Showing posts with label ghost. Show all posts
Showing posts with label ghost. Show all posts

01 February 2017

Ouija : Origin of Evil (2016) : Jadul Versus Urban

Reviewed By GAMBIR 

Film horror adalah candu bagi sebagian orang termasuk saya. semakin seram bukannya bikin kapok tapi malah bikin nagih. mungkin karena manusia sebenarnya senang dengan terror, jantung yang berdegup dengan kencang akan menghasilkan hormon adrenalin gratis tanpa harus melakukan olahraga ekstrem, yang katanya bagus buat kesehatan. 

Horror supranatural adalah film favorit saya dibanding genre horror turunannya yang mengeksploitasi kekejian, kebrutalan yang bisa kita temukan dalam film-film gore. Mungkin karena supranatural begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari, memori masa kecil tentang cerita-cerita hantu membentuk rasa takut sendiri dalam ingatan, sehingga begitu  melihat sosok menyeramkan walaupun itu hanya dalam film, tombol dikepala saya terasa ditekan dan bulu kuduk secara otomatis langsung merinding. 

Jika bertanya film horror apa yang paling seram, mungkin banyak orang yang akan menjawab film horror era 80an. terbukti Suzzana telah berhasil menjadi wajah bagaimana berhasilnya sinema horror saaat itu. Keistimewaan dari film horror jadul adalah terletak pada suasana yang coba dibangun, dengan template perkampungan dan menjadikan tempat-tempat seperti telaga, pohon besar dan rumah tua sebagai sarang dedemit, sangat terasa dekat dengan kita. 

Namun menuju era 2000an film horror banyak diangkat dari legenda-legenda urban yang sayangnya belum bisa mengalahkan kemasyhuran film-film terdahulunya. Entah apa penyebabnya karena belum ada penelitian yang pasti terkait masalah ini. Tetapi menurut saya film horror yang bagus bukan cuma menakuti tapi seharusnya menghantui, dan lebih bagus lagi kalau bisa sampai membuat trauma seumur hidup. 

18 December 2016

[ REQUEST REVIEW ] La Maldicion de La Llorona/Curse of the Crying Woman ( 1963 )

Jadi, ceritanya kali ini gue mau nyoba memenuhi request-review dari pembaca blog Horrorsekarepdewek ( HSD ) yang gue terima lewat fasilitas chat di salah satu media sosial. Judul yang ini ( Curse of the Crying Woman )  gue putuskan untuk di review setelah beberapa judul lain yang dia ajukan ternyata tidak memiliki subtitle. Mungkin karena film2 yang diajukannya boleh di bilang rare dan kebanyakan berasal dari Meksiko. Dan oh well, ngga banyak yang gue tau tentang sinema horror dari negara pegulat bertopeng ( Lucha Libre ) ini secara gue emang lebih sering nonton film horror secara random dan berdasarkan mood saja. Hehe, tapi it's okay, ini menarik ( dan juga challenging ),  gue akan mencoba mengulasnya. 

Btw ini juga membuat gue punya ide untuk menambahkan menu 'request' di blog ini, dimana nantinya pembaca bisa nulis request disitu, dan gue akan mencoba memenuhinya. Gimana tuh idenya para penontoooon ??

 ..........

krik krik

*sunyi senyap

Oke, baiklah.....

........

 REVIEW


Dibuka ama adegan kereta kuda melintasi daerah angker ( juga penampakan wanita bergaun hitam memegang 3 ekor anjing besar) yang sangat similiar ama sekuens opening dan satu adegan di Mario Bava's Black Sunday (1960 ), gue sempat mengira kalo ini cuma versi lebih buruk ( rip-off ) dari film itu. Namun, ketika film bergulir, Curse of the Crying Woman ternyata memiliki alur yang lebih enak untuk diikuti, seenggaknya sampe 30 menit pertama hehe. 

nggak dijelasin kenapa hantu wanita yang menangis ini malah nggak punya bola mata

15 April 2011

MAYAT HIDUP ( JERITAN MALAM ) | 1981

Reviewed By ‘R’.

Sepertinya gue harus meralat pendapat personal gue bahwa Indonesia belum pernah menampilkan sosok mad-scientist atau nyoba masukin unsur science-fiction dalam sejarah pelem horror nye. Bahkan ternyata jauh sebelum Dr.Herbert West nyiptain serum Re-Animator buat ngebangkitin mayat, seorang profesor dari Indonesia ( yang juga diceritain berhasil nyiptain formula pengobatan kanker dengan kombinasi racun singkong ) sudah lebih dulu sukses mengatasi kasus ‘stop-jantung’ dan ngidupin kembali orang yang telah meninggal dunia.

