28 May 2017

( Request List ) Kilas Balik 30 Film Horror Terbaik era 2000-2010 | PART 2

PART 1 CEK DISINI

 
REC ( 2007 ) 


Dalam film bergenre found footage/handheld camera garapan duo sutradara Spanyol Jaume Balaguero dan Paco Plaza ini kita diajak langsung untuk mengikuti liputan reporter muda  dan kameramennya ( yang menjadi mata kita ) ketika mereka tak sengaja terjebak dalam sebuah apartemen yang tiba-tiba dikarantina oleh militer karena merebaknya sebuah wabah misterius yang mampu merubah seseorang menjadi zombie ganas. Suspenseful, thrilling, creepy, scary and gory! Asiknya, intensitasnya tak mengendur bahkan terus menanjak hingga menit terakhir. Tak diragukan, REC adalah produk terbaik dari subgenre handheld camera yang booming di dekade ini. Sekuelnya tak kalah asik, tapi kalian bisa ngeskip yang ke 3, ke 4, ama versi remake hollywoodnya ( Quarantine ). Dan jangan malah nonton yang ini. Itu mah keterlaluan bodohnya hahahaa. Oiya, satu lagi pemeran Angela ( Manuela Velasco ) enak diliat dan menggemaskan dengan rambut kepang dua dan lumuran darah di singlet ketatnya.  



1408 ( 2007 ) 

Merupakan adaptasi dari cerita pendek Stephen King, 1408 bercerita tentang Mike Enslin ( John Cussack ) seorang penulis yang banyak mendatangi tempat-tempat berhantu hanya untuk mereview buruk tempat-tempat itu. Ya, Mike memang sinikal dan sama sekali tidak percaya hantu. Sampai ketika pada suatu hari dia menemukan berita tentang misteri kamar 1408 di sebuah hotel mewah. Tanpa pikir panjang, Mike mutusin untuk menginap di kamar itu.  Nah, gue udah khawatir kalo ini kemudian akan menjadi seperti film-film 'tempat-berhantu' lainnya, untungnya 1408 kemudian berhasil menghadirkan teror dengan sangat meyakinkan terutama berkat pendekatannya yang lebih psikologikal. Tensinya ketat sementara auranya terasa creepy dan unsettling. Meski demikian, tanpa performa-solo John Cussack yang impressif, 1408 kemungkinan bisa jatuh menjadi sebuah film yang gagal. 



The Mist ( 2007 ) 

Sekumpulan orang terjebak dalam sebuah toko kelontong ketika badai kabut tiba-tiba menyerang kota. Mereka tak bisa keluar dari toko karena monster-monster mengerikan sudah menunggu untuk memangsa siapapun dari balik pekatnya kabut. 

Ini sebuah adaptasi lain dari cerita Stephen King yang meski bisa dilabeli sebagai film monster, tapi ide sentralnya adalah eksplorasi bermacam karakter manusia ketika berada pada posisi lemah di sebuah situasi genting yang mengancam jiwa. Salah satu karakter paling ngeselin yang gue inget adalah emak-emak yang menjadi irasional dengan melakukan cocoklogi mengait-ngaitkan bencana itu dengan hukuman tuhan. Dia mulai berkotbah. Meski awalnya diacuhkan, ketika situasi memburuk sebagian besar dari mereka akhirnya menjadi pengikutnya. Dalam situasi yang lemah, kebanyakan manusia akan berusaha mencari pegangan, bahkan jika itu menyambar kewarasannya..bukankah begitu?  Hehe ini menarik untuk didiskusikan lebih lanjut hehe Dan oiya! Jangan lewatkan bagian finalnya yang sudah berhasil membuat banyak orang menjambak rambutnya sendiri hehe


Planet Terror ( 2007 )  

