IMPETIGORE

IMPETIGORE

MODUS ANOMALI

MODUS ANOMALI

SRIGALA (1981)

Posted by Ringo on 15 Januari 2012 , under , , , , | comment (7)



Gue inget secara samar-samar pilem ini ketika waktu kecil menontonnya di TVRI selepas ngeliat Endang S. Taurina menyanyikan sebuah lagu sendu di acara Aneka Ria Safari.

Yang masih berkelebat dalam ingetan gue sih, disitu ada Barry Prima nya ( jagoan lokal sejati yang membuat sebuah pilem jadi wajib-tonton ). Selain itu gue masih inget kalo disini ada adegan beberapa lelaki yang menyelam di sebuah danau, cewek-cewek yang berkemah ditengah hutan, ama tokoh-tokoh yang kemudian ditemukan tewas dengan mengenaskan. Ceritanya? jangan tanya gue ceritanya. gue sama sekali nggak ngerti. Tapi gue masih inget, betapa saat itu gue cukup kecewa ketika menyadari bahwa ternyata tidak ada  sosok sundel bolong dalam pilem ini. Haha yeah, saat itu gue memang menganggap bahwa pilem horror adalah pilem tentang hantu, dan aslinya..gue bela-belain begadang sampe larut malam cuma buat ngeliat Barry Prima berkelahi dengan hantu.

Dan kekecewaan gue semakin memuncak, ketika menjelang akhir pilem diceritain ( sorry spoiler :P ) Barry Prima nya malah tewas! Apa-apaan ini?? sangat tidak masuk akal Barry Prima bisa tewas!! Itu tuh rasanya kaya ngeliat Ultraman dikalahin monster penghancur kota. sedih dan kecewa.

" Pilem yang aneh " gerutu gue saat itu.

Setelah bertahun-tahun kemudian, gue baru sadar 'Srigala' tuh pilem ber genre slasher-psikopat, bukan horror mistik kaya sebagian besar pilem lokal di zaman itu. itulah sebabnya gue nggak nemuin sundel bolong, kyai apa dukun di dalemnya. Dan kalo diinget2 lagi, kemungkinan besar ini adalah pelem slasher pertama di Indonesia, men! Ataukah, kalian bisa ngasih tau gue pelem slasher lokal sebelum ini?

Mengingatnya membuat gue segera dilanda keinginan buat nonton pilem ini lagi. Dan Blar! sebuah channel di yutub ternyata sudah menyediakan pilem ini buat diunduh haha.

jadi, mari kita langsung aja ke review nya hehe.

Storyline :



Aktifitas 3 penyelam yang sedang berburu harta karun ( Tomi -Barry Prima-, Johan -Rudy Salam- dan Caroko -nggak kenal- ) di danau 'Situ Angsana' terganggu oleh kedatangan 3 remaja ( Nina - Lydia Kandou-, Pono -Dorman Borisman- dan Hesti -nggak penting ).

Karena merasa terganggu, Caroko mencoba mengusir mereka dengan bercerita tentang keangkeran danau Situ Angsana, namun usahanya malah ditertawakan 3 remaja yang mengaku sebagai " para pecinta alam yang tidak suka merusak kelestariannya " itu.

Gagal mengusir, Nina dan Hesti diceritain malah segera terlibat asmara dengan Tomi yang macho dan Johan ( pria klimis berkumis tipis yang mahir mengumbar rayuan manis ). Ini membuat Caroko ( si brewok galak ) terlihat semakin tidak suka dengan kehadiran mereka. Sementara, Dorman Borisman sendiri hanya terlihat menggerutu saja sepanjang pilem.

Segalanya berjalan biasa saja, sampai suatu hari sosok misterius dari balik kegelapan hutan mulai muncul menebar teror.
Dari mulai mengebom ( iya, mengebom! ) dan menabrak speedboat sampe akhirnya membunuhi mereka satu persatu hingga hanya tersisa satu survivor yang akan berhadapan dengan sang pembunuh misterius dalam sebuah pertarungan hidup-mati dengan efek slow motion yang epik.

jreng!!!

Review : 



Seperti halnya 'Dukun Lintah' yang mengadaptasi 'Shiver' nya Cronenberg, 'Srigala' ini jelas-jelas nyomot ide ( dan scene ) dari Friday the 13th yang meledak setahun sebelum pilem ini rilis. Hanya saja, Sisworo Gautama Putra ( sutradara ) menggantikan kisah Jason Voorhess itu dengan cerita tentang perburuan harta karun di dasar danau, konspirasi-kriminal dan tak lupa menambahkan twist diakhir cerita yang kemungkinan akan membuat kalian tertawa nikmat karena menyadari betapa garingnya twist itu.

Dan seperti kebanyakan pilem horror tahun 80-an pula, 'Srigala' juga mempunyai banyak lubang-plot tersebar disana sini, akting-dialog-efek yang sangat lemah ( dikarenakan budget yang juga seikhlasnya ), sejumlah kebodohan menggelikan, dan beberapa momen "whattafuck?!" kocak.

