21 March 2010

SINEMA EKSPLOITASI : JAKA SEMBUNG ( 1981 )

Oke oke gue tahu kalian pasti bertanya-tanya membaca judul postingan kali ini.
Jaka Sembung? bukannya ini film laga-silat? terus kenapa masuk ke blog yang ngakunya 'Blog Horror??'
" Blog Horror macam apa ini?!!" hahaha demikian pasti protes kalian.

hehe sabaaar.. emang, kalo diinget-inget, bukan kali ini aja 'HorrorPopcorn' nampilin review film yang sebenernya kurang tepat kalo dilabelin film horror ( namun emang punya elemen2 film horror di dalamnya ). sebut saja 'M' yang ngereview 'Inglorious Basterds'( ini letak horrornya dimana sih? hehe ) atau 'Z' dengan 'Machine Girl', 'Doomsday', atau 'Tokyo Gore Police' yang kesemuanya kayanya lebih pas kalo dikasi label : 'sinema-eksploitasi'.

Naah, kita udah nyampe 'sinema -eksploitasi' hehe
Sinema-Eksploitasi --singkatnya aja-- adalah sebuah genre film yang didalamnya menyajikan adegan kekerasan-berlebihan, ledakan-ledakan besar, kendaraan dan senjata besar, seks & ketelanjangan, sadisme & darah, karakter-karakter aneh ( raksasa, kerdil, botak, cacat, ), kehancuran, pemberontakan dan huru-hara. Fokus filmnya emang kesitu, yaitu mengeksploitasi dengan extravaganza hal-hal yang --bagi sebagian orang akan dibilang --selera rendahan ( dan emang selera-rendah hehe ), sementara soal jalan cerita, dialog, logika dan plot, itu mah nomer kesekian belas gitu hehehe. Untuk lebih detilnya klik disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Exploitation_film

Bedanya ama sinema-horror, sinema -eksploitasi ini nggak fokus mencoba ngelibatin emosi demi terciptanya rasa takut/suspense/thriller dll seperti apa yang diusahakan dengan keras oleh film-horror. Dia cuma nampilin non stop-action full ledakan --dengan efek cheesy karena kurang dana-- nudity, ama potongan tubuh bertebaran. haha. Dan kalo emang cuma itu yang kamu butuhin buat FUN, ya udah selamat kamu adalah salah satu penggemar : sinema-eksploitasi.

Silahkan baca artikel dibawah ini untuk lebih mengenal sinema-eksploitasi :

Dan yup, meski sunyi dari publikasi media massa mainstream, genre ini mempunyai pemujanya sendiri, penggemar fanatik-militan yang membuat situs2/blog semacam : MondoMacabro, TROMA, Cinesploitation dll tetep eksis sampe sekarang.

mereka merayakan keterpinggiran, hal-hal yang tak akan ditonton dan dinikmati oleh penonton arus utama, khususnya menyajikan transfregi norma social dan estetis. 
-Oliver Drew. dikutip dari : "Cult Fan Boys" Bertemu Leak dan Jaka Sembung-

Sementara di Indonesia sub-kultur yang menggemari film2 jelek dan tolol kaya gini, sedikit demi sedikit mulai terbangun dengan ramainya sebuah thread di Forum Movie Kaskus asuhan Bang Vivid yang udah beberapa kali sukses menyelenggarakan acara 'Munbar' ( Muntah Bareng ) nonton film-film ber 'rating-kancut + tinja'  lokal. Haha.

Okelah, soal 'Indonesian-Exploitation-Cinema' mungkin akan gue bahas di lain kesempatan. Kita kembali ke sinema-eksploitasi, Ini contoh film2nya :


Nah udah sampe sini, akhirnya bisa kita dapati kalo 'sinema-eksploitasi' itu nggak jauh-jauh amat hubungannya ama Sinema-Horror.  Sama-sama eskapis dan masih tetangga deket ( ataukah salah satu sub genrenya?? correct me if i'm wrong.  ) hehehe.. dan film yang akan gue review di bawah ini : 'Jaka Sembung'  --walaupun mengambil genre laga-silat-- adalah film yang boleh dilabelin sebagai film-eksploitasi. ( Bahkan film yang mempunyai judul internasional 'The warrior' ini, menjadi salah satu film yang banyak dicari oleh para penggila-sinema -eksploitasi diluar sana. )
Dia nggak beda jauh dan punya elemen2 similiar ama : 'Machine Girl', 'Doomsday', 'Tokyo Gore Police' atau  'Planet Terror' sekalipun.  Jadi, teuteup dooong masih boleh masuk blog ini :D

Terakhir, karena gue hanya 'fan' dan bukan pengamat-sinema profesional, silahkan di koreksi kalo gue salah menulis :)

..............................................