Planet Terror adalah bagian dari double-feature berjudul 'Grindhouse'  bersama Death Proof nya Quentin Tarantino  yang dibuat  sebagai homage/tribut untuk bioskop grindhouse ( bioskop kelas B yang khusus menayangkan film2 cheapo-exploitation ), sebelum keduanya akhirnya dirilis terpisah. Indonesia sendiri tidak mengenal term grindhouse ini, tapi bioskop kampung di era 70/80/90 an praktis adalah sebuah grindhouse. Dan melalui film ini, Robert Rodriguez  dengan semangat bermain-main yang kuat mengajak aundiens untuk kembali merasakan sensasi ( meski fake ) pengalaman menonton film murahan disebuah bioskop kampung murahan, lengkap dengan 'trailer palsu' serta noise and missing reel nya. Haha tentunya kalian udah bisa memperkirakan kandungan filmnya, yah eskyen absurd, ledakan-ledakan besar, blood splatter, karakter cheesy ( dengan nama cheesy ), one-liners, zombies, hot chicks, serta disgusting and hilarious gore dari mulai kepala meledak sampe biji peler Quentin Tarantino meleleh! ceritanya? hah? masih peduli ceritanya? just enjoy the fucking show!


Eden Lake ( 2008 )

Dibuat hanya berselang setahun dari kasus pembunuh berantai remaja 'Dnepropetrovsk Maniacs' yang mengguncang Eropa ( khususnya Ukrainia ) Eden Lake memiliki pesan dan komentar sosial yang kuat tentang media, perilaku agresif dan kekerasan pada remaja ( yang dicetuskan oleh banyak faktor seperti bullying, orang tua abusif serta ketimpangan sosial ). Gue menduga thriller british garapan James Watkins ini memang diilhami kasus itu. 

Premisnya sendiri tentang liburan akhir pekan sepasang kekasih di danau terpencil yang dikacaukan oleh tingkah polah remaja lokal. Gangguan yang awalnya masih bisa dimaklumi sebagai kenakalan remaja, tiba tiba saja memburuk menjadi sebuah perjuangan survival hidup mati. 

Film kemudian berjalan dengan tensi yang ketat diimbuhi banyak adegan kekerasan disana sini. Eden Lake jelas bukan jenis tontonan hiburan, temanya begitu mengganggu dan memiliki devastating-ending yang membuat gue menghibur diri sendiri dengan berkata " ini cuma film..ini cuma film..ini cuma film.." , sayangnya meski cerita dalam Eden Lake emang rekaan, hal yang lebih buruk emang beneran terjadi didunia nyata. Kaya yang udah gue bilang diatas, trio remaja asal kota Dnepropetrovsk, Ukrainia tertangkap setelah satu video rekaman pembunuhan mereka ( merupakan video paling sadis yang beredar di internet, dan gue nggak sanggup nontonnya sampe abis  ) tersebar di Internet. Mereka terbukti melakukan 21 pembunuhan! Nah, sekarang keheranan Zombem di review ini tentang gimana mungkin orang dewasa ga bisa ngelawan segerombol berandal ABG terjawab. Itu emang bisa terjadi. Remaja2 asal Ukrainia itu membuktikannya. Never underestimate preman tanggung, zom!


Martyrs ( 2008 ) 


Dalam Martyrs, ada banyak pertanyaan menyeruak saat dimenit-menit awal kita ngeliat pembantaian berdarah dingin sebuah keluarga ( yang terlihat baik-baik ) oleh seorang perempuan muda, Lucie ( Mylene Jampanoi ) menggunakan shotgun. Itu adegan yang sangat brutal. Film berjalan, kita kemudian akan tau kalo keluarga itu ( khususnya sang ayah ), mungkin pernah melakukan hal-hal yang sangat buruk pada Lucie. So, ini semacam revenge? tapi kemudian muncul sosok makhluk kurus mengerikan yang tiba-tiba menyerang Lucie. Makhluk apa pula ini? hantu? mutan? 

Ya, Pascal Laugier ( sutradara ) membuat paruh pertama Martyrs berjalan dengan tensi sangat tinggi. Darah tertumpah dimana-mana dan kekerasan-hardcorenya datang bertubi-tubi nyaris nggak ngasih kita jeda buat ngambil nafas. Tapi pertanyaan tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi sendiri masih belum terjawab. Sampe akhirnya, film tiba di paruh keduanya ketika teman Lucie, Ana ( Marjana Alaoui ) menemukan ruang bawah tanah dirumah itu. Inilah momen ketika film berubah genre dari sebuah home-invasion nan brutal menjadi torture-porn yang depressing. Bagian ini pula yang banyak dikeluhkan audiens sebagai membosankan karena memang tak banyak yang terjadi selain adegan cewe dirantai dan diperlakukan buruk oleh orang-orang  misterius.  Sungguh bertolak belakang dengan tensi tinggi di paruh pertamanya. 