Dalam salah satu momennya, Johan mencoba ngerayu Hesty dengan rayuan jantan ( gue asumsikan sebagai rayuan andalan pemuda di era 80-an ) yang akan membuat rayuan gombal abad millenium model " bapakmu tukang bla-bla-bla ya?" terasa cemen. Seperti inilah rayuannya :

" sungguh..bahkan kami sering menaklukkan puncak-puncak gunung..terutama..gunung-gunung yang indah dan mungil itu.."
Kata Johan sambil menatap ini :



" apa sih yang kau maksud..?" tanya Hesty .

" ehemm itu..dua gunung yang sejoli..yang bila digapai puncaknya..akan menemui kemesraan.."

Dan ajaib..beberapa detik kemudian mereka sudah mulai berciuman! jantan!.
Gue saranin kalian buat mulai mraktekin rayuan itu.

Ada adegan Nina yang nggak bisa berenang malah nyebur ke danau dan akhirnya nyaris tewas tenggelam, ada pula momen dimana Nina dan Hesty yang sebelumnya diceritain sebagai remaja penakut biasa tiba-tiba berkelahi ( karena masalah sepele ) dengan masing2 nya mengeluarkan jurus-jurus maut layaknya 2 pendekar silat, lalu jangan lewatkan penampilan psikopat paling idiot sepanjang masa yang setelah meneror Barry Prima kemudian malah menabrakkan speedboatnya sendiri ke arah bukit. Dan gue belum bercerita tentang pertarungan klimaks final girl vs psikopat dengan efek slow-motion yang bisa kalian liat di bagian ending?? haha.

Gue nggak akan menuliskan lagi analisa butut gue tentang kenapa pilem2 horror lokal 80-an terasa sangat menghibur dengan semua kelemahannya, semenjak gue udah menuliskannya disini dan disini
.

...........................



Awal tahun 80-an ketika sinema horror lokal sedang dibombardir horror-klenik, eksperimen Sisworo buat nawarin genre horror lain ( slasher-psikopat ) lewat pilem ini, sungguh berani kalo nggak mau dibilang bunuh diri. Sayangnya, gue pikir tidak seperti Pengabdi Setan yang gue anggep berhasil, 'Srigala' adalah salah satu Sisworo yang sangat mudah dilupakan ( seenggaknya buat ingetan gue personal ).

Gue pikir-pikir ini mungkin terjadi karena beberapa sebab :
- Di awal tahun 80-an, kuntilanak masih 5 kali lipet lebih menakutkan dari pembunuh berantai.
- 'Srigala' tidak terlihat ngasih sentuhan-lokal kedalamnya, atmosfir thrillingnya tuh jadi nggak nyampe. Diving, speedboat, camping, harpun, psikopat adalah beberapa hal yang membuat gue saat itu menguap berkali-kali.
-Barry Prima is Dead! nggak ada alesan buat nginget pilem dimana Barry Prima tewas dan gagal menunjukkan otot-ototnya.


'Land of the Dead' terinspirasi oleh adegan ini

Dalam 'Srigala', Sisworo juga sebenernya udah berusaha ngebangun tensi dengan menciptakan konflik dan rasa saling curiga diantara para tokohnya. Namun, semuanya terasa dipaksakan ( mungkin karena script yang lemah ) sampe akhirnya dia berubah menjadi menggelikan. Terlalu banyak durasi yang terbuang percuma. Dan yang paling fatal, dia nggak berhasil bikin satupun memorable scene kaya setan ngetok jendela apa kepala keluar dari kloset yang legendaris itu. So, seandainya tidak ada yutub, bener-bener terlupakanlah pilem ini.

Ngebahas ini, membuat gue keingetan ama pilem horror-lokal masa kini. Gue sih nggak bilang bahwa Indonesia hanya cocok membuat pilem horror-hantu ( gue juga tidak sedang membicarakan pilem2nya KKdheeraj apa Nayato..itu bukan pilem horror! ). Kisah tentang psikopat atau tema lain ( alien / monster misalnya ) pun sangat menantang buat digali sebenernya. 

Tapi gimana sebuah pilem jadi mempunyai karakter, ciri khas dan kedekatan dengan penonton lokalnya sendiri adalah beberapa hal yang gue pikir sering dilupain sineas horror kita.

------------------



Overall, skip semua poin minus diatas, karena 'Srigala' masih cukup menghibur dengan segala keluguannya. 

Kalian bisa ngeliat adegan zombie-zombie yang keluar dari danau dan menyeret Lydia Kandou, kejar-kejaran speedboat ala James Bond, sebuah ledakan konyol, beberapa cheap-gore ( sayang killing scene nya ditampilkan off-screen ataukah terkena sensor? ) dan terakhir jika kamu mengira Julie Estelle adalah satu-satunya final-girl dalam sinema slasher lokal, kamu harus cek aksi Lyida Kandou mengalahkan psikopat disini hehe.