Hebatnya lagi, die tidak perlu melakukan eksperimen rumit seperti apa yang dilakukan Dr.Frankensterin atau Herbert West, tapi cukup dengan mentransfusikan apa yang disebutnya sebagai ‘darah istimewa’ ke jenazah pasiennya. Teorinya dari mana, sumpah gue nggak ngerti.

Nah, premise seperti itu ada dalam pelem 'Mayat Hidup' rilisan tahun 1981 besutan sutradara M.Abnar Romli ( kalo ga salah die juga pernah menggarap pelem ‘Pancasona’ yang dibintangin ama Barry Prima ).

Balik ke pelem ini, diceritain, reputasi sang profesor dalam ngebangkitin orang yang telah meninggal, dikacaukan oleh ulah asistennya ( Darto Helm ). Dia menerima suap dari juragan Kusno untuk ngidupin kembali istrinya yang baru saja meninggal dunia. Cerobohnya, Darto Helm tanpa sepengetahuan profesor, mentransfusikan 'darah-spesial' milik Raden Ayu Roro Wirid yang sebenarnya adalah hantu Kemamang ( sejenis hantu api yang makanan kesukannya adalah : otak manusia! ) ke dalam jenazah istri Juragan Kusno, -Ny.Lina- ( diperanin oleh Suzana Cicilia ). Maka, Ny.Lina pun bangkit kembali dari kematiannya, hanya saja dia bukanlah sosok yang sama seperti saat masih hidup.

Di meja makan, Juragan Kusno dibuat kesal ketika istrinya menolak masakan otak sapi yang dihidangkan di meja.

“ mah, kalo mamah nggak mau otak sapi, terus maunya otak apa?! “

Hening sejenak, namun kemudian dengan dingin Ny.Lina menunjuk kepala salah satu pembantu Juragan Kusno, Paimo. Haha.


Keadaan makin parah ketika mayat hidup Ny.Lina yang dialiri darah Kemamang, tiap malem keluyuran di luar rumah buat nyari mangsa. Walhasil, lingkungan sekitar pun sering di gemparkan penemuan mayat dengan kondisi otak lenyap.

Nah, sebelum semuanya terlambat, kini tugas Bagio dan Paimo untuk menghentikan sepak terjang Ny.Lina.

………………………..

selain bisa ngidupin mayat, professor juga mampu manfaatin panci menjadi lampu

Gue masih belum yakin ketika gue ngasih rating bagus pelem horror lokal tahun 80-an, apakah itu cuman karena sentimen masa kecil gue aja ataukah karena pelem itu emang keren hehe Maksud gue, ketika dulu lo tiap minggu-siang nonton serial ‘Little Missy’, dan begitu terkesan dengan suara dubbing tokoh bernama Rudolfo, kayanye lu bakal ngerating serial itu 9 bintang. Bahkan, kalo misalnye elu sama sekali nggak ngerti ceritanye..

Itu yang gue sebut dengan penilaian ‘ultra-personal-subyektif-nostalgik’ hehe.
Jujur aje, emang banyak pelem horror lokal 80-an yang gue anggep keren cuma karena alasan diatas hehe Dan sodara-sodara, pelem ‘Mayat Hidup ( Jeritan Malam ) ‘ ini kayanye bakal mastiin pertanyaan pribadi gue itu.

Soalnye, gue nggak pernah nonton pelem ini pas kecil, bahkan gue juga baru tahu kalo pelem ini pernah dibuat ketika gue udah idup di jaman Youtube dan Google Videos.

Jadi, tanpa banyak bacot lagi, kita langsung ke review pelem ini.

