15 January 2012

SRIGALA (1981)

Gue inget secara samar-samar pilem ini ketika waktu kecil menontonnya di TVRI selepas ngeliat Endang S. Taurina menyanyikan sebuah lagu sendu di acara Aneka Ria Safari.

Yang masih berkelebat dalam ingetan gue sih, disitu ada Barry Prima nya ( jagoan lokal sejati yang membuat sebuah pilem jadi wajib-tonton ). Selain itu gue masih inget kalo disini ada adegan beberapa lelaki yang menyelam di sebuah danau, cewek-cewek yang berkemah ditengah hutan, ama tokoh-tokoh yang kemudian ditemukan tewas dengan mengenaskan. Ceritanya? jangan tanya gue ceritanya. gue sama sekali nggak ngerti. Tapi gue masih inget, betapa saat itu gue cukup kecewa ketika menyadari bahwa ternyata tidak ada  sosok sundel bolong dalam pilem ini. Haha yeah, saat itu gue memang menganggap bahwa pilem horror adalah pilem tentang hantu, dan aslinya..gue bela-belain begadang sampe larut malam cuma buat ngeliat Barry Prima berkelahi dengan hantu.

Dan kekecewaan gue semakin memuncak, ketika menjelang akhir pilem diceritain ( sorry spoiler :P ) Barry Prima nya malah tewas! Apa-apaan ini?? sangat tidak masuk akal Barry Prima bisa tewas!! Itu tuh rasanya kaya ngeliat Ultraman dikalahin monster penghancur kota. sedih dan kecewa.

" Pilem yang aneh " gerutu gue saat itu.

Setelah bertahun-tahun kemudian, gue baru sadar 'Srigala' tuh pilem ber genre slasher-psikopat, bukan horror mistik kaya sebagian besar pilem lokal di zaman itu. itulah sebabnya gue nggak nemuin sundel bolong, kyai apa dukun di dalemnya. Dan kalo diinget2 lagi, kemungkinan besar ini adalah pelem slasher pertama di Indonesia, men! Ataukah, kalian bisa ngasih tau gue pelem slasher lokal sebelum ini?

Mengingatnya membuat gue segera dilanda keinginan buat nonton pilem ini lagi. Dan Blar! sebuah channel di yutub ternyata sudah menyediakan pilem ini buat diunduh haha.

jadi, mari kita langsung aja ke review nya hehe.

Storyline :



Aktifitas 3 penyelam yang sedang berburu harta karun ( Tomi -Barry Prima-, Johan -Rudy Salam- dan Caroko -nggak kenal- ) di danau 'Situ Angsana' terganggu oleh kedatangan 3 remaja ( Nina - Lydia Kandou-, Pono -Dorman Borisman- dan Hesti -nggak penting ).

Karena merasa terganggu, Caroko mencoba mengusir mereka dengan bercerita tentang keangkeran danau Situ Angsana, namun usahanya malah ditertawakan 3 remaja yang mengaku sebagai " para pecinta alam yang tidak suka merusak kelestariannya " itu.

Gagal mengusir, Nina dan Hesti diceritain malah segera terlibat asmara dengan Tomi yang macho dan Johan ( pria klimis berkumis tipis yang mahir mengumbar rayuan manis ). Ini membuat Caroko ( si brewok galak ) terlihat semakin tidak suka dengan kehadiran mereka. Sementara, Dorman Borisman sendiri hanya terlihat menggerutu saja sepanjang pilem.

Segalanya berjalan biasa saja, sampai suatu hari sosok misterius dari balik kegelapan hutan mulai muncul menebar teror.
Dari mulai mengebom ( iya, mengebom! ) dan menabrak speedboat sampe akhirnya membunuhi mereka satu persatu hingga hanya tersisa satu survivor yang akan berhadapan dengan sang pembunuh misterius dalam sebuah pertarungan hidup-mati dengan efek slow motion yang epik.

jreng!!!

Review : 



Seperti halnya 'Dukun Lintah' yang mengadaptasi 'Shiver' nya Cronenberg, 'Srigala' ini jelas-jelas nyomot ide ( dan scene ) dari Friday the 13th yang meledak setahun sebelum pilem ini rilis. Hanya saja, Sisworo Gautama Putra ( sutradara ) menggantikan kisah Jason Voorhess itu dengan cerita tentang perburuan harta karun di dasar danau, konspirasi-kriminal dan tak lupa menambahkan twist diakhir cerita yang kemungkinan akan membuat kalian tertawa nikmat karena menyadari betapa garingnya twist itu.

Dan seperti kebanyakan pilem horror tahun 80-an pula, 'Srigala' juga mempunyai banyak lubang-plot tersebar disana sini, akting-dialog-efek yang sangat lemah ( dikarenakan budget yang juga seikhlasnya ), sejumlah kebodohan menggelikan, dan beberapa momen "whattafuck?!" kocak.

Dalam salah satu momennya, Johan mencoba ngerayu Hesty dengan rayuan jantan ( gue asumsikan sebagai rayuan andalan pemuda di era 80-an ) yang akan membuat rayuan gombal abad millenium model " bapakmu tukang bla-bla-bla ya?" terasa cemen. Seperti inilah rayuannya :

" sungguh..bahkan kami sering menaklukkan puncak-puncak gunung..terutama..gunung-gunung yang indah dan mungil itu.."
Kata Johan sambil menatap ini :



" apa sih yang kau maksud..?" tanya Hesty .

" ehemm itu..dua gunung yang sejoli..yang bila digapai puncaknya..akan menemui kemesraan.."

Dan ajaib..beberapa detik kemudian mereka sudah mulai berciuman! jantan!.
Gue saranin kalian buat mulai mraktekin rayuan itu.