Lepas dari itu semua ini tetep pilem nya Barry Prima, Sisworo Gautama Putra dan kemungkinan besar adalah pilem slasher pertama di Indonesia..so, sekali lagi, kalian kudu ngecek ini.





Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


THE DEAD ( 2010 )

Posted by Ringo on 20 Desember 2011 , under , , , | comment (5)



Kalo ditanya makhluk horror impor yang punya tampilan visual paling mengerikan, barangkali gue akan dengan cepat menjawabnya : zombie. 

Zombie tuh orang mati, ( yang karena beberapa sebab menggelikan ) bisa idup lagi lengkap dengan luka-luka di tubuhnya. Bisa perutnya sobek, mata nyoplok, atau tangannya buntung. Terus dengan bodi ancur kaya gitu dia ngerayap sambil ngeluarin erangan nggak jelas, ( kemungkinannya zombie ini menggumam 'Brraainnns..", tapi kadang2 kedengeran seperti "Bryaaaann.." sebagian lagi malah " Bieberrrrr " ) nyari siapa aja yang masih idup buat dimakan otaknya. Dan lebih gawatnya, jumlah mereka tuh biasanya banyak! kalo kata Z, mereka nggak beda jauh sama hipster, sementara gue cuma nemuin sedikit persamaan mereka pada calon penumpang KRL di stasiun Depok Baru. Sama-sama berwajah kosong.

Tongkrongan kaya gitu membuat zombie selama bertahun2 berhasil memuncaki klasemen liga horror versi pribadi meninggalkan jauh pesaing2nya yg tidak konsisten karena mungkin salah strategi apa pelatihnya yang emang buruk. Nasib paling buruk menimpa Vampire yang kini sudah ter degradasi ke divisi dua saking keterlaluan tampan ( dan sixpack! ) nya.

Nah, selama ini gue lebih mengenal zombie ini sebagai mayat2 orang Eropa/Amerika ( sebagian kecil Asia ) yang bangkit kembali dan berjalan gontai menyusuri jalanan kota megapolitan mereka yang porak-poranda.

Akan sangat menarik, kalo seseorang nyoba mindahin kisah tentang zombie2 ini kesebuah benua dimana semua penderitaan dan horror-dunia sepertinya emang bermula dari sana : Afrika.

Storyline : 


Diceritain Letnan Brian Murphy ( Rob Freeman ) terdampar di sebuah pantai, setelah pesawat-evakuasi yang ditumpanginya jatuh ke laut. Belum sempat Brian mengatur nafas, dia ngeliat sosok-sosok gontai perlahan mendekatinya. Itu Zombie! 

Yah, ditengah perang ( antara Afrika dan Amerika ) yang sedang terjadi, Afrika tiba-tiba dilanda wabah zombie dengan penyebab yang nggak diceritain. Nyaris 70% penduduk Afrika udah jadi zombie, 20% lainnya pasti udah tewas, praktis yang kesisa tinggal militer2 ama siapa aja yang masih megang shotgun apa golok buat mempertahankan diri. Letnan Brian menjadi salah satu dari persentasi kecil itu.

Sekarang, dari pantai dimana dia terdampar, Letnan Brian sadar harus terus menjaga kemungkinan hidupnya dengan menerobos desa-desa yang sudah dikuasai zombie, lalu menempuh jarak puluhan kilometer, buat menuju suatu tempat di mana dia yakin harapan untuk bisa segera keluar dari benua terkutuk itu masih ada.

Review :

ternyata ada pocong-zombie di Afrika
  
Gue akan memulai review dengan ngebahas sedikit perdebatan paling penting didunia setelah debat " kenapa Mr.Krabb yang kepiting bisa mempunyai puteri seekor ikan paus? " yaitu tentang " Slow Zombie vs Fast Zombie ".

Di satu kubu ada penyembah George Romero yang mengklaim bahwa zombie itu sejatinya berjalan lambat. Mereka menilai zombie-cepat itu bagaikan poser yang udah mengkhianati konsep atmosperik-apokaliptik dalam pilem zombie 60-70 an pujaan mereka menjadi sekedar pilem horror-aksi belaka.
Sementara kubu 'Running Zombie' menginterupsi ide itu dengan berpendapat zombie lambat bener-bener membosankan. Sama sekali tidak mengancam, konyol, lemah dan sangat mudah dibunuh. Mereka lalu menambahkan bahwa zombie-cepat lebih berhasil dalam membuat sebuah pilem mendapat gelar " seru, menegangkan dan penuh aksi ".

