Showing posts with label supranatural. Show all posts
Showing posts with label supranatural. Show all posts

01 February 2017

Ouija : Origin of Evil (2016) : Jadul Versus Urban

Reviewed By GAMBIR 

Film horror adalah candu bagi sebagian orang termasuk saya. semakin seram bukannya bikin kapok tapi malah bikin nagih. mungkin karena manusia sebenarnya senang dengan terror, jantung yang berdegup dengan kencang akan menghasilkan hormon adrenalin gratis tanpa harus melakukan olahraga ekstrem, yang katanya bagus buat kesehatan. 

Horror supranatural adalah film favorit saya dibanding genre horror turunannya yang mengeksploitasi kekejian, kebrutalan yang bisa kita temukan dalam film-film gore. Mungkin karena supranatural begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari, memori masa kecil tentang cerita-cerita hantu membentuk rasa takut sendiri dalam ingatan, sehingga begitu  melihat sosok menyeramkan walaupun itu hanya dalam film, tombol dikepala saya terasa ditekan dan bulu kuduk secara otomatis langsung merinding. 

Jika bertanya film horror apa yang paling seram, mungkin banyak orang yang akan menjawab film horror era 80an. terbukti Suzzana telah berhasil menjadi wajah bagaimana berhasilnya sinema horror saaat itu. Keistimewaan dari film horror jadul adalah terletak pada suasana yang coba dibangun, dengan template perkampungan dan menjadikan tempat-tempat seperti telaga, pohon besar dan rumah tua sebagai sarang dedemit, sangat terasa dekat dengan kita. 

Namun menuju era 2000an film horror banyak diangkat dari legenda-legenda urban yang sayangnya belum bisa mengalahkan kemasyhuran film-film terdahulunya. Entah apa penyebabnya karena belum ada penelitian yang pasti terkait masalah ini. Tetapi menurut saya film horror yang bagus bukan cuma menakuti tapi seharusnya menghantui, dan lebih bagus lagi kalau bisa sampai membuat trauma seumur hidup. 

23 May 2016

He Never Died ( 2015 ) : Horror dan humor-gelap vampire anti sosial

Kira-kira apa yang akan kalian lakukan dan rasakan jika kalian mempunyai umur yang panjang? Bukan, maksud gue bukan 80 atau 90 tahun. Tapi, 1000, 3000, atau 5000 tahun. Haha 300 tahun pertama mungkin kalian akan mengisinya dengan banyak pesta, tapi bagaimana 1000 tahun kemudian? nah, Ini jadi menarik.

Seperti judulnya yang spoiler ( He Never Died ), seburuk apapun hal-hal menimpa tokoh sentral kita Jack ( Henry Rollins ), dia nggak bisa mati.  Jack sudah mengalami, melihat dan merasakan banyak sekali peristiwa, berbagai macam profesi pun sudah pernah dia lakoni, dan bagian buruknya adalah dia harus selalu meminum darah dan memakan daging manusia. Apa dia itu vampire? atau kanibal? Tak pernah dijelaskan secara pasti, tapi kemungkinan Jack emang vampire ( atau semacamnya lah ). Pendeknya, dia seorang immortal haus darah  yang sudah melihat dan melakukan banyak hal-hal mengerikan di masa lalu.

14 June 2012

FRAILTY ( 2001 )

Selain motif dendam, ekonomi, politik atau kelainan jiwa ( psikopat ), motif apa lagi yang paling sering me latar-belakangi terjadinya kasus pembunuhan berantai? Gue ga tau di negara lain, tapi di Indonesia, yang sering gue denger dari media salah satunya adalah motif  ilmu hitam. Kita bisa liat pada kasus Sumanto atau di beberapa kasus lain yang gue lupa, pelakunya mengaku melakukan serangkaian pembunuhan dalam rangka mendapatkan ilmu kesaktian. Tolol memang hehe. Nah, selain ilmu hitam, ada satu motif lain yang sering gue baca sebagai alasan seseorang untuk menghabisi nyawa orang lain.

Pernah baca berita tentang seseorang ( atau sekelompok orang ) yang membunuh karena konon mendapat semacam bisikan/wahyu dari Tuhan?

Mungkin kasus semacam itu bisa langsung kalian komentari sebagai bagian dari gejala sakit jiwa. Delusional? Skizophrenia? Namun, jikalau memang begitu halnya, apakah kalian juga akan berkata hal yang sama pada Nabi Ibrahim yang konon diwahyukan Tuhan untuk menyembelih puteranya sendiri?


Storyline :




Disebuah kota kecil, di Texas sekitar tahun 70-an, sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, Dad Meiks ( Bill Paxton ), dan dua puteranya Fenton ( Matt O' Leary ) dan Adam ( Jeremy Sumpter ) terlihat bahagia walau baru saja kehilangan sang ibu tercinta.