Tapi honestly,  gue sendiri nggak punya masalah ama bagian paruh kedua ini ( ini cukup aneh kalo nginget torture-porn tuh bukan genre favorit gue hehe ). Pertama, karena segala metode penyiksaan ( fisik dan psikis ) yang dilakukan disini ternyata emang dirancang untuk membuat subyeknya berada diujung kematian ( dan bukan untuk membuatnya tewas dengan 'siksaan-kreatif' ). Kedua, gue bisa mengapresiasi ide utamanya. Cukup original, provokatif dan terus terang membuat gue ikut penasaran " apa sebenarnya yang dilihat manusia diujung kematiannya? ". So secara keseluruhan, meski paruh keduanya berjalan tidak semenarik paruh pertamanya, Martyrs tetap sebuah sajian disturbing nan whatthefuck yang menjadi salah satu judul esensial dari booming french-extremity di dekade itu. Silahkan tonton dengan resiko sendiri


Trick 'R' Treat ( 2008 ) 

Ini sebuah film kecil 'straight-to-dvd' garapan Michael Dougherty yang berhasil bersenang senang dengan semangat selebrasi pada sebuah hari dimana monster buah labu, legenda urban, iblis, roh jahat, mitos dan tahayul keluar dari alam kematiannya. Memiliki 5 cerita random yang bersinggungan satu sama lain ( model yang sama kaya yang kita liat di 'Southbound', cuman yang ini satu tone ama 'Tales From The Crypt' ) Trick 'r' Treat menyajikan fairy-talenya yang meski nampak seperti film anak-anak namun nggak ragu buat nunjukin kekerasan atau darah dibagian yang emang ngebutuhin itu. Jangan khawatir, karena ini sebuah perayaan, maka semua bagian berdarah-darahnya pun dikemas komikal agar tetap menyenangkan. Satu isu minor buat gue adalah bahwa disebuah film antologi kaya gini selalu ada satu bagian cerita yang terasa sedikit flat. Tapi lupakan, itu sama sekali nggak ngurangin keasikan Trick 'r' Treat sebagai film menyenangkan dengan semangat perayaan Halloween yang kuat. 


Triangle ( 2009 ) 

Diceritakan, sebagai single mother dari seorang anak autis, Jess ( Melissa George ) bukanlah seorang contoh yang baik. Suatu hari, Jess memutuskan ikut pergi berlayar bersama kawan-kawannya. Hari yang seharusnya menyenangkan itu berubah ketika tiba tiba badai datang dan menenggelamkan kapal kecil mereka. Untungnya, sebuah kapal besar bernama 'Aeolus' melintas. Jess dkk pun memutuskan menaiki kapal itu untuk mencari pertolongan. Namun ternyata tak ada seorang pun disana. Ya, kapal itu kosong! Dan sebuah misteri yang berujung pada konklusi mengerikan pun mulai menyergap mereka.

Gue pernah salah menginterpretasi ide cerita thriller-psikologikal garapan Christopher Smith ini, tapi anehnya bahkan ketika gue salah pun gue masih bilang kalo film ini bagus hahaa . Sepertinya gue terpikat dengan atmosfir unsettling-creepy dan pekatnya misteri dalam film ini. Adegan yang diulang-ulang ( seperti yang juga ditampilkan dalam Time Crimes  -2007- ) itu nyaris membuat otak gue meledak sementara satu adegan dimana mayat orang yang sama bertumpuk-tumpuk di satu tempat masih teringat sampe sekarang. Creepy. Ke eerie-an Triangle semakin berlipat pas gue nonton ini untuk kedua kali dan akhirnya mengerti ide ceritanya ( yang rupanya similiar ama Dead End ). Ini jelas sebuah triller-misteri yang brillian! Selain itu, tentu saja jangan lupain Melissa George yang tampil seksi sepanjang film ehe.