Dari sini kita bisa ngeliat running-zombie fan kemungkinan adalah penonton2 zombie generasi 2000-an keatas yang menemukan kenyataan bahwa 'Dawn of The Dead' versi Zack Snyder dan '28 Days Later ' nya Danny Boyle adalah 2 pilem zombie terbaik di dunia. Seperti itulah harusnya sosok zombie-ideal. cepat, bengis, brutal, dan kuat. Bisa dimaklumi ketika kemudian mereka ngubek2 judul lain demi mendapatkan pilem yang similiar, akhirnya malah menggerutu ketika yang didapatinya hanya sosok monster menyedihkan yang bahkan nenek-nenek hamil pun masih bisa menyelamatkan diri darinya.

Seperti zombie yang ada dalam pilem ini.

Beneran prends, zombie2 dalam pelem ini bergerak dengan kecepatan hanya 20cm/detik dan baru menyerang ketika dia udah berjarak 50 cm dari target. Itu satu hal yang jarang kejadian, soalnya dalam jarak 2 meter, protagonis kita sih biasanya udah mecahin batok kepala zombie-zombie ini pake pistol. Dan di sela-sela nunggu zombie lainnya mendekat, kalo mau protagonis kita sebenernya masih punya banyak waktu buat nge-tweet dulu.

jadi, dengan villain yang sama sekali nggak mengancam kaya gitu, ini akan jadi pilem zombie konyol-membosankan gitu?


Untungnya gue bukan hardline-fan dari zombie-cepat, bukan pula puritan fanatik slow-zombie. Lebih tepatnya gue adalah openminded-liberal lintas zombie fan. Maksud gue, kagak peduli zombie nya cepet apa lambat, kalo pilemnya ternyata jelek gue bakalan bilang kalo itu jelek, dan sebaliknya kalo pilemnya bagus ya gue bilang bagus. Itu juga artinya, gue kaga peduli kenapa Mr.Krabb punya puteri seekor paus.

Kenyataanya, walau zombie disini emang nggak pernah berpotensi untuk membuat 'The Dead' menjadi seru dan penuh aksi ( yang artinya : membosankan ) , tapi kelambatannya justru ngasih sesuatu yang nggak gue dapetin pas ngeliat zombie di 'zombieland'. Sesuatu yang udah lama banget nggak gue rasain semenjak terakhir..mm.. kapan ya.. remake 'Night of the Living Dead' nya Tom Savini? yaitu : aura atmosperik-creepy-apokaliptik.

Bayangin adegan mayat-mayat yg berjalan gontai dengan latar belakang lanskap Afrika yang eksotis. Mayat-mayat berjalan ini ada dimana-mana. Di pantai, ladang jagung, perkampungan, padang rumput, gurun, bukit, atau hutan. Dan Afrika punya banyak SDM untuk membuat sosok zombie keliatan lebih serem. Anjir, gue bukannya rasis tapi zombie kulit item 2 kali lebih creepy dari zombie Eropa :D



Sutradara Ford Brothers nyoba ngembaliin zombie gaya-lama yang udah dipatenkan Romero dan mindahin settingnya ke Afrika. 

Sama seperti Romero, Dia juga nggak ngasih eksplansi tentang apa penyebab dari wabah ini. Aslinya, gue juga nggak terlalu peduli sih segala macam eksplanasi penyebab wabah-zombie yang pastinya akan menggelikan hehe. Film2 zombie 60-70 an emang kebanyakan ngejadiin zombie hanya sebagai 'latar-belakang' dan lebih suka ber fokus pada eksplorasi-karakter, drama sambil sesekali ngasih sedikit komentar sosial di sana-sini. Style itu yang diadopsi Ford Brothers dalam 'The Dead'. Dia nggak pernah menempatkan zombie disini sebagai ancaman utama, lebih berfokus pada karakter, ngebangun drama, ama ada beberapa dialog atau adegan disini yang gue asumsiin sebagai komentar/kritik untuk beberapa isu sosial, walaupun secara cepat orang mungkin hanya akan nginget ini sebagai pelem dimana 'orang kulit putih selama nyaris 2 jam secara konstan ngeledakin kepala orang kulit item pake pestol'

'The Dead' tuh lebih mirip drama road-movie rasa 'Diary of The dead' ( mengingat protagonis kita yang berpindah dari satu tempat ketempat lain, ketimbang terjebak di sebuah ruangan sempit ).  Kita hanya akan diajak buat ngikutin perjalanan survival Letnan Brian di benua yang sedang terkena wabah-zombie menuju sebuah tempat bernama 'harapan'. Semacem 'The Road' dengan banyak zombie, gore ama darah. jadi, gue pikir ini akan lebih pas kalo dia diberi judul 'The Road of the Dead'.  Lagipula, bukankah 'The Dead' kedengeran kaya salah satu judul pelem paling nggak kreatif di dunia?



Sayangnya cukup banyak part yang seharusnya mampu menciptakan tensi justru berakhir dengan cara yang mengecewakan. Di bagian ini, Ford Bro's gue pikir kurang mampu mengeksplorasi semua potensi dalam pelemnya dan malah terjebak pada sesuatu yang repetitive dan klise. contohnya, Berapa kali sih kita ngeliat adegan 'dilema' dalam pelem zombie.? Kamu tau kan apa yan gue maksud dengan adegan 'dilema'? Gue pikir scene ini sudah saatnya dihapus dari pelem zombie.

Sinematografinya sendiri bisa gue bilang bagus, di shot hanya dengan kamera 35mm, namun beberapa frame dramatis berhasil di capture. kamu bisa liat itu di opening-scene nya. Sementara, akting protagonis kita ( Rob Freeman ) sangat datar, monoton dan tidak istimewa, tapi kita seharusnya memang tidak berharap apa-apa soal skill-akting pada sebuah pelem zombie low-budget kaya gini.


Dan kalo ada hal paling mengesankan dari 'The Dead' selain atmosperik-creepy nya yang mengingatkan gue pada pelem zombie jadul, tentu itu adalah divisi gore-efek nya. Ada cukup banyak gore disini. Ya, setiap kali Letnan Brian berenti dari perjalanannya, setiap kali itu pula zombie-zombie bakal bermunculan..dan setiap kali itu pula dia bakal ngasih headshot. blown! Terdengar repetitif emang, tapi seenggaknya salah satu alesan gue nonton pelem zombie ( yaitu ngeliat orang nembakin kepala zombie ) cukup terpenuhi. Dan surprisenya dia hadir dengan efek yang lumayan bagus untuk ukuran low-budget. no-CGI tentu saja. Bahkan, selain headshot dia juga punya satu adegan yang berpotensi buat menjadi salah satu dari list 'most awesome exploding-head movie scene'. Cek aja hehe.

Oke, verdictnya 

"The Dead" sama sekali nggak punya aksi seru kaya yang udah pernah gue liat di 'The Horde', nggak ada hal konyol buat diketawain ( this movie is deadly serious! ), nggak ada boobs buat cuci mata ( bahkan nggak ada cewe didalemnya ), tapi dibalik itu dia mungkin bisa ngasih nafas segar buat audiens yang sedang jenuh dengan gelombang zombie-action/ zombie-komedi akhir-akhir ini, punya setting/lanskap yang menarik, dan sedikit ngingetin gue pada era kebangkitan zombie beberapa puluh tahun silam ketika dia belum bisa berlari, melompat, menyelam, memanjat, salto, parkour, kayang atau terbang.

Sekarang kendali ada ditangan kalian untuk memutuskan apakah mau nonton ini atau ngehapus judulnya dari daftar planning download bulan ini.

RATING:



Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

THE HUMAN CENTIPEDE 2 ( FULL-SEQUENCE )

Posted by Ringo on 28 November 2011 , under , , , , , | comment (2)



Masih inget Dr. Heiter? Dokter edan yang terobsesi menciptakan manusia kelabang dan sempat bikin sinema horror hiruk-pikuk dua tahun silam? aksinya dalam pelem itu ( The Human Centipede ) ternyata udah menginspirasi seorang penjaga area parkir di salah satu kota di Inggris buat ngewujudin teori '100% medically accurate' nya ke 'dunia nyata', menjadikan itu bukan hanya sekedar tagline pelem horror-medioker-murahan tapi juga sebagai terapi dari derita-psikologis yang dialaminya.

..............

Martin Lomax ( Laurence .R Harvey ) adalah seorang pengidap asma yang punya bobot ga beda ama atlit sumo, dia bekerja sebagai penjaga area parkir di sebuah kota yang keliatan sangat sepi ( dan nggak ada polisi ). Ibunya seorang renta yang udah nggak punya harapan hidup dan tiap hari memaki Martin dengan panggilan babi soalnya selain gendut, Martin emang sering berak dikasur (!), bokapnya di penjara karena kasus pelecehan seksual dan penyiksaan terhadap dirinya, dan sisa idup Martin sepulangnya dari tempat gawe dia dedikasikan buat nerima serangkaian tendangan dari tetangganya yang gue curigain adalah salah satu hooligan Tottenham Hotspurs.

Dengan kondisi kehidupan yang suram dan hopeless kaya gitu, Martin ternyata terobsesi dengan film The Human Centipede 1 ( THC1 ). Ya, waktu luangnya dia abisin buat bolak-balik nyetel pelem itu. Gue bilang bolak-balik, soalnya pas pelemnya abis Martin akan nge-rewind pelem itu buat nonton nya lagi dari awal. Terus pas pelem yang ditontonnya nyampe pada adegan tertentu dia akan ngambil ampelas ( iye, ampelas! ) buat masturbasi. Bukan itu aja, Martin juga ngumpulin foto2/gambar dari apa aja yang berhubungan ama pelem THC buat dijadiin kliping, nyimpennya di bawah kasur, terus nganggep itu sebagai kitab suci, ama oh iya satu lagi yang paling serem dia juga miara kelabang gede diakuarium, satu-satunya makhluk hidup yang bisa dia ajak ngobrol dan curhat.