Ternyata unsur fiksi-ilmiah yang gue ceritain di awal review tadi cuma tempelan selama sekitar 15 menit diawal saja, karena selepas itu, pelem bergulir seperti pelem horror lokal lainnya yang erat dengan mistik-per-hantu-an dan nggak ada hubungannya ama sci-fi yang ditampilin di awal. Entah ini sebuah inovasi brillian atau cuma sebuah script yang dibuat nggak serius, tapi yang jelas sang penulis skenario nyoba bikin hibrida sci-fi ama mistik-lokal! Itu sesuatu yang belum pernah gue liat di pelem manapun haha

Sayang, gue cukup kecewa ketika ‘mayat hidup’ yang dimaksud dalam pelem ini ternyata berwujud mirip sundel bolong hehe, bukannya ga suka sundel bolong, tapi gue udah keburu ngarep Bagio nya jadi zombie haha walau begitu prends, keputusan penulis skenario buat nyiptain hantu nya dari kecerobohan eksperimen di laboratorium ketimbang bangkit-dari-kubur-akibat-diperkosa tetep membuat gue terkesan..asli! hehe

Selanjutnya, cerita ga masuk akal, slapstick-murahan, akting menggelikan, dialog konyol, dan plot-hole segede gedung baru DPR, menghiasi setiap menit durasi pelem.

Yah, sejak awal ini memang dimaksudkan sebagai pelem ringan nggak-serius. Sebuah horror-komedi, setengah horror - setengah lawak srimulat. Dan itu dipertegas lagi ama ending nya. 
Jadi, kalo lu pengen keliatan pinter dengan mengkritik plot-hole dan mempertanyakan logical-sense dalam pelem yang didalemnya ada adegan hantu joget ketika denger irama senam SKJ, kayanya lu tipe orang yang ngebosenin. Tipe orang yang bakal disobek mulutnya ama Joker sambil dimarahin : “why so serious!?”

........atau dicekek mumi diatas..
Balik maning nang review..

Dan sebagai pelem bergenre horror-srimulat, pelem ‘Mayat Hidup’ gue anggap berhasil. Soalnya gue ngakak mulu pas nontonnye. Padahal komedi yang dimaksud sebagian besar hanyalah eksploitasi kelucuan mimik Bagio dan Paimo ketika berhadapan dengan hantu atau mayat hidup. Peran kedua bodor ini juga sebenernya sebuah peran yang biasa dilakonin Rizky Mocil atau Rony Dozer di pelem model ‘Jeritan Kuntilanak Diperkosa Pocong’. Tapi kenape kalo ngeliat aksi dua aktor yang gue sebut terakhir gue malah ngarep mereka cepet2 tewas dengan cara paling mengenaskan?

Dan kenape gue ketawa geli ngeliat tingkah polah Bagio disini?
Ini kemungkinan karena Bagio emang punya kualitas sebagai seorang penghibur sejati, atau emang selera gue aja yang aneh, atau mungkin juga karenaaaaa…

semua yang ada dalam pelem ini begitu lugu dan jujur. Tentu aja, keluguan itu beda ama attitude nganggep penonton sebagai kumpulan retard-idiot seperti yang ditunjukin pelem2 horror ala KK Dheeraj, Nayato atau Petruska Karangan.

Momen terbaik aksi Bagio bisa kalian liat di adegan ketika Paimo, otaknya mau di sedot Ny.Lina atau di menit2 akhir yang hilarious itu. Coba kalian cari sendiri adegan itu hehe Dan kalo kalian masih nggak ketawa atau minimal tersenyum, oke, silahkan untuk kembali nonton pelem komedinya Adam Sandler..

horror-srimulaaat haha !!
Khusus untuk di menit-menit akhir bahkan gue nemuin beberapa detik teknik pengambilan gambar yang kayanya terinspirasi dari 'The Shining' nya Stanley Kubrick. Gue sih ga berlebihan hehe.

Satu lagi kejutan dari pelem ini adalah nggak dilibatkannya kyai + Ayat Kursi nya buat ngusir sang setan, Kemungkinan itu karena makhluk yang dihadapi disini adalah setengah-science setengah-klenik yang nggak bakalan mempan kalo cuman dibacain Ayat Kursi haha

Ketika lawaknya bisa bikin gue ngakak, horror nya pun ternyata lumayan serem. Gue bilang serem yah, bukan nakutin. Hantu dalam pelem horror-lokal 80-an biasanye emang nggak bikin kaget atau ngasih ketegangan tertentu, tapi dia ngasih sesuatu yang udah jarang gue dapetin di pelem horror lokal kekinian : atmosfir nya.

Liat aja, sang hantu nggak perlu cape merangkak-rangkak turun dari tangga atau muncul dengan dramatis dari balik kloset, tapi cukup duduk diem di sebuah kursi tua dengan interior ranjang ber-kelambu. Dan itu cukup buat bikin gue merinding. Anjir dah..pelem2 kaya ginian yang bikin gue sampe sekarang suka serem kalo ngeliat ranjang ber-kelambu. Hehe kesannya kaya sarang kuntilanak gitu.