Rumah Dara ( 2009 ) 

Masih teringat betapa gue dulu rela berhimpitan di gerahnya Metromini butut yang berjalan merayap menembus kemacetan demi menuju Blok M Square yang saat itu sedang menayangkan film ini di hari pertamanya. Sebuah antusiasme yang kemudian dibayar lunas Mo Brothers!. Mengusung genre slasher, Rumah Dara nggak nyoba nawarin sesuatu yang baru di subgenre spesifik ini dan lebih milih bersenang-senang dengan melakukan tribut untuk slasher klasik Texas Chainsaw Massacre ( 1974 ) dan Inside / A I' interieur ( 2007 ) nya Maury-Bustillo. Semangat having-fun tanpa pretensi inilah yang kemudian membuat semua keklisean dalam Rumah Dara termaafkan dan tetap terasa menyenangkan. 

Plotnya simpel aja, sekumpulan orang terjebak dalam rumah keluarga disfungsional-kanibal, dan mereka harus berjuang idup-mati agar bisa selamat.  

Yah, gue emang nggak berharap banyak dan asiknya Mo Bros berhasil ngasih semua yang gue harepin pas mutusin nonton ini. Violence, blood, gore, dark humor serta Julie Estelle pake singlet ketat berlumur darah hehe. Bloody FUN! Kredit khusus untuk bagian make-up, penata suara, dan gore-effect nya. Satu isu minor adalah, sensornya ( saat itu di bioskop ) cukup mengganggu. Untungnya, beberapa tahun kemudian gue bisa rewatch versi uncutnya bersama temen-temen di proyektor, dan ternyata kesenangannya menjadi berlipat. 

Rumah Dara adalah tontonan hiburan yang sadar diri dengan ke 'b-movie' an nya, jujur, tidak berpura-pura pintar, fun, dan jelas menjadi penyegar sinema horor lokal yang saat itu tengah dipenuhi horor-sex buruk dan oiya, ini masih menjadi yang terbaik dari duo Mo.


The Last House on The Left ( 2009 ) 

Yang ini adalah remake film klasiknya Wes Craven ( The Last House on the Left  - 1972 ) yang plotnya terinspirasi dari cerita dalam The Virgin Spring ( 1960 ) garapan Ingmar Bergman. Ide utamanya simpel, yaitu mengeksplorasi kemungkinan apa yang akan terjadi jika sebuah keluarga baik-baik ( keluarga Collingwood ) akhirnya menyadari kalo orang-orang yang sedang menginap dirumahnya malam itu ternyata para penjahat-buronan bengis ( Krug Cs ) yang udah memperkosa dan menganiaya puteri mereka sampe sekarat. 

Nah, perhatikan, premis sederhana diatas hanya akan bekerja jika film mampu membuat audiensnya terlibat secara emosi, untuk itu film harus maksimalin tiga elemennya : protagonis, antagonis serta tragedi-mengerikan yang terjadi. Dan mereka berhasil melakukannya! 

Ya, gue udah bisa mengharapkan hal-hal buruk terjadi pada orang-orang se-keji Krug cs ( dimainkan dengan impresif oleh para cast nya  ) sejak paruh pertama, terutama usai mereka memperkosa dengan brutal puteri keluarga Collingwood. Itu sebuah adegan yang menyakitkan untuk diliat dan mengingatkan pada apa yang dialami Monica Bellucci dalam Irreversible. Film menjadi thriller ruang sempit yang intense ketika setting berpindah kedalam rumah ( dimana Krug cs tanpa sadar menginap dirumah keluarga Collingwood), sebelum akhirnya meledak menjadi sajian aksi kekerasan random ( bukan bales dendam yang sistematis ) dimana setiap kematian yang terjadi sangatlah memuaskan untuk diliat, terutama menjelang rolling credit haha. Dennis Iliadis ( sutradara ) jelas udah berhasil memanfaatkan dukungan budget besarnya untuk nge-push semua potensi dan resource yang dulu kurang mampu dieksplorasi Wes Craven karena terkendala minimnya dana. A worthy-remake!