Semuanya terlihat baik-baik saja, sampai pada suatu hari...
sang ayah bercerita pada ke dua putera nya bahwa semalam dia baru saja mendapat 'vision' ( penampakan ) dari malaikat yang menyampaikan sebuah pesan dari Tuhan buat keluarga kecil mereka.

Konon sang malaikat yang menampakkan diri itu berkata bahwa hari kiamat sudah dekat. Iblis-iblis dikatakan telah menguasai bumi. Dan Tuhan telah memilih keluarga mereka menjadi 'God Hand's' ( tangan Tuhan ) untuk membantu melenyapkan semua iblis yang meraja lela dibumi. Dikatakan lagi, mereka harus menunggu karena Tuhan sedang menyiapkan senjata  untuk mereka beserta informasi daftar nama 'iblis' yang harus mereka musnahkan.

Mendengar itu, Adam ( yang berusia sekitar 6 tahun ) terlihat sangat antusias karena mengira dia akan menjadi semacam superhero pembasmi kejahatan pilihan Tuhan, tapi Fenton, ( 12 tahun ) rupanya bersikap skeptis dan meyakini ada yang salah dalam otak ayah nya. Sementara itu, sang ayah sendiri masih terlihat bingung dengan pengalaman spiritual nya.

Hingga pada suatu hari, ketika Dad Meiks dalam perjalanan, dia mendapat 'vision' sebuah rumah kosong ditengah tanah lapang yang secara aneh disinari selarik cahaya dari balik awan-awan. 


Dia pun memasuki rumah itu dan segera mengetahui bahwa selarik cahaya dari langit tadi, ternyata menyorot langsung ke beberapa benda di tengah2 ruangan. 
jreeeeeng!
Itu adalah sebuah kampak ( ! ) bertuliskan OTIS di gagangnya dan sepasang sarung tangan. Itukah senjata yang dijanjikan Tuhan buatnya ?? OTIS? it's 'Only The Idiot Survive'? 
Di lain hari, sang ayah kembali melihat penampakan dari malaikat ( di gambarkan bersayap dan menghunus sebilah pedang ) yang memberikan daftar nama 'iblis-iblis' yang harus segera keluarga ini lenyapkan.

Sekarang Dad Meiks yakin bahwa dia dan kedua puteranya memang ditakdirkan harus mengemban 'misi suci' Tuhan. Senjata dan daftar nama 'iblis' sudah di berikan , kini saatnya melakukan aksi...

gambaran seseorang yang baru saja mendapat pencerahan

Keluarga ini pun mulai melakukan serangkaian pembunuhan berdasarkan daftar nama yang konon diberikan 'malaikat'. Fenton tak setuju aksi ini dan menganggap ayahnya sudah gila ( dia bahkan pernah punya rencana kabur dan memberitahukan aksi gila sang ayah pada orang-orang ), namun pada akhirnya dia tak mampu berbuat banyak, sementara Adam malah terlihat menikmati aksi 'superhero' mereka.

Jadi, setelah mendapat nama dari 'malaikat', keluarga ini akan melacak alamat sang 'iblis' untuk kemudian mendatangi rumah nya, sang ayah lalu akan  melumpuhkannnya dengan pipa besi, lantas membawa 'tersangka iblis' ini ke ruang bawah tanah untuk memastikan apakah orang yang mereka bawa itu memang iblis atau bukan ( konon Dad Meiks bisa melihat dosa apa saja yang sudah dilakukan orang dihadapannya dengan mencengkeram kepalanya  ). Jika sudah pasti, maka  di saksikan ke dua puteranya, Dad akan segera melakukan 'ibadah' melenyapkan 'iblis' dengan mengkampaknya! ( mungkin juga memutilasinya, karena kemudian kita akan melihat ketika keluarga ini menguburkan korban, ternyata jenazah berada dalam kantong2 plastik terpisah berukuran kecil ).

Bertahun tahun kasus yang kemudian terkenal di Texas dengan sebutan 'Pembantaian Tangan Tuhan' ini tak pernah terungkap ( oh my..ada berapa orang gila dan pembantaian sebenarnya di Texas?? ).

Hingga suatu saat,
Fenton yang telah beranjak dewasa ( diperankan oleh Matthew McConaughey ) dan sejak awal tak setuju dengan apa yang dilakukan ayah dan adiknya, akhirnya memutuskan untuk mengungkap kegilaan mereka dengan menceritakan semuanya pada seorang agen FBI. Fenton bahkan bersedia menunjukkan lokasi dimana mereka menguburkan jasad para korban.


Seakan semuanya akan berakhir disini..
tapi ternyata....

...

tidak.