JAKA SEMBUNG

Jaka Sembung sebenarnya adalah sebuah pahlawan-fiktif asal kandanghaur, Indramayu yang diangkat kelayar lebar berdasarkan komik-silat karya 'Djair'.

Film dibuka dengan adegan para Kompeni Belanda menggiring para tawanan untuk melakukan kerja Rodi. Diantara tawanan itu adalah Parmin yang lebih dikenal dengan nama 'Jaka Sembung' ( Barry Prima ).

Tak tahan melihat kekejaman kompeni memperlakukan tawanan, Jaka pun beraksi dan melawan.  Kerusuhan terjadi, dan tak lama kemudian, Jaka berhasil melarikan diri.
Kabar ini segera membuat berang  Komandan Kompeni ( Dicky Zulkarnaen ), yang langsung menggelar sayembara dengan iming2 hadiah untuk menangkap kembali Jaka Sembung.

Peserta pertama sayembara adalah 'Kobar'. Seorang pendekar botak-brewokan-bertubuh gempal yang mampu menyemburkan api dari mulutnya. Namun malang, dia berhasil dikalahkan Jaka dan tewas dengan cara mengenaskan. Pembunuh bayaran lainnya juga tak sanggup menangkap Jaka Sembung.

Sampai Akhirnya datanglah seorang dukun sakti bernama Ki Hitam ( Him Damsyik ), dia menawarkan jasa pada kompeni untuk menghidupkan kembali pendekar-super-sakti 'Rawarontek'.  Syaratnya adalah potongan kepalanya yang tergantung di sebuah pohon harus disatukan lagi dengan tubuhnya. Kompeni setuju. maka, dengan mantra ajaibnya, Ki Hitam membangunkan tubuh tanpa kepala Rawarontek untuk berjalan menuju tempat dimana potongan kepalanya tergantung! hrrr..bayangin, adegan mayat tanpa kepala berjalan dengan seorang dukun merapalkan mantra dibelakangnya..kurang creepy apalagi coba? hahaha
Dan benarlah ketika potongan kepala itu nemplok di leher, Rawarontek pendekar-super-sakti tanpa tanding itu bangkit dari kematiannya dan siap menjadi ancaman buat pahlawan kita : Jaka Sembung! lalu gimana dahsyatnya the ultimate-battle Jaka Vs Rawarontek? lebih baik kalian nonton sendiri filmnya :D

REVIEW:

Well, sutradara Sisworo Gautama Putra tentunya tak pernah menyangka kalo 'jaka sembung' bakalan dipuja para penggemar sinema-cult-exploitation internasional. Berkat film ini pula, Barry Prima mempunyai penggemar militan-nya sendiri, lihat video tribute dibawah ini yang dibikin oleh salah satu penggemarnya di Jerman :



Pada zamannya ini sungguh film action-megah-blockbuster-mainstream yang membuat bioskop 'Mulya' di kampung gue dan bioskop-bioskop di seluruh Indonesia dibanjiri penonton.  Efek yang ditampilkan disini juga, efek paling canggih yang bisa di sajikan di sinema-lokal. Kaga ada niat buat ngelucu. Pol-pol an lah. Gue masih ingat bagaimana penonton pada saat itu, begitu larut pada jalan cerita dan bersorak-sorai ketika sang pendekar muncul dengan gayanya yang keren pada saat-saat genting.

 Itu pengalaman-sinematik yang susah sekali didapat sekarang, dimana referensi dan standar kita akan sebuah film mengalami peningkatan.

Jadi, lupain plot-hole nya yang menganga dimana-mana, lupain efek-nya, lupain akting para aktornya, lupain dialog2 nya yang dangkal. Posisikan diri kamu sebagai penonton bioskop di tahun 80-an.

dengan jalan cerita yang sederhana, di film ini kamu akan disuguhin aksi-perkelahian nonstop dari awal sampe abis yang biasanya berakhir dengan ekspos seseorang yang meregang nyawa secara mengenaskan.  Nudity emang hadir minimal disini, namun itu dilunasi ama adegan-adegan yang kalo di zaman sekarang kemungkinan akan habis digunting sensor :  

Mulut ditusuk bambu runcing, kepala termutilasi, penyaliban, tangan dipaku, mata dicolok dan yang paling gruesome adalah ketika Ki sapu Angin -guru Jaka sembung- mencongkel dan memindahkan bola mata Surti. Wow..kalo pengen ngeliat gimana dua bola mata melayang-layang, nonton film ini! wkwkw mungkin ini yang nyebabin film ini dilabelin : Exploitation.