Kalo udah gini, tinggal nunggu waktu aja buat si Martin akhirnya melakukan pembunuhan dan mraktekin teori '100% medically accurate' itu. Hanya saja, berbeda dengan Dr.Heiter, Martin berencana menciptakan manusia kelabang dengan menggunakan 12 manusia! ( kenapa 12? itu soalnya, populasi manusia di kota itu kayanya emang cuma 12 orang ) . Jadi dia mulai ngelumpuhin siapa aja yang keliatan dilayar pake pestol dan linggis ( termasuk Ashlynn Yennie --salah satu pemeran THC1-- yang dia tipu dengan berpura2 ngajak doi membintangi pelem Quentin Tarantino! haha! ) lalu ngumpulin semua korban nya ke dalam sebuah gudang besar. Oke, jadi bahan baku buat bikin manusia-kelabang udah siap. Tapi kemudian, apa yang seorang tukang parkir pecundang tau tentang ilmu medis dan operasi?

Review :
THIS REVIEW MAY CONTAIN SPOILER.


Beberapa tahun lalu gue pernah menulis review 'Funny Games', dimana menurut gue pelem itu sebenernya adalah sebuah statement-personal Michael Haneke buat sinema Holiwud & media lainnya yang dipenuhi glorifikasi kekerasan. Haneke menyerang langsung pengkonsumsi media kekerasan dengan membuat sebuah pelem yang secara psikologis terasa sangat 'menganggu' dan menyesakkan buat ditonton.

Nah, apa yang dilakuin Tom Six dalam The Human Centipede 2 ( THC 2 ), gue pikir nggak beda jauh ama apa yang udah dilakuin Haneke. Ya, ini lebih terasa seperti sebuah statement atau serangan balik!. Bedanya, selain bahwa dia bukan penganut anti-violence kaya Haneke, Tom Six menyasar para pengkritik pelem pertamanya ( yang banyak menuai respon negatif karena premis THC1 dinilai terlalu konyol sekaligus 'nggak ada apa-apanya' ketika diterjemahin dalam bentuk visual ). Tom Six seperti mempelajari semua review yang ditujukan buat THC1, dan memutuskan untuk men jawabnya dengan merilis pelem ini.

THC2 sengaja dibuat nyaris tanpa plot, dia juga nggak punya tensi ( kamu nggak akan nemuin adegan hide-run-seek disini ) sementara ruang untuk pengenalan karakter para korban nyaris nol. 


Jadi, setelah serangkaian adegan Martin membunuh, nembak dan ngelumpuhin korban-kobannya, praktis separo durasi pelem cuma berisi adegan Martin 'bereksperimen' di gedung tua dengan 12 korban dan seperangkat alat pertukangan yang nggak ada hubungannya ama dunia medis. Dan entah ini berita buruk apa berita baik, untuk adegan ini, Six membuang gaya mind-horror yang banyak dikritik dipelem pertamanya untuk kemudian secara vulgar ngasih apa yang dia anggep sebagai keinginan banyak penggemar horror. Dan yah, udah begitu aja. Selepas menit ke 50 itu, penonton dipaksa untuk berada di sebuah TKP buat menyaksikan aksi kejahatan sinting berlangsung. no plot, no tension..no hope. just watch it.

" bukankah emang ini yang kalian pengenin.? explicit mindless violence? so, nikmati aja " disuatu tempat kayanya Tom Six ngomong kaya gitu sambil menyeringai.

kalian bisa liat seringai nya..
Tingkahnya ini sedikit ngingetin gue sama anak kecil yang nyoba nunjukin gambar ulet buat nakut2in temen-emennya, tapi dia malah dilecehkan, karena kesel dia akhirnya membuat gambar uler sanca yang sedang mengunyah temen-temennya. harapannya, kali ini temen-temennya bakal pingsan. ( Satu hal yang dia lupa adalah, buat sebagian audiens yang kaya gituan mah bukan sesuatu yang offensive, tapi emang beneran menghibur. hihi. )

Sementara itu,  buat 'menyeret' penonton ikut hadir dalam TKP martin, Six seringkali membingkai Martin dalam sebuah frame jendela ruang parkir, dengan kamera ( di ibaratkan mata penonton ) nge-shoot tingkahnya dari sebuah tempat tersembunyi. Bener, penonton diposisikan sebagai pengintip.

Gue akui, walau apa yang tersaji di THC2 sebenernya udah mengalami 32 cuts oleh BBFC, Six bener2 ngebuktiin janjinya bahwa sequel ini akan membuat predecessor nya keliatan se imut kuda poni.


Sedikit berbaik hati, Six ngebalut semua hal menjijikan itu dalam format hitem-putih ( monochrome ), jadi penonton non-horror masih bisa menghibur diri sendiri dengan berkata " oh..itu pasti kecap yang muncrat dari kepalanya ". Tapi, secara kebetulan konsep hitam-putih ini justru membuat THC2 kerasa lebih dark, creepy, weird, kotor, sunyi dan oh ya..'berlumpur'. Dan kubangan lumpur itu bukankah sebuah tempat yang tepat buat seekor babi-gendut? cocok dah.

Dan walau dipenuhi adegan shocking-disturbing, beberapa adegan secara aneh malah menciptakan komedi-situasi-gelap, contohnya adalah adegan dimana martin menjemput Miss Yennie untuk datang ke lokasi suting 'Quentin Tarantino'. Haha. Cek pula aksi hillarious yang dia lakukan terhadap Martin di menit-menit akhir. it's hillarious-sick-joke haha.


Aksi Laurence R.Harvey disini ( yang walau nyaris nggak pernah ngomong sepanjang durasi + cuma masang ekspresi aneh ) menurut gue lebih creepy ( lebih tepatnya menjijikan ) daripada apa yang udah diusahakan Dieter Laser. Konon, kenapa akhirnya Tom Six memilih dia buat jadi villain disini adalah karena dalam audisi dia begitu sempurna ketika disuruh memperkosa kursi (?!).

Tampilnya penjahat seperti Martin juga seakan pemenuhan-keinginan Six atas review THC1 di blog ini, dimana gue menulis " tanpa harus secara konstan menampilkan wajah bengis seperti Dr.Hieter, siapa aja yang punya ide nyambungin manusia buat jadi kelabang pasti akan mengerikan, bahkan kalo dia punya wajah sepolos Baim. " Dan 2 tahun kemudian dia ngasih gue pria-pengidap asma-gendut-pecundang-tukang parkir. Untuk ini, gue cukup tekesan hehe

Dan terakhir, tokoh Martin Lomax ( seorang yang menganggap terlalu serius dan terobsesi pelem THC1 ) kayanya diciptain Tom Six buat menyindir sebagian horror-fan yang menurutnya juga terlalu serius menanggapi imajinasi/ide/konsep dari karya pertamanya.
Lewat karakter Martin Lomax, kali ini Six seperti berkata :

" kalian terlalu serius men, kenapa sih nggak nganggep aje imajinasi gue dalam THC1 tuh cuman sebagai 'karya seni' biasa..damn you lah pokona mah "

Gue pikir, dia harus mulai berfikir buat mengganti namanya menjadi Tom Sick.
Apalagi pas tau kalo dia sudah mempromosikan seri ke-3 nya ( dari rencana trilogi THC ) yang dijanjikan akan membuat THC2 ini kerasa kaya pelem Disney! Ohh...

.............................

begitulah interpretasi-instan gue ketika usai menonton ini.

Tapi jangan terlalu percaya juga sih, karena bisa aja gue salah.
Bisa aja sebenernya pelem ini sama kaya pelem horror-exploitation buruk lainnya yang nggak bemakna? Mungkinkah seperti halnya Martin Lomax, gue udah terlalu serius dengan mengkhayal tentang metafora dan statement-terselubung Tom Six yang sebenernya nggak ada? haha bisa jadi.

satu hal yang pengen gue kasi tau, gue mulai pengen masang poster Dr. Dieter dan miara kelabang.


hrrrrrrrrrrrhhhhh....

...................................................................

Don't take it too seriously.
kalo misalnya bener apa yang dlakukan Six disini terasa offensive, ini jelas sebuah serangan yang sungguh lemah, karena kalian bisa mencet tombol 'stop' kapan aja dan kembali ngelanjutin hidup.


RATING:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic


My Bloody Date with a Chainsaw Maid!

Posted by Ringo on 07 November 2011 , under , | comment (3)



Oke, gue tau ini udah lama hehe. Gue pertama kali nontonnya di Yutub kira-kira 3 atau 4 tahun kebelakang lah.

Kamu tau, harus ada sesuatu yang keren dalam sebuah pelem pendek 'animasi-bisu tanah-liat' ( istilah kerennya : Claymation --semacem 'Shaun The Sheep'-- ) buat bisa narik atensi gue. Nyatanya, apa yang dilakuin mahasiswa edan Jepang 'Takena Nagao' dalam 'Chainsaw Maid' bukan cuma berhasil narik atensi, tapi diluar dugaan dia juga berhasil membuat gue terpana untuk kemudian tanpa pikir panjang langsung ngelabelin ini sebagai 'cult-classic' . Tentu di genre spesifiknya : animasi.

Dan gue heran kenapa waktu itu nggak segera bikin review nya buat diposting disini. Khilaf kayanya.

Untungnya kemaren, pas gue lagi nyari2 file pelem Mei Sawai yang ke selip2 di folder, tanpa sengaja gue menemukan kembali pelem ini dengan sebuah animasi karya Takena Nagao lainnya yang nggak kalah keren. Dan ketika ditonton lagi, Anjir..gue tetep ngerasain sensasi yang sama seperti pertama kali nonton ini. Brutal, shocking, Hillarious, dan..extremely FUN! Setelah itu, gue segera dilanda perasaan haru karena kangen ama pelem-pelem ber genre stupid-horror-splatstick ( bukan slapstick! ) yang akhir-akhir ini sangat jarang ditemui. Cukup menyedihkan buat sinema horror, karena gue malah nemuinnya disebuah pelem animasi pendek 'tanah-liat'. Haha. So, temen-temen inilah 2 animasi pendek itu :

......................