Review :


Film ini dibuat konon diilhami dari kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Joseph Kallinger bersama puteranya Michael ( yang baru berusia 13 tahun ), dimana ayah-anak ini melakukan 3 pembunuhan dan menyiksa 4 keluarga pada sekitar tahun 1974-1975 di New Jersey. Sama seperti keluarga Meiks dalam kisah film 'Frailty' ini, Joseph Kallinger juga mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah Tuhan.


Merupakan debut penyutradaraan film-panjang Bill Paxton ( lebih dikenal sebagai aktor dan dia juga memerankan karakter Dad Meiks di pilem ini ) setelah di tahun 80-an hanya menyutradarai pilem pendek dan satu serial TV, 'Frailty' yang boleh dibilang sebagai pilem berbujet rendah, tidak meraih sukses secara komersial, walau begitu film ini ternyata mendapat cukup banyak komentar positif dari audiens. Termasuk yang memuji pilem ini diantaranya adalah James Cameron, Sam Raimi dan Stephen King ( kemana Peter Jackson? ). Khusus Stephen King, dia bahkan menyebut 'Frailty' sebagai pilem horror-thriller terbaik di tahun 2001. Filmnya gue pikir memang sangat berbau Stephen King. Bisa gue bayangin kalo King menyesal bukan dia yang menulis ceritanya.


'Frailty' diawali dari adegan dimana Fenton dewasa ( Matthew Mcconaughey ) mendatangi kantor agen FBI Wesley Doyle ( Powers Boothe ) untuk membongkar kasus tak terpecahkan berjuluk 'Pembantaian Tangan Tuhan' yang dilakukan keluarganya. Dalam perjalanan menuju tempat dimana dia hendak menunjukkan lokasi penguburan para korban, Fenton mulai menceritakan kisahnya pada agen Wesley. Dan film secara flashback mulai bergulir.


Well, pilem bertema supranatural-religius aslinya bukan selera gue. Kebanyakan dari mereka asli beneran konyol dan membosankan. Tentang stigmata lah, tentang darah keramat kristus, malaikat pelindung dll dll. nggak menarik. Tapi, bukan berarti gue serta merta nolak dan langsung ngebenci semua pilem yang mempunyai tema itu sih. Ntar gue jadi fanatik-fundamentalis-film dong haha. Soalnya,  kadang ndilalah kok adaa aja gitu yang bagus. Misalnya aja, meski gue nggak suka buah nanas, tapi pas dia dibikin jus, ternyata gue bisa juga ngabisin segelas. aneh. Mungkinkah cara pengolahannya, yang membuat gue tiba-tiba jadi bisa nikmatin nanas? ataukah cuma karena gue lagi naksir ama penjual es jus nya? Oke,  lupain analogi menyedihkan tentang nanas ini.

Dan gue juga nyoba buat nggak terpengaruh komentar Cameron, Raimi  atau King tentang pilem ini, tapi pada kenyataannya secara tak disangka2 'Frailty' yang mempunyai desain poister jelek ini emang berhasil membuat gue terpaku di depan layar GOM Player buat ngikutin cerita keluarga gila Meiks sampe abis.




Kehadiran 2 anak kecil nan polos ditengah-tengah kekerasan yang berlangsung jelas menambah efek creepy pilem ini. Gue mungkin bakal ketiduran nonton 'Frailty' seandainya tidak ada karakter anak kecil disini. Begitu juga dengan setting pertengahan tahun 70-annya. Gue suka banget. nggak tau kenapa.

Sementara itu, konflik di hadirkan dengan pertentangan  ide antara Fenton yang semakin lama semakin membenci ayahnya ( karena menganggap dia udah jadi psikopat ) dan fanatisme ayahnya yang semakin lama justru semakin kuat. Dia bahkan menganggap, Fenton yang berani menentangnya adalah 'iblis', lantas mengurungnya di ruang bawah tanah selama seminggu agar Fenton mendapat 'pencerahan'. Cukup menarik juga ngeliat kenyataan bahwa meski sang ayah terlihat kejam, tapi dia juga diceritain sangat menyayangi kedua puteranya dan mengaku sebenarnya tidak ingin melakukan semua aksi berdarah itu. Hanya saja, sang ayah selalu berdalih bahwa dia tidak kuasa menolak perintah Tuhan. Karakter Adam yang polos, terlihat tidak penting. Tapi, nantinya kalian akan tahu bahwa Adam juga mempunyai peran yang cukup krusial disini.

By the way, semua aksi kekerasan dalam pilem ini ditampilkan secara minimal dan off-screen, nggak ada cewe bugil, apa darah muncrat dalam jumlah massif. Tanpa elemen-elemen krusial diatas, jelas dibutuhkan script yang solid, cerita yang menarik, juga eksekusi sinematik yang tepat-guna untuk membuat gue terpikat pada sebuah pilem horror-thriller yang mempunyai premise cukup konyol : keluarga pembunuh berantai yang digerakkan motif supranatural-religius.