Overall, tentu aja pelem ini nggak sempurna. Poin minus yang bikin gue terpaksa ngilangin beberapa popcorn-otak adalah ketika dipertengahan durasi, sutradara nyoba masukin drama soal jatuh cintanya Bagio dan Paimo kepada puteri Juragan Kusno yang buat gue sih lebih kerasa kaya usaha gagal sutradara dalam usahanye menuh-menuhin durasi. Ini sedikit nurunin mood. Sebuah subplot yang terlalu dipaksain dan sia-sia. Sama sia-sianya dengan anonim yang nulis komentar protes diblog ini bahwa pelem Hatchet 2 tuh ga layak di komen bagus haha

Jadi sekarang, jawaban dari pertanyaan-pribadi gue di awal review tentang kenape sebagian besar pelem horror-lokal 80-an itu begitu nyenengin bahkan ketika ditonton lagi sekarang kemungkinan adalah karena dia begitu jujur, apa adanya, lugu, dan polos. Pelem ini adalah buktinya, gue nggak pernah nonton pas kecil, dan masih bisa ngasih review positif buatnya haha.


RATING:





Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


Horror 80-an & S.Bagio, You Rules!!

++ Ketika nyari poster pelem ini buat dipasang di blog, gue cukup kesulitan. Satu-satunya poster yang gue temuin dari belantara-maya hanyalah poster ini :


Ini kayanye desain cover dari VCD bajakan yang beredar di Malaysia. Dan yang bikin gue mengernyitkan jidat adalah gambar-gambar yang ada dalam cover diatas bukan  diambil dari adegan2 pelem arahan M.Abnar Romli ini. Jadi, dari pada bingung, sekalian sebagai tribute, gue nge-desain sendiri posternya pake sotosop. Sengaja gue bikin desainnya terasa murahan khas 80-an hehe.

Oke, kalo suatu saat kalian pengen ngereview pelem ini, dan bingung nyari posternya. boleh pake yang ini haha



15 January 2011

THE SKELETON KEY ( 2005 )

Reviewed By 'R'.

Buat kalian tau, gue udah sering banget liat film ini tergeletak di rak tukang dvd bajakan di Jakarta, gue juga sering ngeliatnye di rental vcd, dan gue juga tau kalo pilem ini udah beberapa kali diputer di tipi swasta. Tapi kenape ye, gue sama sekali nggak tertarik sedikitpun buat nontonnye.

Gue pikir ini salah satu pelem Holiwud bergenre thriller-supranatural yang ikut terseret gelombang tren horror-Asia ( J-horror, K-horror, T-horror..whatever you name it ) kaya yang banyak dialami pelem horror lainnya disekitaran tahun ketika pelem ini dirilis. Apalagi pas tau kalo yang nulis script buat pelem ini adalah si Ehren Kruger, die orang yang sama yang udah nulis script buat The Ring versi Holiwud ama bahkan oh no..Transformers!

Jadi, kayanye ini akan ngebosenin hehe

Sampai akhirnya kemaren, ga tau kenapa gue tiba-tiba kebangun jam 1 pagi. Dan ga tau kenapa juga gue ga bisa meremin mata lagi. Akhirnya gue pun mutusin buat nonton tipi. Untungnya, antena darurat yang gue bikin kali ini lumayan bisa nangkep beberapa stasiun tipi. haha

Dan, yah..ternyata dini hari itu, salah satu stasiun tipi muter pilem ini. Sampai sejauh itu, reaksi gue bahkan cuma ngeluarin lenguhan pendek dan memilih buat mencet-mencetin tombol remote . Tapi ketika channel yang laen cuma berisi berita plesirannya Gayus ama kuis telepon tengah malem dimana seorang host ber tete gede melontarkan pertanyaan idiot, ga ada pilihan lain : gue pun akhirnya nonton The Skeleton Key.


Storyline :

Jadi diceritain, Caroline Ellis ( Kate Hudson ) seorang perawat muda nan idealis sekaligus naif, mutusin buat resign dari rumah sakit tempat dia bekerja, soalnye dia ngerasa rumah sakit tuh nggak beda jauh ama bisnis belaka ( lah baru tau dia haha ).Dia memilih ngambil job yang ditawarkan seorang pengacara bernama Luke Marshall ( Peter Sarsgaard ) buat merawat keluarganya yang tinggal di sebuah ( seperti biasanye! ) rumah-tua-terpencil di pelosok Terrebone Parish, Lousiana.