Ada adegan Nina yang nggak bisa berenang malah nyebur ke danau dan akhirnya nyaris tewas tenggelam, ada pula momen dimana Nina dan Hesty yang sebelumnya diceritain sebagai remaja penakut biasa tiba-tiba berkelahi ( karena masalah sepele ) dengan masing2 nya mengeluarkan jurus-jurus maut layaknya 2 pendekar silat, lalu jangan lewatkan penampilan psikopat paling idiot sepanjang masa yang setelah meneror Barry Prima kemudian malah menabrakkan speedboatnya sendiri ke arah bukit. Dan gue belum bercerita tentang pertarungan klimaks final girl vs psikopat dengan efek slow-motion yang bisa kalian liat di bagian ending?? haha.

Gue nggak akan menuliskan lagi analisa butut gue tentang kenapa pilem2 horror lokal 80-an terasa sangat menghibur dengan semua kelemahannya, semenjak gue udah menuliskannya disini dan disini
.

...........................



Awal tahun 80-an ketika sinema horror lokal sedang dibombardir horror-klenik, eksperimen Sisworo buat nawarin genre horror lain ( slasher-psikopat ) lewat pilem ini, sungguh berani kalo nggak mau dibilang bunuh diri. Sayangnya, gue pikir tidak seperti Pengabdi Setan yang gue anggep berhasil, 'Srigala' adalah salah satu Sisworo yang sangat mudah dilupakan ( seenggaknya buat ingetan gue personal ).

Gue pikir-pikir ini mungkin terjadi karena beberapa sebab :
- Di awal tahun 80-an, kuntilanak masih 5 kali lipet lebih menakutkan dari pembunuh berantai.
- 'Srigala' tidak terlihat ngasih sentuhan-lokal kedalamnya, atmosfir thrillingnya tuh jadi nggak nyampe. Diving, speedboat, camping, harpun, psikopat adalah beberapa hal yang membuat gue saat itu menguap berkali-kali.
-Barry Prima is Dead! nggak ada alesan buat nginget pilem dimana Barry Prima tewas dan gagal menunjukkan otot-ototnya.


'Land of the Dead' terinspirasi oleh adegan ini

Dalam 'Srigala', Sisworo juga sebenernya udah berusaha ngebangun tensi dengan menciptakan konflik dan rasa saling curiga diantara para tokohnya. Namun, semuanya terasa dipaksakan ( mungkin karena script yang lemah ) sampe akhirnya dia berubah menjadi menggelikan. Terlalu banyak durasi yang terbuang percuma. Dan yang paling fatal, dia nggak berhasil bikin satupun memorable scene kaya setan ngetok jendela apa kepala keluar dari kloset yang legendaris itu. So, seandainya tidak ada yutub, bener-bener terlupakanlah pilem ini.

Ngebahas ini, membuat gue keingetan ama pilem horror-lokal masa kini. Gue sih nggak bilang bahwa Indonesia hanya cocok membuat pilem horror-hantu ( gue juga tidak sedang membicarakan pilem2nya KKdheeraj apa Nayato..itu bukan pilem horror! ). Kisah tentang psikopat atau tema lain ( alien / monster misalnya ) pun sangat menantang buat digali sebenernya. 

Tapi gimana sebuah pilem jadi mempunyai karakter, ciri khas dan kedekatan dengan penonton lokalnya sendiri adalah beberapa hal yang gue pikir sering dilupain sineas horror kita.

------------------



Overall, skip semua poin minus diatas, karena 'Srigala' masih cukup menghibur dengan segala keluguannya. 

Kalian bisa ngeliat adegan zombie-zombie yang keluar dari danau dan menyeret Lydia Kandou, kejar-kejaran speedboat ala James Bond, sebuah ledakan konyol, beberapa cheap-gore ( sayang killing scene nya ditampilkan off-screen ataukah terkena sensor? ) dan terakhir jika kamu mengira Julie Estelle adalah satu-satunya final-girl dalam sinema slasher lokal, kamu harus cek aksi Lyida Kandou mengalahkan psikopat disini hehe.

Lepas dari itu semua ini tetep pilem nya Barry Prima, Sisworo Gautama Putra dan kemungkinan besar adalah pilem slasher pertama di Indonesia..so, sekali lagi, kalian kudu ngecek ini.





Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


7 comments:

  1. Momen paling gue suka di film ini adalah death scene kejepit kap mobil. Keren banget.

    ReplyDelete
  2. Wow, itu beneran yang part terakhir dibikin slow motion? Apa cuma karena videonya gangguan? :D

    ReplyDelete
  3. @riarr : waduh...gue ga nemuin scene kejepit kap mobil di versi yutub ini, kayanya ke potong.. sial..ada juga si caroko dilindes jip. haha sayangnya, lagi-lagi itu juga kepotong.

    @rasyid : itu beneran slow-mooootioonnn hahaha

    ReplyDelete
  4. mantap gan...
    Oh ya gan, klo pelemnya KK Dheraj sama Nayato masup genre apa gan klo bukan horor ?? Bokep juga nggak tuh...:D

    ReplyDelete
  5. @firman itu genre yang sama kaya salah satu episod OVJ dimana Aziz jadi pocong dan beha Nunung melorot.

    ReplyDelete
  6. bang tiap hari saya selalu ngecek blog ini buat liat postingan terbarunya,reviewnya keren2,ane dukung bang ringgo jadi ketua LSF biar kaga ada lagi adegan yang perlu di cut.. gkgkkk

    ReplyDelete
  7. @shaddow :
    makasih bro, tapi ada baiknya kamu ngeceknya sebulan sekali saja semenjak gue nggak se intens dulu mosting reviewan baru. hehe oh ya, blog lu gue link yap.

    ReplyDelete