 

Jadi, silahkan taro semua hal-hal positif dari aspek teknis sinematografi yang kalian ngerti disini. Gue nggak ngerti hal-hal berbau teknis soalnya.

Di menit2 akhir, 'Frailty' juga mempunyai twist yang sebenernya udah sering dipake pilem lain, tapi tetep aja gue ketipu ama trik ini. 'belokan tajam cerita' berlapis yang terungkap pada akhir cerita membuat gue terpaksa menontonnya sekali lagi buat mastiin nggak ada poin-poin penting yang kelewat. Asli men, selain pas nongton pilem bokep JAV, jarang loh gue sampe mau-maunya nge-rewind pilem buat fokus merhatiin detil2 nya.

Sekarang, ngomongin poin yang hendak disampaikan 'Frailty' gue ngerasa itu sungguh membuat jidat berkerut dan membawa gue kembali pada pertanyaan yang gue sampein di awal review : apakah Nabi Ibrahim mengalami delusi atau dia memang sedang mengerjakan titah Tuhan? pertanyaan yang sama juga ditujukan buat mereka yang meletakkan bom di keramaian untuk membinasakan 'musuh Tuhan', dan juga buat para pembela Tuhan, yang dengan bersemangat menghabisi 3 nyawa di Cikeusik. itukah aksi tangan Tuhan?

Lalu, kenapa 'tangan Tuhan' tak segera jatuh untuk menumpas 'iblis-iblis' di gedung DPR?


ini akan menjadi sangat subyektif dan memancing debat kusir yang tak berujung pangkal.

Ada baiknya, jika kalian selalu mengingat bahwa kisah dalam 'Frailty' hanya sekedar cerita pilem, karenanya semua yang ada didalamnya juga cuma produk khayal seseorang yang sepertinya kurang tidur dan terlalu banyak menenggak alkohol. Dengan demikian, kalian mungkin akan bisa menikmati 'Frailty' sebagai hiburan biasa yang akan ngabisin waktu sejam setengah kalian yang ngebosenin itu dengan cukup layak.

Untuk menyebut 'Frailty' sebagai pilem terbaik di tahun 2001, kedengeran sedikit berlebihan. Walau begitu, Gue memang sangat menikmati pilem ini, sebuah thriller-psikologikal yang efektif dan menyentak. it's not gory. It's not very scary. But it's very, very deliciously-twisty-creepy.
.........................................................

TRIVIA : Di tahun 1986, Maradona, mengemban misi suci 'tangan Tuhan' buat menunjukkan kepada dunia bahwa Tuhan begitu ingin ngeliat Inggris kalah. Kemungkinannya,  Dia nggak mau kalah taruhan dengan iblis.


RATING:





Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic



14 May 2011

DUKUN LINTAH ( 1981)

Reviewed By 'R'

Bukan rahasia lagi kalo sebagian pelem horror lokal produksi tahun 80 sampe 90-an adalah sebuah rip-off terang-terangan dari pelem horror yang tengah booming di Hollywood.

'Bayi Ajaib’ misalnya, adalah sebuah adaptasi bebas dari ide dalam ‘The Omen’, lalu ada ‘Ranjang Setan’ yang punya banyak adegan persis frame-by-frame ama ‘Nightmare on The Elmstreet’ ( cek juga review 'Perjanjian di Malam Keramat' disini ) , 'Pengabdi Setan' dijuluki sebagai ‘Phantasm’ versi Indonesia, lalu jangan lupain pula pelem slasher pertama di Indonesia, ‘Srigala’ yang kayanye dibuat setelah sutradaranye nonton ‘Friday The 13th’, sementara kalo kita menyebut judul 'Lady Terminator' ( Pembalasan Ratu Laut Selatan ), kalian bisa menebak dengan mudah pelem apa yang jadi korban ke ‘kreatif’-an sineas kita. Hehe

Dan pelem yang akan gue review kali ini, ‘Dukun Lintah’ ( diterjemahin buat pasar internasional dengan judul ‘Leeche Warlock’ ) --meski konon punya jalan cerita yang berbeda--, juga mempunyai banyak adegan yang dipercaya oleh seorang reviewer internasional sebagai rip-off dari pelem ‘They Came From Within! ( 1975 )’ nya David Cronenberg.

Terus terang gue belum nonton pelem Cronenberg yang satu itu, tapi lebih jauh sang ‘reviewer-internasional’ itu berkata dalam blognya :

“ What makes DUKUN LINTAH so fascinating is not its blatant plagiarism, but how the narrative plays in a diametrically opposed setting. “

Itu maksudnye, walau emang bener sutradara Ackyl Anwari nge rip-off pelemnya Cronenberg ( dan itu juga bukan sesuatu yang disangkal olehnya ), tapi die menolak buat menjadi sama dengan apa yang ditirunya dengan menambahkan mistik-lokal yang sangat khas ( orang sono menyebutnya : bizzare ), lalu secara cerdas ( atau boleh juga dibilang : naif ) memindahkan ide tersebut kedalam sesuatu yang sangat sangat Indonesia! Ini seperti meng-copy ide/materi dari ‘barat’ dan mem-paste kannya kedalam sebuah template bernama ‘timur’.