Pasien Caroline adalah Ben Deveraux ( John Hurt ), --suami Violet Deveraux ( Gena Rowlands )-- yang menderita lumpuh total karena terserang stroke parah.

Seperti biasanye juga, setelah beberapa saat bekerja di rumah itu, Caroline mulai merasakan hal-hal misterius dan ganjil. Dari mulai cerita mengerikan tentang masa lalu yang pernah terjadi di rumah keluarga itu, Ben yang terlihat sangat ketakutan dan berusaha kabur dari rumah , sampai puncaknya ketika Caroline menemukan peralatan yang biasanye digunakan dukun Bokir untuk melakukan ritual ilmu hitam ( dalam film ini istilahnye : hoodoo-not-voodoo ) di salah satu kamar lantai atas rumah keluarga Deveraux.

Setelah melakukan investigasi yang ngebuat Caroline lebih mirip Hercule Poirot ketimbang seorang perawat, akhirnye dia bisa ngambil kesimpulan kalo sakit yang diderita Ben adalah akibat ritual ilmu hitam yang dilakukan istrinya sendiri, Violet.


Dan sodara-sodara seperti gue bilang diatas, Caroline adalah seorang perawat yang idealis, naïf dan berhati mulia, jadi ketika dia berada dalam posisi dimana orang normal laennya dipastikan bakal kabur sambil ngedumel “emang gue pikirin“ , dia lebih memilih untuk melakukan operasi penyelamatan : membawa kabur Ben dari rumah iblis itu.

Namun sayang, kuasa kegelapan rupanya sudah merencanakan dengan sempurna sebuah kejutan untuk Caroline dan tentu saja buat penonton

Kejutan seperti apa? Sebaiknya kalian tonton aja sendiri filmnya hehe.


Review :

Film diawali dengan adegan2 yang ngebuat gue semakin yakin kalo ini tuh semacam pelem horror Holiwud rasa Asia, atau kalo nggak, ini model film horror-supranatural ala Stephen King yang nge-boringin kalo ditonton sekarang, dan pastinya bakal gampang gue lupain.

Main-character datang kerumah tua, ditambah bumbu masa lalu mengerikan tentang apa yang pernah terjadi dirumah itu, hantu dalam cermin bla-bla-bla-bla..nggak lupa, di menit-menit berikutnya, pelem ini juga dipenuhi ama formula spooky-tactics yang sebagiannya udah pernah gue tulis di artikel ” 10 Adegan paling membosankan dalam film horror”

Dengan kenyataan kaya gitu, 3 hal yang membuat gue masih terus nonton film ini adalah :
1. Gue belum ngantuk lagi.
2. Acara tipi yang laen suck semua, bahkan kalo aja ada siaran langsung sepakbola Real Mataram vs Tangerang Wolves, gue masih milih buat nonton itu.
3. Kate Hudson!

Yap! Kate Hudson yang biasanye kita liat maen di film-film rom-com dimana disitu die tinggal sedikit mengeksplorasi cute-so sweet-manners nya, ternyata lumayan bagus juga buat jadi salah satu screaming-queen pelem Horror. Walaupun nggak sampe bikin gue pengen coli, tapi terus terang, doi enak diliat…terutama buat orang yang lagi insomnia hehe

Lalu, jangan lupain pula performa impresif dari Gena Rowlands. Karakter Violet Deveraux yang misterius, labil, dan gampang meledak berhasil dilakoni Gena dengan meyakinkan dan di beberapa scene nya, ngingetin gue ama emak-emak killer ‘Annie’ yang diperani Kathy Bates dalam ”Misery”
.



Oiya, satu lagi, gue juga cukup suka aura gothic ama setting rawa-rawa creepy Lousiana yang coba ditampilin kru film dalam usahanya ngebangun atmosfir.

Namun tiga poin plus diatas tetep nggak mampu nyelametin pelem ini dari jurang ke ‘boring’ an, padahal gue liat sutradara Iain Softley juga udah berusaha masukin intriguing-scene apa twist didalemnya. Nggak tau kenapa, tetep aja gue banyak mengeluarkan kalimat ‘meh’ sepanjang nonton.

Kemungkinannya sih karena gue nya aja yang nggak terlalu berselera ama pelem horror bertema supranatural atau juga karena gue ngerasa kalo plot ama adegan2 dalam pelem ini terlalu predictable dan udah terlalu sering ditampilin dalam pelem2 sebelumnya. 

Jadi maaf aje kalo reviewan gue disini keliatan terlalu subyektif hehe

Apalagi ketika sebuah twist yang sangat lemah dan sama sekali tidak mengejutkan muncul di menit-menit akhir. Pada momen ini, gue udah berencana buat matiin tipi dan kembali tidur kalo ada iklan pariwara nya Sule menginterupsi. Namun, pelem yang tayang ditipi dini hari kayanye cuman berfungsi buat nge ganjel-slot nunggu adzan shubuh dan nggak terlalu diminati para pemasang iklan buat melancarkan invasi bisnisnye.

Jadi, gue terus nonton pelem ini buat mastiin betapa nge-boringinnya akhir dari cerita The Skeleton Key.

Tik..tok..tik..tok..

Dan..ooh!

what should I write?

………………………

Oke..


Sodara-sodara, sebelum nulis komentar tentang ending pelem ini, gue pengen cerita kalo dulu gue pernah baca kumpulan-cerpen ‘Bom’ karya Putu Wijaya. Sebuah buku lecek-kumel dengan desain sampul yang sangat nggak menarik, tapi itulah buku favorit buat di bawa ke WC saat gue sembelit.

Tema cerita om Putu biasanya tentang kehidupan sehari-hari, komentar sosial dll yang disampaikan dengan gaya agak surreal. Sangat sederhana. Tapi yang menarik buat gue adalah gimana om Putu mampu membuat pembacanya terkesiap dengan hanya sebaris kalimat pendek yang ditaruhnya di paragraf paling akhir cerita. Kalimat singkat di akhir paragraf itu terasa bagaikan gedoran palu dikepala yang akan membuat kita tersadar telah terperangkap dalam jebakan alur cerita yang sejak awal udah disiapin om Putu dengan sangat terencana. Jenius! Style kaya gitu yang akhirnya ngebuat om Putu kita kenal juga sebagai sang ‘Teroris Mental’.

Nah, 5 menit adegan paling akhir cerita film The Skeleton Key ini ternyata secara mengejutkan juga berhasil membuat gue yang awalnya skeptis menjadi cukup surprisingly-surprised. Oke, bukan sebuah ending dengan mega-mumbo-jumbo smart - twist yang spektakuler memang, tapi pilihan konklusi cerita yang ditawarin Ehren Kruger, membuat dia kali ini terlihat bagaikan seorang striker yang berhasil mencetak gol kemenangan di saat injury-time!

Overall, sebagai pelem horror, The Skeleton Key emang gagal ngasih sensasi ketakutan atau ketegangan yang menderu-deru. Dia juga kemungkinannya akan tetep dikenang sebagai pelem horror medioker yang cuma bisa dinikmati ama orang yang lagi nggak bisa tidur kaya gue haha. 

Tapi, kalo kamu pengen tau definisi dari kata ‘creepy’ dengan tepat, nggak ada salahnya kalo kamu nyoba yang satu ini. Dan coba bertahan buat nonton sampe abis hehe

Bagaimanapun, hanya dengan ending impresif saja nggak cukup buat The Skeleton Key mendapat rating bagus diblog ini. Tanpa ending, gue udah siapin 3 buah popcorn-otak buat pelem ini, tapi karena gue cukup terkesan ama akhir ceritanya, okelah bagaimana kalo 5? Hehe

………………….





Jadi ceritanya prends, ketika tulisan THE END akhirnya nongol di layar, gue pun kembali ke tempat tidur dengan seulas seringai iblis dan sepasang tanduk yang tiba-tiba tumbuh di kepala. HRRHHH…

Rating : 
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

21 June 2010

PET SEMATARY ( 1989 )

Reviewed By 'R'.

Storyline :

Louis Creed ( Dale Midkiff ) , seorang dokter dari Chicago, memutuskan pindah ke sebuah rumah di kota kecil Maine. Dia membawa serta istri --Rachel ( Denise Crosby )-- dan dua anaknya --Ellie dan Gage-- dan tak ketinggalan seekor kucing kesayangan Ellie, -Church-. Rumah baru itu terlihat sangat sempurna untuk keluarga Creed.

