27 January 2010

THE ROAD ( 2009 ) / DOOMSDAY ( 2008 )

WE WANT APOCALYPSE!!

THE ROAD ( 2009 )


REVIEWED BY 'R'

Setahun silam, kawan saya pernah merekomendasikan buku 'The Road' karya Cormac Mc Carthy, dan saya nggak pernah sempat membeli atau membacanya, setahun berikutnya, akhirnya saya hanya mampu menikmati cerita 'The Road' dengan menonton filmnya. hehe
yah, film besutan sutradara John Hillcoat ini, adalah adaptasi dari buku tersebut.
Afdolnya, mereview sebuah film adaptasi memang dengan membaca buku nya terlebih dahulu. tapi, yaudahlah kalo nunggu saya bisa baca bukunya, mungkin review filmnya baru akan selesai 2 tahun lagi hehe jadi lebih baik saya review filmnya aja sekarang..

Oke, saya selalu suka setting dunia apokaliptik. entah kenapa kehancuran itu begitu menggairahkan hehe Manusia memang selalu penasaran dengan yang namanya hari akhir atau kehancuran, kapan terjadinya, bagaimana terjadinya, dan setelah hari itu,..bagaimana dengan manusia dan kemanusiaan? bagaimana kita melewatinya..?
Lusinan kisah bersetting seperti itu dengan bermacam2 genre udah dihasilin hollywood dan pengkhayal2 kelebihan waktu lainnya. Apalagi akhir-akhir ini, --2 tahun menjelang kiamat hehe -- makin banyak aja film yang ngebikin film dengan setting post-apokalip.

dan film ini adalah salah satunya..

Yah, film ini menceritakan kisah ketika bumi sudah sangat tidak layak ditempati. apa yang telah terjadi? virus, bom nuklir ataukah bencana alam? entahlah, namun kehancuran terlihat jelas disana-sini. Mobil-mobil berserakan, gedung hancur, pohon2 mengering dan bertumbangan, tiang listrik roboh, asap mengepul, banyak manusia ditemukan menggantung diri menyadari tak ada lagi kemungkinan dan alasan untuk tetap hidup..depressif. begitulah khayalan seorang Cormac Mc Carthy tentang apokaliptik yang diterjemahkan dalam bentuk visual oleh John Hillcoat dalam film ini.

ditengah dunia yang porak poranda itu, seorang ayah ( tidak diceritakan namanya --diperankan oleh Viggo Mortensen ) bersama seorang puteranya ( Kodi Smit Mc Phee ) terlihat mengais sisa-sisa makanan atau apa saja yang bisa digunakan untuk survive, mereka terus berjalan..tujuannya adalah pantai di arah selatan, dimana sang ayah berharap akan menemukan sebuah peradaban ( atau bantuan? ) disana. Sementara istrinya ( Charlize Theron ) melalui flashback singkat diceritakan dengan tragis memilih jalan bunuh diri.
Jalan menuju harapan yang ditempuh bapak-anak ini tidak mudah, disamping berhadapan dengan buruknya cuaca dan malnutrisi,
kekacauan dan kepanikan total rupanya telah menciptakan segerombolan manusia dengan senjata menjadi pemburu manusia lainnya untuk dimakan dagingnya! yep, kanibal!
namun tidak, film ini bukan hendak menceritakan pertarungan heroik bapak-anak ini dengan gerombolan penjahat-kanibal seperti film2 'Mad Max', 'I am legend' atau ' Waterworld',

namun sebuah kisah lain yang menggambarkan kemungkinan nasib kemanusiaan ketika ras manusia di ambang kepunahannya, dan itu diceritain dari sudut pandang seorang ayah yang putus asa dan puteranya yang polos.

..............................



Nonton film ini kita akan dibawa kesebuah lanskap bumi yang hancur karena sebuah tragedi, di shoot melalui sudut yang impressif dan menghasilkan sebuah gambar dramatis tentang kehancuran yang tersaji dengan 'indah'...Pemilihan warna tone coklat-abu-abu yang mendominasi semakin menguatkan kesan itu. Suram, tidak pasti, sunyi dan putus asa. total depressif.

Viggo Mortensen patut diberi aplause atas usahanya mengurus-kan badan sehingga benar-benar terlihat seperti orang yang kurang gizi, dia juga berakting mengesankan sebagai seorang ayah yang digerakkan oleh ketakutan dan harapan. sementara Kodi Smit mampu mengimbangi akting Viggo sebagai seorang anak yang polos, argumentatif, dan murni jiwanya. Cast yang laen bermain singkat, namun juga mengesankan, seperti Robert Duvall yang kebagian peran sebagai survivor tua penyendiri, atau Guy Pearce sebagai sebagai survivor veteran yang ditemui sang putera di akhir cerita, peran Charlize Theron disini justru cenderung mudah terlupakan.
jangan lupain pula kerja hebat dari divisi make-up dan kostum yang udah bikin Robert Duvall mirip orang gila kelaparan.

Plotnya memang berjalan lamban dan sangat berpotensi jadi membosankan, seperti komentar tukang nasi goreng yang nonton bareng ama saya, " nggak seru euy filmnya..nyetel film yang kaya kemaren aja.." yang kaya kemaren, maksudnya adalah 'My Bloody Valentine' hahahaha
Film ini sepertinya tidak membawa pesan apa-apa selain nyeritain kemungkinan " begini nih jadinya dunia kalo kaga ada hukum dan peraturan.." hehe nah, kayanya para militan-revolusioner musti mikirin membuat sistem-tata-kehidupan lebih dahulu sebelum ngelakuin revolusi ngancurin dunia beserta sistemnya. hehe kok malah bikin sistem lagi? haha udahlah malah ngaco! kikik btw, apokaliptik skala kecil kemaren beneran terjadi di Haiti.