Liat aje, 'They Came From Within' nye Cronenberg yang aslinye bersetting di sebuah komplek apartemen steril, dipindahin ke sebuah kampung becek di kaki bukit, lengkap dengan rumah-rumah bambu, kebun dan sawah menghijau. Bukannye, itu tempat yang lebih cocok buat lintah-lintah merayap? haha

Ini persis ama apa yang dilakukan Mang Oma Irama ketika menggabungkan sound dan cara bermain gitar Ritchie Blackmore ( gitaris 'Deep Purple' ) yang nge-rock dengan irama Melayu+gendang+seruling. Sebuah peng-adopsi-an ide yang akhirnya ngebuat kita menggoyangkan kepala saat dia berdendang : "Judi!" teeeeeeeettt!

Bagaimanapun, secara nggak disengaja itu ternyata ngebuat hasil akhir pelemnya menjadi berbeda + punya karakter sendiri. Oke, lebih tepatnya 'weird' sih.

Contoh pelem rip-off an lain yang menjadi 'beda+aneh+idiot=fun' kala dipadukan dengan kultur-lokal negara pembuatnya.



Balik ke review,
Yah, ketika untuk nyiptain 'teror-nggak-masuk-akal' orang sono lebih seneng berimajinasi tentang makhluk dari planet laen, mutasi genetik, radiasi nuklir, atau eksperimen ilmiah dll..di kite, invasi lintah ganas yang bisa ngerubah orang satu kampung jadi zombie hanya bisa terjadi karena kedigdayaan sebuah aji ilmu hitam dan rapalan mantra sang dukun! Mungkin sekarang anak muda generasi Twitter, akan ngetawain ide kaya gitu, tapi yang jelas kite harus akui kalo ragam-macam ilmu hitam dan mistik lokal pernah begitu dekatnya dengan masyarakat kita. Dan ketika itu ditampilin dalam pita seluloid, ia bukan saja ngasih hiburan buat penonton kelas layar-tancep kampung Bojong Soang,

tapi juga mampu ngebuat seorang pemuda Seattle yang menyewa pelem ini dari sebuah rental Video tak henti-hentinya mengangakan mulut karena tak mengerti dari galaksi sebelah mana sebenernya pelem model gini berasal.

Haha, oke kita langsung ke cerita pelem ini :

Hany ( diperanin oleh Suzana Cicilia - Suzana yang ini bukan Suzzana yang suka makan sate itu yah hehe- FYI, doi yang juga berperan sebagai hantu dalam 'Mayat Hidup' ) dan Nurdin ( diperanin oleh Alex Kembar – doi kayanye salah satu dari duo ‘Kembar Group’.Tolong siapa aje yang lebih tua dari gue, buat ngasih tau apaan itu ‘Kembar Group’ ?? ) adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Lewat pelem ini kita bisa tau, ternyata sebelum ada mall, cara berpacaran anak zaman dulu adalah dengan berlarian di taman bunga, air terjun dan pantai.

Sayang bokapnye si Hany, Rustam ( A.Hamid Arief ) nggak setuju hubungan mereka dan punya rencana sendiri buat ngawinin si Hany ama Hendra ( Hendra Cipta ) yang lebih menjanjikan dari segi materi.

Tentu aja Hany menolak keinginan sepihak sang bokap dan rayuan Hendra yang kaya raya, soalnye dia tau ini cuma pelem. Sementara itu, si Hendra ngerasa tersinggung dengan penolakan itu dan nyoba berbagai macam cara buat ngeluluhin hati Hany, termasuk dengan melakukan hipnotis ala Uya Kuya.
tataap mata ojaann..

Namun upaya itu pun tetep gagal. Hany keukeuh menolak.
Ngeliat keteguhan sikap anaknye, Bokap Hany pun menyerah. Die akhirnye ngawinin Hany dengan cowok pilihannya sendiri, si Nurdin.

Ternyata ini membuat Hendra semakin sakit hati .
Setelah sadar ilmu hipnotis yang kayanye dia pelajari di Eropa ( dia diceritain baru pulang dari Eropa ) gagal-total, die pun akhirnye tau sesuatu yang lebih jenius buat ngebalesin sakit hatinya yaitu : datang ke dukun! Tepatnya ke Dukun Lintah ( AN Alcaf ). Dia adalah seorang dukun jahat yang mampu memerintahkan pasukan lintah ganas buat menyerang siapa aje yang jadi sasaran klien-nya.