Drag Me to Hell ( 2009 )  

Usai kesibukan ngegarap franchise manusia laba-laba berbujet raksasa, Sam Raimi rupanya ngerasa udah waktunya untuk kembali bersenang-senang dengan 'hobi-lama' yang udah ngebesarin namanya : membuat film horror!

Naskah Drag Me To Hell, yang ditulis bersama Ivan Raimi ( kakaknya ) bercerita tentang Christine ( Alison Lohman ), karyawan sebuah bank yang pada suatu hari didatangi klien ( seorang nenek gipsi ) bernama Ny.Ganush ( Lorna Raver ) yang memohon padanya untuk memperpanjang pinjamannya. Christine yang ( sebenernya bersimpati ) namun ingin membuat bosnya terkesan, mengambil inisiatif dengan menolak tegas permohonan itu. Lebih jauh, dia bahkan memanggil sekuriti untuk mengusir paksa si nenek. Kecewa, marah dan malu, Ny.Ganush tanpa diduga melayangkan sebuah kutukan untuk Christine yang hanya memiliki waktu 3 hari sebelum sebentuk kekuatan gelap akan menyeretnya ke neraka!  

Drag Me To Hell tidak memiliki kuantitas darah ama cairan-menjijikan semasif kaya di The Evil Dead, tapi itu bukan berarti ini menjadi jelek, karena tone creepy-komikal ( juga hilarious-gore ) khas Sam Raimi ternyata masih bisa kita rasakan dengan kuat. Ya, ada banyak adegan serem-tapi-konyol disini, tapi yang paling seru adalah sekuens di tempat parkir itu ( kredit khusus untuk penampilan Lorna Raver ), dan jangan lupa adegan kepala si nenek ketimpa besi sampe mencret haha. Fix, beliau belum kehilangan sentuhannya di genre ini.

Raimi juga masih inget gimana caranya membuat sekuen badass ketika heroine kita ngangkat tangannya tinggi tinggi ( megang kancing kutukan ) dari dalam lubang kubur sambil ngucapin oneliner diiiringi gelegar halilintar ( juga adegan ikonik tangan yang menyeruak keluar dari lubang kubur yang terendam air hujan ). Nah, bukankah itu ngingetin kalian pada tone The Evil Dead? Haha Yap, ngeliat Raimi membuat Drag Me To Hell tuh rasanya kaya ngeliat bapak-bapak yang sepanjang bulan sibuk bekerja, akhirnya menemukan tanggal merah di kalendernya, lalu dia manfaatin itu buat seneng-seneng ngelakuin apa yang dia suka saat masih muda. Sangat fun! Nah sekarang buat Peter Jackson, kapan akhirnya lu nemu 'tanggal merah' juga sih?

 
Bedevilled ( 2010 ) 

Di awal cerita, kita dikenalin ama karakter Hae-Won ( Seong-won Ji ), seorang wanita karir dengan kesibukan dan tekanan di tempat kerja yang membuat dirinya menjadi pribadi yang dingin, selfish, ignorant, dan individualis. Yah, penyakit manusia modern di kota besar. Suatu hari, insiden di tempat kerja membuat Hae-Won terpaksa mengambil cuti dan pergi menenangkan diri kesebuah pulau terpencil, sekaligus menemui sahabat masa kecilnya Bok-Nam ( Yeong-hie Seo ). Di pulau yang  hanya dihuni beberapa emak-emak, lelaki dan seorang kakek linglung inilah Hae-Won menyaksikan kehidupan sahabatnya Bok-Nam yang memilukan. Siapa sangka dipulau indah nan tenang itu Hae-Won malah akan mengalami  sebuah peristiwa mengguncang yang ( tak kalah buruknya dengan di kota ) dan membuatnya berfikir ulang tentang semua sifat dan perilakunya selama ini. 