Pertarungan terakhir Jaka VS rawarontek tak kalah epic. Pasalnya, Rawarontek ini memiliki ilmu hitam dahsyat, dimana dia bisa menyatukan kembali bagian tubuhnya yang terpotong. Mirip ama manusia timah di Terminator hehe. Pertarungan ini sendiri diakhiri adegan 'hillarious-weird-mutilated' yang akan membuat penggemar genre ini semakin bersorak riang. Hahaha

............................

Walhasil,  pada zaman dulu Jaka Sembung adalah film eksyen-mainstream yang bikin kita terkesima, namun sekarang....ABSOLUTELY STUPID MOVIE TAPI 100% BIKIN FUN, RENYAH dan MENGHIBUR !! dan gue kecanduan nonton film ginian :D

7/10
gue rekomendasiin film ini buat kamu tonton pada hari yang melelahkan,
dimana kamu pengen ngabisin waktu dan ga mau mikir apa-apa lagi.

9 comments:

  1. Pertanyaan saya adalah.... berapa umurnya mas ringo ini???hahaha

    ReplyDelete
  2. @satrio : yang saya inget pas di TVRI malem2 ada film CHIPS saya masih 4 tahun tuh :D
    anyway, walaupun film ini rilis tahun 81, saya nonton filmnya ketika akhir tahun 80-an, maklum bioskop kampung film2 jadul sering diputer ulang :D

    jadi kesimpulannya, saya masih cukup ABG. wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
  3. wkwkwkkw...akhirnya sesepuh film jelek mampir kesini wahahaha..thanks om Vivid.

    iye bener om, biasanya itu diperkosanya pas habis nyuci dari sungai wkwkw, untuk poin ini Suzzana kayanya mecahin rekor sebagai artis yang paling sering meranin adegan diperkosa wahahaha

    ReplyDelete
  4. tadi gw nonton film "bumi makin panas"
    suzanna masih muda coy, cakep bener
    hahahahaha...

    btw keren abis nih artikelnya!!!
    nonton dimana jaka sembung ??

    iya film jakbung salah satu film "pujaan"
    di luar sana, di negeri sendiri malah dilupakan kayanya...satu lagi tuh lady terminator alias
    pembalasan ratu pantai selatan cult juga

    duh pada belom nonton :(

    ReplyDelete
  5. 'bumi makin panas' itu film apaaaaan??? hahaha

    saya sih nonton waktu kecil di bioskop, ama kemaren nemu di DVD-nya di lapak hehe, btw, di yutub juga udah ada yang aplod tuh :)

    kata 'Pete Tombs' dari semua film exploitation-indonesia yang paling laris ternyata 'The warrior' (jaka sembung ), 'Lady Terminator' ( pembalasan ratu pantai selatan )ama 'Virgins From hell' ( perawan di sarang sindikat )..yang belum nonton cuma yang terakhir wkwkwkwk

    ReplyDelete
  6. termasuk sinema eksploitasi juga gak film Pengkhianatan G 30 S PKI?
    klo menurut saya itu film horor yg bikin trauma anak SD tahun 80an/90an. mendengar back sound nya aja bikin bulu kuduk merinding apalgi adegannya yg gak lulus sensor semua itu, gimana mas ringo?
    "Darah itu merah, Jenderal !"hihi syeremm

    ReplyDelete
  7. @Anonim : Husss, jangan ngomongin yang ini ah, ntar tau-tau dikarungin gimana lo hahaha

    kayanya sih segala macam backsound apa adegan yang bikin ngeri/trauma itu bukan karena teknik sinematiknya tp lbh karena pengaruh tragedi mengerikan yang membekas di masyarakat ama bayang2 kediktatoran-militeristik rezim orba.

    contohnye, lagu 'Genjer-Genjer' yang sebenernya lagu tradisional-rakyat biasa jadi kedengeran nyeremin pas dinyanyiin disini.

    hehe jadi kalo dibilang eksploitasi ya eksploitasi, tapi apa ini sebuah film/sinema? gue sih lebih sreg kalo nyebutnya : propaganda.

    mungkin ada yang punya pendapat lain? hehe

    ReplyDelete
  8. saya ingin belajar ilmu rawa rontek.saya berani bayar mahar 10 juta.dari bapak rohman HP 0817361046.mohon dibalas.

    ReplyDelete
  9. Di cover yg The Warrior, sosok Jaka Sembung lebih mirip sosok Rambo deh ya.... :D

    ReplyDelete