Overall, ini film yang bagus, intrigued dan impresif,
saya suka..terutama jika di tonton pada mood-mood tertentu.

....................

Namun kalo kamu lagi bosen dan berharap ngedapetin cerita tentang dunia apokalip yang penuh ledakan-ledakan plus seorang hero-ine montok bersenjata aneh dan besar berusaha survive dengan memberondong kanibal-kanibal berkaki tujuh haus darah..tentunya ini adalah film yang salah! haha


.........................................................

inilah film yang bener :

DOOMSDAY


REVIEWED BY 'Z'.

Dalam tradisi Grindhouse sejati gue milih satu flick yg diproyeksiin buat jadi throwback ke eksyen badass cinema 80-an. Aksi petualangan tipe game RPG yg berpusat seputar senjata gede2, mobil, dendam & kekuasaan dengan seorang protagonis Charles Bronsonesque ditaro dalam setting dunia pasca-apokalips.

Sineas masa kini punya tendensi buat nyiptain apokalips lewat semacam epidemik massal tertentu. Ada yg nyebutnye “rage”, ada yg nyebutnye “T-virus”, ada juga yg nyebutnye “project terror”. Apapun itu, itu selalu hadir dalam bentuk yg kasat mata, nyebar lewat udara & bisa nyapu satu region tertentu dalam waktu singkat.

Di film ini itu disebut “ the reaper”, virus ganas yg morak-morandain Glasgow sama sebagian besar wilayah British Isles, akibatnye, otoritas setempat nutup zona infeksi secara menyeluruh. Dengan isolasi total bagi semua yg hidup di wilayah kontaminasi, pemerintah berencana buat ngejaga virus reaper ini supaya ngga nyebar ke tempat lain & buat nyaris 20 taun sejak saat itu, karantina ini berhasil.

Sampe suatu hari, virus yg sama ditemuin lagi di London & sebelon tragedi Glasgow berulang, para pemegang otoritas mutusin buat ngambil keputusan kritis. Sebelumnya, satelit telah menangkap bukti2 mengejutkan kalo ternyata ada orang2 yg berhasil bertahan hidup dalam zona infeksi, nyiptain sebuah teori kalo di situ ada sejenis anti-virus yg tersedia. Maka diutuslah Snake Plisken versinye Neil Marshall atas nama Mayor Eden Sinclair (Rhona Mitra) guna mimpin tim khusus dalam misi buat nyari, ngambil ama ngebawa pulang anti-virus tadi sebelon kota London harus ngalamin nasib buruk kaya yg dialamin dataran Skotlandia 20 taun sebelonnye.


Yg lucu dari Doomsday itu gimane die keliatan kaya remake cut-and-paste dari beberapa film jadi satu. Bermula dari film zombie modern (pilih sendiri judul buat ditaro di sini), berlanjut ke Escape From LA, sedikit ber-Resident Evil-ria, masuk ke gigi dunia Mad Max, sedikit interval setting Army Of Darkness, balik ke Mad Max era Road Warriors sebelon muter satu lingkeran penuh ke Escape From LA.
Ini bisa dengan gampang terkualifikasi sebagai minim kreatifitas & mungkin kenyataannye emang gitu, tapi ada cukup banyak eksyen, darah, ama lekuk tubuh wanita buat bikin indera2 perasa kite tetep fresh sepanjang durasinya.

Ayo kita langsung maju aja ke poin penting dari mana sebuah karya cinema berkualitas itu diukur: intensitas kekerasannye!


Ok,coba kita cek...head-shot, dekapitasi, tusukan dari varian aneka senjata tajam, pukulan benda tumpul, kecelakaan lalu-lintas, intinya mah berbagai jenis bentuk kematian yg terlabel sebagai “naas” punya perwakilan di sini. Bahkan ada adegan pembakaran yg –sebenernye- lebih pol dari scene pembakaran Polwan di Silent Hill, CUMAN, terkontaminasi satu setback fatal: objek penderitanye justru si Dokter pria….hmmm, pilihan jelek. Kenape mereka ngga ngelakuinnye ke Read, cewe pengemudi tank yg malahan dihabisi dengan terlalu nyaman? Ngeliat doski meronta-ronta meregang nyawa diatas panggangan pasti bakal lebih memenuhi selera cowo2 misogynist yg mendominasi kursi audiens buat tontonan jenis begini.

Ngomongin wanita, frame layar monitor gue pas muter ini begitu penuh ditebari cewe seksi dengan fashion fetish-slut sampe keliatan kaya video Motley Crue pada masa jaya mereka! Rhona Mitra sendiri keliatan mirip Kate Beckinsale minus dandanan electro-goth annoying doski di Underworld, favorit personal gue itu cewe berpedang-ganda yg nyalain sumbu acara barbeque punk rocknye si Sol. Anjiiiissss, sumpah doski boleh light my fire kapan aja.

Pada akhirnye, Doomsday boleh jadi sepotong romantisme nostalgia dari hal2 terbaik yg pernah dilahirin ama genre ginian. Jadi lain kali seorang sutradara pengen nyontek cinema eksyen 80-an buat ngasilin duit, gue bakal dengan senang hati nontonnye. Pastiin aja kalo di dalemnye ada wabah, barbarian, kanibalisme, motocross, ksatria medieval, kastil, serta jagoan badass montok bermata satu dalem alur padat yg penuh ajal mengenaskan.


3 comments: