikotik ugal-ugalan inipun memulai perjalanannya.
 

Review : 



Pros

 

Hal paling menarik dalam kisah vampir ala Bigelow ini adalah gimana dia memilih buat nggak ngikutin aturan mitologi vampir yang kita kenal. 

Dengan kata lain, kalian nggak akan ngeliat salib, kayu pasak, bawang putih, air suci, kemampuan terbang,  taring, bahkan kalian nggak akan ngedenger kalimat 'vampire' disebutkan dalam pilem ini. Terus mereka ini apa? hmm..kalo ngeliat bahwa mereka nggak tahan sinar matahari, immortal ama haus darah yaaa mereka masih tergolong vampir, hanya saja disini Bigelow seperti nyiptain jenis vampir baru yang berbeda spesies dengan klan vampirnya Bram Stoker. Nah, iya..mereka lebih mirip vampir bosen idup di He Never Died.  Lalu, sebagai ganti hilangnya elemen gothic, Bigelow menampilkan monster nya dalam outfit modern ( setidaknya di era itu ), membuat mereka terlihat seperti geng-motor atau gipsi-nomaden, kemudian naronya di setting rural-western.

Keputusan untuk nggak ngikutin aturan mitologi vampir, jelas bukan demi alasan ingin tampil beda semata. Bigelow sengaja membuat vampirnya terasa mirip manusia ( sosiopat ) untuk menguatkan atmosfir gritty yang juga udah diupayakan oleh pilihan settingnya ( western ). Dan dia berhasil. Liat aja, petualangan road-trip  mereka ngelintasin mid-west malah ngingetin gue pada keluarga-disfungsional dalam The Devil's Reject atau duo-sosiopat di Natural Born Killers. Mereka sama-sama maniacal, banyak ngebunuhin orang, mencuri mobil,  melakukan kekacauan di sepanjang perjalanan, dikejar, dikepung, bentrok dengan polisi, dll. 


Dalam salah satu sekuens terkenal nya ( bar scene ), yang sekarang udah boleh di bilang cult,  geng ini memasuki sebuah bar, kemudian mulai mengacau dan bersenang-senang dengan ngebunuh semua yang ada didalem dengan cara yang biasanya hanya dilakukan para pembunuh-maniak. Diamondback menyayat leher pelayan dengan cutter dan menampung darahnya di gelas bir, sementara Severen melakukannya dengan boot-spurs ( taji di sepatu koboi ), ditengah horror itu, Homer ( vampir tua yang terjebak dalam tubuh bocah kecil ) malah menari2 diatas meja kemudian mulai menembak, dan Jesse mengawasi dengan dingin, memastikan semua kekacauan berlangsung lancar. Pada akhirnya, mereka bukan aja melakukan pembantaian tapi juga ngebakar habis bar tersebut. Brutal! Adegan sepanjang 10 menit ini aja udah cukup untuk secara otomatis masukin Near Dark ke dalam folder 'film-film vampir paling badass sepanjang masa'.


Hal menarik laen dari pilem ini adalah ensemble-castnya. Bill Paxton, Lance Henriksson ama Janette Goldstein yang sebelumnya udah main bareng di Aliens ( 1986 ), dipake Bigelow di pilem ini ngikutin saran langsung dari sang calon suami, James Cameron. and it's works! Paket cast ini ( ditambah Joshua John Millerr ) menjadikan relasi antar anggota klan vampire Jesse terasa sangat solid. 


Tapi, kayanya semua setuju kalo Bill Paxton lah yang mencuri pertunjukan. Perannya sebagai Severen, vampir psycho-maniak yang senang mempermainkan calon korban membuatnya menjadi alpha-dominant dan sedikit menutupi karakter sang boss, Jesse Hooker ( Lance Henrikssen ) meskipun nggak sampe ngilangin pancaran otoritas dan pengaruhnya. Severen adalah vampir paling liar yang pernah gue liat. Seperti halnya Mickey Knox atau Captain Spaulding, dia sangat menikmati kekacauan, kehancuran dan terlihat semakin bersemangat justru ketika berada disituasi penuh ketegangan. 



 
Near Dark didukung make up fx keren

Kontras dengan semua aksi kekerasan yang ada adalah bagian Caleb yang bingung dengan semua situasi yang dialaminya dan hubungan percintaannya yang rumit. Mae berusaha ngeyakinin Caleb untuk  mulai menerima dan mempercayai insting predatornya sebagai seorang vampir, sementara Caleb tidak mempunyai jiwa pembunuh, yang mana ini malah membuat Mae semakin jatuh cinta.

Aslinya, romansa pemuda kampung yang lugu ( Caleb ) ama gadis vampir  kesepian ( Mae ) dan dilema moral protagonis kita ( Caleb ) ini emang inti cerita dari Near Dark, Bigelow kemudian nge-mix nya dengan perjalanan horror penuh kekerasan.  