Tidak beberapa lama, mereka berkenalan dengan seorang tetangga bernama Jud Crandall ( Fred Gwynne ). Jud yang ramah segera memberitahukan keluarga Creed tentang jalan besar di depan rumah mereka.  Jalan itu tenryata sangat rawan kecelakaan, karena dilewati oleh truk besar yang sering melintas dengan kecepatan tinggi. Tidak hanya itu, di kesempatan lain, Jud juga menunjukkan  sebuah areal pekuburan hewan ( Pet Sematary ) di seberang jalan rumah mereka. Konon, hewan yang meninggal dan dikubur disitu kebanyakan adalah karena tertabrak truk besar di jalan itu.

Sementara itu, Louis mulai mendapat penampakan dan peringatan dari arwah seorang mahasiswa yang tewas karena kecelakaan ( Pascow ) " don't go on to the place where the dead walk, " kata arwah Pascow sambil menunjuk sebuah tempat diatas Pet Sematary. "the barrier was not meant to be crossed" katanya lagi. Namun Louis hanya menganggap peringatan itu sebagai khayalan atau mimpi buruk saja.

Waktu berjalan, dan suatu hari Louis mendapat berita buruk. Jud, menemukan Church ( kucing kesayangan Ellie ) tergeletak tanpa nyawa dipinggir jalan karena tertabrak truk. Louis segera dilanda kebingungan menghadapi ini, karena dia tahu Ellie sangat menyayangi Church. Melihat itu, Jud segera memberi saran
" aku punya cara yang lebih baik " katanya. Jud lalu mengajak Louis ke sebuah tempat misterius yang terletak diatas 'Pet Sematary'. Tempat itu ternyata areal bekas pekuburan suku Indian 'MicMac' ( yah bener, kaya nama permen hehe ). Jud kemudian menyuruh Louis menguburkan bangkai Church di areal itu. Louis menurutinya..dia tak menyadari bahwa sesuatu yang jahat telah siap memberinya mimpi buruk . Jrenggg!!

Yah, areal pekuburan suku Micmac itu ternyata sebuah tempat terkutuk yang bisa menghidupkan kembali apa saja yang dikubur disitu. Sayangnya, apa yang bangkit dari situ bukanlah sesuatu yang sama seperti ketika dia masih hidup.

Horror menjadi semakin memuncak ketika suatu hari, Gage ( Miko Hughes ), -putera Louis yang masih berumur 2 tahun- tewas tertabrak truk. Louis yang sangat berduka pun memutuskan untuk melakukan hal nggak rasional yang sering dilakukan tokoh film Horror lainnya. Dia menguburkan puteranya di areal pekuburan suku MicMac itu!

Sudah kita duga, Gage yang bangkit dari kubur itu sama sekali bukan seperti Gage sebelumnya...dia memegang pisau, menyeringai dan ingin bermain dengan ayahnya...wessss

Review :


Oke, gue sebenernya bukan salah satu penggemar cerita Stephen King. Gue nggak pernah baca novelnya, dan gue nggak pernah sengaja nonton film karena tercantum tulisan 'based on Stephen King novel' di posternya. Namun, banyak sekali film yang udah gue tonton, ketika di teliti ternyata ceritanya adalah berdasarkan karya Stephen King. haha Dan ternyata rata-rata film-film yang diadaptasikan dari novel King itu nggak mengecewakan, disamping ada juga yang gue emang suka ( 'Misery' atau 'Carrie' misalnya ).

Dari pengalaman nonton film-film King sebelumnya, gue nyimpulin ( correct me ) kalo King seneng mengeksplor kisah-kisah dengan karakter orang biasa. Karakter yang bisa kita temui sehari-hari. Dimana imajinasinya kemudian bekerja liar seperti ini : si A yang bekerja sebagai 'ini' bertemu dengan karakter B yang 'kaya gini', di sebuah tempat yang 'kaya gini', lalu mengalami peristiwa 'kaya gini'. Ketika udah tersusun, King lebih seneng kalo cerita dan settingnya fokus dan eksplore ke situ, nggak melebar kemana-mana. Dari situ, dia tinggal nambahin pake 'bumbu-bumbu' kreatif supaya ceritanya jadi seru. Beberapa bahkan hanya menggunakan setting sempit dalam lingkup-ruang tertentu, seperti : Misery ( rumah ), Secret Window ( rumah) , The Shining ( hotel ) , The Mist ( mini-market ), 1408 ( kamar hotel ), dll. Tentu aja nggak semua cerita King seperti itu.