Di paruh pertama, Bedevilled berjalan seperti sebuah drama gelap yang sakit sebelum akhirnya tiba-tiba saja meledak menjadi gelaran kekerasan penuh darah dan kematian di paruh keduanya. Tidak seperti film korean-vengeance lain yang sering menyajikan kisah bales dendam nan sistematis, apa yang terjadi disini lebih seperti 'bendungan-emosi' yang akhirnya jebol, air bahnya meluap kemana-mana tak terkontrol. Gue speechless, dan menyarankan kalian buat nontonnya sendiri. Brutal sekaligus emosional! 

Overall, selain banyak nyajiin kekerasan dan darah, Bedeville juga memiliki komentar kuat soal materialisme kota yang mematikan hati, rendahnya pendidikan di desa yang melanggengkan ide-ide kuno ( misoginis ) serta manusia yang seringkali harus melewati tragedi untuk bisa berubah. Terakhir, tentu kredit khusus untuk penampilan superb Yeong-hie Seo. 


Dream Home ( 2010 )
 
Ada beberapa film horor bagus di tahun ini, tapi gue milih Dream Home sebagai apresiasi untuk Hongkong yang akhirnya kembali menelurkan horor esensial di dekade 2000an setelah Dumplings dan The Eye. 


Dream Home bercerita tentang Cheng Li-sheung ( Josie Ho ) seorang wanita karir yang sejak kecil terobsesi memiliki sebuah apartemen impian ( dengan pemandangan laut ). Dia rela bekerja banting tulang ( bahkan menjadi wanita simpanan ) demi mengumpulkan uang agar bisa mewujudkan obsesinya. Ketika uang akhirnya terkumpul dan Cheng siap membeli apartemen itu, tiba-tiba bursa saham bergejolak dan developer properti menaikkan harganya hingga tak terjangkau lagi. Putus asa, kecewa dan marah, Cheng melakukan sesuatu yang gila : ngebantai banyak penghuni apartemen di kawasan itu agar harganya menjadi turun!. 


Merupakan film bergenre slasher, Dream Home memilih alur non-linier maju mundur ( di bagian pertama dan kedua ) yang sebenernya kurang cocok untuk subgenre ini, untungnya bagian kekerasannya di tampilkan dengan outrageous. Menarik mengetahui kalo semua kekerasan-eksesif  disini adalah keinginan Josie Ho sendiri ( pemeran utama merangkap produser ) yang konon terinspirasi The Story of Riki ( 1991 ), ( meskipun hasil akhirnya lebih mirip film-film Cat III nya Anthony Wong ) Haha I Love Josie Ho! Yang asik lainnya adalah, Dream Home memiliki banyak dark-humour dibagian gorenya, sehingga beberapa adegan malah bikin ngakak. Dan tentu saja, jangan lupain muatan kuat satir sosial-ekonomi yang membuat film besutan Ho-Cheung Pang ini menjadi lebih berisi. 



Let Me In ( 2010 ) 

Harus diakui, bahwa meskipun ini adalah sebuah remake ( dari film Swedia Let The Right One in ( 2008 ) ) dan memiliki banyak kesamaan adegan, Matt Reeves ( sutradara ) mampu ngasih sentuhan untuk membuat Let Me In berdiri dengan versinya sendiri. Gue pikir ini adalah hasil dari keputusannya untuk memilih langsung menginterpretasi kisah relationship vampir cilik ini dari material utamanya,  yaitu buku karangan John Ajvide Lindqvist. Bahkan konon, dua aktor cilik dalam versi ini ( Kodi Smit-McPhee dan Chloe Grace Moretz ) tidak diperbolehkan untuk menonton versi Swedianya agar tidak terpengaruh dan mampu berperan dengan natural. 

Secara umum, meski dua duanya sama-sama bagus ( dengan caranya masing masing ), Let Me In emang terasa lebih mudah dinikmati terutama -sekali lagi-, kalo dibandingin gaya artful-stylish Tomas Alfredson yang pelan, dingin, moody namun atmosperik di Let The Right One in. Sokongan budget juga membuat semua bagian gore dalam versi ini terlihat lebih brutal ( meski tetap elegan ). Cek adegan kecelakaan mobil itu, atau adegan ketika Abby menyerang mangsanya, atau wanita yang terbakar, atau tentu saja adegan di kolam renang yang  beautifully-gruesome itu. Sayangnya, ada satu adegan bagus dari versi Swedia yang nggak dimasukin disini, yaitu adegan perempuan yang dikerubuti kucing haha itu adegan keren, dan kalo aje, Matt Reeves juga masukin sekuens itu ( dengan lebih brutal ), pasti gue akan lebih bersorak-sorai.  