Nah, untungnya, Bigelow berhasil nge-mix dua kontras ini ( drama/romance & horror/violence ) dengan sangat balance. Hasilnya adalah sebuah gritty-dark-western-romance-horror yang enak buat dinikmatin. Dia badass-cadas-trengginas di bagian aksi, dan tidak menyebalkan di bagian drama/romansa nya. 

Pas aja gitu. Meskipun secara personal, sebenernya sih gue lebih ngarep ini menjadi full action-horror aje hehehe.


Cons


Jangan salah, dengan semua pujian diatas bukan berarti ini adalah pilem sempurna. Gue inget ada beberapa kelemahan dari debut solo-directorial Bigelow ini. Beberapa contoh yang gue inget :


- Bagian proses menuju akhir yang terasa konyol dan terburu-buru. Gue rasa Bigelow sebenernya masih bisa nambahin durasi 10 atau 20 menit lagi supaya ini kebungkus dengan lebih rapi. 


- Goofs/bloopers yang jelas sekali terlihat, terutama di bagian Sarah ( adik Caleb ) berlari membuka pintu, setting yang sebelumnya diceritakan malam hari, tiba tiba saja berubah menjadi siang hari dengan sinar matahari menyorot ke dalam rumah. Ini konyol sih hehe.


- Ketika semua cast bermain baik, akting protagonis utama Adrian Pasdar ( Caleb ), malah terasa agak lemah di beberapa momen. Membuat beberapa kali pula mood gue ikut turun. Gue denger, Johnny Depp sebenernya sempat di kasting untuk peran ini, naaah..kalo aja doi yang maen, ini kayanya bakal sempurna.


Overall


Near Dark adalah karya penting diawal karir Kathryn Bigelow yang dengan jelas nunjukin bakatnya.  Dia berani melakukan terobosan dengan nggak ngikutin aturan konvensional mitologi vampir dan membuat formulanya sendiri untuk menghasilkan sebuah hybrid action, western, romance dan horror yang gritty dan dark. 
Meski genre vampire adalah satu genre yang paling banyak mengalami modifikasi, Near Dark adalah salah satu diantara mereka yang hingga kini mampu berdiri tegak dengan warnanya sendiri. 

Dan terakhir, Severen adalah salah satu karakter paling memorabel dalam pilem vampir. Satu karakter ini aja udah cukup untuk  nampar bolak-balik semua seri Twilight dan nabokin pantat Edward Cullen, ngasih tau kalo sebagai predator malam penghisap darah, secara fitrah, vampir itu sudah seharusnya badass!



https://4.bp.blogspot.com/-SkbPxGe2KdU/V5IKaO-ImzI/AAAAAAAACxc/i-h8pN02ZTs6YirAirTIovLKM0cUipGAgCLcB/s1600/ratingF.png
SCORE

Cult-classic!


BONUS! REVIEW PENDEK 3 FILM VAMPIR LAINNYA :

THE LOST BOYS  ( 1987 )

Adalah sebuah kesalahan untuk menonton pilem ini langsung setelah  Near Dark, soalnya ini jadi kerasa kaya pilem kartun. Lu bisa nonton sambil bolak-balik ke kamar kecil dan nggak ketinggalan ceritanya. The Lost Boys lebih marketable dengan tampil penuh warna, humor cheesy, dan aksi PG 13. Vampirnya sendiri terlihat seperti gerombolan band glamrock, tapi dibalik kostum gaulnya, mereka tetep makhluk mitologi lama yang bisa terbang, takut bawang putih, air suci, salib dll. Ini lebih terasa seperti The Goonies atau Monster Squad sih, menit menit terakhirnya lumayan fun lah.

FROM DUSK TILL DAWN ( 1996 )

Naaah..ini haha sebuah sajian komedi gelap thriller-crime yang tiba-tiba aja berubah menjadi total splatterfest dengan level menyamai Evil Dead atau Braindead, nonstop dari pertengahan durasi hingga akhir! jangan bandingin bar-scene disini ama bar-scene nya Near Dark. Beda genre, men..yang ini sih pilem somplak haha Robert Rodriguez lah orang yang berada dibalik semua aksi hilarious dan organ-organ tubuh yang berterbangan di bar 'Titty Twister'. Awesoooome! dan oyah..Quentin Tarantino bisa juga akting haha. 

MARTIN ( 1977 ) :  

George Romero dikenal sebagai embah nya pilem zombie-apokalips, tapi siapa sangka dia juga pernah bikin bertema vampir. Ceritanya tentang pemuda socially-awkward ( Martin ) yang ngalamin masalah mental dan ngerasa dirinya adalah seorang vampir. Tanpa taring, senjata Martin untuk membunuh adalah suntikan obat bius dan silet. Jadi abis ngebius, Martin nyilet pergelangan tangan korbannya untuk kemudian ngisep darahnya. ini lebih psikologikal sih dengan beberapa komentar sosial disana-sini. Oyah, menurut Romero ini adalah pilem favorit nya.  Silahkan kalian coba. Gue pribadi sih kurang bisa menikmati, mungkin karena efek abis nonton From Dusk Till Dawn. haha. 



Yaudah, segini dulu.

No comments:

Post a Comment