Dan inilah awal bencana di kampung itu. Soalnye, lintah2 sang dukun yang awalnya hanya bertujuan menyerang si Nurdin, ternyata juga menyerang penduduk kampung lain yang nggak ada hubungannye ama pangkal-masalah. Dan lebih gawatnye lagi, setiap orang yang kemasukan lintah, bakalan jadi zombie maniak-sex. Sebagian lainnya menjadi zombie yang akan menggigit siapa aje didekatnye. Sementara yang tergigit, akan tertular. Begitulah, akhirnye wabah yang disebabin invasi lintah ini pun menyebar ke seantero kampung.


Village of The Dead!!!
Jadi, gimana akhir dari cerita ini? Tentunya kalian tak perlu berharap bakal muncul pasukan bersenjata lengkap buat ngebantai zombie-kampung ini. 

............................................

Yah, begitulah plot pelem ini. Kalian boleh menilainya sebagai simpel, sederhana, murahan, atau bahkan tolol. Tapi, seperti halnya review gue di 'Mayat Hidup' , gue lebih seneng nyebutnye sebagai : lugu . Walaupun emang lugu itu beda2 tipis ama idiot sih hehe. Sebegitu lugu dan simpelnya, kite bahkan masih akan ngerti ceritanya seandainya semua pemaen dalam pelem ini nggak ngomong.

Dan keluguan bukan hanya hadir dari jalan cerita, tapi juga dari dialog, akting dan spesial efek yang ditampilin.
Liat aje, kalian bisa ngeliat gimana kreatifnya kru pelem nyiptain efek buat adegan ini :


Tentunya keluguan kaya adegan diatas adalah sesuatu yang nggak pernah bisa sengaja diciptain sineas manapun.

Selain itu, berbeda ama horrornye Suzzanna yang udah sukses ngasih kite atmosfir mistis kental dengan eksploitasi legenda-hantu-lokal nye, 'Dukun Lintah' lebih memilih buat nampilin banyak sekuen gross-out yang ditampilin cukup eksplisit.

attack of the leeches!
Gue juga cukup surprised pas nemuin sebuah adegan yang ngingetin ama salah satu scene dalam Peter Jackson's 'Braindead' (1992 ). Inget adegan pas Lionel ngebawa mayat neneknya yang membusuk ke seorang dokter ( diperanin oleh Peter Jackson ) kemudian bola mata neneknya itu mecotot keluar? Kamu akan nemuin adegan itu di pelem ini. Dan gue jamin yang ini nggak kalah gross. So, bisa jadi 'Dukun Lintah' adalah salah satu referensi Peter Jackson ketika menggarap 'Braindead' hehe.


Namun, secara keseluruhan pelemnya sih lebih mirip ama 'Slither (2006)' nya James Gunn, malahan kalo seandainya aje nggak ada pelemnya Cronenberg itu, gue berani bilang kalo 'Slither' adalah remake versi Hollywood 'Dukun Lintah'.

Hanya perbedaannya ( selain bahwa lintah-lintah dalam 'Slither' diceritain dateng dari luar angkasa ) adalah ketika segmen humor/komedi dalam 'Dukun Lintah', seperti biasanye ditampilin secara....slapstick. ( sementara 'Slither' lebih seneng menampilkannya dalam aura dark/satir ).


Buat gue sih nggak masalah,
soalnya kapan lagi kita bisa ngeliat zombie naik becak dan ngegigit tukang becaknye?

Haha, pelem kaya ginian emang cocok buat working-class kaya gue yang butuh lepas sejenak dari kepenatan dan rutinitas. Dan semenjak pelem2 blockbuster kekinian sebagian besar ternyata nggak bisa membantu gue buat ngelupain cicilan kredit, ( sementara pelem thrash-horror ala KK Dheeraj malah bikin gue terserang stroke ), gue pun secara aneh bisa terhibur pas nonton pelem semacem ‘Dukun Lintah’. Akan lebih membahagiakan kalo nontonnya langsung di layar tancep, sambil ngemil kacang rebusnya mang Soleh, lalu ketika pelem nyampe pada bagian yang kurang seru, gue bisa menyelinap ke kebon singkong sebelah buat maen judi koprok hahay..


Oiyah terakhir, persamaan pelem2 seperti ini dengan pelem2 nya KK Dheeraj atau Nayato adalah dia luar biasa jelek, murahan, kampungan dan dibuat semata-mata cuman buat nyari keuntungan sebanyak mungkin.  Tapi, perbedaanya toh, nonton ‘Dukun Lintah’ nye Ackyl Anwari ini, gue ternyata ngedapetin apa yang gue harepin, gue nemuin apa yang emang sengaja gue cari dari awal, dan yang paling penting..

gue nggak ngerasa dibohongi.