Overall, meski memiliki cerita yang terasa ambigu ( maksud gue gimana mungkin kita diajak bersimpati pada vampir yang sering memangsa orang tak bersalah? , lalu bagaimana dengan nasib Owen, apa dia hanya akan berakhir seperti The Father yang nantinya harus membunuh orang demi menyediakan darah? ) Let Me In tetap merupakan sajian drama-horror solid yang gue pikir punya kans besar menjadi timeless ( tak lekang waktu ) seperti halnya The Exorcist, Rosemary's Baby atau The Omen. Hmm..istilahnya apa ya, instant classic?


I Saw the Devil / Akmareul Boatda (  2010 ) 


Menakjubkan ngeliat gimana tema vengeance ( bales dendam ) yang udah berulangkali dipake dalam film2 horror/crime-thriller Korea Selatan mampu terus di recycle menjadi sajian yang tidak membosankan dan bahkan tetap terasa fresh tiap kali film-film bertema serupa rilis. Seperti yang satu ini. 

I Saw the Devil bercerita tentang Soo-Hyun ( Lee Byung-Hun ) seorang agen khusus kepolisian yang dirasuki dendam kesumat pada Kyung-Chul ( Choi  Min Sik ) psikopat yang telah membunuh dan memutilasi tunangannya. Dendam yang menggelora dalam diri Soo-Hyun kemudian membuat dirinya berubah menjadi sosok yang dingin, dia menikmati memburu dan menghajar Kyung-chul ( hanya untuk melepasnya lagi ) dan hanya akan berhenti jika sang psikopat telah mengalami penderitaan yang lebih buruk dari yang dalaminya. Apakah dia telah berubah menjadi seperti iblis yang dibencinya? 

Nah, sekilas ide pertanyaan ambigu soal bales dendamnya terasa basi, namun Kim Jee Woon mampu mengolah ide itu menjadi tidak terasa preachy dengan membiarkan audiens untuk mengambil kesimpulan sendiri. Jee-Woon juga berhasil ngeblender thriller, suspense, drama dan eksyen dengan sangat pas yang membuat film nyaris nggak memiliki momen membosankan meski durasinya cukup panjang ( 2 jam lebih ). Sementara itu, sajian kekerasan tingkat tinggi yang ditampilin dilayar tidak dibuat hanya sekedar untuk ngasih shock-value namun juga menyasar emotional-impact audiens yang didukung penampilan superb dari duo main-castnya ( Lee Byung-Hun dan Choi Min-Sik ). Walhasil, beberapa adegan berhasil menjadi memorable sampe sekarang. Inilah film yang membuat gue mendadak mencari dan menonton banyak sekali film2 crime-thriller dari negeri ginseng ini hehe. 

Verdictnya, I Saw the Devil adalah sebuah thriller-vengeance yang intense, thrilling, violent, gory, sekaligus emosional yang didukung tata produksi berkelas disemua lininya ( script, direction, cinematography, scoring, cast ), atau kalian bisa nyebutnya dengan kalimat pendek : sempurna. 

..........................................

Nah demikianlah, semoga ini bisa menjadi bahan bacaan ringan yang menghibur kalian saat sembelit di WC, atau menjadi pengisi waktu menunggu bedug maghrib ( bagi yang berpuasa ), sehingga membuat blog ini jadi lebih berfaedah. 


Buat yang udah nonton semua filmnya, anggep aja ini sebagai arsip blog, sementara buat yang belum nonton...really?! tinggal dimana lu selama ini??!!  

Oiya, gue akan membuat list best 2010-2020 nanti di penghujung dekade ini ( tahun 2020 ), dengan asumsi dunia belum kiamat karena perang nuklir wk. 


Terakhir, selamat berpuasa!


No comments:

Post a Comment