Namun, 'Pet Sematary' ini adalah salah satu film adaptasi dari novel King yang kayanya ceritanya di ciptain pake rumus yang udah gue tulis diatas. Entah gue harus bilang cerita ini kreatif apa bodoh? bayangin..kuburan keramat yang bisa membangkitkan orang atau hewan yang dikuburnya..hahaha Dengan ide-cerita konyol seperti itu, pantesnya sih 'Pet Sematary' jatuhnya ke horror-komedi ala Re-Animator .

Namun, nggak..ini cerita King, cuy, dan seperti biasanya, dia memilih untuk tampil serius-dramatis dengan menyelipkan pesan tentang 'arti kematian dan merelakan sesuatu yang kita cintai' , seperti kata Jud, 'Sometimes, Dead is better.."

Film ini juga punya error-script yang biasanya mampu di minimalisir King, misalnya :

-semua yang di kubur di areal Micmac diceritain selalu bangkit kembali dengan kondisi mirip zombie lengkap dengan luka-lukanya ( Timmy Baterman, Rachel ), namun kenapa Gage tidak? Sayang, Romero dan Tom Savini gagal menyutradarai film ini, kalo nggak pasti mereka akan ngebikin Gage juga tampil layaknya zombie, so kita akan mendapat sajian zombie balita yang pastinya akan keren. hehe

- kenapa seorang dokter seperti Louis memilih sebuah rumah dengan truk besar berseliweran didepannya?

character doing stupid things or making incredibly stupid decisions.

belum lagi beberapa Major-Bloopers hasil dari editing yang kurang teliti tampil dengan begitu jelasnya di beberapa scene.

lalu untuk sebuah kisah mirip fairy-tale seperti ini, durasi 103 menit, gue pikir juga terlalu panjang . 

Mood gue sempet ngedrop oleh adegan2 awal yang membuat gue berprediksi kalo ini adalah film yang ngebosenin, ( berapa kali sih kita ngeliat adegan sebuah keluarga pindah ke sebuah rumah indah tapi misterius : kita ngleiatnya di Amityville Horror, The Shining, The House by The Cemetery , Cold creek manor, 7 Days To Live, dan semua film dengan kata 'house' dan 'haunting' dijudulnya ) sementara, adegan yang melibatkan hantu Victor Pascow itu juga gue pikir nggak perlu dan sia-sia, adegan ini nggak akan berpengaruh pada cerita seandainya dihapus.

Kita tahu, cerita King juga pernah diangkat ke sebuah film anthology berjudul 'Cat's Eye ( 1985 )' dimana 3 cerita dirangkum jadi satu dengan durasi masing2 hanya sekitar 30 menit-an, nah 'Pet Sematary' akan sangat pas kalo dimasukin di anthology itu.


Untungnya, ngimbangin kelemahan2 diatas, King selalu pinter buat bikin karakter-karakter dalam ceritanya itu jadi hidup dan bikin kita peduli. Dan dalam 'Pet Sematary' , itu diterjemahin dengan baik ke dalam bahasa gambar oleh sutradara Mary Lambert, sementara aktor-aktrisnya juga mampu memerankan perannya masing-masing.

Selain itu, 'Pet Sematary' punya atmosfir horror yang kuat, illustrasi musik yang mendukung, banyak jump-scare dan memorable-scene yang efektif buat nakut2in penontonnya ( terutama anak di bawah 12 tahun hihi ), sebut saja adegan Zelda yang creepy itu, hantu 'kepala pecah' pascow, zombie Timmy Baterman, adegan kematian Gage, psikopat balita Gage, atau zombie Rachel. Poin plus ini dalam beberapa hal berhasil bikin penonton ngelupain dan memaafkan plot-hole2 tadi. And Yeah, i love the ending :)

Gue pikir kamu yang seneng film horror-hantu2an dengan atmosfir creepy khas horror-jadul, akan menyukai film ini.

TRAILER




RATING : 6/10

+ Bonus : Salah satu band favorit King ternyata adalah The Ramones, makanya kamu akan nemuin 'Sheena is a Punkrocker' mengalun dalam salah satu scene film ini, dan ketika film berakhir jangan matikan dulu, karena ada lagu ini hehe :

The Ramones : Pet Sematary
" I don't want to be buried in a Pet Sematary,
I don't want to live my life again. " yiiihaa..hidup rambut gondrong!