'Chainsaw Maid'
Durasi : 6:52

Story : Seorang pembantu rumah tangga terpaksa harus bertempur mati-matian melawan segerombolan zombie demi menyelamatkan nyawa sang majikan dan puterinya.

Review : Dibuat dengan hanya menggunakan kamera-digital biasa dan software pengolah GIF, Takena Nagao membuat masterpiece ini selama 3 bulan. Secara cepat kita bisa ngerasain ke fanatikan Takena pada Romero's 'Night of the Living Dead', Tobe Hooper's "Texas Chainsaw Massacre' dan Sam Raimi's 'Evil Dead', ya..ini sepertinya emang homage buat pelem2 itu. tapi, brilliannya dia nambahin sesuatu yang fresh kedalam 'Chainsaw Maid', seperti misalnya gue baru kali ini ngeliat zombie yang muntahin seluruh organ-organ tubuhnya haha sekuen-sekuen pertarungan dengan zombie yang melibatkan gergaji mesin juga dibuat sungguh kreatif dengan pemilihan sudut gambar yang menarik. Beberapa detil kecil akan membuat kamu tersenyum, sementara ketiadaan dialog ( silent ) dan musik yang ultra-minimalis malah membuat ini semakin unik.



Secara keseluruhan, 'Chainsaw Maid' adalah sebuah sajian 'darah-dan-organ-tubuh-berhamburan-dengan cara yang konyol-nonstop-nyaris sepanjang 7 menit' yang akan membuat harimu menjadi menyenangkan!!. instant-classics. jadi gue heran, kenapa ini tidak segera dibuat versi non-animasi nya? tentunya dengan tim produksi yang kompeten.


'Bloody Date'
Durasi : 5 :07

Story : Kencan seorang perempuan tiba-tiba menjadi horror ketika psikopat ber-kampak muncul dan membunuh kekasihnya. Da lalu melarikan diri dan masuk ke sebuah rumah. Ternyata dirumah itu, horror yang lebih mengerikan sudah menunggu sang perempuan.

Review : Berbeda dengan 'Chainsaw Maid' yang nonstop-splatter, 'Bloody Date' adalah sebuah creepy-gothic-thriller-gore. Kali ini yang terasa adalah seperti kalo Tobe Hooper bikin pelem ama Dario Argento. Thrilling, brutal, dan 'gelap'. Sungguh menterror . Dan walau 'Chainsaw Maid' adalah favorit gue, tapi ending dalam 'Bloody Date' terasa lebih menyengat dan impressive. Love it.





..................

++  Kepopuleran 'Chainsaw Maid' di Yutub membuat seorang fan ( Lee Hardcastle ) membuat unofficial-sequel nya. Tampil tidak kalah brutal, kamu akan ngeliat gimana puteri sang majikan yang masih kecil beraksi dengan gergaji mesin nya haha.

Berbeda dengan musik dalam 'Chainsaw Maid' yang minimalis ( kayanya cuma pake piano maenan ), music scoring dalam ' Chainsaw Maid 2 ' dikerjakan lebih serius dan 'niat'. Takena Nagao sendiri masih dalam perencanaan merilis sequel 'CM' yang konon akan bersetting di zaman medieval. wow, can't wait! hehe tapi, buat sementara kamu bisa liat unnoficial-sequel bikinan Lee Hardcastle ini :

'Chainsaw Maid 2'
Durasi : 4 :10


...................

++ Oh iya, ada 1 lagi, ini sebuah fake trailer dari Takena yang dia buat untuk sebuah kontes fake trailer.  Judulnya, 'Dead Girl'. Ini sepertinya bercerita tentang zombie perempuan ber-kampak yang menuntut balas pada gerombolan kriminal ( Yakuza? ). Simak aja tagline nya yang khas 80-n nih :

"In a rotten town, there was a murder. A girl was killed. The weird force brought her back in this world again. She is greedy. She is powerful. She has no heartbeat and has no mercy. Violence brings violence. Now dangers from the grave has begun."

Bad-Asssssss! Kalo udah gini, gue jelas berharap ini nantinya bakal berkembang menjadi bukan cuma sekedar fake trailer dan animasi tanah liat ( atau adonan kue )



Oke, so..Buat yang belum nonton, segera buffer video diatas. Gue yakin, bahkan dengan kecepatan modem yang menyedihkan, film pendek diatas masih bisa kamu nikmati :) Kalo masih nggak bisa, tentu ini waktu yang tepat buat menggergaji modem kamu.

Ciao!

Related Posts with Thumbnails