Seenggaknye, dia nggak ngebohongin kite pake judul. Kalo judulnye, 'Dukun Lintah', gue jamin kalian emang bakal nemuin dukun dan lintah di dalemnye. Gue ngomong gini, soalnye kalo KK Dheeraj bikin pelem berjudul 'Dukun Lintah' yang lo dapetin paling-paling pelem yang 95% adegannya adalah bintang bokep mandi di kolam renang terus joget2 di diskotik.
Cukup aneh ngeliat masih banyak yang beli tiket cuma buat ngeliat adegan kaya gitu mengingat siapa aje sekarang bisa gratis ngeliat Sasha Grey bugil di ratusan website. Bah.

 'DUKUN LINTAH' IS STUPID CHEAPY GROSS-OUT FUN MOVIE! AND YOU CAN WATCH THIS MOVIE HERE

RATING:






Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


23 February 2011

VENOM ( 2005 )

Reviewed By 'R'.

Masih di edisi review ‘nggak-bisa-tidur-terus-nonton-tipi-namun-acara-yang-laen-suck-semua’ hehe , pada kesempatan insomnia kali ini, gue akan nge-review film yang dini hari itu ditayangin salah satu channel TV swasta lokal yang berhasil ditangkep gelombangnye ( tentu aja setelah gue ngebenerin antena daruratnye ). hehe, lumayanlah buat ngabisin waktu sambil nungguin Sporting-Gijon maen. yeah….Venom.

Dan temen-temen, review film Venom ini kayanye bakal semakin mengukuhkan blog gue sebagai blog-horror paling sekarep dewek ( baca : kumaha aing we ) soalnye ternyata pelem horror yang direview disini emang nggak bisa memenuhi kebutuhan horror-fan buat ngedapetin info dan resensi pelem2 horror paling mutakhir, semuanye tergantung kondisi mood dan gue habis nonton pelem apa haha. Selain itu pas ama nama blog ini yang ‘Horror Popcorn’ soalnye kalian bakal banyak nemuin review pelem2 horror picisan bin murahan seharga berondong-jagung di bioskop Mulya.

Tapi tentu aja kalian boleh juga kalo mau bilang bahwa salah satu penulis review diblog ini ( yaitu gue ) sebenernya ( udah hampir 5 bulan ) lagi jauh dari akses internet, bioskop & tukang dvd bajakan ( + nggak punya DVD player buat nyetelnye ) terus hiburan satu-satunya selain berenang dibalong ikan gurame ya cuma nonton tipi. Whatever lah..hehe..

Lupain 3 paragaf menyedihkan diatas, kita langsung ke review pelem ini, oke :D



Review :

Venom? Kalo ngedenger judulnye ini kaya judul tipikal buat pelem-pelem tentang uler berbisa yang biasanye punya efek uler-CGI sedikit lebih baik dari kalajengking raksasa di sinetron Indosiar apa TPI. Mungkin sejenis kaya pelem low-budget direct-to-dvd ‘Vipers’, ‘Boa’, ‘Python’ dll. Tapi tebakan gue rupanya salah. Film Venom yang gue tonton ini juga bukan sebuah pelem horror tentang uler Mamba rilisan tahun 80-an berjudul sama yang cukup keren itu.

Film ini disutradarai oleh Jim Gillespie.

Siapa Jim Gillespie?
Die orang yang gue inget bertanggung jawab atas membosankannya teen-slasher ‘I Know What You Did Last Summer’ beberapa tahun sebelum dia bikin pelem ini.

Jadi apa di pelem nya kali ini dia juga membuat pelem tentang uler-psikopat-bertopeng yang nyaplokin serombongan remaja idiot satu-persatu? Jawabannya ternyata setengah bener dan setengah salah. Kita liat premise nya dibawah ini :

Ray ( Rick Kramer ) seorang lonely-freak di sebuah kota kecil Louisiana secara tak sengaja tergigit oleh puluhan uler berbisa dalam koper yang dibawa seorang nenek-nenek ketika dia mencoba menyelamatkan nenek itu dari sebuah kecelakaan mobil fatal di sebuah sungai.

Penyelamatan yang gagal. Ray dan nenek-nenek itu pun dinyatakan tewas.

Masalah gawatnye adalah, nenek-nenek naas itu ternyata seorang dukun voodoo. Dan uler-uler dalam koper yang menggigit Ray adalah medium yang digunakan dukun voodoo itu untuk menyimpan ratusan jiwa-jiwa kelam yang diambil dari para pasiennya.

Sekarang dengan tergigitnya Ray, jiwa-jiwa yang dikuasai kegelapan itu merasuk kedalam mayat si freaky-lonely-Ray yang akhirnya membangkitkan dia dari kamar mayat untuk mengubahnya menjadi unstoppable-supranatural-zombie tanpa belas kasihan yang cuma punya libido membunuh dengan brutal. Semacam Jason Voorhess , Mike Myers atau Maniac Cop dengan performa yang berbeda.

Dan seperti biasanye, kebeneran ada beberapa remaja di kota kecil itu yang cocok buat jadi mangsanye.

…………………………………


Hehe apa kedengeran kaya plot-film yang di kerjakan dalam waktu 1 jam ? emang.
Dan bukan hanya plot yang super-tipis, pengkarakteran tokoh-tokohnya juga kurang di garap hingga ngebuat rombongan remaja disini lebih keliatan seperti calon daging-daging segar yang siap di mangsa ama sang villain belaka.

Tapi bukannya emang itu yang pengen kita liat di pelem2 ginian ?

Kali ini Jim Gillespie kayanye sadar lagi bikin pelem hiburan-dangkal-murahan dan nggak lagi nyoba ber-smart ria seperti apa yang dilakukanya di ‘I Know What You Did bla-bla-bla’.

Semenjak dari menit-menit awal kita udah dikasih tau apa yang sebenernya sedang terjadi dan langsung dikenalin ama jenis villainnya : zombie-supranatural. Dan setelah itu, tanpa banyak buang waktu lagi dia langsung tancep gas buat nyajiin apa yang jadi substansi pelem-pelem ginian.

Kejar-kejaran ama beberapa hilarious-brutal-killing-scene.

Tapi seperti kebanyakan teen-slasher laennya,

momen hilarious killing-scene disini cuman bakal disambut jeritan kengerian ama mereka2 yang emang jadi target-marketnya 

yaitu remaja imut-imut usia 14 sampai 19 tahun yang nonton pelem ini sambil nge-download MP3 boyband lokal sape tuh yang nyanyi cenat-cenut cenat-cenut?? Sementara buat horror-fan yang udah burnout ( bangkar-warang ) kemungkinan dia bakal meminta lebih dari sekedar off-screen nonstop-violence ditambah dialog ala Buffy The Vampire Slayer sepanjang 80 menit. So, Zombem yang kelahiran tahun 89 kayanye masih bisa lah nikmatin pelem ini.

Desain sang villain juga gue pikir kurang unik dan ngasih anceman, meski tampang Rick Kramer emang udah aneh dari sononye, tapi seenggaknya die masih kalah serem ama performa rekan sejawatnya si Jeepers-Creepers. Dan Itu masih diperburuk ama tampilan CGI-jelek ( oh Gosh, I hate CGI-Snakes!! ) yang memastikan ‘Venom’ masuk klasifikasi pelem kurang dana.



Walau begitu, Jim Gillespie gue pikir berhasil maksimalin beberapa scene kejar-kejaran dengan memanfaatkan setting rawa-rawa kota kecil Louisiana menjadi momen-adegan yang cukup effectively-creepy. 

Tunggu, ngomong-ngomong tentang setting rawa-rawa kota Louisiana, kalo kamu perhatiin, 3 review film terakhir diblog ini ternyata sama-sama mengambil setting di rawa Louisiana! So, hati-hati buat siapa aja yang lagi di Amerika, jangan sampe nyasar ke Louisiana, soalnye di sono ada Victor Crowley, suami-istri Deveraux ama Zombie-Supranatural berkeliaran!

……………………………

Verdict : Horror-Popcorn ( kalo di Indonesia ‘horror kacang goreng’ ), adalah sebuah istilah buat menyebut sejenis pelem horror ringan yang ditonton cuma buat ngisi waktu senggang sambil males-malesan untuk kemudian segera dilupakan ketika filmnya usai. Seperti halnya popcorn, dia juga murah, minim kandungan gizi dan tidak menyehatkan. Tapi bukannye sekali lu masukin popcorn itu ke mulut lu susah buat brenti? Dan itu bikin elu kemudian sejenak ngelupain lara hati akibat ditolak cewe montok tetangga sebelah. Haha semakin desperate elu, kemungkinannya elu bakal semakin terhibur.

Nah, film Venom ini boleh dimasukin jenis pelem horror yang kaya gitu.
Banyak sekali goofs, error-script ama sejumlah kebodohan disana-sini, tapi tetep aje dalam beberapa hal itu semua emang ngasih efek ‘klik kanan-refresh’.

Terakhir, nggak usah naro ekspektasi apa-apa dan mungkin kamu masih bisa nikmatinnya.

++ ngomong-ngomong apa poster film ini mengingatkanmu akan sesuatu??

oh tidaaaaaaaaaaaaakkk!!
....................................

 Yaudah temen-temen, segitu aja dulu insomniac-review kali ini, tenang ..ga menutup kemungkinan laen kali gue bakal ngereview sinetron -horror haha. Oke, sekarang pindah channel, Sporting -Gijon nya udah mulai hehe.



RATING:


Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic